Category: Bedah Usaha

Menampilkan semua artikel pada kategori yang disesuaikan

strategi ekspansi kopi kenangan

Strategi Ekspansi Kopi Kenangan yang Bisa UMKM Pelajari

Kamu pasti pernah lihat gerai Kopi Kenangan, entah di mal, kantor, atau pinggir jalan. Tapi tahukah kamu, brand ini baru berdiri tahun 2017? Dalam waktu kurang dari satu dekade, Kopi Kenangan sudah mengoperasikan lebih dari 1.300 gerai dan merambah beberapa negara. Bagaimana caranya? Artikel ini membahas strategi ekspansi Kopi Kenangan berdasarkan data dan pernyataan resmi yang sudah dipublikasikan media. Kamu bisa menirunya, apa pun jenis brand yang kamu punya. Sekilas Perjalanan Kopi Kenangan Kopi Kenangan didirikan oleh Edward Tirtanata dan James Prananto pada Juni 2017 dengan nama badan usaha PT Bumi Berkah Boga, menurut data IDNFinancials. Edward menjabat CEO. Berikut garis waktu singkatnya: Angka gerai bisa berbeda antar sumber karena waktu pelaporannya berbeda. Yang jelas, arah pertumbuhannya konsisten naik. Kopi Berkualitas yang Terjangkau Edward melihat ada celah di pasar: kopi berkualitas yang tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal. Saat banyak kedai menjual kopi sekitar Rp40.000, Kopi Kenangan menawarkan kopi susu seharga Rp18.000 di masa awalnya. Strategi harga ini membuat produknya bisa dinikmati banyak orang, bukan hanya segmen premium. Menurut riset Nielsen yang dikutip media, Kopi Kenangan sempat menjadi merek nomor satu di benak konsumen untuk kategori kopi susu. Yang bisa kamu pelajari: Tentukan posisi harga yang jelas. Brand yang “enak dan terjangkau” lebih mudah diingat daripada brand yang posisinya abu-abu. Branding yang Punya ‘Perasaan‘ Nama menu seperti Kopi Kenangan Mantan dan Kopi Kenangan Masa Lalu bukan sekadar lucu. Nama-nama ini bikin pelanggan merasa terwakili dan terhubung secara emosional. Bahkan nama brand-nya sendiri sudah membawa nuansa nostalgia. Branding seperti ini membuat orang membicarakan dan membagikan produknya secara alami. Yang bisa kamu pelajari: Nama, gaya bahasa, desain, dan menu sebaiknya saling mendukung satu karakter yang sama. Pilih satu “rasa” yang ingin diingat pelanggan, lalu konsisten. Aktif dan Adaptif di Media Sosial Menurut ulasan IAM.id, Kopi Kenangan aktif di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Kontennya tidak melulu promosi. Ada humor, kadang absurd, dan mengikuti tren yang sedang ramai, tetapi tetap sesuai dengan karakter brand. Target utamanya jelas: audiens Gen Z dan milenial. Karena itu gaya komunikasinya santai dan dekat. Yang bisa kamu pelajari: Media sosial bukan papan iklan. Kombinasikan konten hiburan, informasi, dan promosi. Ikuti tren hanya kalau cocok dengan brand kamu. Kolaborasi dengan Kreator yang Terasa Natural Kopi Kenangan sering bekerja sama dengan influencer dan content creator. Pendekatannya cenderung memberi ruang kreator untuk bercerita dengan gaya sendiri, tidak kaku seperti membaca naskah iklan. Pelanggan lebih percaya rekomendasi yang terasa jujur. Karena itu, kecocokan karakter antara brand dan kreator sering lebih penting daripada jumlah pengikut. Yang bisa kamu pelajari: Pilih kreator yang memang cocok dengan brand kamu. Beri brief yang jelas, tapi sisakan ruang kreatif. Ukur hasilnya dari engagement dan penjualan, bukan hanya jangkauan. Digital dari Awal dan Fokus ke Pengalaman Pelanggan Kopi Kenangan dikenal dengan konsep grab-and-go: pesan cepat, ambil cepat. Bisnis.com juga mencatat bahwa CEO-nya melihat kerja sama dengan layanan pesan-antar sebagai cara menambah omzet. Menurut IAM.id, aplikasi pemesanan dan program loyalitas ikut memperkuat hubungan dengan pelanggan. Sistem digital seperti ini tidak hanya mempermudah transaksi. Datanya membantu brand memahami kebiasaan pelanggan dan menentukan lokasi gerai berikutnya. Yang bisa kamu pelajari: Mulai dari yang sederhana: katalog online, pemesanan lewat WhatsApp atau aplikasi, dan program poin. Yang penting, pelanggan merasa praktis. Ekspansi dengan Disiplin Modal Ekspansi cepat sering berisiko. Kopi Kenangan sendiri menekankan bahwa capaiannya bukan hasil tumbuh dengan segala cara, tetapi disiplin dalam mengalokasikan modal. Pernyataan ini disampaikan Edward Tirtanata saat memaparkan kinerja 2025. Beberapa langkah ekspansinya: Yang bisa kamu pelajari: Tumbuh cepat itu bagus, tapi pastikan satu gerai atau satu pasar sudah sehat dulu sebelum menambah yang baru. Hitung modal, bukan cuma ambisi. Rangkuman Strategi Intinya Mulai dari mana Harga Posisi jelas dan terjangkau Tentukan segmen dan kisaran harga Branding Karakter dan emosi yang konsisten Tulis tone of voice brand Media sosial Interaktif, bukan sekadar iklan Rencanakan konten mingguan Kreator Natural dan sesuai karakter Pilih mikro-kreator yang relevan Digital Praktis bagi pelanggan Buat sistem pesan dan poin sederhana Modal Tumbuh bertahap dan terukur Uji satu pasar sebelum ekspansi FAQ Siapa pendiri Kopi Kenangan? Edward Tirtanata dan James Prananto mendirikannya pada 2017. Edward menjabat sebagai CEO. Berapa jumlah gerai Kopi Kenangan? Hingga akhir 2025, jumlahnya lebih dari 1.300 gerai, dengan 1.173 di Indonesia, menurut IDNFinancials. Angka ini terus berubah karena ekspansi masih berjalan. Apakah Kopi Kenangan sudah ada di luar negeri? Sudah. Cabang luar negeri pertama dibuka pada Oktober 2022. Di pasar internasional, brand ini memakai nama Kenangan Coffee dan hadir di antaranya di Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Australia. Apakah strategi ini bisa dipakai brand non-kopi? Bisa. Prinsipnya universal: posisi harga jelas, karakter brand kuat, konten relevan, kolaborasi natural, sistem digital praktis, dan ekspansi yang disiplin. Penutup Keberhasilan Kopi Kenangan bukan hanya soal rasa kopi. Ada harga yang tepat, branding yang membekas, komunikasi digital yang dekat dengan audiens, dan disiplin dalam mengelola modal. Kamu tidak perlu langsung punya ratusan gerai. Mulailah dengan menerapkan satu atau dua pelajaran di atas, lalu ukur hasilnya. Mau brand kamu tumbuh dengan strategi influencer marketing dan konten yang tepat sasaran? Konsultasikan kebutuhanmu dengan tim yang berpengalaman di bidang ini. Referensi

SELENGKAPNYA
Carmen Hearts2Hearts Bikin Cap Lang Viral dengan Marketing Gratis?

Carmen Hearts2Hearts Bikin Cap Lang Viral dengan Marketing Gratis?

Kamu mungkin sudah dengar cerita soal minyak kayu putih Caplang dan My Baby yang belakangan jadi bahan obrolan ramai di media sosial. Kejadian ini bermula dari pengakuan sederhana Carmen, anggota grup Hearts2Hearts asal Bali, dalam sebuah video di kanal YouTube CuriousBrainLab. Dalam video itu, Carmen bercerita bahwa dia selalu memakai minyak kayu putih sebelum tidur, sebuah kebiasaan yang menurutnya biasa saja, tapi ternyata langsung menarik perhatian besar dari warganet Indonesia, seperti yang dilaporkan oleh VIVA Mindset pada 16 September 2026. Kalau kamu besar di keluarga Indonesia, kebiasaan mengoleskan minyak kayu putih sebelum tidur mungkin juga jadi bagian dari rutinitas malammu. Minyak kayu putih sudah lama dikenal sebagai warisan pengobatan tradisional yang dipakai untuk menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, atau mengurangi gejala pilek ringan. Hampir setiap rumah tangga di Indonesia menyimpannya di lemari obat, jadi ketika seorang idol K-Pop yang kini berkarier di Korea Selatan ternyata masih setia dengan kebiasaan ini, banyak orang merasa dekat secara emosional. Kebiasaan ini membuat sosok Carmen terasa semakin ‘lokal’ meski sudah menjadi idol internasional. Ini bukan pertama kalinya sebutan Carmen membuat produk sederhana mendadak jadi perbincangan. Masih menurut laporan yang sama, parfum pewangi pakaian Snuggle seharga sekitar Rp60 ribuan juga pernah viral setelah Carmen menyebutnya sebagai wewangian favorit dalam episode S2cret Diary bertajuk Getting Ready for Our First Trip to Jeju di kanal resmi Hearts2Hearts. Kecenderungan Carmen memilih produk yang terjangkau dan dekat dengan keseharian orang biasa inilah yang membuat setiap rekomendasi tak sengajanya selalu berhasil menarik perhatian, terutama di Indonesia. Kenapa Celetukan Carmen Jadi Marketing ‘Gratis’? Sejak cerita ini tersebar, tagar dan obrolan seputar Caplang dan My Baby ramai muncul di berbagai platform, mulai dari X, TikTok, sampai Instagram. Banyak warganet membagikan pengalaman serupa, mengaku bahwa keluarga mereka juga selalu menyediakan minyak kayu putih di samping tempat tidur. Bahkan tidak sedikit warganet dari luar negeri yang memamerkan pembelian mereka pada kedua produk itu, sampai ikut memenuhi kolom komentar sesi live penjualan untuk memastikan produk yang mereka beli benar-benar sama dengan yang dipakai Carmen. Kalau kamu perhatikan, momen ini menunjukkan bagaimana sebuah produk bisa mendapat perhatian luas tanpa kampanye iklan besar, hanya karena disebut secara natural oleh seseorang yang punya audiens setia. Fenomena semacam ini sering disebut sebagai bentuk pemasaran organik. Menurut kajian yang dimuat di jerkin.org soal strategi digital marketing di TikTok, konten yang terasa alami dan interaktif memang punya potensi lebih besar untuk viral dibandingkan konten yang terasa seperti iklan biasa. Gaya komunikasi ringan, musik populer, dan interaksi langsung antara figur publik dengan audiensnya menjadi faktor yang membuat konten seperti ini mudah menyebar. Namun kamu perlu ingat, viral saja tidak cukup untuk membuat sebuah brand benar-benar berkembang. Artikel dari RRI.co.id soal kunci UMKM bertahan di era digital menekankan bahwa keberhasilan usaha tidak cukup hanya dengan hadir di media sosial atau marketplace, melainkan harus dibarengi strategi pemasaran yang tepat dan konsistensi menjaga keaslian produk. Momen viral Carmen menarik justru karena terasa jujur dan tidak dibuat-buat, dan hal itu yang membuat konsumen mudah percaya. Strategi Marketing yang Bisa Dicontoh UMKM Kalau kamu menjalankan usaha kecil atau menengah, cerita Carmen ini bisa jadi bahan belajar yang berguna untuk strategi marketing sehari-hari. Salah satu pelajaran pertama adalah pentingnya kolaborasi dengan sosok yang punya audiens setia dan relevan dengan produkmu. Kajian dari UNIKOM tentang manfaat endorsement di media sosial terhadap UMKM di era Revolusi Industri 4.0 menyebutkan bahwa strategi ini efektif untuk meningkatkan penjualan, memperluas pangsa pasar, dan membangun kepercayaan konsumen, terutama kalau kolaborasi itu dilakukan dengan sosok yang memang cocok dengan nilai brand yang ditawarkan. Bedanya, dalam kasus Carmen, penyebutan itu terjadi secara natural, tanpa kesepakatan komersial, sehingga terasa lebih tulus di mata konsumen. Untuk kamu yang mengelola UMKM, ini jadi pengingat bahwa membangun hubungan jangka panjang dengan komunitas atau figur publik yang cocok dengan nilai brand kamu, bisa memberi dampak yang lebih tahan lama dibanding sekadar mengejar satu momen viral. Pelajaran kedua soal marketing adalah pentingnya adaptasi teknologi digital. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM yang dikutip dalam penelitian soal viral marketing pada UMKM, hanya sekitar 13 persen pelaku UMKM yang sudah mengadopsi teknologi digital dalam pemasarannya. Angka ini menunjukkan masih banyak peluang yang belum dimanfaatkan. Kalau kamu pemilik usaha kecil, mempelajari cara membuat konten yang relevan dan mengikuti tren terkini di platform seperti TikTok atau Instagram bisa menjadi langkah awal supaya produkmu punya kesempatan yang sama untuk dikenal lebih luas, seperti yang dialami Caplang dan My Baby. Pelajaran ketiga adalah soal inovasi produk sebagai fondasi jangka panjang. Penelitian tentang strategi inovasi produk pada UMKM keripik sayur menjelaskan bahwa inovasi memberi nilai tambah yang membantu pelaku usaha bertahan menghadapi persaingan pasar, sekaligus menjadi salah satu komponen kunci keberhasilan operasional bisnis. Sorotan publik yang datang secara mendadak sebaiknya kamu manfaatkan sebagai modal awal untuk terus mengembangkan kualitas dan variasi produk, bukan cuma dinikmati sebentar lalu ditinggalkan begitu saja. Cara Menjaga Momentum Marketing Kamu mungkin pernah dengar cerita pemilik usaha kecil yang kebingungan saat produknya tiba-tiba viral. Stok habis dalam semalam, pesanan menumpuk di berbagai platform, sementara tim produksi belum siap menambah kapasitas. Situasi ini memang sering terjadi, dan kalau tidak diantisipasi, momen viral yang seharusnya jadi kesempatan malah berubah jadi masalah operasional. Karena itu, penting bagi kamu untuk menyiapkan rencana cadangan sebelum sebuah produk mendapat perhatian besar, misalnya dengan menjalin hubungan baik dengan pemasok bahan baku, punya sistem pencatatan pesanan yang rapi, dan tim yang siap merespons cepat. Selain kesiapan operasional, kamu juga perlu memastikan komunikasi dengan konsumen tetap konsisten selama momen viral berlangsung. Merespons komentar dengan cepat, memberi informasi yang jelas soal ketersediaan stok, dan menjaga harga tetap wajar akan membantu menjaga kepercayaan konsumen yang baru mengenal produkmu. Kepercayaan ini yang nantinya menentukan apakah mereka akan kembali membeli produkmu setelah momen viral itu berlalu. Pada akhirnya, cerita Carmen dan minyak kayu putih ini mengajarkan sesuatu yang sederhana namun berguna untuk dunia marketing. Produk lokal punya kesempatan untuk dikenal luas kapan saja, bahkan tanpa rencana promosi besar, selama produk itu memang sudah punya kualitas dan kedekatan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kalau kamu sedang menjalankan usaha kecil, jadikan momen semacam ini sebagai pengingat untuk terus menjaga

SELENGKAPNYA
Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung dengan Modal Kecil

Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung dengan Modal Kecil

Warung kopi sekarang ada di mana-mana. Bukan cuma perasaan. Per November 2025, jumlah kafe dan warung kopi aktif di Indonesia tercatat sekitar 461.991 lokasi. Data ini menunjukkan Indonesia negara dengan kedai kopi terbanyak di dunia, mengungguli Amerika Serikat dan Vietnam (data Point of Interest via OpenStreetMap, dikutip Detik dan Beritasatu). Kabar baiknya, pasar ini masih tumbuh. Nilai pasar kopi Indonesia diperkirakan mencapai 11,58 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10 persen (Kompas.id, mengutip USDA dan Statista). Artinya, peluang untuk warung kopi masih terbuka, asal tahu caranya. Jadi, gimana caranya mengoptimalkan warung kopi agar rame pembeli di tengah menjamurkan coffee shop? Cara Bikin Warung Kopi Rame Pengunjung Berikut beberapa langkah yang bisa langsung diterapkan, mulai dari yang paling dasar sampai yang berkaitan dengan pengelolaan data. 1. Bangun suasana yang bikin betah. Orang datang ke warung kopi bukan cuma untuk minum kopi, tapi juga untuk kerja atau berkumpul. Meja bersih, pencahayaan hangat, musik dengan volume sedang, serta colokan listrik dan WiFi jadi hal dasar yang perlu diperhatikan. 2. Jaga rasa kopi tetap konsisten. Pakai takaran bahan yang sama setiap kali seduh, simpan biji kopi di wadah tertutup, dan latih staf agar racikan tidak berubah-ubah dari hari ke hari. 3. Manfaatkan media sosial dan Google Maps. Daftarkan warung di Google Maps atau Google Business supaya muncul saat orang mencari “warung kopi terdekat”, lalu unggah foto suasana dan menu secara rutin di Instagram atau TikTok. 4. Pakai sistem pencatatan digital. Pembayaran non-tunai seperti QRIS mempercepat transaksi, sementara laporan penjualan harian membantu melihat menu mana yang paling laku dan jam mana yang paling ramai. 5. Tambahkan variasi menu di luar kopi. Tidak semua pelanggan memesan kopi. Camilan seperti pisang goreng atau roti bakar, minuman non-kopi seperti teh tarik, atau menu berat sederhana bisa menjangkau pelanggan yang lebih luas. 6. Buat program yang bikin pelanggan balik lagi. Kartu stempel, diskon di jam tertentu, atau potongan harga di hari ulang tahun pelanggan bisa jadi alasan tambahan untuk kembali. 7. Ciptakan interaksi dan kegiatan komunitas. Menyapa pelanggan tetap, mengingat pesanan favorit mereka, atau mengadakan live music akustik dan gathering komunitas di akhir pekan membuat suasana lebih hidup. 8. Evaluasi rutin berdasarkan data penjualan. Memantau menu terlaris, jam kunjungan tertinggi, serta perbandingan pendapatan harian dan mingguan membantu menyesuaikan strategi sesuai kondisi nyata, bukan asumsi. Tren Bisnis Warung Kopi di Indonesia Saat Ini Konsumsi kopi domestik terus naik, dari 4,45 juta kantong pada 2020/2021 menjadi sekitar 4,8 juta kantong pada 2025 (BRMP Pertanian, mengutip laporan lembaga riset kopi). Pertumbuhan jumlah kedai kopi pun tidak hanya terjadi di kota besar, tapi juga merambah ke kota menengah dan pedesaan (Infonasional). Banyak warung kopi tradisional beradaptasi dengan menambahkan WiFi, memperbarui tata ruang, dan menyediakan kopi manual brew, sejalan dengan kebiasaan pelanggan yang berubah (Detik, CNA Indonesia). Sementara itu, kedai kopi bermerek modern seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa juga terus bertambah, dari sekitar 4.700 gerai saat ini diproyeksikan mencapai 9.500 gerai pada 2029 (Ondeway Sinergi Indonesia). Artinya, warung kopi tradisional dan kedai modern sama-sama tumbuh, dan bersaing di ruang yang sama. Tantangan yang Perlu Diperhatikan Dengan hampir setengah juta kedai kopi berebut pelanggan, persaingan makin dekat dengan lokasi masing-masing warung, dari kota besar sampai pedesaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pemilik warung: a. Diferensiasi jadi semakin penting Banyak kedai menawarkan menu yang serupa. Karena itu, pemilik warung perlu punya pembeda, misalnya dari cita rasa, menu khas, harga, konsep tempat, hingga pelayanan. b. Harga bahan baku bisa memengaruhi margin Harga kopi dan bahan pendukung dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar komoditas. Jika tidak diantisipasi, kenaikan biaya bahan baku bisa mengurangi keuntungan usaha. c. Pengalaman pelanggan ikut menentukan pilihan Pelanggan kini punya semakin banyak pilihan kedai di sekitar mereka. Selain rasa dan harga, kenyamanan tempat, kebersihan, kecepatan pelayanan, hingga kemudahan pembayaran bisa menjadi alasan pelanggan memilih untuk kembali. Kesimpulan Indonesia tercatat memiliki 461.991 kedai kopi aktif per November 2025, angka tertinggi di dunia, dengan pasar yang diperkirakan masih tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun. Kondisi ini membuka peluang, sekaligus berarti persaingan antar warung kopi juga semakin dekat dan padat, dari kota besar hingga pedesaan. Di tengah kondisi itu, warung kopi yang ramai biasanya menjalankan hal-hal dasar secara konsisten: suasana yang nyaman, rasa kopi yang stabil, promosi lewat media sosial dan Google Maps, pencatatan transaksi yang rapi, variasi menu, program loyalti sederhana, interaksi dengan pelanggan, serta evaluasi data secara berkala. Bagi pemilik warung kopi yang baru mulai atau sedang berkembang, langkah paling realistis adalah memilih dua atau tiga hal dari daftar cara di atas untuk dijalankan lebih dulu, lalu menambah secara bertahap sambil melihat data penjualan sebagai acuan.

SELENGKAPNYA
Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Di tengah banyaknya brand fashion yang menawarkan produk serupa, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki produk paling bagus atau harga paling murah. Konsumen juga mempertimbangkan bagaimana sebuah brand terlihat, berbicara, membawa nilai, dan membangun hubungan dengan audiensnya. Karena itu, branding menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis. Branding membantu konsumen memahami alasan sebuah produk berbeda dari pilihan lain yang tersedia di pasar. Identitas tersebut bisa dibentuk melalui tampilan visual, gaya komunikasi, pengalaman pelanggan, sampai sosok orang yang berada di balik bisnis. Salah satu brand yang menarik dipelajari dari sisi tersebut adalah Lafiye, brand fashion muslim lokal yang mengembangkan identitas melalui produk, visual, media sosial, serta personal branding figur di balik mereknya. Situs resmi LAFIYE menggambarkan brand tersebut sebagai brand yang dibuat untuk perempuan modern dengan penekanan pada keindahan, fungsi, gaya yang dapat digunakan dalam berbagai situasi, serta desain yang adaptif. Menariknya, strategi Lafiye tidak hanya menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Beberapa penelitian akademik telah menjadikan brand ini sebagai objek studi, mulai dari pengaruh brand image dan personal branding terhadap keputusan pembelian, penerapan visual merchandising, media monitoring, sampai hubungan antara social media marketing dan loyalitas pelanggan. Artinya, ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari perjalanan branding Lafiye. Bukan untuk menyalin strategi mereka secara mentah, melainkan memahami prinsip di baliknya dan menyesuaikannya dengan kondisi bisnis masing-masing. Berikut empat strategi branding Lafiye yang menarik untuk dipelajari oleh pemilik bisnis. 1. Personal Branding Owner Berjalan Bersama Brand Image Salah satu bagian yang menarik dari strategi branding Lafiye adalah hubungan antara identitas brand dengan sosok Sashfir sebagai founder LAFIYE. Situs resmi Lafiye sendiri menyebut Sashfir sebagai founder ketika membahas kegiatan LAFIYE Unveils 2026. Hubungan antara figur pendiri dan brand ini juga telah menjadi objek penelitian akademik. Dalam bisnis, personal branding owner dapat membantu sebuah brand terasa lebih manusiawi. Konsumen tidak hanya melihat nama perusahaan atau katalog produk, tetapi juga dapat mengenal pandangan, gaya, serta karakter orang yang membangun bisnis tersebut. Pendekatan seperti ini cukup relevan untuk bisnis yang banyak berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial. Founder dapat menjadi salah satu wajah yang membantu menyampaikan cerita, nilai, dan karakter brand secara lebih personal. Namun, ada satu pelajaran penting dari penelitian mengenai Lafiye: personal branding owner sebaiknya tidak menggantikan kekuatan brand image itu sendiri. Penelitian Balqis Bintang Paramita, Sri Indriani, dan Emmalia Adriantantri yang diterbitkan dalam El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam pada 2025 meneliti pengaruh brand image dan personal branding Sashfir terhadap keputusan pembelian produk hijab Lafiye. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 110 responden yang mengikuti Sashfir di media sosial dan memiliki pengalaman membeli produk Lafiye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image dan personal branding sama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dalam sampel penelitian tersebut. Akan tetapi, brand image menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan personal branding. Temuan ini memberikan pelajaran penting untuk pemilik usaha. Founder memang bisa menjadi pintu masuk agar orang tertarik mengikuti sebuah bisnis. Namun, dalam jangka panjang, brand tetap harus memiliki identitas yang bisa berdiri dengan kuat. Bayangkan seorang pemilik bisnis memiliki satu juta followers tetapi produk, pelayanan, desain, dan komunikasi mereknya berubah-ubah. Perhatian publik mungkin bisa diperoleh dengan cepat, tetapi perhatian tersebut belum tentu berubah menjadi kepercayaan terhadap brand. Sebaliknya, ketika personal branding founder dan brand image saling mendukung, keduanya bisa membentuk komunikasi yang lebih kuat. Pemilik bisnis dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana. A. Tentukan posisi founder di dalam komunikasi brand Tidak semua pemilik bisnis harus menjadi influencer. Founder bisa muncul sebagai edukator, ahli di bidang tertentu, orang yang menceritakan proses membangun usaha, atau figur yang membawa nilai tertentu. B. Pisahkan identitas personal dengan identitas perusahaan Walaupun saling berhubungan, brand tetap perlu memiliki karakter sendiri. Logo, warna, kualitas produk, pelayanan, tone of voice, sampai pengalaman pelanggan harus tetap konsisten meskipun founder tidak selalu tampil. C. Gunakan cerita yang benar-benar berkaitan dengan bisnis Daripada hanya mengunggah kehidupan pribadi, founder dapat membagikan proses pengembangan produk, alasan mengambil keputusan tertentu, pengalaman menghadapi tantangan bisnis, atau pengetahuan yang relevan dengan audiens. D. Tetap prioritaskan kualitas brand Penelitian mengenai Lafiye tadi menjadi pengingat bahwa brand image tetap memiliki posisi penting dalam keputusan pembelian. Jadi, personal branding sebaiknya digunakan untuk memperkuat perusahaan, bukan membuat perusahaan sepenuhnya bergantung kepada popularitas satu orang. Bagi UMKM atau bisnis yang masih berkembang, strategi ini bahkan dapat menjadi keunggulan. Perusahaan mungkin belum memiliki anggaran iklan besar, tetapi pemiliknya bisa mulai membangun kepercayaan melalui konten yang konsisten, relevan, dan menunjukkan kompetensi di bidangnya. 2. Konsistensi Visual Membuat Brand Lebih Mudah Dikenali Ketika konsumen menemukan sebuah brand untuk pertama kali di Instagram, TikTok, marketplace, atau website, mereka belum tentu langsung membaca seluruh informasi yang tersedia. Hal pertama yang sering terlihat justru elemen visual. Mulai dari warna, komposisi foto, pemilihan model, gaya produk, pencahayaan, sampai bagaimana katalog ditampilkan. Karena itu, tampilan visual bukan hanya urusan membuat feed terlihat cantik. Visual juga menjadi bagian dari cara bisnis membentuk persepsi konsumen. Strategi tersebut dapat dilihat dalam studi mengenai visual merchandising Lafiye. Penelitian Afifah Anggara Laksmi Khania dan Yuniana Cahyaningrum yang diterbitkan dalam Jurnal Tekstil: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Bidang Tekstil dan Manajemen Industri pada 2025 mengkaji bagaimana Lafiye melakukan visual merchandising di media sosial. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan mengambil data antara lain dari website serta akun Instagram resmi Lafiye. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Lafiye secara konsisten menerapkan sejumlah prinsip visual merchandising, termasuk penataan produk, pemilihan warna, pencahayaan, dan gaya fotografi yang diselaraskan dengan identitas merek serta preferensi target pasar. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa strategi visual ini memperkuat citra merek dan membantu membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Dari sini, ada pelajaran sederhana tetapi penting, konsistensi visual membuat brand memiliki pola yang lebih mudah dikenali. Konsumen tidak harus selalu melihat logo terlebih dahulu untuk mengenali sebuah brand. Pada merek yang identitas visualnya sudah kuat, kombinasi warna, fotografi, tata letak, atau gaya kontennya sendiri bisa menjadi tanda pengenal. Namun, konsistensi visual tidak berarti seluruh desain harus sama. Kalau semua konten dibuat dengan template yang identik, hasilnya justru bisa terasa monoton. Yang perlu konsisten adalah sistem visualnya. Misalnya sebuah bisnis dapat menentukan: Sebagai contoh, bisnis yang

SELENGKAPNYA
Dikichi Fried Chicken: Profil, Ekspansi, dan Strategi Bisnisnya

Dikichi Fried Chicken: Profil, Ekspansi, dan Strategi Bisnisnya

Bisnis kuliner di Indonesia terus berkembang dengan munculnya berbagai brand baru, termasuk di kategori makanan cepat saji. Salah satu brand yang menarik perhatian adalah Dikichi Fried Chicken, yang berada di bawah naungan PT Dua Pendekar Ayam. Meski perusahaan ini baru berdiri pada 2024, Dikichi telah melakukan ekspansi ke sejumlah kota di Indonesia. Perkembangan tersebut menarik untuk diperhatikan, khususnya bagi pelaku UMKM kuliner yang ingin mengetahui bagaimana sebuah bisnis makanan membangun produk dan memperluas pasarnya. Dikichi, Brand Fried Chicken yang Berdiri Sejak 2024 Dikichi merupakan brand fried chicken yang berada di bawah PT Dua Pendekar Ayam. Berdasarkan informasi pada situs resminya, perusahaan ini didirikan pada 2024 dan berpusat di Malang, Jawa Timur. Dikichi membawa konsep fast food dengan fried chicken sebagai salah satu produk utamanya. Perusahaan juga mencantumkan visi untuk menjadi salah satu perusahaan fried chicken terkemuka di Indonesia. Usia perusahaan yang relatif muda membuat perkembangan Dikichi menjadi menarik untuk diamati. Alih-alih hanya beroperasi di satu wilayah, brand ini mulai memperluas kehadirannya ke berbagai kota. Bagi pelaku bisnis kuliner, perkembangan tersebut dapat menjadi contoh bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun sistem bisnis yang dapat diterapkan ketika pasar semakin luas. Ekspansi Dikichi ke Sejumlah Kota di Indonesia Salah satu hal yang paling terlihat dari perkembangan Dikichi adalah penyebaran gerainya. Berdasarkan informasi yang tercantum di situs resmi Dikichi, brand ini telah memiliki 19 gerai di 13 kota dan 3 provinsi. Kota-kota yang tercantum antara lain Malang, Jember, Kediri, Mojokerto, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Bandung, Cirebon, Blitar, Sidoarjo, Tegal, dan Tulungagung. Perluasan tersebut menunjukkan bahwa Dikichi tidak hanya membidik pasar di kota asalnya. Brand ini mulai hadir di berbagai wilayah dengan karakter konsumen yang berbeda. Ekspansi seperti ini tentu membutuhkan lebih dari sekadar membuka tempat makan baru. Perusahaan perlu memastikan operasional setiap gerai dapat berjalan, kebutuhan tenaga kerja terpenuhi, kualitas produk tetap terjaga, dan brand dapat dikenal oleh konsumen di wilayah baru. Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting yang dapat dipelajari UMKM. Ketika ingin membuka cabang, pemilik usaha sebaiknya tidak hanya menghitung biaya pembangunan gerai, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia, pemasok, standar operasional, dan potensi pasar di lokasi baru. Produk Dikichi Selain Fried Chicken Meskipun fried chicken menjadi identitas utama brand, pilihan produk Dikichi tidak hanya terbatas pada ayam goreng. Dalam situs resminya, Dikichi mencantumkan beberapa kategori menu seperti fried chicken, burger, dimsum, kentang goreng, es krim, sundae, dan minuman. Keberadaan beberapa kategori produk memberikan pilihan yang lebih beragam bagi konsumen. Dari sisi bisnis, variasi produk juga dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pelanggan yang berbeda dalam satu gerai. Namun, bukan berarti UMKM harus langsung memiliki banyak menu untuk bisa bersaing. Bagi usaha kecil, pengembangan produk justru dapat dilakukan secara bertahap. Pemilik usaha dapat mempertahankan produk utama sebagai identitas bisnis, kemudian menambahkan beberapa produk pendamping yang masih sesuai dengan target pasar dan kemampuan produksi. Dengan begitu, penambahan menu tidak hanya mengejar jumlah pilihan, tetapi tetap mempertimbangkan biaya bahan baku, kapasitas produksi, margin keuntungan, serta tingkat permintaan pelanggan. Strategi Dikichi yang Bisa Ditiru? Perkembangan Dikichi dapat menjadi contoh menarik bagi UMKM kuliner yang sedang membangun bisnis. Namun, strategi perusahaan besar tidak harus ditiru secara mentah. Ada beberapa prinsip yang dapat disesuaikan dengan skala usaha. 1. Pastikan Produk Utama Memiliki Identitas Dalam bisnis kuliner yang kompetitif, konsumen perlu memiliki alasan untuk memilih satu brand dibandingkan kompetitornya. UMKM dapat memulainya dengan menentukan produk utama yang ingin dikenal. Misalnya ayam crispy dengan sambal khas, burger dengan resep tertentu, atau minuman dengan karakter rasa yang berbeda. Identitas produk akan membantu usaha lebih mudah dikenali, terutama ketika banyak kompetitor menawarkan kategori makanan yang serupa. 2. Kembangkan Menu Sesuai Kebutuhan Pasar Penambahan menu sebaiknya tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren. UMKM perlu melihat produk mana yang paling banyak dibeli, produk mana yang memberikan margin baik, dan produk apa yang sesuai dengan kebiasaan pelanggan. Dengan data sederhana dari penjualan harian atau bulanan, pemilik usaha dapat menentukan menu yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau bahkan dihentikan. 3. Jangan Terburu-buru Membuka Cabang Memiliki banyak cabang memang dapat menjadi tanda pertumbuhan bisnis. Namun, ekspansi juga meningkatkan kompleksitas operasional. Sebelum membuka cabang, UMKM sebaiknya memastikan bisnis pertama sudah memiliki sistem yang cukup stabil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: Jika fondasi tersebut belum siap, ekspansi justru dapat menambah beban bisnis. Digital Marketing Penting untuk Bisnis Kuliner Selain produk dan lokasi, pemasaran juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis kuliner. Media sosial memungkinkan UMKM memperkenalkan produk kepada konsumen tanpa harus mengandalkan promosi konvensional. Konten mengenai menu, proses produksi, promo, pelanggan, hingga aktivitas di gerai dapat digunakan untuk membangun awareness. Bank Indonesia juga mencatat bahwa digitalisasi pemasaran dapat membantu UMKM memperluas akses pasar dan meningkatkan visibilitas produk. Penggunaan kanal digital seperti marketplace, landing page, Google Ads, hingga live selling dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran UMKM. Karena itu, UMKM tidak harus memiliki anggaran pemasaran sebesar perusahaan besar. Yang lebih penting adalah konsisten membangun kehadiran digital dan memastikan konten yang dibuat relevan dengan target konsumen. Kesimpulan Dikichi Fried Chicken merupakan salah satu brand kuliner yang menarik untuk diamati karena perusahaan yang berdiri pada 2024 tersebut telah melakukan ekspansi ke berbagai kota. Berdasarkan informasi di situs resminya, Dikichi kini memiliki 19 gerai yang tersebar di 13 kota dan 3 provinsi. Namun, pelajaran yang dapat diambil UMKM bukan sekadar mengenai jumlah cabang. Pertumbuhan bisnis kuliner membutuhkan kombinasi antara produk yang kuat, pengembangan menu, pemasaran, operasional, sumber daya manusia, dan kesiapan bisnis untuk berkembang. UMKM tidak harus langsung memiliki banyak cabang untuk menjadi kompetitif. Dengan memahami target pasar, membangun produk yang memiliki identitas, memanfaatkan pemasaran digital, menjaga kualitas, serta mempersiapkan sistem dan legalitas sejak awal, usaha kecil pun dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk berkembang. Jadi, ketika brand baru terus bermunculan, bukan berarti UMKM harus ikut berlomba membuka cabang. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis memiliki alasan yang kuat untuk terus dipilih pelanggan.

SELENGKAPNYA
Artisan Milk Tea di Indonesia: Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala

Artisan Milk Tea di Indonesia: Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala

Artisan milk tea menjadi salah satu kategori minuman yang semakin menarik perhatian konsumen Indonesia. Bukan hanya karena tren minuman kekinian, tetapi juga karena konsumen mulai memperhatikan kualitas teh, bahan baku, kadar gula, hingga pengalaman yang ditawarkan sebuah brand. Di tengah pasar yang semakin ramai, Teazzi, Sancha, dan Tianlala hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ada yang menonjolkan pengalaman minum teh premium, ada yang membangun citra modern dan minimalis, sementara lainnya bermain di harga yang lebih terjangkau. Lalu, seperti apa persaingan artisan milk tea di Indonesia dan apa yang bisa dipelajari UMKM dari ketiga brand tersebut? Apa Itu Artisan Milk Tea? Secara sederhana, artisan milk tea adalah teh susu yang dibuat dengan lebih menekankan kualitas bahan dan proses pembuatannya. Berbeda dari minuman teh susu yang menggunakan bubuk instan atau sirup sebagai bahan utama, artisan milk tea umumnya menggunakan daun teh asli yang diseduh dengan teknik tertentu. Tujuannya adalah mempertahankan aroma, rasa, dan karakter alami teh. Beberapa brand juga menggunakan teknik penyeduhan bertekanan tinggi untuk menghasilkan ekstrak teh yang lebih kuat. Hasilnya, rasa teh tetap terasa jelas ketika dicampur dengan susu tanpa harus mengandalkan rasa manis berlebihan. Itulah yang membuat pengalaman minum artisan milk tea bisa terasa berbeda. Konsumen tidak hanya mendapatkan rasa manis dan creamy, tetapi juga bisa mengenali karakter teh seperti jasmine, oolong, atau roasted tea. Konsep ini sebenarnya sudah populer di negara seperti Taiwan dan Tiongkok. Di Indonesia, tren tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan konsumen muda yang tertarik dengan produk yang memiliki rasa khas sekaligus tampilan menarik. Alasan Bisnis Artisan Milk Tea Ramai di Indonesia Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk bisnis minuman teh. Nilai pasar minuman teh di Indonesia, termasuk kategori seperti boba tea, diperkirakan mencapai sekitar US$2,28 miliar atau sekitar Rp34 triliun pada 2023. Angka tersebut juga mencakup hampir 47% dari total pasar minuman teh di Asia Tenggara. Potensi tersebut membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi berbagai brand minuman dari dalam maupun luar negeri. Persaingan kemudian tidak hanya datang dari pemain lama. Brand seperti Teazzi, Sancha, dan Tianlala ikut menawarkan konsep milk tea yang lebih modern dengan karakter masing-masing. Di sisi lain, konsumen juga semakin selektif. Mereka tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi mulai melihat kualitas bahan, tingkat kemanisan, tampilan produk, hingga citra brand. Karena itu, menjual milk tea saja tidak lagi cukup. Brand harus memiliki alasan yang jelas mengapa konsumen harus memilih produknya dibanding kompetitor. Teazzi, Sancha, dan Tianlala Punya Strategi Berbeda Meski sama-sama bermain di kategori teh dan milk tea, Teazzi, Sancha, dan Tianlala tidak sepenuhnya menyasar konsumen dengan cara yang sama. Perbedaan positioning inilah yang menarik untuk diperhatikan, terutama bagi pelaku UMKM yang ingin membangun bisnis minuman. 1. Teazzi Teazzi merupakan brand asal Taiwan yang berdiri sejak 2014 dan mulai beroperasi di Indonesia pada 2021. Salah satu kekuatan Teazzi adalah pilihan menu berbasis teh oolong, seperti Deep Roast Oolong Milk Tea, Seasons Oolong Milk Tea, dan Honey Oolong Milk Tea. Harga produknya berada di kisaran Rp30.000-an untuk beberapa menu milk tea, meskipun sejumlah varian lain memiliki harga yang lebih tinggi. Dari sisi branding, Teazzi tampil lebih playful tapi terkesan simple. Warna, desain gerai, dan tampilan produknya dibuat agak mencolok sehingga mudah menarik perhatian konsumen muda. Pendekatan tersebut juga cocok dengan kebiasaan konsumen yang gemar membagikan pengalaman kuliner di media sosial. Dengan kata lain, Teazzi tidak hanya menjual minuman. Produk sekaligus menjadi bagian dari pengalaman visual yang ingin dibagikan konsumen. 2. Sancha Sancha mengambil pendekatan yang berbeda. Jika Teazzi tampil lebih playful, Sancha justru mengedepankan visual yang minimalis dengan warna dan desain yang lebih lembut. Positioning tersebut membuat Sancha terlihat lebih tenang, modern, dan premium. Konsepnya juga cocok untuk konsumen urban yang menginginkan minuman dengan rasa yang lebih ringan dan tingkat kemanisan yang tidak berlebihan. Beberapa menu Sancha berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp48.000, tergantung jenis menu, lokasi, dan metode pembelian. Sancha juga mengklaim sebagai brand artisan milk tea lokal pertama di Indonesia sejak 2024 dan telah mengantongi sertifikasi halal. Yang menarik, strategi Sancha tidak terlalu bergantung pada campaign besar yang agresif. Brand lebih banyak membangun konsistensi visual, produk, dan positioning. Jadi sebuah brand tidak selalu harus menjadi yang paling ramai untuk terlihat premium. Konsistensi juga bisa menjadi kekuatan. 3. Tianlala Berbeda dari dua brand sebelumnya, Tianlala lebih menonjolkan sisi keterjangkauan. Tianlala menawarkan berbagai jenis minuman, mulai dari fresh fruit tea, milk tea, shaker series, hingga es krim. Harga beberapa produknya bahkan dimulai dari sekitar Rp8.000. Salah satu menu yang cukup dikenal adalah Blooming Jasmine Milk Tea, yang menggabungkan aroma teh melati dengan rasa susu yang creamy. Tianlala juga menawarkan ukuran 500 ml dengan harga sekitar Rp20.000-an pada sejumlah menu, sehingga menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa harus mengeluarkan budget sebesar brand premium. Strategi ini membuat Tianlala memiliki positioning yang berbeda. Jika brand lain membangun daya tarik melalui pengalaman premium, Tianlala lebih dekat dengan konsep minuman enak, kekinian, dan tetap ramah di kantong. Perbandingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala Kalau dilihat secara sederhana, ketiganya memiliki kekuatan yang berbeda: Brand Positioning Kekuatan Utama Teazzi Modern Branding visual dan menu berbasis oolong Sancha Minimalis & premium Konsistensi brand dan pengalaman yang lebih tenang Tianlala Affordable Harga terjangkau dengan pilihan menu yang beragam Artinya, persaingan mereka sebenarnya tidak selalu terjadi di titik yang sama. Teazzi berusaha memenangkan perhatian melalui visual dan pengalaman, Sancha melalui konsistensi dan kesan premium, sedangkan Tianlala melalui harga dan aksesibilitas. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa brand dengan produk yang mirip tetap bisa memiliki pasar masing-masing. UMKM Diantara Persaingan Artisan Milk Tea Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala memberikan pelajaran penting bagi UMKM. Tidak semua bisnis harus memiliki modal besar untuk bisa bersaing. Yang lebih penting adalah mengetahui posisi bisnis dan alasan konsumen memilih produk tersebut. 1. Tentukan Positioning Sebelum Mengejar Banyak Pelanggan Jangan hanya bertanya, “Bagaimana supaya produk saya laku?” Coba mulai dengan pertanyaan: “Kenapa konsumen harus memilih produk saya?” Apakah karena harganya lebih terjangkau? Rasanya lebih autentik? Bahannya lebih berkualitas? Atau pengalaman membeli produknya lebih menarik? Positioning yang jelas akan membuat strategi bisnis dan pemasaran menjadi lebih terarah. 2. Jangan Mengorbankan

SELENGKAPNYA
Strategi Kopi Kenangan dalam Membangun Brand yang Kuat

Strategi Kopi Kenangan dalam Membangun Brand yang Kuat

Kopi Kenangan merupakan salah satu contoh brand lokal yang menarik untuk dipelajari ketika membahas perkembangan bisnis kopi modern di Indonesia. Didirikan pada 2017 oleh Edward Tirtanata, James Prananto, dan Cynthia Chaerunnisa, Kopi Kenangan sejak awal mencoba mengisi celah antara kopi instan yang murah dan jaringan kedai kopi internasional yang relatif mahal. Model bisnisnya menggabungkan gerai fisik dengan pemesanan digital melalui aplikasi. Dalam beberapa tahun, pertumbuhannya berlangsung cukup cepat. Pada 2021, Kopi Kenangan mengumumkan statusnya sebagai perusahaan new retail F&B unicorn pertama di Asia Tenggara setelah memperoleh pendanaan Seri C. Saat itu, perusahaan telah memiliki lebih dari 600 gerai di 45 kota dan mempekerjakan lebih dari 3.000 orang. Perkembangannya tidak berhenti di Indonesia. Pada 2023, Kopi Kenangan menyebut telah mengoperasikan sekitar 900 outlet di tiga negara. Pada 2025, perusahaan juga merayakan pembukaan gerai ke-1.000 Kenangan Brands di Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya membuat brand ini bisa berkembang begitu cepat? Pasar Kopi Indonesia dan Perilaku Konsumen Pertumbuhan Kopi Kenangan tidak bisa dilepaskan dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi kopi. Kopi saat ini tidak hanya dipandang sebagai minuman untuk menghilangkan rasa kantuk. Bagi sebagian konsumen, membeli kopi juga sudah menjadi bagian dari rutinitas, gaya hidup, hingga aktivitas sosial. Survei GoodStats yang dilakukan pada Maret 2024 terhadap 1.005 responden menemukan bahwa 66% responden lebih memilih membeli kopi di kedai kopi dibanding menyeduhnya sendiri di rumah, sementara 34% memilih membuat kopi sendiri. Namun, data tersebut perlu dibaca secara proporsional. Survei GoodStats merupakan survei online dan bukan representasi seluruh populasi Indonesia. Karena itu, angka tersebut lebih tepat digunakan untuk melihat indikasi perilaku konsumen, bukan untuk menyimpulkan bahwa dua pertiga seluruh masyarakat Indonesia selalu membeli kopi dari kedai. Kelompok usia muda juga menjadi pasar yang penting. Dalam survei Jakpat pada 6–9 Desember 2024 terhadap 1.115 responden Gen Z, sebanyak 896 responden menyatakan mengonsumsi kopi. Dari kelompok peminum kopi tersebut, 35% mengonsumsi kopi dari kafe, 27% mengonsumsi kopi kemasan, dan 20% mengonsumsi kopi dari pedagang kaki lima. Yang menarik, di antara responden Gen Z yang mengonsumsi kopi dari kafe, Kopi Kenangan menjadi merek yang paling banyak dikonsumsi dengan persentase 60%, diikuti Janji Jiwa 56%, Fore 54%, Tomoro 36%, dan Tuku 28%. Data ini memberikan konteks penting: Kopi Kenangan tidak tumbuh di pasar yang kosong. Justru, brand ini berkembang ketika pilihan konsumen semakin banyak dan persaingan kedai kopi semakin ketat. Sejarah Singkat Kopi Kenangan Kopi Kenangan memulai operasinya pada 2017 dengan sebuah gerai kecil. Pendiriannya berangkat dari gagasan untuk menghadirkan kopi berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan jaringan kopi internasional, tetapi tetap menawarkan pengalaman yang lebih modern dibandingkan kopi instan atau kopi yang dijual di warung. Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui model new retail, yaitu menggabungkan pengalaman offline melalui gerai dengan kemudahan transaksi online. Pertumbuhan perusahaan berlangsung cukup agresif. Dalam waktu sekitar empat tahun sejak berdiri, Kopi Kenangan telah memiliki lebih dari 600 gerai di 45 kota. Pada periode tersebut, perusahaan juga telah menjual sekitar 40 juta cangkir kopi dalam 12 bulan terakhir sebelum pengumuman pendanaan Seri C. Pada 2021, Kopi Kenangan kemudian resmi menjadi perusahaan new retail F&B unicorn pertama di Asia Tenggara. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Kopi Kenangan bukan hanya berasal dari pembukaan gerai, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menggabungkan produk, harga, distribusi, teknologi, dan komunikasi brand. Strategi Marketing Kopi Kenangan Jika harus dirangkum dalam satu strategi besar, kekuatan pemasaran Kopi Kenangan terletak pada kemampuannya membuat produk kopi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari konsumen. Hal ini terlihat dari bagaimana brand membangun identitas, menentukan produk, menggunakan kanal digital, hingga memperluas akses konsumen. 1. Nama Brand dan Produk yang Mudah Diingat Salah satu elemen yang paling mudah dikenali adalah penggunaan nama “Kenangan”. Nama tersebut tidak terdengar seperti istilah teknis dalam industri kopi. Sebaliknya, kata “kenangan” merupakan sesuatu yang mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi. Pendekatan serupa terlihat dalam sejumlah penamaan menu yang menggunakan istilah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan budaya populer. Secara pemasaran, nama produk seperti ini mempunyai satu keuntungan penting yaitu lebih mudah dibicarakan. Ketika sebuah nama produk terasa unik atau relevan dengan pengalaman konsumen, produk tersebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi bahan percakapan maupun konten media sosial. Kajian akademik mengenai branding Kopi Kenangan Mantan juga menunjukkan adanya hubungan antara strategi penamaan produk dengan pembentukan brand image. Artinya, nama produk tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu menu dengan menu lainnya. Dalam kasus tertentu, nama produk juga bisa menjadi bagian dari komunikasi brand. 2. Harga yang Menjembatani Dua Segmen Kopi Kenangan juga sejak awal mencoba mengambil posisi di antara dua pilihan yang sudah ada di pasar: kopi murah yang mudah ditemukan dan kopi dari jaringan internasional dengan harga lebih tinggi. Perusahaan sendiri menjelaskan bahwa konsep awal Kopi Kenangan memang ditujukan untuk mengisi celah antara kopi mahal dari jaringan internasional dan kopi instan yang banyak tersedia di Indonesia. Positioning semacam ini penting karena konsumen tidak selalu mencari produk yang paling murah atau paling premium. Ada konsumen yang menginginkan produk dengan kualitas dan pengalaman yang terasa lebih baik, tetapi tetap mempertimbangkan harga. Kopi Kenangan kemudian mempertahankan pendekatan tersebut ketika memperluas produknya. Pada 2024, misalnya, Kenangan Brands meluncurkan Satu Kenangan sebagai lini fresh brew dengan harga yang lebih ekonomis untuk menjangkau pasar konsumen yang lebih luas. 3. Digitalisasi Kopi Kenangan Kopi Kenangan juga menjadikan aplikasi sebagai bagian penting dari pengalaman pelanggan. Melalui aplikasi, konsumen dapat melakukan pemesanan lebih dahulu untuk pickup atau delivery, sehingga tidak harus selalu mengantre di gerai. Aplikasi tersebut juga memiliki sistem Kenangan Points dan berbagai manfaat keanggotaan. Dalam ketentuan aplikasinya, Kopi Kenangan juga menjelaskan adanya program loyalty seperti Kenangan Points dan Kenangan VIP yang dapat digunakan pelanggan ketika melakukan transaksi. Bagi bisnis, pendekatan seperti ini memberikan manfaat lebih dari sekadar transaksi. Ketika konsumen melakukan pembelian melalui kanal milik brand, perusahaan mempunyai saluran langsung untuk memberikan informasi mengenai produk, promosi, membership, dan berbagai penawaran lainnya. Dengan kata lain, aplikasi menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pembelian sekaligus mempertahankan hubungan dengan pelanggan. 4. Distribusi yang Membuat Brand Mudah Ditemukan Strategi pemasaran tidak akan maksimal jika konsumen sulit menemukan produknya. Karena itu, ekspansi gerai menjadi bagian penting dari pertumbuhan Kopi Kenangan. Pada 2023, perusahaan menyebut telah memiliki

SELENGKAPNYA
Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Belakangan ini, persaingan Indomie dan Mie Gaga kembali ramai dibicarakan. Bukan cuma soal mana yang lebih enak, tetapi juga karena banyak warganet mulai membandingkan keduanya dari rasa, harga, varian, hingga sejarah di balik mereknya. Namun, kalau dilihat lebih jauh, persaingan ini sebenarnya menarik dari sisi strategi bisnis. Indomie tumbuh sebagai bagian dari ekosistem bisnis Indofood yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, produksi, hingga distribusi. Indofood bahkan menyebut model bisnisnya sebagai Total Food Solutions, dengan skala dan jaringan distribusi yang menjadi salah satu kekuatannya. Di sisi lain, Mie Gaga berada di bawah PT Jakarana Tama, perusahaan yang telah berdiri sejak 1980 dan tidak hanya bermain di mi instan, tetapi juga produk makanan kaleng, sosis siap makan, serta bumbu. Perusahaan ini juga mengembangkan berbagai merek untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda. Artinya, persaingan keduanya bukan sekadar “Indomie vs Gaga, siapa yang rasanya lebih enak?” Ada strategi tentang membangun merek, membaca selera pasar, memperluas varian produk, membangun distribusi, hingga memanfaatkan momentum ketika sebuah produk menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Lalu, bagaimana sebenarnya para founder ini pecah kongsi hingga menghasilkan brand mie yang saling jadi kompetitor? Yuk, kita bahas! Awal Mula Indomie Cikal bakal Indomie bermula dari PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang berdiri pada April 1970 sebagai anak usaha Djangkar Djati Group. Perusahaan ini didirikan oleh Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yaitu Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Merek Indomie sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 1972, menjadikannya produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia setelah Supermi, yang lebih dulu dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis. Produk pertama yang diperkenalkan Indomie ke publik adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, rasa yang saat itu memang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie, yang menandakan produk ini memang dirancang untuk pasar lokal sejak awal berdiri. Kelahiran Indomie juga berkaitan dengan kondisi pangan nasional saat itu. Penciptaan Indomie dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras yang terjadi di Indonesia pada masa itu, sehingga mi instan hadir sebagai salah satu alternatif pangan yang lebih mudah diproduksi secara massal. Sarimi dan Strategi Agresif Salim Group Situasi mulai berubah pada awal 1980-an, ketika Salim Group yang dipimpin Liem Sioe Liong, atau yang dikenal dengan nama Sudono Salim, memutuskan masuk ke bisnis mi instan lewat merek Sarimi yang diproduksi melalui PT Sarimi Asli Jaya. Menurut penelusuran Historia.id yang mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, dua peneliti yang secara khusus menulis riwayat bisnis Salim Group, langkah Salim masuk ke industri mi didorong oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang ingin mengurangi ketergantungan pada beras impor. Pada 1978 saja, pemerintah Indonesia tercatat menghabiskan sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat hanya untuk mengimpor beras, dan sebagian gaji pegawai negeri serta tentara pada masa itu masih dibayarkan dalam bentuk beras. Momentum ini semakin kuat karena Salim Group sudah lebih dulu memiliki Bogasari, pabrik penggilingan gandum yang menurut situs resmi Indofood mulai diintegrasikan ke dalam bisnis grup pada pertengahan 1990-an, meski operasional awalnya sudah berjalan sejak 1971. Dengan bahan baku tepung yang sudah dikuasai sendiri, Salim Group punya modal besar untuk terjun ke industri hilir mi instan. Ketika Sarimi diluncurkan, Salim Group menggarap pasar dengan sangat agresif. Salim Group menyediakan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk memasarkan Sarimi dan memasang harga jual di bawah Indomie maupun Supermi. Hasilnya, dalam waktu setahun saja Sarimi berhasil menguasai sekitar 40 persen pasar mi instan nasional. Data pangsa pasar 40 persen ini juga dikutip secara konsisten oleh Tempo dan beberapa media lain yang menelusuri arsip sejarah industri mi instan, sehingga bisa dianggap sebagai angka yang cukup teruji lewat berbagai sumber independen. PT Indofood Interna: Titik Temu Djajadi Djaja dan Salim Group Salim Group sempat mengajak Djajadi untuk bekerja sama, tapi tawaran ini awalnya ditolak. Setelah penolakan itu, Salim semakin gencar memasarkan Sarimi hingga pangsa pasarnya melonjak tajam, dan tekanan ini yang akhirnya membuat Djajadi mempertimbangkan kembali sikapnya. Namun pada 1984, keduanya resmi membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dalam pembagian sahamnya, Djajadi dan rekan-rekannya memegang 57,5 persen saham, sementara Salim Group memegang 42,5 persen saham. Posisi CEO di perusahaan gabungan ini pun masih dipercayakan kepada orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli, sesuai catatan yang dihimpun Serayunews dari berbagai sumber sejarah bisnis. Akuisisi Supermi dan Dominasi Salim di Industri Mi Instan Bergabungnya Indomie dan Sarimi dalam satu perusahaan membuat posisi mereka di pasar semakin kuat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah bergabung, usaha patungan ini sudah cukup kuat untuk mengakuisisi merek terkenal lainnya, yaitu Supermi, yang pada 1986 diambil alih setelah perusahaannya mengalami masalah internal dan produksinya menurun. Fakta akuisisi Supermi pada 1986 ini juga tercatat dalam ensiklopedia bisnis Universitas STEKOM Semarang yang menyusun linimasa resmi perjalanan Indofood berdasarkan dokumen korporat, sehingga memperkuat validitas tanggal tersebut. Dampak dari penguasaan pasar ini cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun Historia.id, pada 1994, tahun ketika Indofood resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia, Salim Group menguasai hampir 80 persen pasar mi instan nasional, dengan rincian Indomie menguasai 60,3 persen, Supermi 7,8 persen, Sarimi 6,7 persen, dan sisanya sekitar 4 persen dikuasai merek lain. Pada tahun yang sama, Indofood bahkan tercatat sebagai produsen mi instan terbesar di dunia, melampaui Nissin Food Products, perusahaan asal Jepang yang menjadi pelopor mi instan secara global sejak 1958. Awal Konflik Perusahaan Mie Indonesia Kesuksesan besar yang diraih PT Indofood Interna ternyata tidak berjalan mulus bagi Djajadi dalam jangka panjang. Pada 1993, Djajadi menghadapi kesulitan finansial yang cukup serius, dan kondisi ini menjadi celah bagi Salim Group untuk mengambil alih seluruh kepemilikan dan kendali perusahaan. Proses pergeseran kendali dari Djajadi ke Salim Group ini sebenarnya berlangsung bertahap, dengan sejumlah sumber sejarah bisnis mencatat bahwa penguasaan penuh oleh Salim Group terjadi antara 1992 hingga 1993. Djajadi tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, dan bagian inilah yang justru punya jejak dokumen paling kuat secara hukum. Pada 1999, Djajadi melayangkan gugatan kepada PT Indofood Sukses Makmur dan empat mantan pejabatnya terkait pembelian merek dagang yang dilakukan perusahaan tersebut pada pertengahan 1980-an. Yang membuat informasi ini cukup kredibel untuk dijadikan rujukan, CNBC Indonesia secara

SELENGKAPNYA
Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Rahasia Sukses Martabak Pecenongan 78 hingga Punya Ratusan Cabang

Martabak Pecenongan 78 menjadi salah satu contoh usaha kuliner yang berhasil bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan di Indonesia. Di saat banyak warung makan atau restoran hanya ramai di awal lalu perlahan sepi hingga akhirnya tutup, Martabak Pecenongan 78 justru mampu terus berkembang selama puluhan tahun dan memiliki ratusan cabang. Perjalanan bisnis Martabak Pecenongan 78 tentu tidak selalu mulus. Pada masa-masa awal berdiri, usaha ini sempat mengalami berbagai tantangan dan jatuh bangun sebelum akhirnya dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Jakarta, bahkan di berbagai daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk strategi bisnis mereka hingga mampu bertahan selama 62 tahun. Terus, apa yang membuat Martabak Pecenongan 78 tetap eksis di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat? Awal Mula Martabak Pecenongan 78 Awalnya usaha ini cuma modal gerobak sederhana, tapi berhasil diterima masyarakat dari berbagai kalangan. Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner, usaha keluarga yang udah diwariskan turun temurun ini terus cari cara baru dan nggak berhenti di zona nyaman. Buktinya kelihatan jelas waktu pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Saat banyak usaha kuliner lain justru gulung tikar karena pembatasan sosial dan daya beli yang turun, Martabak Pecenongan 78 malah buka ratusan cabang baru. Kalau kamu pernah jalanin usaha kecil di masa pandemi, kamu pasti tahu betapa beratnya ambil keputusan buat ekspansi di tengah situasi yang serba nggak pasti kayak gitu. Kebanyakan pemilik usaha justru milih bertahan aman, kurangi stok, bahkan tutup sementara karena takut rugi lebih besar. Konsistensi Jadi Fondasi Usaha Martabak Pecenongan 78 Salah satu godaan terbesar buat pemilik usaha itu keinginan buat selalu ikutin tren yang lagi rame. Begitu ada satu jenis makanan viral di media sosial, banyak pengusaha kuliner yang langsung tergoda buat banting setir ikutin arah pasar yang lagi naik daun. Owner punya pandangan yang beda soal ini. Menurut dia, langkah kayak gitu bukan strategi yang tepat buat jaga usaha tetap bertahan dalam jangka panjang. Tren itu sifatnya cuma sementara, sedangkan konsistensi jadi faktor utama yang bikin sebuah usaha bisa bertahan sampai puluhan tahun. Pengalaman kayak gini mungkin kerasa familiar buat kamu yang pernah ngurus usaha makanan atau minuman kekinian. Ingat nggak waktu tren kopi kekinian lagi booming beberapa tahun lalu? Banyak pengusaha yang buru buru ganti konsep usahanya jadi kedai kopi, padahal sebelumnya jualan jenis makanan lain sama sekali. Sebagian dari mereka berhasil, tapi nggak sedikit juga yang akhirnya kehilangan ciri khas usahanya dan pelanggan setia karena kebanyakan gonta ganti arah. Pemilik usaha sebaiknya tetap konsisten sama produk yang mereka jual, sambil terus cari peluang di sekitar buat dikembangkan lebih jauh lagi. Martabak Pecenongan 78 sendiri dari awal berdiri sampai sekarang tetap fokus di menu martabak sebagai produk utamanya. Meski begitu, mereka tetap ikutin selera pasar dengan cara berinovasi di variasi menu, contohnya ngeluarin martabak Sultan yang ukurannya besar banget dengan tampilan lebih mewah. Selain dari sisi produk, mereka juga fleksibel dalam cara komunikasi ke target pasar mereka. Kalau dulu promosi cuma mengandalkan cerita dari mulut ke mulut antar pelanggan, sekarang mereka aktif kelola media sosial dan lebih mengutamakan layanan pesan online, salah satunya lewat kerja sama dengan airasia food. Pelajaran ini sebenarnya berlaku buat usaha apa pun yang lagi kamu jalanin, nggak terbatas di bisnis kuliner aja. Kalau kamu punya toko baju, usaha jasa, atau bahkan usaha rumahan kecil kecilan, konsistensi di produk inti sambil tetap terbuka sama cara pemasaran baru bisa jadi jalan tengah yang lebih aman dibanding ubah total arah bisnis setiap kali muncul tren baru. Jaga Kepercayaan Meski Usaha Makin Besar Tantangan lain yang sering dihadapi pemilik usaha adalah gimana caranya jaga kualitas ketika skala bisnis makin besar. Semakin banyak cabang yang dibuka, semakin besar juga risiko standar kualitas produknya mulai turun karena susah diawasin secara menyeluruh. Kalau kualitas udah nggak jadi prioritas utama, pelanggan pasti bakal kecewa, dan ujung ujungnya bikin performa bisnis secara keseluruhan ikut menurun. Kondisi kayak gini yang coba dihindari Rey (owner) sejak awal dia mulai ngurus usaha keluarga ini. Sebagai generasi penerus, dia selalu naruh kualitas di posisi paling penting demi jaga kepercayaan pelanggan. Harga martabak dari Pecenongan 78 memang lebih tinggi dibanding merek martabak lain di pasaran. Tapi Rey bilang, harga segitu sebanding sama kualitas rasa dan bahan baku yang dipakai. Dia juga mengaku, dalam situasi mendesak, misalnya waktu harga bahan baku lagi mahal mahalnya, godaan buat ganti bahan dengan kualitas lebih rendah demi tekan biaya produksi pasti ada. Tapi dia milih hindari langkah itu, karena buat dia kepercayaan pelanggan itu modal yang harus terus dijaga. Kamu yang pernah belanja di tempat langganan terus ngerasain kualitasnya menurun drastis, pasti paham betapa gampangnya kepercayaan itu hilang begitu ada penurunan mutu, walaupun cuma terjadi sekali doang. Banyak pelanggan yang langsung berhenti beli setelah satu kali dapet pengalaman kurang enak, meski sebelumnya udah jadi pelanggan setia bertahun tahun. Ini nunjukkin kalau jaga kualitas itu bukan cuma soal jaga rasa produk aja, tapi juga soal jaga hubungan jangka panjang sama orang yang udah percaya sama usaha kamu. Selain jaga kualitas produk, Martabak Pecenongan 78 juga bangun sistem buat nampung kritik dan masukan dari pelanggan secara serius. Mereka punya layanan call center yang siap tanggapi keluhan pelanggan soal produk mereka. Selama puluhan tahun beroperasi, komitmen ini terus dijaga supaya pelanggan selalu dapet pengalaman terbaik setiap kali beli produk mereka. Langkah seperti ini penting buat kamu pertimbangkan kalau lagi bangun usaha, soalnya pelanggan yang keluhannya ditanggapi dengan baik biasanya lebih loyal dibanding pelanggan yang ngerasa diabaikan setelah nyampein masalahnya. Kolaborasi Martabak Pecenongan 78 Strategi ketiga yang dibagikan Rey soal keterbukaan terhadap kolaborasi. Menurut dia, kolaborasi jadi salah satu cara buat perkuat posisi bisnis di tengah persaingan usaha kuliner yang makin ketat sekarang ini. Martabak Pecenongan 78 nggak cuma kerja sama sama sejumlah figur publik dan influencer buat pasarin produknya, tapi juga terbuka sama kerja sama dengan layanan pesan antar makanan online, salah satunya airasia food. Rey jelasin, nama besar AirAsia yang udah dikenal luas sama masyarakat Indonesia jadi salah satu pertimbangan penting buat Martabak Pecenongan 78 gabung sebagai mitra merchant. Menurut dia, selama empat bulan jadi mitra airasia food, bisnis Martabak Pecenongan 78 ngalamin peningkatan transaksi

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Membangun Loyalitas Pelanggan

Coba deh kamu inget-inget, kapan terakhir kali kamu beli minuman teh kemasan di minimarket? Besar kemungkinan salah satu pilihan yang kepikiran di kepala kamu adalah Teh Pucuk Harum. Bukan kebetulan lho kalau merek ini selalu ada di rak paling depan, selalu nongol di iklan TV, dan tagline-nya bahkan bisa kamu nyanyikan tanpa sadar. Semua itu bukan hasil keberuntungan, tapi buah dari strategi marketing yang dirancang dengan sangat matang. Buat kamu yang penasaran gimana caranya satu merek teh siap minum bisa bertahan dan terus jadi favorit di tengah persaingan ketat sama Teh Botol Sosro, Frestea, dan puluhan merek lain, artikel ini bakal bongkar tuntas rahasianya. Menariknya lagi, pelajaran dari kesuksesan Teh Pucuk Harum ini sebenarnya bisa banget kamu contek buat strategi bisnis umkm yang sedang kamu jalankan atau rencanakan, karena prinsip dasarnya sama aja, cuma skalanya yang beda. Kenalan Dulu Sama Teh Pucuk Harum Teh Pucuk Harum adalah minuman teh siap minum rasa melati yang diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan dari grup Mayora Indah. Produk ini dibuat dari pucuk daun teh pilihan yang diolah pakai teknologi Advanced Sterilizing Technology atau AST, sebuah metode sterilisasi modern yang bikin rasa dan kesegaran teh tetap terjaga tanpa harus pakai bahan pengawet berlebihan. Sejak diluncurkan, Teh Pucuk Harum langsung tancap gas masuk ke pasar teh siap minum yang sebenarnya udah cukup padat pemainnya. Tapi uniknya, merek ini nggak cuma sekadar numpang lewat, malah berhasil jadi salah satu pemain utama. Nah, di sinilah letak menariknya, karena kesuksesan itu nggak lepas dari cara mereka membangun merek dari berbagai sisi sekaligus, mulai dari suara, harga, sampai cerita yang mereka tanamkan ke benak konsumen. Strategi Marketing Teh Pucuk Harum Sebelum kita bedah satu-satu strategi Teh Pucuk Harum, penting buat paham dulu kenapa strategi marketing itu krusial. Menurut pemikiran Philip Kotler dan Kevin Lane Keller yang tertuang dalam buku Marketing Management, buat bisa unggul di persaingan pasar, perusahaan wajib punya strategi yang jelas soal segmentasi, targeting, dan positioning, atau yang sering disingkat STP. Segmentasi artinya membagi pasar jadi kelompok-kelompok konsumen dengan karakteristik yang mirip. Targeting berarti memilih kelompok mana yang paling potensial buat digarap. Sementara positioning adalah usaha membangun citra khusus di benak konsumen supaya merek kamu langsung kepikiran duluan dibanding kompetitor. Nah, teori ini bukan cuma teori kosong ya, karena kalau kamu perhatikan baik-baik, setiap langkah yang diambil Teh Pucuk Harum ternyata selaras banget sama konsep STP ini. Mereka nggak asal bikin iklan atau nurunin harga, tapi semuanya terukur dan punya tujuan jelas buat menempel di ingatan konsumen. Ini juga jadi pelajaran penting buat siapa pun yang lagi merancang strategi bisnis umkm, karena tanpa arah yang jelas soal siapa target pasar kamu, promosi sebagus apa pun bakal terasa sia-sia. 1. Suara Jadi Identitas Teh Pucuk Harum Salah satu hal yang paling kepikiran dari Teh Pucuk Harum adalah jingle-nya yang ceria dan gampang banget diingat. Coba deh, hampir semua orang yang sering nonton TV pasti bisa nyenandungin nada khasnya. Ini adalah bagian dari strategi audio branding yang sengaja dirancang buat memperkuat citra merek lewat indra pendengaran. Selain jingle, mereka juga memanfaatkan suara-suara alami seperti gemericik air dan kicauan burung di beberapa materi promosinya. Suara-suara ini dipilih bukan asal-asalan, tapi buat menegaskan kesan segar dan alami yang jadi nilai jual utama produk mereka. Pakar branding Martin Lindstrom pernah menekankan bahwa suara punya kekuatan besar dalam membentuk ingatan konsumen terhadap sebuah merek, bahkan kadang lebih kuat dibanding elemen visual sekalipun, karena suara punya sifat yang lebih sulit diabaikan otak manusia dibanding gambar yang bisa kita hindari dengan mudah. Dengan strategi audio yang konsisten kayak gini, Teh Pucuk Harum berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai sonic branding, yaitu identitas suara yang khas sehingga begitu kamu dengar jingle-nya, otak kamu langsung otomatis mengasosiasikannya sama produk ini. Buat pelaku strategi bisnis umkm, ini bisa jadi inspirasi sederhana, misalnya bikin jingle pendek atau suara khas yang gampang diingat pelanggan, meskipun modalnya nggak sebesar produksi iklan TV nasional. 2. Harga yang Bersaing Kalau kamu perhatikan, harga Teh Pucuk Harum di pasaran cenderung kompetitif dibanding merek sejenis. Bukan berarti mereka asal jual murah, tapi ini adalah bagian dari strategi harga penetrasi yang memang sengaja diterapkan buat menarik konsumen sebanyak mungkin sekaligus memperluas pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat. Strategi ini sebenarnya bagian dari konsep bauran pemasaran yang lebih luas, yang dalam dunia marketing modern sering dikenal dengan istilah 7P, yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence. Dari sisi produk, Teh Pucuk Harum hadir dalam berbagai ukuran kemasan supaya konsumen bisa milih sesuai kebutuhan, entah buat langsung diminum atau buat stok di rumah. Dari sisi harga, mereka pilih jalur yang bersaing biar konsumen nggak mikir dua kali buat beli. Sementara dari sisi distribusi, produk ini bisa kamu temuin di mana-mana, mulai dari warung kecil, minimarket, supermarket, pasar tradisional, sampai aplikasi layanan antar makanan dan minuman. Yang menarik, pendekatan distribusi yang luas dan merata ini sebenarnya jadi salah satu kunci kenapa produk bisa terus diingat konsumen. Soalnya, sebagus apa pun sebuah merek, kalau susah dicari saat konsumen butuh, ya percuma juga. Ini poin penting yang sering kelewat dalam strategi bisnis umkm, di mana banyak usaha kecil fokus habis-habisan di promosi tapi lupa memastikan produknya gampang diakses calon pembeli. 3. Tagline Sederhana dan Maskot yang Bikin Gemes “Pucuk-Pucuk-Pucuk.” Kalau kamu baca kalimat itu, kemungkinan besar kamu langsung kebayang jingle-nya kan? Nah, itulah kekuatan dari tagline sederhana yang diulang-ulang. Pengulangan kata yang simpel kayak gini ternyata efektif banget buat menempel di ingatan orang, apalagi kalau dipadukan sama maskot ulat yang lucu dan gampang dikenali secara visual. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan gagasan tentang ekuitas merek atau brand equity yang dipopulerkan oleh David Aaker, seorang pemikir branding ternama. Menurutnya, kesadaran merek atau brand awareness adalah salah satu fondasi utama dari kekuatan sebuah merek, dan salah satu cara paling efektif buat membangun kesadaran itu adalah lewat pengulangan pesan yang konsisten dan mudah dikenali, baik dari sisi bahasa maupun visual. Semakin sering dan semakin sederhana pesan itu diulang, semakin besar peluangnya buat nyangkut di kepala konsumen tanpa mereka sadari. Kombinasi tagline yang catchy dan maskot yang menggemaskan

SELENGKAPNYA