Category: Bedah Usaha

Menampilkan semua artikel pada kategori yang disesuaikan

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kalau kamu sering wara-wiri di mal, pasti pernah lihat toko kuning yang jual pernak-pernik lucu, kosmetik, mainan, sampai camilan impor. Nah, toko itu dulu namanya KKV. Tapi belakangan ini banyak gerai yang berubah jadi OH! SOME, dan ini bikin banyak orang bingung. Apakah cuma ganti nama doang, atau memang ada perusahaan baru di baliknya? Pertanyaan ini wajar banget muncul, apalagi topik ini sempat viral di media sosial. Ada yang bilang cuma rebranding biasa, ada juga yang bilang ini soal kontrak lisensi yang habis. Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas soal hubungan KKV dan OH! SOME, mulai dari sejarahnya, siapa pemiliknya, sampai kenapa dua nama ini sekarang jadi dua entitas yang benar-benar berbeda. Awal Mula Brand Toko KKV Sebelum ngomongin soal perubahan nama, ada baiknya kita mundur dulu ke belakang untuk tahu dari mana sebenarnya KKV berasal. KKV adalah bagian dari KK Group, perusahaan asal China yang didirikan oleh Wu Yuening pada tahun 2015. Menariknya, Wu Yuening awalnya berkarier di bidang teknologi informasi sebelum akhirnya banting setir membangun bisnis ritel gaya hidup ini. Gerai pertama yang dia luncurkan namanya KK Guan, dan konsepnya memang fokus jualan barang-barang impor. Baru pada tahun 2019, nama KKV mulai dikenal luas setelah KK Group meluncurkan jaringan toko yang menyasar target pasar anak muda. Setahun berikutnya, di 2020, mereka melebarkan sayap lagi dengan membuka jaringan gerai X11 yang fokus jualan mainan dan fashion. Kalau ngomongin Indonesia, gerai KKV pertama resmi buka pada 4 Maret 2020 di Central Park Jakarta. Luasnya lumayan besar, lebih dari 3.000 meter persegi, dan isinya lebih dari 10.000 produk yang terbagi ke 15 kategori berbeda. Bayangkan, satu toko tapi isinya bisa dari kosmetik, camilan, mainan, sampai perlengkapan rumah tangga, semua ada. Bisnis ini ternyata laris manis. Dalam 10 bulan pertama tahun 2023 saja, gerai KKV di Indonesia berhasil mencatat pendapatan sekitar 420,1 juta yuan dengan laba 96,9 juta yuan dan margin laba kotor 23,1 persen. Nah, yang bikin makin menarik, volume transaksi bulanan toko-toko di Indonesia ternyata hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan toko sejenis di China, dengan rata-rata 2,5 juta yuan per bulan. Angka ini menunjukkan kalau pasar Indonesia memang jadi salah satu tambang emas buat KK Group, sampai akhirnya mereka juga ekspansi ke Malaysia pada Januari 2024. Kenapa KKV Tiba-Tiba Ganti Nama Jadi OH! SOME? Pada pertengahan tahun 2024, warganet mulai ramai membahas soal gerai KKV yang berubah nama jadi OH! SOME. Momen viralnya sendiri bermula dari sebuah video yang dibagikan lewat akun TikTok, yang memperlihatkan proses pergantian nama di salah satu toko. Dari situ, netizen lain mulai ikut cerita kalau gerai di kota mereka juga sudah berubah. Yang menarik, dari video-video yang beredar, sebenarnya tidak banyak yang berubah dari sisi produk maupun tata letak toko. Barang yang dijual sama persis, cuma logo dan namanya saja yang diganti. Ini yang bikin banyak orang mikir kalau ini murni cuma soal branding. Tapi kalau digali lebih dalam, ternyata ada cerita bisnis yang lebih kompleks di baliknya. Dugaan paling kuat adalah karena kontrak lisensi penggunaan merek KKV antara pemilik asli di China dengan operator di Indonesia sudah berakhir. Jadi sebenarnya, dulu KKV di Indonesia dijalankan lewat semacam kerja sama lisensi. Ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang, pihak yang tadinya mengoperasikan toko-toko KKV di Indonesia akhirnya membuat merek baru sendiri, yaitu OH! SOME. Situasi ini sebenarnya mirip banget dengan kasus yang pernah terjadi di industri ritel lain, misalnya perpindahan lisensi antara Ace Hardware dan Azko yang juga pernah bikin heboh warganet Indonesia. Pola bisnisnya sama, ketika kontrak lisensi merek internasional berakhir, operator lokal biasanya punya dua pilihan, mempertahankan hubungan dengan pemilik merek lama atau membangun identitas baru yang independen. Siapa Sebenarnya Pemilik OH! SOME? Sekarang OH! SOME resmi dimiliki dan dioperasikan oleh Blue Origin Group. Perusahaan ini mengambil alih operasional toko-toko yang sebelumnya berjalan di bawah nama KKV di Indonesia. Jadi meskipun tampilan produk dan konsep tokonya masih mirip banget dengan KKV, secara hukum dan kepemilikan, OH! SOME sudah berdiri sendiri, terpisah dari KK Group yang jadi pemilik asli merek KKV di China. Salah satu bukti kuat kalau OH! SOME memang serius membangun identitas sendiri adalah soal pendaftaran mereknya. Merek OH! SOME sudah resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI pada 15 Januari 2025, tepatnya untuk kelas 35 yang mencakup kegiatan usaha ritel dan perdagangan. Perlindungan hukum atas merek ini berlaku sampai 1 April 2034. Pendaftaran merek dagang memang jadi kewajiban setiap perusahaan yang mau punya identitas bisnis yang diakui secara legal dan terlindungi dari penyalahgunaan pihak lain. Selain soal legalitas merek, langkah rebranding ini juga dibarengi dengan strategi ekspansi. Setelah resmi berganti nama, OH! SOME membuka gerai baru di Summarecon Mall Bekasi, dan kabarnya bakal terus menambah cabang ke kota-kota besar lain seperti Surabaya dan Bandung. Jadi bukan cuma ganti papan nama doang, mereka juga terus memperluas jangkauan tokonya ke berbagai wilayah. Kalau kamu penasaran kenapa dipilih nama OH! SOME, alasannya cukup sederhana, yaitu supaya brand ini lebih gampang diingat dan lebih catchy didengar. Nama yang unik memang jadi salah satu strategi penting biar toko bisa menarik perhatian konsumen baru sambil tetap mempertahankan pelanggan lama. Selain nama, konsep toko juga ikut diperbarui supaya kesannya lebih segar dan cocok dengan selera anak muda zaman sekarang. Terus, KKV yang Asli Sekarang Kemana? Setelah kerja sama lisensi dengan operator lama di Indonesia berakhir, KK Group, sebagai pemilik merek KKV asal China, memutuskan kembali mengelola bisnisnya secara langsung di Indonesia tanpa menggunakan mitra lisensi seperti sebelumnya. Keputusan itu bukan lagi sekadar rencana. Pada 2026, KK Group resmi membawa kembali KKV ke Indonesia dan langsung membuka beberapa gerai di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Garut, hingga Bali. Mereka juga menyatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting dalam strategi ekspansi jangka panjangnya. Artinya, sekarang memang ada dua perusahaan yang berjalan sendiri-sendiri. Di satu sisi, ada KKV yang dioperasikan langsung oleh KK Group sebagai pemilik merek asli dari China. Di sisi lain, ada OH! SOME yang tetap dikelola oleh Blue Origin Group sebagai perusahaan lokal setelah perjanjian lisensinya berakhir. Jadi, anggapan bahwa “KKV berubah menjadi OH! SOME” sebenarnya kurang tepat. Yang terjadi adalah

SELENGKAPNYA
Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Pernah dengar cerita dua perusahaan besar berebut hak pakai satu nama merek sampai ke Mahkamah Agung? Kasus ini benar-benar terjadi di Indonesia, antara PT Unilever Indonesia Tbk dan Hardwood Private Limited, induk perusahaan Orang Tua Group. Perkaranya sederhana saja, yaitu soal siapa yang berhak memakai kata “Strong” pada produk pasta gigi. Tapi prosesnya panjang, mulai dari gugatan di Pengadilan Niaga, kasasi, sampai peninjauan kembali di Mahkamah Agung. Cerita ini menarik bukan cuma karena melibatkan dua nama besar di industri consumer goods. Ada pelajaran penting di baliknya, terutama buat kamu yang sedang membangun usaha kecil atau menengah. Kalau perusahaan sebesar Unilever saja bisa terseret sengketa merek yang berlarut-larut, bayangkan risikonya buat UMKM yang belum sempat memikirkan urusan legalitas merek karena sibuk mengejar omzet. Padahal merek adalah aset, dan mengurus perlindungannya semestinya jadi bagian dari strategi bisnis UMKM sejak awal, bukan urusan yang ditunda sampai bisnis besar. Kronologi Singkat Sengketa Merek Formula vs Pepsodent Semua bermula pada 29 Mei 2020. Hardwood Private Limited menggugat Unilever Indonesia ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Alasannya, merek “Strong” sudah terdaftar atas nama Hardwood sejak tahun 2008 di kelas 3, kelas yang mencakup produk perawatan tubuh termasuk pasta gigi, dengan nomor pendaftaran IDM000258478. Merek ini juga sudah dipakai dalam beberapa varian seperti Formula Strong, Strong Protector, sampai Formula Strong Herbal. Masalahnya, sejak 2019 Unilever mulai memasarkan produk “Pepsodent Strong 12 Jam”. Menurut Hardwood, pemakaian kata “Strong” ini membingungkan konsumen dan berpotensi merugikan reputasi merek yang sudah mereka bangun bertahun-tahun. Unilever sendiri membela diri dengan mengatakan bahwa permohonan pendaftaran merek “Pepsodent Strong 12 Jam” sudah diajukan sejak September 2019 dan menurut mereka tidak ada kemiripan yang signifikan dari segi bentuk, warna, atau susunan unsur merek dengan “Strong” milik Hardwood. Majelis hakim di tingkat pertama sepenuhnya berpihak pada Hardwood. Putusan menyatakan merek “Strong” adalah merek terkenal di Indonesia, dan pemakaian kata yang sama oleh Unilever dianggap punya kesamaan pada pokoknya. Unilever bahkan dihukum membayar ganti rugi sebesar Rp30 miliar. Tidak terima dengan putusan itu, Unilever mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung pada akhir November 2020, dan kali ini hasilnya berbalik. Melalui Putusan Nomor 332 K/Pdt.Sus-HKI/2021, Mahkamah Agung mengabulkan kasasi Unilever dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga sebelumnya. Hardwood tidak menyerah dan menempuh upaya hukum terakhir, yaitu peninjauan kembali. Namun lewat Putusan Nomor 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022, Mahkamah Agung kembali menolak permohonan tersebut. Dengan putusan final ini, Unilever akhirnya dinyatakan berhak memakai kata “Strong” pada produk-produknya, dan status ini masih berlaku sampai sekarang karena tidak ada upaya hukum lanjutan setelah putusan peninjauan kembali tersebut. Kenapa First to File Itu Penting? Kasus ini berputar di satu prinsip dasar dalam hukum merek Indonesia, yaitu sistem konstitutif atau first to file principle. Artinya, hak atas merek diberikan kepada pihak yang lebih dulu mendaftarkan mereknya ke instansi berwenang, bukan kepada pihak yang lebih dulu memakainya di pasar. Dasar hukumnya ada di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang mengatur bahwa perlindungan hukum atas merek baru berlaku setelah merek itu resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, disingkat DJKI, yang berada di bawah Kementerian Hukum. Prinsip inilah yang membuat pertarungan merek sering kali bukan soal siapa yang lebih dulu berjualan, melainkan soal siapa yang lebih dulu mengurus kertas pendaftarannya. Sayangnya, banyak pelaku usaha, terutama UMKM, masih menganggap urusan pendaftaran merek sebagai hal sepele yang bisa ditunda. Padahal begitu ada pihak lain yang lebih dulu mendaftarkan nama yang mirip atau bahkan identik, pemilik usaha yang sudah lama berjualan dengan nama itu bisa kehilangan hak pakainya sendiri, sama seperti risiko yang nyaris dialami oleh salah satu pihak dalam sengketa “Strong” di atas. Regulasi yang Mempermudah UMKM Mendaftarkan Merek Kabar baiknya, pemerintah terus berupaya menurunkan hambatan administratif yang selama ini membuat pelaku UMKM enggan mendaftarkan merek. Salah satu langkah terbaru datang lewat Peraturan Menteri Hukum Nomor 5 Tahun 2026. Lewat aturan ini, DJKI memperluas dan mempermudah syarat pembuktian dokumen bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil. Prosedur administratif yang sebelumnya bersifat kaku dan formalitas kini diganti dengan pilihan dokumen legalitas yang lebih beragam, sehingga pelaku usaha mikro dan kecil yang sering terkendala kelengkapan dokumen standar punya jalan lebih fleksibel untuk tetap bisa mendaftarkan mereknya. Selain kemudahan dokumen, ada juga insentif dari sisi biaya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2024 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di Kementerian Hukum, biaya pendaftaran merek secara online untuk kategori umum adalah sekitar Rp1.800.000 per kelas. Namun khusus untuk pelaku UMKM yang melampirkan Surat Rekomendasi dan Surat Pernyataan UMKM, biayanya bisa turun jadi kurang dari separuhnya, yaitu sekitar Rp500.000 per kelas. Selain insentif biaya ini, DJKI juga secara aktif memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang ingin mengurus pendaftaran mereknya, mulai dari sosialisasi sampai bimbingan teknis pengisian formulir. Dua aturan ini, kalau digabungkan, sebenarnya memberi sinyal jelas bahwa pemerintah ingin UMKM tidak lagi menomorduakan urusan legalitas merek. Persyaratan yang lebih longgar dan biaya yang lebih terjangkau harusnya membuat alasan “ribet dan mahal” tidak lagi relevan buat kamu yang masih ragu mendaftarkan merek usahamu sendiri. Belajar dari Kasus Besar untuk UMKM Sengketa “Strong” mengajarkan bahwa nilai sebuah merek tidak selalu berbanding lurus dengan besar kecilnya perusahaan. Justru karena nilainya besar, sengketa semacam ini sering muncul ketika sebuah merek mulai dikenal luas dan menguntungkan secara komersial. UMKM yang hari ini masih berskala kecil, kalau berhasil berkembang, punya risiko yang sama untuk menghadapi klaim serupa dari pihak lain kalau sejak awal tidak mengamankan mereknya lewat pendaftaran resmi. Beberapa hal sederhana yang bisa kamu terapkan sebagai bagian dari strategi bisnis UMKM antara lain memilih nama merek yang benar-benar khas dan tidak menyerupai merek yang sudah ada, mengecek pangkalan data merek sebelum memutuskan nama final, segera mendaftarkan merek begitu produk mulai dipasarkan secara konsisten, dan memanfaatkan insentif biaya yang sudah disediakan pemerintah lewat berbagai kebijakan yang terus diperbarui. Jangan menunggu usaha besar dulu baru memikirkan legalitas merek, karena semakin besar dan dikenal sebuah merek, semakin besar pula risiko sengketa yang mungkin muncul di kemudian hari. Penutup Kasus sengketa merek “Strong” antara Unilever dan Orang Tua Group menunjukkan bahwa urusan merek bukan perkara kecil, bahkan buat perusahaan sekelas multinasional sekalipun. Buat pelaku

SELENGKAPNYA
5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

Jims Honey menjadi salah satu contoh sukses UMKM lokal yang berkembang dari usaha bermodal minim menjadi bisnis dengan omzet miliaran rupiah. Di balik kesuksesan tersebut, ada kisah Stefi, perempuan asal Pontianak yang merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan S2. Alih-alih hanya fokus kuliah, ia justru melihat peluang bisnis dan memulai usaha aksesori wanita dengan modal awal hanya Rp2,5 juta dari uang kiriman orang tua. Berkat strategi yang tepat, konsistensi membangun merek, serta pengelolaan jaringan reseller, Jims Honey berhasil tumbuh pesat hingga mencatat omzet lebih dari Rp1 miliar per bulan dan memiliki lebih dari 500 reseller di Yogyakarta. Kisah ini menarik untuk dibedah karena memperlihatkan bagaimana strategi bisnis UMKM yang sederhana, kalau dijalankan dengan konsisten, bisa mengubah usaha rumahan menjadi merek yang dikenal luas. Artikel ini akan mengupas langkah-langkah yang dipakai Jims Honey, mulai dari membangun identitas merek, menjalin kemitraan dengan reseller, menjaga kualitas produk, sampai memanfaatkan media sosial. Awal Mula Jims Honey Sebelum punya nama Jims Honey, Stefi awalnya hanya membeli barang dari Cina dan menjualnya kembali tanpa label apa pun. Waktu itu jualannya sepi, sehari laku dua barang saja sudah dianggap bagus. Setelah setahun lebih berjualan tanpa merek, ia baru memutuskan untuk memberi label pada produk yang dijualnya, bekerja sama dengan saudaranya di Jakarta yang memesan barang langsung dari pabrik di Cina. Nama Jims Honey sendiri diambil dari nama suami saudaranya, Jims, dan kata honey yang berarti madu. Alasan pemilihan nama ini sederhana, madu dianggap manis dan bermanfaat, sehingga diharapkan usaha ini juga bisa memberi manfaat secara ekonomi untuk banyak orang. Cerita semacam ini kelihatan sepele, tapi sebenarnya menjadi salah satu fondasi penting dalam strategi bisnis UMKM, yaitu narasi asal-usul merek yang bisa membuat produk terasa lebih dekat dengan pembeli. Kajian dari tim akademik Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tentang branding digital UMKM menjelaskan bahwa storytelling adalah cara yang ampuh untuk membuat merek lebih dekat dengan konsumen. Menceritakan asal-usul produk, motivasi membangun usaha, dan tantangan yang dihadapi bisa membangun hubungan emosional yang kuat dengan calon pembeli, bukan sekadar menarik perhatian sesaat. Ketika pelanggan merasa terhubung dengan cerita di balik sebuah produk, mereka biasanya membeli bukan cuma karena butuh, tapi juga karena merasa punya ikatan dengan merek tersebut. Ini sejalan dengan apa yang dilakukan Jims Honey, di mana kisah perjuangan Stefi menjadi bagian dari citra merek yang terus dibicarakan di berbagai media. Lalu, bagaimana cara Jims Honey bisa menjadi brand fashion affordable tapi tetap trendy yang digandrungi banyak orang seperti sekarang? 1. Bangun Identitas Merek Sejak dari Nol Setelah punya nama dan label, langkah berikutnya dalam strategi bisnis UMKM adalah memperluas jenis produk sambil menjaga konsistensi identitas merek. Jims Honey yang awalnya hanya menjual dompet dan tas, perlahan menambah lini produk seperti jam tangan, power bank, dan tumbler. Harga yang dipasang juga terjangkau, dompet mulai Rp50 ribu, tas dan jam tangan mulai Rp60 ribu, power bank mulai Rp95 ribu. Kombinasi harga terjangkau dengan kualitas yang terjaga inilah yang membuat produknya mudah diterima pasar menengah ke bawah sampai menengah. Pemilihan harga dan perluasan lini produk semacam ini sebenarnya bagian dari apa yang disebut branding produk. Merek yang kuat memungkinkan UMKM menetapkan harga yang wajar tanpa harus terus-menerus banting harga demi bersaing, karena pembeli sudah punya kepercayaan pada kualitas yang ditawarkan. Tanpa identitas merek yang jelas, produk UMKM gampang dianggap sama dengan barang sejenis lain yang beredar di pasar, sehingga pembeli hanya akan membandingkan dari sisi harga saja. 2. Kemitraan dengan Reseller Salah satu kunci pertumbuhan Jims Honey adalah jaringan reseller yang jumlahnya mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Syaratnya sederhana, calon reseller cukup membeli satu produk dan memakainya sendiri lebih dulu, supaya mereka paham betul kualitas barang yang akan mereka jual kembali. Cara ini membantu menjaga standar pelayanan karena reseller tidak sekadar menjual, tapi juga sudah merasakan langsung produknya. Pola kemitraan seperti ini sebenarnya sudah lama dipraktikkan pelaku usaha, tapi baru belakangan mendapat payung hukum yang lebih jelas dari pemerintah. Kementerian UMKM menerbitkan Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan dan Peningkatan Daya Saing Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Aturan ini mewajibkan setiap platform digital mencantumkan secara jelas seluruh jenis biaya yang dibebankan kepada pelaku usaha mikro dan kecil dalam perjanjian kemitraan, sehingga biaya layanan tidak bisa lagi dinaikkan sepihak di tengah masa kerja sama. Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menjelaskan bahwa aturan ini memberi kepastian bagi pelaku usaha kecil dalam menjalankan bisnisnya karena seluruh biaya yang disepakati sudah tercantum jelas sejak awal perjanjian kemitraan dibuat. Bagi pelaku usaha yang membangun jaringan reseller atau berjualan lewat marketplace seperti Jims Honey, aturan semacam ini penting dipahami. Kejelasan pembagian keuntungan, biaya layanan, dan hak masing-masing pihak akan membuat kemitraan lebih adil dan berkelanjutan, bukan cuma menguntungkan salah satu pihak saja. Strategi bisnis UMKM yang mengandalkan reseller sebaiknya juga menuangkan kesepakatan kerja sama secara tertulis, walau sederhana, supaya ada kejelasan sejak awal dan menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Pentingnya membangun merek lewat kanal daring dan kemitraan reseller juga pernah diteliti secara akademik. Penelitian Rahman dan Mawardi yang dimuat di Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Universitas Brawijaya berjudul “Strategi UMKM Dalam Membangun Brand Toko Online Di Marketplace” menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM membangun merek di platform digital sangat bergantung pada konsistensi tampilan toko, deskripsi produk yang jelas, dan respons cepat terhadap pertanyaan pembeli. Temuan ini cocok dengan praktik Jims Honey yang menjaga komunikasi aktif dengan reseller maupun pembeli akhir lewat WhatsApp dan media sosial sejak awal usahanya berjalan. 3. Menjaga Kualitas Produk sebagai Fondasi Kepercayaan Jaringan reseller yang besar tidak akan bertahan lama kalau kualitas produknya tidak dijaga. Stefi punya cara sendiri untuk memastikan hal ini, yaitu meminta contoh produk dari pabrik di Cina sebelum memesan dalam jumlah besar. Jika barang yang dikirim dalam jumlah besar ternyata ada yang rusak, ia bisa meretur ke pabrik tergantung tingkat kerusakannya. Untuk kerusakan ringan, biasanya ia memberi diskon kepada konsumen yang tetap ingin membeli barang dengan kondisi tertentu. Tim Jims Honey bahkan rutin berkunjung ke Cina untuk memperbarui model produk sesuai tren terbaru. Cara kerja seperti ini menunjukkan bahwa quality control bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian

SELENGKAPNYA
Joger Bali, Strategi Bisnis yang Menjual Kata-Kata

Joger Bali, Strategi Bisnis yang Menjual Kata-Kata

Di tengah banyaknya pusat oleh-oleh yang tumbuh di Pulau Dewata, Joger Bali tetap berdiri sebagai contoh strategi bisnis UMKM yang berhasil membangun identitas kuat lewat cara yang sederhana, yaitu kata-kata. Ketika toko oleh-oleh lain berlomba menonjolkan diskon besar dan variasi produk, Joger justru memilih jalan berbeda. Ia menjual pengalaman dan kesan yang tertanam di kepala pengunjung jauh setelah mereka pulang dari Bali. Kisah ini menarik untuk dibedah karena banyak pelajaran di dalamnya yang bisa dipakai oleh pelaku usaha kecil dan menengah di berbagai daerah, tidak terbatas pada bisnis oleh-oleh saja. Awal Mula Joger Bali Joger didirikan pada tahun 1981 oleh Joseph Theodorus Wulianadi. Nama Joger sendiri gabungan dari nama Joseph dan sahabatnya, Gerard, yang memberi modal awal usaha ini. Sejak hari pertama, Joger tidak dibangun dengan konsep toko oleh-oleh pada umumnya. Joseph memilih menonjolkan kalimat-kalimat nyeleneh, humoris, dan kadang terasa filosofis sebagai ciri khas produknya. Kaos, sandal, dan berbagai merchandise lain dirancang dengan kalimat sederhana yang tetap mengena secara emosional bagi pembelinya. Pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan konsep brand storytelling yang belakangan banyak dipelajari dalam ilmu pemasaran modern. Sebuah kajian yang dimuat di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara menjelaskan bahwa merek bukan sekadar nama atau simbol, melainkan alat yang membantu konsumen mengenali produk sekaligus membangun rasa percaya terhadapnya. Ketika sebuah usaha kecil mampu menghadirkan identitas merek yang jelas, pelanggan akan lebih mudah mengingat dan membedakannya dari kompetitor (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara, Vol. 4 No. 3, 2023). Prinsip inilah yang tanpa disadari sudah dipraktikkan Joger sejak lebih dari empat dekade lalu, jauh sebelum istilah brand identity populer digunakan di dunia usaha kecil menengah di Indonesia. Fondasi Identitas Merek Joger Ciri khas paling menonjol dari Joger ada pada tulisan-tulisan yang tertera di produknya. Kalimat singkat namun terasa dekat dengan keseharian membuat produk Joger bukan lagi sekadar barang konsumsi, melainkan media ekspresi bagi pembelinya. Wisatawan yang memakai kaos Joger sebenarnya sedang membawa pulang sepotong humor dan kenangan, bukan hanya kain bersablon. Cara pandang semacam ini cocok dengan teori branding yang selama ini dipakai sebagai rujukan akademik. Konsep brand identity, menurut ahli pemasaran Kevin Lane Keller, merujuk pada alat yang punya ciri khas dan bisa dipatenkan, yang fungsinya membedakan satu merek dengan merek lain di pasar. Sementara itu, pakar branding David Aaker menekankan bahwa kekuatan sebuah merek terletak pada tiga hal utama, yaitu identitas merek, citra merek, dan ekuitas merek yang terbentuk dari waktu ke waktu. Ketiga elemen ini terlihat jelas pada Joger. Identitasnya lewat gaya bahasa yang khas, citranya sebagai brand yang jujur dan apa adanya, serta ekuitasnya yang terus bertambah karena loyalitas pelanggan selama puluhan tahun. Karena identitas verbal seperti tagline dan gaya bahasa punya nilai ekonomi, negara sebenarnya menyediakan payung hukum untuk melindunginya. Di Indonesia, perlindungan atas merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang kemudian mengalami penyesuaian lewat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Aturan ini memberi kepastian hukum bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk mendaftarkan nama dagang, slogan, atau ciri khas produknya agar tidak ditiru pihak lain. Pendaftaran merek menjadi langkah penting supaya kekuatan sebuah identitas usaha, seperti gaya bahasa nyeleneh ala Joger, benar-benar menjadi aset yang diakui secara hukum dan bisa terus dijaga keasliannya. Perlindungan ini akan makin diperkuat ke depan. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum tengah mendorong revisi Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis dengan tujuan mempercepat proses pendaftaran merek. Menurut Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Hermansyah Siregar, revisi ini diarahkan agar pelaku usaha, mulai dari skala besar sampai UMKM, mendapat kepastian hukum yang lebih cepat atas kekayaan intelektual yang mereka miliki. Kepastian hukum atas merek pada akhirnya memperkuat brand equity, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan inovasi di kalangan pelaku usaha kecil. Bagi pelaku UMKM yang sedang menyusun strategi bisnis umkm jangka panjang, mendaftarkan merek sejak awal adalah langkah yang sering terlewat padahal dampaknya besar untuk keberlangsungan usaha di masa depan. Eksklusivitas di Tengah Godaan Ekspansi Berbeda dari kebanyakan brand lain yang berlomba membuka cabang di berbagai kota, Joger justru memilih jalan sebaliknya. Outlet utamanya tetap terpusat di Bali dan tidak mudah ditemukan di daerah lain. Pilihan ini menciptakan kesan langka pada produknya, sehingga wisatawan merasa perlu membeli langsung saat berkunjung ke Bali, bukan menunggu produk itu hadir di kota asal mereka. Strategi menjaga eksklusivitas semacam ini sebenarnya cukup jarang dipakai oleh pelaku usaha kecil, karena kebanyakan UMKM justru berusaha memperluas jangkauan pasar secepat mungkin lewat berbagai cabang atau platform digital. Padahal, sebuah kajian tentang strategi branding pada UMKM lokal di wilayah Jawa menemukan bahwa unsur kelangkaan dan keunikan lokal justru berdampak positif terhadap harga jual dan loyalitas konsumen. UMKM yang berhasil menonjolkan cerita lokalitas dan keunikan produknya mampu meningkatkan harga jual hingga dua puluh sampai tiga puluh persen karena konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang terasa punya nilai dan citra khusus. Pemerintah sendiri sudah menyiapkan kerangka kebijakan yang mendukung pelaku UMKM agar bisa mengelola strategi usahanya secara lebih terarah, termasuk soal ruang promosi dan pengembangan usaha. Lewat Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, sampai badan usaha swasta diwajibkan menyediakan tempat promosi bagi usaha mikro dan kecil, paling sedikit tiga puluh persen dari total luas lahan area komersial atau tempat perbelanjaan yang mereka kelola. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara turut membuka ruang agar UMKM dengan karakter unik seperti Joger, yang mengandalkan storytelling dan keunikan lokal, punya kesempatan tampil di ruang publik dan bersaing secara sehat dengan pelaku usaha berskala besar. Strategi Bisnis UMKM yang Bisa Dipelajari dari Joger Ada beberapa pelajaran konkret yang bisa diambil pelaku usaha kecil dan menengah dari perjalanan panjang Joger. 1. Bangun Identitas Merek yang KuatIdentitas merek tidak harus dibangun dengan anggaran pemasaran besar. Konsistensi dalam menyampaikan karakter dan nilai usaha dapat menciptakan kedekatan emosional dengan pelanggan. 2. Fokus pada Kualitas Sebelum BerekspansiJangan terburu-buru membuka banyak cabang. Pastikan kualitas produk, layanan, dan konsistensi merek tetap terjaga agar citra usaha semakin kuat. 3. Urus Legalitas dan Perlindungan Merek Sejak AwalDaftarkan merek sejak usaha mulai berjalan agar identitas bisnis terlindungi secara hukum, tidak mudah

SELENGKAPNYA
Strategi Bisnis Bean Spot: Cara Kopi Alfamart Tarik Konsumen

Strategi Bisnis Bean Spot: Cara Kopi Alfamart Tarik Konsumen

Kalau kamu sering mampir ke Alfamart, kemungkinan besar kamu pernah melihat sudut kecil berisi mesin kopi dengan tulisan Bean Spot di dekat kasir. Sudut kecil ini bukan sekadar pelengkap toko saja, ya! Bean Spot adalah lini bisnis food and beverage milik PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang mulai dibuka pada 2020, mengusung konsep coffee corner sederhana di gerai-gerai Alfamart. Kehadirannya menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana strategi bisnis yang dirancang dengan matang bisa membuat produk sederhana seperti kopi tetap laku di tengah persaingan pasar yang padat. Menariknya, cerita Bean Spot tidak melulu soal kesuksesan mulus. Ada bagian yang berhasil, ada juga bagian yang perlu dievaluasi. Artikel ini akan mengupas strategi bisnis Bean Spot secara menyeluruh, mulai dari konsep produk, cara mereka menetapkan harga, gaya promosi, sampai pelajaran penting soal kepercayaan konsumen yang ternyata jauh lebih berpengaruh dibanding gencarnya promo. Konsep Grab-and-Go Bean Spot Bean Spot dirancang dengan format grab-and-go, artinya pembeli bisa memesan, membayar, dan langsung pergi tanpa perlu duduk lama seperti di kedai kopi pada umumnya. Format ini dipilih karena Alfamart sendiri merupakan tempat orang berbelanja kebutuhan harian, jadi target pembelinya adalah orang yang sedang terburu-buru atau sekalian mampir belanja kebutuhan lain sambil membeli kopi. Pendekatan ini sejalan dengan riset tentang usaha kopi kekinian di Indonesia yang menyebut bahwa harga terjangkau dan kepraktisan menjadi kekuatan utama pelaku usaha kopi untuk bersaing dengan gerai kopi modern yang lebih besar. Dalam sebuah kajian tentang strategi bertahan pelaku usaha kopi di tengah gempuran coffee shop modern, ditemukan bahwa keberhasilan usaha kopi skala kecil tidak hanya bergantung pada produk dan harga, tapi juga pada kemampuan menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan gaya hidup pelanggan sehari-hari. Bean Spot mempraktikkan hal serupa lewat lokasi yang menyatu dengan aktivitas belanja harian masyarakat, sehingga kopi menjadi pembelian tambahan yang terasa wajar dan tidak merepotkan. Dari sisi teori pemasaran, langkah ini juga mencerminkan gagasan Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Marketing Management, yang menekankan bahwa penempatan produk atau place harus disesuaikan dengan kebiasaan berbelanja target pasar agar produk mudah diakses kapan saja dibutuhkan. Bean Spot menerapkan prinsip ini dengan menempatkan kedai kopi persis di titik yang sudah ramai dilalui orang setiap hari, yaitu minimarket. Bean Spot Menarik Pembeli Lewat Diskon Salah satu ciri khas strategi bisnis Bean Spot adalah harga yang dijaga tetap murah dan promo yang rutin diadakan. Program yang cukup dikenal adalah Coffee Day, di mana pada hari-hari tertentu seperti Senin, Rabu, dan Jumat, semua varian kopi dijual dengan harga Rp10.000 saja. Selain itu, Bean Spot juga rutin memberikan promo beli satu gratis satu, paket hemat, potongan harga di tanggal cantik, sampai diskon tambahan jika pembayaran dilakukan lewat dompet digital tertentu. Strategi promosi seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pemasaran. Konsep promosi penjualan atau sales promotion memang dikenal sebagai penawaran khusus dalam waktu terbatas yang bertujuan mendorong konsumen segera membeli atau mencoba produk. Teori yang dikenal dengan nama Sales Promotion Stimulus Theory menjelaskan bahwa promosi bekerja sebagai rangsangan yang membuat konsumen merasa perlu segera bertindak karena ada rasa senang saat melihat harga yang lebih murah dari biasanya. Yang perlu kamu tahu, ketika sebuah bisnis rutin memberikan diskon dan potongan harga, ada aturan hukum yang mengatur agar konsumen tidak dirugikan oleh promosi yang menyesatkan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mewajibkan pelaku usaha untuk memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi serta syarat dari setiap barang atau jasa yang dipromosikan, termasuk soal syarat dan ketentuan promo seperti batas waktu, metode pembayaran yang berlaku, atau apakah promo bisa digabung dengan diskon lain. Aturan ini penting karena riset tentang Bean Spot justru menemukan bahwa banyak konsumen hanya mengetahui sebagian kecil dari syarat dan ketentuan promo yang berlaku, sehingga transparansi informasi promosi menjadi bagian yang perlu terus diperbaiki, bukan hanya soal menarik perhatian lewat harga murah semata. Storytelling dan Marketing Konten Media Sosial Bean Spot cukup aktif memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram, untuk membangun kedekatan dengan pelanggan. Selain mengumumkan promo, mereka juga menerapkan storytelling dengan mengangkat tema tertentu, misalnya edisi khusus Hari Ayah Nasional, untuk menyentuh sisi emosional konsumen alih-alih hanya menjual produk secara langsung. Pendekatan pemasaran konten seperti ini terbukti efektif dibanding sekadar iklan biasa. Media sosial memungkinkan bisnis kopi skala kecil sampai besar menjangkau audiens lebih luas secara geografis maupun demografis, sekaligus membangun interaksi dua arah dengan pelanggan yang sulit didapat dari media cetak. Studi tentang strategi promosi bisnis kedai kopi lain di Indonesia juga menunjukkan pola serupa, di mana konten yang dibangun dengan cerita dan suasana yang relevan dengan keseharian pelanggan cenderung lebih diingat dibanding konten yang hanya berisi informasi harga. Namun ada catatan penting di sini. Riset yang secara khusus meneliti hubungan antara promosi penjualan Bean Spot dengan keputusan pembelian, yang dilakukan oleh Uci Andriani bersama Tandiyo Pradekso dan Wiwid Noor Rakhmad dari Universitas Diponegoro, justru menemukan hasil yang mengejutkan. Penelitian terhadap 100 responden di Kota Palembang yang pernah melihat promo Bean Spot ini menunjukkan bahwa terpaan promosi penjualan tidak berhubungan secara signifikan dengan keputusan konsumen untuk membeli, dengan nilai signifikansi 0,275 yang berarti lebih besar dari batas 0,05 yang biasa dipakai dalam uji statistik. Artinya, sesering apa pun promo ditampilkan, itu tidak otomatis membuat orang memutuskan untuk membeli. Kepercayaan Konsumen Bean Spot Penelitian yang sama justru menemukan hal lain yang jauh lebih menentukan, yaitu tingkat kepercayaan konsumen. Hasil uji hipotesis kedua dalam penelitian tersebut menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat kepercayaan dengan keputusan pembelian produk Bean Spot, dengan nilai signifikansi 0,000 dan nilai koefisien korelasi 0,353. Artinya, semakin tinggi kepercayaan konsumen terhadap kebersihan, rasa, kecepatan pelayanan, sampai kesesuaian pesanan, semakin besar pula kemungkinan mereka memutuskan untuk membeli. Temuan ini sejalan dengan Brand Equity Theory yang diperkenalkan oleh David Aaker, yang menyebutkan bahwa kekuatan sebuah merek di pasar dipengaruhi oleh lima hal, yaitu perilaku pasar, kesadaran merek, asosiasi merek, kualitas yang dirasakan, dan loyalitas konsumen. Kepercayaan menjadi bagian yang menyatu dengan hampir semua elemen ini, karena tanpa rasa percaya, konsumen sulit membangun loyalitas terhadap sebuah merek, sekalipun harga produknya murah dan promonya sering muncul di media sosial. Strategi Bisnis dari Bean Spot untuk Pelaku Usaha Lain Kalau dirangkum,

SELENGKAPNYA
Belajar Strategi Bisnis UMKM dari Tiramisusu by Chocomory

Belajar Strategi Bisnis UMKM dari Tiramisusu by Chocomory

Bandung selalu punya cara untuk membuat orang rindu balik lagi. Salah satu daya tariknya ada di kawasan Riau, tempat wisatawan berburu oleh-oleh sambil menikmati suasana kota kembang. Di antara deretan toko camilan yang berjejer di sana, ada satu nama yang belakangan jadi buruan banyak orang, yaitu Tiramisusu by Chocomory. Toko kecil ini menjual bolu tiramisu berlapis enam yang jadi favorit banyak keluarga, termasuk keluarga yang rela antre panjang hanya demi membawa pulang dua kotak kue manis ini. Cerita sederhana soal antrean, keramaian parkir, dan kue yang nyaris habis stoknya ini sebenarnya menyimpan pelajaran besar soal strategi bisnis UMKM. Ternyata ada rangkaian keputusan bisnis yang membuat Tiramisusu by Chocomory, sebagai bagian dari keluarga besar Cimory, berhasil menembus pasar oleh-oleh yang sangat kompetitif. Artikel ini akan membahas strategi tersebut satu per satu, sekaligus mengaitkannya dengan aturan pemerintah terbaru, pandangan pakar, dan hasil penelitian yang relevan supaya kamu bisa mengambil pelajaran yang tepat guna untuk usahamu sendiri. Inovasi Produk sebagai Strategi Tiramisusu Hal pertama yang bikin Tiramisusu by Chocomory mudah diingat adalah produknya sendiri. Mereka tidak menjual bolu tiramisu biasa, melainkan kue berlapis enam yang mereka sebut sebagai “6 layers of happiness”. Setiap lapisan punya peran, mulai dari milk crumble di bagian atas, creme milk chocolate yang lumer, white chocolate, espresso, bolu putih, sampai bolu cokelat di lapisan paling bawah. Detail semacam ini membuat produk mereka gampang dibedakan dari kue tiramisu kebanyakan yang dijual di toko oleh-oleh lain. Langkah ini sejalan dengan apa yang ditemukan dalam penelitian akademik tentang branding produk UMKM. Riset yang ditulis Pramadhika bersama timnya dan dimuat di Jurnal Bisnis, Ekonomi Syariah, dan Pajak tahun 2025 menjelaskan bahwa optimalisasi digital marketing dan media sosial hanya akan berdampak maksimal kalau dibarengi dengan keunikan produk yang jelas. Tanpa pembeda yang kuat di level produk, promosi sekencang apa pun cenderung sulit menempel di ingatan konsumen (Pramadhika, Nisa, Kusnadi, Putri, Purnama, & Kosim, 2025, Jurnal Bisnis, Ekonomi Syariah, dan Pajak, 2(3), 28-43). Ini jadi pengingat penting buat pelaku usaha kecil, bahwa strategi bisnis UMKM yang bagus selalu dimulai dari produk yang punya cerita dan karakter, bukan sekadar mengikuti tren yang lagi ramai. Kajian akademik lain yang secara khusus meneliti Tiramisusu by Chocomory, yang dipublikasikan lewat repositori Telkom University dengan judul “Perancangan Strategi Promosi Tiramisusu by Chocomory”, juga menunjukkan pola serupa. Penelitian itu mencatat bahwa kombinasi rasa unik seperti cookies and cream serta cokelat yang dikemas dalam bentuk bolu berlapis, ditambah topping yang menggugah selera, menjadi salah satu daya tarik utama yang membedakan produk ini dari kompetitor sejenis di pasar oleh-oleh Bandung. Bagi pelaku UMKM yang baru merintis usaha, langkah inovasi produk semacam ini sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Tidak harus langsung membuat resep baru yang rumit. Kamu bisa memulainya dengan mengamati produk sejenis yang sudah ada di pasar, lalu mencari satu elemen yang belum banyak dipakai kompetitor, misalnya kombinasi rasa, cara penyajian, atau ukuran kemasan yang lebih sesuai kebutuhan pembeli. Chocomory sendiri tidak menciptakan konsep tiramisu dari nol, tapi mereka menambahkan elemen pembeda lewat sistem enam lapisan yang diberi nama khusus, sehingga produk yang sebenarnya sudah umum di pasaran terasa lebih istimewa di mata konsumen. Pendekatan semacam ini bisa jadi strategi bisnis UMKM yang tidak selalu soal menciptakan produk baru, tapi bisa juga soal menyajikan ulang produk yang sudah ada dengan cara yang lebih menarik dan mudah diingat. Branding dan Kemasan Tiramisusu Kalau kamu perhatikan bungkus produk-produk Chocomory, warnanya dominan hitam putih, mengikuti identitas visual sapi yang jadi ciri khas Cimory sebagai perusahaan induk. Semua rak di toko tersusun rapi berdasarkan jenis produk, plastik pembungkusnya tebal dan rapat, dan ilustrasi di kemasannya dikerjakan dengan gaya sederhana tapi tetap terlihat profesional. Konsistensi semacam ini membuat konsumen langsung mengenali produk Chocomory begitu melihatnya, bahkan tanpa perlu membaca merek di kemasan. Konsistensi identitas visual ini memang sering disebut sebagai salah satu kunci strategi bisnis UMKM di tengah persaingan digital yang semakin padat. Logo, warna dominan, dan tipografi yang sama di semua kanal, baik itu toko fisik, kemasan, maupun media sosial, membuat sebuah usaha kuliner rumahan terlihat lebih dikelola secara serius dan lebih layak dipercaya konsumen. Prinsip ini sebenarnya sederhana, tapi banyak pelaku UMKM baru yang melewatkannya karena terlalu fokus pada promosi tanpa membangun fondasi identitas merek terlebih dahulu. Chocomory juga diuntungkan karena berada di bawah payung besar Cimory, sehingga pengunjung yang belum pernah mencicipi produknya tetap merasa familiar begitu melihat logo dan warna hitam putih khas sapi perah yang jadi identitas Cimory selama ini. Bagi UMKM yang berdiri sendiri tanpa dukungan perusahaan induk, cara membangun kepercayaan serupa bisa dilakukan lewat konsistensi cerita merek. Misalnya menjelaskan asal usul produk, proses pembuatan, atau nilai yang ingin disampaikan lewat kemasan dan konten media sosial secara berulang. Semakin sering elemen ini muncul dengan tampilan yang seragam, semakin mudah pula konsumen mengenali dan mempercayai produk tersebut, bahkan tanpa perlu embel-embel nama besar di belakangnya. Pemasaran Digital dan Kolaborasi Chocomory Chocomory sangat aktif membangun kehadiran di media sosial, khususnya lewat akun Instagram resmi mereka yang rutin menampilkan ilustrasi produk, termasuk detail enam lapisan tiramisu susu yang jadi produk andalan. Pendekatan ini juga terlihat dari cara mereka menggandeng jaringan distribusi lewat ojek online dan berbagai marketplace, sehingga produk mereka tetap bisa dijangkau konsumen yang tidak sempat datang langsung ke toko. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, pernah menyampaikan pandangan yang relevan soal ini. Menurutnya, digitalisasi usaha semestinya mengubah cara kerja bisnis secara mendasar, bukan cuma memindahkan etalase toko ke platform daring saja (Kementerian Koperasi dan UKM, 2025). Pandangan ini penting buat pelaku UMKM yang masih menganggap digitalisasi cukup dengan membuat akun media sosial tanpa strategi konten dan interaksi yang jelas dengan pelanggan. Sementara itu, Wisnu Dewobroto, yang menjabat sebagai Majelis Wali Amanah dari Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas, memberikan pandangan lain yang tak kalah relevan untuk strategi bisnis UMKM di masa sekarang. Ia menyebut bahwa di tengah tekanan ekonomi, pelaku usaha kecil perlu melakukan diversifikasi kanal penjualan, baik lewat jalur digital maupun komunitas, sambil membangun kolaborasi dengan sesama pelaku usaha untuk memperkuat akses pasar dan rantai pasok. Kalau dikaitkan dengan Chocomory, kolaborasi ini terlihat dari posisi mereka sebagai bagian dari ekosistem besar Cimory, yang

SELENGKAPNYA
Strategi Bisnis Tea Break yang Konsisten Menyasar Pasar Anak Muda

Strategi Bisnis Tea Break yang Konsisten Menyasar Pasar Anak Muda

Bisnis minuman kekinian masih jadi salah satu ladang usaha yang ramai diminati di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Tea Break, gerai minuman teh yang menawarkan skema kemitraan tanpa biaya royalti. Model bisnis ini menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana strategi bisnis UMKM yang sederhana namun tepat sasaran bisa membuat sebuah usaha bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar kuliner yang padat. Strategi utama yang dipakai Tea Break sebenarnya bukan hal baru. Kombinasi harga terjangkau, rasa yang konsisten, dan lokasi yang strategis sudah lama dikenal sebagai fondasi usaha kuliner skala kecil dan menengah. Nah, yang membuatnya relevan untuk dipelajari adalah bagaimana ketiga elemen itu dipadukan dengan sistem kemitraan terbuka, sehingga siapa pun bisa ikut menjalankan usaha ini tanpa harus memikirkan biaya royalti bulanan. Kombinasi ini pas untuk menyasar konsumen anak muda yang cenderung mencari produk enak, murah, dan gampang dijangkau. Artikel ini akan membahas beberapa pilar utama dalam strategi bisnis UMKM ala Tea Break, mulai dari pemilihan lokasi, penetapan harga, pemasaran digital, sistem kemitraan, sampai manajemen operasional harian. Supaya pembahasannya kredibel, beberapa bagian juga akan dikaitkan dengan teori dari ahli, hasil penelitian ilmiah, serta regulasi pemerintah yang berlaku untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Lokasi Padat Jadi Pilihan Tea Break Salah satu prinsip yang paling sering dipakai dalam strategi bisnis UMKM kuliner adalah memilih lokasi dengan lalu lintas orang yang tinggi. Untuk gerai seperti Tea Break, area sekitar kampus, lingkungan sekolah, pusat perbelanjaan, atau titik dekat minimarket jadi pilihan yang masuk akal karena tempat-tempat itu memang selalu ramai orang lalu lalang, terutama anak muda yang jadi target pasar utama produk ini. Pentingnya faktor lokasi ini sebenarnya sudah lama dibahas dalam ilmu ekonomi dan bisnis. Alfred Weber, seorang ekonom yang dikenal lewat teorinya soal lokasi industri, menjelaskan bahwa pemilihan tempat usaha sangat dipengaruhi oleh jarak ke sumber bahan baku dan kedekatan dengan konsumen, karena keduanya menentukan biaya operasional dan potensi penjualan sebuah usaha. Meski teori ini awalnya dibuat untuk industri manufaktur, prinsip dasarnya masih relevan dipakai sampai sekarang, termasuk untuk usaha kuliner skala kecil yang sangat bergantung pada kedekatan dengan calon pembeli. Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dimuat di jurnal ALMUJTAMAE, jurnal pengabdian masyarakat yang sudah terakreditasi SINTA 5. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lokasi usaha yang mudah dijangkau dan berada di titik keramaian punya pengaruh besar terhadap keberlangsungan UMKM, sementara lokasi yang terlalu jauh dari akses publik justru menyulitkan pelanggan untuk datang dan berpotensi menghambat pertumbuhan usaha. Studi ini juga menyarankan pelaku UMKM memakai data sederhana, seperti kepadatan penduduk atau arus lalu lintas, sebelum menentukan titik gerai. Harga Terjangkau dan Rasa Konsisten Tea Break Selain lokasi, harga dan rasa adalah dua hal yang paling menentukan apakah pelanggan mau kembali lagi atau tidak. Dalam konteks strategi bisnis UMKM minuman seperti Tea Break, harga yang ramah di kantong jadi daya tarik utama, apalagi target pasarnya adalah anak muda yang biasanya punya uang jajan terbatas namun sering jajan. Penetapan harga bukan sekadar soal murah, tapi juga soal bagaimana harga itu bisa terus konsisten sambil tetap menutup biaya produksi dan memberi untung yang wajar. Philip Kotler, salah satu pemikir pemasaran paling berpengaruh, menjelaskan bahwa harga adalah satu dari empat unsur utama dalam bauran pemasaran atau marketing mix, bersama produk, tempat, dan promosi, dan penetapannya harus mempertimbangkan biaya produksi, daya beli target pasar, serta posisi produk dibanding pesaing. Prinsip ini cocok diterapkan pada usaha minuman kekinian, sebab harga yang terlalu tinggi bisa membuat pelanggan anak muda beralih ke gerai lain, sementara harga yang terlalu rendah berisiko menggerus keuntungan usaha itu sendiri. Selain harga, konsistensi rasa juga jadi kunci penting. Pelanggan yang sudah cocok dengan rasa tertentu biasanya akan kembali lagi kalau rasa itu tidak berubah-ubah. Sebaliknya, kalau rasa hari ini beda dengan rasa minggu lalu, pelanggan bisa kecewa dan pindah ke tempat lain. Karena itu, gerai minuman seperti Tea Break biasanya menetapkan standar takaran bahan dan proses seduh yang jelas, supaya siapa pun yang membuat minumannya, hasil akhirnya tetap sama. Cara ini juga membantu menjaga kepercayaan konsumen terhadap merek dalam jangka panjang, apalagi kalau gerai tersebut sudah punya banyak cabang lewat sistem kemitraan. Pemasaran Digital Lokal Tea Break Salah satu strategi yang mendukung pertumbuhan Tea Break adalah pemasaran digital yang berfokus pada target pasar utamanya, yaitu anak muda. Kelompok konsumen ini sangat aktif menggunakan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk mencari rekomendasi minuman, promo menarik, maupun tempat nongkrong yang sedang populer. Karena itu, Tea Break memanfaatkan kedua platform tersebut untuk membagikan konten produk, informasi promo, video proses pembuatan minuman, hingga interaksi dengan pelanggan agar tetap dekat dengan audiensnya. Pendekatan digital ini juga membuat Tea Break mampu memperkenalkan gerai baru dengan biaya promosi yang relatif efisien. Konten yang konsisten, visual produk yang menarik, serta keterlibatan pelanggan melalui komentar atau unggahan ulang membantu meningkatkan jangkauan merek tanpa harus selalu mengandalkan iklan berbayar. Strategi ini memperkuat posisi Tea Break sebagai merek minuman yang dekat dengan gaya hidup anak muda. Selain promosi di media sosial, Tea Break juga memanfaatkan aktivitas pemasaran lokal, seperti berpartisipasi dalam bazar, kegiatan kampus, acara sekolah, maupun komunitas di sekitar lokasi gerai. Kehadiran langsung di berbagai kegiatan tersebut membantu meningkatkan brand awareness sekaligus memperkenalkan produk kepada calon pelanggan baru di area operasional masing-masing gerai. Sistem Kemitraan Tea Break sebagai Strategi Ekspansi Salah satu strategi yang membedakan Tea Break dari banyak merek minuman lainnya adalah penerapan sistem kemitraan tanpa biaya royalti. Skema ini membuat mitra tidak dibebani pembayaran royalti secara berkala sehingga modal operasional dapat lebih difokuskan pada pengembangan gerai dan pelayanan kepada pelanggan. Pendekatan tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi calon pengusaha yang ingin memulai bisnis minuman dengan investasi yang lebih ringan. Walaupun tidak menerapkan royalti, hubungan antara Tea Break dan mitra tetap harus dilandasi perjanjian yang jelas agar hak dan kewajiban masing-masing pihak memiliki kepastian hukum. Hal ini penting karena kerja sama kemitraan tidak hanya menyangkut penggunaan merek, tetapi juga standar operasional, penyediaan bahan baku, hingga dukungan yang diberikan kepada mitra selama menjalankan usaha. Dasar hukum mengenai kemitraan usaha diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, khususnya Pasal 90, yang menegaskan bahwa pemerintah memfasilitasi kemitraan antara usaha mikro

SELENGKAPNYA
Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Industri skincare Indonesia sedang ramai-ramainya. Setiap bulan selalu ada brand baru yang muncul, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri seperti Korea, Jepang, dan Tiongkok. Brand-brand baru ini biasanya datang dengan formula yang diklaim canggih, kemasan yang menarik, dan kampanye pemasaran yang gencar di media sosial. Kondisi ini membuat banyak brand lama harus berjuang lebih keras supaya tidak tergeser dari rak toko dan dari perhatian konsumen. Di tengah persaingan seperti ini, ada satu nama yang tetap bertahan sejak puluhan tahun lalu, yaitu Viva Kosmetik. Brand ini dikenal sebagai salah satu pelopor kosmetik “made in Indonesia” dan sudah berdiri lebih dari enam dekade. Usia brand yang panjang ini menarik untuk dikaji, sebab bertahan lama di industri kecantikan bukan perkara mudah. Banyak brand yang datang dengan gebrakan besar di awal, lalu perlahan hilang karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Artikel ini akan membahas strategi bisnis yang dijalankan Viva Kosmetik, mulai dari klaim produk, harga, kemasan, riset, sampai cara mereka beradaptasi dengan dunia digital. Setiap bagian juga akan dikaitkan dengan aturan pemerintah yang berlaku, pandangan pelaku industri kecantikan lain, dan hasil penelitian ilmiah yang relevan, supaya pembahasannya tidak hanya berdasarkan opini semata. Harga Terjangkau tanpa Menurunkan Standar Keamanan Harga jual juga jadi salah satu senjata utama Viva Kosmetik. Produk-produk Viva dikenal punya harga yang jauh lebih murah dibanding kebanyakan brand lokal maupun brand asing lainnya, namun tetap bisa dibeli oleh konsumen dari berbagai kalangan ekonomi. Salah satu cara Viva menekan biaya adalah dengan tidak menggunakan brand ambassador dari kalangan artis atau publik figur ternama, sehingga anggaran pemasaran yang biasanya dialokasikan untuk membayar endorser bisa dialihkan untuk menjaga harga jual tetap rendah. Strategi menjaga harga tetap terjangkau di tengah gempuran brand asing murah sebetulnya juga dialami oleh pelaku bisnis kosmetik lokal lainnya. Ahmad Nurul Fajri, pendiri brand kosmetik lokal Luxcrime, pernah menceritakan tantangan bersaing dengan produk luar negeri yang dijual dengan harga sangat rendah, bahkan ada yang dibanderol mulai dari 18 ribu hingga 20 ribu rupiah saja, angka yang menurutnya bahkan belum menutup biaya produksi standar. Menurutnya, kunci bertahan bukan dengan menurunkan brand menjadi terkesan murahan, melainkan menjaga kualitas produk sambil menyesuaikan ukuran kemasan, misalnya membuat varian ukuran travel size, supaya harga tetap bisa bersaing tanpa mengorbankan mutu bahan baku. Pendekatan semacam ini sejalan dengan apa yang dilakukan Viva selama puluhan tahun, yaitu memangkas biaya di sisi promosi dan kemasan, bukan di sisi bahan baku atau kualitas produk. Soal kualitas bahan baku ini, pemerintah juga baru saja memperbarui aturannya. BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik pada Oktober 2025, yang menggantikan aturan lama dan memperketat pengawasan terhadap bahan aktif, bahan tambahan, serta bahan pengawet yang boleh digunakan dalam produk kosmetik yang beredar di Indonesia. Aturan ini muncul setelah semakin banyak laporan global soal efek samping bahan kosmetik tertentu, termasuk bahan yang bersifat karsinogenik dan alergenik. Tujuan utama regulasi ini adalah meningkatkan keamanan konsumen dan menyelaraskan standar kosmetik Indonesia dengan standar ASEAN Cosmetic Directive. Artinya, berapa pun harga jual sebuah produk kosmetik, baik murah maupun mahal, bahan bakunya tetap wajib memenuhi standar keamanan yang sama ketatnya. Aturan ini menguntungkan brand seperti Viva yang selama ini mengandalkan harga terjangkau, karena konsumen jadi punya jaminan bahwa produk murah pun tetap diawasi standar keamanannya oleh negara, bukan hanya mengandalkan kepercayaan turun-temurun terhadap merek. Bentuk Efisiensi Viva Kosmetik Kalau diperhatikan, kemasan produk Viva Kosmetik memang terlihat sederhana dibanding kompetitornya. Desainnya cenderung fungsional, bahan kemasannya juga tidak terlalu mewah. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Kemasan yang sederhana membantu menekan biaya produksi, sehingga harga jual ke konsumen bisa tetap rendah tanpa mengurangi kualitas isi produknya. Meski kemasannya sederhana, bukan berarti Viva bisa mengabaikan aturan pelabelan yang berlaku. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, setiap kemasan kosmetik tetap wajib mencantumkan informasi lengkap seperti nama produk, komposisi bahan, kemanfaatan, kegunaan, nama dan alamat pemilik notifikasi, nomor batch, nomor notifikasi BPOM, serta tanggal kedaluwarsa. Jadi walaupun tampilan kemasannya minimalis, informasi yang wajib ada di dalamnya tetap harus lengkap dan sesuai standar yang sama dengan brand mahal sekalipun. BPOM juga rutin melakukan pemeriksaan bulanan terhadap sarana produksi dan distribusi kosmetik untuk memastikan kepatuhan pada aturan ini, ditambah pemeriksaan insidental kalau ada laporan dugaan pelanggaran dari masyarakat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti memilih kosmetik lewat kampanye “CekKLIK”, singkatan dari cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Imbauan ini relevan buat konsumen yang sering menganggap kemasan sederhana identik dengan produk abal-abal, padahal yang lebih penting untuk dicek adalah kelengkapan nomor notifikasi dan tanggal kedaluwarsanya, bukan semata tampilan luar kemasan. Fokus pada Riset dan Kualitas Produk Banyak brand skincare masa kini yang mengandalkan brand ambassador dari kalangan artis top nasional bahkan idol K-pop untuk mendongkrak penjualan. Viva justru mengambil jalan berbeda dengan lebih memilih mengalokasikan sumber dayanya untuk riset dan pengembangan formula produk baru sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan ini membuat Viva punya lebih dari 500 varian produk kosmetik dan skincare yang terus diperbarui mengikuti tren dan kebutuhan konsumen. Pendekatan mengutamakan riset produk dibanding sekadar mengandalkan nama besar juga didukung oleh pandangan pelaku industri kecantikan lokal lainnya. Budi Thomas, CEO Jacquelle Beauty, pernah menyampaikan bahwa kunci brand lokal untuk bertahan dan berkembang di pasar yang kompetitif adalah dengan fokus mengembangkan produk yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen. Menurutnya, konsumen sekarang sudah semakin pintar dan bisa membedakan mana brand yang kredibel, sehingga brand lokal perlu terus berinovasi dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, terutama konsumen usia muda yang jadi motor penggerak pasar kecantikan saat ini. Sedangkan strategi Viva yang lebih fokus pada riset formula dibanding pada figur brand ambassador sebenarnya sejalan dengan arah industri kecantikan yang semakin mengutamakan kualitas produk dibanding sekadar popularitas figur publik. Riset dan pengembangan produk kosmetik juga tidak bisa dilakukan sembarangan, karena ada aturan turunan yang mengaturnya. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjadi payung hukum utama yang mengatur pengawasan produk kosmetik di Indonesia, termasuk soal penandaan, promosi, dan proses notifikasi produk sebelum bisa dipasarkan secara resmi. Setiap kali Viva atau brand kosmetik lain mengeluarkan varian baru hasil riset mereka, produk tersebut wajib

SELENGKAPNYA
Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Persaingan bisnis bakery dan cafe di Indonesia semakin kompetitif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk roti, pastry, dan kopi. Tren ini mendorong berbagai perusahaan, termasuk pelaku usaha di luar industri makanan, untuk ikut mengembangkan bisnis F&B. Indomaret Group menjadi salah satu perusahaan yang menangkap peluang tersebut melalui kehadiran Say Bread, brand bakery yang biasanya terpajang di dekat kasir Indomart dan disajikan hangat. Tapi, sebenarnya brand milik Indomaret ini rahasianya apa kok bisa gak kalah dengan brand besar? Say Bread: Bisnis Bakery Milik Indomaret Group Bagi yang sering berbelanja di minimarket, nama Indomaret tentu sudah sangat akrab. Merek yang berdiri di bawah naungan PT Indomarco Prismatama ini dikenal sebagai pelopor waralaba minimarket di Indonesia. Tidak berhenti di sana, Indomaret Group kemudian memperluas jangkauan bisnisnya ke industri bakery melalui brand Say Bread yang dikelola oleh PT Indoroti Makmur Bersama (IMB). Say Bread awalnya hadir sebagai produk roti yang bisa ditemukan langsung di gerai-gerai Indomaret. Seiring waktu, brand ini berkembang menjadi konsep yang lebih besar: sebuah bakery dan cafe dengan gerai berdiri sendiri (stand alone). Saat ini, Say Bread memiliki lima gerai stand alone yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bali, Ambon, dan Manado. Puncak dari ekspansi ini ditandai dengan pembukaan Say Bread Bakery dan Cafe pertama di Indomaret Drive Thru Tomang 41, Jakarta Barat, pada 30 November 2023. Grand opening ini sekaligus menjadi penanda bahwa Say Bread siap bersaing di segmen bakery premium dengan konsep yang lebih berpengalaman dan bernuansa lifestyle. “Lahirnya Say Bread Bakery dan Cafe Tomang, selain bertujuan untuk semakin melengkapi, juga untuk memberikan pilihan yang lebih bervariatif akan kebutuhan roti konsumen,” kata James Sebastian, Operation Executive Director Say Bread, saat grand opening berlangsung. Kolaborasi dengan Takaki Bakery Jepang Salah satu keunggulan Say Bread yang membedakannya dari brand bakery lokal lainnya adalah kolaborasi strategis dengan Takaki Bakery, perusahaan roti ternama asal Jepang yang berdiri sejak tahun 1948. Kerja sama ini memastikan bahwa setiap produk roti dan pastry yang dihasilkan memiliki standar kualitas tinggi dengan sentuhan presisi khas Jepang. Kolaborasi ini semakin terlihat nyata saat Say Bread membuka gerai barunya di Cikajang, Jakarta Selatan, pada Desember 2025. Peresmian gerai tersebut dihadiri langsung oleh pihak Takaki Bakery, termasuk Akiko Takaki selaku Owner of Takaki Bakery dan Takasi Osawa selaku Director of Takaki Bakery, bersama CEO Indomaret Group, Sinarman Jonatan. Dalam industri bakery yang terus berkembang, kepercayaan konsumen terhadap kualitas bahan baku dan proses produksi menjadi faktor penentu kesuksesan. Penelitian dari Journal of Food Science and Technology (Cauvain & Young, 2006) menunjukkan bahwa standar keamanan pangan dan konsistensi proses produksi roti secara langsung memengaruhi kepercayaan konsumen dan loyalitas merek dalam jangka panjang. Kolaborasi dengan Takaki Bakery menjadi langkah Say Bread untuk memastikan dua hal ini terpenuhi secara konsisten. Industri Bakery Indonesia Jadi Peluang Say Bread Keputusan Indomaret mengembangkan bisnis ke ranah bakery dan cafe bukan tanpa alasan yang kuat. Industri bakery di Indonesia memang sedang dalam fase pertumbuhan yang solid. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman termasuk bakery terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan peningkatan permintaan yang stabil dari tahun ke tahun. Yusuf Hady, Operation Director PT Nippon Indosari Corpindo, memperkirakan pertumbuhan bisnis bakery di Indonesia berada di kisaran 7 hingga 10 persen setiap tahunnya, dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai sekitar Rp14 triliun. Menurutnya, prospek ke depan tetap menjanjikan karena roti termasuk makanan praktis yang tidak membutuhkan proses memasak di rumah, sehingga cocok untuk gaya hidup masyarakat urban yang dinamis. Di sisi konsumen, data dari Statistik Konsumsi Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa permintaan masyarakat Indonesia terhadap produk bakery terus meningkat sejak 2018, dengan pertumbuhan signifikan pada segmen pastry dan produk premium. Tren ini juga diperkuat oleh meningkatnya daya beli kelas menengah serta pengaruh budaya kuliner global yang membawa croissant, brioche, dan berbagai pastry Eropa semakin populer di kalangan konsumen Indonesia. Pakar manajemen bisnis kuliner, Dr. Ratih Hurriyati dari Universitas Pendidikan Indonesia, dalam berbagai forum bisnis menyebutkan bahwa strategi brand extension seperti yang dilakukan Indomaret melalui Say Bread merupakan langkah bisnis yang tepat. Perusahaan yang sudah memiliki ekosistem distribusi dan kepercayaan konsumen yang kuat memiliki keunggulan kompetitif saat memasuki segmen pasar baru, terutama di industri makanan sehari-hari seperti bakery. Menu Unggulan Say Bread Salah satu daya tarik utama Say Bread adalah keragaman menunya yang memadukan cita rasa klasik Eropa dengan selera konsumen Indonesia. Produk-produk di bawah lini Say Bread Premium dirancang untuk memberikan pengalaman rasa yang autentik sekaligus terjangkau. Beberapa produk unggulan yang bisa kamu temukan di Say Bread meliputi: Di gerai Cikajang yang dibuka pada Desember 2025, Say Bread juga menghadirkan menu terbaru yang semakin beragam, salah satunya Fruit Pastry: pastry berlapis renyah dengan custard lembut yang dipadukan buah segar seperti dark cherry, strawberry, mango, kiwi, dan blueberry. Menu ini menjadi bukti bahwa Say Bread terus berinovasi untuk memenuhi selera konsumen urban yang dinamis. Dari sisi harga, Say Bread menawarkan produk premium dengan harga yang sangat bersahabat. Kamu bisa menikmati berbagai pilihan roti mulai dari Rp11.000 hingga Rp27.000. Bahkan, produk terbaru di lini Brioche dibanderol mulai dari Rp12.500, menjadikannya pilihan sarapan atau camilan berkualitas yang tidak menguras kantong. Say Bread Bakery dan Cafe Konsep stand alone bakery & cafe yang dikembangkan Say Bread menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat membeli roti. Gerai-gerai Say Bread dirancang sebagai ruang singgah baru bagi masyarakat urban, tempat yang nyaman untuk bekerja, berbincang, atau sekadar beristirahat sambil menikmati aroma roti hangat fresh from the oven. James Sebastian, Director PT Indoroti Makmur Bersama (IMB), menjelaskan visi di balik konsep ini: “Setelah kesuksesan kami pada Say Bread Bakery & Café di Tomang, kami ingin berinovasi lebih lagi. Kami menghadirkan stand alone bakery & café yang lebih update, menawarkan roti dan sajian yang lebih variatif serta menarik bagi para pelanggan.” Say Bread juga memperkuat pendekatan customer-centric dengan menghadirkan suasana toko yang lebih nyaman, ruang duduk yang modern, serta pelayanan yang dirancang agar pengunjung bisa menikmati produk dengan pengalaman yang lebih personal. Ini sejalan dengan tren industri cafe di Indonesia yang semakin bergeser dari sekadar menjual minuman, menjadi menjual pengalaman dan suasana. Penelitian dari International Journal of Hospitality Management (Ryu & Han, 2010) menemukan bahwa kualitas fisik lingkungan

SELENGKAPNYA
Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Pekan Raya Jakarta (PRJ) adalah salah satu event dagang terbesar di Asia Tenggara, yang setiap tahunnya mampu menarik jutaan pengunjung dan memutarkan uang dalam jumlah yang luar biasa. PRJ 2024 mencatat total transaksi sebesar Rp 7,5 triliun dengan 6,3 juta pengunjung selama 33 hari penyelenggaraan. Bahkan di tahun 2025, meski durasinya dipangkas jadi hanya 25 hari karena berbagi jadwal dengan Indo Defence, perputaran uangnya masih tembus Rp 7,3 triliun dengan 5,9 juta pengunjung. Angka itu sesuatu yang gak luput dari perhatian para pelaku bisnis. Setiap tahun, ribuan brand dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, fashion, makanan dan minuman, teknologi, sampai produk kecantikan, rela mengeluarkan biaya besar untuk ikut serta. Sewa stan di PRJ bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter per bulan. Artinya, untuk stan berukuran 3×3 meter saja, sebuah brand harus menyiapkan dana sekitar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta, belum termasuk biaya desain booth, produksi materi promosi, gaji karyawan, dan operasional selama event berlangsung. Tapi nyatanya, brand-brand ini bukan cuma datang sekali. Mereka terus kembali setiap tahun. Ada apa? PRJ, Event Tahunan dengan Jutaan Pengunjung Kalau kamu pikir brand-brand besar ikut PRJ semata-mata untuk mengejar penjualan di tempat, kamu hanya melihat sebagian kecil dari gambar besar. PRJ adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana brand bisa berinteraksi langsung dengan jutaan konsumen dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Brand exposure dalam skala masif yang sulit dicapai lewat media mana pun dalam waktu singkat. Dalam dunia pemasaran, ada yang disebut sebagai experiential marketing, yaitu strategi membangun hubungan antara brand dan konsumen melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini terbukti jauh lebih efektif dibanding iklan satu arah. Konsumen yang merasakan langsung produk atau berinteraksi dengan perwakilan brand memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk membeli, bahkan menjadi pelanggan setia jangka panjang. Philip Kotler, pakar marketing global yang sering dirujuk dalam studi pemasaran, menyatakan bahwa pengalaman langsung konsumen dengan brand di titik kontak fisik (physical touchpoint) memiliki pengaruh yang jauh lebih dalam terhadap keputusan pembelian dibandingkan paparan iklan digital. Pendekatan ini relevan dengan kondisi pasar Indonesia yang masih sangat berorientasi pada pengalaman tatap muka dan kepercayaan personal. PRJ adalah arena physical touchpoint yang ideal. Di sini, brand punya kendali penuh untuk menciptakan kesan pertama yang kuat, memperkenalkan produk baru, mengumpulkan feedback langsung dari konsumen, dan memperkuat posisi di benak pasar yang sangat kompetitif. Ribuan Tenant, Gimana Cara Menonjol? PRJ 2025 diikuti oleh 2.550 tenant dengan 1.550 stan. Bayangkan ada ribuan booth berdiri berdampingan dalam satu area. Pengunjung berjalan, matanya bergerak cepat dari satu booth ke booth lain. Dalam situasi seperti ini, hanya booth yang tampil berbeda yang punya peluang untuk dilirik. Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai. Brand tidak cuma bersaing lewat produk. Di arena seperti PRJ, mereka bersaing lewat bagaimana mereka terlihat. Desain booth, signage, backdrop, pencahayaan, layout area display, bahkan merchandise yang dibagikan secara gratis, semuanya bekerja bersama untuk menciptakan satu hal: perhatian pengunjung. Menurut kajian dalam jurnal Jurnal Impresi Indonesia (JII, Vol. 4, No. 7, Juli 2025), visualisasi desain booth yang kuat secara signifikan meningkatkan daya tarik pengunjung, dengan rata-rata peningkatan interaksi bisnis sebesar 35% dibandingkan booth dengan tampilan standar. Penelitian ini juga menegaskan bahwa desain booth bukan hanya soal estetika, melainkan bagian integral dari strategi pemasaran B2B maupun B2C yang efektif, terutama dalam konteks pameran berskala besar. Di level yang lebih praktis, penelitian tentang visual merchandising dalam sebuah event promosi, yang dipublikasikan di jurnal MESMAN (DOI: 10.56709/mesman.V4.i1.644, September 2024), menunjukkan bahwa penerapan elemen estetika pada desain booth, dikombinasikan dengan promosi yang tepat, berhasil meningkatkan minat beli konsumen hingga 35%. Elemen yang paling berpengaruh adalah tampilan visual booth, promosi harga, dan kualitas pelayanan di lapangan. Artinya, investasi pada tampilan booth bukan pemborosan. Ini adalah bagian dari strategi yang punya dampak nyata terhadap hasil akhir. Booth Adalah Wajah Brand di Mata Pengunjung Ketika seseorang berjalan di lorong PRJ, keputusan untuk mampir atau terus berjalan sering kali terjadi dalam hitungan detik. Otak manusia memproses informasi visual jauh lebih cepat dibandingkan teks atau audio. Dan dalam kondisi ramai seperti PRJ, stimulus visual yang kuat adalah satu-satunya cara untuk menghentikan langkah pengunjung. Itu sebabnya brand-brand yang serius soal kehadiran di PRJ tidak pernah menyepelekan desain booth mereka. Ada beberapa elemen yang menentukan apakah sebuah booth mampu menarik perhatian atau justru tenggelam di antara keramaian: –Konsistensi identitas brand. Warna, logo, tipografi, dan gaya visual harus selaras dan mencerminkan karakter brand secara konsisten. Ketika desain booth secara harmonis mencerminkan identitas merek, pengunjung secara otomatis merasa familiar dan terhubung, sehingga lebih cenderung untuk mendekat dan berinteraksi. –Psikologi warna. Pemilihan warna bukan sekadar soal selera estetika. Setiap warna memiliki asosiasi psikologis yang memengaruhi emosi dan perilaku pengunjung. Warna merah menciptakan urgensi dan menarik perhatian, cocok untuk promosi batas waktu. Warna biru memberi kesan profesional dan dapat dipercaya. Warna hijau diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Brand yang memahami psikologi warna bisa menggunakannya untuk memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan. –Elemen interaktif. Booth yang hanya memajang produk tanpa mengundang interaksi akan terasa pasif. Layar sentuh, demo produk langsung, spot foto yang instagramable, atau aktivitas sederhana yang melibatkan pengunjung, semua ini menciptakan pengalaman yang berkesan dan membuat orang lebih lama tinggal di booth. –Pencahayaan dan detail finishing. Pencahayaan yang baik tidak hanya membuat produk terlihat lebih menarik, tapi juga menciptakan suasana yang nyaman untuk berinteraksi. Detail finishing yang rapi menunjukkan bahwa brand serius dan profesional, sebuah sinyal kepercayaan yang kuat bagi konsumen. –Signage dan backdrop yang kuat. Di tengah kerumunan, signage yang jelas dan backdrop yang eye-catching adalah cara tercepat untuk membuat orang tahu siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan. Brand yang menggunakan signage dengan pesan yang tajam dan visual yang kuat akan jauh lebih mudah diingat. Kenapa Brand Besar Terus Kembali Setiap Tahun? Jawabannya sederhana: return on investment (ROI) yang tidak hanya datang dari penjualan langsung. Brand-brand yang konsisten hadir di PRJ memahami bahwa investasi mereka bekerja di beberapa level sekaligus: a. Brand awareness yang masif. Jutaan orang yang melewati atau mampir ke booth kamu dalam satu bulan adalah angka yang hampir mustahil dicapai lewat kampanye digital dengan anggaran yang sama. b. Direct selling

SELENGKAPNYA