Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Belajar Strategi Bisnis UMKM dari Tiramisusu by Chocomory

Belajar Strategi Bisnis UMKM dari Tiramisusu by Chocomory

Bandung selalu punya cara untuk membuat orang rindu balik lagi. Salah satu daya tariknya ada di kawasan Riau, tempat wisatawan berburu oleh-oleh sambil menikmati suasana kota kembang. Di antara deretan toko camilan yang berjejer di sana, ada satu nama yang belakangan jadi buruan banyak orang, yaitu Tiramisusu by Chocomory. Toko kecil ini menjual bolu tiramisu berlapis enam yang jadi favorit banyak keluarga, termasuk keluarga yang rela antre panjang hanya demi membawa pulang dua kotak kue manis ini. Cerita sederhana soal antrean, keramaian parkir, dan kue yang nyaris habis stoknya ini sebenarnya menyimpan pelajaran besar soal strategi bisnis UMKM. Ternyata ada rangkaian keputusan bisnis yang membuat Tiramisusu by Chocomory, sebagai bagian dari keluarga besar Cimory, berhasil menembus pasar oleh-oleh yang sangat kompetitif. Artikel ini akan membahas strategi tersebut satu per satu, sekaligus mengaitkannya dengan aturan pemerintah terbaru, pandangan pakar, dan hasil penelitian yang relevan supaya kamu bisa mengambil pelajaran yang tepat guna untuk usahamu sendiri. Inovasi Produk sebagai Strategi Tiramisusu Hal pertama yang bikin Tiramisusu by Chocomory mudah diingat adalah produknya sendiri. Mereka tidak menjual bolu tiramisu biasa, melainkan kue berlapis enam yang mereka sebut sebagai “6 layers of happiness”. Setiap lapisan punya peran, mulai dari milk crumble di bagian atas, creme milk chocolate yang lumer, white chocolate, espresso, bolu putih, sampai bolu cokelat di lapisan paling bawah. Detail semacam ini membuat produk mereka gampang dibedakan dari kue tiramisu kebanyakan yang dijual di toko oleh-oleh lain. Langkah ini sejalan dengan apa yang ditemukan dalam penelitian akademik tentang branding produk UMKM. Riset yang ditulis Pramadhika bersama timnya dan dimuat di Jurnal Bisnis, Ekonomi Syariah, dan Pajak tahun 2025 menjelaskan bahwa optimalisasi digital marketing dan media sosial hanya akan berdampak maksimal kalau dibarengi dengan keunikan produk yang jelas. Tanpa pembeda yang kuat di level produk, promosi sekencang apa pun cenderung sulit menempel di ingatan konsumen (Pramadhika, Nisa, Kusnadi, Putri, Purnama, & Kosim, 2025, Jurnal Bisnis, Ekonomi Syariah, dan Pajak, 2(3), 28-43). Ini jadi pengingat penting buat pelaku usaha kecil, bahwa strategi bisnis UMKM yang bagus selalu dimulai dari produk yang punya cerita dan karakter, bukan sekadar mengikuti tren yang lagi ramai. Kajian akademik lain yang secara khusus meneliti Tiramisusu by Chocomory, yang dipublikasikan lewat repositori Telkom University dengan judul “Perancangan Strategi Promosi Tiramisusu by Chocomory”, juga menunjukkan pola serupa. Penelitian itu mencatat bahwa kombinasi rasa unik seperti cookies and cream serta cokelat yang dikemas dalam bentuk bolu berlapis, ditambah topping yang menggugah selera, menjadi salah satu daya tarik utama yang membedakan produk ini dari kompetitor sejenis di pasar oleh-oleh Bandung. Bagi pelaku UMKM yang baru merintis usaha, langkah inovasi produk semacam ini sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Tidak harus langsung membuat resep baru yang rumit. Kamu bisa memulainya dengan mengamati produk sejenis yang sudah ada di pasar, lalu mencari satu elemen yang belum banyak dipakai kompetitor, misalnya kombinasi rasa, cara penyajian, atau ukuran kemasan yang lebih sesuai kebutuhan pembeli. Chocomory sendiri tidak menciptakan konsep tiramisu dari nol, tapi mereka menambahkan elemen pembeda lewat sistem enam lapisan yang diberi nama khusus, sehingga produk yang sebenarnya sudah umum di pasaran terasa lebih istimewa di mata konsumen. Pendekatan semacam ini bisa jadi strategi bisnis UMKM yang tidak selalu soal menciptakan produk baru, tapi bisa juga soal menyajikan ulang produk yang sudah ada dengan cara yang lebih menarik dan mudah diingat. Branding dan Kemasan Tiramisusu Kalau kamu perhatikan bungkus produk-produk Chocomory, warnanya dominan hitam putih, mengikuti identitas visual sapi yang jadi ciri khas Cimory sebagai perusahaan induk. Semua rak di toko tersusun rapi berdasarkan jenis produk, plastik pembungkusnya tebal dan rapat, dan ilustrasi di kemasannya dikerjakan dengan gaya sederhana tapi tetap terlihat profesional. Konsistensi semacam ini membuat konsumen langsung mengenali produk Chocomory begitu melihatnya, bahkan tanpa perlu membaca merek di kemasan. Konsistensi identitas visual ini memang sering disebut sebagai salah satu kunci strategi bisnis UMKM di tengah persaingan digital yang semakin padat. Logo, warna dominan, dan tipografi yang sama di semua kanal, baik itu toko fisik, kemasan, maupun media sosial, membuat sebuah usaha kuliner rumahan terlihat lebih dikelola secara serius dan lebih layak dipercaya konsumen. Prinsip ini sebenarnya sederhana, tapi banyak pelaku UMKM baru yang melewatkannya karena terlalu fokus pada promosi tanpa membangun fondasi identitas merek terlebih dahulu. Chocomory juga diuntungkan karena berada di bawah payung besar Cimory, sehingga pengunjung yang belum pernah mencicipi produknya tetap merasa familiar begitu melihat logo dan warna hitam putih khas sapi perah yang jadi identitas Cimory selama ini. Bagi UMKM yang berdiri sendiri tanpa dukungan perusahaan induk, cara membangun kepercayaan serupa bisa dilakukan lewat konsistensi cerita merek. Misalnya menjelaskan asal usul produk, proses pembuatan, atau nilai yang ingin disampaikan lewat kemasan dan konten media sosial secara berulang. Semakin sering elemen ini muncul dengan tampilan yang seragam, semakin mudah pula konsumen mengenali dan mempercayai produk tersebut, bahkan tanpa perlu embel-embel nama besar di belakangnya. Pemasaran Digital dan Kolaborasi Chocomory Chocomory sangat aktif membangun kehadiran di media sosial, khususnya lewat akun Instagram resmi mereka yang rutin menampilkan ilustrasi produk, termasuk detail enam lapisan tiramisu susu yang jadi produk andalan. Pendekatan ini juga terlihat dari cara mereka menggandeng jaringan distribusi lewat ojek online dan berbagai marketplace, sehingga produk mereka tetap bisa dijangkau konsumen yang tidak sempat datang langsung ke toko. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, pernah menyampaikan pandangan yang relevan soal ini. Menurutnya, digitalisasi usaha semestinya mengubah cara kerja bisnis secara mendasar, bukan cuma memindahkan etalase toko ke platform daring saja (Kementerian Koperasi dan UKM, 2025). Pandangan ini penting buat pelaku UMKM yang masih menganggap digitalisasi cukup dengan membuat akun media sosial tanpa strategi konten dan interaksi yang jelas dengan pelanggan. Sementara itu, Wisnu Dewobroto, yang menjabat sebagai Majelis Wali Amanah dari Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas, memberikan pandangan lain yang tak kalah relevan untuk strategi bisnis UMKM di masa sekarang. Ia menyebut bahwa di tengah tekanan ekonomi, pelaku usaha kecil perlu melakukan diversifikasi kanal penjualan, baik lewat jalur digital maupun komunitas, sambil membangun kolaborasi dengan sesama pelaku usaha untuk memperkuat akses pasar dan rantai pasok. Kalau dikaitkan dengan Chocomory, kolaborasi ini terlihat dari posisi mereka sebagai bagian dari ekosistem besar Cimory, yang

SELENGKAPNYA
Strategi Bisnis Tea Break yang Konsisten Menyasar Pasar Anak Muda

Strategi Bisnis Tea Break yang Konsisten Menyasar Pasar Anak Muda

Bisnis minuman kekinian masih jadi salah satu ladang usaha yang ramai diminati di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Tea Break, gerai minuman teh yang menawarkan skema kemitraan tanpa biaya royalti. Model bisnis ini menarik untuk dibahas karena menunjukkan bagaimana strategi bisnis UMKM yang sederhana namun tepat sasaran bisa membuat sebuah usaha bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar kuliner yang padat. Strategi utama yang dipakai Tea Break sebenarnya bukan hal baru. Kombinasi harga terjangkau, rasa yang konsisten, dan lokasi yang strategis sudah lama dikenal sebagai fondasi usaha kuliner skala kecil dan menengah. Nah, yang membuatnya relevan untuk dipelajari adalah bagaimana ketiga elemen itu dipadukan dengan sistem kemitraan terbuka, sehingga siapa pun bisa ikut menjalankan usaha ini tanpa harus memikirkan biaya royalti bulanan. Kombinasi ini pas untuk menyasar konsumen anak muda yang cenderung mencari produk enak, murah, dan gampang dijangkau. Artikel ini akan membahas beberapa pilar utama dalam strategi bisnis UMKM ala Tea Break, mulai dari pemilihan lokasi, penetapan harga, pemasaran digital, sistem kemitraan, sampai manajemen operasional harian. Supaya pembahasannya kredibel, beberapa bagian juga akan dikaitkan dengan teori dari ahli, hasil penelitian ilmiah, serta regulasi pemerintah yang berlaku untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Lokasi Padat Jadi Pilihan Tea Break Salah satu prinsip yang paling sering dipakai dalam strategi bisnis UMKM kuliner adalah memilih lokasi dengan lalu lintas orang yang tinggi. Untuk gerai seperti Tea Break, area sekitar kampus, lingkungan sekolah, pusat perbelanjaan, atau titik dekat minimarket jadi pilihan yang masuk akal karena tempat-tempat itu memang selalu ramai orang lalu lalang, terutama anak muda yang jadi target pasar utama produk ini. Pentingnya faktor lokasi ini sebenarnya sudah lama dibahas dalam ilmu ekonomi dan bisnis. Alfred Weber, seorang ekonom yang dikenal lewat teorinya soal lokasi industri, menjelaskan bahwa pemilihan tempat usaha sangat dipengaruhi oleh jarak ke sumber bahan baku dan kedekatan dengan konsumen, karena keduanya menentukan biaya operasional dan potensi penjualan sebuah usaha. Meski teori ini awalnya dibuat untuk industri manufaktur, prinsip dasarnya masih relevan dipakai sampai sekarang, termasuk untuk usaha kuliner skala kecil yang sangat bergantung pada kedekatan dengan calon pembeli. Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dimuat di jurnal ALMUJTAMAE, jurnal pengabdian masyarakat yang sudah terakreditasi SINTA 5. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lokasi usaha yang mudah dijangkau dan berada di titik keramaian punya pengaruh besar terhadap keberlangsungan UMKM, sementara lokasi yang terlalu jauh dari akses publik justru menyulitkan pelanggan untuk datang dan berpotensi menghambat pertumbuhan usaha. Studi ini juga menyarankan pelaku UMKM memakai data sederhana, seperti kepadatan penduduk atau arus lalu lintas, sebelum menentukan titik gerai. Harga Terjangkau dan Rasa Konsisten Tea Break Selain lokasi, harga dan rasa adalah dua hal yang paling menentukan apakah pelanggan mau kembali lagi atau tidak. Dalam konteks strategi bisnis UMKM minuman seperti Tea Break, harga yang ramah di kantong jadi daya tarik utama, apalagi target pasarnya adalah anak muda yang biasanya punya uang jajan terbatas namun sering jajan. Penetapan harga bukan sekadar soal murah, tapi juga soal bagaimana harga itu bisa terus konsisten sambil tetap menutup biaya produksi dan memberi untung yang wajar. Philip Kotler, salah satu pemikir pemasaran paling berpengaruh, menjelaskan bahwa harga adalah satu dari empat unsur utama dalam bauran pemasaran atau marketing mix, bersama produk, tempat, dan promosi, dan penetapannya harus mempertimbangkan biaya produksi, daya beli target pasar, serta posisi produk dibanding pesaing. Prinsip ini cocok diterapkan pada usaha minuman kekinian, sebab harga yang terlalu tinggi bisa membuat pelanggan anak muda beralih ke gerai lain, sementara harga yang terlalu rendah berisiko menggerus keuntungan usaha itu sendiri. Selain harga, konsistensi rasa juga jadi kunci penting. Pelanggan yang sudah cocok dengan rasa tertentu biasanya akan kembali lagi kalau rasa itu tidak berubah-ubah. Sebaliknya, kalau rasa hari ini beda dengan rasa minggu lalu, pelanggan bisa kecewa dan pindah ke tempat lain. Karena itu, gerai minuman seperti Tea Break biasanya menetapkan standar takaran bahan dan proses seduh yang jelas, supaya siapa pun yang membuat minumannya, hasil akhirnya tetap sama. Cara ini juga membantu menjaga kepercayaan konsumen terhadap merek dalam jangka panjang, apalagi kalau gerai tersebut sudah punya banyak cabang lewat sistem kemitraan. Pemasaran Digital Lokal Tea Break Salah satu strategi yang mendukung pertumbuhan Tea Break adalah pemasaran digital yang berfokus pada target pasar utamanya, yaitu anak muda. Kelompok konsumen ini sangat aktif menggunakan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk mencari rekomendasi minuman, promo menarik, maupun tempat nongkrong yang sedang populer. Karena itu, Tea Break memanfaatkan kedua platform tersebut untuk membagikan konten produk, informasi promo, video proses pembuatan minuman, hingga interaksi dengan pelanggan agar tetap dekat dengan audiensnya. Pendekatan digital ini juga membuat Tea Break mampu memperkenalkan gerai baru dengan biaya promosi yang relatif efisien. Konten yang konsisten, visual produk yang menarik, serta keterlibatan pelanggan melalui komentar atau unggahan ulang membantu meningkatkan jangkauan merek tanpa harus selalu mengandalkan iklan berbayar. Strategi ini memperkuat posisi Tea Break sebagai merek minuman yang dekat dengan gaya hidup anak muda. Selain promosi di media sosial, Tea Break juga memanfaatkan aktivitas pemasaran lokal, seperti berpartisipasi dalam bazar, kegiatan kampus, acara sekolah, maupun komunitas di sekitar lokasi gerai. Kehadiran langsung di berbagai kegiatan tersebut membantu meningkatkan brand awareness sekaligus memperkenalkan produk kepada calon pelanggan baru di area operasional masing-masing gerai. Sistem Kemitraan Tea Break sebagai Strategi Ekspansi Salah satu strategi yang membedakan Tea Break dari banyak merek minuman lainnya adalah penerapan sistem kemitraan tanpa biaya royalti. Skema ini membuat mitra tidak dibebani pembayaran royalti secara berkala sehingga modal operasional dapat lebih difokuskan pada pengembangan gerai dan pelayanan kepada pelanggan. Pendekatan tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi calon pengusaha yang ingin memulai bisnis minuman dengan investasi yang lebih ringan. Walaupun tidak menerapkan royalti, hubungan antara Tea Break dan mitra tetap harus dilandasi perjanjian yang jelas agar hak dan kewajiban masing-masing pihak memiliki kepastian hukum. Hal ini penting karena kerja sama kemitraan tidak hanya menyangkut penggunaan merek, tetapi juga standar operasional, penyediaan bahan baku, hingga dukungan yang diberikan kepada mitra selama menjalankan usaha. Dasar hukum mengenai kemitraan usaha diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, khususnya Pasal 90, yang menegaskan bahwa pemerintah memfasilitasi kemitraan antara usaha mikro

SELENGKAPNYA
Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Strategi Viva Kosmetik Tetap Eksis Diantara Brand Skincare Asing

Industri skincare Indonesia sedang ramai-ramainya. Setiap bulan selalu ada brand baru yang muncul, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri seperti Korea, Jepang, dan Tiongkok. Brand-brand baru ini biasanya datang dengan formula yang diklaim canggih, kemasan yang menarik, dan kampanye pemasaran yang gencar di media sosial. Kondisi ini membuat banyak brand lama harus berjuang lebih keras supaya tidak tergeser dari rak toko dan dari perhatian konsumen. Di tengah persaingan seperti ini, ada satu nama yang tetap bertahan sejak puluhan tahun lalu, yaitu Viva Kosmetik. Brand ini dikenal sebagai salah satu pelopor kosmetik “made in Indonesia” dan sudah berdiri lebih dari enam dekade. Usia brand yang panjang ini menarik untuk dikaji, sebab bertahan lama di industri kecantikan bukan perkara mudah. Banyak brand yang datang dengan gebrakan besar di awal, lalu perlahan hilang karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Artikel ini akan membahas strategi bisnis yang dijalankan Viva Kosmetik, mulai dari klaim produk, harga, kemasan, riset, sampai cara mereka beradaptasi dengan dunia digital. Setiap bagian juga akan dikaitkan dengan aturan pemerintah yang berlaku, pandangan pelaku industri kecantikan lain, dan hasil penelitian ilmiah yang relevan, supaya pembahasannya tidak hanya berdasarkan opini semata. Harga Terjangkau tanpa Menurunkan Standar Keamanan Harga jual juga jadi salah satu senjata utama Viva Kosmetik. Produk-produk Viva dikenal punya harga yang jauh lebih murah dibanding kebanyakan brand lokal maupun brand asing lainnya, namun tetap bisa dibeli oleh konsumen dari berbagai kalangan ekonomi. Salah satu cara Viva menekan biaya adalah dengan tidak menggunakan brand ambassador dari kalangan artis atau publik figur ternama, sehingga anggaran pemasaran yang biasanya dialokasikan untuk membayar endorser bisa dialihkan untuk menjaga harga jual tetap rendah. Strategi menjaga harga tetap terjangkau di tengah gempuran brand asing murah sebetulnya juga dialami oleh pelaku bisnis kosmetik lokal lainnya. Ahmad Nurul Fajri, pendiri brand kosmetik lokal Luxcrime, pernah menceritakan tantangan bersaing dengan produk luar negeri yang dijual dengan harga sangat rendah, bahkan ada yang dibanderol mulai dari 18 ribu hingga 20 ribu rupiah saja, angka yang menurutnya bahkan belum menutup biaya produksi standar. Menurutnya, kunci bertahan bukan dengan menurunkan brand menjadi terkesan murahan, melainkan menjaga kualitas produk sambil menyesuaikan ukuran kemasan, misalnya membuat varian ukuran travel size, supaya harga tetap bisa bersaing tanpa mengorbankan mutu bahan baku. Pendekatan semacam ini sejalan dengan apa yang dilakukan Viva selama puluhan tahun, yaitu memangkas biaya di sisi promosi dan kemasan, bukan di sisi bahan baku atau kualitas produk. Soal kualitas bahan baku ini, pemerintah juga baru saja memperbarui aturannya. BPOM menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik pada Oktober 2025, yang menggantikan aturan lama dan memperketat pengawasan terhadap bahan aktif, bahan tambahan, serta bahan pengawet yang boleh digunakan dalam produk kosmetik yang beredar di Indonesia. Aturan ini muncul setelah semakin banyak laporan global soal efek samping bahan kosmetik tertentu, termasuk bahan yang bersifat karsinogenik dan alergenik. Tujuan utama regulasi ini adalah meningkatkan keamanan konsumen dan menyelaraskan standar kosmetik Indonesia dengan standar ASEAN Cosmetic Directive. Artinya, berapa pun harga jual sebuah produk kosmetik, baik murah maupun mahal, bahan bakunya tetap wajib memenuhi standar keamanan yang sama ketatnya. Aturan ini menguntungkan brand seperti Viva yang selama ini mengandalkan harga terjangkau, karena konsumen jadi punya jaminan bahwa produk murah pun tetap diawasi standar keamanannya oleh negara, bukan hanya mengandalkan kepercayaan turun-temurun terhadap merek. Bentuk Efisiensi Viva Kosmetik Kalau diperhatikan, kemasan produk Viva Kosmetik memang terlihat sederhana dibanding kompetitornya. Desainnya cenderung fungsional, bahan kemasannya juga tidak terlalu mewah. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Kemasan yang sederhana membantu menekan biaya produksi, sehingga harga jual ke konsumen bisa tetap rendah tanpa mengurangi kualitas isi produknya. Meski kemasannya sederhana, bukan berarti Viva bisa mengabaikan aturan pelabelan yang berlaku. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, setiap kemasan kosmetik tetap wajib mencantumkan informasi lengkap seperti nama produk, komposisi bahan, kemanfaatan, kegunaan, nama dan alamat pemilik notifikasi, nomor batch, nomor notifikasi BPOM, serta tanggal kedaluwarsa. Jadi walaupun tampilan kemasannya minimalis, informasi yang wajib ada di dalamnya tetap harus lengkap dan sesuai standar yang sama dengan brand mahal sekalipun. BPOM juga rutin melakukan pemeriksaan bulanan terhadap sarana produksi dan distribusi kosmetik untuk memastikan kepatuhan pada aturan ini, ditambah pemeriksaan insidental kalau ada laporan dugaan pelanggaran dari masyarakat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti memilih kosmetik lewat kampanye “CekKLIK”, singkatan dari cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Imbauan ini relevan buat konsumen yang sering menganggap kemasan sederhana identik dengan produk abal-abal, padahal yang lebih penting untuk dicek adalah kelengkapan nomor notifikasi dan tanggal kedaluwarsanya, bukan semata tampilan luar kemasan. Fokus pada Riset dan Kualitas Produk Banyak brand skincare masa kini yang mengandalkan brand ambassador dari kalangan artis top nasional bahkan idol K-pop untuk mendongkrak penjualan. Viva justru mengambil jalan berbeda dengan lebih memilih mengalokasikan sumber dayanya untuk riset dan pengembangan formula produk baru sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan ini membuat Viva punya lebih dari 500 varian produk kosmetik dan skincare yang terus diperbarui mengikuti tren dan kebutuhan konsumen. Pendekatan mengutamakan riset produk dibanding sekadar mengandalkan nama besar juga didukung oleh pandangan pelaku industri kecantikan lokal lainnya. Budi Thomas, CEO Jacquelle Beauty, pernah menyampaikan bahwa kunci brand lokal untuk bertahan dan berkembang di pasar yang kompetitif adalah dengan fokus mengembangkan produk yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen. Menurutnya, konsumen sekarang sudah semakin pintar dan bisa membedakan mana brand yang kredibel, sehingga brand lokal perlu terus berinovasi dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, terutama konsumen usia muda yang jadi motor penggerak pasar kecantikan saat ini. Sedangkan strategi Viva yang lebih fokus pada riset formula dibanding pada figur brand ambassador sebenarnya sejalan dengan arah industri kecantikan yang semakin mengutamakan kualitas produk dibanding sekadar popularitas figur publik. Riset dan pengembangan produk kosmetik juga tidak bisa dilakukan sembarangan, karena ada aturan turunan yang mengaturnya. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjadi payung hukum utama yang mengatur pengawasan produk kosmetik di Indonesia, termasuk soal penandaan, promosi, dan proses notifikasi produk sebelum bisa dipasarkan secara resmi. Setiap kali Viva atau brand kosmetik lain mengeluarkan varian baru hasil riset mereka, produk tersebut wajib

SELENGKAPNYA
Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Say Bread: Inovasi Bakery dan Cafe dari Grup Indomaret

Persaingan bisnis bakery dan cafe di Indonesia semakin kompetitif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk roti, pastry, dan kopi. Tren ini mendorong berbagai perusahaan, termasuk pelaku usaha di luar industri makanan, untuk ikut mengembangkan bisnis F&B. Indomaret Group menjadi salah satu perusahaan yang menangkap peluang tersebut melalui kehadiran Say Bread, brand bakery yang biasanya terpajang di dekat kasir Indomart dan disajikan hangat. Tapi, sebenarnya brand milik Indomaret ini rahasianya apa kok bisa gak kalah dengan brand besar? Say Bread: Bisnis Bakery Milik Indomaret Group Bagi yang sering berbelanja di minimarket, nama Indomaret tentu sudah sangat akrab. Merek yang berdiri di bawah naungan PT Indomarco Prismatama ini dikenal sebagai pelopor waralaba minimarket di Indonesia. Tidak berhenti di sana, Indomaret Group kemudian memperluas jangkauan bisnisnya ke industri bakery melalui brand Say Bread yang dikelola oleh PT Indoroti Makmur Bersama (IMB). Say Bread awalnya hadir sebagai produk roti yang bisa ditemukan langsung di gerai-gerai Indomaret. Seiring waktu, brand ini berkembang menjadi konsep yang lebih besar: sebuah bakery dan cafe dengan gerai berdiri sendiri (stand alone). Saat ini, Say Bread memiliki lima gerai stand alone yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bali, Ambon, dan Manado. Puncak dari ekspansi ini ditandai dengan pembukaan Say Bread Bakery dan Cafe pertama di Indomaret Drive Thru Tomang 41, Jakarta Barat, pada 30 November 2023. Grand opening ini sekaligus menjadi penanda bahwa Say Bread siap bersaing di segmen bakery premium dengan konsep yang lebih berpengalaman dan bernuansa lifestyle. “Lahirnya Say Bread Bakery dan Cafe Tomang, selain bertujuan untuk semakin melengkapi, juga untuk memberikan pilihan yang lebih bervariatif akan kebutuhan roti konsumen,” kata James Sebastian, Operation Executive Director Say Bread, saat grand opening berlangsung. Kolaborasi dengan Takaki Bakery Jepang Salah satu keunggulan Say Bread yang membedakannya dari brand bakery lokal lainnya adalah kolaborasi strategis dengan Takaki Bakery, perusahaan roti ternama asal Jepang yang berdiri sejak tahun 1948. Kerja sama ini memastikan bahwa setiap produk roti dan pastry yang dihasilkan memiliki standar kualitas tinggi dengan sentuhan presisi khas Jepang. Kolaborasi ini semakin terlihat nyata saat Say Bread membuka gerai barunya di Cikajang, Jakarta Selatan, pada Desember 2025. Peresmian gerai tersebut dihadiri langsung oleh pihak Takaki Bakery, termasuk Akiko Takaki selaku Owner of Takaki Bakery dan Takasi Osawa selaku Director of Takaki Bakery, bersama CEO Indomaret Group, Sinarman Jonatan. Dalam industri bakery yang terus berkembang, kepercayaan konsumen terhadap kualitas bahan baku dan proses produksi menjadi faktor penentu kesuksesan. Penelitian dari Journal of Food Science and Technology (Cauvain & Young, 2006) menunjukkan bahwa standar keamanan pangan dan konsistensi proses produksi roti secara langsung memengaruhi kepercayaan konsumen dan loyalitas merek dalam jangka panjang. Kolaborasi dengan Takaki Bakery menjadi langkah Say Bread untuk memastikan dua hal ini terpenuhi secara konsisten. Industri Bakery Indonesia Jadi Peluang Say Bread Keputusan Indomaret mengembangkan bisnis ke ranah bakery dan cafe bukan tanpa alasan yang kuat. Industri bakery di Indonesia memang sedang dalam fase pertumbuhan yang solid. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, industri makanan dan minuman termasuk bakery terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan peningkatan permintaan yang stabil dari tahun ke tahun. Yusuf Hady, Operation Director PT Nippon Indosari Corpindo, memperkirakan pertumbuhan bisnis bakery di Indonesia berada di kisaran 7 hingga 10 persen setiap tahunnya, dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai sekitar Rp14 triliun. Menurutnya, prospek ke depan tetap menjanjikan karena roti termasuk makanan praktis yang tidak membutuhkan proses memasak di rumah, sehingga cocok untuk gaya hidup masyarakat urban yang dinamis. Di sisi konsumen, data dari Statistik Konsumsi Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa permintaan masyarakat Indonesia terhadap produk bakery terus meningkat sejak 2018, dengan pertumbuhan signifikan pada segmen pastry dan produk premium. Tren ini juga diperkuat oleh meningkatnya daya beli kelas menengah serta pengaruh budaya kuliner global yang membawa croissant, brioche, dan berbagai pastry Eropa semakin populer di kalangan konsumen Indonesia. Pakar manajemen bisnis kuliner, Dr. Ratih Hurriyati dari Universitas Pendidikan Indonesia, dalam berbagai forum bisnis menyebutkan bahwa strategi brand extension seperti yang dilakukan Indomaret melalui Say Bread merupakan langkah bisnis yang tepat. Perusahaan yang sudah memiliki ekosistem distribusi dan kepercayaan konsumen yang kuat memiliki keunggulan kompetitif saat memasuki segmen pasar baru, terutama di industri makanan sehari-hari seperti bakery. Menu Unggulan Say Bread Salah satu daya tarik utama Say Bread adalah keragaman menunya yang memadukan cita rasa klasik Eropa dengan selera konsumen Indonesia. Produk-produk di bawah lini Say Bread Premium dirancang untuk memberikan pengalaman rasa yang autentik sekaligus terjangkau. Beberapa produk unggulan yang bisa kamu temukan di Say Bread meliputi: Di gerai Cikajang yang dibuka pada Desember 2025, Say Bread juga menghadirkan menu terbaru yang semakin beragam, salah satunya Fruit Pastry: pastry berlapis renyah dengan custard lembut yang dipadukan buah segar seperti dark cherry, strawberry, mango, kiwi, dan blueberry. Menu ini menjadi bukti bahwa Say Bread terus berinovasi untuk memenuhi selera konsumen urban yang dinamis. Dari sisi harga, Say Bread menawarkan produk premium dengan harga yang sangat bersahabat. Kamu bisa menikmati berbagai pilihan roti mulai dari Rp11.000 hingga Rp27.000. Bahkan, produk terbaru di lini Brioche dibanderol mulai dari Rp12.500, menjadikannya pilihan sarapan atau camilan berkualitas yang tidak menguras kantong. Say Bread Bakery dan Cafe Konsep stand alone bakery & cafe yang dikembangkan Say Bread menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat membeli roti. Gerai-gerai Say Bread dirancang sebagai ruang singgah baru bagi masyarakat urban, tempat yang nyaman untuk bekerja, berbincang, atau sekadar beristirahat sambil menikmati aroma roti hangat fresh from the oven. James Sebastian, Director PT Indoroti Makmur Bersama (IMB), menjelaskan visi di balik konsep ini: “Setelah kesuksesan kami pada Say Bread Bakery & Café di Tomang, kami ingin berinovasi lebih lagi. Kami menghadirkan stand alone bakery & café yang lebih update, menawarkan roti dan sajian yang lebih variatif serta menarik bagi para pelanggan.” Say Bread juga memperkuat pendekatan customer-centric dengan menghadirkan suasana toko yang lebih nyaman, ruang duduk yang modern, serta pelayanan yang dirancang agar pengunjung bisa menikmati produk dengan pengalaman yang lebih personal. Ini sejalan dengan tren industri cafe di Indonesia yang semakin bergeser dari sekadar menjual minuman, menjadi menjual pengalaman dan suasana. Penelitian dari International Journal of Hospitality Management (Ryu & Han, 2010) menemukan bahwa kualitas fisik lingkungan

SELENGKAPNYA
Voucher Diskon TikTok Shop Ditanggung Siapa? Ini Penjelasannya!

Voucher Diskon TikTok Shop Ditanggung Siapa? Ini Penjelasannya!

Kalau kamu sering belanja di TikTok Shop, pasti pernah menemukan berbagai macam potongan harga saat checkout. Ada yang muncul otomatis dari platform, ada yang kamu cari sendiri dari toko, dan ada juga yang baru aktif saat kamu ikut kampanye tertentu. Pertanyaan yang sering muncul adalah: sebetulnya siapa yang menanggung biaya potongan harga ini? Apakah penjual yang rugi, atau TikTok yang menanggung semuanya? Jawabannya tidak sesederhana salah satu pihak saja. Sistem voucher di TikTok Shop dirancang dengan skema tanggung jawab yang terbagi antara platform dan penjual, tergantung jenis voucher yang digunakan. Memahami perbedaan ini penting, baik bagi kamu yang berbelanja maupun bagi yang berjualan di platform ini. Tiga Jenis Voucher dan Siapa yang Menanggungnya Meski sama-sama memberikan keuntungan bagi konsumen, setiap jenis voucher memiliki perlakuan yang berbeda dari sisi bisnis dan administrasi. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami karakteristik masing-masing voucher agar tidak keliru dalam pencatatan transaksi. 1. Diskon Platform: Ditanggung Penuh oleh TikTok Diskon platform adalah jenis potongan harga yang murni berasal dari TikTok sendiri. Dana untuk diskon ini tidak dipotong dari penghasilan penjual, melainkan disubsidi langsung oleh TikTok sebagai bentuk investasi untuk menarik lebih banyak pengguna berbelanja di platformnya. Jadi, kalau kamu melihat label “Diskon Platform” saat checkout dan harga produk turun, penjual tidak akan mengalami kerugian apapun. Pendapatan yang mereka terima tetap dihitung dari harga asal produk, bukan harga setelah potongan. TikTok yang menanggung selisihnya. Praktik ini umum dilakukan oleh platform besar sebagai strategi untuk menggaet pengguna baru, meningkatkan volume transaksi, dan bersaing dengan marketplace lain. Ini bukan kebaikan murni, melainkan investasi bisnis dari TikTok untuk mengembangkan ekosistem belanjanya. 2. Voucher Penjual: Ditanggung Penuh oleh Toko Berbeda dari diskon platform, voucher penjual adalah potongan harga yang secara sengaja dibuat oleh pemilik toko melalui TikTok Seller Center. Saat kamu menggunakan voucher jenis ini, maka sepenuhnya penjual yang menanggung biayanya. Penjual biasanya membuat voucher jenis ini untuk berbagai alasan: membersihkan stok produk yang menumpuk, menarik pembeli pertama, mempertahankan pelanggan lama, atau meningkatkan rating toko. Keputusan untuk membuat voucher ada di tangan penjual, begitu pula risikonya. Penting bagi penjual untuk menghitung margin dengan cermat sebelum menerbitkan voucher. Sebab, komisi platform dihitung dari harga produk dikurangi diskon penjual. Berdasarkan kebijakan TikTok Shop yang berlaku sejak pertengahan 2025, formula yang digunakan adalah: Biaya Komisi = (Harga Produk – Diskon Penjual) × Persentase Komisi dengan batas maksimum Rp40.000 per item. Ini berarti semakin besar diskon yang diberikan penjual, semakin kecil pula dasar perhitungan komisinya, tapi margin keuntungan mereka juga ikut menyusut. 3. Voucher Gabungan (Co-Funded): Ditanggung Bersama Jenis ketiga adalah voucher co-funded, yaitu diskon yang biayanya ditanggung bersama antara TikTok dan penjual dengan persentase tertentu. Skema ini biasanya muncul saat kampanye besar seperti Harbolnas, Mega Campaign, atau flash sale khusus yang diselenggarakan TikTok. Penjual yang ingin ikut kampanye besar tersebut perlu menyepakati persentase kontribusi diskon yang akan mereka tanggung. Sebelum mendaftar ke kampanye, TikTok biasanya sudah mencantumkan berapa persen potongan yang menjadi tanggung jawab penjual dan berapa persen yang ditanggung platform. Dengan demikian, kedua pihak sama-sama mendapat keuntungan: TikTok mendapat lebih banyak transaksi, dan penjual mendapat eksposur lebih besar. Kenapa Harus Paham Skema Ini? Bagi kamu yang berjualan di TikTok Shop, memahami siapa yang menanggung voucher bukan sekadar urusan administratif. Ini langsung berdampak pada keuntungan bersih yang kamu terima di akhir bulan. Menurut pakar pemasaran digital Aloysius Bhima Yudhistira dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), ekosistem e-commerce di Indonesia memang membuat posisi penjual, terutama UMKM, cukup rentan terhadap berbagai potongan biaya yang bertumpuk. Menurutnya, penjual perlu memahami setiap komponen biaya, mulai dari biaya komisi, biaya promosi, hingga ongkos kirim, sebelum menentukan harga jual. Ketidaktahuan soal skema biaya ini bisa membuat penjual menetapkan harga yang tidak menguntungkan tanpa mereka sadari. Senada dengan itu, Dr. Rhenald Kasali, guru besar manajemen dari Universitas Indonesia, dalam berbagai forum diskusi ekonomi digital menegaskan bahwa UMKM yang masuk ke platform digital harus mampu membaca struktur biaya platform secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa margin yang terlihat besar di permukaan seringkali sudah terpangkas oleh berbagai potongan tersembunyi yang tidak diperhitungkan sejak awal. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting (2025) memperkuat hal ini. Studi tersebut menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) dan menemukan bahwa diskon memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap niat beli ulang konsumen di platform e-commerce. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi diskon memang efektif mendatangkan pembeli, namun penjual perlu memastikan bahwa manfaat kenaikan volume penjualan benar-benar sepadan dengan biaya diskon yang mereka keluarkan. Voucher dan Regulasi Pemerintah Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam melihat perkembangan ekosistem e-commerce yang kian kompleks ini. Pada Juni 2026, Kementerian Perdagangan resmi menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). Beleid baru ini menggantikan Permendag Nomor 31 Tahun 2023 yang sebelumnya mengatur sektor serupa. Salah satu poin penting dalam regulasi ini adalah kewajiban platform untuk transparan soal semua biaya yang dikenakan kepada penjual. Platform digital wajib menjelaskan seluruh komponen biaya melalui perjanjian tertulis atau kontrak elektronik, dan setiap perubahan biaya harus mendapat persetujuan penjual terlebih dahulu. Ini termasuk biaya komisi, biaya promosi, maupun skema voucher yang melibatkan kontribusi dari penjual. Lebih jauh, Permendag 19/2026 juga memberikan tanggung jawab lebih besar kepada platform untuk mengawasi praktik manipulasi harga, termasuk subsidi harga yang dinilai tidak wajar dan diskon berkepanjangan yang berpotensi mendistorsi pasar. Jika ada dugaan praktik persaingan usaha tidak sehat, platform wajib berkoordinasi dengan otoritas terkait paling lambat tiga hari kerja sejak laporan diterima. Selain itu, regulasi ini mewajibkan marketplace untuk memprioritaskan produk dalam negeri dan UMKM dalam sistem pencarian, rekomendasi, serta promosi di halaman utama. Langkah ini diharapkan bisa membantu penjual lokal bersaing lebih sehat tanpa harus terus-menerus bergantung pada diskon besar yang menggerus margin mereka. Dalam konteks perlindungan UMKM, Kementerian UMKM juga sedang menyusun aturan tambahan yang akan mengatur batas wajar biaya administrasi di marketplace. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa ke depan akan ada ketentuan mengenai biaya platform serta potongan khusus bagi usaha kecil dan produk dalam negeri. Penjual juga akan mendapat pemberitahuan lebih awal jika ada kenaikan biaya admin dari platform.

SELENGKAPNYA
Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Kenapa Banyak Brand Konsisten Ikut PRJ, Padahal Biayanya Mahal?

Pekan Raya Jakarta (PRJ) adalah salah satu event dagang terbesar di Asia Tenggara, yang setiap tahunnya mampu menarik jutaan pengunjung dan memutarkan uang dalam jumlah yang luar biasa. PRJ 2024 mencatat total transaksi sebesar Rp 7,5 triliun dengan 6,3 juta pengunjung selama 33 hari penyelenggaraan. Bahkan di tahun 2025, meski durasinya dipangkas jadi hanya 25 hari karena berbagi jadwal dengan Indo Defence, perputaran uangnya masih tembus Rp 7,3 triliun dengan 5,9 juta pengunjung. Angka itu sesuatu yang gak luput dari perhatian para pelaku bisnis. Setiap tahun, ribuan brand dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, fashion, makanan dan minuman, teknologi, sampai produk kecantikan, rela mengeluarkan biaya besar untuk ikut serta. Sewa stan di PRJ bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter per bulan. Artinya, untuk stan berukuran 3×3 meter saja, sebuah brand harus menyiapkan dana sekitar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta, belum termasuk biaya desain booth, produksi materi promosi, gaji karyawan, dan operasional selama event berlangsung. Tapi nyatanya, brand-brand ini bukan cuma datang sekali. Mereka terus kembali setiap tahun. Ada apa? PRJ, Event Tahunan dengan Jutaan Pengunjung Kalau kamu pikir brand-brand besar ikut PRJ semata-mata untuk mengejar penjualan di tempat, kamu hanya melihat sebagian kecil dari gambar besar. PRJ adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana brand bisa berinteraksi langsung dengan jutaan konsumen dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Brand exposure dalam skala masif yang sulit dicapai lewat media mana pun dalam waktu singkat. Dalam dunia pemasaran, ada yang disebut sebagai experiential marketing, yaitu strategi membangun hubungan antara brand dan konsumen melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini terbukti jauh lebih efektif dibanding iklan satu arah. Konsumen yang merasakan langsung produk atau berinteraksi dengan perwakilan brand memiliki kemungkinan jauh lebih tinggi untuk membeli, bahkan menjadi pelanggan setia jangka panjang. Philip Kotler, pakar marketing global yang sering dirujuk dalam studi pemasaran, menyatakan bahwa pengalaman langsung konsumen dengan brand di titik kontak fisik (physical touchpoint) memiliki pengaruh yang jauh lebih dalam terhadap keputusan pembelian dibandingkan paparan iklan digital. Pendekatan ini relevan dengan kondisi pasar Indonesia yang masih sangat berorientasi pada pengalaman tatap muka dan kepercayaan personal. PRJ adalah arena physical touchpoint yang ideal. Di sini, brand punya kendali penuh untuk menciptakan kesan pertama yang kuat, memperkenalkan produk baru, mengumpulkan feedback langsung dari konsumen, dan memperkuat posisi di benak pasar yang sangat kompetitif. Ribuan Tenant, Gimana Cara Menonjol? PRJ 2025 diikuti oleh 2.550 tenant dengan 1.550 stan. Bayangkan ada ribuan booth berdiri berdampingan dalam satu area. Pengunjung berjalan, matanya bergerak cepat dari satu booth ke booth lain. Dalam situasi seperti ini, hanya booth yang tampil berbeda yang punya peluang untuk dilirik. Di sinilah persoalan sesungguhnya dimulai. Brand tidak cuma bersaing lewat produk. Di arena seperti PRJ, mereka bersaing lewat bagaimana mereka terlihat. Desain booth, signage, backdrop, pencahayaan, layout area display, bahkan merchandise yang dibagikan secara gratis, semuanya bekerja bersama untuk menciptakan satu hal: perhatian pengunjung. Menurut kajian dalam jurnal Jurnal Impresi Indonesia (JII, Vol. 4, No. 7, Juli 2025), visualisasi desain booth yang kuat secara signifikan meningkatkan daya tarik pengunjung, dengan rata-rata peningkatan interaksi bisnis sebesar 35% dibandingkan booth dengan tampilan standar. Penelitian ini juga menegaskan bahwa desain booth bukan hanya soal estetika, melainkan bagian integral dari strategi pemasaran B2B maupun B2C yang efektif, terutama dalam konteks pameran berskala besar. Di level yang lebih praktis, penelitian tentang visual merchandising dalam sebuah event promosi, yang dipublikasikan di jurnal MESMAN (DOI: 10.56709/mesman.V4.i1.644, September 2024), menunjukkan bahwa penerapan elemen estetika pada desain booth, dikombinasikan dengan promosi yang tepat, berhasil meningkatkan minat beli konsumen hingga 35%. Elemen yang paling berpengaruh adalah tampilan visual booth, promosi harga, dan kualitas pelayanan di lapangan. Artinya, investasi pada tampilan booth bukan pemborosan. Ini adalah bagian dari strategi yang punya dampak nyata terhadap hasil akhir. Booth Adalah Wajah Brand di Mata Pengunjung Ketika seseorang berjalan di lorong PRJ, keputusan untuk mampir atau terus berjalan sering kali terjadi dalam hitungan detik. Otak manusia memproses informasi visual jauh lebih cepat dibandingkan teks atau audio. Dan dalam kondisi ramai seperti PRJ, stimulus visual yang kuat adalah satu-satunya cara untuk menghentikan langkah pengunjung. Itu sebabnya brand-brand yang serius soal kehadiran di PRJ tidak pernah menyepelekan desain booth mereka. Ada beberapa elemen yang menentukan apakah sebuah booth mampu menarik perhatian atau justru tenggelam di antara keramaian: –Konsistensi identitas brand. Warna, logo, tipografi, dan gaya visual harus selaras dan mencerminkan karakter brand secara konsisten. Ketika desain booth secara harmonis mencerminkan identitas merek, pengunjung secara otomatis merasa familiar dan terhubung, sehingga lebih cenderung untuk mendekat dan berinteraksi. –Psikologi warna. Pemilihan warna bukan sekadar soal selera estetika. Setiap warna memiliki asosiasi psikologis yang memengaruhi emosi dan perilaku pengunjung. Warna merah menciptakan urgensi dan menarik perhatian, cocok untuk promosi batas waktu. Warna biru memberi kesan profesional dan dapat dipercaya. Warna hijau diasosiasikan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Brand yang memahami psikologi warna bisa menggunakannya untuk memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan. –Elemen interaktif. Booth yang hanya memajang produk tanpa mengundang interaksi akan terasa pasif. Layar sentuh, demo produk langsung, spot foto yang instagramable, atau aktivitas sederhana yang melibatkan pengunjung, semua ini menciptakan pengalaman yang berkesan dan membuat orang lebih lama tinggal di booth. –Pencahayaan dan detail finishing. Pencahayaan yang baik tidak hanya membuat produk terlihat lebih menarik, tapi juga menciptakan suasana yang nyaman untuk berinteraksi. Detail finishing yang rapi menunjukkan bahwa brand serius dan profesional, sebuah sinyal kepercayaan yang kuat bagi konsumen. –Signage dan backdrop yang kuat. Di tengah kerumunan, signage yang jelas dan backdrop yang eye-catching adalah cara tercepat untuk membuat orang tahu siapa kamu dan apa yang kamu tawarkan. Brand yang menggunakan signage dengan pesan yang tajam dan visual yang kuat akan jauh lebih mudah diingat. Kenapa Brand Besar Terus Kembali Setiap Tahun? Jawabannya sederhana: return on investment (ROI) yang tidak hanya datang dari penjualan langsung. Brand-brand yang konsisten hadir di PRJ memahami bahwa investasi mereka bekerja di beberapa level sekaligus: a. Brand awareness yang masif. Jutaan orang yang melewati atau mampir ke booth kamu dalam satu bulan adalah angka yang hampir mustahil dicapai lewat kampanye digital dengan anggaran yang sama. b. Direct selling

SELENGKAPNYA
Strategi Sido Muncul Hadapi Konten Negatif Tolak Angin

Strategi Sido Muncul Hadapi Konten Negatif Tolak Angin

Ketika nama besar diserang di dunia maya, respons pertama yang sering terlintas adalah jalur hukum. Tapi Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, memilih cara yang berbeda. Alih-alih langsung melapor ke polisi, ia justru memilih duduk, menelusuri, lalu berbicara langsung dengan pelakunya. Pendekatan ini bukan kelemahan, melainkan strategi manajemen krisis yang matang dan penuh kesadaran. Gimana detailnya? Artikel ini akan membahas cara atau strategi komunikasi Sido Muncul terhadap konten negatif yang ditujukan pada salah satu brandnya yaitu Tolak Angin. Isu yang Sempat Menyerang Brand Tolak Angin Sido Muncul bukan perusahaan kecil. Dengan produk-produk seperti Tolak Angin, Kuku Bima, dan berbagai jamu modern lainnya, perusahaan ini sudah puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun justru karena popularitas itulah, merek ini kerap menjadi sasaran konten negatif di media sosial. Unggahan yang memojokkan produk, klaim tidak berdasar soal kandungan bahan, hingga narasi hoaks yang beredar luas di berbagai platform. Beberapa isu yang sempat menyerang Tolak Angin bahkan sempat menjadi perbincangan nasional. a. Pada 2022, saat muncul kasus gagal ginjal akut yang dikaitkan dengan kandungan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada sejumlah produk obat cair, beredar berbagai unggahan di media sosial yang ikut mempertanyakan keamanan produk-produk herbal cair, termasuk Tolak Angin. Sido Muncul kemudian memberikan klarifikasi bahwa Tolak Angin tidak mengandung EG maupun DEG dan telah memperoleh surat keterangan dari BPOM terkait hal tersebut. b. Pada 2015, kemasan Tolak Angin yang beredar di California, Amerika Serikat, sempat menjadi viral karena memuat peringatan terkait kandungan timbal (lead). Pihak Sido Muncul membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa peringatan itu dipasang distributor sebagai langkah kehati-hatian terkait regulasi setempat, bukan karena ditemukan kandungan timbal berbahaya pada produk. Label tersebut kemudian ditarik kembali oleh distributor. c. Tolak Angin juga beberapa kali dicatut dalam meme politik dan konten viral yang tidak berkaitan dengan produknya. Pada 2021, Sido Muncul bahkan mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya meme yang mengaitkan kemasan Tolak Angin dengan isu politik. Irwan Hidayat menyayangkan penggunaan merek yang telah dibangun puluhan tahun untuk kepentingan di luar konteks produk. Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa semakin besar sebuah brand, semakin besar pula potensi munculnya misinformasi, hoaks, maupun penggunaan merek tanpa izin. Namun alih-alih langsung menempuh jalur hukum, Irwan Hidayat memilih mengedepankan klarifikasi, edukasi, dan pendekatan yang lebih persuasif kepada masyarakat. Dalam sebuah pernyataan di sela kegiatan Kampanye Menabung Saham di Agrowisata Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Irwan mengungkapkan bahwa setiap kali ada unggahan negatif soal produk seperti Tolak Angin, langkah pertamanya bukan memanggil pengacara, melainkan menelusuri siapa yang mengunggah dan apa motifnya. “Setelah ditelusuri, ternyata banyak yang hanya ikut-ikutan repost tanpa memahami dampaknya. Saya malah kasihan, karena yang dicari hanya ketenaran. Kalau dibawa ke hukum, malah tambah susah,” ungkap Irwan. Siapa yang Menyerang Produk Sido Muncul? Salah satu temuan paling mengejutkan dari proses penelusuran yang dilakukan Irwan adalah soal siapa pelaku di balik unggahan negatif tersebut. Ia mengidentifikasi tiga kemungkinan sumber, yaitu kampanye buzzer terorganisir, aksi kompetitor, atau sekadar individu yang ingin mencari perhatian di media sosial. Hasilnya? Sebagian besar bukan dari pihak yang punya kepentingan khusus. Mereka adalah netizen biasa yang hanya ikut-ikutan menyebarkan konten tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Bahkan yang lebih ironis, sebagian di antara mereka justru merupakan konsumen produk Sido Muncul sendiri, termasuk pengguna setia Tolak Angin. Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam soal perilaku pengguna media sosial di Indonesia. Survei Katadata Insight Center (KIC) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Siberkreasi menemukan bahwa setidaknya 30% hingga hampir 60% masyarakat Indonesia pernah terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi di internet. Tingkat literasi digital yang masih berada di angka rata-rata menengah menjadi akar masalahnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat bahwa indeks literasi digital Indonesia pada 2022 masih di angka 3,54 dari skala 5, atau masuk kategori sedang. Artinya, jutaan pengguna internet di Indonesia memiliki akses ke berbagai platform digital, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyaring, memverifikasi, dan bertanggung jawab atas konten yang mereka bagikan. Komunikasi sebagai Senjata Utama Irwan Hidayat memilih jalur komunikasi langsung ketimbang gugatan hukum, dan keputusan ini bukan tanpa pertimbangan yang matang. Dari sudut pandang manajemen krisis, pendekatan yang diambil Irwan sejalan dengan apa yang para ahli sebut sebagai strategi restorative communication, yakni memulihkan reputasi melalui dialog, bukan konfrontasi. Dr. Adriana Soegoto, pakar komunikasi digital, pernah menegaskan bahwa “Era digital menuntut perusahaan untuk lebih adaptif. Krisis akan selalu ada, tetapi bagaimana kita menanganinya yang menentukan keberlanjutan bisnis dan kepercayaan publik.” (Sumber: ikom.fisipol.unesa.ac.id, 2025) Pendapat serupa juga disampaikan oleh Timothy Coombs melalui teorinya Situational Crisis Communication Theory (SCCT). Coombs menekankan bahwa setiap krisis reputasi memiliki tingkat ancaman yang berbeda, dan respons yang dipilih perusahaan harus disesuaikan dengan konteks krisis tersebut. Ketika krisis bersumber dari kesalahpahaman publik, bukan dari kesalahan internal perusahaan, maka pendekatan edukatif dan dialogis jauh lebih efektif dibanding sikap defensif apalagi agresif secara hukum. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial (2025) tentang komunikasi krisis digital juga menyimpulkan bahwa “kombinasi strategi kecepatan, transparansi, konsistensi pesan, pemanfaatan media sosial, dan hubungan dengan stakeholder mampu menurunkan dampak krisis reputasi.” Perusahaan yang memiliki rencana komunikasi krisis dan tim khusus terbukti lebih tangguh dibanding perusahaan yang tidak memiliki sistem formal untuk menghadapi isu reputasi. Apa yang dilakukan Irwan secara intuitif justru mencerminkan prinsip-prinsip ini. Ia menelusuri sumber masalah, berkomunikasi langsung dengan pihak yang terlibat, meminta klarifikasi, dan mengedukasi mereka tentang dampak dari konten yang mereka sebarkan. Mengapa Pakai Pendekatan Humanis? Ada alasan strategis yang kuat di balik keputusan Irwan untuk tidak buru-buru membawa kasus ini ke jalur hukum. Pertama, proses hukum cenderung memakan waktu dan biaya, dan justru bisa menjadi bahan bakar bagi lebih banyak pemberitaan negatif. Kasus yang dibawa ke ranah hukum sering kali mendapat sorotan media yang lebih luas, yang justru memberikan lebih banyak eksposur pada isu yang sebetulnya ingin diredam. Kedua, pelaku yang diproses secara hukum bisa membangun narasi sebagai “korban” dari perusahaan besar, yang dapat membalikkan simpati publik. Ini adalah jebakan PR yang sering tidak disadari. Ketiga, dan ini yang paling penting dalam jangka panjang yaitu komunikasi langsung membuka peluang untuk mengubah netizen yang tadinya menyebarkan konten

SELENGKAPNYA
Marketing Bolosego: Pelopor Iga Mercon Viral Berkat Storytelling

Marketing Bolosego: Pelopor Iga Mercon Viral Berkat Storytelling

Bolosego merupakan salah satu brand kuliner asal Yogyakarta yang berhasil membangun identitas kuat di tengah persaingan bisnis makanan yang semakin padat. Brand ini dikenal luas sebagai pelopor iga mercon di Indonesia dan berhasil menarik perhatian konsumen melalui kombinasi produk yang khas, strategi pemasaran yang konsisten, serta cerita bisnis yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Perjalanan Bolosego tidak dimulai dari modal besar atau dukungan investor. Brand ini lahir dari situasi yang penuh tantangan ketika pandemi Covid-19 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan pendapatan. Di tengah kondisi tersebut, Dyah Layli Fardisa melihat peluang untuk membangun usaha kuliner yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus membuka kesempatan kerja bagi orang-orang di sekitarnya. Keberhasilan Bolosego tidak hanya berasal dari kualitas produknya. Strategi pemasaran yang diterapkan sejak awal menjadi salah satu faktor penting yang membantu brand ini berkembang. Pendekatan personal branding, storytelling, komunikasi yang akrab dengan pelanggan, hingga pemanfaatan media sosial dilakukan secara konsisten untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Strategi yang dijalankan Bolosego menarik untuk dipelajari karena menunjukkan bahwa bisnis kuliner tidak hanya bergantung pada rasa makanan. Cara sebuah brand berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan menghadirkan pengalaman kepada pelanggan juga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan pertumbuhan usaha. Dyah Layli Fardisa, Founder Bolosego Dyah Layli Fardisa memulai perjalanan bisnis Bolosego ketika pandemi Covid-19 memberikan dampak besar terhadap kehidupan banyak masyarakat Indonesia. Saat itu, dirinya termasuk salah satu orang yang harus menghadapi kenyataan kehilangan pekerjaan akibat perubahan kondisi ekonomi. Situasi tersebut membuat Dyah harus mencari sumber penghasilan baru untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah proses tersebut, ia teringat pada sebuah warung makan yang pernah menjadi favoritnya saat masih kuliah. Warung tersebut juga berhenti beroperasi karena dampak pandemi yang membuat jumlah pelanggan menurun drastis. Dyah melihat peluang dari kondisi tersebut. Ia mengetahui bahwa makanan yang dijual memiliki cita rasa yang disukai banyak orang. Karena itu, ia mengajak pemilik warung untuk bekerja sama. Dalam kolaborasi tersebut, pemilik warung bertanggung jawab terhadap proses memasak, sementara Dyah mengurus pemasaran dan pengembangan bisnis. Modal yang dimiliki saat itu sangat terbatas. Bersama beberapa rekan yang juga mengalami PHK, Dyah memulai usaha dari dapur rumah dengan peralatan sederhana. Produksi dilakukan dalam skala kecil dan pemasaran difokuskan melalui saluran digital karena aktivitas masyarakat masih banyak dilakukan secara online. Langkah awal tersebut menjadi fondasi penting dalam perkembangan Bolosego. Dari usaha rumahan yang sederhana, bisnis ini mulai tumbuh secara bertahap berkat konsistensi dalam menjaga kualitas dan memperhatikan kebutuhan pelanggan. Storytelling Bolosego Sebagai Alat Pemasaran Bolosego tidak hanya menjual makanan pedas. Brand ini juga menjual cerita yang membuat pelanggan merasa lebih dekat dengan bisnis yang mereka dukung. Storytelling menjadi salah satu strategi pemasaran yang paling sering digunakan oleh Bolosego. Cerita mengenai perjuangan membangun usaha dari nol, menghadapi keterbatasan modal, hingga bangkit setelah kehilangan pekerjaan menjadi bagian dari identitas brand yang terus disampaikan kepada publik. Strategi ini membuat konsumen tidak hanya mengenal produk yang dijual, tetapi juga memahami perjalanan di balik lahirnya brand tersebut. Banyak pelanggan yang akhirnya merasa memiliki hubungan emosional dengan Bolosego karena mereka dapat memahami proses dan tantangan yang pernah dihadapi oleh pendirinya. Dalam dunia pemasaran modern, storytelling menjadi salah satu cara efektif untuk membangun kedekatan dengan audiens. Konsumen saat ini cenderung menyukai brand yang memiliki cerita nyata dan mudah dipahami. Mereka ingin mengetahui siapa yang berada di balik sebuah produk, bagaimana produk tersebut dibuat, dan nilai apa yang ingin disampaikan oleh brand tersebut. Bolosego memanfaatkan pendekatan ini secara konsisten. Setiap perkembangan bisnis, pencapaian, maupun tantangan yang dihadapi sering kali dikemas menjadi cerita yang relevan bagi pelanggan. Cara tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar promosi produk biasa. Personal Branding Dyah Layli Fardisa Memperkuat Kepercayaan Konsumen Personal branding menjadi salah satu elemen yang sangat penting dalam strategi pemasaran Bolosego. Dyah Layli Fardisa tidak memisahkan dirinya dari brand yang ia bangun. Sebaliknya, ia justru menjadikan perjalanan hidup dan pengalaman pribadinya sebagai bagian dari identitas bisnis. Melalui berbagai kegiatan, seminar, wawancara, dan konten media sosial, Dyah sering membagikan pengalaman mengenai perjalanan membangun usaha kuliner dari kondisi yang serba terbatas. Cerita tersebut memberikan gambaran nyata kepada masyarakat mengenai proses yang harus dilalui untuk membangun bisnis. Kehadiran sosok pendiri dalam komunikasi brand memberikan keuntungan tersendiri. Konsumen cenderung lebih mudah percaya kepada bisnis yang memiliki figur nyata di belakangnya. Mereka dapat melihat siapa yang menjalankan usaha tersebut dan bagaimana nilai-nilai bisnis diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Personal branding juga membantu membedakan Bolosego dari kompetitor yang menjual produk serupa. Banyak usaha kuliner menawarkan menu pedas, tetapi tidak semua memiliki cerita pendiri yang aktif dibagikan kepada publik. Faktor inilah yang membuat Bolosego memiliki identitas yang lebih kuat di mata pelanggan. Membangun Komunitas Melalui Sapaan “Bolo” Bolosego memiliki cara unik dalam membangun hubungan dengan pelanggan. Salah satu strategi yang digunakan adalah menyapa pelanggan dengan sebutan “Bolo”. Dalam bahasa Jawa, kata “Bolo” memiliki arti teman atau sahabat. Penggunaan istilah tersebut membuat komunikasi brand terasa lebih hangat dan tidak kaku. Sapaan ini digunakan secara konsisten di berbagai saluran komunikasi, mulai dari media sosial, promosi digital, hingga interaksi langsung dengan pelanggan. Konsistensi tersebut membuat pelanggan merasa menjadi bagian dari komunitas, bukan hanya sebagai pembeli produk. Pendekatan komunitas seperti ini memberikan dampak yang cukup besar dalam membangun loyalitas pelanggan. Ketika seseorang merasa dihargai dan dianggap sebagai bagian dari kelompok tertentu, mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih kuat dengan brand. Strategi tersebut juga membantu meningkatkan interaksi di media sosial. Konten yang menggunakan bahasa yang akrab biasanya lebih mudah mendapatkan respons karena terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens. Identitas Produk yang Kuat Bolosego memahami pentingnya memiliki identitas produk yang jelas. Oleh karena itu, brand ini membangun berbagai elemen yang dapat membantu konsumen mengingat produknya dengan lebih mudah. Salah satu identitas yang paling dikenal adalah slogan #pedaspangkalpuas. Slogan ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman menikmati makanan pedas yang menjadi ciri khas Bolosego. Selain itu, pilihan level kepedasan yang beragam juga menjadi daya tarik tersendiri. Konsumen dapat memilih tingkat kepedasan sesuai selera mereka, sehingga pengalaman makan menjadi lebih personal. Bolosego juga menggunakan pesan “garansi nikmat” sebagai bagian dari komunikasi produk. Pesan tersebut membantu memperkuat persepsi bahwa kualitas rasa menjadi prioritas utama dalam bisnis yang dijalankan. Identitas

SELENGKAPNYA
Marketing FreshCare Smash: Minyak Angin Kekinian untuk Gen Z

Marketing FreshCare Smash: Minyak Angin Kekinian untuk Gen Z

FreshCare menghadirkan varian Smash Matcha dan Sakura sebagai produk minyak angin aromaterapi yang dirancang untuk menyesuaikan preferensi generasi muda. Dengan kombinasi manfaat relaksasi dan desain produk yang modern, kedua varian ini menawarkan pengalaman penggunaan yang berbeda dari minyak angin pada umumnya. Kehadiran FreshCare Smash Matcha dan Sakura juga menunjukkan bagaimana sebuah merek dapat memahami perubahan gaya hidup konsumen, khususnya Gen Z yang aktif beraktivitas, bekerja secara fleksibel, dan memiliki perhatian terhadap kenyamanan serta estetika produk yang digunakan sehari-hari. Nah, dalam artikel ini, kita akan membahas strategi pemasaran FreshCare Smash Matcha dan Sakura serta faktor-faktor yang membuat kedua varian ini relevan bagi pasar anak muda di Indonesia. Kenapa Gen Z Butuh Solusi Seperti FreshCare Smash? Generasi Z adalah generasi yang paling terkoneksi secara digital, tapi paradoksnya, justru jadi generasi yang paling sering ngeluh soal kesehatan fisik di usia muda. Data dari survei I-NAMHS tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 5,5% remaja Indonesia usia 10–17 tahun didiagnosis memiliki gangguan mental, dengan gangguan kecemasan mendominasi di angka 26,7%. Stres fisik dan mental ini menciptakan keluhan nyata: leher kaku, sakit kepala, badan pegal, sampai perut kembung, semuanya dialami oleh orang-orang yang usianya masih sangat muda. Fenomena “remaja jompo” lahir dari kombinasi kebiasaan buruk yang saling bertumpuk: duduk berjam-jam tanpa olahraga, begadang scrolling TikTok, makan junk food, ditambah tekanan sosial dari media sosial yang tidak ada habisnya. Menurut dr. Andi Saputra, spesialis kesehatan kerja, “Otot yang tidak pernah digerakkan dan tubuh yang terus-menerus dalam posisi statis menciptakan akumulasi ketegangan yang tidak disadari. Hasilnya baru terasa ketika sudah parah.” Inilah mengapa produk kesehatan yang praktis, cepat digunakan, dan tidak ribet menjadi sangat relevan bagi segmen ini. Selain itu, stres kronis yang dialami Gen Z turut memperparah kondisi fisik mereka. Burnout, yang dulunya identik dengan orang-orang berusia 30–40 tahun, kini sudah menyerang anak usia 20-an bahkan remaja yang masih kuliah. Menurut Rumah Sakit Pusat Pertamina dalam artikelnya soal burnout di usia 20-an, tekanan dari budaya “hustle”, perbandingan sosial di media sosial, dan ketidakpastian ekonomi menjadi bom waktu yang meledak dalam bentuk kelelahan fisik dan mental. Di sinilah aromaterapi berperan. Penelitian yang dimuat dalam jurnal eGigi (Universitas Sam Ratulangi, 2023) tentang efektivitas aromaterapi peppermint (Mentha Piperita L) menunjukkan bahwa inhalasi minyak esensial dapat menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan. Senyawa volatil dari mint terbukti memengaruhi reseptor di otak yang berkaitan dengan regulasi emosi, menciptakan efek relaksasi yang bisa dirasakan dalam hitungan menit. FreshCare Smash 4in1: Satu Produk, Banyak Fungsi Sebelum masuk ke strategi pemasaran, penting untuk memahami apa yang membuat FreshCare Smash berbeda. Ini bukan minyak angin biasa yang harus dituang ke telapak tangan lalu diusap ke badan. FreshCare Smash adalah produk aromaterapi multifungsi 4-in-1 yang menggabungkan empat cara pakai dalam satu kemasan praktis: Roll-on untuk menghangatkan tubuh dan meredakan pegal, bisa diaplikasikan langsung ke dahi, leher, dada, atau bagian tubuh lain yang terasa tidak nyaman. Double inhaler untuk menghirup aroma segar yang membantu meredakan hidung tersumbat, mual, pusing, dan lelah akibat perjalanan. Kerokan menggunakan tutup bulat yang bisa dipakai sebagai alat kerok, efektif untuk meredakan pegal di punggung, bahu, dan leher. Terakhir, pijat titik tekan dengan ujung tumpul yang dirancang untuk memijat area tegang dan meredakan kekakuan otot. Empat fungsi dalam satu genggaman, ukurannya kecil, bisa digantung di lanyard, dan tidak tumpah. Ini persis jenis produk yang dibutuhkan Gen Z: tidak repot, tidak malu dikeluarkan di depan teman, dan benar-benar bekerja. Varian Matcha: Untuk yang Butuh Fokus dan Ketenangan FreshCare Smash Matcha hadir dengan perpaduan aroma unik: mint segar di lapisan pertama, diikuti nuansa creamy matcha yang earthy di tengah, dan diakhiri dengan sensasi cooling yang menenangkan. Kombinasi ini tidak dipilih secara kebetulan. Matcha sudah lama dikenal punya manfaat kesehatan yang didukung riset ilmiah. Kandungan L-theanine dalam teh hijau terbukti membantu meningkatkan energi tanpa memicu rasa gelisah atau lonjakan hormon stres. Ditambah dengan kandungan polifenol dan klorofil yang memiliki efek anti-inflamasi, matcha menjadi bahan yang bukan cuma trending di TikTok, tapi juga punya dasar ilmiah yang kuat. Di TikTok sendiri, tagar #matcha sudah meraih lebih dari 160 juta tayangan, menunjukkan betapa kuatnya asosiasi matcha dengan gaya hidup sehat dan estetik anak muda. Ketika aroma matcha digabungkan dengan mint dalam format aromaterapi inhaler, efeknya bisa sangat membantu untuk situasi seperti: belajar atau kerja yang butuh konsentrasi, perjalanan jauh yang bikin mual, atau sekadar ingin reset pikiran di tengah hari yang padat. Inhalasi aroma mint terbukti meningkatkan kewaspadaan, daya ingat, dan kecepatan pemrosesan informasi, berdasarkan studi yang dipresentasikan pada konferensi tahunan British Psychological Society, di mana peserta yang menghirup aroma peppermint menunjukkan peningkatan memori kerja dibandingkan kelompok kontrol. Varian Sakura: Untuk yang Butuh Energi Positif dan Semangat Sementara Matcha bermain di zona tenang dan fokus, Sakura hadir dengan karakter yang berbeda: ceria, bersih, dan memberi semangat. Aroma bunga sakura dikenal dalam praktik aromaterapi sebagai salah satu wangi yang bisa mengangkat mood secara instan. Bunga sakura memiliki kandungan senyawa aromatik yang memberikan sensasi segar dan menyenangkan, sangat berbeda dari aroma “obat” yang selama ini jadi stigma minyak angin tradisional. Menurut psikolog kesehatan Tiara Maulia, M.Psi., “Gen Z sangat responsif terhadap stimulasi sensorik yang mereka asosiasikan dengan emosi positif. Wangi yang menyenangkan bisa jadi anchor emosional yang cepat mengubah suasana hati, terutama di tengah stres atau kelelahan.” Dalam konteks ini, FreshCare Smash Sakura bukan cuma minyak angin, tapi juga alat pengatur mood yang bisa dibawa ke mana saja. Secara visual, warna pink yang identik dengan sakura memiliki daya tarik estetik yang kuat di platform seperti Instagram dan Pinterest. Desain kemasan yang aesthetic secara langsung mendukung perilaku Gen Z yang gemar berbagi foto dan video kehidupan sehari-hari mereka. Kesimpulan Strategi pemasaran FreshCare Smash Matcha dan Sakura menunjukkan bagaimana sebuah merek dapat menyesuaikan produknya dengan kebutuhan, preferensi, dan gaya hidup target pasar. FreshCare tidak hanya menawarkan fungsi sebagai minyak angin aromaterapi, tetapi juga menghadirkan aroma, desain, dan pengalaman penggunaan yang relevan dengan kebiasaan Gen Z. Melalui varian Matcha, FreshCare memanfaatkan tren gaya hidup sehat, kebutuhan akan fokus, serta popularitas matcha di kalangan anak muda. Sementara itu, varian Sakura hadir dengan pendekatan yang lebih emosional dan visual melalui aroma yang menyenangkan serta kemasan yang estetik.

SELENGKAPNYA

Marketing NutriSari: Dari Tagline Ikonik hingga Kampanye Digital

NutriSari bukan sekadar minuman serbuk biasa. Sejak pertama kali diluncurkan oleh PT Nutrifood Indonesia pada tahun 1979, produk ini berhasil menancapkan namanya sebagai salah satu merek minuman paling dikenal di Indonesia. Keberhasilan ini tidak terjadi begitu saja. Di baliknya ada strategi pemasaran yang terencana dengan baik, mulai dari periklanan masif di televisi, aktivasi langsung ke konsumen, hingga pendekatan digital yang terus disesuaikan dengan perilaku konsumen masa kini. Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana NutriSari membangun dan mempertahankan kesadaran mereknya selama puluhan tahun, elemen-elemen kunci dalam bauran pemasaran mereka, serta pelajaran yang bisa diambil oleh para pelaku bisnis lain dari pendekatan pemasaran brand legendaris ini. Sejarah Singkat NutriSari PT Nutrifood Indonesia didirikan pada Februari 1979 oleh kakak-adik Januar Karta Darmawan dan Hari Budianto Darmawan. Sejak awal berdiri, perusahaan ini sudah menjadikan NutriSari sebagai produk andalannya. Tidak butuh waktu lama bagi merek ini untuk mendapat tempat di hati konsumen Indonesia. Produk NutriSari dibuat dengan proses enkapsulasi pada butiran jeruknya, sehingga aroma dan nutrisinya tetap terjaga. Proses granulasi berteknologi tinggi juga membuat produk ini mudah larut dan tidak memerlukan pengawet. Inovasi sejak awal inilah yang menjadi fondasi kepercayaan konsumen terhadap merek ini. Keberhasilan NutriSari dalam mempertahankan posisinya di tengah persaingan industri minuman serbuk menunjukkan betapa pentingnya penerapan bauran pemasaran yang tepat. Seperti disampaikan oleh Tjiptono & Chandra (2012), inovasi yang terus-menerus dalam pengembangan varian rasa, kemasan, serta strategi pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi konsumen menjadi kunci keberhasilan merek ini. Marketing Omnichannel NutriSari Salah satu kekuatan terbesar NutriSari terletak pada pendekatannya dalam menjangkau konsumen dari berbagai arah sekaligus. Dalam dunia pemasaran, pendekatan ini dikenal sebagai omnichannel, yaitu integrasi semua saluran pemasaran agar pengalaman konsumen terasa mulus dan konsisten. Strategi NutriSari memadukan dua jalur besar: Above the Line (ATL) dan Below the Line (BTL). a. Periklanan Above the Line Mencakup iklan televisi, pemasangan baliho, dan media cetak. Iklan TV NutriSari sudah hadir sejak era 1980-an dan hingga kini masih menjadi salah satu saluran utama untuk membangun kesadaran merek secara massal. Data dari We Are Social dalam laporan Digital 2025 Indonesia Report mengungkapkan bahwa rata-rata waktu menonton televisi di Indonesia mencapai 2 jam 50 menit per hari pada 2024, meningkat dari tahun sebelumnya. Artinya, iklan TV masih sangat relevan dan efektif sebagai alat bangun merek di Indonesia. b. Aktivasi Below the Line Meliputi kegiatan promosi langsung di lapangan, event, sponsorship, dan program loyalitas yang menyentuh konsumen secara personal. Pendekatan ini melengkapi jangkauan media massa dengan interaksi yang lebih dekat dan personal. c. Kampanye digital Menjadi pilar ketiga yang semakin penting dalam beberapa tahun terakhir. NutriSari aktif memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, Twitter, dan YouTube untuk menjangkau audiens yang lebih muda. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal pemasaran digital (2024) menyebutkan bahwa platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini menjadi tempat utama bagi konsumen untuk menemukan produk, membaca ulasan, dan melihat rekomendasi, sehingga konsistensi pesan pemasaran di berbagai saluran media sosial menjadi sangat penting untuk memperkuat kehadiran merek di pasar. Dalam konteks regulasi, semua kegiatan periklanan NutriSari sebagai produk pangan olahan harus mematuhi Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pengawasan Periklanan Pangan Olahan. Regulasi ini mengatur jenis klaim yang boleh digunakan dalam iklan, termasuk larangan penggunaan pernyataan dan visualisasi yang bermakna hiperbola atau berpeluang menyesatkan konsumen. Selain itu, label produk pangan olahan juga wajib mengikuti Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang perubahan ketentuan Label Pangan Olahan, yang memperbarui standar informasi yang harus tercantum pada kemasan produk. Tagline “Jeruk Kok Minum Jeruk” Jika kamu tumbuh besar di era 2000-an, kalimat “Jeruk kok minum jeruk?” pasti langsung terbersit begitu nama NutriSari disebut. Bisa dibilang tagline ini adalah salah satu contoh paling sukses bagaimana sebuah kalimat pendek bisa membangun identitas merek yang sangat kuat dalam benak konsumen. Dalam dunia pemasaran, tagline yang efektif bekerja sebagai alat pemosisian merek. Ketika konsumen mendengar atau membaca tagline tersebut, mereka langsung mengasosiasikannya dengan produk tertentu. Menurut Prof. Philip Kotler, seorang pakar pemasaran global yang dikenal sebagai “Bapak Pemasaran Modern”, membangun identitas merek yang kuat membutuhkan konsistensi pesan yang disampaikan kepada konsumen selama bertahun-tahun. Tagline yang baik adalah yang mampu merangkum nilai utama merek dalam bentuk yang mudah diingat dan relevan secara emosional dengan konsumennya. Dalam kasus NutriSari, tagline “Jeruk kok minum jeruk” melakukan dua hal sekaligus: menciptakan rasa ingin tahu (mengapa jeruk meminum jeruk?) dan memperkenalkan proposisi nilai produk (minuman sari jeruk yang terasa seperti buah aslinya). Keunikan iklan ini juga diperkuat oleh karakter animasi “Si Jeruk” yang tengil dan bintang iklan yang sedang popular pada masanya, menjadikan iklan NutriSari sebagai sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh merek lain. Dari perspektif ilmu komunikasi pemasaran, sebuah penelitian yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) mencatat bahwa pesan iklan yang mengandung unsur humor, karakter yang menarik, dan elemen kejutan cenderung lebih mudah diingat dan menimbulkan asosiasi positif terhadap merek. Pendekatan inilah yang konsisten diterapkan NutriSari dalam iklan-iklannya sepanjang waktu. Strategi Sampling Produk NutriSari Di samping iklan yang masif, NutriSari juga secara konsisten menjalankan program sampling produk, yaitu pembagian produk secara gratis kepada calon konsumen di berbagai lokasi strategis seperti sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, dan titik keramaian lainnya. Strategi ini didasarkan pada prinsip sederhana: cara terbaik meyakinkan seseorang bahwa produk kamu enak adalah dengan membiarkan mereka merasakannya sendiri. Dalam psikologi konsumen, pengalaman langsung jauh lebih persuasif dibanding sekadar mendengar atau melihat iklan. Kegiatan sampling juga sangat efektif untuk mempercepat trial di kalangan konsumen baru, terutama mereka yang selama ini belum pernah mencoba atau ragu untuk membeli. Setelah mencoba, hambatan psikologis untuk membeli produk tersebut menjadi jauh lebih rendah. Menurut Martin Lindstrom, pakar branding asal Denmark yang juga penulis buku Buyology, melibatkan indera konsumen secara langsung dalam pengalaman produk adalah strategi branding yang paling kuat. Ketika seseorang pernah merasakan produk secara nyata, memori sensorik tersebut akan tersimpan lebih lama dan mendorong keputusan pembelian di masa depan dibandingkan paparan iklan semata. Dalam konteks pasar Indonesia yang sangat beragam, sampling produk di sekolah dan kampus juga berperan strategis dalam memperkenalkan NutriSari kepada generasi baru konsumen sejak dini, membangun loyalitas merek yang bermula dari kebiasaan konsumsi sejak muda.

SELENGKAPNYA