Daftar Isi

5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

Pernah nggak tiba-tiba kamu nge-scroll TikTok atau Instagram, trus tiba-tiba kepikiran beli nugget atau sosis padahal tadinya nggak ada niatan sama sekali? Kalau pernah, kamu mungkin nggak sadar lagi kena “jebakan” marketing yang sudah dirancang cukup rapi oleh Kanzler.

Sebagai orang yang masuk kategori Gen Z, jujur saja ada momen di mana kamu sadar bahwa keputusan beli yang kamu pikir murni dari diri sendiri ternyata sangat dipengaruhi oleh cara sebuah brand menyusun kampanyenya. Dan Kanzler, brand frozen food yang produknya mungkin sudah ada di freezer rumahmu sejak lama, adalah salah satu contoh yang menarik untuk dibahas.

Artikel ini bukan sekadar daftar strategi marketing dari sudut pandang tim kreatif atau brand manager. Ini lebih ke pembahasan tentang kenapa kamu sebagai Gen Z bisa mudah terpengaruh, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap langkah pemasaran yang Kanzler ambil. Karena memahami cara kerja strategi ini justru bisa membuat kamu lebih kritis sebagai konsumen.

Kenali Siapa Gen Z Sebagai Konsumen

Gen Z adalah generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga 2012. Generasi ini tumbuh besar bersamaan dengan munculnya media sosial, ponsel pintar, dan konten digital yang mengalir tanpa henti. Karena itulah, Gen Z punya hubungan yang berbeda dengan iklan dibandingkan generasi sebelumnya.

Gen Z cenderung skeptis terhadap iklan yang terasa terlalu “jual-jualan”. Mereka lebih merespons konten yang terasa organik, relevan, dan datang dari sosok yang mereka percaya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (2025) menemukan bahwa influencer marketing secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian pada produk Kanzler di platform TikTok, dan yang menarik, viral marketing memberikan dampak yang bahkan lebih besar dari sekadar kehadiran influencer itu sendiri.

Artinya, bukan cuma siapa yang bicara tentang produknya, tapi seberapa jauh pembicaraan itu menyebar yang benar-benar menggerakkan perilaku beli Gen Z.

Dengan memahami ini, sekarang mari kita bedah satu per satu strategi marketing Kanzler dan coba lihat dari sudut pandangmu sebagai konsumen yang ada di tengah-tengah kampanye tersebut.

1. Kanzler Tahu Kapan Kamu Paling Mudah Tergoda

Salah satu hal yang paling sering tidak disadari konsumen adalah bahwa timing sebuah iklan bukan kebetulan. Kanzler adalah salah satu brand yang sangat sadar soal ini.

Contoh paling nyata adalah ketika mereka aktif mempromosikan produk seperti Kanzler Crispy Chicken Nugget tepat pada bulan Ramadan. Coba ingat-ingat: di bulan Ramadan, hampir semua orang sedang dalam mode mencari inspirasi menu berbuka.

Kamu mungkin sedang lapar seharian, scroll konten masak-memasak sambil nunggu adzan, dan tiba-tiba muncul konten yang memperlihatkan nugget renyah yang bisa matang dalam hitungan menit. Hasilnya? Kamu langsung kepikiran untuk membelinya.

Baca juga  Strategi Marketing IKEA di Industri Furniture

Inilah yang disebut moment marketing, yaitu strategi yang memanfaatkan momen atau situasi tertentu di mana konsumen sedang berada pada kondisi paling “siap” untuk menerima pesan sebuah produk. Kanzler tidak asal pasang iklan; mereka muncul tepat ketika kebutuhanmu sedang paling tinggi dan pikiranmu sedang paling terbuka.

Dari sudut pandang konsumen, ini cukup efektif karena kamu tidak merasa sedang “dijuali”. Kamu malah merasa terbantu karena produknya relevan dengan situasimu saat itu.

2. Nicholas Saputra Bukan Sekadar Wajah di Poster

Kalau kamu ditanya siapa brand ambassador Kanzler, jawabannya sudah pasti Nicholas Saputra. Tapi coba pikir lebih dalam: kenapa harus dia?

Nicholas Saputra adalah aktor yang citra publiknya sangat konsisten selama bertahun-tahun, yaitu tenang, autentik, tidak lebay, dan tidak terkesan “artis banget”. Bagi Gen Z yang sudah capek dengan konten yang terlalu dipaksakan atau terasa palsu, sosok seperti Nicholas Saputra justru terasa lebih bisa dipercaya.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Anggaran: Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi (2024) menganalisis iklan nugget Kanzler versi Nicholas Saputra di Instagram dan menyimpulkan bahwa kombinasi daya tarik visual yang kuat, penyampaian pesan yang efektif, dan kehadiran aktor tersebut berhasil membangun hubungan yang terasa dekat antara brand dan konsumen.

Artinya, bukan semata-mata karena Nicholas Saputra terkenal, melainkan karena citra yang dia bawa selaras dengan apa yang ingin dikomunikasikan Kanzler: produk yang berkualitas, tidak berlebihan, dan cocok untuk kehidupan sehari-hari.

Dari posisi konsumen, ini bekerja dengan cara yang cukup halus. Kamu tidak merasa sedang dirayu oleh selebriti yang terlalu “bintang”.

Kamu justru merasa seperti mendapat rekomendasi dari seseorang yang cukup kamu percaya. Dan kepercayaan itu yang akhirnya mendorong keputusan beli, bahkan tanpa kamu sadari secara penuh.

3. Influencer untuk Kenzler Gak Cuma Satu

Coba perhatikan seberapa sering kamu melihat konten tentang Kanzler dari berbagai akun yang berbeda dalam waktu yang berdekatan. Hari ini dari food blogger, besoknya dari content creator parenting, lusanya dari akun lifestyle. Kamu mulai berpikir, “Ini produk kenapa ramai banget sih dibicarain?”

Itulah efek yang ingin diciptakan oleh strategi kolaborasi dengan banyak influencer secara bersamaan. Kanzler tidak hanya mengandalkan satu wajah seperti Nicholas Saputra, tetapi juga menjalin kerja sama dengan berbagai influencer dari segmen yang berbeda-beda.

Hasilnya, produk mereka muncul di berbagai “dunia” sekaligus, mulai dari dunia kuliner, dunia parenting, sampai dunia gaya hidup anak muda.

Baca juga  Marketing Aldi Taher: Cara Jualan Burger yang Absurd tapi Bikin Viral

Dari sudut pandang psikologi konsumen, ketika kamu melihat banyak orang yang berbeda-beda membicarakan hal yang sama, otak kamu mulai membangun kesan bahwa produk itu memang sedang relevan dan banyak dibutuhkan.

Inilah yang memicu FOMO: rasa takut ketinggalan sesuatu yang terasa sedang “happening”. Kamu bukan lagi memilih produk berdasarkan kebutuhan murni, melainkan karena tidak ingin jadi satu-satunya orang yang belum mencobanya.

Phillip Kotler dan Gary Armstrong dalam Principles of Marketing (2017) menjelaskan bahwa keputusan pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan referensi kelompok. Ketika banyak orang di sekitar kamu, atau yang kamu ikuti di media sosial, membicarakan satu produk, tekanan sosial itu secara tidak langsung mendorong kamu menuju keputusan yang sama.

4. Iklan Kanzler Ada di Mana-mana

Pernahkah kamu perhatikan bahwa Kanzler tidak hanya beriklan di satu tempat? Selain hadir di televisi, mereka juga muncul di billboard pinggir jalan, videotron di pusat perbelanjaan, hingga di bodi kendaraan umum seperti TransJakarta dan MRT.

Dari sudut pandang konsumen biasa, ini mungkin terasa biasa saja. Tapi dari sudut pandang psikologi pemasaran, ini adalah strategi yang disebut multi-channel presence atau kehadiran lintas saluran.

Tujuannya bukan agar satu iklan mengubah pikiranmu seketika, melainkan agar brand itu tertanam secara perlahan di ingatanmu melalui paparan berulang di berbagai konteks yang berbeda.

Ketika kamu naik TransJakarta sambil bosan di perjalanan dan melihat iklan Kanzler, lalu malamnya kamu nonton TV dan muncul lagi, lalu besoknya lewat billboard di jalan, tanpa sadar nama Kanzler sudah cukup dalam tersimpan di memori jangka pendekmu. Dan ketika kamu berdiri di depan rak freezer supermarket, nama itu yang paling pertama muncul di kepalamu.

Dalam pemasaran, fenomena ini dikenal sebagai mere exposure effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk menyukai sesuatu hanya karena mereka sering terpapar olehnya. Kanzler memanfaatkan ini dengan cerdas melalui kombinasi media yang menjangkau kamu di berbagai titik perjalanan sehari-hari.

5. Kamu Ikut Menyebarkan Iklannya Tanpa Sadar

Ini mungkin yang paling menarik dari seluruh strategi Kanzler: kamu, sebagai konsumen, tanpa sadar ikut bekerja sebagai “pemasar” mereka.

Begini cara kerjanya. Kanzler merancang konten dan kampanye yang secara emosional cukup kuat untuk mendorong orang berbagi. Iklan yang menampilkan Nicholas Saputra misalnya, bukan cuma membuat orang terkesan dengan produknya, tapi juga memicu percakapan. “Eh, kamu tau nggak Nicholas Saputra jadi brand ambassador Kanzler?” Percakapan itu, baik terjadi secara langsung maupun di kolom komentar atau story Instagram, adalah bentuk word of mouth yang nilainya jauh lebih tinggi dari iklan berbayar mana pun.

Baca juga  Kenapa Indomaret dan Alfamart Berdekatan? Alasannya Marketing

Dari sudut pandang marketing, word of mouth yang terjadi secara organik jauh lebih efektif karena pesan datang dari orang yang kamu percaya, bukan dari brand itu sendiri. Ketika temanmu yang tidak dibayar oleh Kanzler bilang “nugget ini enak lho, coba deh”, kamu jauh lebih mungkin percaya dibandingkan melihat klaim yang sama di baliho.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi (2024) menegaskan bahwa iklan Kanzler versi Nicholas Saputra berhasil menciptakan daya tarik visual yang kuat dan membangun koneksi emosional dengan konsumen. Koneksi emosional itulah yang mendorong orang untuk secara sukarela menyebarkan konten, menceritakan produknya ke orang lain, dan pada akhirnya menghadirkan efek FOMO yang meluas.

Pelajaran untuk Pengusaha

Setelah memahami lima strategi di atas dari sudut pandang konsumen, ada satu pertanyaan yang layak kamu renungkan: apakah kamu membeli Kanzler karena memang butuh dan suka produknya, atau karena strategi pemasarannya berhasil membentuk persepsi bahwa kamu “harus” mencobanya?

Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Tapi memahami cara kerja strategi marketing ini setidaknya membuat kamu lebih sadar sebagai konsumen. Kamu bisa tetap menikmati produk yang kamu suka sambil juga mengenali mekanisme di balik keputusan pembelian yang kamu buat.

Yang jelas, Kanzler berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah: membuat brand frozen food yang sebelumnya terasa biasa menjadi sesuatu yang terasa relevan, kekinian, dan layak untuk dibicarakan. Dan dari sisi ilmu pemasaran, itu adalah pencapaian yang cukup solid.

Referensi

  • Dinasti International Journal of Education Management and Social Science. (2025). The Role of Influencer Marketing and Viral Marketing in Purchase Decisions for Kanzler Products on the TikTok Platform. Diakses dari https://dinastipub.org/DIJEMSS/article/view/3967
  • Jurnal Anggaran: Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi. (2024). Analisis Wacana Multimodal Pada Gambar Iklan Nugget Kanzler Versi Nicholas Saputra Di Instagram. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/383719275
  • Nazilah, et al. (2024). Pengaruh Penggunaan Brand Ambassador Nicholas Saputra Terhadap Citra Brand Kanzler (Survei Pada Followers Akun Instagram @Nicholassaputra). Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/385507767
  • Kotler, P., & Armstrong, G. (2017). Principles of Marketing. New Jersey: Pearson Education.
  • Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2011). Two hearts in three-quarter time: How to waltz the social media/viral marketing dance. Business Horizons, 54(3), 253–263.
  • Gogali, V. A., Andriana, D., & Tsabit, M. Penggunaan KOLs Sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran Kanzler Di TikTok. Universitas (dalam proses publikasi).
  • Prisma Advertising. (2023). Strategi Sukses Kampanye Kanzler. CNN Indonesia Ekonomi. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20230329113012-97-930728

Daftar Isi