Category: Bedah Usaha

Menampilkan semua artikel pada kategori yang disesuaikan

Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Industri skincare Indonesia sedang ramai-ramainya. Setiap bulan selalu ada brand baru yang muncul, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri seperti Korea, Jepang, dan Tiongkok. Brand-brand baru ini biasanya datang dengan formula yang diklaim canggih, kemasan yang menarik, dan kampanye pemasaran yang gencar di media sosial. Kondisi ini membuat banyak brand lama harus berjuang lebih keras supaya tidak tergeser dari rak toko dan dari perhatian konsumen. Di tengah persaingan seperti ini, ada satu nama yang tetap bertahan sejak puluhan tahun lalu, yaitu Viva Kosmetik. Brand ini dikenal sebagai salah satu pelopor kosmetik “made in Indonesia” dan sudah berdiri lebih dari enam dekade. Usia brand yang panjang ini menarik untuk dikaji, sebab bertahan lama di industri kecantikan bukan perkara mudah. Banyak brand yang datang dengan gebrakan besar di awal, lalu perlahan hilang karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Artikel ini akan membahas strategi bisnis yang dijalankan Viva Kosmetik, mulai dari klaim produk, harga, kemasan, riset, sampai cara mereka beradaptasi dengan dunia digital. Setiap bagian juga akan dikaitkan dengan aturan pemerintah yang berlaku, pandangan pelaku industri kecantikan lain, dan hasil penelitian ilmiah yang relevan, supaya pembahasannya tidak hanya berdasarkan opini semata. Harga Terjangkau tanpa Menurunkan Standar Keamanan Harga jual juga jadi salah satu senjata utama Viva Kosmetik. Produk-produk Viva dikenal punya harga yang jauh lebih murah dibanding kebanyakan brand lokal maupun brand asing lainnya, namun tetap bisa dibeli oleh konsumen dari berbagai kalangan ekonomi. Salah satu cara Viva menekan biaya adalah dengan tidak menggunakan brand ambassador dari kalangan artis atau publik figur ternama, sehingga anggaran pemasaran yang biasanya dialokasikan untuk membayar endorser bisa dialihkan untuk menjaga harga jual tetap rendah. Strategi menjaga harga tetap terjangkau di tengah gempuran brand asing murah sebetulnya juga dialami oleh pelaku bisnis kosmetik lokal lainnya. Ahmad Nurul Fajri, pendiri brand kosmetik lokal Luxcrime, pernah menceritakan tantangan bersaing dengan produk luar negeri yang dijual dengan harga sangat rendah, bahkan ada yang dibanderol mulai dari 18 ribu hingga 20 ribu rupiah saja, angka yang menurutnya bahkan belum menutup biaya produksi standar. Menurutnya, kunci bertahan bukan dengan menurunkan brand menjadi terkesan murahan, melainkan menjaga kualitas produk sambil menyesuaikan ukuran kemasan, misalnya membuat varian ukuran travel size, supaya harga tetap bisa bersaing tanpa mengorbankan mutu bahan baku. Pendekatan semacam ini sejalan dengan apa yang dilakukan Viva selama puluhan tahun, yaitu memangkas biaya di sisi promosi dan kemasan, bukan di sisi bahan baku atau kualitas produk. Soal kualitas bahan baku ini, pemerintah juga baru saja memperbarui aturannya. BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik pada Oktober 2025, yang menggantikan aturan lama dan memperketat pengawasan terhadap bahan aktif, bahan tambahan, serta bahan pengawet yang boleh digunakan dalam produk kosmetik yang beredar di Indonesia. Aturan ini muncul setelah semakin banyak laporan global soal efek samping bahan kosmetik tertentu, termasuk bahan yang bersifat karsinogenik dan alergenik. Tujuan utama regulasi ini adalah meningkatkan keamanan konsumen dan menyelaraskan standar kosmetik Indonesia dengan standar ASEAN Cosmetic Directive. Artinya, berapa pun harga jual sebuah produk kosmetik, baik murah maupun mahal, bahan bakunya tetap wajib memenuhi standar keamanan yang sama ketatnya. Aturan ini menguntungkan brand seperti Viva yang selama ini mengandalkan harga terjangkau, karena konsumen jadi punya jaminan bahwa produk murah pun tetap diawasi standar keamanannya oleh negara, bukan hanya mengandalkan kepercayaan turun-temurun terhadap merek. Bentuk Efisiensi Viva Kosmetik Kalau diperhatikan, kemasan produk Viva Kosmetik memang terlihat sederhana dibanding kompetitornya. Desainnya cenderung fungsional, bahan kemasannya juga tidak terlalu mewah. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Kemasan yang sederhana membantu menekan biaya produksi, sehingga harga jual ke konsumen bisa tetap rendah tanpa mengurangi kualitas isi produknya. Meski kemasannya sederhana, bukan berarti Viva bisa mengabaikan aturan pelabelan yang berlaku. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, setiap kemasan kosmetik tetap wajib mencantumkan informasi lengkap seperti nama produk, komposisi bahan, kemanfaatan, kegunaan, nama dan alamat pemilik notifikasi, nomor batch, nomor notifikasi BPOM, serta tanggal kedaluwarsa. Jadi walaupun tampilan kemasannya minimalis, informasi yang wajib ada di dalamnya tetap harus lengkap dan sesuai standar yang sama dengan brand mahal sekalipun. BPOM juga rutin melakukan pemeriksaan bulanan terhadap sarana produksi dan distribusi kosmetik untuk memastikan kepatuhan pada aturan ini, ditambah pemeriksaan insidental kalau ada laporan dugaan pelanggaran dari masyarakat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti memilih kosmetik lewat kampanye “CekKLIK”, singkatan dari cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Imbauan ini relevan buat konsumen yang sering menganggap kemasan sederhana identik dengan produk abal-abal, padahal yang lebih penting untuk dicek adalah kelengkapan nomor notifikasi dan tanggal kedaluwarsanya, bukan semata tampilan luar kemasan. Fokus pada Riset dan Kualitas Produk Banyak brand skincare masa kini yang mengandalkan brand ambassador dari kalangan artis top nasional bahkan idol K-pop untuk mendongkrak penjualan. Viva justru mengambil jalan berbeda dengan lebih memilih mengalokasikan sumber dayanya untuk riset dan pengembangan formula produk baru sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan ini membuat Viva punya lebih dari 500 varian produk kosmetik dan skincare yang terus diperbarui mengikuti tren dan kebutuhan konsumen. Pendekatan mengutamakan riset produk dibanding sekadar mengandalkan nama besar juga didukung oleh pandangan pelaku industri kecantikan lokal lainnya. Budi Thomas, CEO Jacquelle Beauty, pernah menyampaikan bahwa kunci brand lokal untuk bertahan dan berkembang di pasar yang kompetitif adalah dengan fokus mengembangkan produk yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen. Menurutnya, konsumen sekarang sudah semakin pintar dan bisa membedakan mana brand yang kredibel, sehingga brand lokal perlu terus berinovasi dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, terutama konsumen usia muda yang jadi motor penggerak pasar kecantikan saat ini. Sedangkan strategi Viva yang lebih fokus pada riset formula dibanding pada figur brand ambassador sebenarnya sejalan dengan arah industri kecantikan yang semakin mengutamakan kualitas produk dibanding sekadar popularitas figur publik. Riset dan pengembangan produk kosmetik juga tidak bisa dilakukan sembarangan, karena ada aturan turunan yang mengaturnya. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjadi payung hukum utama yang mengatur pengawasan produk kosmetik di Indonesia, termasuk soal penandaan, promosi, dan proses notifikasi produk sebelum bisa dipasarkan secara resmi. Setiap kali Viva atau brand kosmetik lain mengeluarkan varian baru hasil riset mereka, produk tersebut wajib

SELENGKAPNYA
Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Persaingan bisnis bakery dan cafe di Indonesia semakin kompetitif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk roti, pastry, dan kopi. Tren ini mendorong berbagai perusahaan, termasuk pelaku usaha di luar industri makanan, untuk ikut mengembangkan bisnis F&B. Indomaret Group menjadi salah satu perusahaan yang menangkap peluang tersebut melalui kehadiran Say Bread, brand bakery yang biasanya terpajang di dekat kasir Indomart dan disajikan hangat. Tapi, sebenarnya brand milik Indomaret ini rahasianya apa kok bisa gak kalah dengan brand besar? Say Bread: Bisnis Bakery Milik Indomaret Group Bagi yang sering berbelanja di minimarket, nama Indomaret tentu sudah sangat akrab. Merek yang berdiri di bawah naungan PT Indomarco Prismatama ini dikenal sebagai pelopor waralaba minimarket di Indonesia. Tidak berhenti di sana, Indomaret Group kemudian memperluas jangkauan bisnisnya ke industri bakery melalui brand Say Bread yang dikelola oleh PT Indoroti Makmur Bersama (IMB). Say Bread awalnya hadir sebagai produk roti yang bisa ditemukan langsung di gerai-gerai Indomaret. Seiring waktu, brand ini berkembang menjadi konsep yang lebih besar: sebuah bakery dan cafe dengan gerai berdiri sendiri (stand alone). Saat ini, Say Bread memiliki lima gerai stand alone yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bali, Ambon, dan Manado. Puncak dari ekspansi ini ditandai dengan pembukaan Say Bread Bakery dan Cafe pertama di Indomaret Drive Thru Tomang 41, Jakarta Barat, pada 30 November 2023. Grand opening ini sekaligus menjadi penanda bahwa Say Bread siap bersaing di segmen bakery premium dengan konsep yang lebih berpengalaman dan bernuansa lifestyle. “Lahirnya Say Bread Bakery dan Cafe Tomang, selain bertujuan untuk semakin melengkapi, juga untuk memberikan pilihan yang lebih bervariatif akan kebutuhan roti konsumen,” kata James Sebastian, Operation Executive Director Say Bread, saat grand opening berlangsung. Kolaborasi dengan Takaki Bakery Jepang Salah satu keunggulan Say Bread yang membedakannya dari brand bakery lokal lainnya adalah kolaborasi strategis dengan Takaki Bakery, perusahaan roti ternama asal Jepang yang berdiri sejak tahun 1948. Kerja sama ini memastikan bahwa setiap produk roti dan pastry yang dihasilkan memiliki standar kualitas tinggi dengan sentuhan presisi khas Jepang. Kolaborasi ini semakin terlihat nyata saat Say Bread membuka gerai barunya di Cikajang, Jakarta Selatan, pada Desember 2025. Peresmian gerai tersebut dihadiri langsung oleh pihak Takaki Bakery, termasuk Akiko Takaki selaku Owner of Takaki Bakery dan Takasi Osawa selaku Director of Takaki Bakery, bersama CEO Indomaret Group, Sinarman Jonatan. Dalam industri bakery yang terus berkembang, kepercayaan konsumen terhadap kualitas bahan baku dan proses produksi menjadi faktor penentu kesuksesan. Penelitian dari Journal of Food Science and Technology (Cauvain & Young, 2006) menunjukkan bahwa standar keamanan pangan dan konsistensi proses produksi roti secara langsung memengaruhi kepercayaan konsumen dan loyalitas merek dalam jangka panjang. Kolaborasi dengan Takaki Bakery menjadi langkah Say Bread untuk memastikan dua hal ini terpenuhi secara konsisten. Industri Bakery Indonesia Jadi Peluang Say Bread Keputusan Indomaret mengembangkan bisnis ke ranah bakery dan cafe bukan tanpa alasan yang kuat. Industri bakery di Indonesia memang sedang dalam fase pertumbuhan yang solid. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman termasuk bakery terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan peningkatan permintaan yang stabil dari tahun ke tahun. Yusuf Hady, Operation Director PT Nippon Indosari Corpindo, memperkirakan pertumbuhan bisnis bakery di Indonesia berada di kisaran 7 hingga 10 persen setiap tahunnya, dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai sekitar Rp14 triliun. Menurutnya, prospek ke depan tetap menjanjikan karena roti termasuk makanan praktis yang tidak membutuhkan proses memasak di rumah, sehingga cocok untuk gaya hidup masyarakat urban yang dinamis. Di sisi konsumen, data dari Statistik Konsumsi Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa permintaan masyarakat Indonesia terhadap produk bakery terus meningkat sejak 2018, dengan pertumbuhan signifikan pada segmen pastry dan produk premium. Tren ini juga diperkuat oleh meningkatnya daya beli kelas menengah serta pengaruh budaya kuliner global yang membawa croissant, brioche, dan berbagai pastry Eropa semakin populer di kalangan konsumen Indonesia. Pakar manajemen bisnis kuliner, Dr. Ratih Hurriyati dari Universitas Pendidikan Indonesia, dalam berbagai forum bisnis menyebutkan bahwa strategi brand extension seperti yang dilakukan Indomaret melalui Say Bread merupakan langkah bisnis yang tepat. Perusahaan yang sudah memiliki ekosistem distribusi dan kepercayaan konsumen yang kuat memiliki keunggulan kompetitif saat memasuki segmen pasar baru, terutama di industri makanan sehari-hari seperti bakery. Menu Unggulan Say Bread Salah satu daya tarik utama Say Bread adalah keragaman menunya yang memadukan cita rasa klasik Eropa dengan selera konsumen Indonesia. Produk-produk di bawah lini Say Bread Premium dirancang untuk memberikan pengalaman rasa yang autentik sekaligus terjangkau. Beberapa produk unggulan yang bisa kamu temukan di Say Bread meliputi: Di gerai Cikajang yang dibuka pada Desember 2025, Say Bread juga menghadirkan menu terbaru yang semakin beragam, salah satunya Fruit Pastry: pastry berlapis renyah dengan custard lembut yang dipadukan buah segar seperti dark cherry, strawberry, mango, kiwi, dan blueberry. Menu ini menjadi bukti bahwa Say Bread terus berinovasi untuk memenuhi selera konsumen urban yang dinamis. Dari sisi harga, Say Bread menawarkan produk premium dengan harga yang sangat bersahabat. Kamu bisa menikmati berbagai pilihan roti mulai dari Rp11.000 hingga Rp27.000. Bahkan, produk terbaru di lini Brioche dibanderol mulai dari Rp12.500, menjadikannya pilihan sarapan atau camilan berkualitas yang tidak menguras kantong. Say Bread Bakery dan Cafe Konsep stand alone bakery & cafe yang dikembangkan Say Bread menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat membeli roti. Gerai-gerai Say Bread dirancang sebagai ruang singgah baru bagi masyarakat urban, tempat yang nyaman untuk bekerja, berbincang, atau sekadar beristirahat sambil menikmati aroma roti hangat fresh from the oven. James Sebastian, Director PT Indoroti Makmur Bersama (IMB), menjelaskan visi di balik konsep ini: “Setelah kesuksesan kami pada Say Bread Bakery & Café di Tomang, kami ingin berinovasi lebih lagi. Kami menghadirkan stand alone bakery & café yang lebih update, menawarkan roti dan sajian yang lebih variatif serta menarik bagi para pelanggan.” Say Bread juga memperkuat pendekatan customer-centric dengan menghadirkan suasana toko yang lebih nyaman, ruang duduk yang modern, serta pelayanan yang dirancang agar pengunjung bisa menikmati produk dengan pengalaman yang lebih personal. Ini sejalan dengan tren industri cafe di Indonesia yang semakin bergeser dari sekadar menjual minuman, menjadi menjual pengalaman dan suasana. Penelitian dari International Journal of Hospitality Management (Ryu & Han, 2010) menemukan bahwa kualitas fisik lingkungan

SELENGKAPNYA
Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Pekan Raya Jakarta (PRJ) adalah salah satu event dagang terbesar di Asia Tenggara, yang setiap tahunnya mampu menarik jutaan pengunjung dan memutarkan uang dalam jumlah yang luar biasa. PRJ 2024 mencatat total transaksi sebesar Rp 7,5 triliun dengan 6,3 juta pengunjung selama 33 hari penyelenggaraan. Bahkan di tahun 2025, meski durasinya dipangkas jadi hanya 25 hari karena berbagi jadwal dengan Indo Defence, perputaran uangnya masih tembus Rp 7,3 triliun dengan 5,9 juta pengunjung. Angka itu sesuatu yang gak luput dari perhatian para pelaku bisnis. Setiap tahun, ribuan brand dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, fashion, makanan dan minuman, teknologi, sampai produk kecantikan, rela mengeluarkan biaya besar untuk ikut serta. Sewa stan di PRJ bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter per bulan. Artinya, untuk stan berukuran 3×3 meter saja, sebuah brand harus menyiapkan dana sekitar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta, belum termasuk biaya desain booth, produksi materi promosi, gaji karyawan, dan operasional selama event berlangsung. Tapi nyatanya, brand-brand ini bukan cuma datang sekali. Mereka terus kembali setiap tahun. Ada apa? PRJ, Event Tahunan dengan Jutaan Pengunjung Kalau kamu pikir brand-brand besar ikut PRJ semata-mata untuk mengejar penjualan di tempat, kamu hanya melihat sebagian kecil dari gambar besar. PRJ adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana brand bisa berinteraksi langsung dengan jutaan konsumen dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Brand exposure dalam skala masif yang sulit dicapai lewat media mana pun dalam waktu singkat. Dalam dunia pemasaran, ada yang disebut sebagai experiential marketing, yaitu strategi membangun hubungan antara brand dan konsumen melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini terbukti jauh lebih efektif dibanding iklan satu arah. Konsumen yang merasakan langsung produk atau berinteraksi dengan perwakilan brand memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk membeli, bahkan menjadi pelanggan setia jangka panjang. Philip Kotler, pakar marketing global yang sering dirujuk dalam studi pemasaran, menyatakan bahwa pengalaman langsung konsumen dengan brand di titik kontak fisik (physical touchpoint) memiliki pengaruh yang jauh lebih dalam terhadap keputusan pembelian dibandingkan paparan iklan digital. Pendekatan ini relevan dengan kondisi pasar Indonesia yang masih sangat berorientasi pada pengalaman tatap muka dan kepercayaan personal. PRJ adalah arena physical touchpoint yang ideal. Di sini, brand punya kendali penuh untuk menciptakan kesan pertama yang kuat, memperkenalkan produk baru, mengumpulkan feedback langsung dari konsumen, dan memperkuat posisi di benak pasar yang sangat kompetitif. Ribuan Tenant, Gimana Cara Menonjol? PRJ 2025 diikuti oleh 2.550 tenant dengan 1.550 stan. Bayangkan ada ribuan booth berdiri berdampingan dalam satu area. Pengunjung berjalan, matanya bergerak cepat dari satu booth ke booth lain. Dalam situasi seperti ini, hanya booth yang tampil berbeda yang punya peluang untuk dilirik. Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai. Brand tidak cuma bersaing lewat produk. Di arena seperti PRJ, mereka bersaing lewat bagaimana mereka terlihat. Desain booth, signage, backdrop, pencahayaan, layout area display, bahkan merchandise yang dibagikan secara gratis, semuanya bekerja bersama untuk menciptakan satu hal: perhatian pengunjung. Menurut kajian dalam jurnal Jurnal Impresi Indonesia (JII, Vol. 4, No. 7, Juli 2025), visualisasi desain booth yang kuat secara signifikan meningkatkan daya tarik pengunjung, dengan rata-rata peningkatan interaksi bisnis sebesar 35% dibandingkan booth dengan tampilan standar. Penelitian ini juga menegaskan bahwa desain booth bukan hanya soal estetika, melainkan bagian integral dari strategi pemasaran B2B maupun B2C yang efektif, terutama dalam konteks pameran berskala besar. Di level yang lebih praktis, penelitian tentang visual merchandising dalam sebuah event promosi, yang dipublikasikan di jurnal MESMAN (DOI: 10.56709/mesman.V4.i1.644, September 2024), menunjukkan bahwa penerapan elemen estetika pada desain booth, dikombinasikan dengan promosi yang tepat, berhasil meningkatkan minat beli konsumen hingga 35%. Elemen yang paling berpengaruh adalah tampilan visual booth, promosi harga, dan kualitas pelayanan di lapangan. Artinya, investasi pada tampilan booth bukan pemborosan. Ini adalah bagian dari strategi yang punya dampak nyata terhadap hasil akhir. Booth Adalah Wajah Brand di Mata Pengunjung Ketika seseorang berjalan di lorong PRJ, keputusan untuk mampir atau terus berjalan sering kali terjadi dalam hitungan detik. Otak manusia memproses informasi visual jauh lebih cepat dibandingkan teks atau audio. Dan dalam kondisi ramai seperti PRJ, stimulus visual yang kuat adalah satu-satunya cara untuk menghentikan langkah pengunjung. Itu sebabnya brand-brand yang serius soal kehadiran di PRJ tidak pernah menyepelekan desain booth mereka. Ada beberapa elemen yang menentukan apakah sebuah booth mampu menarik perhatian atau justru tenggelam di antara keramaian: –Konsistensi identitas brand. Warna, logo, tipografi, dan gaya visual harus selaras dan mencerminkan karakter brand secara konsisten. Ketika desain booth secara harmonis mencerminkan identitas merek, pengunjung secara otomatis merasa familiar dan terhubung, sehingga lebih cenderung untuk mendekat dan berinteraksi. –Psikologi warna. Pemilihan warna bukan sekadar soal selera estetika. Setiap warna memiliki asosiasi psikologis yang memengaruhi emosi dan perilaku pengunjung. Warna merah menciptakan urgensi dan menarik perhatian, cocok untuk promosi batas waktu. Warna biru memberi kesan profesional dan dapat dipercaya. Warna hijau diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Brand yang memahami psikologi warna bisa menggunakannya untuk memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan. –Elemen interaktif. Booth yang hanya memajang produk tanpa mengundang interaksi akan terasa pasif. Layar sentuh, demo produk langsung, spot foto yang instagramable, atau aktivitas sederhana yang melibatkan pengunjung, semua ini menciptakan pengalaman yang berkesan dan membuat orang lebih lama tinggal di booth. –Pencahayaan dan detail finishing. Pencahayaan yang baik tidak hanya membuat produk terlihat lebih menarik, tapi juga menciptakan suasana yang nyaman untuk berinteraksi. Detail finishing yang rapi menunjukkan bahwa brand serius dan profesional, sebuah sinyal kepercayaan yang kuat bagi konsumen. –Signage dan backdrop yang kuat. Di tengah kerumunan, signage yang jelas dan backdrop yang eye-catching adalah cara tercepat untuk membuat orang tahu siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan. Brand yang menggunakan signage dengan pesan yang tajam dan visual yang kuat akan jauh lebih mudah diingat. Kenapa Brand Besar Terus Kembali Setiap Tahun? Jawabannya sederhana: return on investment (ROI) yang tidak hanya datang dari penjualan langsung. Brand-brand yang konsisten hadir di PRJ memahami bahwa investasi mereka bekerja di beberapa level sekaligus: a. Brand awareness yang masif. Jutaan orang yang melewati atau mampir ke booth kamu dalam satu bulan adalah angka yang hampir mustahil dicapai lewat kampanye digital dengan anggaran yang sama. b. Direct selling

SELENGKAPNYA
Strategi Sido Muncul Hadapi Konten Negatif Tolak Angin

Strategi Sido Muncul Hadapi Konten Negatif Tolak Angin

Ketika nama besar diserang di dunia maya, respons pertama yang sering terlintas adalah jalur hukum. Tapi Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, memilih cara yang berbeda. Alih-alih langsung melapor ke polisi, ia justru memilih duduk, menelusuri, lalu berbicara langsung dengan pelakunya. Pendekatan ini bukan kelemahan, melainkan strategi manajemen krisis yang matang dan penuh kesadaran. Gimana detailnya? Artikel ini akan membahas cara atau strategi komunikasi Sido Muncul terhadap konten negatif yang ditujukan pada salah satu brandnya yaitu Tolak Angin. Isu yang Sempat Menyerang Brand Tolak Angin Sido Muncul bukan perusahaan kecil. Dengan produk-produk seperti Tolak Angin, Kuku Bima, dan berbagai jamu modern lainnya, perusahaan ini sudah puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun justru karena popularitas itulah, merek ini kerap menjadi sasaran konten negatif di media sosial. Unggahan yang memojokkan produk, klaim tidak berdasar soal kandungan bahan, hingga narasi hoaks yang beredar luas di berbagai platform. Beberapa isu yang sempat menyerang Tolak Angin bahkan sempat menjadi perbincangan nasional. a. Pada 2022, saat muncul kasus gagal ginjal akut yang dikaitkan dengan kandungan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada sejumlah produk obat cair, beredar berbagai unggahan di media sosial yang ikut mempertanyakan keamanan produk-produk herbal cair, termasuk Tolak Angin. Sido Muncul kemudian memberikan klarifikasi bahwa Tolak Angin tidak mengandung EG maupun DEG dan telah memperoleh surat keterangan dari BPOM terkait hal tersebut. b. Pada 2015, kemasan Tolak Angin yang beredar di California, Amerika Serikat, sempat menjadi viral karena memuat peringatan terkait kandungan timbal (lead). Pihak Sido Muncul membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa peringatan itu dipasang distributor sebagai langkah kehati-hatian terkait regulasi setempat, bukan karena ditemukan kandungan timbal berbahaya pada produk. Label tersebut kemudian ditarik kembali oleh distributor. c. Tolak Angin juga beberapa kali dicatut dalam meme politik dan konten viral yang tidak berkaitan dengan produknya. Pada 2021, Sido Muncul bahkan mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya meme yang mengaitkan kemasan Tolak Angin dengan isu politik. Irwan Hidayat menyayangkan penggunaan merek yang telah dibangun puluhan tahun untuk kepentingan di luar konteks produk. Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa semakin besar sebuah brand, semakin besar pula potensi munculnya misinformasi, hoaks, maupun penggunaan merek tanpa izin. Namun alih-alih langsung menempuh jalur hukum, Irwan Hidayat memilih mengedepankan klarifikasi, edukasi, dan pendekatan yang lebih persuasif kepada masyarakat. Dalam sebuah pernyataan di sela kegiatan Kampanye Menabung Saham di Agrowisata Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Irwan mengungkapkan bahwa setiap kali ada unggahan negatif soal produk seperti Tolak Angin, langkah pertamanya bukan memanggil pengacara, melainkan menelusuri siapa yang mengunggah dan apa motifnya. “Setelah ditelusuri, ternyata banyak yang hanya ikut-ikutan repost tanpa memahami dampaknya. Saya malah kasihan, karena yang dicari hanya ketenaran. Kalau dibawa ke hukum, malah tambah susah,” ungkap Irwan. Siapa yang Menyerang Produk Sido Muncul? Salah satu temuan paling mengejutkan dari proses penelusuran yang dilakukan Irwan adalah soal siapa pelaku di balik unggahan negatif tersebut. Ia mengidentifikasi tiga kemungkinan sumber, yaitu kampanye buzzer terorganisir, aksi kompetitor, atau sekadar individu yang ingin mencari perhatian di media sosial. Hasilnya? Sebagian besar bukan dari pihak yang punya kepentingan khusus. Mereka adalah netizen biasa yang hanya ikut-ikutan menyebarkan konten tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Bahkan yang lebih ironis, sebagian di antara mereka justru merupakan konsumen produk Sido Muncul sendiri, termasuk pengguna setia Tolak Angin. Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam soal perilaku pengguna media sosial di Indonesia. Survei Katadata Insight Center (KIC) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Siberkreasi menemukan bahwa setidaknya 30% hingga hampir 60% masyarakat Indonesia pernah terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi di internet. Tingkat literasi digital yang masih berada di angka rata-rata menengah menjadi akar masalahnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat bahwa indeks literasi digital Indonesia pada 2022 masih di angka 3,54 dari skala 5, atau masuk kategori sedang. Artinya, jutaan pengguna internet di Indonesia memiliki akses ke berbagai platform digital, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyaring, memverifikasi, dan bertanggung jawab atas konten yang mereka bagikan. Komunikasi sebagai Senjata Utama Irwan Hidayat memilih jalur komunikasi langsung ketimbang gugatan hukum, dan keputusan ini bukan tanpa pertimbangan yang matang. Dari sudut pandang manajemen krisis, pendekatan yang diambil Irwan sejalan dengan apa yang para ahli sebut sebagai strategi restorative communication, yakni memulihkan reputasi melalui dialog, bukan konfrontasi. Dr. Adriana Soegoto, pakar komunikasi digital, pernah menegaskan bahwa “Era digital menuntut perusahaan untuk lebih adaptif. Krisis akan selalu ada, tetapi bagaimana kita menanganinya yang menentukan keberlanjutan bisnis dan kepercayaan publik.” (Sumber: ikom.fisipol.unesa.ac.id, 2025) Pendapat serupa juga disampaikan oleh Timothy Coombs melalui teorinya Situational Crisis Communication Theory (SCCT). Coombs menekankan bahwa setiap krisis reputasi memiliki tingkat ancaman yang berbeda, dan respons yang dipilih perusahaan harus disesuaikan dengan konteks krisis tersebut. Ketika krisis bersumber dari kesalahpahaman publik, bukan dari kesalahan internal perusahaan, maka pendekatan edukatif dan dialogis jauh lebih efektif dibanding sikap defensif apalagi agresif secara hukum. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial (2025) tentang komunikasi krisis digital juga menyimpulkan bahwa “kombinasi strategi kecepatan, transparansi, konsistensi pesan, pemanfaatan media sosial, dan hubungan dengan stakeholder mampu menurunkan dampak krisis reputasi.” Perusahaan yang memiliki rencana komunikasi krisis dan tim khusus terbukti lebih tangguh dibanding perusahaan yang tidak memiliki sistem formal untuk menghadapi isu reputasi. Apa yang dilakukan Irwan secara intuitif justru mencerminkan prinsip-prinsip ini. Ia menelusuri sumber masalah, berkomunikasi langsung dengan pihak yang terlibat, meminta klarifikasi, dan mengedukasi mereka tentang dampak dari konten yang mereka sebarkan. Mengapa Pakai Pendekatan Humanis? Ada alasan strategis yang kuat di balik keputusan Irwan untuk tidak buru-buru membawa kasus ini ke jalur hukum. Pertama, proses hukum cenderung memakan waktu dan biaya, dan justru bisa menjadi bahan bakar bagi lebih banyak pemberitaan negatif. Kasus yang dibawa ke ranah hukum sering kali mendapat sorotan media yang lebih luas, yang justru memberikan lebih banyak eksposur pada isu yang sebetulnya ingin diredam. Kedua, pelaku yang diproses secara hukum bisa membangun narasi sebagai “korban” dari perusahaan besar, yang dapat membalikkan simpati publik. Ini adalah jebakan PR yang sering tidak disadari. Ketiga, dan ini yang paling penting dalam jangka panjang yaitu komunikasi langsung membuka peluang untuk mengubah netizen yang tadinya menyebarkan konten

SELENGKAPNYA
Marketing Bolosego: Pelopor Iga Mercon Viral Berkat Storytelling

Marketing Bolosego: Pelopor Iga Mercon Viral Berkat Storytelling

Bolosego merupakan salah satu brand kuliner asal Yogyakarta yang berhasil membangun identitas kuat di tengah persaingan bisnis makanan yang semakin padat. Brand ini dikenal luas sebagai pelopor iga mercon di Indonesia dan berhasil menarik perhatian konsumen melalui kombinasi produk yang khas, strategi pemasaran yang konsisten, serta cerita bisnis yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Perjalanan Bolosego tidak dimulai dari modal besar atau dukungan investor. Brand ini lahir dari situasi yang penuh tantangan ketika pandemi Covid-19 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan pendapatan. Di tengah kondisi tersebut, Dyah Layli Fardisa melihat peluang untuk membangun usaha kuliner yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus membuka kesempatan kerja bagi orang-orang di sekitarnya. Keberhasilan Bolosego tidak hanya berasal dari kualitas produknya. Strategi pemasaran yang diterapkan sejak awal menjadi salah satu faktor penting yang membantu brand ini berkembang. Pendekatan personal branding, storytelling, komunikasi yang akrab dengan pelanggan, hingga pemanfaatan media sosial dilakukan secara konsisten untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Strategi yang dijalankan Bolosego menarik untuk dipelajari karena menunjukkan bahwa bisnis kuliner tidak hanya bergantung pada rasa makanan. Cara sebuah brand berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan menghadirkan pengalaman kepada pelanggan juga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan pertumbuhan usaha. Dyah Layli Fardisa, Founder Bolosego Dyah Layli Fardisa memulai perjalanan bisnis Bolosego ketika pandemi Covid-19 memberikan dampak besar terhadap kehidupan banyak masyarakat Indonesia. Saat itu, dirinya termasuk salah satu orang yang harus menghadapi kenyataan kehilangan pekerjaan akibat perubahan kondisi ekonomi. Situasi tersebut membuat Dyah harus mencari sumber penghasilan baru untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah proses tersebut, ia teringat pada sebuah warung makan yang pernah menjadi favoritnya saat masih kuliah. Warung tersebut juga berhenti beroperasi karena dampak pandemi yang membuat jumlah pelanggan menurun drastis. Dyah melihat peluang dari kondisi tersebut. Ia mengetahui bahwa makanan yang dijual memiliki cita rasa yang disukai banyak orang. Karena itu, ia mengajak pemilik warung untuk bekerja sama. Dalam kolaborasi tersebut, pemilik warung bertanggung jawab terhadap proses memasak, sementara Dyah mengurus pemasaran dan pengembangan bisnis. Modal yang dimiliki saat itu sangat terbatas. Bersama beberapa rekan yang juga mengalami PHK, Dyah memulai usaha dari dapur rumah dengan peralatan sederhana. Produksi dilakukan dalam skala kecil dan pemasaran difokuskan melalui saluran digital karena aktivitas masyarakat masih banyak dilakukan secara online. Langkah awal tersebut menjadi fondasi penting dalam perkembangan Bolosego. Dari usaha rumahan yang sederhana, bisnis ini mulai tumbuh secara bertahap berkat konsistensi dalam menjaga kualitas dan memperhatikan kebutuhan pelanggan. Storytelling Bolosego Sebagai Alat Pemasaran Bolosego tidak hanya menjual makanan pedas. Brand ini juga menjual cerita yang membuat pelanggan merasa lebih dekat dengan bisnis yang mereka dukung. Storytelling menjadi salah satu strategi pemasaran yang paling sering digunakan oleh Bolosego. Cerita mengenai perjuangan membangun usaha dari nol, menghadapi keterbatasan modal, hingga bangkit setelah kehilangan pekerjaan menjadi bagian dari identitas brand yang terus disampaikan kepada publik. Strategi ini membuat konsumen tidak hanya mengenal produk yang dijual, tetapi juga memahami perjalanan di balik lahirnya brand tersebut. Banyak pelanggan yang akhirnya merasa memiliki hubungan emosional dengan Bolosego karena mereka dapat memahami proses dan tantangan yang pernah dihadapi oleh pendirinya. Dalam dunia pemasaran modern, storytelling menjadi salah satu cara efektif untuk membangun kedekatan dengan audiens. Konsumen saat ini cenderung menyukai brand yang memiliki cerita nyata dan mudah dipahami. Mereka ingin mengetahui siapa yang berada di balik sebuah produk, bagaimana produk tersebut dibuat, dan nilai apa yang ingin disampaikan oleh brand tersebut. Bolosego memanfaatkan pendekatan ini secara konsisten. Setiap perkembangan bisnis, pencapaian, maupun tantangan yang dihadapi sering kali dikemas menjadi cerita yang relevan bagi pelanggan. Cara tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar promosi produk biasa. Personal Branding Dyah Layli Fardisa Memperkuat Kepercayaan Konsumen Personal branding menjadi salah satu elemen yang sangat penting dalam strategi pemasaran Bolosego. Dyah Layli Fardisa tidak memisahkan dirinya dari brand yang ia bangun. Sebaliknya, ia justru menjadikan perjalanan hidup dan pengalaman pribadinya sebagai bagian dari identitas bisnis. Melalui berbagai kegiatan, seminar, wawancara, dan konten media sosial, Dyah sering membagikan pengalaman mengenai perjalanan membangun usaha kuliner dari kondisi yang serba terbatas. Cerita tersebut memberikan gambaran nyata kepada masyarakat mengenai proses yang harus dilalui untuk membangun bisnis. Kehadiran sosok pendiri dalam komunikasi brand memberikan keuntungan tersendiri. Konsumen cenderung lebih mudah percaya kepada bisnis yang memiliki figur nyata di belakangnya. Mereka dapat melihat siapa yang menjalankan usaha tersebut dan bagaimana nilai-nilai bisnis diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Personal branding juga membantu membedakan Bolosego dari kompetitor yang menjual produk serupa. Banyak usaha kuliner menawarkan menu pedas, tetapi tidak semua memiliki cerita pendiri yang aktif dibagikan kepada publik. Faktor inilah yang membuat Bolosego memiliki identitas yang lebih kuat di mata pelanggan. Membangun Komunitas Melalui Sapaan “Bolo” Bolosego memiliki cara unik dalam membangun hubungan dengan pelanggan. Salah satu strategi yang digunakan adalah menyapa pelanggan dengan sebutan “Bolo”. Dalam bahasa Jawa, kata “Bolo” memiliki arti teman atau sahabat. Penggunaan istilah tersebut membuat komunikasi brand terasa lebih hangat dan tidak kaku. Sapaan ini digunakan secara konsisten di berbagai saluran komunikasi, mulai dari media sosial, promosi digital, hingga interaksi langsung dengan pelanggan. Konsistensi tersebut membuat pelanggan merasa menjadi bagian dari komunitas, bukan hanya sebagai pembeli produk. Pendekatan komunitas seperti ini memberikan dampak yang cukup besar dalam membangun loyalitas pelanggan. Ketika seseorang merasa dihargai dan dianggap sebagai bagian dari kelompok tertentu, mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih kuat dengan brand. Strategi tersebut juga membantu meningkatkan interaksi di media sosial. Konten yang menggunakan bahasa yang akrab biasanya lebih mudah mendapatkan respons karena terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens. Identitas Produk yang Kuat Bolosego memahami pentingnya memiliki identitas produk yang jelas. Oleh karena itu, brand ini membangun berbagai elemen yang dapat membantu konsumen mengingat produknya dengan lebih mudah. Salah satu identitas yang paling dikenal adalah slogan #pedaspangkalpuas. Slogan ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman menikmati makanan pedas yang menjadi ciri khas Bolosego. Selain itu, pilihan level kepedasan yang beragam juga menjadi daya tarik tersendiri. Konsumen dapat memilih tingkat kepedasan sesuai selera mereka, sehingga pengalaman makan menjadi lebih personal. Bolosego juga menggunakan pesan “garansi nikmat” sebagai bagian dari komunikasi produk. Pesan tersebut membantu memperkuat persepsi bahwa kualitas rasa menjadi prioritas utama dalam bisnis yang dijalankan. Identitas

SELENGKAPNYA
Marketing FreshCare Smash: Minyak Angin Kekinian untuk Gen Z

Marketing FreshCare Smash: Minyak Angin Kekinian untuk Gen Z

FreshCare menghadirkan varian Smash Matcha dan Sakura sebagai produk minyak angin aromaterapi yang dirancang untuk menyesuaikan preferensi generasi muda. Dengan kombinasi manfaat relaksasi dan desain produk yang modern, kedua varian ini menawarkan pengalaman penggunaan yang berbeda dari minyak angin pada umumnya. Kehadiran FreshCare Smash Matcha dan Sakura juga menunjukkan bagaimana sebuah merek dapat memahami perubahan gaya hidup konsumen, khususnya Gen Z yang aktif beraktivitas, bekerja secara fleksibel, dan memiliki perhatian terhadap kenyamanan serta estetika produk yang digunakan sehari-hari. Nah, dalam artikel ini, kita akan membahas strategi pemasaran FreshCare Smash Matcha dan Sakura serta faktor-faktor yang membuat kedua varian ini relevan bagi pasar anak muda di Indonesia. Kenapa Gen Z Butuh Solusi Seperti FreshCare Smash? Generasi Z adalah generasi yang paling terkoneksi secara digital, tapi paradoksnya, justru jadi generasi yang paling sering ngeluh soal kesehatan fisik di usia muda. Data dari survei I-NAMHS tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 5,5% remaja Indonesia usia 10–17 tahun didiagnosis memiliki gangguan mental, dengan gangguan kecemasan mendominasi di angka 26,7%. Stres fisik dan mental ini menciptakan keluhan nyata: leher kaku, sakit kepala, badan pegal, sampai perut kembung, semuanya dialami oleh orang-orang yang usianya masih sangat muda. Fenomena “remaja jompo” lahir dari kombinasi kebiasaan buruk yang saling bertumpuk: duduk berjam-jam tanpa olahraga, begadang scrolling TikTok, makan junk food, ditambah tekanan sosial dari media sosial yang tidak ada habisnya. Menurut dr. Andi Saputra, spesialis kesehatan kerja, “Otot yang tidak pernah digerakkan dan tubuh yang terus-menerus dalam posisi statis menciptakan akumulasi ketegangan yang tidak disadari. Hasilnya baru terasa ketika sudah parah.” Inilah mengapa produk kesehatan yang praktis, cepat digunakan, dan tidak ribet menjadi sangat relevan bagi segmen ini. Selain itu, stres kronis yang dialami Gen Z turut memperparah kondisi fisik mereka. Burnout, yang dulunya identik dengan orang-orang berusia 30–40 tahun, kini sudah menyerang anak usia 20-an bahkan remaja yang masih kuliah. Menurut Rumah Sakit Pusat Pertamina dalam artikelnya soal burnout di usia 20-an, tekanan dari budaya “hustle”, perbandingan sosial di media sosial, dan ketidakpastian ekonomi menjadi bom waktu yang meledak dalam bentuk kelelahan fisik dan mental. Di sinilah aromaterapi berperan. Penelitian yang dimuat dalam jurnal eGigi (Universitas Sam Ratulangi, 2023) tentang efektivitas aromaterapi peppermint (Mentha Piperita L) menunjukkan bahwa inhalasi minyak esensial dapat menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan. Senyawa volatil dari mint terbukti memengaruhi reseptor di otak yang berkaitan dengan regulasi emosi, menciptakan efek relaksasi yang bisa dirasakan dalam hitungan menit. FreshCare Smash 4in1: Satu Produk, Banyak Fungsi Sebelum masuk ke strategi pemasaran, penting untuk memahami apa yang membuat FreshCare Smash berbeda. Ini bukan minyak angin biasa yang harus dituang ke telapak tangan lalu diusap ke badan. FreshCare Smash adalah produk aromaterapi multifungsi 4-in-1 yang menggabungkan empat cara pakai dalam satu kemasan praktis: Roll-on untuk menghangatkan tubuh dan meredakan pegal, bisa diaplikasikan langsung ke dahi, leher, dada, atau bagian tubuh lain yang terasa tidak nyaman. Double inhaler untuk menghirup aroma segar yang membantu meredakan hidung tersumbat, mual, pusing, dan lelah akibat perjalanan. Kerokan menggunakan tutup bulat yang bisa dipakai sebagai alat kerok, efektif untuk meredakan pegal di punggung, bahu, dan leher. Terakhir, pijat titik tekan dengan ujung tumpul yang dirancang untuk memijat area tegang dan meredakan kekakuan otot. Empat fungsi dalam satu genggaman, ukurannya kecil, bisa digantung di lanyard, dan tidak tumpah. Ini persis jenis produk yang dibutuhkan Gen Z: tidak repot, tidak malu dikeluarkan di depan teman, dan benar-benar bekerja. Varian Matcha: Untuk yang Butuh Fokus dan Ketenangan FreshCare Smash Matcha hadir dengan perpaduan aroma unik: mint segar di lapisan pertama, diikuti nuansa creamy matcha yang earthy di tengah, dan diakhiri dengan sensasi cooling yang menenangkan. Kombinasi ini tidak dipilih secara kebetulan. Matcha sudah lama dikenal punya manfaat kesehatan yang didukung riset ilmiah. Kandungan L-theanine dalam teh hijau terbukti membantu meningkatkan energi tanpa memicu rasa gelisah atau lonjakan hormon stres. Ditambah dengan kandungan polifenol dan klorofil yang memiliki efek anti-inflamasi, matcha menjadi bahan yang bukan cuma trending di TikTok, tapi juga punya dasar ilmiah yang kuat. Di TikTok sendiri, tagar #matcha sudah meraih lebih dari 160 juta tayangan, menunjukkan betapa kuatnya asosiasi matcha dengan gaya hidup sehat dan estetik anak muda. Ketika aroma matcha digabungkan dengan mint dalam format aromaterapi inhaler, efeknya bisa sangat membantu untuk situasi seperti: belajar atau kerja yang butuh konsentrasi, perjalanan jauh yang bikin mual, atau sekadar ingin reset pikiran di tengah hari yang padat. Inhalasi aroma mint terbukti meningkatkan kewaspadaan, daya ingat, dan kecepatan pemrosesan informasi, berdasarkan studi yang dipresentasikan pada konferensi tahunan British Psychological Society, di mana peserta yang menghirup aroma peppermint menunjukkan peningkatan memori kerja dibandingkan kelompok kontrol. Varian Sakura: Untuk yang Butuh Energi Positif dan Semangat Sementara Matcha bermain di zona tenang dan fokus, Sakura hadir dengan karakter yang berbeda: ceria, bersih, dan memberi semangat. Aroma bunga sakura dikenal dalam praktik aromaterapi sebagai salah satu wangi yang bisa mengangkat mood secara instan. Bunga sakura memiliki kandungan senyawa aromatik yang memberikan sensasi segar dan menyenangkan, sangat berbeda dari aroma “obat” yang selama ini jadi stigma minyak angin tradisional. Menurut psikolog kesehatan Tiara Maulia, M.Psi., “Gen Z sangat responsif terhadap stimulasi sensorik yang mereka asosiasikan dengan emosi positif. Wangi yang menyenangkan bisa jadi anchor emosional yang cepat mengubah suasana hati, terutama di tengah stres atau kelelahan.” Dalam konteks ini, FreshCare Smash Sakura bukan cuma minyak angin, tapi juga alat pengatur mood yang bisa dibawa ke mana saja. Secara visual, warna pink yang identik dengan sakura memiliki daya tarik estetik yang kuat di platform seperti Instagram dan Pinterest. Desain kemasan yang aesthetic secara langsung mendukung perilaku Gen Z yang gemar berbagi foto dan video kehidupan sehari-hari mereka. Kesimpulan Strategi pemasaran FreshCare Smash Matcha dan Sakura menunjukkan bagaimana sebuah merek dapat menyesuaikan produknya dengan kebutuhan, preferensi, dan gaya hidup target pasar. FreshCare tidak hanya menawarkan fungsi sebagai minyak angin aromaterapi, tetapi juga menghadirkan aroma, desain, dan pengalaman penggunaan yang relevan dengan kebiasaan Gen Z. Melalui varian Matcha, FreshCare memanfaatkan tren gaya hidup sehat, kebutuhan akan fokus, serta popularitas matcha di kalangan anak muda. Sementara itu, varian Sakura hadir dengan pendekatan yang lebih emosional dan visual melalui aroma yang menyenangkan serta kemasan yang estetik.

SELENGKAPNYA

Marketing NutriSari: Dari Tagline Ikonik hingga Kampanye Digital

NutriSari bukan sekadar minuman serbuk biasa. Sejak pertama kali diluncurkan oleh PT Nutrifood Indonesia pada tahun 1979, produk ini berhasil menancapkan namanya sebagai salah satu merek minuman paling dikenal di Indonesia. Keberhasilan ini tidak terjadi begitu saja. Di baliknya ada strategi pemasaran yang terencana dengan baik, mulai dari periklanan masif di televisi, aktivasi langsung ke konsumen, hingga pendekatan digital yang terus disesuaikan dengan perilaku konsumen masa kini. Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana NutriSari membangun dan mempertahankan kesadaran mereknya selama puluhan tahun, elemen-elemen kunci dalam bauran pemasaran mereka, serta pelajaran yang bisa diambil oleh para pelaku bisnis lain dari pendekatan pemasaran brand legendaris ini. Sejarah Singkat NutriSari PT Nutrifood Indonesia didirikan pada Februari 1979 oleh kakak-adik Januar Karta Darmawan dan Hari Budianto Darmawan. Sejak awal berdiri, perusahaan ini sudah menjadikan NutriSari sebagai produk andalannya. Tidak butuh waktu lama bagi merek ini untuk mendapat tempat di hati konsumen Indonesia. Produk NutriSari dibuat dengan proses enkapsulasi pada butiran jeruknya, sehingga aroma dan nutrisinya tetap terjaga. Proses granulasi berteknologi tinggi juga membuat produk ini mudah larut dan tidak memerlukan pengawet. Inovasi sejak awal inilah yang menjadi fondasi kepercayaan konsumen terhadap merek ini. Keberhasilan NutriSari dalam mempertahankan posisinya di tengah persaingan industri minuman serbuk menunjukkan betapa pentingnya penerapan bauran pemasaran yang tepat. Seperti disampaikan oleh Tjiptono & Chandra (2012), inovasi yang terus-menerus dalam pengembangan varian rasa, kemasan, serta strategi pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi konsumen menjadi kunci keberhasilan merek ini. Marketing Omnichannel NutriSari Salah satu kekuatan terbesar NutriSari terletak pada pendekatannya dalam menjangkau konsumen dari berbagai arah sekaligus. Dalam dunia pemasaran, pendekatan ini dikenal sebagai omnichannel, yaitu integrasi semua saluran pemasaran agar pengalaman konsumen terasa mulus dan konsisten. Strategi NutriSari memadukan dua jalur besar: Above the Line (ATL) dan Below the Line (BTL). a. Periklanan Above the Line Mencakup iklan televisi, pemasangan baliho, dan media cetak. Iklan TV NutriSari sudah hadir sejak era 1980-an dan hingga kini masih menjadi salah satu saluran utama untuk membangun kesadaran merek secara massal. Data dari We Are Social dalam laporan Digital 2025 Indonesia Report mengungkapkan bahwa rata-rata waktu menonton televisi di Indonesia mencapai 2 jam 50 menit per hari pada 2024, meningkat dari tahun sebelumnya. Artinya, iklan TV masih sangat relevan dan efektif sebagai alat bangun merek di Indonesia. b. Aktivasi Below the Line Meliputi kegiatan promosi langsung di lapangan, event, sponsorship, dan program loyalitas yang menyentuh konsumen secara personal. Pendekatan ini melengkapi jangkauan media massa dengan interaksi yang lebih dekat dan personal. c. Kampanye digital Menjadi pilar ketiga yang semakin penting dalam beberapa tahun terakhir. NutriSari aktif memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, Twitter, dan YouTube untuk menjangkau audiens yang lebih muda. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal pemasaran digital (2024) menyebutkan bahwa platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini menjadi tempat utama bagi konsumen untuk menemukan produk, membaca ulasan, dan melihat rekomendasi, sehingga konsistensi pesan pemasaran di berbagai saluran media sosial menjadi sangat penting untuk memperkuat kehadiran merek di pasar. Dalam konteks regulasi, semua kegiatan periklanan NutriSari sebagai produk pangan olahan harus mematuhi Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pengawasan Periklanan Pangan Olahan. Regulasi ini mengatur jenis klaim yang boleh digunakan dalam iklan, termasuk larangan penggunaan pernyataan dan visualisasi yang bermakna hiperbola atau berpeluang menyesatkan konsumen. Selain itu, label produk pangan olahan juga wajib mengikuti Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang perubahan ketentuan Label Pangan Olahan, yang memperbarui standar informasi yang harus tercantum pada kemasan produk. Tagline “Jeruk Kok Minum Jeruk” Jika kamu tumbuh besar di era 2000-an, kalimat “Jeruk kok minum jeruk?” pasti langsung terbersit begitu nama NutriSari disebut. Bisa dibilang tagline ini adalah salah satu contoh paling sukses bagaimana sebuah kalimat pendek bisa membangun identitas merek yang sangat kuat dalam benak konsumen. Dalam dunia pemasaran, tagline yang efektif bekerja sebagai alat pemosisian merek. Ketika konsumen mendengar atau membaca tagline tersebut, mereka langsung mengasosiasikannya dengan produk tertentu. Menurut Prof. Philip Kotler, seorang pakar pemasaran global yang dikenal sebagai “Bapak Pemasaran Modern”, membangun identitas merek yang kuat membutuhkan konsistensi pesan yang disampaikan kepada konsumen selama bertahun-tahun. Tagline yang baik adalah yang mampu merangkum nilai utama merek dalam bentuk yang mudah diingat dan relevan secara emosional dengan konsumennya. Dalam kasus NutriSari, tagline “Jeruk kok minum jeruk” melakukan dua hal sekaligus: menciptakan rasa ingin tahu (mengapa jeruk meminum jeruk?) dan memperkenalkan proposisi nilai produk (minuman sari jeruk yang terasa seperti buah aslinya). Keunikan iklan ini juga diperkuat oleh karakter animasi “Si Jeruk” yang tengil dan bintang iklan yang sedang popular pada masanya, menjadikan iklan NutriSari sebagai sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh merek lain. Dari perspektif ilmu komunikasi pemasaran, sebuah penelitian yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) mencatat bahwa pesan iklan yang mengandung unsur humor, karakter yang menarik, dan elemen kejutan cenderung lebih mudah diingat dan menimbulkan asosiasi positif terhadap merek. Pendekatan inilah yang konsisten diterapkan NutriSari dalam iklan-iklannya sepanjang waktu. Strategi Sampling Produk NutriSari Di samping iklan yang masif, NutriSari juga secara konsisten menjalankan program sampling produk, yaitu pembagian produk secara gratis kepada calon konsumen di berbagai lokasi strategis seperti sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, dan titik keramaian lainnya. Strategi ini didasarkan pada prinsip sederhana: cara terbaik meyakinkan seseorang bahwa produk kamu enak adalah dengan membiarkan mereka merasakannya sendiri. Dalam psikologi konsumen, pengalaman langsung jauh lebih persuasif dibanding sekadar mendengar atau melihat iklan. Kegiatan sampling juga sangat efektif untuk mempercepat trial di kalangan konsumen baru, terutama mereka yang selama ini belum pernah mencoba atau ragu untuk membeli. Setelah mencoba, hambatan psikologis untuk membeli produk tersebut menjadi jauh lebih rendah. Menurut Martin Lindstrom, pakar branding asal Denmark yang juga penulis buku Buyology, melibatkan indera konsumen secara langsung dalam pengalaman produk adalah strategi branding yang paling kuat. Ketika seseorang pernah merasakan produk secara nyata, memori sensorik tersebut akan tersimpan lebih lama dan mendorong keputusan pembelian di masa depan dibandingkan paparan iklan semata. Dalam konteks pasar Indonesia yang sangat beragam, sampling produk di sekolah dan kampus juga berperan strategis dalam memperkenalkan NutriSari kepada generasi baru konsumen sejak dini, membangun loyalitas merek yang bermula dari kebiasaan konsumsi sejak muda.

SELENGKAPNYA
Marketing Nesya Drink: Cara Bisnis Minuman Kuasai Pasar Lokal

Marketing Nesya Drink: Cara Bisnis Minuman Kuasai Pasar Lokal

Nesya Drink berhasil membuktikan bahwa bisnis minuman kekinian tidak selalu harus mahal untuk bisa sukses. Dengan harga mulai dari Rp2.500 per gelas untuk Milk Series (termasuk topping cincau atau boba), merek ini punya puluhan cabang yang tersebar di Lumajang, Jember, dan Probolinggo. Tapi bagaimana sebetulnya cara Nesya Drink memasarkan produknya sampai bisa berkembang sejauh itu? Dan apa saja pelajaran yang bisa kamu tiru untuk bisnis minumanmu sendiri? Artikel ini membahas strategi marketing Nesya Drink secara lengkap, mulai dari cara memanfaatkan media sosial, mengoptimalkan layanan pesan antar, menonjolkan nilai jual utama, hingga membuka peluang kemitraan. Semua diulas secara praktis dan mudah dipahami, dilengkapi dengan dasar teori dari para ahli pemasaran dan regulasi pemerintah yang berlaku. Mengenal Model Bisnis Nesya Drink Nesya Drink memilih pendekatan yang sangat jelas dalam bisnis: jual banyak dengan harga serendah mungkin. Ini bukan sekadar soal murah, tapi soal strategi bisnis yang terukur. Milk Series dijual mulai Rp5.000, sudah termasuk topping cincau atau boba. Es tehnya bahkan mulai dari Rp2.500 saja. Harga seperti ini menyasar segmen pasar yang sangat luas, terutama pelajar, mahasiswa, dan keluarga kelas menengah ke bawah. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Marketing Management (edisi ke-15) menyebutkan bahwa strategi penetapan harga yang efektif harus mencerminkan nilai nyata yang dirasakan konsumen. Artinya, harga bukan sekadar angka, tapi cerminan dari manfaat yang pelanggan dapatkan. Nesya Drink memahami hal ini dengan baik: dengan harga Rp2.500, pelanggan sudah mendapat minuman es teh, yang secara nilai jauh melampaui harganya. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Social and Management Studies (IJOSMAS, 2025) tentang pengaruh strategi pemasaran industri makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan bahwa bauran pemasaran 4P (product, price, place, promotion) masih menjadi kerangka paling relevan bagi UMKM. Dalam kajian tersebut, harga terjangkau yang dikombinasikan dengan distribusi yang luas terbukti menjadi faktor penentu pertumbuhan penjualan UMKM minuman di tingkat lokal. Strategi ini persis seperti yang dijalankan Nesya Drink. Model volume tinggi dengan harga rendah ini juga punya konsekuensi operasional. Margin per gelas memang kecil, tapi jumlah penjualan harus tinggi agar bisnis tetap menguntungkan. Itulah mengapa perluasan cabang menjadi kunci utama Nesya Drink. Semakin banyak cabang, semakin besar total penjualan, dan semakin kuat pula brand-nya di masyarakat lokal. Strategi Media Sosial Nesya Drink Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan sekadar alat promosi tambahan. Bagi bisnis minuman kekinian seperti Nesya Drink, Instagram dan TikTok sudah menjadi tulang punggung pemasaran. Widodo, Sihite, dan Wisudanto dalam penelitian mereka yang dipublikasikan di COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting (2024) menyimpulkan bahwa TikTok bisa digunakan sebagai media pemasaran yang sangat efektif karena kemudahan akses dan jumlah penggunanya yang besar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa konten kuliner di TikTok berpengaruh langsung terhadap perilaku konsumen dan pengenalan produk, sehingga laba bisnis bisa meningkat jika strategi konten dilakukan dengan tepat. Kolaborasi dengan KOL dan Food Vlogger Lokal Salah satu cara paling efektif untuk memperkenalkan produk di area baru adalah dengan menggandeng Key Opinion Leader (KOL) atau food vlogger lokal. Di Jember, Lumajang, dan Probolinggo, ada cukup banyak kreator konten kuliner yang punya basis pengikut setia dari kalangan lokal. Mereka jauh lebih dipercaya dibandingkan iklan biasa karena sudah punya hubungan personal dengan audiensnya. Cara kerjasama dengan food vlogger lokal tidak harus mahal. Kamu bisa menawarkan produk gratis untuk direview, atau memberi komisi kecil untuk setiap penjualan yang berasal dari konten mereka. Yang penting, pilih kreator yang audiens-nya cocok dengan target pasar Nesya Drink: pelajar, mahasiswa, dan keluarga muda. Menurut Kotler dan Armstrong dalam Principles of Marketing (2020), pemasaran berbasis word of mouth digital melalui influencer atau kreator konten adalah salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang paling hemat biaya namun berdampak besar, terutama bagi bisnis dengan anggaran pemasaran terbatas seperti UMKM. Optimalisasi Layanan Pesan Antar Mendaftarkan outlet ke platform pesan antar seperti GoFood adalah langkah wajib bagi bisnis minuman kekinian yang ingin menjangkau lebih banyak pelanggan. Nesya Drink sudah mengambil langkah ini. Dengan terdaftar di GoFood, pelanggan yang tidak bisa datang langsung ke outlet tetap bisa menikmati produk hanya dengan beberapa ketukan di smartphone. Berdasarkan data dari penjualan e-commerce semester I 2024, total penjualan makanan dan minuman mencapai Rp10,8 triliun, dengan minuman menempati posisi kedua dalam kontribusi penjualan sebesar 16% dari total pangsa pasar. Angka ini menunjukkan bahwa kanal digital jadi kebutuhan utama bagi bisnis minuman. Menonjolkan Nilai Murah, Segar, dan Tidak Bikin Serik Salah satu keunggulan komunikasi pemasaran Nesya Drink adalah kejujuran dalam menyampaikan nilai jual produknya. Tidak ada klaim berlebihan, tidak ada janji yang susah dibuktikan. Pesan yang disampaikan sederhana: produk ini murah, segar, dan tidak bikin batuk atau serik. Tiga hal ini sangat relevan bagi target pasar utama mereka. Ini sejalan dengan aturan yang ditetapkan BPOM dalam regulasi kemasan 2024-2025, yaitu pelarangan penggunaan klaim kesehatan berlebihan. Produk tidak boleh mengklaim ‘menyembuhkan penyakit’ kecuali sudah ada bukti ilmiah dan mendapat persetujuan khusus dari BPOM. Pendekatan Nesya Drink yang tetap pada klaim realistis seperti ‘tidak bikin serik’ adalah pilihan komunikasi yang aman sekaligus lebih dipercaya oleh konsumen. Mengapa ‘Ramah Kantong’ Jadi Daya Tarik yang Kuat Di wilayah seperti Lumajang, Jember, dan Probolinggo, daya beli masyarakat sangat bervariasi. Segmen pelajar dan keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah adalah kelompok yang paling sensitif terhadap harga. Ketika mereka menemukan produk yang enak dan segar dengan harga Rp2.500, keputusan pembelian menjadi sangat mudah dilakukan, bahkan bisa terjadi impulsif. Menurut Philip Kotler dalam konsep Production Concept dari Manajemen Pemasaran, konsumen cenderung menyukai produk yang tersedia secara luas dengan harga yang sangat terjangkau. Oleh karena itu, organisasi atau bisnis perlu fokus pada peningkatan produksi dan efisiensi distribusi untuk memenuhi permintaan pasar yang besar. Prinsip ini persis yang diterapkan Nesya Drink: buka sebanyak mungkin cabang, jual dengan harga serendah mungkin, dan pastikan produk selalu tersedia. Cara Menonjolkan Nilai Jual dalam Konten Pemasaran Beberapa cara efektif untuk mengkomunikasikan nilai jual utama Nesya Drink: Strategi Perluasan Kemitraan Nesya Nesya Drink membuka peluang kemitraan dengan modal yang sangat terjangkau. Ini adalah salah satu cara pertumbuhan bisnis yang paling cepat dan efisien, terutama untuk merek yang baru berkembang di tingkat lokal. Dengan membuka kemitraan, Nesya Drink tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk membuka tiap cabang

SELENGKAPNYA
Milku: Susu Sapi Belgia Bisa Dijual Sangat Murah

Strategi Milku: Susu Sapi Belgia Bisa Dijual Sangat Murah

Kalau kamu sering jajan di minimarket, pasti sudah tidak asing lagi dengan botol kecil berwarna putih berlabel Milku. Susu UHT produksi Wings Food ini menjadi perbincangan karena berhasil menjual susu sapi Belgia dengan harga yang sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 3.400 sampai Rp 3.700 per botol 200 ml. Di tengah maraknya produk susu premium yang harganya jauh lebih tinggi, bagaimana Milku bisa melakukannya? Jawabannya ada pada strategi pemasaran yang cerdas dan terstruktur. Artikel ini membahas secara lengkap strategi pemasaran Milku, mulai dari pendekatan konten digital, pilihan varian produk, struktur harga, hingga kepatuhan regulasi pemerintah yang mendukung kepercayaan konsumen. Mengenal Susu Merek Milku Milku adalah produk susu UHT (Ultra High Temperature) yang diproduksi oleh Wings Food, salah satu perusahaan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) terbesar di Indonesia. Keunggulan utama Milku adalah penggunaan susu asli dari sapi Belgia, yang dikenal memiliki standar kualitas tinggi dari segi kemurnian dan kandungan nutrisinya. Peluncuran varian Original pada Maret 2024 melengkapi jajaran produk sebelumnya yaitu rasa Cokelat, Stroberi, dan Biskuit Marie. Direktur Marketing Wings Group Indonesia, Yolanda Djaja Sastra, menyebutkan bahwa Milku rasa Original hadir sebagai pilihan yang lebih sehat sekaligus fleksibel untuk dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai menu makanan. Dengan harga di bawah Rp 4.000 per botol, Milku berhasil membawa kualitas susu impor ke tangan konsumen dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Strategi Konten Digital UGC Milku Salah satu hal yang membuat strategi pemasaran Milku berbeda adalah penggunaan pendekatan yang disebut Engineered UGC atau konten organik terstruktur. Alih-alih mengandalkan iklan televisi yang mahal, Milku memilih jalur konten media sosial yang tampak spontan namun dirancang dengan terencana. Pendekatan ini meliputi kreasi resep menggunakan Milku, kolaborasi dengan gerai seperti Family Mart, dan unggahan kasual di Instagram yang seolah-olah muncul dari konsumen biasa. Hasilnya adalah konten yang terasa autentik dan mudah menyebar secara organik. Strategi ini sejalan dengan temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial (2025) berjudul ‘Analisis Peran User Generated Content (UGC) terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Era Digital’. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa keaslian, relevansi, dan kredibilitas UGC memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepercayaan konsumen yang kemudian mendorong niat membeli. UGC bukan sekadar sumber informasi alternatif bagi konsumen, tapi juga alat strategis bagi perusahaan untuk membangun dan memperkuat citra merek. Penelitian lain dari jurnal EKBIS: Ekonomi & Bisnis (2025) yang dilakukan terhadap 100 mahasiswa di Bandung juga menemukan bahwa UGC lebih dipersepsikan sebagai konten yang otentik karena mencerminkan pengalaman pengguna nyata, sementara konten resmi dari perusahaan dianggap lebih profesional. Keduanya terbukti berpengaruh positif terhadap kepercayaan konsumen. Milku tampaknya memanfaatkan kekuatan keduanya secara bersamaan. Transparansi Harga Milku Milku tidak sekadar menjual produk murah. Lewat kampanye media sosialnya, mereka secara transparan menjelaskan mengapa harganya bisa semurah itu. Penjelasan ini mencakup tiga faktor utama: Pendekatan edukatif ini cerdas karena membangun kepercayaan konsumen sebelum mereka bahkan membeli. Konsumen yang paham “kenapa murah” tidak akan mempertanyakan kualitasnya. Ini adalah teknik komunikasi pemasaran yang efektif untuk mengatasi keraguan awal konsumen terhadap produk berharga rendah. Prof. Fandy Tjiptono, pakar strategi pemasaran dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dalam berbagai tulisannya menekankan bahwa transparansi harga dan edukasi konsumen merupakan komponen penting dalam membangun ekuitas merek jangka panjang. Ketika konsumen merasa tidak ditipu dan mendapatkan nilai lebih dari harga yang dibayar, loyalitas merek akan terbentuk secara alami. Milku Sudah Bersertifikasi Halal Sebagai produk yang dipasarkan di Indonesia dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sertifikasi halal bukan sekadar nilai tambah, melainkan keharusan strategis. Milku telah mengantongi sertifikasi Halal MUI yang dicantumkan jelas pada kemasan produknya. Hal ini sejalan dengan regulasi terbaru pemerintah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal, produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia wajib memiliki sertifikasi halal paling lambat 17 Oktober 2024. Kebijakan ini memperkuat ekosistem industri halal nasional sekaligus memberikan kepastian bagi konsumen Muslim. Mulai tahun 2024, pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) juga memberlakukan ketentuan baru: masa berlaku sertifikasi halal kini berlaku seumur hidup selama tidak ada perubahan bahan baku atau proses produksi. Artinya, produsen yang sudah memiliki sertifikat halal dan menjaga konsistensi produksi tidak perlu lagi repot memperpanjang setiap empat tahun. Dengan label halal yang terpasang di botol Milku, konsumen Muslim bisa merasa aman dan nyaman mengonsumsinya setiap hari, tanpa perlu mempertanyakan kehalalan bahan-bahannya. Bagaimana Struktur Harga Milku? Berikut adalah struktur harga Milku yang berlaku di pasar: a. Harga Eceran Harga per botol 200 ml berkisar antara Rp 3.400 hingga Rp 3.700. Harga ini tersedia di minimarket, warung, dan toko online. b. Harga Grosir / Per Dus Satu karton berisi 12 botol dapat dibeli dengan harga berkisar antara Rp 39.500 hingga Rp 46.700. Cocok untuk pembelian keluarga atau untuk dijual kembali. c. Harga Promo Minimarket Saat periode promo tertentu, terutama di Indomaret, harga bisa turun hingga Rp 2.800 per botol. Promo ini biasanya berjalan bersamaan dengan kampanye digital di media sosial minimarket tersebut, menciptakan efek dorongan pembelian yang kuat. Strategi penetapan harga ini mengikuti prinsip value-based pricing yang berfokus pada persepsi nilai tinggi dengan harga rendah. Konsumen merasa mendapat produk berkualitas (susu sapi Belgia, bersertifikat halal) dengan harga yang jauh lebih murah dari ekspektasi mereka. Distribusi Minimarket ala Milku Salah satu kunci sukses Milku yang sering terlewat adalah ketersediaan yang luas di minimarket. Milku hadir di Indomaret, Alfamart, Family Mart, dan berbagai toko kelontong. Dengan jaringan distribusi yang mengandalkan minimarket sebagai tulang punggungnya, Milku memastikan produk bisa dijangkau oleh konsumen di seluruh penjuru Indonesia, dari kota besar hingga kecamatan kecil. Promo di Indomaret, misalnya, bukan hanya tentang diskon harga. Kampanye video di Facebook Indomaret yang memperlihatkan Milku sebagai pilihan susu hemat dan bergizi turut memperkuat pesan merek kepada jutaan pengikut halaman tersebut. Mengapa Strategi Milku Berhasil? Keberhasilan strategi pemasaran Milku bisa dijelaskan melalui beberapa faktor yang saling mendukung: Kombinasi kelima faktor ini menciptakan siklus yang terus menguat: Konsumen mencoba karena harga murah, puas karena kualitas sesuai ekspektasi, lalu membeli lagi dan bahkan merekomendasikan kepada orang lain secara organik. Kajian literatur strategi pemasaran susu yang dipublikasikan di ResearchGate (2025) memperkuat pandangan ini. Penelitian yang merujuk pada Sayidah (2024) menyimpulkan bahwa keberhasilan pemasaran produk susu tidak hanya bergantung

SELENGKAPNYA

Solaria Ekspansi 200 Cabang di 55 Kota Tanpa Franchise

Bayangkan sebuah restoran yang berhasil membuka lebih dari 200 cabang di 55 kota besar di Indonesia, tersebar di 31 provinsi, tanpa satu pun dijalankan oleh mitra franchise. Itulah yang berhasil dilakukan Solaria selama lebih dari tiga dekade. Di saat banyak jaringan kuliner berlomba merekrut mitra waralaba demi mempercepat pertumbuhan, Solaria justru memilih jalan yang berbeda: semua cabang dikelola langsung oleh PT Sinar Solaria. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Ada sistem di baliknya yang rapi, terencana, dan terbukti bertahan melewati krisis ekonomi 1998 hingga persaingan kuliner yang semakin ketat hari ini. Artikel ini membahas bagaimana Solaria membangun fondasi bisnisnya, strategi apa yang membuat ekspansinya bisa berjalan konsisten, dan pelajaran apa yang bisa dipetik dari model bisnis kuliner yang tidak lazim ini. Awal Mula Resto Solaria Solaria lahir pada 1991 di Lippo Cikarang, Tangerang. Pendirinya, Aliuyanto, adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada angkatan 1985 yang memulai segalanya dengan konsep kedai sederhana dan hanya empat karyawan. Empat tahun pertama berjalan lambat. Barulah pada 1995 nama Solaria mulai dikenal lebih luas, dan gerai berkembang menjadi sepuluh cabang. Kemudian datanglah ujian besar: kerusuhan 1998 memaksa enam gerai tutup. Namun alih-alih menyerah, perusahaan memilih bertahan dan membangun ulang dari nol. Ketangguhan itu terbukti. Pada 2008, sepuluh tahun setelah kerusuhan, Solaria sudah memiliki 130 gerai di 25 kota. Artinya rata-rata sepuluh gerai baru dibuka setiap tahunnya. Hari ini, Solaria hadir di lebih dari 200 lokasi di seluruh Indonesia dan seluruhnya berada di bawah kendali langsung PT Sinar Solaria, bukan melalui kemitraan franchise. Sebagaimana dikonfirmasi melalui laman resmi Facebook Solaria Resto, per Juli 2022 Solaria belum membuka sistem franchise dan tidak berencana melakukannya dalam waktu dekat. Sistem Operasional Solaria Salah satu kunci utama yang membuat Solaria bisa berkembang tanpa franchise adalah sistem operasional yang terstandarisasi dengan ketat. Jadi bisa dibilang tulang punggung dari seluruh rantai operasional di ratusan gerai yang tersebar di kota-kota berbeda. Pilihan menu Solaria sengaja dibuat sederhana dan mudah direplikasi: nasi goreng, mie goreng, kwetiau, cap cay, ayam goreng mentega, hingga beberapa menu bertema masakan barat seperti chicken cordon bleu. Menu-menu ini bukan pilihan sembarangan. Kesederhanaannya membuat proses dapur lebih efisien, pelatihan karyawan baru lebih singkat, dan bahan baku lebih mudah dikendalikan dari pusat. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 11 Tahun 2014 tentang Standar Usaha Restoran, setiap restoran di Indonesia wajib memenuhi standar produk, pelayanan, dan pengelolaan usaha. Solaria membangun sistem SOP-nya selaras dengan regulasi ini, sehingga setiap cabang tidak hanya seragam secara rasa tetapi juga memenuhi kewajiban hukum secara menyeluruh. Standar Operasional Prosedur (SOP) dapur menjadi fondasi utama yang membuat Solaria tidak bergantung pada keterampilan chef tertentu. Dengan sistem yang terstandarisasi, setiap cabang dapat menghasilkan menu dengan rasa yang relatif konsisten meski dikelola oleh tim dapur yang berbeda di kota yang berbeda pula. Djoko Kurniawan, Senior Consultant of Business, Franchise & Service Quality, menegaskan bahwa tanpa SOP yang baku dan disosialisasikan dengan baik kepada semua karyawan, bisnis kuliner yang punya banyak cabang akan sulit menjaga konsistensi. Ia menyebut konsistensi sebagai faktor pembeda antara restoran yang bertahan lama dan yang ditinggalkan pelanggannya. Model SOP terpusat seperti yang diterapkan Solaria justru memberikan keunggulan kompetitif nyata dalam jangka panjang. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Economic Analysis and Practice (JEAP) berjudul “Analisis Model Bisnis dan Strategi Ekspansi Franchise Makanan Cepat Saji di Indonesia” (Ardhi, Suryanto, Hasbi, 2024). Penelitian tersebut menemukan bahwa brand equity yang kuat dan standar operasional yang jelas merupakan faktor paling menentukan dalam keberhasilan ekspansi jaringan kuliner, bahkan lebih dari sekadar kecepatan membuka cabang baru. Variasi Menu Solaria yang Sesuai Lidah Lokal Salah satu alasan Solaria bisa bertahan lebih dari tiga dekade adalah karena menunya dekat dengan selera masyarakat Indonesia sehari-hari. Bukan menu yang terlalu eksotis, bukan pula yang terlalu asing. Perpaduan masakan Indonesia seperti nasi goreng dan kwetiau dengan sentuhan masakan Tionghoa-Indonesia membuat siapa pun yang masuk ke Solaria langsung menemukan sesuatu yang familiar. Adaptasi terhadap selera lokal ini bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Solaria secara aktif mengamati tren kuliner dan menyesuaikan menu secara berkala, termasuk menyediakan pilihan menu khusus seperti menu keluarga yang bisa dipesan untuk beberapa orang sekaligus. Dalam konteks regulasi, setiap produk makanan yang dijual kepada konsumen di Indonesia juga tunduk pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Untuk restoran dengan skala sebesar Solaria, kepatuhan terhadap ketentuan ini menjadi bagian penting dari kepercayaan konsumen Muslim yang merupakan mayoritas pelanggan mereka. Lokasi Strategis Solaria Tidak ada cabang Solaria yang dibuka di sudut jalan yang sepi. Strategi penempatan gerai selalu mengutamakan lokasi dengan arus pengunjung yang konsisten, dan mal menjadi pilihan utama yang terbukti efektif. Mal adalah tempat di mana berbagai kelompok konsumen berkumpul secara alami. Pengunjung datang untuk berbelanja, berjalan-jalan, atau sekadar menghabiskan waktu luang. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan restoran dengan harga terjangkau dan menu yang familiar menjadi pilihan logis untuk makan siang atau makan malam. Selain mal, banyak gerai Solaria juga ditempatkan di rest area jalan tol dan kawasan yang menjadi pusat aktivitas keluarga. Lokasi-lokasi ini punya karakteristik serupa: trafik pengunjung yang stabil dan tidak terlalu bergantung pada tren sesaat. Keputusan lokasi berbasis data seperti ini selaras dengan prinsip manajemen restoran modern. Menurut kajian manajemen operasional F&B, analisis demografi dan pola konsumsi di sekitar lokasi adalah langkah kritis yang menentukan potensi omzet jangka panjang dan stabilitas operasional sebuah gerai. Lokasi yang dipilih berdasarkan data akan lebih tahan terhadap perubahan kondisi pasar dibanding yang dipilih hanya berdasarkan intuisi. Dari sisi hukum usaha, penempatan gerai di pusat perbelanjaan juga mempermudah pemenuhan kewajiban perizinan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang kemudian diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, izin usaha restoran kini diproses melalui sistem OSS (Online Single Submission) berbasis risiko. Mal-mal besar umumnya sudah memiliki ekosistem perizinan yang lebih tertata, sehingga proses ini menjadi lebih mudah bagi tenant yang beroperasi di dalamnya. Manajemen Terpusat untuk Kendali Kualitas Seluruh cabang Solaria berada di bawah satu atap manajemen: PT Sinar Solaria. Tidak ada mitra yang mengelola secara mandiri, tidak ada variasi kebijakan antar daerah. Semua keputusan operasional diambil secara

SELENGKAPNYA