Artisan milk tea menjadi salah satu kategori minuman yang semakin menarik perhatian konsumen Indonesia. Bukan hanya karena tren minuman kekinian, tetapi juga karena konsumen mulai memperhatikan kualitas teh, bahan baku, kadar gula, hingga pengalaman yang ditawarkan sebuah brand.
Di tengah pasar yang semakin ramai, Teazzi, Sancha, dan Tianlala hadir dengan pendekatan yang berbeda.
Ada yang menonjolkan pengalaman minum teh premium, ada yang membangun citra modern dan minimalis, sementara lainnya bermain di harga yang lebih terjangkau.
Lalu, seperti apa persaingan artisan milk tea di Indonesia dan apa yang bisa dipelajari UMKM dari ketiga brand tersebut?
Apa Itu Artisan Milk Tea?
Secara sederhana, artisan milk tea adalah teh susu yang dibuat dengan lebih menekankan kualitas bahan dan proses pembuatannya.
Berbeda dari minuman teh susu yang menggunakan bubuk instan atau sirup sebagai bahan utama, artisan milk tea umumnya menggunakan daun teh asli yang diseduh dengan teknik tertentu.
Tujuannya adalah mempertahankan aroma, rasa, dan karakter alami teh.
Beberapa brand juga menggunakan teknik penyeduhan bertekanan tinggi untuk menghasilkan ekstrak teh yang lebih kuat.
Hasilnya, rasa teh tetap terasa jelas ketika dicampur dengan susu tanpa harus mengandalkan rasa manis berlebihan.
Itulah yang membuat pengalaman minum artisan milk tea bisa terasa berbeda.
Konsumen tidak hanya mendapatkan rasa manis dan creamy, tetapi juga bisa mengenali karakter teh seperti jasmine, oolong, atau roasted tea.
Konsep ini sebenarnya sudah populer di negara seperti Taiwan dan Tiongkok.
Di Indonesia, tren tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan konsumen muda yang tertarik dengan produk yang memiliki rasa khas sekaligus tampilan menarik.
Alasan Bisnis Artisan Milk Tea Ramai di Indonesia
Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk bisnis minuman teh.
Nilai pasar minuman teh di Indonesia, termasuk kategori seperti boba tea, diperkirakan mencapai sekitar US$2,28 miliar atau sekitar Rp34 triliun pada 2023.
Angka tersebut juga mencakup hampir 47% dari total pasar minuman teh di Asia Tenggara.
Potensi tersebut membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi berbagai brand minuman dari dalam maupun luar negeri.
Persaingan kemudian tidak hanya datang dari pemain lama. Brand seperti Teazzi, Sancha, dan Tianlala ikut menawarkan konsep milk tea yang lebih modern dengan karakter masing-masing.
Di sisi lain, konsumen juga semakin selektif. Mereka tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi mulai melihat kualitas bahan, tingkat kemanisan, tampilan produk, hingga citra brand.
Karena itu, menjual milk tea saja tidak lagi cukup. Brand harus memiliki alasan yang jelas mengapa konsumen harus memilih produknya dibanding kompetitor.
Teazzi, Sancha, dan Tianlala Punya Strategi Berbeda
Meski sama-sama bermain di kategori teh dan milk tea, Teazzi, Sancha, dan Tianlala tidak sepenuhnya menyasar konsumen dengan cara yang sama.
Perbedaan positioning inilah yang menarik untuk diperhatikan, terutama bagi pelaku UMKM yang ingin membangun bisnis minuman.
1. Teazzi
Teazzi merupakan brand asal Taiwan yang berdiri sejak 2014 dan mulai beroperasi di Indonesia pada 2021.
Salah satu kekuatan Teazzi adalah pilihan menu berbasis teh oolong, seperti Deep Roast Oolong Milk Tea, Seasons Oolong Milk Tea, dan Honey Oolong Milk Tea.
Harga produknya berada di kisaran Rp30.000-an untuk beberapa menu milk tea, meskipun sejumlah varian lain memiliki harga yang lebih tinggi.
Dari sisi branding, Teazzi tampil lebih playful tapi terkesan simple. Warna, desain gerai, dan tampilan produknya dibuat agak mencolok sehingga mudah menarik perhatian konsumen muda.
Pendekatan tersebut juga cocok dengan kebiasaan konsumen yang gemar membagikan pengalaman kuliner di media sosial.
Dengan kata lain, Teazzi tidak hanya menjual minuman. Produk sekaligus menjadi bagian dari pengalaman visual yang ingin dibagikan konsumen.
2. Sancha
Sancha mengambil pendekatan yang berbeda. Jika Teazzi tampil lebih playful, Sancha justru mengedepankan visual yang minimalis dengan warna dan desain yang lebih lembut.
Positioning tersebut membuat Sancha terlihat lebih tenang, modern, dan premium. Konsepnya juga cocok untuk konsumen urban yang menginginkan minuman dengan rasa yang lebih ringan dan tingkat kemanisan yang tidak berlebihan.
Beberapa menu Sancha berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp48.000, tergantung jenis menu, lokasi, dan metode pembelian.
Sancha juga mengklaim sebagai brand artisan milk tea lokal pertama di Indonesia sejak 2024 dan telah mengantongi sertifikasi halal.
Yang menarik, strategi Sancha tidak terlalu bergantung pada campaign besar yang agresif. Brand lebih banyak membangun konsistensi visual, produk, dan positioning.
Jadi sebuah brand tidak selalu harus menjadi yang paling ramai untuk terlihat premium. Konsistensi juga bisa menjadi kekuatan.
3. Tianlala
Berbeda dari dua brand sebelumnya, Tianlala lebih menonjolkan sisi keterjangkauan.
Tianlala menawarkan berbagai jenis minuman, mulai dari fresh fruit tea, milk tea, shaker series, hingga es krim.
Harga beberapa produknya bahkan dimulai dari sekitar Rp8.000. Salah satu menu yang cukup dikenal adalah Blooming Jasmine Milk Tea, yang menggabungkan aroma teh melati dengan rasa susu yang creamy.
Tianlala juga menawarkan ukuran 500 ml dengan harga sekitar Rp20.000-an pada sejumlah menu, sehingga menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa harus mengeluarkan budget sebesar brand premium.
Strategi ini membuat Tianlala memiliki positioning yang berbeda.
Jika brand lain membangun daya tarik melalui pengalaman premium, Tianlala lebih dekat dengan konsep minuman enak, kekinian, dan tetap ramah di kantong.
Perbandingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala
Kalau dilihat secara sederhana, ketiganya memiliki kekuatan yang berbeda:
| Brand | Positioning | Kekuatan Utama |
|---|---|---|
| Teazzi | Modern | Branding visual dan menu berbasis oolong |
| Sancha | Minimalis & premium | Konsistensi brand dan pengalaman yang lebih tenang |
| Tianlala | Affordable | Harga terjangkau dengan pilihan menu yang beragam |
Artinya, persaingan mereka sebenarnya tidak selalu terjadi di titik yang sama.
Teazzi berusaha memenangkan perhatian melalui visual dan pengalaman, Sancha melalui konsistensi dan kesan premium, sedangkan Tianlala melalui harga dan aksesibilitas.
Inilah salah satu alasan mengapa beberapa brand dengan produk yang mirip tetap bisa memiliki pasar masing-masing.
UMKM Diantara Persaingan Artisan Milk Tea
Persaingan Teazzi, Sancha, dan Tianlala memberikan pelajaran penting bagi UMKM.
Tidak semua bisnis harus memiliki modal besar untuk bisa bersaing. Yang lebih penting adalah mengetahui posisi bisnis dan alasan konsumen memilih produk tersebut.
1. Tentukan Positioning Sebelum Mengejar Banyak Pelanggan
Jangan hanya bertanya, “Bagaimana supaya produk saya laku?”
Coba mulai dengan pertanyaan:
“Kenapa konsumen harus memilih produk saya?”
Apakah karena harganya lebih terjangkau? Rasanya lebih autentik? Bahannya lebih berkualitas? Atau pengalaman membeli produknya lebih menarik?
Positioning yang jelas akan membuat strategi bisnis dan pemasaran menjadi lebih terarah.
2. Jangan Mengorbankan Konsistensi Rasa
Promosi mungkin bisa membuat konsumen datang untuk pertama kali.
Namun, rasa dan kualitas yang konsisten yang membuat mereka mau membeli lagi.
UMKM perlu memastikan takaran bahan, proses pembuatan, kualitas bahan baku, hingga standar penyajian tetap terjaga.
Jangan sampai pelanggan mendapatkan rasa yang berbeda setiap kali membeli.
3. Buat Produk Mudah Diingat
Nama menu, kemasan, logo, hingga tampilan minuman dapat membantu produk lebih mudah dikenali.
UMKM tidak harus membuat gerai mewah seperti brand besar. Hal sederhana seperti kemasan yang rapi, nama menu yang menarik, dan tampilan produk yang konsisten sudah bisa menjadi bagian dari identitas brand.
4. Manfaatkan Media Sosial sebagai Bagian dari Produk
Untuk bisnis minuman, produk yang terlihat menarik memiliki peluang lebih besar untuk dibagikan konsumen.
Karena itu, pikirkan bagaimana produk terlihat ketika difoto atau dibuat menjadi video pendek.
Bukan berarti produk harus dibuat hanya demi konten. Justru, produk yang memang punya karakter kuat akan lebih mudah dikembangkan menjadi konten.
5. Jangan Hanya Mengandalkan Diskon
Harga murah memang bisa mendatangkan pembeli baru. Namun, jika satu-satunya alasan konsumen membeli adalah diskon, mereka bisa dengan mudah pindah ketika menemukan promo yang lebih murah.
Lebih baik gunakan promo untuk menarik pelanggan pertama, kemudian berikan alasan lain agar mereka kembali, seperti rasa yang konsisten, pelayanan yang baik, menu favorit, atau pengalaman yang menyenangkan.
6. Bangun Cerita di Balik Produk
Cerita dapat membuat produk terasa lebih personal.
UMKM bisa menceritakan asal bahan baku, proses pembuatan, inspirasi resep, atau alasan memilih jenis teh tertentu.
Dengan begitu, pelanggan tidak hanya mengenal produk berdasarkan harga, tetapi juga memahami nilai yang dibawa oleh brand tersebut.
Persaingan Artisan Milk Tea Membuka Peluang bagi UMKM
Ramainya bisnis artisan milk tea di Indonesia menunjukkan bahwa pasar minuman masih memiliki peluang yang besar.
Namun, peluang tersebut juga membuat persaingan semakin ketat. Konsumen memiliki semakin banyak pilihan dan semakin mudah membandingkan satu brand dengan brand lainnya.
Dari Teazzi, UMKM bisa belajar pentingnya branding dan pengalaman visual.
Dari Sancha, ada pelajaran tentang konsistensi positioning dan membangun kesan premium.
Sementara dari Tianlala, UMKM bisa melihat bagaimana harga yang terjangkau dapat menjadi strategi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Pada akhirnya, bisnis tidak harus menjadi yang paling mahal, paling murah, atau paling viral.
Yang lebih penting adalah menentukan siapa target pelangganmu, apa keunggulan produkmu, dan bagaimana membuat mereka punya alasan untuk kembali.
Itulah yang membuat persaingan artisan milk tea menarik untuk dipelajari.
Di tengah banyaknya pemain, peluang tetap terbuka bagi UMKM selama mampu menawarkan produk yang jelas, konsisten, dan memiliki karakter yang berbeda.




