Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung dengan Modal Kecil

Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung dengan Modal Kecil

Warung kopi sekarang ada di mana-mana. Bukan cuma perasaan. Per November 2025, jumlah kafe dan warung kopi aktif di Indonesia tercatat sekitar 461.991 lokasi. Data ini menunjukkan Indonesia negara dengan kedai kopi terbanyak di dunia, mengungguli Amerika Serikat dan Vietnam (data Point of Interest via OpenStreetMap, dikutip Detik dan Beritasatu). Kabar baiknya, pasar ini masih tumbuh. Nilai pasar kopi Indonesia diperkirakan mencapai 11,58 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10 persen (Kompas.id, mengutip USDA dan Statista). Artinya, peluang untuk warung kopi masih terbuka, asal tahu caranya. Jadi, gimana caranya mengoptimalkan warung kopi agar rame pembeli di tengah menjamurkan coffee shop? Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung Berikut beberapa langkah yang bisa langsung diterapkan, mulai dari yang paling dasar sampai yang berkaitan dengan pengelolaan data. 1. Bangun suasana yang bikin betah. Orang datang ke warung kopi bukan cuma untuk minum kopi, tapi juga untuk kerja atau berkumpul. Meja bersih, pencahayaan hangat, musik dengan volume sedang, serta colokan listrik dan WiFi jadi hal dasar yang perlu diperhatikan. 2. Jaga rasa kopi tetap konsisten. Pakai takaran bahan yang sama setiap kali seduh, simpan biji kopi di wadah tertutup, dan latih staf agar racikan tidak berubah-ubah dari hari ke hari. 3. Manfaatkan media sosial dan Google Maps. Daftarkan warung di Google Maps atau Google Business supaya muncul saat orang mencari “warung kopi terdekat”, lalu unggah foto suasana dan menu secara rutin di Instagram atau TikTok. 4. Pakai sistem pencatatan digital. Pembayaran non-tunai seperti QRIS mempercepat transaksi, sementara laporan penjualan harian membantu melihat menu mana yang paling laku dan jam mana yang paling ramai. 5. Tambahkan variasi menu di luar kopi. Tidak semua pelanggan memesan kopi. Camilan seperti pisang goreng atau roti bakar, minuman non-kopi seperti teh tarik, atau menu berat sederhana bisa menjangkau pelanggan yang lebih luas. 6. Buat program yang bikin pelanggan balik lagi. Kartu stempel, diskon di jam tertentu, atau potongan harga di hari ulang tahun pelanggan bisa jadi alasan tambahan untuk kembali. 7. Ciptakan interaksi dan kegiatan komunitas. Menyapa pelanggan tetap, mengingat pesanan favorit mereka, atau mengadakan live music akustik dan gathering komunitas di akhir pekan membuat suasana lebih hidup. 8. Evaluasi rutin berdasarkan data penjualan. Memantau menu terlaris, jam kunjungan tertinggi, serta perbandingan pendapatan harian dan mingguan membantu menyesuaikan strategi sesuai kondisi nyata, bukan asumsi. Tren Bisnis Warung Kopi di Indonesia Saat Ini Konsumsi kopi domestik terus naik, dari 4,45 juta kantong pada 2020/2021 menjadi sekitar 4,8 juta kantong pada 2025 (BRMP Pertanian, mengutip laporan lembaga riset kopi). Pertumbuhan jumlah kedai kopi pun tidak hanya terjadi di kota besar, tapi juga merambah ke kota menengah dan pedesaan (Infonasional). Banyak warung kopi tradisional beradaptasi dengan menambahkan WiFi, memperbarui tata ruang, dan menyediakan kopi manual brew, sejalan dengan kebiasaan pelanggan yang berubah (Detik, CNA Indonesia). Sementara itu, kedai kopi bermerek modern seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa juga terus bertambah, dari sekitar 4.700 gerai saat ini diproyeksikan mencapai 9.500 gerai pada 2029 (Ondeway Sinergi Indonesia). Artinya, warung kopi tradisional dan kedai modern sama-sama tumbuh, dan bersaing di ruang yang sama. Tantangan yang Perlu Diperhatikan Dengan hampir setengah juta kedai kopi berebut pelanggan, persaingan makin dekat dengan lokasi masing-masing warung, dari kota besar sampai pedesaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pemilik warung: a. Diferensiasi jadi semakin penting Banyak kedai menawarkan menu yang serupa. Karena itu, pemilik warung perlu punya pembeda, misalnya dari cita rasa, menu khas, harga, konsep tempat, hingga pelayanan. b. Harga bahan baku bisa memengaruhi margin Harga kopi dan bahan pendukung dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar komoditas. Jika tidak diantisipasi, kenaikan biaya bahan baku bisa mengurangi keuntungan usaha. c. Pengalaman pelanggan ikut menentukan pilihan Pelanggan kini punya semakin banyak pilihan kedai di sekitar mereka. Selain rasa dan harga, kenyamanan tempat, kebersihan, kecepatan pelayanan, hingga kemudahan pembayaran bisa menjadi alasan pelanggan memilih untuk kembali. Kesimpulan Indonesia tercatat memiliki 461.991 kedai kopi aktif per November 2025, angka tertinggi di dunia, dengan pasar yang diperkirakan masih tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun. Kondisi ini membuka peluang, sekaligus berarti persaingan antar warung kopi juga semakin dekat dan padat, dari kota besar hingga pedesaan. Di tengah kondisi itu, warung kopi yang ramai biasanya menjalankan hal-hal dasar secara konsisten: suasana yang nyaman, rasa kopi yang stabil, promosi lewat media sosial dan Google Maps, pencatatan transaksi yang rapi, variasi menu, program loyalti sederhana, interaksi dengan pelanggan, serta evaluasi data secara berkala. Bagi pemilik warung kopi yang baru mulai atau sedang berkembang, langkah paling realistis adalah memilih dua atau tiga hal dari daftar cara di atas untuk dijalankan lebih dulu, lalu menambah secara bertahap sambil melihat data penjualan sebagai acuan.

SELENGKAPNYA
Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Di tengah banyaknya brand fashion yang menawarkan produk serupa, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki produk paling bagus atau harga paling murah. Konsumen juga mempertimbangkan bagaimana sebuah brand terlihat, berbicara, membawa nilai, dan membangun hubungan dengan audiensnya. Karena itu, branding menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis. Branding membantu konsumen memahami alasan sebuah produk berbeda dari pilihan lain yang tersedia di pasar. Identitas tersebut bisa dibentuk melalui tampilan visual, gaya komunikasi, pengalaman pelanggan, sampai sosok orang yang berada di balik bisnis. Salah satu brand yang menarik dipelajari dari sisi tersebut adalah Lafiye, brand fashion muslim lokal yang mengembangkan identitas melalui produk, visual, media sosial, serta personal branding figur di balik mereknya. Situs resmi LAFIYE menggambarkan brand tersebut sebagai brand yang dibuat untuk perempuan modern dengan penekanan pada keindahan, fungsi, gaya yang dapat digunakan dalam berbagai situasi, serta desain yang adaptif. Menariknya, strategi Lafiye tidak hanya menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Beberapa penelitian akademik telah menjadikan brand ini sebagai objek studi, mulai dari pengaruh brand image dan personal branding terhadap keputusan pembelian, penerapan visual merchandising, media monitoring, sampai hubungan antara social media marketing dan loyalitas pelanggan. Artinya, ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari perjalanan branding Lafiye. Bukan untuk menyalin strategi mereka secara mentah, melainkan memahami prinsip di baliknya dan menyesuaikannya dengan kondisi bisnis masing-masing. Berikut empat strategi branding Lafiye yang menarik untuk dipelajari oleh pemilik bisnis. 1. Personal Branding Owner Berjalan Bersama Brand Image Salah satu bagian yang menarik dari strategi branding Lafiye adalah hubungan antara identitas brand dengan sosok Sashfir sebagai founder LAFIYE. Situs resmi Lafiye sendiri menyebut Sashfir sebagai founder ketika membahas kegiatan LAFIYE Unveils 2026. Hubungan antara figur pendiri dan brand ini juga telah menjadi objek penelitian akademik. Dalam bisnis, personal branding owner dapat membantu sebuah brand terasa lebih manusiawi. Konsumen tidak hanya melihat nama perusahaan atau katalog produk, tetapi juga dapat mengenal pandangan, gaya, serta karakter orang yang membangun bisnis tersebut. Pendekatan seperti ini cukup relevan untuk bisnis yang banyak berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial. Founder dapat menjadi salah satu wajah yang membantu menyampaikan cerita, nilai, dan karakter brand secara lebih personal. Namun, ada satu pelajaran penting dari penelitian mengenai Lafiye: personal branding owner sebaiknya tidak menggantikan kekuatan brand image itu sendiri. Penelitian Balqis Bintang Paramita, Sri Indriani, dan Emmalia Adriantantri yang diterbitkan dalam El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam pada 2025 meneliti pengaruh brand image dan personal branding Sashfir terhadap keputusan pembelian produk hijab Lafiye. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 110 responden yang mengikuti Sashfir di media sosial dan memiliki pengalaman membeli produk Lafiye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image dan personal branding sama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dalam sampel penelitian tersebut. Akan tetapi, brand image menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan personal branding. Temuan ini memberikan pelajaran penting untuk pemilik usaha. Founder memang bisa menjadi pintu masuk agar orang tertarik mengikuti sebuah bisnis. Namun, dalam jangka panjang, brand tetap harus memiliki identitas yang bisa berdiri dengan kuat. Bayangkan seorang pemilik bisnis memiliki satu juta followers tetapi produk, pelayanan, desain, dan komunikasi mereknya berubah-ubah. Perhatian publik mungkin bisa diperoleh dengan cepat, tetapi perhatian tersebut belum tentu berubah menjadi kepercayaan terhadap brand. Sebaliknya, ketika personal branding founder dan brand image saling mendukung, keduanya bisa membentuk komunikasi yang lebih kuat. Pemilik bisnis dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana. A. Tentukan posisi founder di dalam komunikasi brand Tidak semua pemilik bisnis harus menjadi influencer. Founder bisa muncul sebagai edukator, ahli di bidang tertentu, orang yang menceritakan proses membangun usaha, atau figur yang membawa nilai tertentu. B. Pisahkan identitas personal dengan identitas perusahaan Walaupun saling berhubungan, brand tetap perlu memiliki karakter sendiri. Logo, warna, kualitas produk, pelayanan, tone of voice, sampai pengalaman pelanggan harus tetap konsisten meskipun founder tidak selalu tampil. C. Gunakan cerita yang benar-benar berkaitan dengan bisnis Daripada hanya mengunggah kehidupan pribadi, founder dapat membagikan proses pengembangan produk, alasan mengambil keputusan tertentu, pengalaman menghadapi tantangan bisnis, atau pengetahuan yang relevan dengan audiens. D. Tetap prioritaskan kualitas brand Penelitian mengenai Lafiye tadi menjadi pengingat bahwa brand image tetap memiliki posisi penting dalam keputusan pembelian. Jadi, personal branding sebaiknya digunakan untuk memperkuat perusahaan, bukan membuat perusahaan sepenuhnya bergantung kepada popularitas satu orang. Bagi UMKM atau bisnis yang masih berkembang, strategi ini bahkan dapat menjadi keunggulan. Perusahaan mungkin belum memiliki anggaran iklan besar, tetapi pemiliknya bisa mulai membangun kepercayaan melalui konten yang konsisten, relevan, dan menunjukkan kompetensi di bidangnya. 2. Konsistensi Visual Membuat Brand Lebih Mudah Dikenali Ketika konsumen menemukan sebuah brand untuk pertama kali di Instagram, TikTok, marketplace, atau website, mereka belum tentu langsung membaca seluruh informasi yang tersedia. Hal pertama yang sering terlihat justru elemen visual. Mulai dari warna, komposisi foto, pemilihan model, gaya produk, pencahayaan, sampai bagaimana katalog ditampilkan. Karena itu, tampilan visual bukan hanya urusan membuat feed terlihat cantik. Visual juga menjadi bagian dari cara bisnis membentuk persepsi konsumen. Strategi tersebut dapat dilihat dalam studi mengenai visual merchandising Lafiye. Penelitian Afifah Anggara Laksmi Khania dan Yuniana Cahyaningrum yang diterbitkan dalam Jurnal Tekstil: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Bidang Tekstil dan Manajemen Industri pada 2025 mengkaji bagaimana Lafiye melakukan visual merchandising di media sosial. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan mengambil data antara lain dari website serta akun Instagram resmi Lafiye. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Lafiye secara konsisten menerapkan sejumlah prinsip visual merchandising, termasuk penataan produk, pemilihan warna, pencahayaan, dan gaya fotografi yang diselaraskan dengan identitas merek serta preferensi target pasar. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa strategi visual ini memperkuat citra merek dan membantu membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Dari sini, ada pelajaran sederhana tetapi penting, konsistensi visual membuat brand memiliki pola yang lebih mudah dikenali. Konsumen tidak harus selalu melihat logo terlebih dahulu untuk mengenali sebuah brand. Pada merek yang identitas visualnya sudah kuat, kombinasi warna, fotografi, tata letak, atau gaya kontennya sendiri bisa menjadi tanda pengenal. Namun, konsistensi visual tidak berarti seluruh desain harus sama. Kalau semua konten dibuat dengan template yang identik, hasilnya justru bisa terasa monoton. Yang perlu konsisten adalah sistem visualnya. Misalnya sebuah bisnis dapat menentukan: Sebagai contoh, bisnis yang

SELENGKAPNYA
Dikichi Fried Chicken: Profil, Ekspansi, dan Strategi Bisnisnya

Dikichi Fried Chicken: Profil, Ekspansi, dan Strategi Bisnisnya

Bisnis kuliner di Indonesia terus berkembang dengan munculnya berbagai brand baru, termasuk di kategori makanan cepat saji. Salah satu brand yang menarik perhatian adalah Dikichi Fried Chicken, yang berada di bawah naungan PT Dua Pendekar Ayam. Meski perusahaan ini baru berdiri pada 2024, Dikichi telah melakukan ekspansi ke sejumlah kota di Indonesia. Perkembangan tersebut menarik untuk diperhatikan, khususnya bagi pelaku UMKM kuliner yang ingin mengetahui bagaimana sebuah bisnis makanan membangun produk dan memperluas pasarnya. Dikichi, Brand Fried Chicken yang Berdiri Sejak 2024 Dikichi merupakan brand fried chicken yang berada di bawah PT Dua Pendekar Ayam. Berdasarkan informasi pada situs resminya, perusahaan ini didirikan pada 2024 dan berpusat di Malang, Jawa Timur. Dikichi membawa konsep fast food dengan fried chicken sebagai salah satu produk utamanya. Perusahaan juga mencantumkan visi untuk menjadi salah satu perusahaan fried chicken terkemuka di Indonesia. Usia perusahaan yang relatif muda membuat perkembangan Dikichi menjadi menarik untuk diamati. Alih-alih hanya beroperasi di satu wilayah, brand ini mulai memperluas kehadirannya ke berbagai kota. Bagi pelaku bisnis kuliner, perkembangan tersebut dapat menjadi contoh bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun sistem bisnis yang dapat diterapkan ketika pasar semakin luas. Ekspansi Dikichi ke Sejumlah Kota di Indonesia Salah satu hal yang paling terlihat dari perkembangan Dikichi adalah penyebaran gerainya. Berdasarkan informasi yang tercantum di situs resmi Dikichi, brand ini telah memiliki 19 gerai di 13 kota dan 3 provinsi. Kota-kota yang tercantum antara lain Malang, Jember, Kediri, Mojokerto, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Bandung, Cirebon, Blitar, Sidoarjo, Tegal, dan Tulungagung. Perluasan tersebut menunjukkan bahwa Dikichi tidak hanya membidik pasar di kota asalnya. Brand ini mulai hadir di berbagai wilayah dengan karakter konsumen yang berbeda. Ekspansi seperti ini tentu membutuhkan lebih dari sekadar membuka tempat makan baru. Perusahaan perlu memastikan operasional setiap gerai dapat berjalan, kebutuhan tenaga kerja terpenuhi, kualitas produk tetap terjaga, dan brand dapat dikenal oleh konsumen di wilayah baru. Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting yang dapat dipelajari UMKM. Ketika ingin membuka cabang, pemilik usaha sebaiknya tidak hanya menghitung biaya pembangunan gerai, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia, pemasok, standar operasional, dan potensi pasar di lokasi baru. Produk Dikichi Selain Fried Chicken Meskipun fried chicken menjadi identitas utama brand, pilihan produk Dikichi tidak hanya terbatas pada ayam goreng. Dalam situs resminya, Dikichi mencantumkan beberapa kategori menu seperti fried chicken, burger, dimsum, kentang goreng, es krim, sundae, dan minuman. Keberadaan beberapa kategori produk memberikan pilihan yang lebih beragam bagi konsumen. Dari sisi bisnis, variasi produk juga dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pelanggan yang berbeda dalam satu gerai. Namun, bukan berarti UMKM harus langsung memiliki banyak menu untuk bisa bersaing. Bagi usaha kecil, pengembangan produk justru dapat dilakukan secara bertahap. Pemilik usaha dapat mempertahankan produk utama sebagai identitas bisnis, kemudian menambahkan beberapa produk pendamping yang masih sesuai dengan target pasar dan kemampuan produksi. Dengan begitu, penambahan menu tidak hanya mengejar jumlah pilihan, tetapi tetap mempertimbangkan biaya bahan baku, kapasitas produksi, margin keuntungan, serta tingkat permintaan pelanggan. Strategi Dikichi yang Bisa Ditiru? Perkembangan Dikichi dapat menjadi contoh menarik bagi UMKM kuliner yang sedang membangun bisnis. Namun, strategi perusahaan besar tidak harus ditiru secara mentah. Ada beberapa prinsip yang dapat disesuaikan dengan skala usaha. 1. Pastikan Produk Utama Memiliki Identitas Dalam bisnis kuliner yang kompetitif, konsumen perlu memiliki alasan untuk memilih satu brand dibandingkan kompetitornya. UMKM dapat memulainya dengan menentukan produk utama yang ingin dikenal. Misalnya ayam crispy dengan sambal khas, burger dengan resep tertentu, atau minuman dengan karakter rasa yang berbeda. Identitas produk akan membantu usaha lebih mudah dikenali, terutama ketika banyak kompetitor menawarkan kategori makanan yang serupa. 2. Kembangkan Menu Sesuai Kebutuhan Pasar Penambahan menu sebaiknya tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren. UMKM perlu melihat produk mana yang paling banyak dibeli, produk mana yang memberikan margin baik, dan produk apa yang sesuai dengan kebiasaan pelanggan. Dengan data sederhana dari penjualan harian atau bulanan, pemilik usaha dapat menentukan menu yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau bahkan dihentikan. 3. Jangan Terburu-buru Membuka Cabang Memiliki banyak cabang memang dapat menjadi tanda pertumbuhan bisnis. Namun, ekspansi juga meningkatkan kompleksitas operasional. Sebelum membuka cabang, UMKM sebaiknya memastikan bisnis pertama sudah memiliki sistem yang cukup stabil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: Jika fondasi tersebut belum siap, ekspansi justru dapat menambah beban bisnis. Digital Marketing Penting untuk Bisnis Kuliner Selain produk dan lokasi, pemasaran juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis kuliner. Media sosial memungkinkan UMKM memperkenalkan produk kepada konsumen tanpa harus mengandalkan promosi konvensional. Konten mengenai menu, proses produksi, promo, pelanggan, hingga aktivitas di gerai dapat digunakan untuk membangun awareness. Bank Indonesia juga mencatat bahwa digitalisasi pemasaran dapat membantu UMKM memperluas akses pasar dan meningkatkan visibilitas produk. Penggunaan kanal digital seperti marketplace, landing page, Google Ads, hingga live selling dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran UMKM. Karena itu, UMKM tidak harus memiliki anggaran pemasaran sebesar perusahaan besar. Yang lebih penting adalah konsisten membangun kehadiran digital dan memastikan konten yang dibuat relevan dengan target konsumen. Kesimpulan Dikichi Fried Chicken merupakan salah satu brand kuliner yang menarik untuk diamati karena perusahaan yang berdiri pada 2024 tersebut telah melakukan ekspansi ke berbagai kota. Berdasarkan informasi di situs resminya, Dikichi kini memiliki 19 gerai yang tersebar di 13 kota dan 3 provinsi. Namun, pelajaran yang dapat diambil UMKM bukan sekadar mengenai jumlah cabang. Pertumbuhan bisnis kuliner membutuhkan kombinasi antara produk yang kuat, pengembangan menu, pemasaran, operasional, sumber daya manusia, dan kesiapan bisnis untuk berkembang. UMKM tidak harus langsung memiliki banyak cabang untuk menjadi kompetitif. Dengan memahami target pasar, membangun produk yang memiliki identitas, memanfaatkan pemasaran digital, menjaga kualitas, serta mempersiapkan sistem dan legalitas sejak awal, usaha kecil pun dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk berkembang. Jadi, ketika brand baru terus bermunculan, bukan berarti UMKM harus ikut berlomba membuka cabang. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis memiliki alasan yang kuat untuk terus dipilih pelanggan.

SELENGKAPNYA
Artisan Milk Tea di Indonesia: Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala

Artisan Milk Tea di Indonesia: Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala

Artisan milk tea menjadi salah satu kategori minuman yang semakin menarik perhatian konsumen Indonesia. Bukan hanya karena tren minuman kekinian, tetapi juga karena konsumen mulai memperhatikan kualitas teh, bahan baku, kadar gula, hingga pengalaman yang ditawarkan sebuah brand. Di tengah pasar yang semakin ramai, Teazzi, Sancha, dan Tianlala hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ada yang menonjolkan pengalaman minum teh premium, ada yang membangun citra modern dan minimalis, sementara lainnya bermain di harga yang lebih terjangkau. Lalu, seperti apa persaingan artisan milk tea di Indonesia dan apa yang bisa dipelajari UMKM dari ketiga brand tersebut? Apa Itu Artisan Milk Tea? Secara sederhana, artisan milk tea adalah teh susu yang dibuat dengan lebih menekankan kualitas bahan dan proses pembuatannya. Berbeda dari minuman teh susu yang menggunakan bubuk instan atau sirup sebagai bahan utama, artisan milk tea umumnya menggunakan daun teh asli yang diseduh dengan teknik tertentu. Tujuannya adalah mempertahankan aroma, rasa, dan karakter alami teh. Beberapa brand juga menggunakan teknik penyeduhan bertekanan tinggi untuk menghasilkan ekstrak teh yang lebih kuat. Hasilnya, rasa teh tetap terasa jelas ketika dicampur dengan susu tanpa harus mengandalkan rasa manis berlebihan. Itulah yang membuat pengalaman minum artisan milk tea bisa terasa berbeda. Konsumen tidak hanya mendapatkan rasa manis dan creamy, tetapi juga bisa mengenali karakter teh seperti jasmine, oolong, atau roasted tea. Konsep ini sebenarnya sudah populer di negara seperti Taiwan dan Tiongkok. Di Indonesia, tren tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan konsumen muda yang tertarik dengan produk yang memiliki rasa khas sekaligus tampilan menarik. Alasan Bisnis Artisan Milk Tea Ramai di Indonesia Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk bisnis minuman teh. Nilai pasar minuman teh di Indonesia, termasuk kategori seperti boba tea, diperkirakan mencapai sekitar US$2,28 miliar atau sekitar Rp34 triliun pada 2023. Angka tersebut juga mencakup hampir 47% dari total pasar minuman teh di Asia Tenggara. Potensi tersebut membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi berbagai brand minuman dari dalam maupun luar negeri. Persaingan kemudian tidak hanya datang dari pemain lama. Brand seperti Teazzi, Sancha, dan Tianlala ikut menawarkan konsep milk tea yang lebih modern dengan karakter masing-masing. Di sisi lain, konsumen juga semakin selektif. Mereka tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi mulai melihat kualitas bahan, tingkat kemanisan, tampilan produk, hingga citra brand. Karena itu, menjual milk tea saja tidak lagi cukup. Brand harus memiliki alasan yang jelas mengapa konsumen harus memilih produknya dibanding kompetitor. Teazzi, Sancha, dan Tianlala Punya Strategi Berbeda Meski sama-sama bermain di kategori teh dan milk tea, Teazzi, Sancha, dan Tianlala tidak sepenuhnya menyasar konsumen dengan cara yang sama. Perbedaan positioning inilah yang menarik untuk diperhatikan, terutama bagi pelaku UMKM yang ingin membangun bisnis minuman. 1. Teazzi Teazzi merupakan brand asal Taiwan yang berdiri sejak 2014 dan mulai beroperasi di Indonesia pada 2021. Salah satu kekuatan Teazzi adalah pilihan menu berbasis teh oolong, seperti Deep Roast Oolong Milk Tea, Seasons Oolong Milk Tea, dan Honey Oolong Milk Tea. Harga produknya berada di kisaran Rp30.000-an untuk beberapa menu milk tea, meskipun sejumlah varian lain memiliki harga yang lebih tinggi. Dari sisi branding, Teazzi tampil lebih playful tapi terkesan simple. Warna, desain gerai, dan tampilan produknya dibuat agak mencolok sehingga mudah menarik perhatian konsumen muda. Pendekatan tersebut juga cocok dengan kebiasaan konsumen yang gemar membagikan pengalaman kuliner di media sosial. Dengan kata lain, Teazzi tidak hanya menjual minuman. Produk sekaligus menjadi bagian dari pengalaman visual yang ingin dibagikan konsumen. 2. Sancha Sancha mengambil pendekatan yang berbeda. Jika Teazzi tampil lebih playful, Sancha justru mengedepankan visual yang minimalis dengan warna dan desain yang lebih lembut. Positioning tersebut membuat Sancha terlihat lebih tenang, modern, dan premium. Konsepnya juga cocok untuk konsumen urban yang menginginkan minuman dengan rasa yang lebih ringan dan tingkat kemanisan yang tidak berlebihan. Beberapa menu Sancha berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp48.000, tergantung jenis menu, lokasi, dan metode pembelian. Sancha juga mengklaim sebagai brand artisan milk tea lokal pertama di Indonesia sejak 2024 dan telah mengantongi sertifikasi halal. Yang menarik, strategi Sancha tidak terlalu bergantung pada campaign besar yang agresif. Brand lebih banyak membangun konsistensi visual, produk, dan positioning. Jadi sebuah brand tidak selalu harus menjadi yang paling ramai untuk terlihat premium. Konsistensi juga bisa menjadi kekuatan. 3. Tianlala Berbeda dari dua brand sebelumnya, Tianlala lebih menonjolkan sisi keterjangkauan. Tianlala menawarkan berbagai jenis minuman, mulai dari fresh fruit tea, milk tea, shaker series, hingga es krim. Harga beberapa produknya bahkan dimulai dari sekitar Rp8.000. Salah satu menu yang cukup dikenal adalah Blooming Jasmine Milk Tea, yang menggabungkan aroma teh melati dengan rasa susu yang creamy. Tianlala juga menawarkan ukuran 500 ml dengan harga sekitar Rp20.000-an pada sejumlah menu, sehingga menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa harus mengeluarkan budget sebesar brand premium. Strategi ini membuat Tianlala memiliki positioning yang berbeda. Jika brand lain membangun daya tarik melalui pengalaman premium, Tianlala lebih dekat dengan konsep minuman enak, kekinian, dan tetap ramah di kantong. Perbandingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala Kalau dilihat secara sederhana, ketiganya memiliki kekuatan yang berbeda: Brand Positioning Kekuatan Utama Teazzi Modern Branding visual dan menu berbasis oolong Sancha Minimalis & premium Konsistensi brand dan pengalaman yang lebih tenang Tianlala Affordable Harga terjangkau dengan pilihan menu yang beragam Artinya, persaingan mereka sebenarnya tidak selalu terjadi di titik yang sama. Teazzi berusaha memenangkan perhatian melalui visual dan pengalaman, Sancha melalui konsistensi dan kesan premium, sedangkan Tianlala melalui harga dan aksesibilitas. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa brand dengan produk yang mirip tetap bisa memiliki pasar masing-masing. UMKM Diantara Persaingan Artisan Milk Tea Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala memberikan pelajaran penting bagi UMKM. Tidak semua bisnis harus memiliki modal besar untuk bisa bersaing. Yang lebih penting adalah mengetahui posisi bisnis dan alasan konsumen memilih produk tersebut. 1. Tentukan Positioning Sebelum Mengejar Banyak Pelanggan Jangan hanya bertanya, “Bagaimana supaya produk saya laku?” Coba mulai dengan pertanyaan: “Kenapa konsumen harus memilih produk saya?” Apakah karena harganya lebih terjangkau? Rasanya lebih autentik? Bahannya lebih berkualitas? Atau pengalaman membeli produknya lebih menarik? Positioning yang jelas akan membuat strategi bisnis dan pemasaran menjadi lebih terarah. 2. Jangan Mengorbankan

SELENGKAPNYA
Strategi Kopi Kenangan dalam Membangun Brand yang Kuat

Strategi Kopi Kenangan dalam Membangun Brand yang Kuat

Kopi Kenangan merupakan salah satu contoh brand lokal yang menarik untuk dipelajari ketika membahas perkembangan bisnis kopi modern di Indonesia. Didirikan pada 2017 oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa, Kopi Kenangan sejak awal mencoba mengisi celah antara kopi instan yang murah dan jaringan kedai kopi internasional yang relatif mahal. Model bisnisnya menggabungkan gerai fisik dengan pemesanan digital melalui aplikasi. Dalam beberapa tahun, pertumbuhannya berlangsung cukup cepat. Pada 2021, Kopi Kenangan mengumumkan statusnya sebagai perusahaan new retail F&B unicorn pertama di Asia Tenggara setelah memperoleh pendanaan Seri C. Saat itu, perusahaan telah memiliki lebih dari 600 gerai di 45 kota dan mempekerjakan lebih dari 3.000 orang. Perkembangannya tidak berhenti di Indonesia. Pada 2023, Kopi Kenangan menyebut telah mengoperasikan sekitar 900 outlet di tiga negara. Pada 2025, perusahaan juga merayakan pembukaan gerai ke-1.000 Kenangan Brands di Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya membuat brand ini bisa berkembang begitu cepat? Pasar Kopi Indonesia dan Perilaku Konsumen Pertumbuhan Kopi Kenangan tidak bisa dilepaskan dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi kopi. Kopi saat ini tidak hanya dipandang sebagai minuman untuk menghilangkan rasa kantuk. Bagi sebagian konsumen, membeli kopi juga sudah menjadi bagian dari rutinitas, gaya hidup, hingga aktivitas sosial. Survei GoodStats yang dilakukan pada Maret 2024 terhadap 1.005 responden menemukan bahwa 66% responden lebih memilih membeli kopi di kedai kopi dibanding menyeduhnya sendiri di rumah, sementara 34% memilih membuat kopi sendiri. Namun, data tersebut perlu dibaca secara proporsional. Survei GoodStats merupakan survei online dan bukan representasi seluruh populasi Indonesia. Karena itu, angka tersebut lebih tepat digunakan untuk melihat indikasi perilaku konsumen, bukan untuk menyimpulkan bahwa dua pertiga seluruh masyarakat Indonesia selalu membeli kopi dari kedai. Kelompok usia muda juga menjadi pasar yang penting. Dalam survei Jakpat pada 6–9 Desember 2024 terhadap 1.115 responden Gen Z, sebanyak 896 responden menyatakan mengonsumsi kopi. Dari kelompok peminum kopi tersebut, 35% mengonsumsi kopi dari kafe, 27% mengonsumsi kopi kemasan, dan 20% mengonsumsi kopi dari pedagang kaki lima. Yang menarik, di antara responden Gen Z yang mengonsumsi kopi dari kafe, Kopi Kenangan menjadi merek yang paling banyak dikonsumsi dengan persentase 60%, diikuti Janji Jiwa 56%, Fore 54%, Tomoro 36%, dan Tuku 28%. Data ini memberikan konteks penting: Kopi Kenangan tidak tumbuh di pasar yang kosong. Justru, brand ini berkembang ketika pilihan konsumen semakin banyak dan persaingan kedai kopi semakin ketat. Sejarah Singkat Kopi Kenangan Kopi Kenangan memulai operasinya pada 2017 dengan sebuah gerai kecil. Pendiriannya berangkat dari gagasan untuk menghadirkan kopi berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan jaringan kopi internasional, tetapi tetap menawarkan pengalaman yang lebih modern dibandingkan kopi instan atau kopi yang dijual di warung. Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui model new retail, yaitu menggabungkan pengalaman offline melalui gerai dengan kemudahan transaksi online. Pertumbuhan perusahaan berlangsung cukup agresif. Dalam waktu sekitar empat tahun sejak berdiri, Kopi Kenangan telah memiliki lebih dari 600 gerai di 45 kota. Pada periode tersebut, perusahaan juga telah menjual sekitar 40 juta cangkir kopi dalam 12 bulan terakhir sebelum pengumuman pendanaan Seri C. Pada 2021, Kopi Kenangan kemudian resmi menjadi perusahaan new retail F&B unicorn pertama di Asia Tenggara. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Kopi Kenangan bukan hanya berasal dari pembukaan gerai, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menggabungkan produk, harga, distribusi, teknologi, dan komunikasi brand. Strategi Marketing Kopi Kenangan Jika harus dirangkum dalam satu strategi besar, kekuatan pemasaran Kopi Kenangan terletak pada kemampuannya membuat produk kopi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari konsumen. Hal ini terlihat dari bagaimana brand membangun identitas, menentukan produk, menggunakan kanal digital, hingga memperluas akses konsumen. 1. Nama Brand dan Produk yang Mudah Diingat Salah satu elemen yang paling mudah dikenali adalah penggunaan nama “Kenangan”. Nama tersebut tidak terdengar seperti istilah teknis dalam industri kopi. Sebaliknya, kata “kenangan” merupakan sesuatu yang mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi. Pendekatan serupa terlihat dalam sejumlah penamaan menu yang menggunakan istilah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan budaya populer. Secara pemasaran, nama produk seperti ini mempunyai satu keuntungan penting yaitu lebih mudah dibicarakan. Ketika sebuah nama produk terasa unik atau relevan dengan pengalaman konsumen, produk tersebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi bahan percakapan maupun konten media sosial. Kajian akademik mengenai branding Kopi Kenangan Mantan juga menunjukkan adanya hubungan antara strategi penamaan produk dengan pembentukan brand image. Artinya, nama produk tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu menu dengan menu lainnya. Dalam kasus tertentu, nama produk juga bisa menjadi bagian dari komunikasi brand. 2. Harga yang Menjembatani Dua Segmen Kopi Kenangan juga sejak awal mencoba mengambil posisi di antara dua pilihan yang sudah ada di pasar: kopi murah yang mudah ditemukan dan kopi dari jaringan internasional dengan harga lebih tinggi. Perusahaan sendiri menjelaskan bahwa konsep awal Kopi Kenangan memang ditujukan untuk mengisi celah antara kopi mahal dari jaringan internasional dan kopi instan yang banyak tersedia di Indonesia. Positioning semacam ini penting karena konsumen tidak selalu mencari produk yang paling murah atau paling premium. Ada konsumen yang menginginkan produk dengan kualitas dan pengalaman yang terasa lebih baik, tetapi tetap mempertimbangkan harga. Kopi Kenangan kemudian mempertahankan pendekatan tersebut ketika memperluas produknya. Pada 2024, misalnya, Kenangan Brands meluncurkan Satu Kenangan sebagai lini fresh brew dengan harga yang lebih ekonomis untuk menjangkau pasar konsumen yang lebih luas. 3. Digitalisasi Kopi Kenangan Kopi Kenangan juga menjadikan aplikasi sebagai bagian penting dari pengalaman pelanggan. Melalui aplikasi, konsumen dapat melakukan pemesanan lebih dahulu untuk pickup atau delivery, sehingga tidak harus selalu mengantre di gerai. Aplikasi tersebut juga memiliki sistem Kenangan Points dan berbagai manfaat keanggotaan. Dalam ketentuan aplikasinya, Kopi Kenangan juga menjelaskan adanya program loyalty seperti Kenangan Points dan Kenangan VIP yang dapat digunakan pelanggan ketika melakukan transaksi. Bagi bisnis, pendekatan seperti ini memberikan manfaat lebih dari sekadar transaksi. Ketika konsumen melakukan pembelian melalui kanal milik brand, perusahaan mempunyai saluran langsung untuk memberikan informasi mengenai produk, promosi, membership, dan berbagai penawaran lainnya. Dengan kata lain, aplikasi menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pembelian sekaligus mempertahankan hubungan dengan pelanggan. 4. Distribusi yang Membuat Brand Mudah Ditemukan Strategi pemasaran tidak akan maksimal jika konsumen sulit menemukan produknya. Karena itu, ekspansi gerai menjadi bagian penting dari pertumbuhan Kopi Kenangan. Pada 2023, perusahaan menyebut telah memiliki

SELENGKAPNYA
Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Belakangan ini, persaingan Indomie dan Mie Gaga kembali ramai dibicarakan. Bukan cuma soal mana yang lebih enak, tetapi juga karena banyak warganet mulai membandingkan keduanya dari rasa, harga, varian, hingga sejarah di balik mereknya. Namun, kalau dilihat lebih jauh, persaingan ini sebenarnya menarik dari sisi strategi bisnis. Indomie tumbuh sebagai bagian dari ekosistem bisnis Indofood yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, produksi, hingga distribusi. Indofood bahkan menyebut model bisnisnya sebagai Total Food Solutions, dengan skala dan jaringan distribusi yang menjadi salah satu kekuatannya. Di sisi lain, Mie Gaga berada di bawah PT Jakarana Tama, perusahaan yang telah berdiri sejak 1980 dan tidak hanya bermain di mi instan, tetapi juga produk makanan kaleng, sosis siap makan, serta bumbu. Perusahaan ini juga mengembangkan berbagai merek untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda. Artinya, persaingan keduanya bukan sekadar “Indomie vs Gaga, siapa yang rasanya lebih enak?” Ada strategi tentang membangun merek, membaca selera pasar, memperluas varian produk, membangun distribusi, hingga memanfaatkan momentum ketika sebuah produk menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Lalu, bagaimana sebenarnya para founder ini pecah kongsi hingga menghasilkan brand mie yang saling jadi kompetitor? Yuk, kita bahas! Awal Mula Indomie Cikal bakal Indomie bermula dari PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang berdiri pada April 1970 sebagai anak usaha Djangkar Djati Group. Perusahaan ini didirikan oleh Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yaitu Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Merek Indomie sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 1972, menjadikannya produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia setelah Supermi, yang lebih dulu dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis. Produk pertama yang diperkenalkan Indomie ke publik adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, rasa yang saat itu memang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie, yang menandakan produk ini memang dirancang untuk pasar lokal sejak awal berdiri. Kelahiran Indomie juga berkaitan dengan kondisi pangan nasional saat itu. Penciptaan Indomie dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras yang terjadi di Indonesia pada masa itu, sehingga mi instan hadir sebagai salah satu alternatif pangan yang lebih mudah diproduksi secara massal. Sarimi dan Strategi Agresif Salim Group Situasi mulai berubah pada awal 1980-an, ketika Salim Group yang dipimpin Liem Sioe Liong, atau yang dikenal dengan nama Sudono Salim, memutuskan masuk ke bisnis mi instan lewat merek Sarimi yang diproduksi melalui PT Sarimi Asli Jaya. Menurut penelusuran Historia.id yang mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, dua peneliti yang secara khusus menulis riwayat bisnis Salim Group, langkah Salim masuk ke industri mi didorong oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang ingin mengurangi ketergantungan pada beras impor. Pada 1978 saja, pemerintah Indonesia tercatat menghabiskan sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat hanya untuk mengimpor beras, dan sebagian gaji pegawai negeri serta tentara pada masa itu masih dibayarkan dalam bentuk beras. Momentum ini semakin kuat karena Salim Group sudah lebih dulu memiliki Bogasari, pabrik penggilingan gandum yang menurut situs resmi Indofood mulai diintegrasikan ke dalam bisnis grup pada pertengahan 1990-an, meski operasional awalnya sudah berjalan sejak 1971. Dengan bahan baku tepung yang sudah dikuasai sendiri, Salim Group punya modal besar untuk terjun ke industri hilir mi instan. Ketika Sarimi diluncurkan, Salim Group menggarap pasar dengan sangat agresif. Salim Group menyediakan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk memasarkan Sarimi dan memasang harga jual di bawah Indomie maupun Supermi. Hasilnya, dalam waktu setahun saja Sarimi berhasil menguasai sekitar 40 persen pasar mi instan nasional. Data pangsa pasar 40 persen ini juga dikutip secara konsisten oleh Tempo dan beberapa media lain yang menelusuri arsip sejarah industri mi instan, sehingga bisa dianggap sebagai angka yang cukup teruji lewat berbagai sumber independen. PT Indofood Interna: Titik Temu Djajadi Djaja dan Salim Group Salim Group sempat mengajak Djajadi untuk bekerja sama, tapi tawaran ini awalnya ditolak. Setelah penolakan itu, Salim semakin gencar memasarkan Sarimi hingga pangsa pasarnya melonjak tajam, dan tekanan ini yang akhirnya membuat Djajadi mempertimbangkan kembali sikapnya. Namun pada 1984, keduanya resmi membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dalam pembagian sahamnya, Djajadi dan rekan-rekannya memegang 57,5 persen saham, sementara Salim Group memegang 42,5 persen saham. Posisi CEO di perusahaan gabungan ini pun masih dipercayakan kepada orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli, sesuai catatan yang dihimpun Serayunews dari berbagai sumber sejarah bisnis. Akuisisi Supermi dan Dominasi Salim di Industri Mi Instan Bergabungnya Indomie dan Sarimi dalam satu perusahaan membuat posisi mereka di pasar semakin kuat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah bergabung, usaha patungan ini sudah cukup kuat untuk mengakuisisi merek terkenal lainnya, yaitu Supermi, yang pada 1986 diambil alih setelah perusahaannya mengalami masalah internal dan produksinya menurun. Fakta akuisisi Supermi pada 1986 ini juga tercatat dalam ensiklopedia bisnis Universitas STEKOM Semarang yang menyusun linimasa resmi perjalanan Indofood berdasarkan dokumen korporat, sehingga memperkuat validitas tanggal tersebut. Dampak dari penguasaan pasar ini cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun Historia.id, pada 1994, tahun ketika Indofood resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia, Salim Group menguasai hampir 80 persen pasar mi instan nasional, dengan rincian Indomie menguasai 60,3 persen, Supermi 7,8 persen, Sarimi 6,7 persen, dan sisanya sekitar 4 persen dikuasai merek lain. Pada tahun yang sama, Indofood bahkan tercatat sebagai produsen mi instan terbesar di dunia, melampaui Nissin Food Products, perusahaan asal Jepang yang menjadi pelopor mi instan secara global sejak 1958. Awal Konflik Perusahaan Mie Indonesia Kesuksesan besar yang diraih PT Indofood Interna ternyata tidak berjalan mulus bagi Djajadi dalam jangka panjang. Pada 1993, Djajadi menghadapi kesulitan finansial yang cukup serius, dan kondisi ini menjadi celah bagi Salim Group untuk mengambil alih seluruh kepemilikan dan kendali perusahaan. Proses pergeseran kendali dari Djajadi ke Salim Group ini sebenarnya berlangsung bertahap, dengan sejumlah sumber sejarah bisnis mencatat bahwa penguasaan penuh oleh Salim Group terjadi antara 1992 hingga 1993. Djajadi tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, dan bagian inilah yang justru punya jejak dokumen paling kuat secara hukum. Pada 1999, Djajadi melayangkan gugatan kepada PT Indofood Sukses Makmur dan empat mantan pejabatnya terkait pembelian merek dagang yang dilakukan perusahaan tersebut pada pertengahan 1980-an. Yang membuat informasi ini cukup kredibel untuk dijadikan rujukan, CNBC Indonesia secara

SELENGKAPNYA
Ide Bisnis Makanan Minuman Sehat Di Balik Tren Less Sugar ala Gen Z

Ide Bisnis Makanan Minuman Sehat Di Balik Tren Less Sugar ala Gen Z

Coba kamu perhatikan kebiasaan sehari-hari waktu pesan minuman di kedai kopi atau gerai minuman kekinian. Beberapa tahun lalu, pertanyaan dari kasir biasanya cuma seputar ukuran gelas atau tambahan topping. Sekarang, hampir semua tempat menyediakan pilihan level gula, mulai dari normal, less sugar, sampai no sugar sama sekali. Kebiasaan ini bukan kebetulan. Ada pergeseran pola konsumsi yang cukup nyata di kalangan Gen Z dan milenial, dan pergeseran ini membuka peluang besar buat kamu yang lagi mempertimbangkan terjun ke bisnis makanan dan minuman sehat. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan memang terus meningkat, dan hal ini jadi salah satu pendorong utama kenapa bisnis makanan sehat terus bergeliat. Industri makanan dan minuman sehat masih menunjukkan arah yang positif, terutama karena semakin banyak orang yang pengin menjalani gaya hidup seimbang dan mencari makanan yang bergizi sekaligus aman dikonsumsi. Perubahan selera konsumen ini bikin pelaku usaha punya banyak ruang buat berinovasi, meski tentu saja tantangannya tetap ada. Berikut ulasan soal peluang, cara membangun bisnis yang berhasil, sampai inovasi yang bisa kamu terapkan pada bisnis makanan dan minuman sehat, lengkap dengan data terbaru soal fenomena Gen Z dan milenial yang mulai mengurangi konsumsi gula. Peluang Bisnis Makanan dan Minuman Sehat Permintaan terhadap makanan sehat yang tinggi disebabkan oleh kesadaran kesehatan yang makin kuat, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Semakin banyak kasus penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, seperti obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi, bikin masyarakat lebih memilih makanan yang rendah gula, rendah garam, dan tinggi serat. Selain itu, perhatian terhadap isu lingkungan turut mendorong konsumen memilih makanan berbahan dasar tumbuhan dan proses produksi yang berkelanjutan, sehingga produk vegan serta plant-based makin banyak diminati. Kemudahan belanja lewat e-commerce dan layanan antar makanan juga bikin konsumen bisa dapat makanan sehat tanpa harus keluar rumah. Kondisi ini jadi celah buat pelaku bisnis makanan sehat untuk menawarkan layanan berlangganan, di mana pelanggan bisa menerima makanan sehat yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi mereka setiap harinya. Kekhawatiran terhadap konsumsi gula berlebih bukan tanpa dasar. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan terjadi peningkatan angka obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas, dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh pola makan yang tidak seimbang. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 28,7 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas yang dianjurkan, sementara 61,27 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari. Riset dari Kompas juga memperlihatkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sekitar 47,9 juta orang atau 17,6 persen dari total populasi Indonesia mengonsumsi gula melebihi standar harian yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia. Sehingga bisa dibilang satu dari enam orang Indonesia punya pola makan yang berisiko meningkatkan kemungkinan obesitas dan diabetes. Data semacam inilah yang perlahan mengubah pola pikir konsumen, khususnya generasi muda, terhadap pilihan minuman sehari-hari mereka. Menariknya, perubahan itu udah mulai kelihatan dalam angka nyata. Jakpat, lembaga riset pasar yang rutin melakukan survei terhadap perilaku Gen Z Indonesia, mencatat berdasarkan temuan terbaru mereka, mayoritas Gen Z sudah tidak lagi mengonsumsi minuman manis setiap hari, dengan hanya 3 persen yang masih minum minuman manis lebih dari tiga kali sehari dan 11 persen yang minum dua sampai tiga kali sehari. Sebagian besar responden sekarang berada di kategori konsumsi sedang sampai rendah. Laporan lengkap survei ini dirilis lewat riset bertajuk Gen Z Characteristics and Behaviors, dan survei tersebut melibatkan 1.155 responden Gen Z di Indonesia yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Mulai dari gaya hidup, kebiasaan konsumsi, kesehatan mental, pendidikan dan karier, sampai keuangan. Kamu bisa lihat laporan asli dari riset ini di situs insight.jakpat.net, jadi data yang dikutip di artikel ini bisa kamu telusuri sendiri kebenarannya. Pergeseran pola konsumsi gula ini juga kelihatan dari kebiasaan berolahraga dan pemilihan produk. Sebuah survei bertajuk Tren Makanan dan Minuman pada Gen Z dan Milenial mencatat sekitar 38 persen responden lebih menyukai makanan dengan kadar gula rendah, 19 persen memilih camilan sehat, dan 11 persen memilih makanan atau minuman yang bisa membantu menurunkan berat badan. Sebagian dokter dan ahli gizi juga menilai perubahan ini sebagai tanda bahwa generasi muda semakin sadar terhadap dampak konsumsi gula ke tubuh mereka, bukan cuma soal berat badan tapi juga soal kulit dan kesehatan jangka panjang. Meski begitu, kamu perlu paham kalau tren ini bukan berarti minuman manis sepenuhnya ditinggalkan. Teh manis dan kopi tetap jadi minuman favorit di kalangan Gen Z maupun milenial. Teh manis masih jadi minuman manis paling populer di kalangan Gen Z, dengan 63 persen responden pria dan 71 persen responden wanita mengonsumsinya secara rutin, disusul kopi manis di posisi kedua dengan rata-rata sekitar 53 persen. Selain itu, kopi menjadi minuman dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, dengan 67 persen Gen Z dan 74 persen milenial mengonsumsinya, disusul teh di posisi kedua dengan 65 persen Gen Z dan 75 persen milenial. Yang berubah bukan jenis minumannya, tapi level kemanisannya. Banyak konsumen tetap memilih teh atau kopi sebagai minuman harian, tapi minta porsi gula yang lebih sedikit, pakai pemanis alternatif, atau bahkan pesan versi tanpa gula sama sekali. Kalau kamu menjalankan usaha kedai kopi, minuman kekinian, atau katering makanan sehat, perubahan kecil semacam ini justru bisa jadi peluang besar kalau ditangkap dengan tepat, misalnya dengan menyediakan opsi pemanis rendah kalori atau default level gula yang lebih ringan. Tips Menjalankan Bisnis Makanan dan Minuman Sehat Biar bisnis kamu bisa bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin ramai, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. 1. Pahami Segmen Pasar dengan JelasKategori makanan sehat sangat beragam, mulai dari diet ketogenik, vegan, bebas gluten, hingga rendah gula. Karena itu, penting untuk menentukan target pasar sejak awal agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Misalnya, jika menyasar Gen Z yang mulai mengurangi konsumsi gula, sediakan pilihan less sugar atau no sugar sebagai menu standar. Langkah sederhana ini bisa meningkatkan kepuasan pelanggan karena mereka merasa produk benar-benar dibuat sesuai preferensi mereka. 2. Jaga Transparansi Bahan Baku dan Proses ProduksiKonsumen kini semakin peduli terhadap asal-usul bahan dan proses pembuatan makanan. Cantumkan informasi yang jelas mengenai kandungan nutrisi, bahan organik, atau sumber bahan baku yang digunakan. Label seperti tanpa

SELENGKAPNYA
Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Martabak Pecenongan 78 menjadi salah satu contoh usaha kuliner yang berhasil bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan di Indonesia. Di saat banyak warung makan atau restoran hanya ramai di awal lalu perlahan sepi hingga akhirnya tutup, Martabak Pecenongan 78 justru mampu terus berkembang selama puluhan tahun dan memiliki ratusan cabang. Perjalanan bisnis Martabak Pecenongan 78 tentu tidak selalu mulus. Pada masa-masa awal berdiri, usaha ini sempat mengalami berbagai tantangan dan jatuh bangun sebelum akhirnya dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Jakarta, bahkan di berbagai daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk strategi bisnis mereka hingga mampu bertahan selama 62 tahun. Terus, apa yang membuat Martabak Pecenongan 78 tetap eksis di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat? Awal Mula Martabak Pecenongan 78 Awalnya usaha ini cuma modal gerobak sederhana, tapi berhasil diterima masyarakat dari berbagai kalangan. Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner, usaha keluarga yang udah diwariskan turun temurun ini terus cari cara baru dan nggak berhenti di zona nyaman. Buktinya kelihatan jelas waktu pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Saat banyak usaha kuliner lain justru gulung tikar karena pembatasan sosial dan daya beli yang turun, Martabak Pecenongan 78 malah buka ratusan cabang baru. Kalau kamu pernah jalanin usaha kecil di masa pandemi, kamu pasti tahu betapa beratnya ambil keputusan buat ekspansi di tengah situasi yang serba nggak pasti kayak gitu. Kebanyakan pemilik usaha justru milih bertahan aman, kurangi stok, bahkan tutup sementara karena takut rugi lebih besar. Konsistensi Jadi Fondasi Usaha Martabak Pecenongan 78 Salah satu godaan terbesar buat pemilik usaha itu keinginan buat selalu ikutin tren yang lagi rame. Begitu ada satu jenis makanan viral di media sosial, banyak pengusaha kuliner yang langsung tergoda buat banting setir ikutin arah pasar yang lagi naik daun. Owner punya pandangan yang beda soal ini. Menurut dia, langkah kayak gitu bukan strategi yang tepat buat jaga usaha tetap bertahan dalam jangka panjang. Tren itu sifatnya cuma sementara, sedangkan konsistensi jadi faktor utama yang bikin sebuah usaha bisa bertahan sampai puluhan tahun. Pengalaman kayak gini mungkin kerasa familiar buat kamu yang pernah ngurus usaha makanan atau minuman kekinian. Ingat nggak waktu tren kopi kekinian lagi booming beberapa tahun lalu? Banyak pengusaha yang buru buru ganti konsep usahanya jadi kedai kopi, padahal sebelumnya jualan jenis makanan lain sama sekali. Sebagian dari mereka berhasil, tapi nggak sedikit juga yang akhirnya kehilangan ciri khas usahanya dan pelanggan setia karena kebanyakan gonta ganti arah. Pemilik usaha sebaiknya tetap konsisten sama produk yang mereka jual, sambil terus cari peluang di sekitar buat dikembangkan lebih jauh lagi. Martabak Pecenongan 78 sendiri dari awal berdiri sampai sekarang tetap fokus di menu martabak sebagai produk utamanya. Meski begitu, mereka tetap ikutin selera pasar dengan cara berinovasi di variasi menu, contohnya ngeluarin martabak Sultan yang ukurannya besar banget dengan tampilan lebih mewah. Selain dari sisi produk, mereka juga fleksibel dalam cara komunikasi ke target pasar mereka. Kalau dulu promosi cuma mengandalkan cerita dari mulut ke mulut antar pelanggan, sekarang mereka aktif kelola media sosial dan lebih mengutamakan layanan pesan online, salah satunya lewat kerja sama dengan airasia food. Pelajaran ini sebenarnya berlaku buat usaha apa pun yang lagi kamu jalanin, nggak terbatas di bisnis kuliner aja. Kalau kamu punya toko baju, usaha jasa, atau bahkan usaha rumahan kecil kecilan, konsistensi di produk inti sambil tetap terbuka sama cara pemasaran baru bisa jadi jalan tengah yang lebih aman dibanding ubah total arah bisnis setiap kali muncul tren baru. Jaga Kepercayaan Meski Usaha Makin Besar Tantangan lain yang sering dihadapi pemilik usaha adalah gimana caranya jaga kualitas ketika skala bisnis makin besar. Semakin banyak cabang yang dibuka, semakin besar juga risiko standar kualitas produknya mulai turun karena susah diawasin secara menyeluruh. Kalau kualitas udah nggak jadi prioritas utama, pelanggan pasti bakal kecewa, dan ujung ujungnya bikin performa bisnis secara keseluruhan ikut menurun. Kondisi kayak gini yang coba dihindari Rey (owner) sejak awal dia mulai ngurus usaha keluarga ini. Sebagai generasi penerus, dia selalu naruh kualitas di posisi paling penting demi jaga kepercayaan pelanggan. Harga martabak dari Pecenongan 78 memang lebih tinggi dibanding merek martabak lain di pasaran. Tapi Rey bilang, harga segitu sebanding sama kualitas rasa dan bahan baku yang dipakai. Dia juga mengaku, dalam situasi mendesak, misalnya waktu harga bahan baku lagi mahal mahalnya, godaan buat ganti bahan dengan kualitas lebih rendah demi tekan biaya produksi pasti ada. Tapi dia milih hindari langkah itu, karena buat dia kepercayaan pelanggan itu modal yang harus terus dijaga. Kamu yang pernah belanja di tempat langganan terus ngerasain kualitasnya menurun drastis, pasti paham betapa gampangnya kepercayaan itu hilang begitu ada penurunan mutu, walaupun cuma terjadi sekali doang. Banyak pelanggan yang langsung berhenti beli setelah satu kali dapet pengalaman kurang enak, meski sebelumnya udah jadi pelanggan setia bertahun tahun. Ini nunjukkin kalau jaga kualitas itu bukan cuma soal jaga rasa produk aja, tapi juga soal jaga hubungan jangka panjang sama orang yang udah percaya sama usaha kamu. Selain jaga kualitas produk, Martabak Pecenongan 78 juga bangun sistem buat nampung kritik dan masukan dari pelanggan secara serius. Mereka punya layanan call center yang siap tanggapi keluhan pelanggan soal produk mereka. Selama puluhan tahun beroperasi, komitmen ini terus dijaga supaya pelanggan selalu dapet pengalaman terbaik setiap kali beli produk mereka. Langkah seperti ini penting buat kamu pertimbangkan kalau lagi bangun usaha, soalnya pelanggan yang keluhannya ditanggapi dengan baik biasanya lebih loyal dibanding pelanggan yang ngerasa diabaikan setelah nyampein masalahnya. Kolaborasi Martabak Pecenongan 78 Strategi ketiga yang dibagikan Rey soal keterbukaan terhadap kolaborasi. Menurut dia, kolaborasi jadi salah satu cara buat perkuat posisi bisnis di tengah persaingan usaha kuliner yang makin ketat sekarang ini. Martabak Pecenongan 78 nggak cuma kerja sama sama sejumlah figur publik dan influencer buat pasarin produknya, tapi juga terbuka sama kerja sama dengan layanan pesan antar makanan online, salah satunya airasia food. Rey jelasin, nama besar AirAsia yang udah dikenal luas sama masyarakat Indonesia jadi salah satu pertimbangan penting buat Martabak Pecenongan 78 gabung sebagai mitra merchant. Menurut dia, selama empat bulan jadi mitra airasia food, bisnis Martabak Pecenongan 78 ngalamin peningkatan transaksi

SELENGKAPNYA
Everpro Connect 2026 Sukses Digelar, LegalMP Dukung Pengusaha sebagai Community Partner

Everpro Connect 2026 Digelar, LegalMP Dukung Pengusaha sebagai Community Partner

Everpro Connect 2026 menjadi ajang berkumpulnya para pengusaha, brand owner, seller, agency, hingga komunitas bisnis untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan. Di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis, banyak pelaku usaha menyadari bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau strategi pemasaran, tetapi juga oleh akses terhadap insight yang relevan serta kolaborasi dengan ekosistem bisnis yang tepat. Bagi banyak pemilik usaha, tantangan terbesar bukan sekadar mendapatkan pelanggan, melainkan menentukan arah pengembangan bisnis di tengah perubahan pasar yang cepat. Menjawab kebutuhan tersebut, Everpro Connect 2026 hadir sebagai forum bisnis digital yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor dalam satu wadah. Acara yang diselenggarakan pada Kamis, 30 Juli 2026 di The Trans Luxury Hotel, Bandung ini menghadirkan berbagai sesi inspiratif, mulai dari strategic keynote, tactical talks, business matching, hingga networking. Melalui rangkaian acara tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari strategi bisnis terkini, memperluas relasi, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat mendorong pertumbuhan usaha. Everpro Connect 2026 Penuh Antusiasme Sejak sesi pertama dimulai, ruang acara Everpro Connect 2026 dipenuhi peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang usaha yang beragam. Menurut catatan resmi penyelenggara, acara ini mempertemukan lebih dari delapan ratus seller, brand owner, agency, komunitas, dan mitra bisnis dalam satu ekosistem, seperti yang tercantum di everpro.id/connect. Angka ini menggambarkan skala forum yang cukup besar untuk event bisnis Bandung. Kalau kamu pernah datang ke event bisnis yang isinya cuma presentasi satu arah tanpa ruang diskusi, suasana di Everpro Connect 2026 mungkin terasa beda. Rangkaian acara disusun dalam beberapa bentuk sesi, mulai dari panel discussion, tactical talks, sampai business matching dan networking session yang mempertemukan peserta langsung dengan pelaku industri dan calon mitra usaha. Format ini memberi kesempatan bagi peserta untuk tidak cuma mendengarkan, tapi juga bertanya, berdiskusi, dan menindaklanjuti perkenalan yang terjadi selama acara berlangsung. Pengalaman bertemu langsung dengan pelaku usaha lain, tanpa perantara, sering jadi hal yang paling dicari peserta dalam event semacam ini. Sebab, banyak pengusaha merasa lebih mudah membangun kepercayaan ketika berdiskusi secara langsung dibandingkan hanya berkomunikasi lewat pesan singkat atau media sosial. Narasumber Inspiratif di Everpro Conncet 2026 Salah satu daya tarik Everpro Connect 2026 ada di deretan pembicara yang dihadirkan. Sesi keynote dibawakan oleh Prof. Dr. Rhenald Kasali, Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, yang membahas penguatan fondasi kolaborasi dalam ekosistem bisnis digital di tengah perubahan algoritma dan percepatan kecerdasan buatan. Selain itu, beberapa praktisi lain turut membagikan pengalaman dan pandangannya, di antaranya: a. David Alfa Sunarna – Praktisi Kecerdasan Buatan (AI) dan Founder Web Ekspor b. Deryansyah Azhary – Founder KasiSolusi c. Arief Firdiansyah – Praktisi Iklan Meta dan Content Creator d. Dodi Zulkifli – CEO Neyma Brand Consultant e. Dermy Sudarmono – Praktisi AI yang membawakan materi mengenai pengembangan infrastruktur Agentic AI Data soal posisi dan latar belakang masing-masing pembicara ini sudah dicocokkan kesesuaiannya dengan informasi resmi yang dipublikasikan pihak penyelenggara. Salah satu pengalaman yang sering dirasakan pengusaha adalah bingung menentukan langkah berikutnya setelah bisnis mencapai titik tertentu. Banyak yang berhasil membangun produk dan pelanggan awal, tapi mengalami kesulitan saat harus memperluas skala usaha atau menghadapi perubahan tren pasar. Forum seperti Everpro Connect 2026 memberi ruang bagi pengusaha untuk mendengar langsung bagaimana pelaku usaha lain menghadapi situasi serupa, sehingga wawasan yang didapat terasa lebih relevan dibandingkan sekadar membaca teori. Insight Bisnis dari Everpro Connect 2026 Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari Everpro Connect 2026 adalah bahwa jejaring bisnis merupakan aset yang bernilai besar dalam perjalanan sebuah usaha. Lewat relasi yang tepat, pelaku usaha bisa memperoleh peluang kerja sama, bertukar pengalaman dengan sesama pengusaha, dan menemukan solusi atas berbagai kendala yang dihadapi dalam menjalankan bisnisnya sehari-hari. Pengalaman ini mungkin terasa familiar buat kamu yang pernah merasa berjalan sendirian dalam mengelola usaha. Banyak pengusaha, terutama yang membangun bisnis dari nol tanpa latar belakang koneksi bisnis sebelumnya, merasa kesulitan menemukan tempat untuk bertanya ketika menghadapi masalah yang belum pernah dialami. Mengikuti event bisnis seperti Everpro Connect 2026 jadi salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sekaligus memperbarui wawasan agar bisa mengikuti perkembangan industri yang terus berubah. Selain soal jejaring, forum ini juga menegaskan bahwa kolaborasi jadi faktor penting dalam pertumbuhan usaha. Nggak semua tantangan bisnis bisa diselesaikan sendiri. Ada kalanya pelaku usaha butuh mitra dengan keahlian berbeda, baik dari sisi pemasaran, teknologi, maupun aspek legal, untuk mendorong bisnisnya berkembang lebih jauh. LegalMP Hadir sebagai Community Partner Di tengah rangkaian acara Everpro Connect 2026 inilah, Legal Menjadi Pengaruh atau LegalMP turut ambil bagian sebagai Community Partner. Kehadiran ini dimanfaatkan untuk bertemu langsung dengan business owner, founder, entrepreneur, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan bisnis lainnya yang hadir di acara tersebut. Kesempatan ini jadi bagian dari upaya memperluas jejaring, membangun relasi baru, dan membuka peluang kerja sama dengan pihak-pihak yang punya visi sejalan dalam mendukung perkembangan ekosistem usaha di Indonesia. Selama acara berlangsung, tim Legal Menjadi Pengaruh berkesempatan mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya. Kesimpulan Everpro Connect 2026 berhasil menjadi wadah bagi para pengusaha, brand owner, seller, agency, dan komunitas bisnis untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan. Melalui berbagai sesi inspiratif yang dibawakan oleh para praktisi industri, peserta memperoleh wawasan mengenai strategi bisnis, pemasaran digital, hingga pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung pertumbuhan usaha. Sebagai Community Partner, Legal Menjadi Pengaruh (LegalMP) turut mendukung terselenggaranya acara ini sekaligus berkesempatan membangun kolaborasi dengan lebih banyak pelaku usaha dari berbagai daerah. Partisipasi ini sejalan dengan komitmen LegalMP dalam mendukung pengusaha Indonesia melalui edukasi dan pendampingan legalitas usaha.

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Coba deh kamu inget-inget, kapan terakhir kali kamu beli minuman teh kemasan di minimarket? Besar kemungkinan salah satu pilihan yang kepikiran di kepala kamu adalah Teh Pucuk Harum. Bukan kebetulan lho kalau merek ini selalu ada di rak paling depan, selalu nongol di iklan TV, dan tagline-nya bahkan bisa kamu nyanyikan tanpa sadar. Semua itu bukan hasil keberuntungan, tapi buah dari strategi marketing yang dirancang dengan sangat matang. Buat kamu yang penasaran gimana caranya satu merek teh siap minum bisa bertahan dan terus jadi favorit di tengah persaingan ketat sama Teh Botol Sosro, Frestea, dan puluhan merek lain, artikel ini bakal bongkar tuntas rahasianya. Menariknya lagi, pelajaran dari kesuksesan Teh Pucuk Harum ini sebenarnya bisa banget kamu contek buat strategi bisnis umkm yang sedang kamu jalankan atau rencanakan, karena prinsip dasarnya sama aja, cuma skalanya yang beda. Kenalan Dulu Sama Teh Pucuk Harum Teh Pucuk Harum adalah minuman teh siap minum rasa melati yang diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan dari grup Mayora Indah. Produk ini dibuat dari pucuk daun teh pilihan yang diolah pakai teknologi Advanced Sterilizing Technology atau AST, sebuah metode sterilisasi modern yang bikin rasa dan kesegaran teh tetap terjaga tanpa harus pakai bahan pengawet berlebihan. Sejak diluncurkan, Teh Pucuk Harum langsung tancap gas masuk ke pasar teh siap minum yang sebenarnya udah cukup padat pemainnya. Tapi uniknya, merek ini nggak cuma sekadar numpang lewat, malah berhasil jadi salah satu pemain utama. Nah, di sinilah letak menariknya, karena kesuksesan itu nggak lepas dari cara mereka membangun merek dari berbagai sisi sekaligus, mulai dari suara, harga, sampai cerita yang mereka tanamkan ke benak konsumen. Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Sebelum kita bedah satu-satu strategi Teh Pucuk Harum, penting buat paham dulu kenapa strategi marketing itu krusial. Menurut pemikiran Philip Kotler dan Kevin Lane Keller yang tertuang dalam buku Marketing Management, buat bisa unggul di persaingan pasar, perusahaan wajib punya strategi yang jelas soal segmentasi, targeting, dan positioning, atau yang sering disingkat STP. Segmentasi artinya membagi pasar jadi kelompok-kelompok konsumen dengan karakteristik yang mirip. Targeting berarti memilih kelompok mana yang paling potensial buat digarap. Sementara positioning adalah usaha membangun citra khusus di benak konsumen supaya merek kamu langsung kepikiran duluan dibanding kompetitor. Nah, teori ini bukan cuma teori kosong ya, karena kalau kamu perhatikan baik-baik, setiap langkah yang diambil Teh Pucuk Harum ternyata selaras banget sama konsep STP ini. Mereka nggak asal bikin iklan atau nurunin harga, tapi semuanya terukur dan punya tujuan jelas buat menempel di ingatan konsumen. Ini juga jadi pelajaran penting buat siapa pun yang lagi merancang strategi bisnis umkm, karena tanpa arah yang jelas soal siapa target pasar kamu, promosi sebagus apa pun bakal terasa sia-sia. 1. Suara Jadi Identitas Teh Pucuk Harum Salah satu hal yang paling kepikiran dari Teh Pucuk Harum adalah jingle-nya yang ceria dan gampang banget diingat. Coba deh, hampir semua orang yang sering nonton TV pasti bisa nyenandungin nada khasnya. Ini adalah bagian dari strategi audio branding yang sengaja dirancang buat memperkuat citra merek lewat indra pendengaran. Selain jingle, mereka juga memanfaatkan suara-suara alami seperti gemericik air dan kicauan burung di beberapa materi promosinya. Suara-suara ini dipilih bukan asal-asalan, tapi buat menegaskan kesan segar dan alami yang jadi nilai jual utama produk mereka. Pakar branding Martin Lindstrom pernah menekankan bahwa suara punya kekuatan besar dalam membentuk ingatan konsumen terhadap sebuah merek, bahkan kadang lebih kuat dibanding elemen visual sekalipun, karena suara punya sifat yang lebih sulit diabaikan otak manusia dibanding gambar yang bisa kita hindari dengan mudah. Dengan strategi audio yang konsisten kayak gini, Teh Pucuk Harum berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai sonic branding, yaitu identitas suara yang khas sehingga begitu kamu dengar jingle-nya, otak kamu langsung otomatis mengasosiasikannya sama produk ini. Buat pelaku strategi bisnis umkm, ini bisa jadi inspirasi sederhana, misalnya bikin jingle pendek atau suara khas yang gampang diingat pelanggan, meskipun modalnya nggak sebesar produksi iklan TV nasional. 2. Harga yang Bersaing Kalau kamu perhatikan, harga Teh Pucuk Harum di pasaran cenderung kompetitif dibanding merek sejenis. Bukan berarti mereka asal jual murah, tapi ini adalah bagian dari strategi harga penetrasi yang memang sengaja diterapkan buat menarik konsumen sebanyak mungkin sekaligus memperluas pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat. Strategi ini sebenarnya bagian dari konsep bauran pemasaran yang lebih luas, yang dalam dunia marketing modern sering dikenal dengan istilah 7P, yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence. Dari sisi produk, Teh Pucuk Harum hadir dalam berbagai ukuran kemasan supaya konsumen bisa milih sesuai kebutuhan, entah buat langsung diminum atau buat stok di rumah. Dari sisi harga, mereka pilih jalur yang bersaing biar konsumen nggak mikir dua kali buat beli. Sementara dari sisi distribusi, produk ini bisa kamu temuin di mana-mana, mulai dari warung kecil, minimarket, supermarket, pasar tradisional, sampai aplikasi layanan antar makanan dan minuman. Yang menarik, pendekatan distribusi yang luas dan merata ini sebenarnya jadi salah satu kunci kenapa produk bisa terus diingat konsumen. Soalnya, sebagus apa pun sebuah merek, kalau susah dicari saat konsumen butuh, ya percuma juga. Ini poin penting yang sering kelewat dalam strategi bisnis umkm, di mana banyak usaha kecil fokus habis-habisan di promosi tapi lupa memastikan produknya gampang diakses calon pembeli. 3. Tagline Sederhana dan Maskot yang Bikin Gemes “Pucuk-Pucuk-Pucuk.” Kalau kamu baca kalimat itu, kemungkinan besar kamu langsung kebayang jingle-nya kan? Nah, itulah kekuatan dari tagline sederhana yang diulang-ulang. Pengulangan kata yang simpel kayak gini ternyata efektif banget buat menempel di ingatan orang, apalagi kalau dipadukan sama maskot ulat yang lucu dan gampang dikenali secara visual. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan gagasan tentang ekuitas merek atau brand equity yang dipopulerkan oleh David Aaker, seorang pemikir branding ternama. Menurutnya, kesadaran merek atau brand awareness adalah salah satu fondasi utama dari kekuatan sebuah merek, dan salah satu cara paling efektif buat membangun kesadaran itu adalah lewat pengulangan pesan yang konsisten dan mudah dikenali, baik dari sisi bahasa maupun visual. Semakin sering dan semakin sederhana pesan itu diulang, semakin besar peluangnya buat nyangkut di kepala konsumen tanpa mereka sadari. Kombinasi tagline yang catchy dan maskot yang menggemaskan

SELENGKAPNYA