Category: Bedah Usaha

Menampilkan semua artikel pada kategori yang disesuaikan

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Belakangan ini, persaingan Indomie dan Mie Gaga kembali ramai dibicarakan. Bukan cuma soal mana yang lebih enak, tetapi juga karena banyak warganet mulai membandingkan keduanya dari rasa, harga, varian, hingga sejarah di balik mereknya. Namun, kalau dilihat lebih jauh, persaingan ini sebenarnya menarik dari sisi strategi bisnis. Indomie tumbuh sebagai bagian dari ekosistem bisnis Indofood yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, produksi, hingga distribusi. Indofood bahkan menyebut model bisnisnya sebagai Total Food Solutions, dengan skala dan jaringan distribusi yang menjadi salah satu kekuatannya. Di sisi lain, Mie Gaga berada di bawah PT Jakarana Tama, perusahaan yang telah berdiri sejak 1980 dan tidak hanya bermain di mi instan, tetapi juga produk makanan kaleng, sosis siap makan, serta bumbu. Perusahaan ini juga mengembangkan berbagai merek untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda. Artinya, persaingan keduanya bukan sekadar “Indomie vs Gaga, siapa yang rasanya lebih enak?” Ada strategi tentang membangun merek, membaca selera pasar, memperluas varian produk, membangun distribusi, hingga memanfaatkan momentum ketika sebuah produk menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Lalu, bagaimana sebenarnya para founder ini pecah kongsi hingga menghasilkan brand mie yang saling jadi kompetitor? Yuk, kita bahas! Awal Mula Indomie Cikal bakal Indomie bermula dari PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang berdiri pada April 1970 sebagai anak usaha Djangkar Djati Group. Perusahaan ini didirikan oleh Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yaitu Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Merek Indomie sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 1972, menjadikannya produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia setelah Supermi, yang lebih dulu dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis. Produk pertama yang diperkenalkan Indomie ke publik adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, rasa yang saat itu memang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie, yang menandakan produk ini memang dirancang untuk pasar lokal sejak awal berdiri. Kelahiran Indomie juga berkaitan dengan kondisi pangan nasional saat itu. Penciptaan Indomie dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras yang terjadi di Indonesia pada masa itu, sehingga mi instan hadir sebagai salah satu alternatif pangan yang lebih mudah diproduksi secara massal. Sarimi dan Strategi Agresif Salim Group Situasi mulai berubah pada awal 1980-an, ketika Salim Group yang dipimpin Liem Sioe Liong, atau yang dikenal dengan nama Sudono Salim, memutuskan masuk ke bisnis mi instan lewat merek Sarimi yang diproduksi melalui PT Sarimi Asli Jaya. Menurut penelusuran Historia.id yang mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, dua peneliti yang secara khusus menulis riwayat bisnis Salim Group, langkah Salim masuk ke industri mi didorong oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang ingin mengurangi ketergantungan pada beras impor. Pada 1978 saja, pemerintah Indonesia tercatat menghabiskan sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat hanya untuk mengimpor beras, dan sebagian gaji pegawai negeri serta tentara pada masa itu masih dibayarkan dalam bentuk beras. Momentum ini semakin kuat karena Salim Group sudah lebih dulu memiliki Bogasari, pabrik penggilingan gandum yang menurut situs resmi Indofood mulai diintegrasikan ke dalam bisnis grup pada pertengahan 1990-an, meski operasional awalnya sudah berjalan sejak 1971. Dengan bahan baku tepung yang sudah dikuasai sendiri, Salim Group punya modal besar untuk terjun ke industri hilir mi instan. Ketika Sarimi diluncurkan, Salim Group menggarap pasar dengan sangat agresif. Salim Group menyediakan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk memasarkan Sarimi dan memasang harga jual di bawah Indomie maupun Supermi. Hasilnya, dalam waktu setahun saja Sarimi berhasil menguasai sekitar 40 persen pasar mi instan nasional. Data pangsa pasar 40 persen ini juga dikutip secara konsisten oleh Tempo dan beberapa media lain yang menelusuri arsip sejarah industri mi instan, sehingga bisa dianggap sebagai angka yang cukup teruji lewat berbagai sumber independen. PT Indofood Interna: Titik Temu Djajadi Djaja dan Salim Group Salim Group sempat mengajak Djajadi untuk bekerja sama, tapi tawaran ini awalnya ditolak. Setelah penolakan itu, Salim semakin gencar memasarkan Sarimi hingga pangsa pasarnya melonjak tajam, dan tekanan ini yang akhirnya membuat Djajadi mempertimbangkan kembali sikapnya. Namun pada 1984, keduanya resmi membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dalam pembagian sahamnya, Djajadi dan rekan-rekannya memegang 57,5 persen saham, sementara Salim Group memegang 42,5 persen saham. Posisi CEO di perusahaan gabungan ini pun masih dipercayakan kepada orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli, sesuai catatan yang dihimpun Serayunews dari berbagai sumber sejarah bisnis. Akuisisi Supermi dan Dominasi Salim di Industri Mi Instan Bergabungnya Indomie dan Sarimi dalam satu perusahaan membuat posisi mereka di pasar semakin kuat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah bergabung, usaha patungan ini sudah cukup kuat untuk mengakuisisi merek terkenal lainnya, yaitu Supermi, yang pada 1986 diambil alih setelah perusahaannya mengalami masalah internal dan produksinya menurun. Fakta akuisisi Supermi pada 1986 ini juga tercatat dalam ensiklopedia bisnis Universitas STEKOM Semarang yang menyusun linimasa resmi perjalanan Indofood berdasarkan dokumen korporat, sehingga memperkuat validitas tanggal tersebut. Dampak dari penguasaan pasar ini cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun Historia.id, pada 1994, tahun ketika Indofood resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia, Salim Group menguasai hampir 80 persen pasar mi instan nasional, dengan rincian Indomie menguasai 60,3 persen, Supermi 7,8 persen, Sarimi 6,7 persen, dan sisanya sekitar 4 persen dikuasai merek lain. Pada tahun yang sama, Indofood bahkan tercatat sebagai produsen mi instan terbesar di dunia, melampaui Nissin Food Products, perusahaan asal Jepang yang menjadi pelopor mi instan secara global sejak 1958. Awal Konflik Perusahaan Mie Indonesia Kesuksesan besar yang diraih PT Indofood Interna ternyata tidak berjalan mulus bagi Djajadi dalam jangka panjang. Pada 1993, Djajadi menghadapi kesulitan finansial yang cukup serius, dan kondisi ini menjadi celah bagi Salim Group untuk mengambil alih seluruh kepemilikan dan kendali perusahaan. Proses pergeseran kendali dari Djajadi ke Salim Group ini sebenarnya berlangsung bertahap, dengan sejumlah sumber sejarah bisnis mencatat bahwa penguasaan penuh oleh Salim Group terjadi antara 1992 hingga 1993. Djajadi tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, dan bagian inilah yang justru punya jejak dokumen paling kuat secara hukum. Pada 1999, Djajadi melayangkan gugatan kepada PT Indofood Sukses Makmur dan empat mantan pejabatnya terkait pembelian merek dagang yang dilakukan perusahaan tersebut pada pertengahan 1980-an. Yang membuat informasi ini cukup kredibel untuk dijadikan rujukan, CNBC Indonesia secara

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Coba deh kamu inget-inget, kapan terakhir kali kamu beli minuman teh kemasan di minimarket? Besar kemungkinan salah satu pilihan yang kepikiran di kepala kamu adalah Teh Pucuk Harum. Bukan kebetulan lho kalau merek ini selalu ada di rak paling depan, selalu nongol di iklan TV, dan tagline-nya bahkan bisa kamu nyanyikan tanpa sadar. Semua itu bukan hasil keberuntungan, tapi buah dari strategi marketing yang dirancang dengan sangat matang. Buat kamu yang penasaran gimana caranya satu merek teh siap minum bisa bertahan dan terus jadi favorit di tengah persaingan ketat sama Teh Botol Sosro, Frestea, dan puluhan merek lain, artikel ini bakal bongkar tuntas rahasianya. Menariknya lagi, pelajaran dari kesuksesan Teh Pucuk Harum ini sebenarnya bisa banget kamu contek buat strategi bisnis umkm yang sedang kamu jalankan atau rencanakan, karena prinsip dasarnya sama aja, cuma skalanya yang beda. Kenalan Dulu Sama Teh Pucuk Harum Teh Pucuk Harum adalah minuman teh siap minum rasa melati yang diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan dari grup Mayora Indah. Produk ini dibuat dari pucuk daun teh pilihan yang diolah pakai teknologi Advanced Sterilizing Technology atau AST, sebuah metode sterilisasi modern yang bikin rasa dan kesegaran teh tetap terjaga tanpa harus pakai bahan pengawet berlebihan. Sejak diluncurkan, Teh Pucuk Harum langsung tancap gas masuk ke pasar teh siap minum yang sebenarnya udah cukup padat pemainnya. Tapi uniknya, merek ini nggak cuma sekadar numpang lewat, malah berhasil jadi salah satu pemain utama. Nah, di sinilah letak menariknya, karena kesuksesan itu nggak lepas dari cara mereka membangun merek dari berbagai sisi sekaligus, mulai dari suara, harga, sampai cerita yang mereka tanamkan ke benak konsumen. Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Sebelum kita bedah satu-satu strategi Teh Pucuk Harum, penting buat paham dulu kenapa strategi marketing itu krusial. Menurut pemikiran Philip Kotler dan Kevin Lane Keller yang tertuang dalam buku Marketing Management, buat bisa unggul di persaingan pasar, perusahaan wajib punya strategi yang jelas soal segmentasi, targeting, dan positioning, atau yang sering disingkat STP. Segmentasi artinya membagi pasar jadi kelompok-kelompok konsumen dengan karakteristik yang mirip. Targeting berarti memilih kelompok mana yang paling potensial buat digarap. Sementara positioning adalah usaha membangun citra khusus di benak konsumen supaya merek kamu langsung kepikiran duluan dibanding kompetitor. Nah, teori ini bukan cuma teori kosong ya, karena kalau kamu perhatikan baik-baik, setiap langkah yang diambil Teh Pucuk Harum ternyata selaras banget sama konsep STP ini. Mereka nggak asal bikin iklan atau nurunin harga, tapi semuanya terukur dan punya tujuan jelas buat menempel di ingatan konsumen. Ini juga jadi pelajaran penting buat siapa pun yang lagi merancang strategi bisnis umkm, karena tanpa arah yang jelas soal siapa target pasar kamu, promosi sebagus apa pun bakal terasa sia-sia. 1. Suara Jadi Identitas Teh Pucuk Harum Salah satu hal yang paling kepikiran dari Teh Pucuk Harum adalah jingle-nya yang ceria dan gampang banget diingat. Coba deh, hampir semua orang yang sering nonton TV pasti bisa nyenandungin nada khasnya. Ini adalah bagian dari strategi audio branding yang sengaja dirancang buat memperkuat citra merek lewat indra pendengaran. Selain jingle, mereka juga memanfaatkan suara-suara alami seperti gemericik air dan kicauan burung di beberapa materi promosinya. Suara-suara ini dipilih bukan asal-asalan, tapi buat menegaskan kesan segar dan alami yang jadi nilai jual utama produk mereka. Pakar branding Martin Lindstrom pernah menekankan bahwa suara punya kekuatan besar dalam membentuk ingatan konsumen terhadap sebuah merek, bahkan kadang lebih kuat dibanding elemen visual sekalipun, karena suara punya sifat yang lebih sulit diabaikan otak manusia dibanding gambar yang bisa kita hindari dengan mudah. Dengan strategi audio yang konsisten kayak gini, Teh Pucuk Harum berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai sonic branding, yaitu identitas suara yang khas sehingga begitu kamu dengar jingle-nya, otak kamu langsung otomatis mengasosiasikannya sama produk ini. Buat pelaku strategi bisnis umkm, ini bisa jadi inspirasi sederhana, misalnya bikin jingle pendek atau suara khas yang gampang diingat pelanggan, meskipun modalnya nggak sebesar produksi iklan TV nasional. 2. Harga yang Bersaing Kalau kamu perhatikan, harga Teh Pucuk Harum di pasaran cenderung kompetitif dibanding merek sejenis. Bukan berarti mereka asal jual murah, tapi ini adalah bagian dari strategi harga penetrasi yang memang sengaja diterapkan buat menarik konsumen sebanyak mungkin sekaligus memperluas pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat. Strategi ini sebenarnya bagian dari konsep bauran pemasaran yang lebih luas, yang dalam dunia marketing modern sering dikenal dengan istilah 7P, yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence. Dari sisi produk, Teh Pucuk Harum hadir dalam berbagai ukuran kemasan supaya konsumen bisa milih sesuai kebutuhan, entah buat langsung diminum atau buat stok di rumah. Dari sisi harga, mereka pilih jalur yang bersaing biar konsumen nggak mikir dua kali buat beli. Sementara dari sisi distribusi, produk ini bisa kamu temuin di mana-mana, mulai dari warung kecil, minimarket, supermarket, pasar tradisional, sampai aplikasi layanan antar makanan dan minuman. Yang menarik, pendekatan distribusi yang luas dan merata ini sebenarnya jadi salah satu kunci kenapa produk bisa terus diingat konsumen. Soalnya, sebagus apa pun sebuah merek, kalau susah dicari saat konsumen butuh, ya percuma juga. Ini poin penting yang sering kelewat dalam strategi bisnis umkm, di mana banyak usaha kecil fokus habis-habisan di promosi tapi lupa memastikan produknya gampang diakses calon pembeli. 3. Tagline Sederhana dan Maskot yang Bikin Gemes “Pucuk-Pucuk-Pucuk.” Kalau kamu baca kalimat itu, kemungkinan besar kamu langsung kebayang jingle-nya kan? Nah, itulah kekuatan dari tagline sederhana yang diulang-ulang. Pengulangan kata yang simpel kayak gini ternyata efektif banget buat menempel di ingatan orang, apalagi kalau dipadukan sama maskot ulat yang lucu dan gampang dikenali secara visual. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan gagasan tentang ekuitas merek atau brand equity yang dipopulerkan oleh David Aaker, seorang pemikir branding ternama. Menurutnya, kesadaran merek atau brand awareness adalah salah satu fondasi utama dari kekuatan sebuah merek, dan salah satu cara paling efektif buat membangun kesadaran itu adalah lewat pengulangan pesan yang konsisten dan mudah dikenali, baik dari sisi bahasa maupun visual. Semakin sering dan semakin sederhana pesan itu diulang, semakin besar peluangnya buat nyangkut di kepala konsumen tanpa mereka sadari. Kombinasi tagline yang catchy dan maskot yang menggemaskan

SELENGKAPNYA
Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Kalau kamu membuka Instagram atau TikTok belakangan ini, mungkin kamu sempat melihat unggahan tentang asinan buah dengan harga sekitar Rp600.000 per toples. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah kaget, lalu penasaran. “Masa asinan harganya segitu?” Dari situ, banyak orang akhirnya membuka kolom komentar, mencari tahu isi produknya, atau bahkan ikut membahasnya. Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam psikologi konsumen, ada berbagai faktor yang membuat sesuatu yang dianggap tidak biasa justru lebih mudah menarik perhatian dan memicu percakapan. Asinan Ceri-Ya dari Chef Devy Anastasia menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat bagaimana hal tersebut bekerja. Asinan Ceri-Ya merupakan produk asinan kiamboy premium milik Chef Devy Anastasia, alumnus MasterChef Indonesia musim kesembilan. Produk ini menjadi viral karena dibanderol sekitar Rp600.000 per toples, jauh di atas harga asinan kiamboy pada umumnya yang berkisar puluhan ribu rupiah. Mengutip pemberitaan Detik Food, harga tersebut didukung oleh penggunaan potongan buah premium serta kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Terlepas dari pro dan kontra mengenai harganya, justru label harga yang tidak biasa inilah yang membuat produk tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Asianan Ceri-Ya: Ada Harga, Ada Kualitas Penelitian ilmiah tentang persepsi harga bisa menjelaskan mengapa strategi harga tinggi ini berhasil menarik perhatian. Sejumlah studi pemasaran menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian, karena konsumen sering menggunakan harga sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kualitas suatu produk sebelum benar-benar mencobanya. Penelitian yang membahas pengaruh persepsi harga dan word of mouth terhadap keputusan pembelian di sebuah kedai kopi menemukan bahwa persepsi harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, sehingga semakin tinggi kesesuaian antara harga yang dirasakan dengan kualitas yang ditawarkan, semakin besar pula kemungkinan konsumen memutuskan untuk membeli. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, harga Rp600.000 berfungsi sebagai sinyal bahwa produk ini menggunakan bahan yang tidak biasa, sehingga sebagian orang menganggap harga tersebut sepadan meski belum pernah mencicipinya secara langsung. Kajian lain juga menjelaskan bahwa setiap produk yang bersifat fisik tidak dapat dengan mudah dievaluasi sebelum dibeli, sehingga untuk melihat kualitas produk, konsumen harus membeli produk tersebut terlebih dahulu, dan konsumen yang belum membeli hanya bisa mempelajari gambaran umum kualitas produk lewat ulasan dari konsumen lain yang sudah membelinya. Ini menjelaskan mengapa harga yang tidak lazim justru memancing rasa penasaran, bukan langsung menghasilkan penolakan. Bahan Premium sebagai Justifikasi Harga Harga tinggi pada produk ini tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh narasi bahan premium yang membuatnya terasa masuk akal di mata sebagian pembeli. Berdasarkan laporan Bisik.id, Chef Devy menawarkan kreasi asinan kiamboy berisi buah ceri segar, ditambah jenis buah premium lain seperti leci, anggur, hingga kiwi, dengan kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Laman RRI menambahkan detail lain soal isian produk ini, yaitu ceri, anggur Muscat, Moon Drop, kiwi, leci, kelengkeng Thailand, delima, dan nanas. Susunan bahan seperti ini tidak umum ditemukan pada asinan kiamboy standar yang biasanya hanya berisi mangga muda, kedondong, nanas, jambu kristal, dan salak. Kombinasi buah impor musiman inilah yang menjadi dasar cerita produk premium, sekaligus menjadi bahan perbandingan yang membuat harga Rp600.000 terlihat lebih masuk akal bagi sebagian orang. Sistem Pre-Order Terbatas dan FOMO Bagi kamu yang pernah mengikuti sistem pre-order di media sosial, pola yang terjadi pada Asinan Ceri-Ya mungkin terasa familiar. Produk dibuka dalam jumlah terbatas, lalu ditutup dalam waktu relatif singkat karena tingginya permintaan. Situs EurekaWoman mencatat bahwa pesanan asinan tersebut sempat ditutup karena tingginya permintaan. Pengalaman melihat produk yang cepat habis semacam ini berkaitan dengan konsep yang dalam ilmu psikologi konsumen disebut fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan cemas karena khawatir tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Penelitian yang lebih spesifik pernah menguji hubungan antara kelangkaan produk, FOMO, dan perilaku pembelian impulsif pada produk viral dengan sistem terbatas, meski dalam konteks yang berbeda, yaitu produk mainan koleksi. Studi lain yang meneliti sistem kelangkaan secara lebih umum menegaskan bahwa strategi kelangkaan efektif karena memadukan tiga elemen penting dalam proses keputusan pembelian. Diantaranya persepsi risiko, persepsi nilai, dan respons emosional, sehingga ketika konsumen merasa ada kemungkinan kehilangan peluang, nilai produk terasa meningkat dan keputusan pun cenderung terjadi lebih cepat. Kalau kamu mengaitkan temuan ini dengan sistem PO terbatas pada Asinan Ceri-Ya, terlihat jelas bahwa penutupan pesanan dalam waktu singkat bukan sekadar kebetulan operasional, ya! Melainkan pola yang secara psikologis memang mendorong orang untuk bertindak lebih cepat dalam memutuskan pembelian. Storytelling di Balik Produk Asinan Ceri-Ya Selain harga dan bahan, cara Chef Devy bercerita di media sosial juga menjadi bagian penting dari daya tarik produk ini. Ia membagikan proses pencarian buah premium ke berbagai supermarket, yang menggambarkan usaha ekstra di balik satu porsi asinan tersebut. Cerita semacam ini membuat konsumen merasa sedang membeli sesuatu yang melibatkan usaha dan pemilihan bahan yang cermat, bukan sekadar makanan yang dibuat secara instan. Kalau kamu pernah membeli produk kuliner rumahan yang disertai cerita di balik proses pembuatannya, kamu mungkin memahami bagaimana cerita semacam ini bisa memengaruhi persepsi nilai produk tersebut. Meski secara objektif bahan yang digunakan sebenarnya bisa ditemukan di pasar atau supermarket biasa. Peran Viral Marketing dan Word of Mouth Fenomena Asinan Ceri-Ya juga menarik untuk dilihat dari sudut pandang teori viral marketing dan word of mouth secara umum. Menurut artikel dari RWE Digital Agency, viral marketing pada dasarnya adalah cara promosi di media sosial yang membuat audiens ikut menyebarkan pesan pemasaran ke orang lain. Sehingga peluang untuk menaikkan penjualan atau membuat sebuah merek makin dikenal menjadi lebih besar, dan konsepnya sebenarnya mirip dengan strategi dari mulut ke mulut yang dulu dipakai dalam pemasaran tradisional. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, audiens yang ikut membagikan opini mereka, baik yang mendukung maupun yang mengkritik harga produk tersebut, secara tidak langsung berperan sebagai penyebar informasi tanpa perlu dibayar sebagai endorser. Artikel yang sama juga menjelaskan bahwa salah satu cara membuat konten bisnis kecil menjadi viral adalah dengan mencari topik yang sebenarnya akrab dalam kehidupan sehari-hari namun sering diabaikan, karena hal ini membangun hubungan emosional dengan audiens. Asinan sendiri adalah jajanan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, sehingga ketika muncul versi dengan harga jauh di atas rata-rata, topik

SELENGKAPNYA
Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu lihat botol hand body lotion warna-warni dengan tulisan besar “Marina” di rak minimarket dekat rumah? Kemungkinan besar jawabannya “kemarin” atau “hari ini”. Marina memang sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang Indonesia, dari yang tinggal di kota besar sampai yang di desa kecil. Tapi pernah nggak kamu kepikiran, kenapa Marina bisa segitu lekat di hati konsumen Indonesia selama bertahun-tahun? Padahal kompetitor produk hand body lotion di pasaran juga nggak sedikit. Nah, di artikel ini kita bakal bahas tuntas strategi pemasaran Marina, brand hand body lotion legendaris yang diproduksi oleh PT Tempo Scan Pacific. Kita akan kulik dari soal harga yang bersahabat, inovasi produk yang nggak ada habisnya, sampai cara Marina bikin konsumen merasa “dekat” secara emosional. Sekilas Tentang Marina Marina bukan pemain baru di industri kosmetik dan perawatan kulit tanah air. Brand ini sudah eksis cukup lama dan berhasil membangun posisi kuat sebagai salah satu merek hand body lotion paling dikenal di Indonesia. Salah satu kunci kesuksesannya adalah kemampuan Marina membaca kebutuhan pasar lokal dengan sangat baik. Kalau kita perhatikan, karakter konsumen Indonesia itu punya beberapa kesamaan. Pertama, sangat sensitif terhadap harga. Kedua, senang mencoba produk baru asal terasa cocok dan aman buat kulit. Ketiga, suka merek yang terasa “membumi” dan bukan cuma sekadar jualan produk doang. Tiga karakter ini yang dipahami betul oleh Marina, dan jadi dasar dari seluruh strategi pemasarannya. Yuk kita bahas satu-satu, mulai dari strategi yang paling mendasar, yaitu soal harga. Strategi Harga Terjangkau Marina Kalau ditanya apa senjata paling ampuh Marina dalam merebut hati konsumen Indonesia, jawabannya jelas: harga yang ramah kantong. Marina berhasil memposisikan dirinya sebagai produk hand body lotion yang bisa dijangkau hampir semua kalangan, mulai dari harga sekitar Rp6.000 sampai Rp20.000 per kemasan tergantung ukuran dan variannya. Harga segitu memang kelihatan kecil, tapi dampaknya besar banget buat pasar Indonesia. Kenapa? Karena mayoritas masyarakat Indonesia itu masuk kategori kelas menengah ke bawah yang sangat memperhitungkan pengeluaran harian. Buat mereka, produk perawatan kulit bukan barang mewah yang harus dipikir panjang sebelum beli. Justru sebaliknya, hand body lotion dianggap kebutuhan dasar sehari-hari, sama pentingnya dengan sabun mandi atau shampo. Dengan menetapkan harga di rentang yang sangat terjangkau ini, Marina otomatis membuka pintu selebar-lebarnya buat siapa saja untuk jadi konsumen mereka. Ibu rumah tangga yang belanja bulanan, pelajar yang uang sakunya terbatas, sampai pekerja dengan gaji standar, semua bisa dengan mudah memasukkan Marina ke dalam daftar belanja tanpa perlu berpikir dua kali. Strategi harga murah ini juga didukung dengan variasi ukuran kemasan yang beragam. Ada kemasan sachet kecil buat yang mau coba-coba dulu atau lagi bepergian, ada juga botol ukuran sedang dan besar buat pemakaian rumahan yang lebih hemat kalau dihitung per milliliternya. Jadi konsumen punya banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan kantong masing-masing. Menariknya lagi, meski harganya murah, Marina nggak lantas mengorbankan kualitas produknya. Justru di sinilah letak kepintaran strategi mereka. Marina berhasil membuktikan bahwa harga murah bukan berarti kualitas rendah. Ini penting banget buat membangun kepercayaan jangka panjang, karena kalau konsumen merasa dikecewakan soal kualitas padahal sudah bayar murah, reputasi brand bisa langsung hancur. Strategi harga terjangkau ini juga bikin Marina jadi pilihan utama ketika ada konsumen yang baru pertama kali mau coba produk hand body lotion. Risiko yang dirasakan konsumen jadi kecil banget. Coba bayangkan, kalau harga produk hand body lotion sampai ratusan ribu rupiah, orang pasti akan lebih hati-hati dan banyak pertimbangan sebelum membeli. Tapi kalau harganya cuma belasan ribu, orang jauh lebih santai untuk mencoba, dan kalau ternyata cocok, mereka bakal jadi pelanggan setia. Inovasi Varian Berbasis Superfood dan Antioksidan Kalau kamu perhatikan rak-rak hand body lotion di toko, Marina itu punya banyak sekali varian. Bukan cuma satu atau dua jenis, tapi belasan pilihan dengan manfaat dan aroma yang berbeda-beda. Ini bukan kebetulan, tapi memang bagian dari strategi besar Marina untuk terus relevan dengan tren perawatan kulit yang berkembang. Salah satu inovasi yang cukup menarik perhatian adalah formula 24H Advanced Moisturizing. Produk ini diklaim mampu memberikan kelembapan pada kulit hingga 24 jam penuh, sesuatu yang jadi kebutuhan penting mengingat cuaca di Indonesia yang panas dan lembap bisa membuat kulit cepat kering, apalagi buat orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan atau sering terkena AC di kantor sepanjang hari. Selain itu, Marina juga rutin meluncurkan varian yang mengangkat kandungan bahan alami sebagai nilai jual utama. Beberapa variannya menggunakan ekstrak buah dan tanaman yang dikenal punya kandungan antioksidan tinggi. Kandungan seperti ini sedang jadi tren besar di dunia perawatan kulit global, karena antioksidan dipercaya bisa membantu melindungi kulit dari radikal bebas yang bikin kulit cepat kusam dan menua sebelum waktunya. Konsep “superfood” yang belakangan lagi hits di dunia makanan sehat juga diadaptasi Marina ke dalam produk perawatan kulitnya. Bahan-bahan seperti buah beri, teh hijau, atau ekstrak tanaman lain yang dikenal punya banyak nutrisi dan antioksidan, dikemas jadi bahan aktif dalam produk lotion mereka. Ini jadi cara pintar Marina untuk menyasar konsumen yang makin sadar soal kesehatan kulit dan lebih tertarik dengan produk yang punya nilai tambah “alami” atau “sehat” dibanding sekadar pelembap biasa. Marina juga nggak ketinggalan menghadirkan varian dengan perlindungan UV. Mengingat sinar matahari di Indonesia cukup terik sepanjang tahun, kebutuhan perlindungan kulit dari sinar UV jadi makin penting. Dengan menambahkan fitur ini ke dalam produknya, Marina berhasil menjawab kebutuhan konsumen yang makin melek soal pentingnya melindungi kulit dari paparan matahari, bukan cuma soal kelembapan saja. Strategi diversifikasi varian ini punya banyak keuntungan buat Marina. Pertama, mereka bisa menyasar segmen konsumen yang lebih spesifik sesuai kebutuhan kulit masing-masing, entah itu kulit kering, kulit yang butuh pencerahan, atau kulit yang butuh perlindungan ekstra. Kedua, dengan terus berinovasi, Marina berhasil menghindari kesan brand yang “jadul” atau ketinggalan zaman. Konsumen, terutama generasi muda, cenderung tertarik dengan brand yang selalu punya sesuatu yang baru dan sesuai tren terkini. Ketiga, dengan banyaknya pilihan varian, Marina bisa memenuhi hampir semua kebutuhan perawatan kulit dalam satu rak produk saja. Jadi konsumen nggak perlu pindah ke brand lain kalau mau coba manfaat yang berbeda, karena Marina sudah punya semuanya. Cara Marina Membangun Kedekatan Emosional Kalau kita bicara soal strategi pemasaran yang

SELENGKAPNYA
Kenapa Rasa Milo Indonesia dan Malaysia Beda? Ini Alasannya

Kenapa Rasa Susu Milo Indonesia dan Malaysia Beda?

Milo jadi salah satu minuman cokelat yang menemani masa kecil banyak orang di Asia Tenggara. Tapi kalau kamu pernah mencicipi susu Milo dari Malaysia dan Indonesia secara berdampingan, kamu bakal sadar rasanya tidak sama persis. Padahal mereknya sama, bahkan sama-sama diproduksi oleh perusahaan besar bernama Nestlé. Perbedaan ini bukan cerita baru. Sudah lama jadi obrolan santai di antara penggemar minuman cokelat di dua negara tetangga ini, terutama mereka yang sempat pulang pergi atau belanja daring lintas negara. Kalau ditelusuri lebih dalam, perbedaan rasa ini bukan kebetulan. Ada alasan bisnis, budaya, sampai aturan pemerintah yang membentuk kenapa formula Milo bisa beda di tiap negara. Dan menariknya, cerita sederhana soal minuman cokelat ini sebenarnya bisa jadi pelajaran besar soal strategi bisnis umkm, khususnya buat kamu yang sedang membangun usaha kuliner atau produk konsumsi dan ingin produknya benar benar cocok di hati pembeli. Beda Formula, Beda Karakter Rasa Milo Malaysia dikenal punya rasa yang lebih pekat, lebih manis, dan aroma malt serta cokelatnya terasa kuat, bahkan setelah dicampur es atau susu. Ini bukan tanpa alasan. Formulanya memang dibuat lebih berani dengan kadar malted barley dan kakao yang lebih tinggi dibanding versi lain. Karena rasanya yang kuat, minuman ini jadi menu andalan di kedai kopi dan restoran di Malaysia. Bahkan “Milo Ais” atau Milo dingin dianggap sebagai salah satu ikon minuman nasional di sana, sejajar dengan teh tarik. Sementara itu, Milo Indonesia terasa lebih ringan dan creamy, mirip susu cokelat dengan sedikit aroma malt. Nestlé menyesuaikan komposisinya dengan selera masyarakat Indonesia yang cenderung suka rasa lembut dan tidak terlalu manis. Milo yang beredar di Indonesia diproduksi di pabrik Nestlé Karawang, Jawa Barat, sedangkan versi Malaysia berasal dari pabrik di Chembong, Negeri Sembilan. Perbedaan lokasi pabrik dan bahan baku lokal ini ikut memengaruhi karakter rasa akhirnya. Selain resep, cara penyajian juga berbeda. Di Malaysia, Milo lebih sering disajikan dingin dengan tambahan susu kental manis. Di Indonesia, Milo lebih banyak dinikmati hangat sebagai teman sarapan atau camilan sore. Karena kebiasaan minumnya beda, wajar kalau formula rasanya pun dibuat menyesuaikan cara masyarakat masing masing negara menikmatinya. Menariknya, banyak orang Indonesia yang mencoba Milo Malaysia saat bepergian atau beli online mengaku rasanya lebih “nendang”. Sebaliknya, orang Malaysia yang mencicipi Milo Indonesia justru bilang rasanya lebih halus dan nyaman diminum. Keduanya sama sama membawa nostalgia masa kecil, hanya dengan sentuhan lokal yang berbeda. Kenapa Produsen Wajib Menyesuaikan Formula per Negara? Perbedaan rasa Milo antarnegara sebenarnya bukan cuma soal selera. Ada faktor regulasi pangan yang membuat perusahaan seperti Nestlé memang harus menyesuaikan formula produknya di setiap negara tempat mereka beroperasi. Di Indonesia, setiap produk pangan olahan, termasuk minuman serbuk berperisa yang mengandung susu seperti Milo, wajib melalui proses pendaftaran ke Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM sebelum bisa beredar. Ketentuan ini diatur lewat Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2023 tentang Registrasi Pangan Olahan, yang mewajibkan produsen melaporkan detail formulasi produk, komposisi bahan, informasi nilai gizi, sampai peruntukan atau target konsumen dari produk tersebut. Artinya, formula yang dipakai di satu negara tidak otomatis bisa dipakai begitu saja di negara lain, karena harus melalui proses kajian dan persetujuan ulang sesuai standar setempat. Regulasi ini makin diperketat lewat aturan yang lebih baru. BPOM baru saja menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan, yang merupakan pembaruan dari Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2019. Aturan ini secara khusus menambah persyaratan cemaran mikroba untuk kategori minuman serbuk berperisa yang mengandung susu, produk olahan susu, krimer, atau cokelat, kategori yang persis menaungi produk seperti Milo. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa pembaruan aturan ini dilakukan supaya standar keamanan pangan tetap relevan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memastikan produk yang beredar di masyarakat benar benar aman, bermutu, dan bergizi. Pelaku usaha yang produknya sudah punya izin edar diberi waktu penyesuaian paling lama 12 bulan sejak aturan ini diundangkan, sementara produk yang masih dalam proses pengajuan izin akan mengikuti aturan lama dulu sebelum akhirnya menyesuaikan dengan ketentuan baru. Dengan adanya aturan seperti ini, jelas kenapa produk multinasional seperti Milo tidak bisa asal menyamakan formula di semua negara. Selain soal selera, ada tanggung jawab hukum dan keamanan pangan yang harus dipenuhi di setiap wilayah pemasaran. Buat pelaku usaha kecil sekalipun, ini jadi pengingat penting bahwa urusan legalitas dan standar keamanan produk bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi kalau produk sudah mulai dijual ke luar daerah atau bahkan diekspor. Penyesuaian Rasa Milo dengan Lidah Konsumen Fenomena Milo ini sebenarnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar dalam dunia bisnis makanan dan minuman, yaitu bagaimana selera konsumen di satu wilayah bisa sangat berbeda dari wilayah lain, meskipun produknya berasal dari merek yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah glokalisasi, gabungan dari kata globalisasi dan lokalisasi, di mana perusahaan besar menyesuaikan produk atau layanannya supaya cocok dengan preferensi, kebiasaan, dan budaya konsumen di suatu daerah, tapi tetap mempertahankan identitas global mereknya. Kariswan, Aralea, Rahayu, dan Destiany dalam kajian mereka yang terbit tahun 2025 di Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry, meneliti bagaimana McDonald’s Indonesia menerapkan strategi glokalisasi lewat adaptasi menu lokal selama periode 2023 hingga 2025. Menurut kajian tersebut, adaptasi menu bukan sekadar taktik dagang biasa, tapi juga cara perusahaan membangun kedekatan dan penerimaan sosial di tengah masyarakat setempat, sekaligus mengurangi penolakan budaya terhadap produk yang datang dari luar negeri. Studi ini menegaskan bahwa glokalisasi menjadi mekanisme penting dalam industri makanan, khususnya karena bisnis kuliner sangat bergantung pada kepekaan terhadap selera dan kebiasaan makan masyarakat lokal. Pola yang sama juga berlaku pada Milo. Nestlé tidak sekadar mengekspor satu resep tunggal ke seluruh dunia, tapi mempelajari lebih dulu bagaimana masyarakat di tiap negara terbiasa mengonsumsi minuman cokelat, lalu menyesuaikan tingkat kemanisan, kekentalan, dan intensitas rasa malt sesuai kebiasaan tersebut. Hasilnya, Milo tetap dikenali sebagai Milo di mana pun, tapi rasanya terasa “milik” masing masing negara. Apa Hubungannya dengan Strategi Bisnis UMKM? Kalau perusahaan sebesar Nestlé saja harus repot repot menyesuaikan formula demi mengikuti selera lokal, pelajaran ini jelas relevan buat pelaku usaha kecil dan menengah. Justru di sinilah strategi bisnis umkm bisa belajar banyak. UMKM sering kali punya keunggulan yang tidak

SELENGKAPNYA
KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kalau kamu sering wara-wiri di mal, pasti pernah lihat toko kuning yang jual pernak-pernik lucu, kosmetik, mainan, sampai camilan impor. Nah, toko itu dulu namanya KKV. Tapi belakangan ini banyak gerai yang berubah jadi OH! SOME, dan ini bikin banyak orang bingung. Apakah cuma ganti nama doang, atau memang ada perusahaan baru di baliknya? Pertanyaan ini wajar banget muncul, apalagi topik ini sempat viral di media sosial. Ada yang bilang cuma rebranding biasa, ada juga yang bilang ini soal kontrak lisensi yang habis. Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas soal hubungan KKV dan OH! SOME, mulai dari sejarahnya, siapa pemiliknya, sampai kenapa dua nama ini sekarang jadi dua entitas yang benar-benar berbeda. Awal Mula Brand Toko KKV Sebelum ngomongin soal perubahan nama, ada baiknya kita mundur dulu ke belakang untuk tahu dari mana sebenarnya KKV berasal. KKV adalah bagian dari KK Group, perusahaan asal China yang didirikan oleh Wu Yuening pada tahun 2015. Menariknya, Wu Yuening awalnya berkarier di bidang teknologi informasi sebelum akhirnya banting setir membangun bisnis ritel gaya hidup ini. Gerai pertama yang dia luncurkan namanya KK Guan, dan konsepnya memang fokus jualan barang-barang impor. Baru pada tahun 2019, nama KKV mulai dikenal luas setelah KK Group meluncurkan jaringan toko yang menyasar target pasar anak muda. Setahun berikutnya, di 2020, mereka melebarkan sayap lagi dengan membuka jaringan gerai X11 yang fokus jualan mainan dan fashion. Kalau ngomongin Indonesia, gerai KKV pertama resmi buka pada 4 Maret 2020 di Central Park Jakarta. Luasnya lumayan besar, lebih dari 3.000 meter persegi, dan isinya lebih dari 10.000 produk yang terbagi ke 15 kategori berbeda. Bayangkan, satu toko tapi isinya bisa dari kosmetik, camilan, mainan, sampai perlengkapan rumah tangga, semua ada. Bisnis ini ternyata laris manis. Dalam 10 bulan pertama tahun 2023 saja, gerai KKV di Indonesia berhasil mencatat pendapatan sekitar 420,1 juta yuan dengan laba 96,9 juta yuan dan margin laba kotor 23,1 persen. Nah, yang bikin makin menarik, volume transaksi bulanan toko-toko di Indonesia ternyata hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan toko sejenis di China, dengan rata-rata 2,5 juta yuan per bulan. Angka ini menunjukkan kalau pasar Indonesia memang jadi salah satu tambang emas buat KK Group, sampai akhirnya mereka juga ekspansi ke Malaysia pada Januari 2024. Kenapa KKV Tiba-Tiba Ganti Nama Jadi OH! SOME? Pada pertengahan tahun 2024, warganet mulai ramai membahas soal gerai KKV yang berubah nama jadi OH! SOME. Momen viralnya sendiri bermula dari sebuah video yang dibagikan lewat akun TikTok, yang memperlihatkan proses pergantian nama di salah satu toko. Dari situ, netizen lain mulai ikut cerita kalau gerai di kota mereka juga sudah berubah. Yang menarik, dari video-video yang beredar, sebenarnya tidak banyak yang berubah dari sisi produk maupun tata letak toko. Barang yang dijual sama persis, cuma logo dan namanya saja yang diganti. Ini yang bikin banyak orang mikir kalau ini murni cuma soal branding. Tapi kalau digali lebih dalam, ternyata ada cerita bisnis yang lebih kompleks di baliknya. Dugaan paling kuat adalah karena kontrak lisensi penggunaan merek KKV antara pemilik asli di China dengan operator di Indonesia sudah berakhir. Jadi sebenarnya, dulu KKV di Indonesia dijalankan lewat semacam kerja sama lisensi. Ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang, pihak yang tadinya mengoperasikan toko-toko KKV di Indonesia akhirnya membuat merek baru sendiri, yaitu OH! SOME. Situasi ini sebenarnya mirip banget dengan kasus yang pernah terjadi di industri ritel lain, misalnya perpindahan lisensi antara Ace Hardware dan Azko yang juga pernah bikin heboh warganet Indonesia. Pola bisnisnya sama, ketika kontrak lisensi merek internasional berakhir, operator lokal biasanya punya dua pilihan, mempertahankan hubungan dengan pemilik merek lama atau membangun identitas baru yang independen. Siapa Sebenarnya Pemilik OH! SOME? Sekarang OH! SOME resmi dimiliki dan dioperasikan oleh Blue Origin Group. Perusahaan ini mengambil alih operasional toko-toko yang sebelumnya berjalan di bawah nama KKV di Indonesia. Jadi meskipun tampilan produk dan konsep tokonya masih mirip banget dengan KKV, secara hukum dan kepemilikan, OH! SOME sudah berdiri sendiri, terpisah dari KK Group yang jadi pemilik asli merek KKV di China. Salah satu bukti kuat kalau OH! SOME memang serius membangun identitas sendiri adalah soal pendaftaran mereknya. Merek OH! SOME sudah resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI pada 15 Januari 2025, tepatnya untuk kelas 35 yang mencakup kegiatan usaha ritel dan perdagangan. Perlindungan hukum atas merek ini berlaku sampai 1 April 2034. Pendaftaran merek dagang memang jadi kewajiban setiap perusahaan yang mau punya identitas bisnis yang diakui secara legal dan terlindungi dari penyalahgunaan pihak lain. Selain soal legalitas merek, langkah rebranding ini juga dibarengi dengan strategi ekspansi. Setelah resmi berganti nama, OH! SOME membuka gerai baru di Summarecon Mall Bekasi, dan kabarnya bakal terus menambah cabang ke kota-kota besar lain seperti Surabaya dan Bandung. Jadi bukan cuma ganti papan nama doang, mereka juga terus memperluas jangkauan tokonya ke berbagai wilayah. Kalau kamu penasaran kenapa dipilih nama OH! SOME, alasannya cukup sederhana, yaitu supaya brand ini lebih gampang diingat dan lebih catchy didengar. Nama yang unik memang jadi salah satu strategi penting biar toko bisa menarik perhatian konsumen baru sambil tetap mempertahankan pelanggan lama. Selain nama, konsep toko juga ikut diperbarui supaya kesannya lebih segar dan cocok dengan selera anak muda zaman sekarang. Terus, KKV yang Asli Sekarang Kemana? Setelah kerja sama lisensi dengan operator lama di Indonesia berakhir, KK Group, sebagai pemilik merek KKV asal China, memutuskan kembali mengelola bisnisnya secara langsung di Indonesia tanpa menggunakan mitra lisensi seperti sebelumnya. Keputusan itu bukan lagi sekadar rencana. Pada 2026, KK Group resmi membawa kembali KKV ke Indonesia dan langsung membuka beberapa gerai di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Garut, hingga Bali. Mereka juga menyatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting dalam strategi ekspansi jangka panjangnya. Artinya, sekarang memang ada dua perusahaan yang berjalan sendiri-sendiri. Di satu sisi, ada KKV yang dioperasikan langsung oleh KK Group sebagai pemilik merek asli dari China. Di sisi lain, ada OH! SOME yang tetap dikelola oleh Blue Origin Group sebagai perusahaan lokal setelah perjanjian lisensinya berakhir. Jadi, anggapan bahwa “KKV berubah menjadi OH! SOME” sebenarnya kurang tepat. Yang terjadi adalah

SELENGKAPNYA
Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Pernah dengar cerita dua perusahaan besar berebut hak pakai satu nama merek sampai ke Mahkamah Agung? Kasus ini benar-benar terjadi di Indonesia, antara PT Unilever Indonesia Tbk dan Hardwood Private Limited, induk perusahaan Orang Tua Group. Perkaranya sederhana saja, yaitu soal siapa yang berhak memakai kata “Strong” pada produk pasta gigi. Tapi prosesnya panjang, mulai dari gugatan di Pengadilan Niaga, kasasi, sampai peninjauan kembali di Mahkamah Agung. Cerita ini menarik bukan cuma karena melibatkan dua nama besar di industri consumer goods. Ada pelajaran penting di baliknya, terutama buat kamu yang sedang membangun usaha kecil atau menengah. Kalau perusahaan sebesar Unilever saja bisa terseret sengketa merek yang berlarut-larut, bayangkan risikonya buat UMKM yang belum sempat memikirkan urusan legalitas merek karena sibuk mengejar omzet. Padahal merek adalah aset, dan mengurus perlindungannya semestinya jadi bagian dari strategi bisnis UMKM sejak awal, bukan urusan yang ditunda sampai bisnis besar. Kronologi Singkat Sengketa Merek Formula vs Pepsodent Semua bermula pada 29 Mei 2020. Hardwood Private Limited menggugat Unilever Indonesia ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Alasannya, merek “Strong” sudah terdaftar atas nama Hardwood sejak tahun 2008 di kelas 3, kelas yang mencakup produk perawatan tubuh termasuk pasta gigi, dengan nomor pendaftaran IDM000258478. Merek ini juga sudah dipakai dalam beberapa varian seperti Formula Strong, Strong Protector, sampai Formula Strong Herbal. Masalahnya, sejak 2019 Unilever mulai memasarkan produk “Pepsodent Strong 12 Jam”. Menurut Hardwood, pemakaian kata “Strong” ini membingungkan konsumen dan berpotensi merugikan reputasi merek yang sudah mereka bangun bertahun-tahun. Unilever sendiri membela diri dengan mengatakan bahwa permohonan pendaftaran merek “Pepsodent Strong 12 Jam” sudah diajukan sejak September 2019 dan menurut mereka tidak ada kemiripan yang signifikan dari segi bentuk, warna, atau susunan unsur merek dengan “Strong” milik Hardwood. Majelis hakim di tingkat pertama sepenuhnya berpihak pada Hardwood. Putusan menyatakan merek “Strong” adalah merek terkenal di Indonesia, dan pemakaian kata yang sama oleh Unilever dianggap punya kesamaan pada pokoknya. Unilever bahkan dihukum membayar ganti rugi sebesar Rp30 miliar. Tidak terima dengan putusan itu, Unilever mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung pada akhir November 2020, dan kali ini hasilnya berbalik. Melalui Putusan Nomor 332 K/Pdt.Sus-HKI/2021, Mahkamah Agung mengabulkan kasasi Unilever dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga sebelumnya. Hardwood tidak menyerah dan menempuh upaya hukum terakhir, yaitu peninjauan kembali. Namun lewat Putusan Nomor 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022, Mahkamah Agung kembali menolak permohonan tersebut. Dengan putusan final ini, Unilever akhirnya dinyatakan berhak memakai kata “Strong” pada produk-produknya, dan status ini masih berlaku sampai sekarang karena tidak ada upaya hukum lanjutan setelah putusan peninjauan kembali tersebut. Kenapa First to File Itu Penting? Kasus ini berputar di satu prinsip dasar dalam hukum merek Indonesia, yaitu sistem konstitutif atau first to file principle. Artinya, hak atas merek diberikan kepada pihak yang lebih dulu mendaftarkan mereknya ke instansi berwenang, bukan kepada pihak yang lebih dulu memakainya di pasar. Dasar hukumnya ada di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang mengatur bahwa perlindungan hukum atas merek baru berlaku setelah merek itu resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, disingkat DJKI, yang berada di bawah Kementerian Hukum. Prinsip inilah yang membuat pertarungan merek sering kali bukan soal siapa yang lebih dulu berjualan, melainkan soal siapa yang lebih dulu mengurus kertas pendaftarannya. Sayangnya, banyak pelaku usaha, terutama UMKM, masih menganggap urusan pendaftaran merek sebagai hal sepele yang bisa ditunda. Padahal begitu ada pihak lain yang lebih dulu mendaftarkan nama yang mirip atau bahkan identik, pemilik usaha yang sudah lama berjualan dengan nama itu bisa kehilangan hak pakainya sendiri, sama seperti risiko yang nyaris dialami oleh salah satu pihak dalam sengketa “Strong” di atas. Regulasi yang Mempermudah UMKM Mendaftarkan Merek Kabar baiknya, pemerintah terus berupaya menurunkan hambatan administratif yang selama ini membuat pelaku UMKM enggan mendaftarkan merek. Salah satu langkah terbaru datang lewat Peraturan Menteri Hukum Nomor 5 Tahun 2026. Lewat aturan ini, DJKI memperluas dan mempermudah syarat pembuktian dokumen bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil. Prosedur administratif yang sebelumnya bersifat kaku dan formalitas kini diganti dengan pilihan dokumen legalitas yang lebih beragam, sehingga pelaku usaha mikro dan kecil yang sering terkendala kelengkapan dokumen standar punya jalan lebih fleksibel untuk tetap bisa mendaftarkan mereknya. Selain kemudahan dokumen, ada juga insentif dari sisi biaya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2024 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di Kementerian Hukum, biaya pendaftaran merek secara online untuk kategori umum adalah sekitar Rp1.800.000 per kelas. Namun khusus untuk pelaku UMKM yang melampirkan Surat Rekomendasi dan Surat Pernyataan UMKM, biayanya bisa turun jadi kurang dari separuhnya, yaitu sekitar Rp500.000 per kelas. Selain insentif biaya ini, DJKI juga secara aktif memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang ingin mengurus pendaftaran mereknya, mulai dari sosialisasi sampai bimbingan teknis pengisian formulir. Dua aturan ini, kalau digabungkan, sebenarnya memberi sinyal jelas bahwa pemerintah ingin UMKM tidak lagi menomorduakan urusan legalitas merek. Persyaratan yang lebih longgar dan biaya yang lebih terjangkau harusnya membuat alasan “ribet dan mahal” tidak lagi relevan buat kamu yang masih ragu mendaftarkan merek usahamu sendiri. Belajar dari Kasus Besar untuk UMKM Sengketa “Strong” mengajarkan bahwa nilai sebuah merek tidak selalu berbanding lurus dengan besar kecilnya perusahaan. Justru karena nilainya besar, sengketa semacam ini sering muncul ketika sebuah merek mulai dikenal luas dan menguntungkan secara komersial. UMKM yang hari ini masih berskala kecil, kalau berhasil berkembang, punya risiko yang sama untuk menghadapi klaim serupa dari pihak lain kalau sejak awal tidak mengamankan mereknya lewat pendaftaran resmi. Beberapa hal sederhana yang bisa kamu terapkan sebagai bagian dari strategi bisnis UMKM antara lain memilih nama merek yang benar-benar khas dan tidak menyerupai merek yang sudah ada, mengecek pangkalan data merek sebelum memutuskan nama final, segera mendaftarkan merek begitu produk mulai dipasarkan secara konsisten, dan memanfaatkan insentif biaya yang sudah disediakan pemerintah lewat berbagai kebijakan yang terus diperbarui. Jangan menunggu usaha besar dulu baru memikirkan legalitas merek, karena semakin besar dan dikenal sebuah merek, semakin besar pula risiko sengketa yang mungkin muncul di kemudian hari. Penutup Kasus sengketa merek “Strong” antara Unilever dan Orang Tua Group menunjukkan bahwa urusan merek bukan perkara kecil, bahkan buat perusahaan sekelas multinasional sekalipun. Buat pelaku

SELENGKAPNYA
5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

Jims Honey menjadi salah satu contoh sukses UMKM lokal yang berkembang dari usaha bermodal minim menjadi bisnis dengan omzet miliaran rupiah. Di balik kesuksesan tersebut, ada kisah Stefi, perempuan asal Pontianak yang merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan S2. Alih-alih hanya fokus kuliah, ia justru melihat peluang bisnis dan memulai usaha aksesori wanita dengan modal awal hanya Rp2,5 juta dari uang kiriman orang tua. Berkat strategi yang tepat, konsistensi membangun merek, serta pengelolaan jaringan reseller, Jims Honey berhasil tumbuh pesat hingga mencatat omzet lebih dari Rp1 miliar per bulan dan memiliki lebih dari 500 reseller di Yogyakarta. Kisah ini menarik untuk dibedah karena memperlihatkan bagaimana strategi bisnis UMKM yang sederhana, kalau dijalankan dengan konsisten, bisa mengubah usaha rumahan menjadi merek yang dikenal luas. Artikel ini akan mengupas langkah-langkah yang dipakai Jims Honey, mulai dari membangun identitas merek, menjalin kemitraan dengan reseller, menjaga kualitas produk, sampai memanfaatkan media sosial. Awal Mula Jims Honey Sebelum punya nama Jims Honey, Stefi awalnya hanya membeli barang dari Cina dan menjualnya kembali tanpa label apa pun. Waktu itu jualannya sepi, sehari laku dua barang saja sudah dianggap bagus. Setelah setahun lebih berjualan tanpa merek, ia baru memutuskan untuk memberi label pada produk yang dijualnya, bekerja sama dengan saudaranya di Jakarta yang memesan barang langsung dari pabrik di Cina. Nama Jims Honey sendiri diambil dari nama suami saudaranya, Jims, dan kata honey yang berarti madu. Alasan pemilihan nama ini sederhana, madu dianggap manis dan bermanfaat, sehingga diharapkan usaha ini juga bisa memberi manfaat secara ekonomi untuk banyak orang. Cerita semacam ini kelihatan sepele, tapi sebenarnya menjadi salah satu fondasi penting dalam strategi bisnis UMKM, yaitu narasi asal-usul merek yang bisa membuat produk terasa lebih dekat dengan pembeli. Kajian dari tim akademik Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tentang branding digital UMKM menjelaskan bahwa storytelling adalah cara yang ampuh untuk membuat merek lebih dekat dengan konsumen. Menceritakan asal-usul produk, motivasi membangun usaha, dan tantangan yang dihadapi bisa membangun hubungan emosional yang kuat dengan calon pembeli, bukan sekadar menarik perhatian sesaat. Ketika pelanggan merasa terhubung dengan cerita di balik sebuah produk, mereka biasanya membeli bukan cuma karena butuh, tapi juga karena merasa punya ikatan dengan merek tersebut. Ini sejalan dengan apa yang dilakukan Jims Honey, di mana kisah perjuangan Stefi menjadi bagian dari citra merek yang terus dibicarakan di berbagai media. Lalu, bagaimana cara Jims Honey bisa menjadi brand fashion affordable tapi tetap trendy yang digandrungi banyak orang seperti sekarang? 1. Bangun Identitas Merek Sejak dari Nol Setelah punya nama dan label, langkah berikutnya dalam strategi bisnis UMKM adalah memperluas jenis produk sambil menjaga konsistensi identitas merek. Jims Honey yang awalnya hanya menjual dompet dan tas, perlahan menambah lini produk seperti jam tangan, power bank, dan tumbler. Harga yang dipasang juga terjangkau, dompet mulai Rp50 ribu, tas dan jam tangan mulai Rp60 ribu, power bank mulai Rp95 ribu. Kombinasi harga terjangkau dengan kualitas yang terjaga inilah yang membuat produknya mudah diterima pasar menengah ke bawah sampai menengah. Pemilihan harga dan perluasan lini produk semacam ini sebenarnya bagian dari apa yang disebut branding produk. Merek yang kuat memungkinkan UMKM menetapkan harga yang wajar tanpa harus terus-menerus banting harga demi bersaing, karena pembeli sudah punya kepercayaan pada kualitas yang ditawarkan. Tanpa identitas merek yang jelas, produk UMKM gampang dianggap sama dengan barang sejenis lain yang beredar di pasar, sehingga pembeli hanya akan membandingkan dari sisi harga saja. 2. Kemitraan dengan Reseller Salah satu kunci pertumbuhan Jims Honey adalah jaringan reseller yang jumlahnya mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Syaratnya sederhana, calon reseller cukup membeli satu produk dan memakainya sendiri lebih dulu, supaya mereka paham betul kualitas barang yang akan mereka jual kembali. Cara ini membantu menjaga standar pelayanan karena reseller tidak sekadar menjual, tapi juga sudah merasakan langsung produknya. Pola kemitraan seperti ini sebenarnya sudah lama dipraktikkan pelaku usaha, tapi baru belakangan mendapat payung hukum yang lebih jelas dari pemerintah. Kementerian UMKM menerbitkan Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan dan Peningkatan Daya Saing Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Aturan ini mewajibkan setiap platform digital mencantumkan secara jelas seluruh jenis biaya yang dibebankan kepada pelaku usaha mikro dan kecil dalam perjanjian kemitraan, sehingga biaya layanan tidak bisa lagi dinaikkan sepihak di tengah masa kerja sama. Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menjelaskan bahwa aturan ini memberi kepastian bagi pelaku usaha kecil dalam menjalankan bisnisnya karena seluruh biaya yang disepakati sudah tercantum jelas sejak awal perjanjian kemitraan dibuat. Bagi pelaku usaha yang membangun jaringan reseller atau berjualan lewat marketplace seperti Jims Honey, aturan semacam ini penting dipahami. Kejelasan pembagian keuntungan, biaya layanan, dan hak masing-masing pihak akan membuat kemitraan lebih adil dan berkelanjutan, bukan cuma menguntungkan salah satu pihak saja. Strategi bisnis UMKM yang mengandalkan reseller sebaiknya juga menuangkan kesepakatan kerja sama secara tertulis, walau sederhana, supaya ada kejelasan sejak awal dan menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Pentingnya membangun merek lewat kanal daring dan kemitraan reseller juga pernah diteliti secara akademik. Penelitian Rahman dan Mawardi yang dimuat di Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Universitas Brawijaya berjudul “Strategi UMKM Dalam Membangun Brand Toko Online Di Marketplace” menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM membangun merek di platform digital sangat bergantung pada konsistensi tampilan toko, deskripsi produk yang jelas, dan respons cepat terhadap pertanyaan pembeli. Temuan ini cocok dengan praktik Jims Honey yang menjaga komunikasi aktif dengan reseller maupun pembeli akhir lewat WhatsApp dan media sosial sejak awal usahanya berjalan. 3. Menjaga Kualitas Produk sebagai Fondasi Kepercayaan Jaringan reseller yang besar tidak akan bertahan lama kalau kualitas produknya tidak dijaga. Stefi punya cara sendiri untuk memastikan hal ini, yaitu meminta contoh produk dari pabrik di Cina sebelum memesan dalam jumlah besar. Jika barang yang dikirim dalam jumlah besar ternyata ada yang rusak, ia bisa meretur ke pabrik tergantung tingkat kerusakannya. Untuk kerusakan ringan, biasanya ia memberi diskon kepada konsumen yang tetap ingin membeli barang dengan kondisi tertentu. Tim Jims Honey bahkan rutin berkunjung ke Cina untuk memperbarui model produk sesuai tren terbaru. Cara kerja seperti ini menunjukkan bahwa quality control bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian

SELENGKAPNYA
Joger Bali, Strategi Bisnis yang Menjual Kata-Kata

Joger Bali, Strategi Bisnis yang Menjual Kata-Kata

Di tengah banyaknya pusat oleh-oleh yang tumbuh di Pulau Dewata, Joger Bali tetap berdiri sebagai contoh strategi bisnis UMKM yang berhasil membangun identitas kuat lewat cara yang sederhana, yaitu kata-kata. Ketika toko oleh-oleh lain berlomba menonjolkan diskon besar dan variasi produk, Joger justru memilih jalan berbeda. Ia menjual pengalaman dan kesan yang tertanam di kepala pengunjung jauh setelah mereka pulang dari Bali. Kisah ini menarik untuk dibedah karena banyak pelajaran di dalamnya yang bisa dipakai oleh pelaku usaha kecil dan menengah di berbagai daerah, tidak terbatas pada bisnis oleh-oleh saja. Awal Mula Joger Bali Joger didirikan pada tahun 1981 oleh Joseph Theodorus Wulianadi. Nama Joger sendiri gabungan dari nama Joseph dan sahabatnya, Gerard, yang memberi modal awal usaha ini. Sejak hari pertama, Joger tidak dibangun dengan konsep toko oleh-oleh pada umumnya. Joseph memilih menonjolkan kalimat-kalimat nyeleneh, humoris, dan kadang terasa filosofis sebagai ciri khas produknya. Kaos, sandal, dan berbagai merchandise lain dirancang dengan kalimat sederhana yang tetap mengena secara emosional bagi pembelinya. Pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan konsep brand storytelling yang belakangan banyak dipelajari dalam ilmu pemasaran modern. Sebuah kajian yang dimuat di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara menjelaskan bahwa merek bukan sekadar nama atau simbol, melainkan alat yang membantu konsumen mengenali produk sekaligus membangun rasa percaya terhadapnya. Ketika sebuah usaha kecil mampu menghadirkan identitas merek yang jelas, pelanggan akan lebih mudah mengingat dan membedakannya dari kompetitor (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara, Vol. 4 No. 3, 2023). Prinsip inilah yang tanpa disadari sudah dipraktikkan Joger sejak lebih dari empat dekade lalu, jauh sebelum istilah brand identity populer digunakan di dunia usaha kecil menengah di Indonesia. Fondasi Identitas Merek Joger Ciri khas paling menonjol dari Joger ada pada tulisan-tulisan yang tertera di produknya. Kalimat singkat namun terasa dekat dengan keseharian membuat produk Joger bukan lagi sekadar barang konsumsi, melainkan media ekspresi bagi pembelinya. Wisatawan yang memakai kaos Joger sebenarnya sedang membawa pulang sepotong humor dan kenangan, bukan hanya kain bersablon. Cara pandang semacam ini cocok dengan teori branding yang selama ini dipakai sebagai rujukan akademik. Konsep brand identity, menurut ahli pemasaran Kevin Lane Keller, merujuk pada alat yang punya ciri khas dan bisa dipatenkan, yang fungsinya membedakan satu merek dengan merek lain di pasar. Sementara itu, pakar branding David Aaker menekankan bahwa kekuatan sebuah merek terletak pada tiga hal utama, yaitu identitas merek, citra merek, dan ekuitas merek yang terbentuk dari waktu ke waktu. Ketiga elemen ini terlihat jelas pada Joger. Identitasnya lewat gaya bahasa yang khas, citranya sebagai brand yang jujur dan apa adanya, serta ekuitasnya yang terus bertambah karena loyalitas pelanggan selama puluhan tahun. Karena identitas verbal seperti tagline dan gaya bahasa punya nilai ekonomi, negara sebenarnya menyediakan payung hukum untuk melindunginya. Di Indonesia, perlindungan atas merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang kemudian mengalami penyesuaian lewat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Aturan ini memberi kepastian hukum bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk mendaftarkan nama dagang, slogan, atau ciri khas produknya agar tidak ditiru pihak lain. Pendaftaran merek menjadi langkah penting supaya kekuatan sebuah identitas usaha, seperti gaya bahasa nyeleneh ala Joger, benar-benar menjadi aset yang diakui secara hukum dan bisa terus dijaga keasliannya. Perlindungan ini akan makin diperkuat ke depan. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum tengah mendorong revisi Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis dengan tujuan mempercepat proses pendaftaran merek. Menurut Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Hermansyah Siregar, revisi ini diarahkan agar pelaku usaha, mulai dari skala besar sampai UMKM, mendapat kepastian hukum yang lebih cepat atas kekayaan intelektual yang mereka miliki. Kepastian hukum atas merek pada akhirnya memperkuat brand equity, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan inovasi di kalangan pelaku usaha kecil. Bagi pelaku UMKM yang sedang menyusun strategi bisnis umkm jangka panjang, mendaftarkan merek sejak awal adalah langkah yang sering terlewat padahal dampaknya besar untuk keberlangsungan usaha di masa depan. Eksklusivitas di Tengah Godaan Ekspansi Berbeda dari kebanyakan brand lain yang berlomba membuka cabang di berbagai kota, Joger justru memilih jalan sebaliknya. Outlet utamanya tetap terpusat di Bali dan tidak mudah ditemukan di daerah lain. Pilihan ini menciptakan kesan langka pada produknya, sehingga wisatawan merasa perlu membeli langsung saat berkunjung ke Bali, bukan menunggu produk itu hadir di kota asal mereka. Strategi menjaga eksklusivitas semacam ini sebenarnya cukup jarang dipakai oleh pelaku usaha kecil, karena kebanyakan UMKM justru berusaha memperluas jangkauan pasar secepat mungkin lewat berbagai cabang atau platform digital. Padahal, sebuah kajian tentang strategi branding pada UMKM lokal di wilayah Jawa menemukan bahwa unsur kelangkaan dan keunikan lokal justru berdampak positif terhadap harga jual dan loyalitas konsumen. UMKM yang berhasil menonjolkan cerita lokalitas dan keunikan produknya mampu meningkatkan harga jual hingga dua puluh sampai tiga puluh persen karena konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang terasa punya nilai dan citra khusus. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan kerangka kebijakan yang mendukung pelaku UMKM agar bisa mengelola strategi usahanya secara lebih terarah, termasuk soal ruang promosi dan pengembangan usaha. Lewat Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, sampai badan usaha swasta diwajibkan menyediakan tempat promosi bagi usaha mikro dan kecil, paling sedikit tiga puluh persen dari total luas lahan area komersial atau tempat perbelanjaan yang mereka kelola. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara turut membuka ruang agar UMKM dengan karakter unik seperti Joger, yang mengandalkan storytelling dan keunikan lokal, punya kesempatan tampil di ruang publik dan bersaing secara sehat dengan pelaku usaha berskala besar. Strategi Bisnis UMKM yang Bisa Dipelajari dari Joger Ada beberapa pelajaran konkret yang bisa diambil pelaku usaha kecil dan menengah dari perjalanan panjang Joger. 1. Bangun Identitas Merek yang KuatIdentitas merek tidak harus dibangun dengan anggaran pemasaran besar. Konsistensi dalam menyampaikan karakter dan nilai usaha dapat menciptakan kedekatan emosional dengan pelanggan. 2. Fokus pada Kualitas Sebelum BerekspansiJangan terburu-buru membuka banyak cabang. Pastikan kualitas produk, layanan, dan konsistensi merek tetap terjaga agar citra usaha semakin kuat. 3. Urus Legalitas dan Perlindungan Merek Sejak AwalDaftarkan merek sejak usaha mulai berjalan agar identitas bisnis terlindungi secara hukum, tidak mudah

SELENGKAPNYA
Strategi Bisnis Bean Spot: Cara Kopi Alfamart Tarik Konsumen

Strategi Bisnis Bean Spot: Cara Kopi Alfamart Tarik Konsumen

Kalau kamu sering mampir ke Alfamart, kemungkinan besar kamu pernah melihat sudut kecil berisi mesin kopi dengan tulisan Bean Spot di dekat kasir. Sudut kecil ini bukan sekadar pelengkap toko saja, ya! Bean Spot adalah lini bisnis food and beverage milik PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang mulai dibuka pada 2020, mengusung konsep coffee corner sederhana di gerai-gerai Alfamart. Kehadirannya menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana strategi bisnis yang dirancang dengan matang bisa membuat produk sederhana seperti kopi tetap laku di tengah persaingan pasar yang padat. Menariknya, cerita Bean Spot tidak melulu soal kesuksesan mulus. Ada bagian yang berhasil, ada juga bagian yang perlu dievaluasi. Artikel ini akan mengupas strategi bisnis Bean Spot secara menyeluruh, mulai dari konsep produk, cara mereka menetapkan harga, gaya promosi, sampai pelajaran penting soal kepercayaan konsumen yang ternyata jauh lebih berpengaruh dibanding gencarnya promo. Konsep Grab-and-Go Bean Spot Bean Spot dirancang dengan format grab-and-go, artinya pembeli bisa memesan, membayar, dan langsung pergi tanpa perlu duduk lama seperti di kedai kopi pada umumnya. Format ini dipilih karena Alfamart sendiri merupakan tempat orang berbelanja kebutuhan harian, jadi target pembelinya adalah orang yang sedang terburu-buru atau sekalian mampir belanja kebutuhan lain sambil membeli kopi. Pendekatan ini sejalan dengan riset tentang usaha kopi kekinian di Indonesia yang menyebut bahwa harga terjangkau dan kepraktisan menjadi kekuatan utama pelaku usaha kopi untuk bersaing dengan gerai kopi modern yang lebih besar. Dalam sebuah kajian tentang strategi bertahan pelaku usaha kopi di tengah gempuran coffee shop modern, ditemukan bahwa keberhasilan usaha kopi skala kecil tidak hanya bergantung pada produk dan harga, tapi juga pada kemampuan menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan gaya hidup pelanggan sehari-hari. Bean Spot mempraktikkan hal serupa lewat lokasi yang menyatu dengan aktivitas belanja harian masyarakat, sehingga kopi menjadi pembelian tambahan yang terasa wajar dan tidak merepotkan. Dari sisi teori pemasaran, langkah ini juga mencerminkan gagasan Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Marketing Management, yang menekankan bahwa penempatan produk atau place harus disesuaikan dengan kebiasaan berbelanja target pasar agar produk mudah diakses kapan saja dibutuhkan. Bean Spot menerapkan prinsip ini dengan menempatkan kedai kopi persis di titik yang sudah ramai dilalui orang setiap hari, yaitu minimarket. Bean Spot Menarik Pembeli Lewat Diskon Salah satu ciri khas strategi bisnis Bean Spot adalah harga yang dijaga tetap murah dan promo yang rutin diadakan. Program yang cukup dikenal adalah Coffee Day, di mana pada hari-hari tertentu seperti Senin, Rabu, dan Jumat, semua varian kopi dijual dengan harga Rp10.000 saja. Selain itu, Bean Spot juga rutin memberikan promo beli satu gratis satu, paket hemat, potongan harga di tanggal cantik, sampai diskon tambahan jika pembayaran dilakukan lewat dompet digital tertentu. Strategi promosi seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pemasaran. Konsep promosi penjualan atau sales promotion memang dikenal sebagai penawaran khusus dalam waktu terbatas yang bertujuan mendorong konsumen segera membeli atau mencoba produk. Teori yang dikenal dengan nama Sales Promotion Stimulus Theory menjelaskan bahwa promosi bekerja sebagai rangsangan yang membuat konsumen merasa perlu segera bertindak karena ada rasa senang saat melihat harga yang lebih murah dari biasanya. Yang perlu kamu tahu, ketika sebuah bisnis rutin memberikan diskon dan potongan harga, ada aturan hukum yang mengatur agar konsumen tidak dirugikan oleh promosi yang menyesatkan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mewajibkan pelaku usaha untuk memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi serta syarat dari setiap barang atau jasa yang dipromosikan, termasuk soal syarat dan ketentuan promo seperti batas waktu, metode pembayaran yang berlaku, atau apakah promo bisa digabung dengan diskon lain. Aturan ini penting karena riset tentang Bean Spot justru menemukan bahwa banyak konsumen hanya mengetahui sebagian kecil dari syarat dan ketentuan promo yang berlaku, sehingga transparansi informasi promosi menjadi bagian yang perlu terus diperbaiki, bukan hanya soal menarik perhatian lewat harga murah semata. Storytelling dan Marketing Konten Media Sosial Bean Spot cukup aktif memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram, untuk membangun kedekatan dengan pelanggan. Selain mengumumkan promo, mereka juga menerapkan storytelling dengan mengangkat tema tertentu, misalnya edisi khusus Hari Ayah Nasional, untuk menyentuh sisi emosional konsumen alih-alih hanya menjual produk secara langsung. Pendekatan pemasaran konten seperti ini terbukti efektif dibanding sekadar iklan biasa. Media sosial memungkinkan bisnis kopi skala kecil sampai besar menjangkau audiens lebih luas secara geografis maupun demografis, sekaligus membangun interaksi dua arah dengan pelanggan yang sulit didapat dari media cetak. Studi tentang strategi promosi bisnis kedai kopi lain di Indonesia juga menunjukkan pola serupa, di mana konten yang dibangun dengan cerita dan suasana yang relevan dengan keseharian pelanggan cenderung lebih diingat dibanding konten yang hanya berisi informasi harga. Namun ada catatan penting di sini. Riset yang secara khusus meneliti hubungan antara promosi penjualan Bean Spot dengan keputusan pembelian, yang dilakukan oleh Uci Andriani bersama Tandiyo Pradekso dan Wiwid Noor Rakhmad dari Universitas Diponegoro, justru menemukan hasil yang mengejutkan. Penelitian terhadap 100 responden di Kota Palembang yang pernah melihat promo Bean Spot ini menunjukkan bahwa terpaan promosi penjualan tidak berhubungan secara signifikan dengan keputusan konsumen untuk membeli, dengan nilai signifikansi 0,275 yang berarti lebih besar dari batas 0,05 yang biasa dipakai dalam uji statistik. Artinya, sesering apa pun promo ditampilkan, itu tidak otomatis membuat orang memutuskan untuk membeli. Kepercayaan Konsumen Bean Spot Penelitian yang sama justru menemukan hal lain yang jauh lebih menentukan, yaitu tingkat kepercayaan konsumen. Hasil uji hipotesis kedua dalam penelitian tersebut menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat kepercayaan dengan keputusan pembelian produk Bean Spot, dengan nilai signifikansi 0,000 dan nilai koefisien korelasi 0,353. Artinya, semakin tinggi kepercayaan konsumen terhadap kebersihan, rasa, kecepatan pelayanan, sampai kesesuaian pesanan, semakin besar pula kemungkinan mereka memutuskan untuk membeli. Temuan ini sejalan dengan Brand Equity Theory yang diperkenalkan oleh David Aaker, yang menyebutkan bahwa kekuatan sebuah merek di pasar dipengaruhi oleh lima hal, yaitu perilaku pasar, kesadaran merek, asosiasi merek, kualitas yang dirasakan, dan loyalitas konsumen. Kepercayaan menjadi bagian yang menyatu dengan hampir semua elemen ini, karena tanpa rasa percaya, konsumen sulit membangun loyalitas terhadap sebuah merek, sekalipun harga produknya murah dan promonya sering muncul di media sosial. Strategi Bisnis dari Bean Spot untuk Pelaku Usaha Lain Kalau dirangkum,

SELENGKAPNYA