Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

FinDay Jakarta 2026 Ungkap Kunci Operasional Bisnis yang Siap Scale Up

FinDay Jakarta 2026 Ungkap Kunci Operasional Bisnis yang Siap Scale Up

FinDay Jakarta 2026 telah diselenggarakan pada Rabu, 20 Mei 2026, di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, sebagai forum diskusi dan networking bagi para pengusaha yang tengah menghadapi tantangan pertumbuhan bisnis. Acara Mekari yang salah satunya berkolaborasi dengan Menjadi Pengaruh ini mengangkat isu yang semakin relevan di dunia usaha. Ketika bisnis tumbuh pesat, sistem operasional di dalamnya belum tentu siap berkembang dengan kecepatan yang sama. Dalam praktiknya, pertumbuhan bisnis memang menjadi target banyak pengusaha, terutama di sektor retail dan F&B. Namun seiring bertambahnya cabang dan skala operasional, tantangan baru mulai bermunculan, mulai dari pengelolaan multi-outlet yang semakin kompleks, sulitnya memantau data secara menyeluruh, hingga menjaga konsistensi proses di setiap cabang.  Melalui FinDay Jakarta 2026, para peserta diajak memahami pentingnya membangun sistem operasional yang lebih terstruktur agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan lebih stabil dan berkelanjutan. Tidak hanya menghadirkan sesi sharing dari para pembicara, FinDay Jakarta 2026 juga dirancang secara interaktif melalui diskusi langsung dan networking antar peserta. Format ini membuat acara terasa lebih dekat dengan kebutuhan pengusaha, karena peserta dapat saling bertukar pengalaman, membahas tantangan nyata di lapangan, hingga membangun koneksi bisnis baru dalam satu forum yang sama. Apa Saja yang Dibahas di FinDay Jakarta 2026? Ada beberapa topik utama yang menjadi fokus diskusi dalam acara ini. Semuanya relevan dengan tantangan yang banyak dihadapi bisnis yang sedang dalam fase berkembang. 1. Membangun Operasional yang Terstruktur Banyak bisnis yang tumbuh dengan cepat tapi tidak punya sistem operasional yang jelas. Akibatnya, setiap ada masalah, solusinya bersifat tambal sulam dan tidak bisa diulang. Di FinDay Jakarta 2026, peserta diajak untuk melihat bagaimana cara membangun struktur operasional yang bisa berjalan konsisten, bahkan ketika tim atau cabang terus bertambah. 2. Strategi Scale tanpa Kehilangan Kontrol Scale bukan hanya soal menambah outlet atau merekrut lebih banyak staf. Scale yang sehat berarti bisnis tetap bisa berjalan dengan efisien meski ukurannya makin besar. Sesi ini membahas bagaimana bisnis retail dan F&B bisa tumbuh tanpa kehilangan kontrol atas kualitas produk, layanan, dan pengelolaan keuangan. 3. Pentingnya Visibilitas Data dalam Bisnis Salah satu masalah yang sering muncul saat bisnis mulai berkembang adalah sulitnya mendapatkan gambaran lengkap tentang kondisi bisnis secara keseluruhan. Laporan dari satu cabang tidak sinkron dengan cabang lain, stok tidak terpantau dengan baik, atau keputusan diambil berdasarkan data yang sudah ketinggalan. Di sini, diskusi berfokus pada bagaimana teknologi bisa membantu bisnis mendapatkan visibilitas data yang akurat dan real-time. 4. Sistem Terintegrasi sebagai Fondasi Pertumbuhan Menggunakan banyak aplikasi yang tidak saling terhubung justru bisa memperlambat operasional. Peserta diajak untuk memahami bagaimana sistem yang terintegrasi, mulai dari pencatatan transaksi, pengelolaan stok, hingga laporan keuangan, bisa menjadi fondasi yang kuat agar bisnis siap berkembang lebih jauh. 5. Praktik yang Langsung Bisa Diterapkan Yang membuat sesi ini terasa relevan adalah pendekatannya yang praktis. Para pembicara tidak hanya berbagi teori, tapi juga membahas langkah konkret yang bisa langsung dicoba dan diterapkan di bisnis masing-masing peserta. Siapa Saja Pembicara di FinDay Jakarta 2026? Kualitas sebuah forum diskusi sangat bergantung pada siapa yang berbicara. Di FinDay Jakarta 2026, empat pembicara hadir dengan latar belakang dan perspektif yang saling melengkapi. 1. Jansen Jumino, Chief Business Officer Mekari Sebagai Chief Business Officer di Mekari, Jansen membawa perspektif strategis tentang bagaimana teknologi bisa menjadi enabler pertumbuhan bisnis. Ia berbagi tentang pola yang sering dilihat pada bisnis yang berhasil melewati fase scale dengan baik, dan apa yang biasanya membedakannya dari yang tidak. 2. Liana Oktavia, Entrepreneur Liana hadir sebagai praktisi yang sudah menjalani langsung perjalanan membangun dan mengembangkan bisnis. Perspektif yang ia bawa sangat ground-level karena didasarkan pada pengalaman nyata, bukan hanya teori. Ini membuat paparannya terasa relevan bagi pengusaha yang sedang menghadapi tantangan serupa. 3. Jeremmy Joseph, Head of Sales Mekari Dari posisinya sebagai Head of Sales, Jeremmy memiliki pandangan langsung tentang apa yang dicari bisnis-bisnis berkembang dalam sebuah solusi operasional. Ia berbagi tentang pola kebutuhan yang sering muncul di berbagai jenis bisnis dan bagaimana pendekatan berbasis data bisa membantu tim sales maupun operasional bekerja lebih efisien. 4. M. Ariau Akbar, AVP Product Manager Mekari Sebagai AVP Product Manager, Ariau membahas sisi teknologi dari sudut pandang pengembangan produk. Ia menjelaskan bagaimana fitur-fitur dalam platform Mekari dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata bisnis yang sedang berkembang, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Lebih dari Sekadar Seminar Kalau kamu membayangkan FinDay Jakarta 2026 sebagai acara di mana peserta hanya duduk mendengarkan presentasi, gambarannya tidak terlalu tepat. Suasana yang terbangun jauh lebih hidup dari itu. Diskusi berlangsung dua arah. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, berbagi kondisi bisnis mereka sendiri, dan mendapat respons langsung dari para pembicara. Banyak percakapan yang kemudian berlanjut secara informal di sela-sela sesi, di mana sesama pelaku bisnis saling bertukar kontak dan pengalaman. Sesi networking juga menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Di sinilah koneksi baru terbentuk antara pemilik bisnis dari berbagai latar belakang industri. Ada yang baru merintis, ada yang sudah mengelola beberapa outlet, ada juga yang sedang mempertimbangkan untuk mengadopsi sistem baru. Perbedaan tahap pertumbuhan ini justru membuat diskusinya kaya karena setiap orang membawa sudut pandang yang berbeda. Ruang acara yang dirancang untuk mendukung interaksi ini membuat siapa pun yang hadir merasa bisa terlibat langsung, bukan sekadar menjadi penonton. Ini sejalan dengan semangat yang coba dibangun oleh Menjadi Pengaruh: komunitas yang tumbuh bersama, bukan hanya berkumpul. Penutup FinDay Jakarta 2026 membuktikan bahwa kebutuhan akan diskusi yang mendalam tentang operasional bisnis memang nyata dan banyak diminati. Kehadiran para peserta yang antusias, diskusi yang berlangsung hangat, dan wawasan yang dibagikan para pembicara menjadikan acara ini lebih dari sekadar event networking biasa. Melalui FinDay Jakarta 2026, Mekari dan Menjadi Pengaruh menunjukkan komitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi yang bermakna bagi pelaku bisnis. Bukan hanya tentang produk atau solusi teknologi, tapi tentang bagaimana bisnis bisa membangun operasional yang benar-benar siap menghadapi pertumbuhan ke depan. Kalau kamu melewatkan acara ini, pastikan kamu tidak melewatkan kesempatan berikutnya, ya!

SELENGKAPNYA
Marketing Brand Edisi Toy Story 5, dari Adidas, sampai Point Coffee

Marketing Brand Edisi Toy Story 5, dari Adidas, sampai Point Coffee

Menjelang penayangan Toy Story 5 pada 2026, berbagai brand mulai merilis produk dan kampanye bertema karakter ikonik dari franchise tersebut. Mulai dari industri fashion, footwear, hingga food and beverage, banyak perusahaan memanfaatkan momentum perilisan film terbaru Pixar ini untuk menghadirkan kolaborasi edisi spesial. Fenomena ini terlihat dari hadirnya koleksi sneaker Adidas bertema Woody dan Buzz Lightyear, rilisan Crocs dengan desain Jessie dan Alien Pizza Planet, hingga teaser kolaborasi yang mulai diunggah oleh Point Coffee di media sosial. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bagaimana franchise film dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran lintas industri, terutama ketika memiliki basis penggemar yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Adidas Siapkan Koleksi Toy Story 5 Salah satu kolaborasi yang cukup banyak dibicarakan datang dari Adidas yang menyiapkan koleksi khusus bertema Toy Story 5. Koleksi tersebut dikabarkan akan dirilis mulai 6 Juni 2026 dan menghadirkan beberapa model sneaker yang mengambil inspirasi langsung dari karakter utama Toy Story. Beberapa lineup yang telah muncul antara lain: Desain setiap sepatu dibuat mengikuti elemen visual karakter masing-masing. Model Woody menggunakan kombinasi warna cokelat, biru denim, kuning, dan aksen merah yang identik dengan kostum sheriff dalam film. Sementara versi Buzz Lightyear tampil dengan kombinasi putih, hijau, dan ungu yang menyerupai armor karakter Space Ranger tersebut. Adidas juga menghadirkan detail tambahan pada bagian material, pola jahitan, hingga aksesori sepatu untuk memperkuat identitas tiap karakter. Beberapa media sneaker internasional menyebut koleksi ini menjadi bagian dari strategi Adidas dalam menggabungkan budaya pop dengan tren lifestyle footwear yang masih berkembang di 2026.  Crocs Hadirkan Desain Jessie Boot dan Alien Classic Clog Selain Adidas, Crocs juga merilis kolaborasi resmi bersama Disney dan Pixar untuk menyambut Toy Story 5. Koleksi ini terdiri dari dua model utama: Jessie Boot hadir dalam bentuk sepatu boot berbahan foam dengan motif sapi timbul yang mengadaptasi pakaian karakter Jessie. Bagian atas sepatu menggunakan warna merah terang dengan detail western yang cukup identik dengan karakter aslinya. Sementara Alien Classic Clog mempertahankan bentuk khas Crocs, tetapi ditambahkan berbagai elemen bertema Toy Story seperti: Crocs juga mempertahankan fitur kenyamanan khas mereka melalui material ringan dan ventilasi udara pada bagian depan clog. Koleksi ini dijadwalkan mulai tersedia pada pertengahan Juni 2026 melalui kanal resmi Crocs.  Point Coffee Beri Sneak Peek Kolaborasi Toy Story Tidak hanya brand fashion dan footwear, kolaborasi bertema Toy Story juga mulai masuk ke industri makanan dan minuman. Point Coffee baru-baru ini mengunggah sneak peek di media sosial yang memperlihatkan indikasi kolaborasi bertema Toy Story. Meski detail produknya belum diumumkan secara lengkap, unggahan tersebut langsung memunculkan berbagai spekulasi dari konsumen mengenai kemungkinan hadirnya: Strategi teaser seperti ini umum digunakan brand untuk membangun awareness sebelum peluncuran resmi produk. Kehadiran Point Coffee dalam tren kolaborasi Toy Story juga menunjukkan bahwa franchise film kini tidak hanya dimanfaatkan oleh industri hiburan atau fashion, tetapi mulai masuk ke sektor retail dan F&B. Alasan Banyak Brand Mulai Kolaborasi dengan Toy Story di 2026 Salah satu alasan utama meningkatnya jumlah kolaborasi bertema Toy Story adalah karena Toy Story 5 dijadwalkan tayang pada 2026. Film terbaru dari Pixar dan Disney tersebut membawa kembali karakter-karakter lama yang sudah dikenal lintas generasi sejak film pertamanya dirilis pada 1995. Momentum perilisan film baru biasanya dimanfaatkan brand untuk: Selain itu, karakter Toy Story termasuk cukup mudah diterapkan ke berbagai kategori produk karena memiliki identitas visual yang kuat. Contohnya: Karakter-karakter tersebut membuat brand lebih fleksibel dalam mengembangkan desain produk maupun campaign marketing. Nostalgia Masih Menjadi Strategi Marketing Andalan Kolaborasi bertema film lama yang kembali hadir juga berkaitan dengan strategi nostalgia marketing. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan memanfaatkan franchise lama karena memiliki basis audiens yang sudah terbentuk dan dikenal luas. Audiens yang tumbuh bersama Toy Story pada era 1990-an dan 2000-an kini sudah menjadi konsumen aktif di berbagai kategori produk seperti: Karena itu, kolaborasi seperti ini tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga konsumen dewasa yang memiliki kedekatan emosional dengan karakter film tersebut. Di media sosial, strategi ini juga cenderung lebih mudah mendapatkan interaksi karena karakter Toy Story sudah familiar bagi banyak pengguna internet. Kolaborasi Film dan Brand Kolaborasi antara franchise film dan brand saat ini menjadi salah satu pendekatan pemasaran yang cukup sering digunakan dalam berbagai industri. Bentuk kolaborasinya tidak hanya terbatas pada merchandise resmi, tetapi juga meluas ke: Bagi brand, kerja sama seperti ini dapat membantu meningkatkan visibilitas produk melalui basis penggemar film yang sudah ada. Sementara bagi franchise hiburan, kolaborasi dengan berbagai brand dapat memperluas jangkauan promosi film sebelum resmi tayang di bioskop. Menjelang perilisan Toy Story 5, pola tersebut terlihat semakin aktif dengan munculnya berbagai teaser dan produk kolaborasi dari banyak sektor industri. Kesimpulan Perilisan Toy Story 5 pada 2026 tidak hanya menjadi momen penting bagi industri film animasi, tetapi juga dimanfaatkan banyak brand sebagai bagian dari strategi pemasaran produk. Mulai dari Adidas, Crocs, hingga Point Coffee, masing-masing menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengadaptasi karakter Toy Story ke produk mereka. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa franchise dengan identitas karakter yang kuat masih relevan digunakan dalam strategi marketing modern, terutama ketika didukung oleh momentum perilisan film baru dan tingginya minat konsumen terhadap produk bertema nostalgia.

SELENGKAPNYA
IDMC 2026 Bahas Strategi AI dan Masa Depan Digital Marketing untuk Bisnis

IDMC 2026 Bahas Strategi AI dan Masa Depan Digital Marketing Bisnis

Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) 2026 akan kembali digelar pada 4–5 Juni 2026 di Jakarta. Acara ini menjadi salah satu konferensi pemasaran digital terbesar di Indonesia yang mempertemukan pengusaha, praktisi marketing, hingga profesional teknologi untuk membahas perkembangan dunia digital yang terus berubah. Penyelenggaraan IDMC 2026 hadir di tengah perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) yang kini mulai banyak digunakan dalam aktivitas pemasaran digital. Penggunaan AI diperkirakan akan semakin berkembang sepanjang 2026 dan memengaruhi cara bisnis membangun strategi penjualan maupun menjangkau konsumen. Di sisi lain, pengusaha saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Biaya iklan digital terus naik, perilaku konsumen berubah semakin selektif, dan persaingan bisnis bergerak lebih cepat dibanding sebelumnya. Kondisi ini membuat banyak pengusaha perlu mencari strategi baru agar bisnis mereka tetap relevan dan mampu berkembang. Karena itu, kebutuhan akan wawasan digital, keterampilan pemasaran modern, dan ruang belajar yang tepat semakin dibutuhkan oleh pebisnis. Melalui IDMC 2026, peserta diharapkan bisa memperoleh insight baru terkait strategi digital marketing, pemanfaatan AI, hingga peluang pengembangan usaha di era digital. Alasan IDMC 2026 Kembali Diselenggarakan Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pemasaran yang hanya mengandalkan promosi dan iklan berbayar mulai dianggap kurang efektif. Konsumen kini tidak hanya melihat produk, tetapi juga memperhatikan nilai sebuah brand, pengalaman pelanggan, dan hubungan yang dibangun dengan audiens. Karena itu, pendekatan pemasaran berbasis komunitas serta dukungan teknologi mulai menjadi fokus utama banyak bisnis. CEO ToffeeDev sekaligus Founder IDMC, Ryan Kristo Muljono, menjelaskan bahwa bisnis saat ini tidak cukup hanya mengandalkan promosi untuk berkembang. Menurutnya, tantangan terbesar bisnis modern adalah membangun komunitas pelanggan yang loyal. Komunitas dianggap menjadi kekuatan baru dalam pemasaran karena mampu menciptakan hubungan jangka panjang antara brand dan pelanggan melalui branding, storytelling, dan strategi digital yang tepat. Ryan juga menyebut IDMC 2026 dirancang sebagai ruang belajar bagi pelaku usaha agar dapat memperbarui wawasan sekaligus memahami peluang bisnis di tengah perkembangan teknologi digital. Targetkan Ribuan Peserta dan Puluhan Pembicara Tahun ini, IDMC menargetkan lebih dari 5.000 peserta hadir selama acara berlangsung. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sejak konferensi ini pertama kali diadakan. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemilik usaha, tim pemasaran, praktisi teknologi, hingga pelaku industri digital yang ingin meningkatkan kemampuan mereka di bidang pemasaran modern. Sebanyak 50 pembicara juga akan hadir mengisi berbagai sesi konferensi. Sebagian besar merupakan ahli di bidang pemasaran dan penjualan digital. Beberapa nama yang telah dikonfirmasi hadir di antaranya Peng Joon selaku CEO dan Founder Smobble, Ryan Kristo Muljono, serta Adythia Pratama sebagai Founder Guerilla Marketing Academy. Selain itu, akan ada perwakilan dari Google yang dijadwalkan membahas perkembangan teknologi digital dan perubahan algoritma di tahun 2026. AI Commerce Jadi Topik Utama IDMC 2026 Mengusung tema “The New Game of Digital Marketing”, IDMC 2026 menempatkan AI Commerce sebagai salah satu pembahasan utama yang paling dinantikan peserta. Bersama SVO.ai, peserta akan diperlihatkan bagaimana teknologi AI dapat membantu menyederhanakan proses penjualan online secara lebih efisien. Teknologi yang dibahas meliputi pembuatan konten otomatis, pengelolaan iklan berbasis AI, chatbot AI, hingga sistem CRM berbasis AI untuk membantu bisnis menjaga hubungan dengan pelanggan secara lebih konsisten. Pendekatan ini dinilai relevan karena banyak bisnis saat ini mencari strategi pemasaran yang lebih hemat waktu, mudah diukur hasilnya, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas termasuk pasar internasional. Ryan menyebut konferensi ini tidak hanya berisi motivasi bisnis, tetapi juga panduan strategi yang bisa langsung diterapkan peserta setelah acara selesai. Menurutnya, pengusaha membutuhkan arah strategi yang jelas agar mampu beradaptasi dengan perubahan digital yang bergerak sangat cepat. Marketing Technology Expo Hadirkan Berbagai Solusi Digital Selain konferensi utama, IDMC 2026 juga akan menghadirkan Marketing Technology Expo yang diikuti sekitar 80 perusahaan teknologi dan penyedia layanan digital. Melalui expo ini, peserta dapat melihat berbagai inovasi teknologi yang sedang berkembang di industri pemasaran digital, mulai dari tools automasi marketing, platform pengelolaan data, sistem CRM, teknologi AI marketing, hingga software analisis performa kampanye digital. Tidak hanya itu, expo juga membuka peluang networking bagi para pelaku usaha untuk bertemu dengan sesama profesional industri maupun calon mitra bisnis melalui sesi pertemuan dan networking yang telah disiapkan panitia. Perkembangan AI Bisnis Harus Diimbangi Legalitas Usaha Di tengah perkembangan teknologi AI dan strategi pemasaran digital, ada satu hal penting yang masih sering diabaikan pengusaha, yaitu legalitas bisnis. Padahal, semakin berkembang operasional bisnis digital, semakin penting pula memastikan usaha berjalan sesuai regulasi yang berlaku. Bisnis yang aktif memanfaatkan teknologi digital dan berinteraksi dengan pelanggan secara online perlu memastikan berbagai aspek hukumnya sudah aman. Mulai dari izin usaha, perlindungan merek dagang, perjanjian kerja sama dengan vendor teknologi, hingga kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pelanggan. Karena itu, layanan legalitas seperti Legal MP hadir untuk membantu pengusaha mengurus kebutuhan hukum bisnis secara lebih praktis dan efisien. Layanannya mencakup pendirian badan usaha, pengurusan izin usaha, pembuatan perjanjian kerja sama, hingga konsultasi hukum terkait operasional bisnis digital. Bagi pengusaha yang mulai memanfaatkan AI dan strategi digital seperti yang dibahas di IDMC 2026, memastikan legalitas bisnis sejak awal menjadi langkah penting agar operasional bisnis tetap aman dan berkelanjutan. Dengan fondasi hukum yang jelas, pengusaha dapat lebih fokus menjalankan strategi pemasaran digital tanpa khawatir menghadapi kendala regulasi di masa mendatang.

SELENGKAPNYA
Strategi Teazzi di Indonesia: Media Sosial hingga Experiential Marketing

Strategi Teazzi di Indonesia: Media Sosial hingga Experiential Marketing

Teazzi adalah merek minuman teh premium asal Taiwan yang kini semakin dikenal luas di Indonesia. Keberhasilan merek ini bukan hanya soal kualitas produknya, tapi juga karena strategi pemasaran yang dirancang dengan pendekatan yang terukur dan relevan untuk pasar Indonesia, khususnya kalangan anak muda. Pendekatan yang dipakai Teazzi dikenal dengan istilah Marketing Public Relations (MPR), yaitu cara membangun citra merek sekaligus mendorong penjualan melalui hubungan yang lebih personal dan emosional dengan konsumen. Strategi ini memadukan tiga elemen utama: kampanye media sosial, kolaborasi dengan influencer, dan pemasaran berbasis pengalaman langsung atau yang sering disebut experiential marketing. Artikel ini membahas secara rinci bagaimana Teazzi menjalankan ketiga elemen tersebut di Indonesia. 1. Pemasaran Digital: Konten Kreatif dan Storytelling di Media Sosial Salah satu pilar utama pemasaran Teazzi adalah kehadiran yang kuat di media sosial, terutama Instagram. Bukannya hanya menampilkan foto produk, Teazzi memilih pendekatan yang lebih dalam, yaitu membangun cerita di balik setiap konten yang mereka buat. Pendekatan ini dikenal dengan istilah storytelling, di mana sebuah merek tidak sekadar memperkenalkan produk, tapi juga menyampaikan nilai, suasana, dan identitas yang bisa dirasakan oleh audiens. Untuk Teazzi, cerita yang dibangun berpusat pada pengalaman minum teh yang menyenangkan, estetis, dan terasa dekat dengan gaya hidup anak muda Indonesia. Konten yang ditampilkan di akun resmi Instagram Teazzi (@teazzi.id) dirancang secara visual dengan konsep yang konsisten, mulai dari palet warna, gaya foto, hingga cara penyampaian pesan. Konsistensi visual seperti ini bukan sekadar soal estetika. Ini adalah cara merek membangun identitas yang mudah dikenali dan diingat oleh konsumen. Melalui pendekatan konten yang kreatif dan penuh cerita inilah Teazzi berhasil membangun ikatan emosional dengan audiens mudanya. Konsumen tidak hanya membeli produk, tapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas yang punya selera dan nilai yang sama. 2. Kolaborasi Kreatif: Influencer dan Pembuat Konten Selain mengelola konten di akun resminya sendiri, Teazzi juga aktif menjalin kerja sama dengan para pembuat konten dan influencer. Strategi ini dipakai untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam, terutama mereka yang mungkin belum mengenal Teazzi sebelumnya. Cara kerjanya cukup sederhana: influencer atau kreator konten yang punya basis pengikut setia akan mencoba, mengulas, atau mempromosikan produk Teazzi kepada komunitasnya masing-masing. Karena konten ini datang dari seseorang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh audiensnya, pesan yang disampaikan terasa lebih natural dan tidak terkesan seperti iklan biasa. Ulasan dan diskusi komunitas seputar menu serta aktivitas promosi Teazzi bisa ditemukan di berbagai unggahan media sosial, termasuk di akun-akun yang bergerak di bidang kuliner dan lifestyle. Salah satu contohnya bisa dilihat di unggahan komunitas Brandmates yang membahas aktivitas promosi Teazzi secara organik. Kolaborasi semacam ini menjadi cara yang efisien untuk memperluas jangkauan merek tanpa harus mengandalkan iklan berbayar secara penuh. Di era di mana konsumen semakin selektif terhadap konten iklan, rekomendasi dari seseorang yang mereka ikuti dan percaya memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. 3. Experiential Marketing: Pemasaran Berbasis Pengalaman Langsung Elemen ketiga dari strategi MPR Teazzi adalah experiential marketing, yaitu pemasaran yang mengajak konsumen untuk merasakan merek secara langsung, bukan hanya melihatnya dari layar. Pendekatan ini bisa berupa berbagai bentuk aktivitas, mulai dari event pop-up, cicip gratis produk baru, kegiatan komunitas, hingga aktivasi di lokasi tertentu yang ramai dikunjungi target pasar. Intinya, konsumen tidak sekadar diberitahu tentang produk, mereka diajak untuk mengalaminya sendiri. Mengapa ini penting? Karena pengalaman langsung jauh lebih mudah diingat dan lebih kuat membentuk persepsi positif dibanding konten yang hanya dilihat sekilas di layar. Ketika seseorang mencoba langsung dan merasa puas, kemungkinan besar mereka akan menceritakan pengalamannya kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Ini adalah bentuk promosi organik yang nilainya sangat tinggi. Bagi Teazzi, experiential marketing menjadi cara untuk mempererat hubungan dengan konsumen yang sudah ada sekaligus membuka pintu bagi konsumen baru yang penasaran untuk mencoba. 4. Tim Pemasaran yang Berpengalaman Strategi pemasaran yang terencana dengan baik tidak akan berjalan tanpa tim yang kompeten di baliknya. Teazzi menyadari hal ini dengan menempatkan para profesional berpengalaman di posisi-posisi kunci dalam divisi pemasaran mereka. Posisi Head of Marketing dan Senior Marketing Executive dipegang oleh individu yang memiliki latar belakang dan pengalaman di industri pemasaran. Keberadaan tim dengan keahlian yang solid ini memastikan bahwa setiap keputusan pemasaran, mulai dari pemilihan platform, format konten, hingga pemilihan mitra kolaborasi, diambil berdasarkan pemahaman mendalam tentang pasar dan perilaku konsumen Indonesia. Kombinasi antara strategi yang tepat dan eksekusi yang dilakukan oleh tim yang berpengalaman inilah yang menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan Teazzi membangun posisinya di pasar minuman teh premium Indonesia. Mengapa Pendekatan MPR Cocok untuk Pasar Indonesia? Pasar minuman teh premium di Indonesia adalah pasar yang kompetitif. Banyak merek lokal maupun internasional bersaing memperebutkan perhatian konsumen yang sama. Di sinilah pendekatan MPR menjadi relevan. MPR tidak hanya mendorong penjualan jangka pendek, tapi juga membangun reputasi dan kepercayaan merek dalam jangka panjang. Konsumen Indonesia, terutama generasi muda, cenderung lebih loyal kepada merek yang mereka rasa punya nilai dan identitas yang sejalan dengan diri mereka. Mereka tidak hanya membeli produk, tapi juga membeli cerita dan pengalaman yang datang bersamanya. Dengan memadukan konten digital yang emosional, kolaborasi influencer yang terasa autentik, dan pengalaman langsung yang berkesan, Teazzi berhasil membangun kehadiran yang kuat di benak konsumen Indonesia tanpa harus melulu mengandalkan anggaran iklan yang besar. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren pemasaran global yang semakin bergerak ke arah human-centric marketing, yaitu pemasaran yang menempatkan manusia dan hubungan emosional sebagai inti dari setiap strategi, bukan sekadar angka penjualan semata. Penutup Keberhasilan Teazzi di Indonesia adalah bukti bahwa strategi pemasaran yang matang bisa menjadi keunggulan kompetitif yang tidak kalah penting dari kualitas produk itu sendiri. Dengan pendekatan Marketing Public Relations yang memadukan media sosial, kolaborasi influencer, dan experiential marketing, Teazzi berhasil membangun hubungan yang tulus dengan konsumennya dan memposisikan diri sebagai merek teh premium yang relevan dan disukai di Indonesia. Bagi pebisnis di industri minuman atau food and beverage lainnya, strategi yang dijalankan Teazzi bisa menjadi referensi yang menarik untuk dipelajari dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing.

SELENGKAPNYA
AI Host Live Streaming: Efektif Tarik Pembeli atau Tidak?

AI Host Live Streaming: Efektif Tarik Pembeli atau Tidak?

Tren penggunaan AI virtual host dalam live streaming e-commerce sedang berkembang di Asia Tenggara. Brand-brand kecantikan asal Korea Selatan seperti Innisfree sudah mulai mengujinya di TikTok Live. Platform seperti BocaLive menawarkan layanan AI avatar yang bisa siaran 24 jam di TikTok Shop, Shopee, Lazada, dan Tokopedia.  Di China, sebuah sesi live commerce yang dijalankan sepenuhnya oleh AI tercatat menghasilkan penjualan senilai 7,65 juta dolar AS dalam tujuh jam. Artikel ini memaparkan apa yang sudah dibuktikan oleh riset ilmiah, apa yang masih menjadi keterbatasan AI, dan bagaimana brand owner sebaiknya memetakan keputusan ini. Tren Live TikTok AI dan Seberapa Besar Skalanya Pasar AI Virtual Human Live Streaming Service secara global bernilai 4,46 miliar dolar AS pada 2024, dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 34% hingga mencapai 34,6 miliar dolar AS pada 2031, menurut laporan QY Research (2025). Angka ini mencerminkan adopsi yang sedang berakselerasi, bukan sekadar eksperimen pinggiran. Di Indonesia, live commerce sendiri sudah menjadi kanal penjualan utama. Laporan Rest of World (Oktober 2025) mendokumentasikan bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar uji coba paling signifikan untuk melihat bagaimana otomasi bisa mengubah ekosistem pekerjaan live streaming. TikTok Shop, setelah mengakuisisi Tokopedia, menjadikan live shopping sebagai fitur inti strateginya di Indonesia. Dari sisi biaya, daya tarik AI host jelas: tidak perlu gaji bulanan, tidak terpengaruh kondisi fisik, dan bisa beroperasi di beberapa platform sekaligus dalam 24 jam tanpa jeda. Bagi brand dengan volume SKU besar dan jadwal live yang padat, efisiensi operasional ini secara numerik masuk akal. Apa AI Host Bisa Mendorong Pembelian? Penelitian yang diterbitkan di jurnal MDPI Journal of Theoretical and Applied Electronic Commerce Research (2025) membangun model riset berdasarkan teori Stimulus-Organism-Response (SOR) untuk menjawab pertanyaan: bagaimana karakteristik AI streamer memengaruhi kepercayaan konsumen dan niat beli? Hasilnya menunjukkan bahwa AI streamer bisa memengaruhi niat beli secara positif, tetapi dimediasi oleh kepercayaan konsumen. Artinya, AI host tidak secara otomatis mendorong penjualan karena efektivitasnya bergantung pada sejauh mana konsumen merasa percaya kepada avatar tersebut.  Kepercayaan itu sendiri dipengaruhi oleh dua faktor utama: karakteristik AI (seberapa natural dan relevan penampilannya) dan scenario fit (seberapa cocok AI dengan konteks produk dan platform). Studi lain yang diterbitkan di ScienceDirect (Desember 2025) dengan fokus pada food delivery e-commerce menemukan bahwa AI streamer unggul dalam tugas-tugas yang bersifat standar, repetitif, dan berbasis akurasi. Seperti penyebutan spesifikasi produk, harga, dan stok secara konsisten tanpa kesalahan.  Namun, studi yang sama mengutip temuan Huang dan Rust (2021) bahwa “AI streamers struggle to replicate authentic persuasion” atau kesulitan mereplikasi persuasi yang autentik, terutama untuk produk yang keputusan belinya melibatkan pertimbangan emosional. Untuk brand snack seperti Gery, yang produknya dikonsumsi dalam momen santai dan nostalgia, dimensi emosional ini masih relevan untuk dipertimbangkan. Tantangan Nyata AI Host Live Streaming Salah satu risiko teknis yang paling terdokumentasi dalam penggunaan AI host adalah efek uncanny valley. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Behavioral Sciences (MDPI, Februari 2026), yang menganalisis data dari 197 konsumen Taobao live streaming, menemukan bahwa avatar AI yang terlalu mirip manusia justru bisa memicu ketidaknyamanan pada konsumen.  Studi ini mengkonfirmasi bahwa avatar dengan tingkat antropomorfisme tinggi dapat membuat ekspresi emosi, keramahan, atau empati yang ditampilkan terasa tidak alami. Lebih jauh, penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Psychology (Desember 2025) memperkenalkan konsep “Control Paradox”: dalam konteks live streaming yang kaya isyarat sosial, konsumen dengan tingkat perceived control yang tinggi justru menjadi lebih sensitif terhadap kehadiran AI.  Mereka bisa merasakannya sebagai gangguan terhadap otonomi pengambilan keputusan mereka, sehingga menimbulkan resistensi psikologis yang mengimbangi manfaat sosial dari desain AI yang antropomorfik. Ada pula risiko yang lebih konkret: ketika AI host gagal memenuhi ekspektasi konsumen, dampaknya bisa berupa penghentian interaksi (discontinuance behavior). Studi yang diterbitkan di PMC (2024) mengonseptualisasikan pelanggaran ekspektasi terhadap AI virtual streamer ke dalam tiga dimensi: kognitif (ekspektasi profesionalisme yang tidak terpenuhi), emosional (ekspektasi empati yang tidak terpenuhi), dan sosial (ekspektasi responsivitas yang tidak terpenuhi).  Ketiga pelanggaran ini berujung pada ketidakpercayaan dan ketidakpuasan yang bisa mendorong konsumen keluar dari sesi live. Apa Brand Owner Harus Adaptasi AI Host Live Streaming? Berikut adalah kerangka keputusan yang relevan bagi brand owner, khususnya di kategori FMCG dan snack: AI host lebih cocok digunakan untuk: AI host memiliki keterbatasan signifikan untuk: Sebelum mengadopsi strategi live brand berbasis AI atau virtual host, ada beberapa pertanyaan penting yang perlu dipertimbangkan. Apakah tujuan utama sesi live lebih difokuskan untuk mendorong konversi jangka pendek atau membangun loyalitas jangka panjang?  Lalu, seberapa besar kontribusi penonton berulang (repeat viewers) terhadap penjualan brand saat ini? Selain itu, brand juga perlu melihat apakah ada segmen produk tertentu yang keputusan pembeliannya lebih rasional dan membutuhkan penjelasan informasional yang mendalam.  Karena pada praktiknya, interaksi emosional, spontanitas, dan kepercayaan dari audiens masih sering bergantung pada peran host manusia dalam membangun engagement selama sesi live berlangsung.  Kesimpulan Adopsi AI host dalam live streaming adalah keputusan komunikasi yang berdampak langsung pada cara konsumen mempersepsi brand. Riset ilmiah yang ada menunjukkan bahwa AI host bisa efektif dalam kondisi tertentu, tetapi memiliki keterbatasan nyata dalam membangun kepercayaan emosional dan loyalitas jangka panjang. Bagi brand snack Indonesia dengan ekuitas merek yang sudah terbangun, pendekatan yang paling prudent adalah menguji AI host pada segmen atau waktu yang spesifik, mengukur dampaknya terhadap konversi dan retensi penonton, sebelum mempertimbangkan implementasi yang lebih luas. Teknologi ini layak dieksplorasi. Tapi eksplorasi yang berbasis data internal brand akan jauh lebih bernilai daripada adopsi yang hanya mengikuti tren. Referensi

SELENGKAPNYA
Honda Rugi Rp47 Triliun dari EV, Alihkan Strategi ke Mobil Hybrid

Honda Rugi Rp47 Triliun dari EV, Alihkan Strategi ke Mobil Hybrid

Honda Motor Co. mencatat kerugian bersih sekitar 423,94 miliar yen atau Rp 47,1 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Ini menjadi kerugian tahunan pertama sejak perusahaan melantai di bursa pada 1957, dan langsung memicu sorotan besar karena terjadi di saat industri otomotif sedang berlomba masuk ke era kendaraan listrik. Meski terlihat dramatis, angka kerugian ini tidak muncul karena penjualan Honda turun. Justru sebaliknya, pendapatan perusahaan masih naik tipis. Masalah utamanya datang dari “biaya penyesuaian besar-besaran” pada strategi mobil listrik atau EV yang selama beberapa tahun terakhir menjadi fokus utama transformasi Honda. Dalam proses koreksi strategi tersebut, Honda harus menanggung beban restrukturisasi yang sangat besar, termasuk penyesuaian pabrik, rantai pasok, hingga pengembangan model yang dihentikan di tengah jalan. Jika dilihat lebih dalam, situasi ini sebenarnya bukan sekadar soal rugi atau untung, tetapi tentang bagaimana sebuah perusahaan besar mencoba beradaptasi terlalu cepat terhadap tren teknologi yang belum sepenuhnya matang secara pasar. EV memang masa depan, tetapi kenyataannya adopsi di berbagai negara masih sangat tidak merata. Infrastruktur pengisian daya belum siap di banyak wilayah, harga baterai masih tinggi, dan perilaku konsumen belum sepenuhnya berpindah dari mesin bensin. Di titik inilah keputusan Honda menjadi menarik. Perusahaan tidak hanya “melanjutkan EV”, tetapi melakukan koreksi arah yang cukup tegas dengan menahan beberapa proyek besar, termasuk pengembangan model EV di Amerika Utara serta penundaan pembangunan fasilitas baterai. Langkah ini sering terlihat seperti kemunduran, padahal dalam dunia bisnis justru bisa dibaca sebagai bentuk disiplin finansial agar perusahaan tidak terjebak dalam investasi jangka panjang yang terlalu membakar kas. CEO Toshihiro Mibe sendiri menegaskan bahwa perusahaan perlu menghentikan tekanan finansial ini secepat mungkin. Dari sini terlihat bahwa Honda sedang masuk ke fase “keseimbangan ulang”, bukan meninggalkan inovasi, tetapi mengatur ulang ritme agar bisnis tetap sehat sambil tetap mengikuti arah elektrifikasi. Yang menarik, arah baru Honda kini justru kembali menguatkan mobil hybrid sebagai jembatan utama. Perusahaan menargetkan puluhan model hybrid baru hingga 2030. Secara bisnis, ini bukan langkah mundur, tetapi strategi penyeimbang: hybrid dipakai sebagai solusi realistis di tengah transisi besar menuju EV. Teknologi ini memungkinkan konsumen tetap merasakan efisiensi bahan bakar tanpa harus bergantung penuh pada infrastruktur listrik yang belum merata. Kalau dilihat dari perspektif pengguna Honda, perubahan ini sebenarnya cukup relevan dengan kondisi di lapangan. Banyak pengguna mobil di Indonesia, misalnya, masih mempertimbangkan faktor seperti ketersediaan bengkel, biaya perawatan, dan kemudahan isi bahan bakar. Di situ hybrid menjadi “zona aman” sebelum benar-benar masuk ke era EV penuh. Artinya, produk Honda ke depan kemungkinan lebih terasa praktis dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar teknologi yang terlihat canggih di atas kertas. Namun dari sudut pandang yang lebih luas, kasus ini juga memberi pelajaran penting bagi pelaku usaha di luar industri otomotif. Apa yang terjadi pada Honda memperlihatkan bahwa mengikuti tren besar tanpa kesiapan ekosistem bisa berisiko sangat mahal. Banyak bisnis sering terburu-buru mengejar “masa depan” tanpa memastikan apakah pasar sudah siap menyerap perubahan tersebut. Akibatnya, biaya koreksi di kemudian hari justru lebih besar dibanding keuntungan awal yang diharapkan. Di sisi lain, keputusan Honda untuk beralih fokus juga menunjukkan bahwa fleksibilitas strategi jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan ekspansi. Dalam dunia bisnis modern, kemampuan membaca ulang situasi dan berani mengubah arah sering kali menjadi faktor yang membedakan perusahaan yang bertahan dan yang tertinggal.

SELENGKAPNYA
5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

Pernah nggak tiba-tiba kamu nge-scroll TikTok atau Instagram, trus tiba-tiba kepikiran beli nugget atau sosis padahal tadinya nggak ada niatan sama sekali? Kalau pernah, kamu mungkin nggak sadar lagi kena “jebakan” marketing yang sudah dirancang cukup rapi oleh Kanzler. Sebagai orang yang masuk kategori Gen Z, jujur saja ada momen di mana kamu sadar bahwa keputusan beli yang kamu pikir murni dari diri sendiri ternyata sangat dipengaruhi oleh cara sebuah brand menyusun kampanyenya. Dan Kanzler, brand frozen food yang produknya mungkin sudah ada di freezer rumahmu sejak lama, adalah salah satu contoh yang menarik untuk dibahas. Artikel ini bukan sekadar daftar strategi marketing dari sudut pandang tim kreatif atau brand manager. Ini lebih ke pembahasan tentang kenapa kamu sebagai Gen Z bisa mudah terpengaruh, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap langkah pemasaran yang Kanzler ambil. Karena memahami cara kerja strategi ini justru bisa membuat kamu lebih kritis sebagai konsumen. Kenali Siapa Gen Z Sebagai Konsumen Gen Z adalah generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga 2012. Generasi ini tumbuh besar bersamaan dengan munculnya media sosial, ponsel pintar, dan konten digital yang mengalir tanpa henti. Karena itulah, Gen Z punya hubungan yang berbeda dengan iklan dibandingkan generasi sebelumnya. Gen Z cenderung skeptis terhadap iklan yang terasa terlalu “jual-jualan”. Mereka lebih merespons konten yang terasa organik, relevan, dan datang dari sosok yang mereka percaya. Penelitian yang diterbitkan dalam Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (2025) menemukan bahwa influencer marketing secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian pada produk Kanzler di platform TikTok, dan yang menarik, viral marketing memberikan dampak yang bahkan lebih besar dari sekadar kehadiran influencer itu sendiri. Artinya, bukan cuma siapa yang bicara tentang produknya, tapi seberapa jauh pembicaraan itu menyebar yang benar-benar menggerakkan perilaku beli Gen Z. Dengan memahami ini, sekarang mari kita bedah satu per satu strategi marketing Kanzler dan coba lihat dari sudut pandangmu sebagai konsumen yang ada di tengah-tengah kampanye tersebut. 1. Kanzler Tahu Kapan Kamu Paling Mudah Tergoda Salah satu hal yang paling sering tidak disadari konsumen adalah bahwa timing sebuah iklan bukan kebetulan. Kanzler adalah salah satu brand yang sangat sadar soal ini. Contoh paling nyata adalah ketika mereka aktif mempromosikan produk seperti Kanzler Crispy Chicken Nugget tepat pada bulan Ramadan. Coba ingat-ingat: di bulan Ramadan, hampir semua orang sedang dalam mode mencari inspirasi menu berbuka. Kamu mungkin sedang lapar seharian, scroll konten masak-memasak sambil nunggu adzan, dan tiba-tiba muncul konten yang memperlihatkan nugget renyah yang bisa matang dalam hitungan menit. Hasilnya? Kamu langsung kepikiran untuk membelinya. Inilah yang disebut moment marketing, yaitu strategi yang memanfaatkan momen atau situasi tertentu di mana konsumen sedang berada pada kondisi paling “siap” untuk menerima pesan sebuah produk. Kanzler tidak asal pasang iklan; mereka muncul tepat ketika kebutuhanmu sedang paling tinggi dan pikiranmu sedang paling terbuka. Dari sudut pandang konsumen, ini cukup efektif karena kamu tidak merasa sedang “dijuali”. Kamu malah merasa terbantu karena produknya relevan dengan situasimu saat itu. 2. Nicholas Saputra Bukan Sekadar Wajah di Poster Kalau kamu ditanya siapa brand ambassador Kanzler, jawabannya sudah pasti Nicholas Saputra. Tapi coba pikir lebih dalam: kenapa harus dia? Nicholas Saputra adalah aktor yang citra publiknya sangat konsisten selama bertahun-tahun, yaitu tenang, autentik, tidak lebay, dan tidak terkesan “artis banget”. Bagi Gen Z yang sudah capek dengan konten yang terlalu dipaksakan atau terasa palsu, sosok seperti Nicholas Saputra justru terasa lebih bisa dipercaya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Anggaran: Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi (2024) menganalisis iklan nugget Kanzler versi Nicholas Saputra di Instagram dan menyimpulkan bahwa kombinasi daya tarik visual yang kuat, penyampaian pesan yang efektif, dan kehadiran aktor tersebut berhasil membangun hubungan yang terasa dekat antara brand dan konsumen. Artinya, bukan semata-mata karena Nicholas Saputra terkenal, melainkan karena citra yang dia bawa selaras dengan apa yang ingin dikomunikasikan Kanzler: produk yang berkualitas, tidak berlebihan, dan cocok untuk kehidupan sehari-hari. Dari posisi konsumen, ini bekerja dengan cara yang cukup halus. Kamu tidak merasa sedang dirayu oleh selebriti yang terlalu “bintang”. Kamu justru merasa seperti mendapat rekomendasi dari seseorang yang cukup kamu percaya. Dan kepercayaan itu yang akhirnya mendorong keputusan beli, bahkan tanpa kamu sadari secara penuh. 3. Influencer untuk Kenzler Gak Cuma Satu Coba perhatikan seberapa sering kamu melihat konten tentang Kanzler dari berbagai akun yang berbeda dalam waktu yang berdekatan. Hari ini dari food blogger, besoknya dari content creator parenting, lusanya dari akun lifestyle. Kamu mulai berpikir, “Ini produk kenapa ramai banget sih dibicarain?” Itulah efek yang ingin diciptakan oleh strategi kolaborasi dengan banyak influencer secara bersamaan. Kanzler tidak hanya mengandalkan satu wajah seperti Nicholas Saputra, tetapi juga menjalin kerja sama dengan berbagai influencer dari segmen yang berbeda-beda. Hasilnya, produk mereka muncul di berbagai “dunia” sekaligus, mulai dari dunia kuliner, dunia parenting, sampai dunia gaya hidup anak muda. Dari sudut pandang psikologi konsumen, ketika kamu melihat banyak orang yang berbeda-beda membicarakan hal yang sama, otak kamu mulai membangun kesan bahwa produk itu memang sedang relevan dan banyak dibutuhkan. Inilah yang memicu FOMO: rasa takut ketinggalan sesuatu yang terasa sedang “happening”. Kamu bukan lagi memilih produk berdasarkan kebutuhan murni, melainkan karena tidak ingin jadi satu-satunya orang yang belum mencobanya. Phillip Kotler dan Gary Armstrong dalam Principles of Marketing (2017) menjelaskan bahwa keputusan pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan referensi kelompok. Ketika banyak orang di sekitar kamu, atau yang kamu ikuti di media sosial, membicarakan satu produk, tekanan sosial itu secara tidak langsung mendorong kamu menuju keputusan yang sama. 4. Iklan Kanzler Ada di Mana-mana Pernahkah kamu perhatikan bahwa Kanzler tidak hanya beriklan di satu tempat? Selain hadir di televisi, mereka juga muncul di billboard pinggir jalan, videotron di pusat perbelanjaan, hingga di bodi kendaraan umum seperti TransJakarta dan MRT. Dari sudut pandang konsumen biasa, ini mungkin terasa biasa saja. Tapi dari sudut pandang psikologi pemasaran, ini adalah strategi yang disebut multi-channel presence atau kehadiran lintas saluran. Tujuannya bukan agar satu iklan mengubah pikiranmu seketika, melainkan agar brand itu tertanam secara perlahan di ingatanmu melalui paparan berulang di berbagai konteks yang berbeda. Ketika kamu naik TransJakarta sambil bosan di perjalanan dan melihat

SELENGKAPNYA
10 Cara Marketing Usaha Makanan Ringan Agar Cepat Laku

10 Cara Marketing Usaha Makanan Ringan Agar Cepat Laku

Kamu punya produk makanan ringan yang rasanya sudah enak, tampilannya menarik, tapi penjualannya masih jalan di tempat? Kalau iya, kemungkinan besar bukan produknya yang bermasalah, melainkan strategi pemasarannya yang belum tepat sasaran. Bisnis makanan ringan di Indonesia saat ini terus tumbuh. Berdasarkan data Statista Market Insight, pendapatan pasar makanan ringan di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai USD 4,18 miliar, dengan volume konsumsi sekitar 3,3 kg per orang. Lebih menarik lagi, pasar ini diprediksi akan terus tumbuh rata-rata 8,13% per tahun hingga 2029. Artinya, peluangnya nyata dan besar. Tapi di balik peluang itu, persaingannya juga tidak main-main. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 1,51 juta unit usaha mikro-kecil di sektor makanan dan minuman di Indonesia. Kamu bersaing dengan jutaan pelaku usaha lain. Maka, strategi pemasaran bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Artikel ini membahas strategi pemasaran usaha makanan ringan yang bisa langsung kamu terapkan, dengan pendekatan yang realistis untuk skala UMKM. Kenapa Marketing Makanan Ringan Berbeda dari Bisnis Lain? Sebelum masuk ke strateginya, penting untuk memahami dulu kenapa bisnis makanan ringan punya tantangan pemasaran yang unik. Makanan ringan bukan kebutuhan primer. Orang membeli camilan bukan karena lapar berat, melainkan karena ingin menikmati sesuatu, mengisi waktu, atau sekadar memuaskan selera tertentu. Ini berarti keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh faktor emosional, visual, dan tren, bukan sekadar kebutuhan fungsional. Selain itu, segmen konsumen makanan ringan di Indonesia sangat spesifik. Data menunjukkan bahwa konsumen camilan di Indonesia didominasi oleh milenial dan Gen Z, dengan proporsi mencapai 55%. Rinciannya, 33% berusia 25-34 tahun dan 22% berusia 18-24 tahun. Ini adalah generasi yang sangat aktif di media sosial, terbiasa belanja online, dan cepat tertarik pada produk yang tampil menarik secara visual. Philip Kotler, yang dikenal luas sebagai Bapak Pemasaran Modern, menegaskan bahwa strategi pemasaran yang efektif harus mampu menciptakan, mengomunikasikan, dan menyampaikan nilai kepada konsumen yang tepat. Dalam konteks makanan ringan, “nilai” itu bisa berupa rasa yang unik, kemasan yang Instagramable, harga yang terjangkau, atau kombinasi dari ketiganya. 1. Tentukan Segmen Pasar Sejak Awal Langkah pertama dan paling mendasar dalam strategi pemasaran usaha makanan ringan adalah menentukan segmen pasar. Banyak pelaku UMKM melewati tahap ini karena merasa produknya “untuk semua orang”. Padahal, menjual ke semua orang sama artinya dengan tidak menjual ke siapa pun. Kotler dan Armstrong mendefinisikan segmentasi pasar sebagai upaya membagi pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli dengan keinginan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda. Dengan segmentasi yang tepat, kamu bisa merancang pesan pemasaran yang lebih relevan, memilih saluran distribusi yang lebih efisien, dan menghemat anggaran promosi karena tidak “buang peluru” ke audiens yang salah. Untuk bisnis makanan ringan, segmentasi bisa dilakukan dari beberapa sudut. Dari sisi demografis, kamu perlu tahu apakah produkmu cocok untuk anak-anak, remaja, atau orang dewasa. Dari sisi psikografis, apakah targetmu adalah orang yang peduli kesehatan, penggemar rasa pedas, atau pencari camilan nostalgia. Dari sisi perilaku, apakah mereka suka beli dalam jumlah besar atau eceran, online atau offline. Setelah segmen jelas, semua keputusan pemasaran berikutnya akan jauh lebih mudah dan terarah. 2. Bangun Keunikan Produk dan Jadikan Itu Senjata Utama Di pasar yang penuh sesak seperti bisnis camilan, produk yang “biasa-biasa saja” akan tenggelam tanpa jejak. Kamu perlu menemukan satu hal yang membuat produkmu berbeda dari ratusan produk serupa di rak toko atau halaman marketplace. Keunikan itu bisa datang dari berbagai arah. Bisa dari sisi rasa, misalnya menghadirkan cita rasa lokal yang jarang ditemukan di pasaran. Bisa dari sisi bahan baku, misalnya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet di tengah tren makanan sehat yang sedang tumbuh. Atau bisa dari sisi kemasan, misalnya desain yang estetik dan layak difoto untuk diunggah ke media sosial. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Kohesi (2024) tentang analisis strategi pemasaran UMKM makanan ringan dengan pendekatan SWOT menemukan bahwa kekuatan utama UMKM pada umumnya terletak pada kualitas produk dan loyalitas pelanggan. Namun, kelemahan terbesarnya ada pada keterbatasan promosi digital dan distribusi. Artinya, banyak produk UMKM yang sebenarnya bagus tapi tidak dikenal luas hanya karena tidak dikomunikasikan dengan baik. Setelah kamu menemukan keunikan produkmu, tonjolkan itu di semua titik komunikasi, mulai dari nama produk, deskripsi di marketplace, caption di media sosial, hingga desain kemasan. Konsistensi dalam menyampaikan keunikan inilah yang membangun persepsi merek di benak konsumen. 3. Manfaatkan Social Media Marketing Secara Serius Kalau kamu masih menganggap media sosial hanya sebagai tempat upload foto produk sesekali, kamu melewatkan satu saluran pemasaran yang paling kuat untuk bisnis makanan ringan saat ini. Penjualan produk makanan melalui kanal online di Indonesia menunjukkan pertumbuhan rata-rata 25% per tahun dari 2021 hingga 2025. Meski kontribusinya terhadap total penjualan masih di bawah 2%, laju pertumbuhannya konsisten dan terus naik. Ini tanda bahwa konsumen Indonesia semakin nyaman membeli makanan ringan secara online, termasuk melalui media sosial. Platform yang paling relevan untuk bisnis makanan ringan adalah Instagram dan TikTok karena keduanya sangat visual. Instagram cocok untuk menampilkan foto produk berkualitas tinggi, testimoni pelanggan, dan konten edukasi seputar produk. TikTok lebih cocok untuk konten video pendek yang menghibur, seperti behind-the-scenes proses pembuatan, unboxing, atau review jujur dari konsumen. Yang paling penting bukan seberapa sering kamu posting, melainkan seberapa relevan konten yang kamu buat untuk audiens yang kamu sasar. Buat jadwal konten yang konsisten, gunakan hashtag yang tepat, dan selalu ajak audiens untuk berinteraksi lewat kolom komentar atau fitur story. 4. Gunakan Jasa Influencer dengan Strategi yang Tepat Bekerja sama dengan influencer bisa menjadi cara yang cepat untuk memperkenalkan produk ke audiens yang lebih luas. Tapi kamu perlu cermat dalam memilih influencer agar investasinya tidak sia-sia. Banyak pelaku UMKM makanan ringan yang tergoda memilih influencer dengan jutaan pengikut karena angkanya terlihat mengesankan. Padahal, micro influencer dengan 10.000-100.000 pengikut sering kali memiliki tingkat keterlibatan (engagement rate) yang jauh lebih tinggi karena hubungannya dengan audiens lebih personal dan terpercaya. Pilih influencer yang audiensnya sesuai dengan segmen pasar produkmu. Kalau produkmu menyasar ibu-ibu muda yang peduli gizi anak, cari influencer parenting atau food blogger yang kontennya relevan dengan tema itu. Kalau produkmu menyasar anak muda urban yang suka camilan kekinian, cari food vlogger atau content creator kuliner yang aktif di TikTok atau Reels. Selain kesesuaian audiens, pastikan juga bahwa gaya konten influencer tersebut

SELENGKAPNYA
Apple: Sejarah, Pertumbuhan, dan Strategi Pemasarannya

Apple: Sejarah, Pertumbuhan, dan Strategi Pemasarannya

Nama Apple sudah tidak asing lagi di telinga siapapun. Dari smartphone hingga laptop, produk-produk berlambang apel tergigit ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang di seluruh dunia. Tapi tahukah kamu bagaimana perusahaan ini memulai perjalanannya, bagaimana cara mereka berkembang, dan apa yang membuat strategi pemasarannya begitu berhasil? Artikel ini membahas tiga hal tersebut secara lengkap supaya kamu bisa mengambil pelajaran yang relevan untuk bisnismu sendiri. Sejarah Apple Jadi Perusahaan Teknologi Apple didirikan pada 1 April 1976 oleh tiga orang, yaitu Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne. Ketiganya memulai dari sebuah garasi di Los Altos, California. Modal awal mereka sangat terbatas, namun semangat untuk menciptakan komputer yang bisa digunakan oleh orang biasa, bukan hanya para insinyur, menjadi pendorong utama mereka. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Apple I, sebuah komputer rakitan yang dijual dalam bentuk papan sirkuit tanpa casing. Meskipun tampilannya sangat sederhana, Apple I berhasil menarik perhatian para penggemar teknologi pada masanya. Era 1980-an, Apple mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi perusahaan besar. Peluncuran Macintosh pada tahun 1984 menjadi tonggak penting karena ini adalah salah satu komputer pertama yang menggunakan antarmuka grafis dan tetikus, jauh sebelum hal tersebut menjadi standar industri. Namun perjalanan Apple tidak selalu mulus. Steve Jobs sempat hengkang dari Apple pada tahun 1985 setelah konflik internal dengan dewan direksi. Tanpa Jobs, Apple mengalami masa-masa sulit selama lebih dari satu dekade. Penjualan menurun dan perusahaan hampir bangkrut. Jobs kembali ke Apple pada tahun 1997 dan membawa perubahan besar. Ia memangkas lini produk yang tidak perlu, menyederhanakan fokus perusahaan, dan memulai babak baru dengan meluncurkan iMac yang ikonik pada tahun 1998. Dari sini, Apple perlahan bangkit dan kembali relevan di pasar teknologi. Puncaknya terjadi pada tahun 2007 ketika Steve Jobs memperkenalkan iPhone, sebuah perangkat yang menggabungkan telepon, pemutar musik, dan browser internet dalam satu genggaman. Peluncuran ini bukan hanya mengubah industri ponsel, tetapi juga cara manusia berinteraksi dengan teknologi secara keseluruhan. Setelah Steve Jobs wafat pada Oktober 2011, Tim Cook mengambil alih posisi CEO. Banyak yang meragukan apakah Apple bisa tetap berinovasi tanpa sosok Jobs. Kenyataannya, di bawah kepemimpinan Tim Cook, Apple justru tumbuh menjadi perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia. Tim Cook membawa pendekatan yang lebih terstruktur. Ia memperkuat rantai pasokan global, memperluas layanan digital seperti Apple Music, Apple TV+, dan Apple Pay, serta menjaga konsistensi kualitas produk di seluruh lini. Pada tahun 2018, Apple menjadi perusahaan pertama yang mencapai valuasi satu triliun dolar Amerika Serikat. Ekspansi Apple Apple tidak pernah berhenti hanya menjadi perusahaan komputer. Sejak awal 2000-an, Apple mulai memperluas lini produknya secara agresif. iPod yang diluncurkan pada tahun 2001 mengubah cara orang mendengarkan musik. iTunes menjadi platform distribusi musik digital pertama yang benar-benar berhasil secara komersial. Kemudian datanglah iPhone pada 2007, disusul iPad pada 2010 yang menciptakan kategori produk baru bernama tablet. Apple Watch hadir pada 2015 dan membuka pasar wearable technology. AirPods yang diluncurkan pada 2016 kini menjadi salah satu produk audio terlaris di dunia. Yang membuat semua produk ini kuat adalah konsep ekosistem. Setiap perangkat Apple dirancang untuk bekerja secara mulus bersama perangkat Apple lainnya. Semakin banyak produk Apple yang kamu miliki, semakin nyaman pengalaman yang kamu rasakan. Strategi ekosistem ini membuat pelanggan cenderung bertahan dan enggan beralih ke merek lain. Kalau berbicara soal ekspansi global, dari Amerika Serikat, Apple secara bertahap memperluas jangkauannya ke seluruh penjuru dunia. Eropa, Asia, dan pasar berkembang menjadi target ekspansi yang digarap dengan serius. Apple Store pertama di luar Amerika dibuka di Tokyo, Jepang, pada tahun 2003, dan sejak saat itu ribuan gerai resmi telah tersebar di puluhan negara. Di Asia, khususnya Tiongkok dan India, Apple melakukan pendekatan yang lebih lokal. Mereka menyesuaikan beberapa fitur produk dan layanan agar relevan dengan kebutuhan pengguna di pasar tersebut. India kini bahkan menjadi salah satu pusat produksi iPhone terbesar di dunia seiring dengan strategi Apple untuk mendiversifikasi rantai pasokannya. Menurut Theodore Levitt, ekonom dari Harvard Business School, perusahaan global yang sukses bukan yang sekadar menjual produk yang sama ke seluruh dunia, melainkan yang mampu menyesuaikan pendekatannya dengan konteks lokal tanpa kehilangan identitas mereknya. Apple adalah contoh yang cukup tepat untuk menggambarkan konsep ini. (Theodore Levitt, “The Globalization of Markets”, Harvard Business Review, 1983). Strategi Pemasaran Apple Setelah memahami sejarah dan pertumbuhannya, bagian ini membahas apa yang sesungguhnya membuat Apple berhasil dari sisi pemasaran. 1. Fokus pada Nilai Keunikan, Bukan Persaingan Harga Apple tidak pernah masuk ke dalam perang harga dengan kompetitornya. Alih-alih menurunkan harga, Apple terus memperkuat nilai keunikan produknya, mulai dari desain yang rapi, antarmuka yang intuitif, hingga ekosistem yang saling terhubung. Pelanggan tidak membeli Apple karena murah, tetapi karena merasa produk tersebut memberikan nilai yang sebanding dengan harganya. 2. Inovasi yang Tidak Pernah Berhenti Dari desain notch pada iPhone hingga peluncuran Liquid Glass di tahun 2025 sebagai bahasa desain baru yang membuat antarmuka terasa lebih transparan dan dinamis, Apple selalu menghadirkan sesuatu yang terasa segar bagi penggunanya. Inovasi tidak harus selalu revolusioner. Perbaikan yang konsisten dan terasa bermakna bagi pengguna sudah cukup untuk membuat pelanggan tetap tertarik. 3. Branding yang Kuat dan Konsisten Slogan “Think Different” hanya dua kata, tetapi mampu merangkum seluruh identitas Apple dengan sangat tepat. Apple membuktikan bahwa pesan yang sederhana, jika disampaikan secara konsisten di semua saluran komunikasi, bisa jauh lebih kuat dari kampanye yang rumit sekalipun. Menurut Philip Kotler, pakar pemasaran dari Northwestern University, sebuah merek yang kuat bukan hanya tentang nama atau logo, melainkan tentang kepercayaan yang dibangun secara konsisten melalui setiap titik kontak dengan pelanggan. (Philip Kotler & Kevin Lane Keller, Marketing Management, Pearson, edisi ke-15, 2016). 4. Aktif Mendengar Masukan Pelanggan Apple secara aktif mengumpulkan umpan balik dari pengguna melalui ulasan, media sosial, dan kegiatan langsung seperti seminar serta gathering. Hasilnya, setiap generasi produk Apple terasa seperti jawaban atas permintaan penggunanya, bukan sekadar pembaruan teknis semata. 5. Membangun Pengalaman, Bukan Sekadar Produk Pengalaman pelanggan Apple dimulai dari iklan, berlanjut ke proses pembelian di Apple Store, hingga momen membuka kotak produk yang terasa seperti ritual tersendiri. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology (Lemon & Verhoef, 2016) menyimpulkan bahwa pengalaman pelanggan yang positif di setiap tahap perjalanan

SELENGKAPNYA
Strategi Finally Found You! Maksimalkan E-Commerce untuk Dongkrak Penjualan

Strategi Finally Found You! Maksimalkan E-Commerce untuk Penjualan

Brand kecantikan lokal Finally Found You! menjadi salah satu contoh bagaimana e-commerce bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Dengan pendekatan yang terarah, brand ini mampu meningkatkan visibilitas sekaligus penjualan produknya di tengah persaingan yang ketat. Melalui pernyataan Putu Maharaja Segara Putra (CEO & Co-Founder dari jenama Finally Found You), terdapat beberapa strategi utama yang digunakan untuk memperkuat posisi brand di platform digital. Fokus Utama: Produk Harus Siap dan Relevan Strategi pertama yang menjadi fondasi adalah memastikan produk sudah sesuai dengan kebutuhan pasar. Produk tidak langsung diluncurkan tanpa melalui proses validasi. Kualitas dan kecocokan produk dengan kebutuhan konsumen menjadi prioritas utama. Tanpa hal ini, upaya pemasaran di e-commerce akan sulit menghasilkan penjualan yang konsisten. Strategi Marketing Finally Found You! Brand kecantikan lokal Finally Found You! memanfaatkan e-commerce sebagai kanal utama untuk membangun penjualan sekaligus memperkuat positioning di pasar. Pendekatan yang digunakan tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga pada bagaimana produk dikenalkan, dipahami, dan akhirnya dipilih oleh konsumen. Melalui arahan Putu Maharaja Segara Putra, strategi marketing yang dijalankan disusun secara bertahap. Setiap langkah saling melengkapi, mulai dari tahap awal mengenalkan produk hingga mendorong keputusan pembelian di platform e-commerce. a. Bangun Awareness Lewat Media Sosial Setelah produk siap, langkah berikutnya adalah membangun awareness. Finally Found You! memanfaatkan media sosial sebagai kanal utama untuk memperkenalkan produk. Tidak hanya melalui akun brand, komunikasi juga dilakukan melalui akun pribadi untuk menjangkau audiens secara lebih luas. Pendekatan ini membantu menciptakan kedekatan dan meningkatkan ketertarikan terhadap produk. b. Manfaatkan Social Proof untuk Tingkatkan Kepercayaan Dalam ekosistem e-commerce, kepercayaan menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Finally Found You! menggunakan social proof sebagai strategi untuk menjawab hal ini. Ulasan dari pengguna, pengalaman pemakaian, serta testimoni menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan calon pembeli sebelum melakukan transaksi. c. Kolaborasi dengan KOL dan Affiliator Strategi berikutnya adalah bekerja sama dengan Key Opinion Leader dan affiliator. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauan sekaligus mengkomunikasikan keunggulan produk. Para KOL dan affiliator membantu menjelaskan nilai produk secara lebih mudah dipahami oleh audiens, terutama terkait manfaat dan keunikan produk. d. Siapkan Momentum Peluncuran Produk Finally Found You! juga menaruh perhatian pada momen peluncuran produk. Saat produk dirilis, berbagai konten pendukung sudah dipersiapkan, termasuk review dari KOL. Dengan cara ini, produk tidak hanya muncul di e-commerce, tetapi langsung memiliki eksposur dan dukungan konten yang cukup untuk menarik perhatian pasar. Mendapat Pengakuan di Industri E-Commerce Strategi yang dijalankan oleh Finally Found You! mendapatkan apresiasi melalui ajang CNBC Indonesia EPIC Awards 2026 yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia. Brand ini berhasil meraih penghargaan dalam kategori produk yang sedang berkembang di e-commerce. Penghargaan tersebut diberikan kepada brand yang mampu mencatat pertumbuhan penjualan serta menjalankan strategi digital dengan baik. Kesimpulan Keberhasilan Finally Found You! dalam memanfaatkan e-commerce tidak terjadi secara instan. Ada strategi yang dijalankan secara konsisten, mulai dari kesiapan produk, pemanfaatan media sosial, penggunaan social proof, hingga kolaborasi dengan KOL. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan di e-commerce membutuhkan perencanaan yang matang dan eksekusi yang terarah. Strategi tersebut dapat menjadi referensi bagi brand lain yang ingin berkembang di pasar digital.

SELENGKAPNYA