Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Belakangan ini, persaingan Indomie dan Mie Gaga kembali ramai dibicarakan. Bukan cuma soal mana yang lebih enak, tetapi juga karena banyak warganet mulai membandingkan keduanya dari rasa, harga, varian, hingga sejarah di balik mereknya. Namun, kalau dilihat lebih jauh, persaingan ini sebenarnya menarik dari sisi strategi bisnis. Indomie tumbuh sebagai bagian dari ekosistem bisnis Indofood yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, produksi, hingga distribusi. Indofood bahkan menyebut model bisnisnya sebagai Total Food Solutions, dengan skala dan jaringan distribusi yang menjadi salah satu kekuatannya. Di sisi lain, Mie Gaga berada di bawah PT Jakarana Tama, perusahaan yang telah berdiri sejak 1980 dan tidak hanya bermain di mi instan, tetapi juga produk makanan kaleng, sosis siap makan, serta bumbu. Perusahaan ini juga mengembangkan berbagai merek untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda. Artinya, persaingan keduanya bukan sekadar “Indomie vs Gaga, siapa yang rasanya lebih enak?” Ada strategi tentang membangun merek, membaca selera pasar, memperluas varian produk, membangun distribusi, hingga memanfaatkan momentum ketika sebuah produk menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Lalu, bagaimana sebenarnya para founder ini pecah kongsi hingga menghasilkan brand mie yang saling jadi kompetitor? Yuk, kita bahas! Awal Mula Indomie Cikal bakal Indomie bermula dari PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang berdiri pada April 1970 sebagai anak usaha Djangkar Djati Group. Perusahaan ini didirikan oleh Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yaitu Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Merek Indomie sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 1972, menjadikannya produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia setelah Supermi, yang lebih dulu dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis. Produk pertama yang diperkenalkan Indomie ke publik adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, rasa yang saat itu memang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie, yang menandakan produk ini memang dirancang untuk pasar lokal sejak awal berdiri. Kelahiran Indomie juga berkaitan dengan kondisi pangan nasional saat itu. Penciptaan Indomie dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras yang terjadi di Indonesia pada masa itu, sehingga mi instan hadir sebagai salah satu alternatif pangan yang lebih mudah diproduksi secara massal. Sarimi dan Strategi Agresif Salim Group Situasi mulai berubah pada awal 1980-an, ketika Salim Group yang dipimpin Liem Sioe Liong, atau yang dikenal dengan nama Sudono Salim, memutuskan masuk ke bisnis mi instan lewat merek Sarimi yang diproduksi melalui PT Sarimi Asli Jaya. Menurut penelusuran Historia.id yang mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, dua peneliti yang secara khusus menulis riwayat bisnis Salim Group, langkah Salim masuk ke industri mi didorong oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang ingin mengurangi ketergantungan pada beras impor. Pada 1978 saja, pemerintah Indonesia tercatat menghabiskan sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat hanya untuk mengimpor beras, dan sebagian gaji pegawai negeri serta tentara pada masa itu masih dibayarkan dalam bentuk beras. Momentum ini semakin kuat karena Salim Group sudah lebih dulu memiliki Bogasari, pabrik penggilingan gandum yang menurut situs resmi Indofood mulai diintegrasikan ke dalam bisnis grup pada pertengahan 1990-an, meski operasional awalnya sudah berjalan sejak 1971. Dengan bahan baku tepung yang sudah dikuasai sendiri, Salim Group punya modal besar untuk terjun ke industri hilir mi instan. Ketika Sarimi diluncurkan, Salim Group menggarap pasar dengan sangat agresif. Salim Group menyediakan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk memasarkan Sarimi dan memasang harga jual di bawah Indomie maupun Supermi. Hasilnya, dalam waktu setahun saja Sarimi berhasil menguasai sekitar 40 persen pasar mi instan nasional. Data pangsa pasar 40 persen ini juga dikutip secara konsisten oleh Tempo dan beberapa media lain yang menelusuri arsip sejarah industri mi instan, sehingga bisa dianggap sebagai angka yang cukup teruji lewat berbagai sumber independen. PT Indofood Interna: Titik Temu Djajadi Djaja dan Salim Group Salim Group sempat mengajak Djajadi untuk bekerja sama, tapi tawaran ini awalnya ditolak. Setelah penolakan itu, Salim semakin gencar memasarkan Sarimi hingga pangsa pasarnya melonjak tajam, dan tekanan ini yang akhirnya membuat Djajadi mempertimbangkan kembali sikapnya. Namun pada 1984, keduanya resmi membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dalam pembagian sahamnya, Djajadi dan rekan-rekannya memegang 57,5 persen saham, sementara Salim Group memegang 42,5 persen saham. Posisi CEO di perusahaan gabungan ini pun masih dipercayakan kepada orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli, sesuai catatan yang dihimpun Serayunews dari berbagai sumber sejarah bisnis. Akuisisi Supermi dan Dominasi Salim di Industri Mi Instan Bergabungnya Indomie dan Sarimi dalam satu perusahaan membuat posisi mereka di pasar semakin kuat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah bergabung, usaha patungan ini sudah cukup kuat untuk mengakuisisi merek terkenal lainnya, yaitu Supermi, yang pada 1986 diambil alih setelah perusahaannya mengalami masalah internal dan produksinya menurun. Fakta akuisisi Supermi pada 1986 ini juga tercatat dalam ensiklopedia bisnis Universitas STEKOM Semarang yang menyusun linimasa resmi perjalanan Indofood berdasarkan dokumen korporat, sehingga memperkuat validitas tanggal tersebut. Dampak dari penguasaan pasar ini cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun Historia.id, pada 1994, tahun ketika Indofood resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia, Salim Group menguasai hampir 80 persen pasar mi instan nasional, dengan rincian Indomie menguasai 60,3 persen, Supermi 7,8 persen, Sarimi 6,7 persen, dan sisanya sekitar 4 persen dikuasai merek lain. Pada tahun yang sama, Indofood bahkan tercatat sebagai produsen mi instan terbesar di dunia, melampaui Nissin Food Products, perusahaan asal Jepang yang menjadi pelopor mi instan secara global sejak 1958. Awal Konflik Perusahaan Mie Indonesia Kesuksesan besar yang diraih PT Indofood Interna ternyata tidak berjalan mulus bagi Djajadi dalam jangka panjang. Pada 1993, Djajadi menghadapi kesulitan finansial yang cukup serius, dan kondisi ini menjadi celah bagi Salim Group untuk mengambil alih seluruh kepemilikan dan kendali perusahaan. Proses pergeseran kendali dari Djajadi ke Salim Group ini sebenarnya berlangsung bertahap, dengan sejumlah sumber sejarah bisnis mencatat bahwa penguasaan penuh oleh Salim Group terjadi antara 1992 hingga 1993. Djajadi tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, dan bagian inilah yang justru punya jejak dokumen paling kuat secara hukum. Pada 1999, Djajadi melayangkan gugatan kepada PT Indofood Sukses Makmur dan empat mantan pejabatnya terkait pembelian merek dagang yang dilakukan perusahaan tersebut pada pertengahan 1980-an. Yang membuat informasi ini cukup kredibel untuk dijadikan rujukan, CNBC Indonesia secara

SELENGKAPNYA
Ide Bisnis Makanan Minuman Sehat Di Balik Tren Less Sugar ala Gen Z

Ide Bisnis Makanan Minuman Sehat Di Balik Tren Less Sugar ala Gen Z

Coba kamu perhatikan kebiasaan sehari-hari waktu pesan minuman di kedai kopi atau gerai minuman kekinian. Beberapa tahun lalu, pertanyaan dari kasir biasanya cuma seputar ukuran gelas atau tambahan topping. Sekarang, hampir semua tempat menyediakan pilihan level gula, mulai dari normal, less sugar, sampai no sugar sama sekali. Kebiasaan ini bukan kebetulan. Ada pergeseran pola konsumsi yang cukup nyata di kalangan Gen Z dan milenial, dan pergeseran ini membuka peluang besar buat kamu yang lagi mempertimbangkan terjun ke bisnis makanan dan minuman sehat. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan memang terus meningkat, dan hal ini jadi salah satu pendorong utama kenapa bisnis makanan sehat terus bergeliat. Industri makanan dan minuman sehat masih menunjukkan arah yang positif, terutama karena semakin banyak orang yang pengin menjalani gaya hidup seimbang dan mencari makanan yang bergizi sekaligus aman dikonsumsi. Perubahan selera konsumen ini bikin pelaku usaha punya banyak ruang buat berinovasi, meski tentu saja tantangannya tetap ada. Berikut ulasan soal peluang, cara membangun bisnis yang berhasil, sampai inovasi yang bisa kamu terapkan pada bisnis makanan dan minuman sehat, lengkap dengan data terbaru soal fenomena Gen Z dan milenial yang mulai mengurangi konsumsi gula. Peluang Bisnis Makanan dan Minuman Sehat Permintaan terhadap makanan sehat yang tinggi disebabkan oleh kesadaran kesehatan yang makin kuat, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Semakin banyak kasus penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, seperti obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi, bikin masyarakat lebih memilih makanan yang rendah gula, rendah garam, dan tinggi serat. Selain itu, perhatian terhadap isu lingkungan turut mendorong konsumen memilih makanan berbahan dasar tumbuhan dan proses produksi yang berkelanjutan, sehingga produk vegan serta plant-based makin banyak diminati. Kemudahan belanja lewat e-commerce dan layanan antar makanan juga bikin konsumen bisa dapat makanan sehat tanpa harus keluar rumah. Kondisi ini jadi celah buat pelaku bisnis makanan sehat untuk menawarkan layanan berlangganan, di mana pelanggan bisa menerima makanan sehat yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi mereka setiap harinya. Kekhawatiran terhadap konsumsi gula berlebih bukan tanpa dasar. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan terjadi peningkatan angka obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas, dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh pola makan yang tidak seimbang. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 28,7 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas yang dianjurkan, sementara 61,27 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari. Riset dari Kompas juga memperlihatkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sekitar 47,9 juta orang atau 17,6 persen dari total populasi Indonesia mengonsumsi gula melebihi standar harian yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia. Sehingga bisa dibilang satu dari enam orang Indonesia punya pola makan yang berisiko meningkatkan kemungkinan obesitas dan diabetes. Data semacam inilah yang perlahan mengubah pola pikir konsumen, khususnya generasi muda, terhadap pilihan minuman sehari-hari mereka. Menariknya, perubahan itu udah mulai kelihatan dalam angka nyata. Jakpat, lembaga riset pasar yang rutin melakukan survei terhadap perilaku Gen Z Indonesia, mencatat berdasarkan temuan terbaru mereka, mayoritas Gen Z sudah tidak lagi mengonsumsi minuman manis setiap hari, dengan hanya 3 persen yang masih minum minuman manis lebih dari tiga kali sehari dan 11 persen yang minum dua sampai tiga kali sehari. Sebagian besar responden sekarang berada di kategori konsumsi sedang sampai rendah. Laporan lengkap survei ini dirilis lewat riset bertajuk Gen Z Characteristics and Behaviors, dan survei tersebut melibatkan 1.155 responden Gen Z di Indonesia yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Mulai dari gaya hidup, kebiasaan konsumsi, kesehatan mental, pendidikan dan karier, sampai keuangan. Kamu bisa lihat laporan asli dari riset ini di situs insight.jakpat.net, jadi data yang dikutip di artikel ini bisa kamu telusuri sendiri kebenarannya. Pergeseran pola konsumsi gula ini juga kelihatan dari kebiasaan berolahraga dan pemilihan produk. Sebuah survei bertajuk Tren Makanan dan Minuman pada Gen Z dan Milenial mencatat sekitar 38 persen responden lebih menyukai makanan dengan kadar gula rendah, 19 persen memilih camilan sehat, dan 11 persen memilih makanan atau minuman yang bisa membantu menurunkan berat badan. Sebagian dokter dan ahli gizi juga menilai perubahan ini sebagai tanda bahwa generasi muda semakin sadar terhadap dampak konsumsi gula ke tubuh mereka, bukan cuma soal berat badan tapi juga soal kulit dan kesehatan jangka panjang. Meski begitu, kamu perlu paham kalau tren ini bukan berarti minuman manis sepenuhnya ditinggalkan. Teh manis dan kopi tetap jadi minuman favorit di kalangan Gen Z maupun milenial. Teh manis masih jadi minuman manis paling populer di kalangan Gen Z, dengan 63 persen responden pria dan 71 persen responden wanita mengonsumsinya secara rutin, disusul kopi manis di posisi kedua dengan rata-rata sekitar 53 persen. Selain itu, kopi menjadi minuman dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, dengan 67 persen Gen Z dan 74 persen milenial mengonsumsinya, disusul teh di posisi kedua dengan 65 persen Gen Z dan 75 persen milenial. Yang berubah bukan jenis minumannya, tapi level kemanisannya. Banyak konsumen tetap memilih teh atau kopi sebagai minuman harian, tapi minta porsi gula yang lebih sedikit, pakai pemanis alternatif, atau bahkan pesan versi tanpa gula sama sekali. Kalau kamu menjalankan usaha kedai kopi, minuman kekinian, atau katering makanan sehat, perubahan kecil semacam ini justru bisa jadi peluang besar kalau ditangkap dengan tepat, misalnya dengan menyediakan opsi pemanis rendah kalori atau default level gula yang lebih ringan. Tips Menjalankan Bisnis Makanan dan Minuman Sehat Biar bisnis kamu bisa bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin ramai, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. 1. Pahami Segmen Pasar dengan JelasKategori makanan sehat sangat beragam, mulai dari diet ketogenik, vegan, bebas gluten, hingga rendah gula. Karena itu, penting untuk menentukan target pasar sejak awal agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Misalnya, jika menyasar Gen Z yang mulai mengurangi konsumsi gula, sediakan pilihan less sugar atau no sugar sebagai menu standar. Langkah sederhana ini bisa meningkatkan kepuasan pelanggan karena mereka merasa produk benar-benar dibuat sesuai preferensi mereka. 2. Jaga Transparansi Bahan Baku dan Proses ProduksiKonsumen kini semakin peduli terhadap asal-usul bahan dan proses pembuatan makanan. Cantumkan informasi yang jelas mengenai kandungan nutrisi, bahan organik, atau sumber bahan baku yang digunakan. Label seperti tanpa

SELENGKAPNYA
Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Martabak Pecenongan 78 menjadi salah satu contoh usaha kuliner yang berhasil bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan di Indonesia. Di saat banyak warung makan atau restoran hanya ramai di awal lalu perlahan sepi hingga akhirnya tutup, Martabak Pecenongan 78 justru mampu terus berkembang selama puluhan tahun dan memiliki ratusan cabang. Perjalanan bisnis Martabak Pecenongan 78 tentu tidak selalu mulus. Pada masa-masa awal berdiri, usaha ini sempat mengalami berbagai tantangan dan jatuh bangun sebelum akhirnya dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Jakarta, bahkan di berbagai daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk strategi bisnis mereka hingga mampu bertahan selama 62 tahun. Terus, apa yang membuat Martabak Pecenongan 78 tetap eksis di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat? Awal Mula Martabak Pecenongan 78 Awalnya usaha ini cuma modal gerobak sederhana, tapi berhasil diterima masyarakat dari berbagai kalangan. Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner, usaha keluarga yang udah diwariskan turun temurun ini terus cari cara baru dan nggak berhenti di zona nyaman. Buktinya kelihatan jelas waktu pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Saat banyak usaha kuliner lain justru gulung tikar karena pembatasan sosial dan daya beli yang turun, Martabak Pecenongan 78 malah buka ratusan cabang baru. Kalau kamu pernah jalanin usaha kecil di masa pandemi, kamu pasti tahu betapa beratnya ambil keputusan buat ekspansi di tengah situasi yang serba nggak pasti kayak gitu. Kebanyakan pemilik usaha justru milih bertahan aman, kurangi stok, bahkan tutup sementara karena takut rugi lebih besar. Konsistensi Jadi Fondasi Usaha Martabak Pecenongan 78 Salah satu godaan terbesar buat pemilik usaha itu keinginan buat selalu ikutin tren yang lagi rame. Begitu ada satu jenis makanan viral di media sosial, banyak pengusaha kuliner yang langsung tergoda buat banting setir ikutin arah pasar yang lagi naik daun. Owner punya pandangan yang beda soal ini. Menurut dia, langkah kayak gitu bukan strategi yang tepat buat jaga usaha tetap bertahan dalam jangka panjang. Tren itu sifatnya cuma sementara, sedangkan konsistensi jadi faktor utama yang bikin sebuah usaha bisa bertahan sampai puluhan tahun. Pengalaman kayak gini mungkin kerasa familiar buat kamu yang pernah ngurus usaha makanan atau minuman kekinian. Ingat nggak waktu tren kopi kekinian lagi booming beberapa tahun lalu? Banyak pengusaha yang buru buru ganti konsep usahanya jadi kedai kopi, padahal sebelumnya jualan jenis makanan lain sama sekali. Sebagian dari mereka berhasil, tapi nggak sedikit juga yang akhirnya kehilangan ciri khas usahanya dan pelanggan setia karena kebanyakan gonta ganti arah. Pemilik usaha sebaiknya tetap konsisten sama produk yang mereka jual, sambil terus cari peluang di sekitar buat dikembangkan lebih jauh lagi. Martabak Pecenongan 78 sendiri dari awal berdiri sampai sekarang tetap fokus di menu martabak sebagai produk utamanya. Meski begitu, mereka tetap ikutin selera pasar dengan cara berinovasi di variasi menu, contohnya ngeluarin martabak Sultan yang ukurannya besar banget dengan tampilan lebih mewah. Selain dari sisi produk, mereka juga fleksibel dalam cara komunikasi ke target pasar mereka. Kalau dulu promosi cuma mengandalkan cerita dari mulut ke mulut antar pelanggan, sekarang mereka aktif kelola media sosial dan lebih mengutamakan layanan pesan online, salah satunya lewat kerja sama dengan airasia food. Pelajaran ini sebenarnya berlaku buat usaha apa pun yang lagi kamu jalanin, nggak terbatas di bisnis kuliner aja. Kalau kamu punya toko baju, usaha jasa, atau bahkan usaha rumahan kecil kecilan, konsistensi di produk inti sambil tetap terbuka sama cara pemasaran baru bisa jadi jalan tengah yang lebih aman dibanding ubah total arah bisnis setiap kali muncul tren baru. Jaga Kepercayaan Meski Usaha Makin Besar Tantangan lain yang sering dihadapi pemilik usaha adalah gimana caranya jaga kualitas ketika skala bisnis makin besar. Semakin banyak cabang yang dibuka, semakin besar juga risiko standar kualitas produknya mulai turun karena susah diawasin secara menyeluruh. Kalau kualitas udah nggak jadi prioritas utama, pelanggan pasti bakal kecewa, dan ujung ujungnya bikin performa bisnis secara keseluruhan ikut menurun. Kondisi kayak gini yang coba dihindari Rey (owner) sejak awal dia mulai ngurus usaha keluarga ini. Sebagai generasi penerus, dia selalu naruh kualitas di posisi paling penting demi jaga kepercayaan pelanggan. Harga martabak dari Pecenongan 78 memang lebih tinggi dibanding merek martabak lain di pasaran. Tapi Rey bilang, harga segitu sebanding sama kualitas rasa dan bahan baku yang dipakai. Dia juga mengaku, dalam situasi mendesak, misalnya waktu harga bahan baku lagi mahal mahalnya, godaan buat ganti bahan dengan kualitas lebih rendah demi tekan biaya produksi pasti ada. Tapi dia milih hindari langkah itu, karena buat dia kepercayaan pelanggan itu modal yang harus terus dijaga. Kamu yang pernah belanja di tempat langganan terus ngerasain kualitasnya menurun drastis, pasti paham betapa gampangnya kepercayaan itu hilang begitu ada penurunan mutu, walaupun cuma terjadi sekali doang. Banyak pelanggan yang langsung berhenti beli setelah satu kali dapet pengalaman kurang enak, meski sebelumnya udah jadi pelanggan setia bertahun tahun. Ini nunjukkin kalau jaga kualitas itu bukan cuma soal jaga rasa produk aja, tapi juga soal jaga hubungan jangka panjang sama orang yang udah percaya sama usaha kamu. Selain jaga kualitas produk, Martabak Pecenongan 78 juga bangun sistem buat nampung kritik dan masukan dari pelanggan secara serius. Mereka punya layanan call center yang siap tanggapi keluhan pelanggan soal produk mereka. Selama puluhan tahun beroperasi, komitmen ini terus dijaga supaya pelanggan selalu dapet pengalaman terbaik setiap kali beli produk mereka. Langkah seperti ini penting buat kamu pertimbangkan kalau lagi bangun usaha, soalnya pelanggan yang keluhannya ditanggapi dengan baik biasanya lebih loyal dibanding pelanggan yang ngerasa diabaikan setelah nyampein masalahnya. Kolaborasi Martabak Pecenongan 78 Strategi ketiga yang dibagikan Rey soal keterbukaan terhadap kolaborasi. Menurut dia, kolaborasi jadi salah satu cara buat perkuat posisi bisnis di tengah persaingan usaha kuliner yang makin ketat sekarang ini. Martabak Pecenongan 78 nggak cuma kerja sama sama sejumlah figur publik dan influencer buat pasarin produknya, tapi juga terbuka sama kerja sama dengan layanan pesan antar makanan online, salah satunya airasia food. Rey jelasin, nama besar AirAsia yang udah dikenal luas sama masyarakat Indonesia jadi salah satu pertimbangan penting buat Martabak Pecenongan 78 gabung sebagai mitra merchant. Menurut dia, selama empat bulan jadi mitra airasia food, bisnis Martabak Pecenongan 78 ngalamin peningkatan transaksi

SELENGKAPNYA
Everpro Connect 2026 Sukses Digelar, LegalMP Dukung Pengusaha sebagai Community Partner

Everpro Connect 2026 Digelar, LegalMP Dukung Pengusaha sebagai Community Partner

Everpro Connect 2026 menjadi ajang berkumpulnya para pengusaha, brand owner, seller, agency, hingga komunitas bisnis untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan. Di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis, banyak pelaku usaha menyadari bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau strategi pemasaran, tetapi juga oleh akses terhadap insight yang relevan serta kolaborasi dengan ekosistem bisnis yang tepat. Bagi banyak pemilik usaha, tantangan terbesar bukan sekadar mendapatkan pelanggan, melainkan menentukan arah pengembangan bisnis di tengah perubahan pasar yang cepat. Menjawab kebutuhan tersebut, Everpro Connect 2026 hadir sebagai forum bisnis digital yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor dalam satu wadah. Acara yang diselenggarakan pada Kamis, 30 Juli 2026 di The Trans Luxury Hotel, Bandung ini menghadirkan berbagai sesi inspiratif, mulai dari strategic keynote, tactical talks, business matching, hingga networking. Melalui rangkaian acara tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari strategi bisnis terkini, memperluas relasi, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat mendorong pertumbuhan usaha. Everpro Connect 2026 Penuh Antusiasme Sejak sesi pertama dimulai, ruang acara Everpro Connect 2026 dipenuhi peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang usaha yang beragam. Menurut catatan resmi penyelenggara, acara ini mempertemukan lebih dari delapan ratus seller, brand owner, agency, komunitas, dan mitra bisnis dalam satu ekosistem, seperti yang tercantum di everpro.id/connect. Angka ini menggambarkan skala forum yang cukup besar untuk event bisnis Bandung. Kalau kamu pernah datang ke event bisnis yang isinya cuma presentasi satu arah tanpa ruang diskusi, suasana di Everpro Connect 2026 mungkin terasa beda. Rangkaian acara disusun dalam beberapa bentuk sesi, mulai dari panel discussion, tactical talks, sampai business matching dan networking session yang mempertemukan peserta langsung dengan pelaku industri dan calon mitra usaha. Format ini memberi kesempatan bagi peserta untuk tidak cuma mendengarkan, tapi juga bertanya, berdiskusi, dan menindaklanjuti perkenalan yang terjadi selama acara berlangsung. Pengalaman bertemu langsung dengan pelaku usaha lain, tanpa perantara, sering jadi hal yang paling dicari peserta dalam event semacam ini. Sebab, banyak pengusaha merasa lebih mudah membangun kepercayaan ketika berdiskusi secara langsung dibandingkan hanya berkomunikasi lewat pesan singkat atau media sosial. Narasumber Inspiratif di Everpro Conncet 2026 Salah satu daya tarik Everpro Connect 2026 ada di deretan pembicara yang dihadirkan. Sesi keynote dibawakan oleh Prof. Dr. Rhenald Kasali, Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, yang membahas penguatan fondasi kolaborasi dalam ekosistem bisnis digital di tengah perubahan algoritma dan percepatan kecerdasan buatan. Selain itu, beberapa praktisi lain turut membagikan pengalaman dan pandangannya, di antaranya: a. David Alfa Sunarna – Praktisi Kecerdasan Buatan (AI) dan Founder Web Ekspor b. Deryansyah Azhary – Founder KasiSolusi c. Arief Firdiansyah – Praktisi Iklan Meta dan Content Creator d. Dodi Zulkifli – CEO Neyma Brand Consultant e. Dermy Sudarmono – Praktisi AI yang membawakan materi mengenai pengembangan infrastruktur Agentic AI Data soal posisi dan latar belakang masing-masing pembicara ini sudah dicocokkan kesesuaiannya dengan informasi resmi yang dipublikasikan pihak penyelenggara. Salah satu pengalaman yang sering dirasakan pengusaha adalah bingung menentukan langkah berikutnya setelah bisnis mencapai titik tertentu. Banyak yang berhasil membangun produk dan pelanggan awal, tapi mengalami kesulitan saat harus memperluas skala usaha atau menghadapi perubahan tren pasar. Forum seperti Everpro Connect 2026 memberi ruang bagi pengusaha untuk mendengar langsung bagaimana pelaku usaha lain menghadapi situasi serupa, sehingga wawasan yang didapat terasa lebih relevan dibandingkan sekadar membaca teori. Insight Bisnis dari Everpro Connect 2026 Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari Everpro Connect 2026 adalah bahwa jejaring bisnis merupakan aset yang bernilai besar dalam perjalanan sebuah usaha. Lewat relasi yang tepat, pelaku usaha bisa memperoleh peluang kerja sama, bertukar pengalaman dengan sesama pengusaha, dan menemukan solusi atas berbagai kendala yang dihadapi dalam menjalankan bisnisnya sehari-hari. Pengalaman ini mungkin terasa familiar buat kamu yang pernah merasa berjalan sendirian dalam mengelola usaha. Banyak pengusaha, terutama yang membangun bisnis dari nol tanpa latar belakang koneksi bisnis sebelumnya, merasa kesulitan menemukan tempat untuk bertanya ketika menghadapi masalah yang belum pernah dialami. Mengikuti event bisnis seperti Everpro Connect 2026 jadi salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sekaligus memperbarui wawasan agar bisa mengikuti perkembangan industri yang terus berubah. Selain soal jejaring, forum ini juga menegaskan bahwa kolaborasi jadi faktor penting dalam pertumbuhan usaha. Nggak semua tantangan bisnis bisa diselesaikan sendiri. Ada kalanya pelaku usaha butuh mitra dengan keahlian berbeda, baik dari sisi pemasaran, teknologi, maupun aspek legal, untuk mendorong bisnisnya berkembang lebih jauh. LegalMP Hadir sebagai Community Partner Di tengah rangkaian acara Everpro Connect 2026 inilah, Legal Menjadi Pengaruh atau LegalMP turut ambil bagian sebagai Community Partner. Kehadiran ini dimanfaatkan untuk bertemu langsung dengan business owner, founder, entrepreneur, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan bisnis lainnya yang hadir di acara tersebut. Kesempatan ini jadi bagian dari upaya memperluas jejaring, membangun relasi baru, dan membuka peluang kerja sama dengan pihak-pihak yang punya visi sejalan dalam mendukung perkembangan ekosistem usaha di Indonesia. Selama acara berlangsung, tim Legal Menjadi Pengaruh berkesempatan mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya. Kesimpulan Everpro Connect 2026 berhasil menjadi wadah bagi para pengusaha, brand owner, seller, agency, dan komunitas bisnis untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan. Melalui berbagai sesi inspiratif yang dibawakan oleh para praktisi industri, peserta memperoleh wawasan mengenai strategi bisnis, pemasaran digital, hingga pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung pertumbuhan usaha. Sebagai Community Partner, Legal Menjadi Pengaruh (LegalMP) turut mendukung terselenggaranya acara ini sekaligus berkesempatan membangun kolaborasi dengan lebih banyak pelaku usaha dari berbagai daerah. Partisipasi ini sejalan dengan komitmen LegalMP dalam mendukung pengusaha Indonesia melalui edukasi dan pendampingan legalitas usaha.

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Coba deh kamu inget-inget, kapan terakhir kali kamu beli minuman teh kemasan di minimarket? Besar kemungkinan salah satu pilihan yang kepikiran di kepala kamu adalah Teh Pucuk Harum. Bukan kebetulan lho kalau merek ini selalu ada di rak paling depan, selalu nongol di iklan TV, dan tagline-nya bahkan bisa kamu nyanyikan tanpa sadar. Semua itu bukan hasil keberuntungan, tapi buah dari strategi marketing yang dirancang dengan sangat matang. Buat kamu yang penasaran gimana caranya satu merek teh siap minum bisa bertahan dan terus jadi favorit di tengah persaingan ketat sama Teh Botol Sosro, Frestea, dan puluhan merek lain, artikel ini bakal bongkar tuntas rahasianya. Menariknya lagi, pelajaran dari kesuksesan Teh Pucuk Harum ini sebenarnya bisa banget kamu contek buat strategi bisnis umkm yang sedang kamu jalankan atau rencanakan, karena prinsip dasarnya sama aja, cuma skalanya yang beda. Kenalan Dulu Sama Teh Pucuk Harum Teh Pucuk Harum adalah minuman teh siap minum rasa melati yang diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan dari grup Mayora Indah. Produk ini dibuat dari pucuk daun teh pilihan yang diolah pakai teknologi Advanced Sterilizing Technology atau AST, sebuah metode sterilisasi modern yang bikin rasa dan kesegaran teh tetap terjaga tanpa harus pakai bahan pengawet berlebihan. Sejak diluncurkan, Teh Pucuk Harum langsung tancap gas masuk ke pasar teh siap minum yang sebenarnya udah cukup padat pemainnya. Tapi uniknya, merek ini nggak cuma sekadar numpang lewat, malah berhasil jadi salah satu pemain utama. Nah, di sinilah letak menariknya, karena kesuksesan itu nggak lepas dari cara mereka membangun merek dari berbagai sisi sekaligus, mulai dari suara, harga, sampai cerita yang mereka tanamkan ke benak konsumen. Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Sebelum kita bedah satu-satu strategi Teh Pucuk Harum, penting buat paham dulu kenapa strategi marketing itu krusial. Menurut pemikiran Philip Kotler dan Kevin Lane Keller yang tertuang dalam buku Marketing Management, buat bisa unggul di persaingan pasar, perusahaan wajib punya strategi yang jelas soal segmentasi, targeting, dan positioning, atau yang sering disingkat STP. Segmentasi artinya membagi pasar jadi kelompok-kelompok konsumen dengan karakteristik yang mirip. Targeting berarti memilih kelompok mana yang paling potensial buat digarap. Sementara positioning adalah usaha membangun citra khusus di benak konsumen supaya merek kamu langsung kepikiran duluan dibanding kompetitor. Nah, teori ini bukan cuma teori kosong ya, karena kalau kamu perhatikan baik-baik, setiap langkah yang diambil Teh Pucuk Harum ternyata selaras banget sama konsep STP ini. Mereka nggak asal bikin iklan atau nurunin harga, tapi semuanya terukur dan punya tujuan jelas buat menempel di ingatan konsumen. Ini juga jadi pelajaran penting buat siapa pun yang lagi merancang strategi bisnis umkm, karena tanpa arah yang jelas soal siapa target pasar kamu, promosi sebagus apa pun bakal terasa sia-sia. 1. Suara Jadi Identitas Teh Pucuk Harum Salah satu hal yang paling kepikiran dari Teh Pucuk Harum adalah jingle-nya yang ceria dan gampang banget diingat. Coba deh, hampir semua orang yang sering nonton TV pasti bisa nyenandungin nada khasnya. Ini adalah bagian dari strategi audio branding yang sengaja dirancang buat memperkuat citra merek lewat indra pendengaran. Selain jingle, mereka juga memanfaatkan suara-suara alami seperti gemericik air dan kicauan burung di beberapa materi promosinya. Suara-suara ini dipilih bukan asal-asalan, tapi buat menegaskan kesan segar dan alami yang jadi nilai jual utama produk mereka. Pakar branding Martin Lindstrom pernah menekankan bahwa suara punya kekuatan besar dalam membentuk ingatan konsumen terhadap sebuah merek, bahkan kadang lebih kuat dibanding elemen visual sekalipun, karena suara punya sifat yang lebih sulit diabaikan otak manusia dibanding gambar yang bisa kita hindari dengan mudah. Dengan strategi audio yang konsisten kayak gini, Teh Pucuk Harum berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai sonic branding, yaitu identitas suara yang khas sehingga begitu kamu dengar jingle-nya, otak kamu langsung otomatis mengasosiasikannya sama produk ini. Buat pelaku strategi bisnis umkm, ini bisa jadi inspirasi sederhana, misalnya bikin jingle pendek atau suara khas yang gampang diingat pelanggan, meskipun modalnya nggak sebesar produksi iklan TV nasional. 2. Harga yang Bersaing Kalau kamu perhatikan, harga Teh Pucuk Harum di pasaran cenderung kompetitif dibanding merek sejenis. Bukan berarti mereka asal jual murah, tapi ini adalah bagian dari strategi harga penetrasi yang memang sengaja diterapkan buat menarik konsumen sebanyak mungkin sekaligus memperluas pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat. Strategi ini sebenarnya bagian dari konsep bauran pemasaran yang lebih luas, yang dalam dunia marketing modern sering dikenal dengan istilah 7P, yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence. Dari sisi produk, Teh Pucuk Harum hadir dalam berbagai ukuran kemasan supaya konsumen bisa milih sesuai kebutuhan, entah buat langsung diminum atau buat stok di rumah. Dari sisi harga, mereka pilih jalur yang bersaing biar konsumen nggak mikir dua kali buat beli. Sementara dari sisi distribusi, produk ini bisa kamu temuin di mana-mana, mulai dari warung kecil, minimarket, supermarket, pasar tradisional, sampai aplikasi layanan antar makanan dan minuman. Yang menarik, pendekatan distribusi yang luas dan merata ini sebenarnya jadi salah satu kunci kenapa produk bisa terus diingat konsumen. Soalnya, sebagus apa pun sebuah merek, kalau susah dicari saat konsumen butuh, ya percuma juga. Ini poin penting yang sering kelewat dalam strategi bisnis umkm, di mana banyak usaha kecil fokus habis-habisan di promosi tapi lupa memastikan produknya gampang diakses calon pembeli. 3. Tagline Sederhana dan Maskot yang Bikin Gemes “Pucuk-Pucuk-Pucuk.” Kalau kamu baca kalimat itu, kemungkinan besar kamu langsung kebayang jingle-nya kan? Nah, itulah kekuatan dari tagline sederhana yang diulang-ulang. Pengulangan kata yang simpel kayak gini ternyata efektif banget buat menempel di ingatan orang, apalagi kalau dipadukan sama maskot ulat yang lucu dan gampang dikenali secara visual. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan gagasan tentang ekuitas merek atau brand equity yang dipopulerkan oleh David Aaker, seorang pemikir branding ternama. Menurutnya, kesadaran merek atau brand awareness adalah salah satu fondasi utama dari kekuatan sebuah merek, dan salah satu cara paling efektif buat membangun kesadaran itu adalah lewat pengulangan pesan yang konsisten dan mudah dikenali, baik dari sisi bahasa maupun visual. Semakin sering dan semakin sederhana pesan itu diulang, semakin besar peluangnya buat nyangkut di kepala konsumen tanpa mereka sadari. Kombinasi tagline yang catchy dan maskot yang menggemaskan

SELENGKAPNYA
Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Kalau kamu membuka Instagram atau TikTok belakangan ini, mungkin kamu sempat melihat unggahan tentang asinan buah dengan harga sekitar Rp600.000 per toples. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah kaget, lalu penasaran. “Masa asinan harganya segitu?” Dari situ, banyak orang akhirnya membuka kolom komentar, mencari tahu isi produknya, atau bahkan ikut membahasnya. Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam psikologi konsumen, ada berbagai faktor yang membuat sesuatu yang dianggap tidak biasa justru lebih mudah menarik perhatian dan memicu percakapan. Asinan Ceri-Ya dari Chef Devy Anastasia menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat bagaimana hal tersebut bekerja. Asinan Ceri-Ya merupakan produk asinan kiamboy premium milik Chef Devy Anastasia, alumnus MasterChef Indonesia musim kesembilan. Produk ini menjadi viral karena dibanderol sekitar Rp600.000 per toples, jauh di atas harga asinan kiamboy pada umumnya yang berkisar puluhan ribu rupiah. Mengutip pemberitaan Detik Food, harga tersebut didukung oleh penggunaan potongan buah premium serta kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Terlepas dari pro dan kontra mengenai harganya, justru label harga yang tidak biasa inilah yang membuat produk tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Asianan Ceri-Ya: Ada Harga, Ada Kualitas Penelitian ilmiah tentang persepsi harga bisa menjelaskan mengapa strategi harga tinggi ini berhasil menarik perhatian. Sejumlah studi pemasaran menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian, karena konsumen sering menggunakan harga sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kualitas suatu produk sebelum benar-benar mencobanya. Penelitian yang membahas pengaruh persepsi harga dan word of mouth terhadap keputusan pembelian di sebuah kedai kopi menemukan bahwa persepsi harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, sehingga semakin tinggi kesesuaian antara harga yang dirasakan dengan kualitas yang ditawarkan, semakin besar pula kemungkinan konsumen memutuskan untuk membeli. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, harga Rp600.000 berfungsi sebagai sinyal bahwa produk ini menggunakan bahan yang tidak biasa, sehingga sebagian orang menganggap harga tersebut sepadan meski belum pernah mencicipinya secara langsung. Kajian lain juga menjelaskan bahwa setiap produk yang bersifat fisik tidak dapat dengan mudah dievaluasi sebelum dibeli, sehingga untuk melihat kualitas produk, konsumen harus membeli produk tersebut terlebih dahulu, dan konsumen yang belum membeli hanya bisa mempelajari gambaran umum kualitas produk lewat ulasan dari konsumen lain yang sudah membelinya. Ini menjelaskan mengapa harga yang tidak lazim justru memancing rasa penasaran, bukan langsung menghasilkan penolakan. Bahan Premium sebagai Justifikasi Harga Harga tinggi pada produk ini tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh narasi bahan premium yang membuatnya terasa masuk akal di mata sebagian pembeli. Berdasarkan laporan Bisik.id, Chef Devy menawarkan kreasi asinan kiamboy berisi buah ceri segar, ditambah jenis buah premium lain seperti leci, anggur, hingga kiwi, dengan kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Laman RRI menambahkan detail lain soal isian produk ini, yaitu ceri, anggur Muscat, Moon Drop, kiwi, leci, kelengkeng Thailand, delima, dan nanas. Susunan bahan seperti ini tidak umum ditemukan pada asinan kiamboy standar yang biasanya hanya berisi mangga muda, kedondong, nanas, jambu kristal, dan salak. Kombinasi buah impor musiman inilah yang menjadi dasar cerita produk premium, sekaligus menjadi bahan perbandingan yang membuat harga Rp600.000 terlihat lebih masuk akal bagi sebagian orang. Sistem Pre-Order Terbatas dan FOMO Bagi kamu yang pernah mengikuti sistem pre-order di media sosial, pola yang terjadi pada Asinan Ceri-Ya mungkin terasa familiar. Produk dibuka dalam jumlah terbatas, lalu ditutup dalam waktu relatif singkat karena tingginya permintaan. Situs EurekaWoman mencatat bahwa pesanan asinan tersebut sempat ditutup karena tingginya permintaan. Pengalaman melihat produk yang cepat habis semacam ini berkaitan dengan konsep yang dalam ilmu psikologi konsumen disebut fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan cemas karena khawatir tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Penelitian yang lebih spesifik pernah menguji hubungan antara kelangkaan produk, FOMO, dan perilaku pembelian impulsif pada produk viral dengan sistem terbatas, meski dalam konteks yang berbeda, yaitu produk mainan koleksi. Studi lain yang meneliti sistem kelangkaan secara lebih umum menegaskan bahwa strategi kelangkaan efektif karena memadukan tiga elemen penting dalam proses keputusan pembelian. Diantaranya persepsi risiko, persepsi nilai, dan respons emosional, sehingga ketika konsumen merasa ada kemungkinan kehilangan peluang, nilai produk terasa meningkat dan keputusan pun cenderung terjadi lebih cepat. Kalau kamu mengaitkan temuan ini dengan sistem PO terbatas pada Asinan Ceri-Ya, terlihat jelas bahwa penutupan pesanan dalam waktu singkat bukan sekadar kebetulan operasional, ya! Melainkan pola yang secara psikologis memang mendorong orang untuk bertindak lebih cepat dalam memutuskan pembelian. Storytelling di Balik Produk Asinan Ceri-Ya Selain harga dan bahan, cara Chef Devy bercerita di media sosial juga menjadi bagian penting dari daya tarik produk ini. Ia membagikan proses pencarian buah premium ke berbagai supermarket, yang menggambarkan usaha ekstra di balik satu porsi asinan tersebut. Cerita semacam ini membuat konsumen merasa sedang membeli sesuatu yang melibatkan usaha dan pemilihan bahan yang cermat, bukan sekadar makanan yang dibuat secara instan. Kalau kamu pernah membeli produk kuliner rumahan yang disertai cerita di balik proses pembuatannya, kamu mungkin memahami bagaimana cerita semacam ini bisa memengaruhi persepsi nilai produk tersebut. Meski secara objektif bahan yang digunakan sebenarnya bisa ditemukan di pasar atau supermarket biasa. Peran Viral Marketing dan Word of Mouth Fenomena Asinan Ceri-Ya juga menarik untuk dilihat dari sudut pandang teori viral marketing dan word of mouth secara umum. Menurut artikel dari RWE Digital Agency, viral marketing pada dasarnya adalah cara promosi di media sosial yang membuat audiens ikut menyebarkan pesan pemasaran ke orang lain. Sehingga peluang untuk menaikkan penjualan atau membuat sebuah merek makin dikenal menjadi lebih besar, dan konsepnya sebenarnya mirip dengan strategi dari mulut ke mulut yang dulu dipakai dalam pemasaran tradisional. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, audiens yang ikut membagikan opini mereka, baik yang mendukung maupun yang mengkritik harga produk tersebut, secara tidak langsung berperan sebagai penyebar informasi tanpa perlu dibayar sebagai endorser. Artikel yang sama juga menjelaskan bahwa salah satu cara membuat konten bisnis kecil menjadi viral adalah dengan mencari topik yang sebenarnya akrab dalam kehidupan sehari-hari namun sering diabaikan, karena hal ini membangun hubungan emosional dengan audiens. Asinan sendiri adalah jajanan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, sehingga ketika muncul versi dengan harga jauh di atas rata-rata, topik

SELENGKAPNYA
Mengapa Business Owner Perlu Rutin Mengikuti Event Bisnis?

Mengapa Business Owner Perlu Rutin Mengikuti Event Bisnis?

Perubahan dalam dunia bisnis berlangsung semakin cepat. Perkembangan teknologi digital, perubahan perilaku konsumen, munculnya berbagai platform baru, hingga meningkatnya persaingan membuat pelaku usaha perlu terus memperbarui pengetahuan dan strategi yang digunakan. Bagi seorang business owner, menjalankan bisnis tidak hanya berkaitan dengan operasional sehari-hari.  Pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh informasi mengenai kondisi pasar, perkembangan teknologi, hingga pengalaman dari pelaku usaha lain yang menghadapi tantangan serupa. Berbagai informasi memang dapat diperoleh melalui artikel, video, podcast, maupun webinar.  Namun, mengikuti event bisnis memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang berbeda karena peserta dapat berdiskusi secara langsung dengan praktisi industri, bertemu pelaku usaha dari berbagai bidang, serta memahami perkembangan bisnis melalui forum yang dirancang secara khusus. Oleh karena itu, banyak business owner menjadikan event bisnis sebagai salah satu agenda yang diikuti secara rutin untuk memperluas wawasan sekaligus membangun hubungan profesional yang dapat mendukung perkembangan usaha. Manfaat Mengikuti Event Bisnis Setiap event bisnis memiliki tema dan fokus pembahasan yang berbeda. Ada yang membahas pemasaran digital, pengembangan produk, teknologi, kepemimpinan, maupun strategi pertumbuhan bisnis.  Meskipun demikian, terdapat beberapa manfaat yang umumnya dapat diperoleh oleh peserta. a. Menambah wawasan dari praktisi industri Salah satu alasan business owner mengikuti event bisnis adalah untuk memperoleh pengetahuan langsung dari praktisi yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan bisnis. Melalui sesi presentasi, diskusi, maupun studi kasus, peserta dapat memahami bagaimana sebuah strategi diterapkan dalam kondisi nyata.  Pembahasan seperti ini membantu peserta melihat berbagai pendekatan yang digunakan dalam menghadapi perubahan pasar, mengelola operasional, maupun menyusun strategi pertumbuhan bisnis. Informasi yang disampaikan oleh praktisi juga dapat menjadi referensi ketika peserta mengevaluasi strategi yang sedang dijalankan di perusahaannya. b. Memahami tren dan perkembangan industri Kondisi pasar terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi, munculnya kebiasaan baru konsumen, hingga perubahan perilaku belanja dapat memengaruhi cara sebuah bisnis beroperasi. Melalui event bisnis, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai tren yang sedang berkembang serta berbagai isu yang menjadi perhatian di industrinya. Informasi tersebut dapat membantu business owner dalam menyusun perencanaan bisnis yang lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Selain itu, pelaku usaha juga dapat mengenal berbagai teknologi maupun solusi yang mulai banyak digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis. c. Memperluas networking Networking menjadi salah satu alasan utama banyak pelaku usaha menghadiri business conference. Dalam satu acara, peserta dapat bertemu dengan founder, business owner, brand owner, digital marketer, agency, supplier, maupun berbagai penyedia layanan yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan bisnis. Hubungan profesional yang dibangun melalui pertemuan langsung dapat membuka ruang diskusi mengenai pengalaman menjalankan usaha, tantangan yang dihadapi, maupun peluang kerja sama yang relevan dengan kebutuhan masing-masing pihak. Bagi business owner, memiliki jaringan profesional yang luas juga dapat menjadi sumber informasi ketika membutuhkan masukan mengenai strategi maupun perkembangan industri. d. Membuka peluang kolaborasi Pertumbuhan bisnis sering melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam bidang pemasaran, distribusi, teknologi, maupun operasional. Event bisnis menjadi tempat yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor sehingga peserta memiliki kesempatan untuk mengenal calon mitra yang memiliki bidang usaha atau layanan yang saling melengkapi. Kolaborasi yang dibangun melalui networking dapat berkembang menjadi kerja sama bisnis apabila kedua belah pihak memiliki kebutuhan dan tujuan yang sejalan. e. Mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan bisnis Setiap pelaku usaha memiliki pengalaman yang berbeda dalam menjalankan bisnisnya. Melalui event bisnis, peserta dapat mendengarkan berbagai pendekatan yang diterapkan oleh perusahaan maupun entrepreneur dalam menghadapi perubahan industri. Inspirasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan ketika menyusun strategi baru, meningkatkan kualitas operasional, maupun mengevaluasi proses bisnis yang telah berjalan. Tantangan Bisnis Digital Saat Ini Perkembangan bisnis digital membawa berbagai peluang sekaligus perubahan yang perlu dipahami oleh pelaku usaha.  Perubahan tersebut tidak selalu berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut perilaku konsumen, strategi pemasaran, serta cara membangun pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Salah satu tantangan yang banyak dibahas saat ini adalah ketergantungan terhadap satu platform.  Banyak bisnis memperoleh penjualan melalui marketplace atau media sosial. Ketika terjadi perubahan algoritma atau kebijakan platform, performa bisnis dapat ikut terpengaruh sehingga pelaku usaha perlu mempertimbangkan strategi yang lebih beragam dalam menjangkau pelanggan. Pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga menjadi topik yang semakin relevan. Berbagai tools berbasis AI mulai digunakan untuk membantu pembuatan konten, analisis data, layanan pelanggan, hingga proses pengambilan keputusan.  Kondisi tersebut membuat business owner perlu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan bisnisnya. Di sisi lain, biaya akuisisi pelanggan juga menjadi perhatian banyak pelaku usaha.  Persaingan yang semakin tinggi membuat strategi pemasaran perlu disesuaikan agar penggunaan anggaran tetap efisien tanpa mengurangi kualitas layanan kepada pelanggan. Selain strategi dan teknologi, kolaborasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis.  Banyak perusahaan mulai membangun hubungan dengan komunitas, partner, maupun penyedia layanan untuk mendukung pertumbuhan usaha sesuai kebutuhan masing-masing. Berbagai isu tersebut menjadi salah satu alasan mengapa forum diskusi seperti event bisnis tetap relevan bagi business owner. Mengenal Everpro Connect 2026 Salah satu business conference yang mengangkat berbagai isu tersebut adalah Everpro Connect 2026. Everpro Connect 2026 merupakan event bisnis digital yang diselenggarakan oleh Everpro dengan mengusung tema “The Future of Online Business: AI, Consumer Behavior, and Building Growth in an Era of Constant Change.” Tema tersebut berfokus pada berbagai perkembangan yang saat ini mempengaruhi bisnis digital, mulai dari pemanfaatan AI, perubahan perilaku konsumen, strategi pertumbuhan bisnis, hingga pentingnya membangun ekosistem yang mendukung perkembangan usaha. Event ini dirancang untuk mempertemukan founder, business owner, seller online, brand owner, digital marketer, agency, serta berbagai praktisi industri dalam satu forum pembelajaran dan networking. Melalui pembahasan yang disusun berdasarkan tantangan bisnis saat ini, peserta dapat memperoleh wawasan mengenai berbagai strategi yang dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan usaha. Apa yang Akan Dipelajari di Everpro Connect 2026? Everpro Connect 2026 menghadirkan berbagai sesi yang membahas topik-topik yang berkaitan dengan pengembangan bisnis digital. Peserta akan memperoleh pembahasan mengenai strategi membangun bisnis yang tidak bergantung pada satu platform dengan memanfaatkan berbagai channel pemasaran dan penjualan. Topik mengenai implementasi AI juga menjadi bagian dari agenda acara.  Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan AI dalam mendukung proses bisnis, membaca data, meningkatkan efisiensi operasional, serta membantu pengambilan keputusan. Selain itu, peserta dapat mengikuti pembahasan mengenai branding, customer acquisition, consumer behavior, serta strategi membangun bisnis yang memiliki pondasi untuk berkembang secara berkelanjutan. Everpro Connect 2026 juga menghadirkan sesi Business

SELENGKAPNYA
ProPak Indonesia 2026 Resmi Digelar, LegalMP Buka Booth Konsultasi Legalitas

ProPak Indonesia 2026 Resmi Digelar, LegalMP Buka Booth Konsultasi Legalitas

Perkembangan industri pengolahan (processing) dan pengemasan (packaging) terus berjalan seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk yang berkualitas, aman, dan memenuhi regulasi.  Tidak hanya teknologi produksi yang berkembang, pelaku usaha juga dihadapkan pada kebutuhan untuk memastikan bahwa bisnis yang dijalankan telah memiliki aspek legal yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pameran industri seperti ProPak Indonesia 2026 memiliki peran penting.  Selain menjadi tempat memperkenalkan teknologi terbaru, pameran ini juga menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, penyedia solusi industri, asosiasi, hingga perusahaan yang bergerak di bidang pendukung bisnis, termasuk layanan legalitas usaha. Pada penyelenggaraan tahun ini, Legal Menjadi Pengaruh (LegalMP) turut hadir sebagai exhibitor dengan menghadirkan booth konsultasi legalitas usaha.  Kehadiran tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan edukasi serta membantu pelaku usaha memahami berbagai kebutuhan legal yang berkaitan dengan kegiatan bisnis mereka. Pembukaan Resmi ProPak Indonesia 2026 ProPak Indonesia 2026 secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ibu Widiyanti Putri Wardhana, sebagai penanda dimulainya rangkaian pameran yang berlangsung pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.  Opening ceremony ini menjadi agenda pembuka yang menandai dimulainya berbagai aktivitas pameran selama empat hari. Pembukaan resmi merupakan bagian penting dari penyelenggaraan ProPak Indonesia karena menjadi awal dimulainya interaksi antara exhibitor, pelaku industri, dan pengunjung.  Setelah seremoni pembukaan, seluruh area pameran mulai menerima kunjungan sehingga peserta dapat memperkenalkan produk, teknologi, maupun solusi yang mereka hadirkan kepada para pelaku usaha dari berbagai sektor. Selama penyelenggaraan, para pengunjung memiliki kesempatan untuk mengunjungi booth peserta, mengikuti seminar dan conference, menyaksikan demonstrasi teknologi, serta membangun jaringan bisnis dengan perusahaan maupun profesional yang bergerak di bidang processing dan packaging.  Rangkaian kegiatan tersebut memberikan ruang bagi setiap peserta untuk bertukar informasi mengenai perkembangan industri dan menjajaki peluang kerja sama yang relevan dengan kebutuhan bisnis masing-masing. Melalui pembukaan resmi ini, ProPak Indonesia 2026 memasuki rangkaian kegiatan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri dalam satu forum. Mulai dari penyedia teknologi, produsen, distributor, hingga pelaku usaha yang ingin memperoleh informasi mengenai perkembangan solusi processing dan packaging. Peserta dan Agenda ProPak Indonesia 2026 Sebagai gambaran penyelenggaraan sebelumnya, ProPak Indonesia 2025 dihadiri oleh 3.393 trade attendees, melibatkan lebih dari 75 perusahaan peserta pameran (exhibiting companies) dari 15 negara dan wilayah, serta menempati area pameran seluas 4.158 meter persegi.  Data tersebut menunjukkan bahwa ProPak Indonesia menjadi salah satu pameran internasional yang mempertemukan pelaku industri processing dan packaging dari berbagai sektor. Pada penyelenggaraan ProPak Indonesia 2026, pameran kembali menjadi wadah bagi perusahaan penyedia mesin produksi, teknologi pengemasan, material kemasan, sistem otomatisasi, perangkat lunak industri, logistik, hingga berbagai penyedia solusi pendukung manufaktur untuk memperkenalkan inovasi dan teknologi yang mereka miliki. Selain diikuti oleh berbagai exhibitor, ProPak Indonesia juga menjadi tujuan kunjungan bagi beragam pelaku usaha, antara lain: Selama penyelenggaraan, pengunjung dapat mengikuti berbagai agenda yang mendukung pertukaran wawasan dan peluang kolaborasi, seperti: Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ProPak Indonesia menjadi ruang bagi pelaku industri untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan teknologi, menjalin relasi bisnis, serta mengeksplorasi berbagai solusi yang relevan dengan kebutuhan usaha. LegalMP Hadir sebagai Exhibitor Sebagai bagian dari penyelenggaraan ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh berpartisipasi sebagai exhibitor dengan menghadirkan booth di Hall A1.  Kehadiran ini menjadi kesempatan bagi Legal Menjadi Pengaruh untuk bertemu secara langsung dengan pelaku usaha dari berbagai sektor yang hadir selama pameran. Melalui booth tersebut, pengunjung dapat berkonsultasi mengenai berbagai kebutuhan legalitas usaha sesuai dengan bidang bisnis yang dijalankan.  Diskusi yang dilakukan mencakup berbagai topik, mulai dari proses pendirian badan usaha, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui OSS, sertifikasi halal, PIRT, BPOM, pendaftaran merek, hingga konsultasi mengenai dokumen legal lain yang dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan usaha. Selama empat hari penyelenggaraan, tim Legal Menjadi Pengaruh berinteraksi dengan pengunjung yang berasal dari beragam latar belakang industri, seperti UMKM, manufaktur, makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, packaging, serta sektor usaha lainnya.  Beragamnya profil pengunjung mencerminkan bahwa kebutuhan legalitas setiap bisnis dapat berbeda, bergantung pada jenis usaha, produk yang dipasarkan, maupun tahapan perkembangan bisnisnya. Melalui konsultasi secara langsung, pengunjung memiliki kesempatan untuk menyampaikan kondisi usahanya dan memperoleh informasi mengenai legalitas yang relevan dengan kebutuhan tersebut.  Selain menjadi ruang konsultasi, booth Legal Menjadi Pengaruh juga menjadi tempat berdiskusi mengenai pentingnya memahami aspek legal sebagai bagian dari pengelolaan usaha. Sehingga pelaku bisnis dapat memperoleh gambaran mengenai dokumen maupun perizinan yang diperlukan sesuai dengan kegiatan usahanya. Aktivitas LegalMP di Pameran ProPak Indonesia 2026 Selama mengikuti ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh menghadirkan beberapa aktivitas yang berfokus pada edukasi dan konsultasi. Aktivitas tersebut meliputi: Melalui kegiatan tersebut, tim Legal Menjadi Pengaruh juga memperoleh gambaran mengenai berbagai pertanyaan dan kebutuhan yang sering dihadapi pelaku usaha ketika mengurus legalitas bisnis. Macam-Macam Layanan LegalMP Selama berada di ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh memperkenalkan berbagai layanan yang berkaitan dengan legalitas usaha, di antaranya: Seluruh layanan tersebut diperkenalkan sebagai informasi bagi pengunjung yang ingin memahami tahapan pengurusan legalitas maupun dokumen yang diperlukan sesuai kegiatan usahanya. Pentingnya Legalitas dalam Kegiatan Usaha Dalam berbagai sektor industri, legalitas menjadi salah satu aspek yang mendukung keberlangsungan kegiatan usaha.  Dokumen legal yang sesuai membantu pelaku usaha menjalankan operasional sesuai ketentuan, membangun kerja sama dengan mitra bisnis, serta memenuhi persyaratan administrasi yang dibutuhkan dalam aktivitas komersial. Bagi pelaku usaha di sektor makanan dan minuman, misalnya, legalitas dapat berkaitan dengan izin usaha, sertifikasi halal, PIRT, maupun BPOM sesuai karakteristik produknya.  Sementara itu, perusahaan yang ingin membangun identitas merek juga perlu memahami proses pendaftaran merek sebagai bagian dari perlindungan kekayaan intelektual. Melalui konsultasi yang dilakukan selama ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh memberikan penjelasan mengenai berbagai kebutuhan legal tersebut berdasarkan jenis usaha yang dijalankan oleh pengunjung. Penutup Keikutsertaan Legal Menjadi Pengaruh dalam ProPak Indonesia 2026 merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk hadir lebih dekat dengan pelaku usaha melalui pendekatan edukatif dan konsultatif. Melalui partisipasi sebagai exhibitor, Legal Menjadi Pengaruh tidak hanya memperkenalkan layanan yang dimiliki, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya legalitas dalam mendukung kegiatan usaha di berbagai sektor industri. Ke depan, Legal Menjadi Pengaruh berharap dapat terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha sehingga semakin banyak bisnis yang memperoleh informasi mengenai aspek legal sesuai kebutuhan mereka. Bagi pelaku usaha yang ingin

SELENGKAPNYA
Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu lihat botol hand body lotion warna-warni dengan tulisan besar “Marina” di rak minimarket dekat rumah? Kemungkinan besar jawabannya “kemarin” atau “hari ini”. Marina memang sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang Indonesia, dari yang tinggal di kota besar sampai yang di desa kecil. Tapi pernah nggak kamu kepikiran, kenapa Marina bisa segitu lekat di hati konsumen Indonesia selama bertahun-tahun? Padahal kompetitor produk hand body lotion di pasaran juga nggak sedikit. Nah, di artikel ini kita bakal bahas tuntas strategi pemasaran Marina, brand hand body lotion legendaris yang diproduksi oleh PT Tempo Scan Pacific. Kita akan kulik dari soal harga yang bersahabat, inovasi produk yang nggak ada habisnya, sampai cara Marina bikin konsumen merasa “dekat” secara emosional. Sekilas Tentang Marina Marina bukan pemain baru di industri kosmetik dan perawatan kulit tanah air. Brand ini sudah eksis cukup lama dan berhasil membangun posisi kuat sebagai salah satu merek hand body lotion paling dikenal di Indonesia. Salah satu kunci kesuksesannya adalah kemampuan Marina membaca kebutuhan pasar lokal dengan sangat baik. Kalau kita perhatikan, karakter konsumen Indonesia itu punya beberapa kesamaan. Pertama, sangat sensitif terhadap harga. Kedua, senang mencoba produk baru asal terasa cocok dan aman buat kulit. Ketiga, suka merek yang terasa “membumi” dan bukan cuma sekadar jualan produk doang. Tiga karakter ini yang dipahami betul oleh Marina, dan jadi dasar dari seluruh strategi pemasarannya. Yuk kita bahas satu-satu, mulai dari strategi yang paling mendasar, yaitu soal harga. Strategi Harga Terjangkau Marina Kalau ditanya apa senjata paling ampuh Marina dalam merebut hati konsumen Indonesia, jawabannya jelas: harga yang ramah kantong. Marina berhasil memposisikan dirinya sebagai produk hand body lotion yang bisa dijangkau hampir semua kalangan, mulai dari harga sekitar Rp6.000 sampai Rp20.000 per kemasan tergantung ukuran dan variannya. Harga segitu memang kelihatan kecil, tapi dampaknya besar banget buat pasar Indonesia. Kenapa? Karena mayoritas masyarakat Indonesia itu masuk kategori kelas menengah ke bawah yang sangat memperhitungkan pengeluaran harian. Buat mereka, produk perawatan kulit bukan barang mewah yang harus dipikir panjang sebelum beli. Justru sebaliknya, hand body lotion dianggap kebutuhan dasar sehari-hari, sama pentingnya dengan sabun mandi atau shampo. Dengan menetapkan harga di rentang yang sangat terjangkau ini, Marina otomatis membuka pintu selebar-lebarnya buat siapa saja untuk jadi konsumen mereka. Ibu rumah tangga yang belanja bulanan, pelajar yang uang sakunya terbatas, sampai pekerja dengan gaji standar, semua bisa dengan mudah memasukkan Marina ke dalam daftar belanja tanpa perlu berpikir dua kali. Strategi harga murah ini juga didukung dengan variasi ukuran kemasan yang beragam. Ada kemasan sachet kecil buat yang mau coba-coba dulu atau lagi bepergian, ada juga botol ukuran sedang dan besar buat pemakaian rumahan yang lebih hemat kalau dihitung per milliliternya. Jadi konsumen punya banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan kantong masing-masing. Menariknya lagi, meski harganya murah, Marina nggak lantas mengorbankan kualitas produknya. Justru di sinilah letak kepintaran strategi mereka. Marina berhasil membuktikan bahwa harga murah bukan berarti kualitas rendah. Ini penting banget buat membangun kepercayaan jangka panjang, karena kalau konsumen merasa dikecewakan soal kualitas padahal sudah bayar murah, reputasi brand bisa langsung hancur. Strategi harga terjangkau ini juga bikin Marina jadi pilihan utama ketika ada konsumen yang baru pertama kali mau coba produk hand body lotion. Risiko yang dirasakan konsumen jadi kecil banget. Coba bayangkan, kalau harga produk hand body lotion sampai ratusan ribu rupiah, orang pasti akan lebih hati-hati dan banyak pertimbangan sebelum membeli. Tapi kalau harganya cuma belasan ribu, orang jauh lebih santai untuk mencoba, dan kalau ternyata cocok, mereka bakal jadi pelanggan setia. Inovasi Varian Berbasis Superfood dan Antioksidan Kalau kamu perhatikan rak-rak hand body lotion di toko, Marina itu punya banyak sekali varian. Bukan cuma satu atau dua jenis, tapi belasan pilihan dengan manfaat dan aroma yang berbeda-beda. Ini bukan kebetulan, tapi memang bagian dari strategi besar Marina untuk terus relevan dengan tren perawatan kulit yang berkembang. Salah satu inovasi yang cukup menarik perhatian adalah formula 24H Advanced Moisturizing. Produk ini diklaim mampu memberikan kelembapan pada kulit hingga 24 jam penuh, sesuatu yang jadi kebutuhan penting mengingat cuaca di Indonesia yang panas dan lembap bisa membuat kulit cepat kering, apalagi buat orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan atau sering terkena AC di kantor sepanjang hari. Selain itu, Marina juga rutin meluncurkan varian yang mengangkat kandungan bahan alami sebagai nilai jual utama. Beberapa variannya menggunakan ekstrak buah dan tanaman yang dikenal punya kandungan antioksidan tinggi. Kandungan seperti ini sedang jadi tren besar di dunia perawatan kulit global, karena antioksidan dipercaya bisa membantu melindungi kulit dari radikal bebas yang bikin kulit cepat kusam dan menua sebelum waktunya. Konsep “superfood” yang belakangan lagi hits di dunia makanan sehat juga diadaptasi Marina ke dalam produk perawatan kulitnya. Bahan-bahan seperti buah beri, teh hijau, atau ekstrak tanaman lain yang dikenal punya banyak nutrisi dan antioksidan, dikemas jadi bahan aktif dalam produk lotion mereka. Ini jadi cara pintar Marina untuk menyasar konsumen yang makin sadar soal kesehatan kulit dan lebih tertarik dengan produk yang punya nilai tambah “alami” atau “sehat” dibanding sekadar pelembap biasa. Marina juga nggak ketinggalan menghadirkan varian dengan perlindungan UV. Mengingat sinar matahari di Indonesia cukup terik sepanjang tahun, kebutuhan perlindungan kulit dari sinar UV jadi makin penting. Dengan menambahkan fitur ini ke dalam produknya, Marina berhasil menjawab kebutuhan konsumen yang makin melek soal pentingnya melindungi kulit dari paparan matahari, bukan cuma soal kelembapan saja. Strategi diversifikasi varian ini punya banyak keuntungan buat Marina. Pertama, mereka bisa menyasar segmen konsumen yang lebih spesifik sesuai kebutuhan kulit masing-masing, entah itu kulit kering, kulit yang butuh pencerahan, atau kulit yang butuh perlindungan ekstra. Kedua, dengan terus berinovasi, Marina berhasil menghindari kesan brand yang “jadul” atau ketinggalan zaman. Konsumen, terutama generasi muda, cenderung tertarik dengan brand yang selalu punya sesuatu yang baru dan sesuai tren terkini. Ketiga, dengan banyaknya pilihan varian, Marina bisa memenuhi hampir semua kebutuhan perawatan kulit dalam satu rak produk saja. Jadi konsumen nggak perlu pindah ke brand lain kalau mau coba manfaat yang berbeda, karena Marina sudah punya semuanya. Cara Marina Membangun Kedekatan Emosional Kalau kita bicara soal strategi pemasaran yang

SELENGKAPNYA
Kenapa Rasa Milo Indonesia dan Malaysia Beda? Ini Alasannya

Kenapa Rasa Susu Milo Indonesia dan Malaysia Beda?

Milo jadi salah satu minuman cokelat yang menemani masa kecil banyak orang di Asia Tenggara. Tapi kalau kamu pernah mencicipi susu Milo dari Malaysia dan Indonesia secara berdampingan, kamu bakal sadar rasanya tidak sama persis. Padahal mereknya sama, bahkan sama-sama diproduksi oleh perusahaan besar bernama Nestlé. Perbedaan ini bukan cerita baru. Sudah lama jadi obrolan santai di antara penggemar minuman cokelat di dua negara tetangga ini, terutama mereka yang sempat pulang pergi atau belanja daring lintas negara. Kalau ditelusuri lebih dalam, perbedaan rasa ini bukan kebetulan. Ada alasan bisnis, budaya, sampai aturan pemerintah yang membentuk kenapa formula Milo bisa beda di tiap negara. Dan menariknya, cerita sederhana soal minuman cokelat ini sebenarnya bisa jadi pelajaran besar soal strategi bisnis umkm, khususnya buat kamu yang sedang membangun usaha kuliner atau produk konsumsi dan ingin produknya benar benar cocok di hati pembeli. Beda Formula, Beda Karakter Rasa Milo Malaysia dikenal punya rasa yang lebih pekat, lebih manis, dan aroma malt serta cokelatnya terasa kuat, bahkan setelah dicampur es atau susu. Ini bukan tanpa alasan. Formulanya memang dibuat lebih berani dengan kadar malted barley dan kakao yang lebih tinggi dibanding versi lain. Karena rasanya yang kuat, minuman ini jadi menu andalan di kedai kopi dan restoran di Malaysia. Bahkan “Milo Ais” atau Milo dingin dianggap sebagai salah satu ikon minuman nasional di sana, sejajar dengan teh tarik. Sementara itu, Milo Indonesia terasa lebih ringan dan creamy, mirip susu cokelat dengan sedikit aroma malt. Nestlé menyesuaikan komposisinya dengan selera masyarakat Indonesia yang cenderung suka rasa lembut dan tidak terlalu manis. Milo yang beredar di Indonesia diproduksi di pabrik Nestlé Karawang, Jawa Barat, sedangkan versi Malaysia berasal dari pabrik di Chembong, Negeri Sembilan. Perbedaan lokasi pabrik dan bahan baku lokal ini ikut memengaruhi karakter rasa akhirnya. Selain resep, cara penyajian juga berbeda. Di Malaysia, Milo lebih sering disajikan dingin dengan tambahan susu kental manis. Di Indonesia, Milo lebih banyak dinikmati hangat sebagai teman sarapan atau camilan sore. Karena kebiasaan minumnya beda, wajar kalau formula rasanya pun dibuat menyesuaikan cara masyarakat masing masing negara menikmatinya. Menariknya, banyak orang Indonesia yang mencoba Milo Malaysia saat bepergian atau beli online mengaku rasanya lebih “nendang”. Sebaliknya, orang Malaysia yang mencicipi Milo Indonesia justru bilang rasanya lebih halus dan nyaman diminum. Keduanya sama sama membawa nostalgia masa kecil, hanya dengan sentuhan lokal yang berbeda. Kenapa Produsen Wajib Menyesuaikan Formula per Negara? Perbedaan rasa Milo antarnegara sebenarnya bukan cuma soal selera. Ada faktor regulasi pangan yang membuat perusahaan seperti Nestlé memang harus menyesuaikan formula produknya di setiap negara tempat mereka beroperasi. Di Indonesia, setiap produk pangan olahan, termasuk minuman serbuk berperisa yang mengandung susu seperti Milo, wajib melalui proses pendaftaran ke Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM sebelum bisa beredar. Ketentuan ini diatur lewat Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2023 tentang Registrasi Pangan Olahan, yang mewajibkan produsen melaporkan detail formulasi produk, komposisi bahan, informasi nilai gizi, sampai peruntukan atau target konsumen dari produk tersebut. Artinya, formula yang dipakai di satu negara tidak otomatis bisa dipakai begitu saja di negara lain, karena harus melalui proses kajian dan persetujuan ulang sesuai standar setempat. Regulasi ini makin diperketat lewat aturan yang lebih baru. BPOM baru saja menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan, yang merupakan pembaruan dari Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2019. Aturan ini secara khusus menambah persyaratan cemaran mikroba untuk kategori minuman serbuk berperisa yang mengandung susu, produk olahan susu, krimer, atau cokelat, kategori yang persis menaungi produk seperti Milo. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa pembaruan aturan ini dilakukan supaya standar keamanan pangan tetap relevan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memastikan produk yang beredar di masyarakat benar benar aman, bermutu, dan bergizi. Pelaku usaha yang produknya sudah punya izin edar diberi waktu penyesuaian paling lama 12 bulan sejak aturan ini diundangkan, sementara produk yang masih dalam proses pengajuan izin akan mengikuti aturan lama dulu sebelum akhirnya menyesuaikan dengan ketentuan baru. Dengan adanya aturan seperti ini, jelas kenapa produk multinasional seperti Milo tidak bisa asal menyamakan formula di semua negara. Selain soal selera, ada tanggung jawab hukum dan keamanan pangan yang harus dipenuhi di setiap wilayah pemasaran. Buat pelaku usaha kecil sekalipun, ini jadi pengingat penting bahwa urusan legalitas dan standar keamanan produk bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi kalau produk sudah mulai dijual ke luar daerah atau bahkan diekspor. Penyesuaian Rasa Milo dengan Lidah Konsumen Fenomena Milo ini sebenarnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar dalam dunia bisnis makanan dan minuman, yaitu bagaimana selera konsumen di satu wilayah bisa sangat berbeda dari wilayah lain, meskipun produknya berasal dari merek yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah glokalisasi, gabungan dari kata globalisasi dan lokalisasi, di mana perusahaan besar menyesuaikan produk atau layanannya supaya cocok dengan preferensi, kebiasaan, dan budaya konsumen di suatu daerah, tapi tetap mempertahankan identitas global mereknya. Kariswan, Aralea, Rahayu, dan Destiany dalam kajian mereka yang terbit tahun 2025 di Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry, meneliti bagaimana McDonald’s Indonesia menerapkan strategi glokalisasi lewat adaptasi menu lokal selama periode 2023 hingga 2025. Menurut kajian tersebut, adaptasi menu bukan sekadar taktik dagang biasa, tapi juga cara perusahaan membangun kedekatan dan penerimaan sosial di tengah masyarakat setempat, sekaligus mengurangi penolakan budaya terhadap produk yang datang dari luar negeri. Studi ini menegaskan bahwa glokalisasi menjadi mekanisme penting dalam industri makanan, khususnya karena bisnis kuliner sangat bergantung pada kepekaan terhadap selera dan kebiasaan makan masyarakat lokal. Pola yang sama juga berlaku pada Milo. Nestlé tidak sekadar mengekspor satu resep tunggal ke seluruh dunia, tapi mempelajari lebih dulu bagaimana masyarakat di tiap negara terbiasa mengonsumsi minuman cokelat, lalu menyesuaikan tingkat kemanisan, kekentalan, dan intensitas rasa malt sesuai kebiasaan tersebut. Hasilnya, Milo tetap dikenali sebagai Milo di mana pun, tapi rasanya terasa “milik” masing masing negara. Apa Hubungannya dengan Strategi Bisnis UMKM? Kalau perusahaan sebesar Nestlé saja harus repot repot menyesuaikan formula demi mengikuti selera lokal, pelajaran ini jelas relevan buat pelaku usaha kecil dan menengah. Justru di sinilah strategi bisnis umkm bisa belajar banyak. UMKM sering kali punya keunggulan yang tidak

SELENGKAPNYA