Daftar Isi

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kalau kamu sering wara-wiri di mal, pasti pernah lihat toko kuning yang jual pernak-pernik lucu, kosmetik, mainan, sampai camilan impor. Nah, toko itu dulu namanya KKV.

Tapi belakangan ini banyak gerai yang berubah jadi OH! SOME, dan ini bikin banyak orang bingung. Apakah cuma ganti nama doang, atau memang ada perusahaan baru di baliknya?

Pertanyaan ini wajar banget muncul, apalagi topik ini sempat viral di media sosial. Ada yang bilang cuma rebranding biasa, ada juga yang bilang ini soal kontrak lisensi yang habis.

Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas soal hubungan KKV dan OH! SOME, mulai dari sejarahnya, siapa pemiliknya, sampai kenapa dua nama ini sekarang jadi dua entitas yang benar-benar berbeda.

Awal Mula Brand Toko KKV

Sebelum ngomongin soal perubahan nama, ada baiknya kita mundur dulu ke belakang untuk tahu dari mana sebenarnya KKV berasal.

KKV adalah bagian dari KK Group, perusahaan asal China yang didirikan oleh Wu Yuening pada tahun 2015. Menariknya, Wu Yuening awalnya berkarier di bidang teknologi informasi sebelum akhirnya banting setir membangun bisnis ritel gaya hidup ini.

Gerai pertama yang dia luncurkan namanya KK Guan, dan konsepnya memang fokus jualan barang-barang impor.

Baru pada tahun 2019, nama KKV mulai dikenal luas setelah KK Group meluncurkan jaringan toko yang menyasar target pasar anak muda.

Setahun berikutnya, di 2020, mereka melebarkan sayap lagi dengan membuka jaringan gerai X11 yang fokus jualan mainan dan fashion.

Kalau ngomongin Indonesia, gerai KKV pertama resmi buka pada 4 Maret 2020 di Central Park Jakarta. Luasnya lumayan besar, lebih dari 3.000 meter persegi, dan isinya lebih dari 10.000 produk yang terbagi ke 15 kategori berbeda.

Bayangkan, satu toko tapi isinya bisa dari kosmetik, camilan, mainan, sampai perlengkapan rumah tangga, semua ada.

Bisnis ini ternyata laris manis. Dalam 10 bulan pertama tahun 2023 saja, gerai KKV di Indonesia berhasil mencatat pendapatan sekitar 420,1 juta yuan dengan laba 96,9 juta yuan dan margin laba kotor 23,1 persen.

Nah, yang bikin makin menarik, volume transaksi bulanan toko-toko di Indonesia ternyata hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan toko sejenis di China, dengan rata-rata 2,5 juta yuan per bulan.

Angka ini menunjukkan kalau pasar Indonesia memang jadi salah satu tambang emas buat KK Group, sampai akhirnya mereka juga ekspansi ke Malaysia pada Januari 2024.

Kenapa KKV Tiba-Tiba Ganti Nama Jadi OH! SOME?

Pada pertengahan tahun 2024, warganet mulai ramai membahas soal gerai KKV yang berubah nama jadi OH! SOME. Momen viralnya sendiri bermula dari sebuah video yang dibagikan lewat akun TikTok, yang memperlihatkan proses pergantian nama di salah satu toko.

Dari situ, netizen lain mulai ikut cerita kalau gerai di kota mereka juga sudah berubah.

Yang menarik, dari video-video yang beredar, sebenarnya tidak banyak yang berubah dari sisi produk maupun tata letak toko.

Baca juga  Xiaomi Kurangi Model Smartphone: Strategi untuk Pergeseran Fokus

Barang yang dijual sama persis, cuma logo dan namanya saja yang diganti. Ini yang bikin banyak orang mikir kalau ini murni cuma soal branding.

Tapi kalau digali lebih dalam, ternyata ada cerita bisnis yang lebih kompleks di baliknya. Dugaan paling kuat adalah karena kontrak lisensi penggunaan merek KKV antara pemilik asli di China dengan operator di Indonesia sudah berakhir.

Jadi sebenarnya, dulu KKV di Indonesia dijalankan lewat semacam kerja sama lisensi. Ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang, pihak yang tadinya mengoperasikan toko-toko KKV di Indonesia akhirnya membuat merek baru sendiri, yaitu OH! SOME.

Situasi ini sebenarnya mirip banget dengan kasus yang pernah terjadi di industri ritel lain, misalnya perpindahan lisensi antara Ace Hardware dan Azko yang juga pernah bikin heboh warganet Indonesia.

Pola bisnisnya sama, ketika kontrak lisensi merek internasional berakhir, operator lokal biasanya punya dua pilihan, mempertahankan hubungan dengan pemilik merek lama atau membangun identitas baru yang independen.

Siapa Sebenarnya Pemilik OH! SOME?

Sekarang OH! SOME resmi dimiliki dan dioperasikan oleh Blue Origin Group. Perusahaan ini mengambil alih operasional toko-toko yang sebelumnya berjalan di bawah nama KKV di Indonesia.

Jadi meskipun tampilan produk dan konsep tokonya masih mirip banget dengan KKV, secara hukum dan kepemilikan, OH! SOME sudah berdiri sendiri, terpisah dari KK Group yang jadi pemilik asli merek KKV di China.

Salah satu bukti kuat kalau OH! SOME memang serius membangun identitas sendiri adalah soal pendaftaran mereknya.

Merek OH! SOME sudah resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI pada 15 Januari 2025, tepatnya untuk kelas 35 yang mencakup kegiatan usaha ritel dan perdagangan.

Perlindungan hukum atas merek ini berlaku sampai 1 April 2034.

Pendaftaran merek dagang memang jadi kewajiban setiap perusahaan yang mau punya identitas bisnis yang diakui secara legal dan terlindungi dari penyalahgunaan pihak lain.

Selain soal legalitas merek, langkah rebranding ini juga dibarengi dengan strategi ekspansi.

Setelah resmi berganti nama, OH! SOME membuka gerai baru di Summarecon Mall Bekasi, dan kabarnya bakal terus menambah cabang ke kota-kota besar lain seperti Surabaya dan Bandung.

Jadi bukan cuma ganti papan nama doang, mereka juga terus memperluas jangkauan tokonya ke berbagai wilayah.

Kalau kamu penasaran kenapa dipilih nama OH! SOME, alasannya cukup sederhana, yaitu supaya brand ini lebih gampang diingat dan lebih catchy didengar.

Nama yang unik memang jadi salah satu strategi penting biar toko bisa menarik perhatian konsumen baru sambil tetap mempertahankan pelanggan lama.

Selain nama, konsep toko juga ikut diperbarui supaya kesannya lebih segar dan cocok dengan selera anak muda zaman sekarang.

Terus, KKV yang Asli Sekarang Kemana?

Setelah kerja sama lisensi dengan operator lama di Indonesia berakhir, KK Group, sebagai pemilik merek KKV asal China, memutuskan kembali mengelola bisnisnya secara langsung di Indonesia tanpa menggunakan mitra lisensi seperti sebelumnya.

Baca juga  8 Cara AQUVIVA Kuasai Pasar Air Minum Kemasan, Bikin AQUA dan Le Minerale Goyah

Keputusan itu bukan lagi sekadar rencana. Pada 2026, KK Group resmi membawa kembali KKV ke Indonesia dan langsung membuka beberapa gerai di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Garut, hingga Bali.

Mereka juga menyatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting dalam strategi ekspansi jangka panjangnya. Artinya, sekarang memang ada dua perusahaan yang berjalan sendiri-sendiri.

Di satu sisi, ada KKV yang dioperasikan langsung oleh KK Group sebagai pemilik merek asli dari China. Di sisi lain, ada OH! SOME yang tetap dikelola oleh Blue Origin Group sebagai perusahaan lokal setelah perjanjian lisensinya berakhir.

Jadi, anggapan bahwa “KKV berubah menjadi OH! SOME” sebenarnya kurang tepat. Yang terjadi adalah kerja sama lisensi berakhir, kemudian kedua pihak memilih melanjutkan bisnis dengan merek masing-masing.

Kini KKV dan OH! SOME hadir sebagai dua brand yang berbeda dan bersaing di pasar retail lifestyle Indonesia.

Jadi, Apa Perbedaan Utama KKV dan OH! SOME?

Supaya lebih gampang dipahami, coba kita rangkum perbedaan mendasarnya.

1. Kepemilikan

  • KKV dimiliki dan dioperasikan langsung oleh KK Group, perusahaan asal China yang merupakan pemilik resmi merek KKV.
  • OH! SOME dikelola oleh Blue Origin Group, perusahaan yang sebelumnya menjadi pemegang lisensi KKV di Indonesia.

2. Sejarah Perjalanan

  • KKV berdiri di China pada 2015 dan mulai hadir di Indonesia pada 2020.
  • OH! SOME diperkenalkan pada 2024 setelah kerja sama lisensi KKV di Indonesia berakhir.

3. Status Saat Ini

  • KKV kembali berekspansi di Indonesia dengan membuka gerai yang dioperasikan langsung oleh KK Group.
  • OH! SOME tetap beroperasi sebagai brand retail lifestyle dengan identitas dan pengelolaan yang terpisah dari KKV.

4. Konsep Bisnis

Keduanya sama-sama mengusung konsep one-stop lifestyle store yang menjual beragam produk impor dengan desain toko yang modern dan menarik bagi anak muda.

Perlu diketahui, hingga saat ini belum ada penjelasan resmi yang menguraikan secara rinci kronologi berakhirnya kerja sama lisensi antara KK Group dan Blue Origin Group.

Sebagian besar informasi yang beredar berasal dari pemberitaan media, dokumen publik, serta pengamatan terhadap perkembangan kedua brand.

Oleh karena itu, jika ingin mengikuti perkembangan terbaru, sebaiknya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh KKV maupun OH! SOME.

Kenapa Perusahaan Bisa Ganti Nama Saja?

Sebenarnya, fenomena rebranding karena kontrak lisensi habis itu bukan hal aneh di dunia bisnis ritel, apalagi buat brand internasional yang masuk ke pasar baru lewat sistem kemitraan atau lisensi.

Biasanya ada perjanjian dengan jangka waktu tertentu antara pemilik merek asli dengan operator lokal.

Kalau kontraknya tidak diperpanjang, entah karena alasan strategi bisnis, negosiasi yang tidak ketemu, atau memang pemilik merek ingin mengambil alih operasional sendiri, maka pihak operator lokal harus mencari jalan lain supaya bisnisnya tetap jalan.

Salah satu jalan yang paling umum diambil adalah membangun merek baru dari nol, dengan tetap mempertahankan konsep bisnis dan pengalaman yang sudah dikenal konsumen.

Baca juga  Kenapa Produk Merek Alfamart Lebih Murah Dibanding Brand Lain?

Ini strategi yang cukup masuk akal, karena toko sudah punya basis pelanggan setia, jaringan pemasok, dan lokasi gerai yang strategis.

Daripada membangun semuanya dari awal, lebih efisien kalau infrastruktur yang sudah ada tetap dipertahankan, cuma identitas mereknya saja yang diperbarui.

Di sisi lain, buat pemilik merek asli, mengambil alih operasional sendiri di pasar yang sudah terbukti menguntungkan juga jadi pilihan strategis.

Apalagi kalau performa penjualan di pasar tersebut memang bagus, seperti yang terjadi pada KKV di Indonesia yang volume transaksinya jauh lebih tinggi dibanding toko sejenis di negara asalnya.

Wajar kalau akhirnya KK Group memilih untuk kembali mengelola langsung bisnisnya di sini, tanpa perlu berbagi keuntungan lewat skema lisensi lagi.

Pelajaran untuk UMKM

Kalau dipikir-pikir lagi, cerita KKV dan OH! SOME ini sebenarnya bisa jadi pelajaran menarik soal bagaimana bisnis waralaba dan lisensi internasional bekerja di balik layar.

Sebagai konsumen, kita seringnya cuma lihat dari luar, tahu-tahu nama toko berubah, tapi jarang tahu proses bisnis yang terjadi di baliknya.

Padahal proses semacam ini melibatkan negosiasi kontrak, hak kekayaan intelektual, sampai keputusan strategis dari kedua belah pihak yang bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Fenomena ini juga menunjukkan betapa pentingnya sebuah merek dagang didaftarkan secara resmi. Tanpa pendaftaran merek yang jelas, bisa saja muncul sengketa soal siapa yang berhak memakai nama atau logo tertentu ketika hubungan kerja sama berakhir.

Makanya, langkah OH! SOME mendaftarkan mereknya ke DJKI begitu identitas barunya diluncurkan, jadi bagian penting supaya bisnis mereka punya dasar hukum yang kuat dan tidak gampang diklaim pihak lain di kemudian hari.

Buat kamu yang tertarik dengan dunia bisnis dan ritel, kasus KKV dan OH! SOME ini juga bisa jadi contoh nyata bagaimana sebuah brand bisa bertransformasi tanpa harus kehilangan basis pelanggannya.

Selama kualitas produk dan pengalaman belanja tetap dijaga, perubahan nama sebenarnya tidak terlalu jadi masalah besar buat konsumen, apalagi kalau perubahan itu dibarengi dengan konsep toko yang tetap segar dan relevan dengan tren yang sedang berkembang.

Kesimpulan

Jadi, bisa disimpulkan kalau KKV dan OH! SOME itu pada dasarnya adalah dua toko ritel gaya hidup yang menjual produk impor dengan konsep serupa, tapi sekarang keduanya sudah menjadi dua merek yang benar-benar berbeda dan dikelola oleh perusahaan yang berlainan.

KKV kembali berada di bawah kendali langsung KK Group sebagai pemilik merek aslinya dari China, sementara OH! SOME dijalankan secara mandiri oleh Blue Origin Group setelah kontrak lisensi mereka dengan KKV berakhir.

Cerita ini jadi salah satu contoh menarik soal bagaimana dinamika bisnis ritel internasional bisa berubah cukup drastis hanya karena urusan kontrak lisensi.

Buat kamu yang sering belanja di gerai kuning ini, sekarang setidaknya sudah lebih paham kenapa nama tokonya bisa berbeda-beda di setiap mal, dan siapa sebenarnya yang ada di balik layar masing-masing brand tersebut.

Daftar Isi