Daftar Isi

Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Pekan Raya Jakarta (PRJ) adalah salah satu event dagang terbesar di Asia Tenggara, yang setiap tahunnya mampu menarik jutaan pengunjung dan memutarkan uang dalam jumlah yang luar biasa. PRJ 2024 mencatat total transaksi sebesar Rp 7,5 triliun dengan 6,3 juta pengunjung selama 33 hari penyelenggaraan.

Bahkan di tahun 2025, meski durasinya dipangkas jadi hanya 25 hari karena berbagi jadwal dengan Indo Defence, perputaran uangnya masih tembus Rp 7,3 triliun dengan 5,9 juta pengunjung.

Angka itu sesuatu yang gak luput dari perhatian para pelaku bisnis.

Setiap tahun, ribuan brand dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, fashion, makanan dan minuman, teknologi, sampai produk kecantikan, rela mengeluarkan biaya besar untuk ikut serta. Sewa stan di PRJ bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter per bulan.

Artinya, untuk stan berukuran 3×3 meter saja, sebuah brand harus menyiapkan dana sekitar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta, belum termasuk biaya desain booth, produksi materi promosi, gaji karyawan, dan operasional selama event berlangsung.

Tapi nyatanya, brand-brand ini bukan cuma datang sekali. Mereka terus kembali setiap tahun. Ada apa?

PRJ, Event Tahunan dengan Jutaan Pengunjung

Kalau kamu pikir brand-brand besar ikut PRJ semata-mata untuk mengejar penjualan di tempat, kamu hanya melihat sebagian kecil dari gambar besar.

PRJ adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana brand bisa berinteraksi langsung dengan jutaan konsumen dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Brand exposure dalam skala masif yang sulit dicapai lewat media mana pun dalam waktu singkat.

Dalam dunia pemasaran, ada yang disebut sebagai experiential marketing, yaitu strategi membangun hubungan antara brand dan konsumen melalui pengalaman langsung.

Pendekatan ini terbukti jauh lebih efektif dibanding iklan satu arah. Konsumen yang merasakan langsung produk atau berinteraksi dengan perwakilan brand memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk membeli, bahkan menjadi pelanggan setia jangka panjang.

Philip Kotler, pakar marketing global yang sering dirujuk dalam studi pemasaran, menyatakan bahwa pengalaman langsung konsumen dengan brand di titik kontak fisik (physical touchpoint) memiliki pengaruh yang jauh lebih dalam terhadap keputusan pembelian dibandingkan paparan iklan digital.

Pendekatan ini relevan dengan kondisi pasar Indonesia yang masih sangat berorientasi pada pengalaman tatap muka dan kepercayaan personal.

PRJ adalah arena physical touchpoint yang ideal. Di sini, brand punya kendali penuh untuk menciptakan kesan pertama yang kuat, memperkenalkan produk baru, mengumpulkan feedback langsung dari konsumen, dan memperkuat posisi di benak pasar yang sangat kompetitif.

Ribuan Tenant, Gimana Cara Menonjol?

PRJ 2025 diikuti oleh 2.550 tenant dengan 1.550 stan. Bayangkan ada ribuan booth berdiri berdampingan dalam satu area. Pengunjung berjalan, matanya bergerak cepat dari satu booth ke booth lain.

Baca juga  Strategi Marketing IKEA di Industri Furniture

Dalam situasi seperti ini, hanya booth yang tampil berbeda yang punya peluang untuk dilirik. Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai.

Brand tidak cuma bersaing lewat produk. Di arena seperti PRJ, mereka bersaing lewat bagaimana mereka terlihat. Desain booth, signage, backdrop, pencahayaan, layout area display, bahkan merchandise yang dibagikan secara gratis, semuanya bekerja bersama untuk menciptakan satu hal: perhatian pengunjung.

Menurut kajian dalam jurnal Jurnal Impresi Indonesia (JII, Vol. 4, No. 7, Juli 2025), visualisasi desain booth yang kuat secara signifikan meningkatkan daya tarik pengunjung, dengan rata-rata peningkatan interaksi bisnis sebesar 35% dibandingkan booth dengan tampilan standar.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa desain booth bukan hanya soal estetika, melainkan bagian integral dari strategi pemasaran B2B maupun B2C yang efektif, terutama dalam konteks pameran berskala besar.

Di level yang lebih praktis, penelitian tentang visual merchandising dalam sebuah event promosi, yang dipublikasikan di jurnal MESMAN (DOI: 10.56709/mesman.V4.i1.644, September 2024), menunjukkan bahwa penerapan elemen estetika pada desain booth, dikombinasikan dengan promosi yang tepat, berhasil meningkatkan minat beli konsumen hingga 35%.

Elemen yang paling berpengaruh adalah tampilan visual booth, promosi harga, dan kualitas pelayanan di lapangan.

Artinya, investasi pada tampilan booth bukan pemborosan. Ini adalah bagian dari strategi yang punya dampak nyata terhadap hasil akhir.

Booth Adalah Wajah Brand di Mata Pengunjung

Ketika seseorang berjalan di lorong PRJ, keputusan untuk mampir atau terus berjalan sering kali terjadi dalam hitungan detik. Otak manusia memproses informasi visual jauh lebih cepat dibandingkan teks atau audio.

Dan dalam kondisi ramai seperti PRJ, stimulus visual yang kuat adalah satu-satunya cara untuk menghentikan langkah pengunjung. Itu sebabnya brand-brand yang serius soal kehadiran di PRJ tidak pernah menyepelekan desain booth mereka.

Ada beberapa elemen yang menentukan apakah sebuah booth mampu menarik perhatian atau justru tenggelam di antara keramaian:

Konsistensi identitas brand.

Warna, logo, tipografi, dan gaya visual harus selaras dan mencerminkan karakter brand secara konsisten. Ketika desain booth secara harmonis mencerminkan identitas merek, pengunjung secara otomatis merasa familiar dan terhubung, sehingga lebih cenderung untuk mendekat dan berinteraksi.

Psikologi warna.

Pemilihan warna bukan sekadar soal selera estetika. Setiap warna memiliki asosiasi psikologis yang memengaruhi emosi dan perilaku pengunjung. Warna merah menciptakan urgensi dan menarik perhatian, cocok untuk promosi batas waktu.

Warna biru memberi kesan profesional dan dapat dipercaya. Warna hijau diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Brand yang memahami psikologi warna bisa menggunakannya untuk memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan.

Elemen interaktif.

Booth yang hanya memajang produk tanpa mengundang interaksi akan terasa pasif. Layar sentuh, demo produk langsung, spot foto yang instagramable, atau aktivitas sederhana yang melibatkan pengunjung, semua ini menciptakan pengalaman yang berkesan dan membuat orang lebih lama tinggal di booth.

Baca juga  MR DIY: Berani Beda, Dominasi melalui Kota Pinggiran

Pencahayaan dan detail finishing.

Pencahayaan yang baik tidak hanya membuat produk terlihat lebih menarik, tapi juga menciptakan suasana yang nyaman untuk berinteraksi. Detail finishing yang rapi menunjukkan bahwa brand serius dan profesional, sebuah sinyal kepercayaan yang kuat bagi konsumen.

Signage dan backdrop yang kuat.

Di tengah kerumunan, signage yang jelas dan backdrop yang eye-catching adalah cara tercepat untuk membuat orang tahu siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan.

Brand yang menggunakan signage dengan pesan yang tajam dan visual yang kuat akan jauh lebih mudah diingat.

Kenapa Brand Besar Terus Kembali Setiap Tahun?

Jawabannya sederhana: return on investment (ROI) yang tidak hanya datang dari penjualan langsung. Brand-brand yang konsisten hadir di PRJ memahami bahwa investasi mereka bekerja di beberapa level sekaligus:

a. Brand awareness yang masif.

Jutaan orang yang melewati atau mampir ke booth kamu dalam satu bulan adalah angka yang hampir mustahil dicapai lewat kampanye digital dengan anggaran yang sama.

b. Direct selling yang signifikan.

PRJ dikenal sebagai event di mana brand-brand justru memberi penawaran terbaik mereka, promosi eksklusif, harga khusus, bundling produk, atau peluncuran produk baru. Ini menarik konsumen yang sudah dalam mode pembelian.

c. Customer feedback real-time.

Tidak ada riset pasar yang lebih jujur dari percakapan langsung dengan konsumen di booth. Brand bisa mendengar langsung apa yang disukai, apa yang kurang, dan apa yang diinginkan pasar.

d. Networking B2B.

Di balik keramaian konsumen, PRJ juga menjadi tempat bertemunya brand dengan distributor, reseller, mitra bisnis potensial, bahkan media. Satu pertemuan di PRJ bisa membuka peluang kerja sama jangka panjang yang nilainya jauh melebihi biaya sewa stan.

e. Positioning kompetitif.

Hadir di PRJ adalah pernyataan bahwa brand kamu serius, relevan, dan layak diperhitungkan. Absen dari PRJ sementara kompetitor hadir bisa memberi sinyal negatif kepada konsumen maupun mitra bisnis.

Direktur JIExpo Karuna Murdaya menegaskan bahwa Jakarta Fair bukan sekadar ajang jual beli, tapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM, dengan puluhan ribu tenaga kerja yang terserap setiap tahunnya.

Merchandise dan Materi Promosi

Di luar desain booth yang megah, ada satu elemen yang sering diremehkan tapi punya dampak panjang: merchandise dan materi promosi.

Ketika pengunjung meninggalkan booth kamu dengan sebuah totebag, pulpen branded, brosur yang didesain dengan apik, atau sample produk, mereka membawa lebih dari sekadar benda fisik.

Mereka membawa pengingat tentang brand kamu yang akan terus bekerja bahkan setelah PRJ berakhir.

Baca juga  Strategi Wings Group Membuat Produk Terlihat Sehat & Berkualitas

Merchandise yang relevan dan berkualitas memperpanjang shelf life dari kehadiran brand di PRJ. Seorang pengunjung yang menggunakan totebag berlogo brand kamu di luar arena pameran secara tidak langsung menjadi brand ambassador yang berjalan.

Ini adalah bentuk pemasaran yang biayanya sudah terbayar saat event berlangsung tapi manfaatnya terus berjalan jauh setelahnya.

Namun, merchandise yang asal-asalan justru bisa merusak citra. Kualitas buruk, desain yang tidak konsisten dengan identitas brand, atau pilihan item yang tidak relevan dengan target pasar, semua ini bisa mengurangi kesan positif yang ingin dibangun.

Kesimpulan

Bagi brand yang memahami permainannya, PRJ bukan sekadar biaya yang besar. Ini adalah investasi strategis dengan potensi return yang berlapis, dari penjualan langsung, brand awareness, networking, hingga insight pasar yang mahal nilainya.

Tapi seperti investasi apa pun, hasilnya sangat tergantung pada persiapan. Brand yang hadir dengan booth yang menarik, strategi promosi yang matang, tim yang terlatih, dan materi pendukung yang berkualitas akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dibandingkan yang hadir asal-asalan.

Di arena PRJ yang ramai dan penuh persaingan, satu-satunya cara untuk tidak tenggelam adalah tampil dengan keyakinan penuh. Dari booth, signage, backdrop, hingga merchandise yang dibawa pulang pengunjung, semuanya adalah bagian dari narasi brand yang kamu bangun.

Referensi

  • Tempo.co. (2025, Juli 14). Jakarta Fair 2025 Berakhir, Perputaran Uang Capai Rp 7,3 Triliun. https://www.tempo.co/ekonomi/jakarta-fair-2025-berakhir-perputaran-uang-capai-rp-7-3-triliun-1995270
  • Kompas.com. (2025, Juli 14). PRJ 2025 Berakhir, Pengunjung Turun, tapi Transaksi Tembus Rp 7 Triliun. https://megapolitan.kompas.com/read/2025/07/14/06281011/prj-2025-berakhir-pengunjung-turun-tapi-transaksi-tembus-rp-7-triliun
  • Fortune IDN. (2025, Juli 14). Jakarta Fair 2025 Gaet 5,9 Juta Pengunjung, Transaksi Capai Rp7,3 T. https://www.fortuneidn.com/news/jakarta-fair-2025-gaet-5-9-juta-pengunjung-transaksi-capai-rp7-3-t
  • Kementerian PANRB. (2024). Total Nilai Transaksi Jakarta Fair Kemayoran 2024 Capai Rp7,5 Triliun. https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/berita-daerah/total-nilai-transaksi-jakarta-fair-kemayoran-2024-capai-rp7-5-triliun
  • KBR.ID. Harga Sewa Stan di PRJ Rp 2 Juta per Meter. https://kbr.id/articles/indeks/harga-sewa-stan-di-prj-rp-2-juta-per-meter
  • Bhalla, S., & Anuraag, S. (2013). Visual Merchandising. McGraw-Hill Education.
  • Diamond, J., & Diamond, E. (2011). Fashion Retailing: A Multi-Channel Approach. Pearson.
  • Kotler, P., & Keller, K. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
  • Jurnal MESMAN. (2024, September). Efektivitas Penerapan Visual Merchandising pada Event PCE untuk Meningkatkan Minat Beli Konsumen di PT. Bintang Permata Sejati. DOI: 10.56709/mesman.V4.i1.644. https://www.researchgate.net/publication/388863843
  • Jurnal Impresi Indonesia (JII). (2025, Juli). Visualisasi Desain Booth dan Efektivitasnya terhadap Interaksi Bisnis B2B, Vol. 4, No. 7. https://jii.rivierapublishing.id
  • Wang et al. (2023). Dikutip dalam JII Vol. 4, No. 7 — tentang peran desain dalam memengaruhi persepsi pembeli pada setting pameran dagang.
  • Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 61 Tahun 2019 tentang Persetujuan Penyelenggaraan Pameran Dagang. https://jdih.kemendag.go.id/peraturan/peraturan-menteri-perdagangan-nomor-61-tahun-2019-tentang-persetujuan-penyelenggaraan-pameran-dagang
  • Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Pasal 77.
  • Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 7 Tahun 2021 tentang MICE.
  • PP Nomor 5 Tahun 2021 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (KBLI 82301).

Daftar Isi