Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Honda Rugi Rp47 Triliun dari EV, Alihkan Strategi ke Mobil Hybrid

Honda Rugi Rp47 Triliun dari EV, Alihkan Strategi ke Mobil Hybrid

Honda Motor Co. mencatat kerugian bersih sekitar 423,94 miliar yen atau Rp 47,1 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Ini menjadi kerugian tahunan pertama sejak perusahaan melantai di bursa pada 1957, dan langsung memicu sorotan besar karena terjadi di saat industri otomotif sedang berlomba masuk ke era kendaraan listrik. Meski terlihat dramatis, angka kerugian ini tidak muncul karena penjualan Honda turun. Justru sebaliknya, pendapatan perusahaan masih naik tipis. Masalah utamanya datang dari “biaya penyesuaian besar-besaran” pada strategi mobil listrik atau EV yang selama beberapa tahun terakhir menjadi fokus utama transformasi Honda. Dalam proses koreksi strategi tersebut, Honda harus menanggung beban restrukturisasi yang sangat besar, termasuk penyesuaian pabrik, rantai pasok, hingga pengembangan model yang dihentikan di tengah jalan. Jika dilihat lebih dalam, situasi ini sebenarnya bukan sekadar soal rugi atau untung, tetapi tentang bagaimana sebuah perusahaan besar mencoba beradaptasi terlalu cepat terhadap tren teknologi yang belum sepenuhnya matang secara pasar. EV memang masa depan, tetapi kenyataannya adopsi di berbagai negara masih sangat tidak merata. Infrastruktur pengisian daya belum siap di banyak wilayah, harga baterai masih tinggi, dan perilaku konsumen belum sepenuhnya berpindah dari mesin bensin. Di titik inilah keputusan Honda menjadi menarik. Perusahaan tidak hanya “melanjutkan EV”, tetapi melakukan koreksi arah yang cukup tegas dengan menahan beberapa proyek besar, termasuk pengembangan model EV di Amerika Utara serta penundaan pembangunan fasilitas baterai. Langkah ini sering terlihat seperti kemunduran, padahal dalam dunia bisnis justru bisa dibaca sebagai bentuk disiplin finansial agar perusahaan tidak terjebak dalam investasi jangka panjang yang terlalu membakar kas. CEO Toshihiro Mibe sendiri menegaskan bahwa perusahaan perlu menghentikan tekanan finansial ini secepat mungkin. Dari sini terlihat bahwa Honda sedang masuk ke fase “keseimbangan ulang”, bukan meninggalkan inovasi, tetapi mengatur ulang ritme agar bisnis tetap sehat sambil tetap mengikuti arah elektrifikasi. Yang menarik, arah baru Honda kini justru kembali menguatkan mobil hybrid sebagai jembatan utama. Perusahaan menargetkan puluhan model hybrid baru hingga 2030. Secara bisnis, ini bukan langkah mundur, tetapi strategi penyeimbang: hybrid dipakai sebagai solusi realistis di tengah transisi besar menuju EV. Teknologi ini memungkinkan konsumen tetap merasakan efisiensi bahan bakar tanpa harus bergantung penuh pada infrastruktur listrik yang belum merata. Kalau dilihat dari perspektif pengguna Honda, perubahan ini sebenarnya cukup relevan dengan kondisi di lapangan. Banyak pengguna mobil di Indonesia, misalnya, masih mempertimbangkan faktor seperti ketersediaan bengkel, biaya perawatan, dan kemudahan isi bahan bakar. Di situ hybrid menjadi “zona aman” sebelum benar-benar masuk ke era EV penuh. Artinya, produk Honda ke depan kemungkinan lebih terasa praktis dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar teknologi yang terlihat canggih di atas kertas. Namun dari sudut pandang yang lebih luas, kasus ini juga memberi pelajaran penting bagi pelaku usaha di luar industri otomotif. Apa yang terjadi pada Honda memperlihatkan bahwa mengikuti tren besar tanpa kesiapan ekosistem bisa berisiko sangat mahal. Banyak bisnis sering terburu-buru mengejar “masa depan” tanpa memastikan apakah pasar sudah siap menyerap perubahan tersebut. Akibatnya, biaya koreksi di kemudian hari justru lebih besar dibanding keuntungan awal yang diharapkan. Di sisi lain, keputusan Honda untuk beralih fokus juga menunjukkan bahwa fleksibilitas strategi jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan ekspansi. Dalam dunia bisnis modern, kemampuan membaca ulang situasi dan berani mengubah arah sering kali menjadi faktor yang membedakan perusahaan yang bertahan dan yang tertinggal.

SELENGKAPNYA
5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

5 Strategi Marketing Kanzler yang Bikin Gen Z FOMO

Pernah nggak tiba-tiba kamu nge-scroll TikTok atau Instagram, trus tiba-tiba kepikiran beli nugget atau sosis padahal tadinya nggak ada niatan sama sekali? Kalau pernah, kamu mungkin nggak sadar lagi kena “jebakan” marketing yang sudah dirancang cukup rapi oleh Kanzler. Sebagai orang yang masuk kategori Gen Z, jujur saja ada momen di mana kamu sadar bahwa keputusan beli yang kamu pikir murni dari diri sendiri ternyata sangat dipengaruhi oleh cara sebuah brand menyusun kampanyenya. Dan Kanzler, brand frozen food yang produknya mungkin sudah ada di freezer rumahmu sejak lama, adalah salah satu contoh yang menarik untuk dibahas. Artikel ini bukan sekadar daftar strategi marketing dari sudut pandang tim kreatif atau brand manager. Ini lebih ke pembahasan tentang kenapa kamu sebagai Gen Z bisa mudah terpengaruh, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap langkah pemasaran yang Kanzler ambil. Karena memahami cara kerja strategi ini justru bisa membuat kamu lebih kritis sebagai konsumen. Kenali Siapa Gen Z Sebagai Konsumen Gen Z adalah generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga 2012. Generasi ini tumbuh besar bersamaan dengan munculnya media sosial, ponsel pintar, dan konten digital yang mengalir tanpa henti. Karena itulah, Gen Z punya hubungan yang berbeda dengan iklan dibandingkan generasi sebelumnya. Gen Z cenderung skeptis terhadap iklan yang terasa terlalu “jual-jualan”. Mereka lebih merespons konten yang terasa organik, relevan, dan datang dari sosok yang mereka percaya. Penelitian yang diterbitkan dalam Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (2025) menemukan bahwa influencer marketing secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian pada produk Kanzler di platform TikTok, dan yang menarik, viral marketing memberikan dampak yang bahkan lebih besar dari sekadar kehadiran influencer itu sendiri. Artinya, bukan cuma siapa yang bicara tentang produknya, tapi seberapa jauh pembicaraan itu menyebar yang benar-benar menggerakkan perilaku beli Gen Z. Dengan memahami ini, sekarang mari kita bedah satu per satu strategi marketing Kanzler dan coba lihat dari sudut pandangmu sebagai konsumen yang ada di tengah-tengah kampanye tersebut. 1. Kanzler Tahu Kapan Kamu Paling Mudah Tergoda Salah satu hal yang paling sering tidak disadari konsumen adalah bahwa timing sebuah iklan bukan kebetulan. Kanzler adalah salah satu brand yang sangat sadar soal ini. Contoh paling nyata adalah ketika mereka aktif mempromosikan produk seperti Kanzler Crispy Chicken Nugget tepat pada bulan Ramadan. Coba ingat-ingat: di bulan Ramadan, hampir semua orang sedang dalam mode mencari inspirasi menu berbuka. Kamu mungkin sedang lapar seharian, scroll konten masak-memasak sambil nunggu adzan, dan tiba-tiba muncul konten yang memperlihatkan nugget renyah yang bisa matang dalam hitungan menit. Hasilnya? Kamu langsung kepikiran untuk membelinya. Inilah yang disebut moment marketing, yaitu strategi yang memanfaatkan momen atau situasi tertentu di mana konsumen sedang berada pada kondisi paling “siap” untuk menerima pesan sebuah produk. Kanzler tidak asal pasang iklan; mereka muncul tepat ketika kebutuhanmu sedang paling tinggi dan pikiranmu sedang paling terbuka. Dari sudut pandang konsumen, ini cukup efektif karena kamu tidak merasa sedang “dijuali”. Kamu malah merasa terbantu karena produknya relevan dengan situasimu saat itu. 2. Nicholas Saputra Bukan Sekadar Wajah di Poster Kalau kamu ditanya siapa brand ambassador Kanzler, jawabannya sudah pasti Nicholas Saputra. Tapi coba pikir lebih dalam: kenapa harus dia? Nicholas Saputra adalah aktor yang citra publiknya sangat konsisten selama bertahun-tahun, yaitu tenang, autentik, tidak lebay, dan tidak terkesan “artis banget”. Bagi Gen Z yang sudah capek dengan konten yang terlalu dipaksakan atau terasa palsu, sosok seperti Nicholas Saputra justru terasa lebih bisa dipercaya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Anggaran: Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi (2024) menganalisis iklan nugget Kanzler versi Nicholas Saputra di Instagram dan menyimpulkan bahwa kombinasi daya tarik visual yang kuat, penyampaian pesan yang efektif, dan kehadiran aktor tersebut berhasil membangun hubungan yang terasa dekat antara brand dan konsumen. Artinya, bukan semata-mata karena Nicholas Saputra terkenal, melainkan karena citra yang dia bawa selaras dengan apa yang ingin dikomunikasikan Kanzler: produk yang berkualitas, tidak berlebihan, dan cocok untuk kehidupan sehari-hari. Dari posisi konsumen, ini bekerja dengan cara yang cukup halus. Kamu tidak merasa sedang dirayu oleh selebriti yang terlalu “bintang”. Kamu justru merasa seperti mendapat rekomendasi dari seseorang yang cukup kamu percaya. Dan kepercayaan itu yang akhirnya mendorong keputusan beli, bahkan tanpa kamu sadari secara penuh. 3. Influencer untuk Kenzler Gak Cuma Satu Coba perhatikan seberapa sering kamu melihat konten tentang Kanzler dari berbagai akun yang berbeda dalam waktu yang berdekatan. Hari ini dari food blogger, besoknya dari content creator parenting, lusanya dari akun lifestyle. Kamu mulai berpikir, “Ini produk kenapa ramai banget sih dibicarain?” Itulah efek yang ingin diciptakan oleh strategi kolaborasi dengan banyak influencer secara bersamaan. Kanzler tidak hanya mengandalkan satu wajah seperti Nicholas Saputra, tetapi juga menjalin kerja sama dengan berbagai influencer dari segmen yang berbeda-beda. Hasilnya, produk mereka muncul di berbagai “dunia” sekaligus, mulai dari dunia kuliner, dunia parenting, sampai dunia gaya hidup anak muda. Dari sudut pandang psikologi konsumen, ketika kamu melihat banyak orang yang berbeda-beda membicarakan hal yang sama, otak kamu mulai membangun kesan bahwa produk itu memang sedang relevan dan banyak dibutuhkan. Inilah yang memicu FOMO: rasa takut ketinggalan sesuatu yang terasa sedang “happening”. Kamu bukan lagi memilih produk berdasarkan kebutuhan murni, melainkan karena tidak ingin jadi satu-satunya orang yang belum mencobanya. Phillip Kotler dan Gary Armstrong dalam Principles of Marketing (2017) menjelaskan bahwa keputusan pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan referensi kelompok. Ketika banyak orang di sekitar kamu, atau yang kamu ikuti di media sosial, membicarakan satu produk, tekanan sosial itu secara tidak langsung mendorong kamu menuju keputusan yang sama. 4. Iklan Kanzler Ada di Mana-mana Pernahkah kamu perhatikan bahwa Kanzler tidak hanya beriklan di satu tempat? Selain hadir di televisi, mereka juga muncul di billboard pinggir jalan, videotron di pusat perbelanjaan, hingga di bodi kendaraan umum seperti TransJakarta dan MRT. Dari sudut pandang konsumen biasa, ini mungkin terasa biasa saja. Tapi dari sudut pandang psikologi pemasaran, ini adalah strategi yang disebut multi-channel presence atau kehadiran lintas saluran. Tujuannya bukan agar satu iklan mengubah pikiranmu seketika, melainkan agar brand itu tertanam secara perlahan di ingatanmu melalui paparan berulang di berbagai konteks yang berbeda. Ketika kamu naik TransJakarta sambil bosan di perjalanan dan melihat

SELENGKAPNYA
10 Cara Marketing Usaha Makanan Ringan Agar Cepat Laku

10 Cara Marketing Usaha Makanan Ringan Agar Cepat Laku

Kamu punya produk makanan ringan yang rasanya sudah enak, tampilannya menarik, tapi penjualannya masih jalan di tempat? Kalau iya, kemungkinan besar bukan produknya yang bermasalah, melainkan strategi pemasarannya yang belum tepat sasaran. Bisnis makanan ringan di Indonesia saat ini terus tumbuh. Berdasarkan data Statista Market Insight, pendapatan pasar makanan ringan di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai USD 4,18 miliar, dengan volume konsumsi sekitar 3,3 kg per orang. Lebih menarik lagi, pasar ini diprediksi akan terus tumbuh rata-rata 8,13% per tahun hingga 2029. Artinya, peluangnya nyata dan besar. Tapi di balik peluang itu, persaingannya juga tidak main-main. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 1,51 juta unit usaha mikro-kecil di sektor makanan dan minuman di Indonesia. Kamu bersaing dengan jutaan pelaku usaha lain. Maka, strategi pemasaran bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Artikel ini membahas strategi pemasaran usaha makanan ringan yang bisa langsung kamu terapkan, dengan pendekatan yang realistis untuk skala UMKM. Kenapa Marketing Makanan Ringan Berbeda dari Bisnis Lain? Sebelum masuk ke strateginya, penting untuk memahami dulu kenapa bisnis makanan ringan punya tantangan pemasaran yang unik. Makanan ringan bukan kebutuhan primer. Orang membeli camilan bukan karena lapar berat, melainkan karena ingin menikmati sesuatu, mengisi waktu, atau sekadar memuaskan selera tertentu. Ini berarti keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh faktor emosional, visual, dan tren, bukan sekadar kebutuhan fungsional. Selain itu, segmen konsumen makanan ringan di Indonesia sangat spesifik. Data menunjukkan bahwa konsumen camilan di Indonesia didominasi oleh milenial dan Gen Z, dengan proporsi mencapai 55%. Rinciannya, 33% berusia 25-34 tahun dan 22% berusia 18-24 tahun. Ini adalah generasi yang sangat aktif di media sosial, terbiasa belanja online, dan cepat tertarik pada produk yang tampil menarik secara visual. Philip Kotler, yang dikenal luas sebagai Bapak Pemasaran Modern, menegaskan bahwa strategi pemasaran yang efektif harus mampu menciptakan, mengomunikasikan, dan menyampaikan nilai kepada konsumen yang tepat. Dalam konteks makanan ringan, “nilai” itu bisa berupa rasa yang unik, kemasan yang Instagramable, harga yang terjangkau, atau kombinasi dari ketiganya. 1. Tentukan Segmen Pasar Sejak Awal Langkah pertama dan paling mendasar dalam strategi pemasaran usaha makanan ringan adalah menentukan segmen pasar. Banyak pelaku UMKM melewati tahap ini karena merasa produknya “untuk semua orang”. Padahal, menjual ke semua orang sama artinya dengan tidak menjual ke siapa pun. Kotler dan Armstrong mendefinisikan segmentasi pasar sebagai upaya membagi pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli dengan keinginan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda. Dengan segmentasi yang tepat, kamu bisa merancang pesan pemasaran yang lebih relevan, memilih saluran distribusi yang lebih efisien, dan menghemat anggaran promosi karena tidak “buang peluru” ke audiens yang salah. Untuk bisnis makanan ringan, segmentasi bisa dilakukan dari beberapa sudut. Dari sisi demografis, kamu perlu tahu apakah produkmu cocok untuk anak-anak, remaja, atau orang dewasa. Dari sisi psikografis, apakah targetmu adalah orang yang peduli kesehatan, penggemar rasa pedas, atau pencari camilan nostalgia. Dari sisi perilaku, apakah mereka suka beli dalam jumlah besar atau eceran, online atau offline. Setelah segmen jelas, semua keputusan pemasaran berikutnya akan jauh lebih mudah dan terarah. 2. Bangun Keunikan Produk dan Jadikan Itu Senjata Utama Di pasar yang penuh sesak seperti bisnis camilan, produk yang “biasa-biasa saja” akan tenggelam tanpa jejak. Kamu perlu menemukan satu hal yang membuat produkmu berbeda dari ratusan produk serupa di rak toko atau halaman marketplace. Keunikan itu bisa datang dari berbagai arah. Bisa dari sisi rasa, misalnya menghadirkan cita rasa lokal yang jarang ditemukan di pasaran. Bisa dari sisi bahan baku, misalnya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet di tengah tren makanan sehat yang sedang tumbuh. Atau bisa dari sisi kemasan, misalnya desain yang estetik dan layak difoto untuk diunggah ke media sosial. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Kohesi (2024) tentang analisis strategi pemasaran UMKM makanan ringan dengan pendekatan SWOT menemukan bahwa kekuatan utama UMKM pada umumnya terletak pada kualitas produk dan loyalitas pelanggan. Namun, kelemahan terbesarnya ada pada keterbatasan promosi digital dan distribusi. Artinya, banyak produk UMKM yang sebenarnya bagus tapi tidak dikenal luas hanya karena tidak dikomunikasikan dengan baik. Setelah kamu menemukan keunikan produkmu, tonjolkan itu di semua titik komunikasi, mulai dari nama produk, deskripsi di marketplace, caption di media sosial, hingga desain kemasan. Konsistensi dalam menyampaikan keunikan inilah yang membangun persepsi merek di benak konsumen. 3. Manfaatkan Social Media Marketing Secara Serius Kalau kamu masih menganggap media sosial hanya sebagai tempat upload foto produk sesekali, kamu melewatkan satu saluran pemasaran yang paling kuat untuk bisnis makanan ringan saat ini. Penjualan produk makanan melalui kanal online di Indonesia menunjukkan pertumbuhan rata-rata 25% per tahun dari 2021 hingga 2025. Meski kontribusinya terhadap total penjualan masih di bawah 2%, laju pertumbuhannya konsisten dan terus naik. Ini tanda bahwa konsumen Indonesia semakin nyaman membeli makanan ringan secara online, termasuk melalui media sosial. Platform yang paling relevan untuk bisnis makanan ringan adalah Instagram dan TikTok karena keduanya sangat visual. Instagram cocok untuk menampilkan foto produk berkualitas tinggi, testimoni pelanggan, dan konten edukasi seputar produk. TikTok lebih cocok untuk konten video pendek yang menghibur, seperti behind-the-scenes proses pembuatan, unboxing, atau review jujur dari konsumen. Yang paling penting bukan seberapa sering kamu posting, melainkan seberapa relevan konten yang kamu buat untuk audiens yang kamu sasar. Buat jadwal konten yang konsisten, gunakan hashtag yang tepat, dan selalu ajak audiens untuk berinteraksi lewat kolom komentar atau fitur story. 4. Gunakan Jasa Influencer dengan Strategi yang Tepat Bekerja sama dengan influencer bisa menjadi cara yang cepat untuk memperkenalkan produk ke audiens yang lebih luas. Tapi kamu perlu cermat dalam memilih influencer agar investasinya tidak sia-sia. Banyak pelaku UMKM makanan ringan yang tergoda memilih influencer dengan jutaan pengikut karena angkanya terlihat mengesankan. Padahal, micro influencer dengan 10.000-100.000 pengikut sering kali memiliki tingkat keterlibatan (engagement rate) yang jauh lebih tinggi karena hubungannya dengan audiens lebih personal dan terpercaya. Pilih influencer yang audiensnya sesuai dengan segmen pasar produkmu. Kalau produkmu menyasar ibu-ibu muda yang peduli gizi anak, cari influencer parenting atau food blogger yang kontennya relevan dengan tema itu. Kalau produkmu menyasar anak muda urban yang suka camilan kekinian, cari food vlogger atau content creator kuliner yang aktif di TikTok atau Reels. Selain kesesuaian audiens, pastikan juga bahwa gaya konten influencer tersebut

SELENGKAPNYA
Apple: Sejarah, Pertumbuhan, dan Strategi Pemasarannya

Apple: Sejarah, Pertumbuhan, dan Strategi Pemasarannya

Nama Apple sudah tidak asing lagi di telinga siapapun. Dari smartphone hingga laptop, produk-produk berlambang apel tergigit ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang di seluruh dunia. Tapi tahukah kamu bagaimana perusahaan ini memulai perjalanannya, bagaimana cara mereka berkembang, dan apa yang membuat strategi pemasarannya begitu berhasil? Artikel ini membahas tiga hal tersebut secara lengkap supaya kamu bisa mengambil pelajaran yang relevan untuk bisnismu sendiri. Sejarah Apple Jadi Perusahaan Teknologi Apple didirikan pada 1 April 1976 oleh tiga orang, yaitu Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne. Ketiganya memulai dari sebuah garasi di Los Altos, California. Modal awal mereka sangat terbatas, namun semangat untuk menciptakan komputer yang bisa digunakan oleh orang biasa, bukan hanya para insinyur, menjadi pendorong utama mereka. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Apple I, sebuah komputer rakitan yang dijual dalam bentuk papan sirkuit tanpa casing. Meskipun tampilannya sangat sederhana, Apple I berhasil menarik perhatian para penggemar teknologi pada masanya. Era 1980-an, Apple mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi perusahaan besar. Peluncuran Macintosh pada tahun 1984 menjadi tonggak penting karena ini adalah salah satu komputer pertama yang menggunakan antarmuka grafis dan tetikus, jauh sebelum hal tersebut menjadi standar industri. Namun perjalanan Apple tidak selalu mulus. Steve Jobs sempat hengkang dari Apple pada tahun 1985 setelah konflik internal dengan dewan direksi. Tanpa Jobs, Apple mengalami masa-masa sulit selama lebih dari satu dekade. Penjualan menurun dan perusahaan hampir bangkrut. Jobs kembali ke Apple pada tahun 1997 dan membawa perubahan besar. Ia memangkas lini produk yang tidak perlu, menyederhanakan fokus perusahaan, dan memulai babak baru dengan meluncurkan iMac yang ikonik pada tahun 1998. Dari sini, Apple perlahan bangkit dan kembali relevan di pasar teknologi. Puncaknya terjadi pada tahun 2007 ketika Steve Jobs memperkenalkan iPhone, sebuah perangkat yang menggabungkan telepon, pemutar musik, dan browser internet dalam satu genggaman. Peluncuran ini bukan hanya mengubah industri ponsel, tetapi juga cara manusia berinteraksi dengan teknologi secara keseluruhan. Setelah Steve Jobs wafat pada Oktober 2011, Tim Cook mengambil alih posisi CEO. Banyak yang meragukan apakah Apple bisa tetap berinovasi tanpa sosok Jobs. Kenyataannya, di bawah kepemimpinan Tim Cook, Apple justru tumbuh menjadi perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia. Tim Cook membawa pendekatan yang lebih terstruktur. Ia memperkuat rantai pasokan global, memperluas layanan digital seperti Apple Music, Apple TV+, dan Apple Pay, serta menjaga konsistensi kualitas produk di seluruh lini. Pada tahun 2018, Apple menjadi perusahaan pertama yang mencapai valuasi satu triliun dolar Amerika Serikat. Ekspansi Apple Apple tidak pernah berhenti hanya menjadi perusahaan komputer. Sejak awal 2000-an, Apple mulai memperluas lini produknya secara agresif. iPod yang diluncurkan pada tahun 2001 mengubah cara orang mendengarkan musik. iTunes menjadi platform distribusi musik digital pertama yang benar-benar berhasil secara komersial. Kemudian datanglah iPhone pada 2007, disusul iPad pada 2010 yang menciptakan kategori produk baru bernama tablet. Apple Watch hadir pada 2015 dan membuka pasar wearable technology. AirPods yang diluncurkan pada 2016 kini menjadi salah satu produk audio terlaris di dunia. Yang membuat semua produk ini kuat adalah konsep ekosistem. Setiap perangkat Apple dirancang untuk bekerja secara mulus bersama perangkat Apple lainnya. Semakin banyak produk Apple yang kamu miliki, semakin nyaman pengalaman yang kamu rasakan. Strategi ekosistem ini membuat pelanggan cenderung bertahan dan enggan beralih ke merek lain. Kalau berbicara soal ekspansi global, dari Amerika Serikat, Apple secara bertahap memperluas jangkauannya ke seluruh penjuru dunia. Eropa, Asia, dan pasar berkembang menjadi target ekspansi yang digarap dengan serius. Apple Store pertama di luar Amerika dibuka di Tokyo, Jepang, pada tahun 2003, dan sejak saat itu ribuan gerai resmi telah tersebar di puluhan negara. Di Asia, khususnya Tiongkok dan India, Apple melakukan pendekatan yang lebih lokal. Mereka menyesuaikan beberapa fitur produk dan layanan agar relevan dengan kebutuhan pengguna di pasar tersebut. India kini bahkan menjadi salah satu pusat produksi iPhone terbesar di dunia seiring dengan strategi Apple untuk mendiversifikasi rantai pasokannya. Menurut Theodore Levitt, ekonom dari Harvard Business School, perusahaan global yang sukses bukan yang sekadar menjual produk yang sama ke seluruh dunia, melainkan yang mampu menyesuaikan pendekatannya dengan konteks lokal tanpa kehilangan identitas mereknya. Apple adalah contoh yang cukup tepat untuk menggambarkan konsep ini. (Theodore Levitt, “The Globalization of Markets”, Harvard Business Review, 1983). Strategi Pemasaran Apple Setelah memahami sejarah dan pertumbuhannya, bagian ini membahas apa yang sesungguhnya membuat Apple berhasil dari sisi pemasaran. 1. Fokus pada Nilai Keunikan, Bukan Persaingan Harga Apple tidak pernah masuk ke dalam perang harga dengan kompetitornya. Alih-alih menurunkan harga, Apple terus memperkuat nilai keunikan produknya, mulai dari desain yang rapi, antarmuka yang intuitif, hingga ekosistem yang saling terhubung. Pelanggan tidak membeli Apple karena murah, tetapi karena merasa produk tersebut memberikan nilai yang sebanding dengan harganya. 2. Inovasi yang Tidak Pernah Berhenti Dari desain notch pada iPhone hingga peluncuran Liquid Glass di tahun 2025 sebagai bahasa desain baru yang membuat antarmuka terasa lebih transparan dan dinamis, Apple selalu menghadirkan sesuatu yang terasa segar bagi penggunanya. Inovasi tidak harus selalu revolusioner. Perbaikan yang konsisten dan terasa bermakna bagi pengguna sudah cukup untuk membuat pelanggan tetap tertarik. 3. Branding yang Kuat dan Konsisten Slogan “Think Different” hanya dua kata, tetapi mampu merangkum seluruh identitas Apple dengan sangat tepat. Apple membuktikan bahwa pesan yang sederhana, jika disampaikan secara konsisten di semua saluran komunikasi, bisa jauh lebih kuat dari kampanye yang rumit sekalipun. Menurut Philip Kotler, pakar pemasaran dari Northwestern University, sebuah merek yang kuat bukan hanya tentang nama atau logo, melainkan tentang kepercayaan yang dibangun secara konsisten melalui setiap titik kontak dengan pelanggan. (Philip Kotler & Kevin Lane Keller, Marketing Management, Pearson, edisi ke-15, 2016). 4. Aktif Mendengar Masukan Pelanggan Apple secara aktif mengumpulkan umpan balik dari pengguna melalui ulasan, media sosial, dan kegiatan langsung seperti seminar serta gathering. Hasilnya, setiap generasi produk Apple terasa seperti jawaban atas permintaan penggunanya, bukan sekadar pembaruan teknis semata. 5. Membangun Pengalaman, Bukan Sekadar Produk Pengalaman pelanggan Apple dimulai dari iklan, berlanjut ke proses pembelian di Apple Store, hingga momen membuka kotak produk yang terasa seperti ritual tersendiri. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology (Lemon & Verhoef, 2016) menyimpulkan bahwa pengalaman pelanggan yang positif di setiap tahap perjalanan

SELENGKAPNYA
Strategi Finally Found You! Maksimalkan E-Commerce untuk Dongkrak Penjualan

Strategi Finally Found You! Maksimalkan E-Commerce untuk Penjualan

Brand kecantikan lokal Finally Found You! menjadi salah satu contoh bagaimana e-commerce bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Dengan pendekatan yang terarah, brand ini mampu meningkatkan visibilitas sekaligus penjualan produknya di tengah persaingan yang ketat. Melalui pernyataan Putu Maharaja Segara Putra (CEO & Co-Founder dari jenama Finally Found You), terdapat beberapa strategi utama yang digunakan untuk memperkuat posisi brand di platform digital. Fokus Utama: Produk Harus Siap dan Relevan Strategi pertama yang menjadi fondasi adalah memastikan produk sudah sesuai dengan kebutuhan pasar. Produk tidak langsung diluncurkan tanpa melalui proses validasi. Kualitas dan kecocokan produk dengan kebutuhan konsumen menjadi prioritas utama. Tanpa hal ini, upaya pemasaran di e-commerce akan sulit menghasilkan penjualan yang konsisten. Strategi Marketing Finally Found You! Brand kecantikan lokal Finally Found You! memanfaatkan e-commerce sebagai kanal utama untuk membangun penjualan sekaligus memperkuat positioning di pasar. Pendekatan yang digunakan tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga pada bagaimana produk dikenalkan, dipahami, dan akhirnya dipilih oleh konsumen. Melalui arahan Putu Maharaja Segara Putra, strategi marketing yang dijalankan disusun secara bertahap. Setiap langkah saling melengkapi, mulai dari tahap awal mengenalkan produk hingga mendorong keputusan pembelian di platform e-commerce. a. Bangun Awareness Lewat Media Sosial Setelah produk siap, langkah berikutnya adalah membangun awareness. Finally Found You! memanfaatkan media sosial sebagai kanal utama untuk memperkenalkan produk. Tidak hanya melalui akun brand, komunikasi juga dilakukan melalui akun pribadi untuk menjangkau audiens secara lebih luas. Pendekatan ini membantu menciptakan kedekatan dan meningkatkan ketertarikan terhadap produk. b. Manfaatkan Social Proof untuk Tingkatkan Kepercayaan Dalam ekosistem e-commerce, kepercayaan menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Finally Found You! menggunakan social proof sebagai strategi untuk menjawab hal ini. Ulasan dari pengguna, pengalaman pemakaian, serta testimoni menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan calon pembeli sebelum melakukan transaksi. c. Kolaborasi dengan KOL dan Affiliator Strategi berikutnya adalah bekerja sama dengan Key Opinion Leader dan affiliator. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauan sekaligus mengkomunikasikan keunggulan produk. Para KOL dan affiliator membantu menjelaskan nilai produk secara lebih mudah dipahami oleh audiens, terutama terkait manfaat dan keunikan produk. d. Siapkan Momentum Peluncuran Produk Finally Found You! juga menaruh perhatian pada momen peluncuran produk. Saat produk dirilis, berbagai konten pendukung sudah dipersiapkan, termasuk review dari KOL. Dengan cara ini, produk tidak hanya muncul di e-commerce, tetapi langsung memiliki eksposur dan dukungan konten yang cukup untuk menarik perhatian pasar. Mendapat Pengakuan di Industri E-Commerce Strategi yang dijalankan oleh Finally Found You! mendapatkan apresiasi melalui ajang CNBC Indonesia EPIC Awards 2026 yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia. Brand ini berhasil meraih penghargaan dalam kategori produk yang sedang berkembang di e-commerce. Penghargaan tersebut diberikan kepada brand yang mampu mencatat pertumbuhan penjualan serta menjalankan strategi digital dengan baik. Kesimpulan Keberhasilan Finally Found You! dalam memanfaatkan e-commerce tidak terjadi secara instan. Ada strategi yang dijalankan secara konsisten, mulai dari kesiapan produk, pemanfaatan media sosial, penggunaan social proof, hingga kolaborasi dengan KOL. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan di e-commerce membutuhkan perencanaan yang matang dan eksekusi yang terarah. Strategi tersebut dapat menjadi referensi bagi brand lain yang ingin berkembang di pasar digital.

SELENGKAPNYA
Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Sejak awal 2026, satu nama kuliner terus ramai diperbincangkan di media sosial lintas negara, yaitu Chikuro. Brand kuliner asli Indonesia ini viral di berbagai platform media sosial.  Orang-orang dari Negeri Jiran membagikan konten “berburu” dan menikmati Chikuro, bahkan rela datang jauh-jauh ke Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia untuk menikmati camilan tersebut. Tidak sekadar tren sesaat, fenomena ini terus berkembang dan melahirkan berbagai dampak, mulai dari antrean panjang di gerai hingga munculnya produk tiruan di Malaysia. Apa Itu Chikuro? Chikuro adalah jajanan kekinian asal Indonesia bergaya Jepang. Mereka dikenal sebagai pelopor ayam renyah isi panjang pertama di dunia. Camilan ini berupa olahan daging ayam cincang yang dibentuk memanjang, dengan ukuran mencapai 30 hingga 40 cm. Konsepnya dikenal dengan nama long filled crispy chicken roll. Panjang Chikuro sekitar 18–25 cm dengan tekstur renyah di luar dan isian creamy di dalam. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat di sana penasaran dan ingin segera mencicipinya.  Selain itu, Chikuro menawarkan pengalaman baru dalam menikmati daging ayam tanpa harus merasa “berantakan”. Pembeli tidak perlu memisahkan daging dan tulangnya sendiri atau memegang jajanan langsung dengan tangan. Pilihan rasa yang ditawarkan sangat beragam, antara lain Royal Garlic Cream Cheese, BBQ Cream Cheese, dan Kurimiji Mentai. Taburannya berupa Signature Japanese Truffle, Sweet BBQ, Japanese Nori, dan Sour Cream Onion. Sementara itu, tingkat kepedasannya bisa ditentukan sendiri sesuai selera. Di Indonesia, Chikuro dijual dengan harga mulai dari Rp29.500–Rp37.000 (belum termasuk pajak), tergantung panjangnya. Untuk soal kehalalan, makanan ini sudah bersertifikat halal sehingga aman dikonsumsi oleh konsumen muslim. Kenapa Chikuro Bisa Viral di Malaysia? Ada beberapa sebab nih kenapa Chikuro sangat viral di Malaysia. 1. Konsep yang Belum Ada di Malaysia Daya tarik utama yang membuat Chikuro begitu menonjol adalah konsepnya, yakni Japanese long-filled roll snack atau long filled crispy chicken. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat setempat penasaran dan ingin segera mencicipinya. 2. Konten ASMR yang Menggugah Selera Kesuksesan Chikuro di Malaysia tidak lepas dari peran algoritma media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Banyak influencer makanan dan pembuat konten kuliner di Malaysia yang membuat video bertema ASMR saat menyantap berbagai rasa dan varian Chikuro.  Suara renyah beradu dengan lembutnya isian krim menciptakan rasa penasaran di kalangan penonton. Hal inilah yang mendorong mereka untuk ikut berburu jajanan tersebut demi merasakan pengalaman yang sama. Satu hal yang paling sering muncul dalam video viral di TikTok mengenai Chikuro adalah momen saat staf gerai menyuntikkan isian krim ke dalam gulungan ayam hingga hampir meluap dan ketika pembuat video menyantapnya.  Fenomena “lava filling” ini sangat disukai warganet di Malaysia. 3. Tren Jastip (Jasa Titip) yang Masif Turis Malaysia ramai memborong jajanan yang dijual di sejumlah mal di Jakarta, bahkan hingga ratusan bungkus, untuk dijual kembali di Malaysia.  Para jastiper Malaysia pun memiliki tim yang disebar di berbagai gerai Chikuro di Jakarta dan mereka pun membuat konten yang membuat makanan ini semakin viral. Bahkan, tak sedikit personal shopper atau jastiper yang membeli ratusan Chikuro dan membawanya langsung naik pesawat.  Setibanya di Malaysia, masyarakat yang penasaran langsung menyerbunya dan camilan tersebut habis dalam waktu dua jam saja. 4. Kesamaan Selera Kuliner Indonesia dan Malaysia Hubungan serumpun antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya terlihat pada lokasi geografis yang berdampingan, tetapi juga pada akulturasi kulinernya. Tak sedikit makanan di kedua negara ini memiliki kesamaan satu sama lain.  Faktor ini membuat selera lidah orang Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda. Orang Malaysia mudah menerima makanan Indonesia, begitu pula sebaliknya. Dampak Viralnya Chikuro Popularitas Chikuro yang meledak tidak hanya dirasakan di Malaysia, tetapi juga berdampak langsung pada operasional gerai di Indonesia. Antusiasme yang tinggi sempat membuat gerai di Gandaria City, Jakarta Selatan, kehabisan stok akibat pesanan turis asal Malaysia. Selain itu, Chikuro tidak hanya menarik perhatian turis Malaysia. Ada juga turis dari Thailand yang membagikan momen ketika dirinya mencicipi jajanan viral ini. Lewat unggahan akun TikTok, turis asal Thailand itu mengungkap bahwa siapa pun yang datang ke Indonesia wajib mencoba ini. Di sisi harga, Chikuro yang dijual jastiper di Malaysia ini berkisar RM18–RM20 atau sekitar Rp79 ribu–Rp88 ribu per buahnya, jauh lebih tinggi dibanding harga aslinya di Indonesia. Kontroversi: Muncul Chikuro “KW” di Malaysia Di balik viralnya Chikuro, ada satu isu yang memantik amarah netizen Indonesia. Di media sosial, beredar video sebuah gerai makanan di bazar kuliner yang ada di Bazaria Wangsa Maju, Kuala Lumpur yang menjual camilan ayam gulung dengan konsep dan nama yang sama, yaitu Chikuro. Yang membuat banyak netizen Indonesia geram, penjual ini menggunakan nama, logo, hingga konsep Chikuro tanpa kerja sama resmi. Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen di media sosial. Netizen menyoroti penggunaan nama brand yang diduga sama persis dengan milik pengusaha Indonesia. “Selogo-logonya di-copy,” tulis seorang pengguna TikTok. Merespons hal ini, pihak Chikuro menyampaikan harapan agar ke depannya dapat hadir secara resmi di Malaysia: “Doakan ya semoga ke depannya Chikuro bisa hadir resmi di Malaysia agar pelanggan di sana juga bisa menikmati produk kami.” Rencana Ekspansi Chikuro ke Malaysia Melihat tingginya permintaan, pihak Chikuro sudah mulai merespons peluang pasar di Malaysia. Saat ini Chikuro telah memiliki 80 cabang di Indonesia, dan ada rencana untuk membuka outlet secara resmi di Malaysia guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Fenomena Chikuro membuktikan bahwa jajanan lokal Indonesia punya daya tarik kuat di pasar regional. Kalau ada makanan yang viral di salah satu negara, tidak perlu menunggu waktu lama untuk viral juga di negara lainnya. Kombinasi antara konsep produk yang unik, kekuatan media sosial, dan kedekatan selera kuliner dua negara serumpun menjadi kunci di balik kesuksesan Chikuro menembus batas wilayah. Kesimpulan Chikuro adalah bukti nyata bahwa jajanan lokal Indonesia mampu bersaing dan menarik perhatian pasar internasional, khususnya di Asia Tenggara. Bermodal konsep long filled crispy chicken roll yang belum pernah ada sebelumnya di Malaysia, ditambah kekuatan konten ASMR di TikTok dan Instagram, nama Chikuro berhasil melampaui batas wilayah tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar-besaran ke luar negeri. Fenomena jastip yang membawa ratusan porsi Chikuro langsung dari Jakarta ke Kuala Lumpur menunjukkan betapa tingginya permintaan pasar Malaysia terhadap produk ini. Di sisi lain, kemunculan produk tiruan di Malaysia juga menjadi sinyal penting bahwa brand

SELENGKAPNYA
Xiaomi Kurangi Model Smartphone: Strategi untuk Pergeseran Fokus

Xiaomi Kurangi Model Smartphone: Strategi untuk Pergeseran Fokus

Selama bertahun-tahun, Xiaomi dikenal sebagai produsen smartphone yang rajin merilis model baru di hampir setiap segmen harga. Mulai dari Redmi seri entry-level, Poco untuk segmen gaming budget, hingga Xiaomi seri premium, semuanya hadir silih berganti setiap tahun. Tapi sejak 2025, pola itu berubah secara cukup signifikan. Xiaomi sekarang dengan sengaja mengurangi jumlah model smartphone yang diluncurkan setiap tahunnya. Ini bukan karena perusahaan sedang kekurangan ide produk, melainkan karena ada pergeseran besar dalam arah bisnis mereka. Menurut laporan keuangan Q2 2025 Xiaomi, pendapatan dari segmen smartphone turun 2% secara year-on-year meski pasar smartphone global secara keseluruhan justru tumbuh.  Sebaliknya, segmen AIoT Xiaomi mencatat kenaikan sebesar 44,7%, mencapai 38,7 miliar yuan atau sekitar USD 5,4 miliar. Bisnis kendaraan listrik mereka juga menghasilkan pendapatan lebih dari 20 miliar yuan per kuartal, didorong oleh permintaan kuat untuk model SU7 dan YU7. Dengan kondisi seperti itu, smartphone bukan lagi mesin pertumbuhan utama Xiaomi. Pemahaman inilah yang mendorong perusahaan untuk memikirkan ulang cara mereka mengelola portofolio produk. Smartphone Terlalu Banyak Model Merilis banyak model ponsel terdengar seperti strategi yang menguntungkan karena menjangkau lebih banyak segmen konsumen. Tapi kenyataannya ada biaya tersembunyi yang cukup besar, terutama ketika sebuah perusahaan sedang menjalani transisi sistem operasi yang besar. Xiaomi sedang dalam proses transisi dari MIUI ke HyperOS.  Transisi ini membuat perusahaan perlu mengurangi fragmentasi produk dan menstandardisasi platform secara global. Bayangkan harus memperbarui puluhan varian regional dari lusinan model yang berbeda secara bersamaan, dengan dukungan software yang kini diperpanjang. Ini bukan pekerjaan kecil. Xiaomi 15 dan seri Redmi Note 14 kini menerima empat kali pembaruan sistem operasi dan enam tahun patch keamanan. Kebijakan ini menyamai standar pembaruan dari merek seperti Samsung dan Apple.  Namun, mendukung pembaruan jangka panjang di puluhan varian regional menjadi semakin sulit untuk dikelola. Artinya, semakin sedikit model yang dirilis, semakin mudah Xiaomi menjaga konsistensi pembaruan software di seluruh dunia tanpa harus mengorbankan kualitas atau kecepatan pengiriman pembaruan tersebut. Klarifikasi Peran Setiap Sub-brand Salah satu hasil langsung dari evaluasi tersebut adalah pembenahan identitas setiap sub-brand.  Xiaomi kini menetapkan peran yang lebih jelas untuk setiap sub-brand: Redmi menyasar pasar massal, Xiaomi mencakup segmen menengah ke atas, Poco berfokus pada performa, dan Civi melayani pengguna yang mengutamakan desain.  HyperOS kini berfungsi sebagai fondasi global untuk mengurangi variasi regional dan menyederhanakan pemeliharaan software. Dengan batasan peran yang lebih tegas ini, konsumen tidak lagi perlu bingung memilih.  Poco adalah untuk yang mau spesifikasi gaming tinggi dengan harga terjangkau. Redmi adalah untuk kebutuhan sehari-hari yang andal. Xiaomi (lini utama) adalah untuk yang ingin pengalaman premium. Civi adalah untuk yang peduli estetika dan desain. Smartphone Sebagai Simpul, Bukan Pusat Fokus Di sinilah inti dari perubahan cara pandang Xiaomi. Jika dulu smartphone adalah produk utama yang menopang seluruh bisnis, kini perannya bergeser menjadi “simpul penghubung” dalam ekosistem yang lebih besar. CEO Xiaomi Lei Jun menetapkan strategi Human-Car-Home sebagai bagian kunci dari visi perusahaan untuk satu dekade ke depan.  Pendekatan ekosistem ini menempatkan smartphone sebagai simpul pusat yang menghubungkan kendaraan listrik, perangkat rumah pintar, dan platform berbasis AI.  Dalam konteks ini, nilai sebuah produk tidak lagi bergantung pada spesifikasi atau harga, melainkan pada pengalaman software dan performa ekosistem. Hal ini tercermin dalam HyperOS 2 yang diluncurkan Oktober 2024, yang mengintegrasikan tiga teknologi inti yaitu HyperCore, HyperConnect, dan HyperAI, untuk menghadirkan konektivitas lintas perangkat yang cerdas serta pengalaman AI di smartphone, kendaraan listrik, dan perangkat rumah pintar sekaligus. Dalam kerangka Human × Car × Home, ponsel berfungsi untuk mengontrol rumah pintar, terhubung ke sistem infotainment mobil listrik Xiaomi, dan menjadi pusat identitas digital penggunanya.  Kalau smartphone-nya sudah terintegrasi baik dengan ekosistem, pengguna akan lebih loyal dan jarang berpindah ke merek lain. AIoT: Bisnis yang Selama Ini Tumbuh di Bayang-bayang Smartphone Satu hal yang sering luput dari perhatian publik umum adalah betapa besarnya bisnis AIoT Xiaomi yang selama ini tumbuh konsisten di balik hype smartphone. Per Desember 2024, Xiaomi melaporkan 904,6 juta perangkat IoT yang terhubung ke platform AIoT-nya, tidak termasuk ponsel dan tablet. Segmen AIoT dan smart home Xiaomi menghasilkan 98,9 miliar yuan sepanjang 2024, naik 23% secara year-on-year. Perangkat seperti AC, kulkas, mesin cuci, TV, robot vacuum, hingga kamera keamanan semuanya terhubung melalui platform yang sama. Pengiriman AC Xiaomi melampaui 6,8 juta unit sepanjang 2024, naik lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya, sementara pengiriman kulkas melampaui 2,7 juta unit dengan kenaikan lebih dari 30% year-on-year.  Ketika ekosistem ini sudah sedemikian besar, memastikan smartphone terintegrasi baik dengan semua perangkat ini menjadi jauh lebih penting ketimbang sekadar merilis ponsel baru setiap beberapa bulan. Kesimpulan Langkah Xiaomi mengurangi jumlah model smartphone yang dirilis bukan tanda bahwa mereka kehilangan momentum. Ini adalah keputusan strategis yang lahir dari evaluasi jujur terhadap ke mana bisnis mereka harus bergerak. Dalam kerangka Human × Car × Home, setiap ponsel yang dirilis Xiaomi bukan lagi produk yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Dan untuk membangun sistem yang baik, kamu tidak butuh terlalu banyak komponen. Kamu butuh komponen yang tepat, yang bekerja dengan sangat baik bersama-sama. Referensi

SELENGKAPNYA
Rahasia Tomoro Coffee: Punya Ratusan Gerai dalam Dua Tahun

Rahasia Tomoro Coffee: Punya Ratusan Gerai dalam Dua Tahun

Bayangkan membuka usaha kopi di negara yang pasar kedai kopinya sudah dipadati nama-nama besar. Di satu sisi ada merek global seperti Starbucks yang sudah puluhan tahun bercokol. Di sisi lain ada pemain lokal seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa yang masing-masing telah mengoperasikan lebih dari 900 gerai. Persaingan itu nyata, ketat, dan tidak memberi banyak ruang untuk pemain baru. Namun Tomoro Coffee justru hadir di tengah situasi itu, dan tidak sekadar bertahan. Didirikan pada 2022 oleh Star Yuan, seorang pengusaha yang sebelumnya berkarier di balik OPPO dan J&T Express, Tomoro Coffee memulai perjalanannya dari satu gerai di Jakarta Utara. Dua tahun setelahnya, cerita itu sudah berubah drastis. Tomoro Coffee telah memiliki sekitar 600 gerai yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sejak didirikan dua tahun lalu, ditambah kehadiran internasional di Singapura, Filipina, dan China. Bagi calon pebisnis, kisah ini bukan sekadar inspirasi. Ini adalah peta jalan yang bisa dipelajari. Membaca Peluang: Pasar Kopi Indonesia Masih Jauh dari Jenuh Sebelum membahas strategi Tomoro Coffee, penting untuk memahami medan yang mereka masuki. Pangsa pasar kedai kopi Indonesia diperkirakan mencapai USD 2,1 miliar, dengan pertumbuhan CAGR sekitar 10% dalam beberapa tahun ke depan. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah sinyal bahwa permintaan masyarakat Indonesia terhadap kopi berkualitas dengan pengalaman yang baik terus tumbuh setiap tahunnya. Laporan dari United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 akan meningkat menjadi 4,8 juta kantong, naik dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021. Pasar kopi bermerek Indonesia juga masih menjadi yang terbesar keenam di Asia Timur berdasarkan jumlah gerai. Laporan World Coffee Portal memperkirakan total pasar kedai kopi bermerek Indonesia akan mencapai 9.500 gerai pada 2029. Artinya, celah pasar masih sangat terbuka. Tomoro Coffee membaca peluang ini lebih cepat dari kebanyakan pesaing. Strategi 1: Fondasi yang Kuat Sebelum Ekspansi Masif Banyak pengusaha yang tergoda untuk langsung ekspansi besar-besaran begitu ada modal. Tomoro Coffee justru memilih jalur yang berbeda: memperkuat fondasi produksi terlebih dahulu. Pada April 2024, Tomoro Coffee memperkenalkan fasilitas sangrai kopi (coffee roastery) dengan kapasitas produksi hingga 2.400 ton per tahun. Fasilitas ini dirancang dengan tiga fase produksi menggunakan biji kopi berkualitas, dan bertujuan mendukung operasional seluruh jaringan gerai yang terus berkembang. Langkah ini bukan hanya soal efisiensi biaya. Ini adalah cara Tomoro Coffee memastikan bahwa kualitas produknya tetap konsisten, tidak peduli gerai ke berapa yang dibuka. Biji kopi yang telah disangrai dikirimkan ke seluruh toko secara terjadwal setiap 10 hari sekali, untuk memastikan kesegaran kopi di setiap gerai di seluruh penjuru Indonesia. Untuk calon pebisnis, pelajaran ini sangat relevan: ekspansi cepat tanpa kendali kualitas hanya akan mempercepat kejatuhan. Bangun sistem produksi dan distribusi yang andal sebelum memperluas jangkauan. Strategi 2: Model Waralaba yang Selektif dan Terstandarisasi Salah satu mesin utama pertumbuhan Tomoro Coffee adalah sistem kemitraan atau waralaba. Tomoro Coffee membuka peluang waralaba dengan biaya sekitar Rp 500 juta. Namun mereka sangat selektif dalam memilih mitra, karena ingin memastikan mitra memahami nilai-nilai perusahaan. Pelatihan dan audit rutin menjadi kunci untuk menjaga kualitas di seluruh jaringan gerai. Selektivitas inilah yang membedakan Tomoro Coffee dari banyak merek kopi lain yang membuka pintu waralaba selebar-lebarnya tanpa filter ketat. Hasilnya adalah jaringan gerai yang tumbuh cepat namun tetap terjaga standarnya. Efektivitas model ini terbukti dari angka penjualan di gerai-gerai baru. Pembukaan mitra di Tulungagung berhasil menjual 1.500 gelas kopi dalam satu hari, sementara di Selong dan Blitar masing-masing menjual 1.100 gelas kopi pada hari pembukaan. Angka itu membuktikan bahwa permintaan di luar kota-kota besar pun sangat nyata. Pasar belum jenuh, dan mitra yang dilatih dengan baik mampu langsung meraih hasil signifikan. Strategi 3: Inovasi Menu yang Konsisten dan Terstruktur Tomoro Coffee tidak memosisikan dirinya sebagai kedai kopi biasa yang hanya mengandalkan pergantian biji kopi. Pendekatan Tomoro Coffee dalam berinovasi terinspirasi dari bisnis teh dan susu yang selalu memperbarui penawaran produk, resep, dan kombinasi rasa. Mereka menilai banyak bisnis kopi yang ada hanya menawarkan pergantian biji kopinya, tanpa banyak melakukan inovasi menu. Hasilnya, menu Tomoro Coffee terus diperbarui setiap bulannya dengan kombinasi rasa baru. Pelanggan selalu punya alasan untuk kembali karena selalu ada hal baru untuk dicoba. Biji kopi yang digunakan adalah arabika 100% berkualitas, dan beberapa menu Tomoro Coffee menggunakan biji kopi pilihan yang telah meraih IIAC Gold Medal 2023. Inovasi ini juga dikombinasikan dengan harga yang terjangkau, menjadikan Tomoro Coffee relevan untuk segmen konsumen yang lebih luas, bukan hanya penikmat kopi premium. Strategi 4: Ekspansi Berbasis Data, Bukan Impulsif Membuka gerai baru adalah keputusan yang mahal jika salah. Tomoro Coffee meminimalkan risiko itu dengan pendekatan ekspansi yang terukur. Tomoro Coffee telah membuka lebih dari 600 gerai di 60 kota di Indonesia, dengan kehadiran di berbagai wilayah mulai dari Pulau Jawa hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Pemilihan lokasi tidak dilakukan secara acak. Tomoro bahkan mengeksplorasi area-area yang belum banyak disentuh kompetitor, seperti halte Transjakarta dan kawasan perkantoran, dengan mempertimbangkan lokasi secara sangat matang. Pada semester kedua 2025, ekspansi Tomoro Coffee difokuskan ke kota-kota tier 2 dan tier 3 seperti di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, sambil tetap memperkuat posisi di kota-kota besar di Pulau Jawa. Strategi masuk ke kota-kota lebih kecil ini adalah langkah yang cerdas. Persaingan lebih rendah, sewa tempat lebih murah, dan permintaan pasar tetap ada. Ini yang seringkali diabaikan oleh pebisnis yang terlalu fokus ke kota besar. Strategi 5: Teknologi Digital Sebagai Alat Retensi Pelanggan Tomoro Coffee paham bahwa menjual satu cangkir kopi lebih mudah daripada membuat pelanggan datang kembali. Untuk itu, mereka berinvestasi pada teknologi. Aplikasi digital Tomoro Coffee menawarkan promo minuman seharga Rp 9.000 untuk pembelian pertama. Melalui aplikasi ini pula, perusahaan menjalankan pemasaran yang lebih tertarget dengan mengelompokkan penggunanya berdasarkan usia, pengalaman merek, dan preferensi minuman. Ini bukan sekadar promo murah untuk menarik perhatian. Ini adalah strategi pengumpulan data pelanggan yang memungkinkan Tomoro Coffee untuk menyesuaikan komunikasi pemasaran mereka secara lebih personal dan efektif. Strategi 6: Pendanaan Eksternal untuk Akselerasi Kecepatan ekspansi Tomoro Coffee tidak terlepas dari ketersediaan modal yang memadai. Tomoro Coffee telah mengantongi pendanaan dari modal ventura sebesar USD 60 juta atau setara Rp 946 miliar sejak didirikan pada Agustus 2022, yang ditujukan

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Kapal Api Sebagai Local Brand yang Legenda

Strategi Marketing Kapal Api Sebagai Local Brand yang Legenda

Bayangkan sebuah merek kopi yang sudah ada sejak 1927, bertahan melewati zaman penjajahan, era orde baru, krisis ekonomi 1998, hingga gempuran merek-merek kopi global yang masuk ke Indonesia dengan modal dan teknologi pemasaran yang jauh lebih besar. Itulah Kapal Api. Merek yang lahir di Surabaya ini bukan hanya bertahan, tetapi hingga hari ini masih menjadi salah satu merek kopi paling dikenal dan dipercaya oleh masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang dan generasi. Di tengah kemunculan ratusan merek kopi lokal baru yang tumbuh pesat seiring tren kedai kopi dan produk kopi premium dalam beberapa tahun terakhir, Kapal Api justru memilih untuk tidak diam. PT Kapal Api Global terus menggali inovasi produk dan merancang strategi pemasaran baru agar mereknya tetap relevan dan dekat dengan konsumen masa kini. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana Kapal Api membangun dan mempertahankan posisinya sebagai local brand yang dicintai masyarakat, serta pelajaran apa yang bisa diambil dari perjalanan panjang merek ini. Sekilas tentang Kapal Api Kapal Api didirikan pada tahun 1927 oleh Go Soe Loet di Surabaya, Jawa Timur. Nama “Kapal Api” dipilih karena pada masa itu kapal uap atau kapal api merupakan simbol modernitas, kekuatan, dan kemajuan yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia di era tersebut. Sejak awal, produk Kapal Api difokuskan pada kopi bubuk yang diolah dengan metode sangrai, menggunakan biji kopi pilihan dari berbagai daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Selama puluhan tahun, Kapal Api tumbuh dari usaha keluarga kecil di Surabaya menjadi perusahaan kopi nasional yang produknya tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Kini PT Kapal Api Global mengelola sejumlah merek di bawah grupnya, termasuk Kapal Api, ABC, Good Day, dan Excelso, menjadikannya salah satu perusahaan kopi terbesar di Asia Tenggara. Kampanye “For the Love of Coffee” yang Dimulai dari Dalam Salah satu strategi pemasaran terpenting yang dijalankan Kapal Api dalam beberapa tahun terakhir adalah kampanye bertajuk “For the Love of Coffee Integrated Campaign.” Pangesti Boedhiman, Head of Corporate Communication Kapal Api Global, menjelaskan bahwa kampanye ini sudah mulai dijalankan sejak tahun 2019 dan dimulai bukan dari iklan besar-besaran, melainkan dari ekosistem internal perusahaan itu sendiri. Pendekatan ini menarik karena Kapal Api memilih untuk membangun kampanye dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Logikanya sederhana: karyawan yang benar-benar mencintai produk yang mereka buat akan menjadi duta merek yang paling autentik dan paling dipercaya, jauh lebih efektif dibanding iklan mana pun. Ketika para karyawan dari seluruh unit bisnis Kapal Api terlibat langsung dalam berbagai kegiatan internal yang merayakan kopi lokal, mereka bukan hanya menjalankan pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita merek itu sendiri. Strategi ini kemudian diperkuat dengan pelibatan media secara aktif untuk mempublikasikan seluruh rangkaian kampanye kepada masyarakat luas. Kapal Api juga meluncurkan majalah internal bernama Connect sebagai sarana komunikasi yang menjembatani kegiatan internal perusahaan dengan pemangku kepentingan eksternal. Maskot Ka-Losi dan Ka-Rua: Identitas Visual yang Mengundang Kedekatan Salah satu langkah kreatif yang diambil Kapal Api untuk memperkuat identitas mereknya adalah dengan menghadirkan dua maskot bernama Ka-Losi dan Ka-Rua. Maskot adalah alat pemasaran yang bekerja pada level psikologis yang sangat mendasar. Karakter visual yang dirancang dengan baik mampu menciptakan kedekatan emosional antara merek dan konsumen, terutama bagi segmen yang lebih muda, jauh lebih cepat dibanding teks atau narasi deskriptif tentang produk. Ka-Losi dan Ka-Rua dirancang untuk menjadi lambang ikonik Kapal Api yang memudahkan konsumen dalam mengenali dan mengidentifikasi merek ini di antara berbagai pilihan produk kopi yang semakin banyak di pasaran. Dari perspektif strategi merek, penggunaan maskot juga membantu merek yang sudah berusia puluhan tahun seperti Kapal Api untuk tampil lebih segar dan relevan di mata konsumen yang lebih muda, tanpa harus meninggalkan identitas aslinya. Kolaborasi dengan Stakeholder dan Lembaga Pemerintah Seiring berjalannya waktu, Kapal Api mengembangkan pendekatan kampanyenya dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di luar perusahaan. Salah satu kolaborasi yang paling menonjol adalah penyelenggaraan kompetisi bertajuk “Coffee and Spice Competition” yang dilakukan bersama program Jalur Rempah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kolaborasi dengan lembaga pemerintah seperti ini memberikan beberapa keuntungan sekaligus bagi Kapal Api. Pertama, kegiatan ini memperluas jangkauan merek ke segmen audiens yang mungkin belum terlalu terhubung dengan Kapal Api sebelumnya, khususnya komunitas akademik, pegiat budaya, dan masyarakat yang tertarik pada kekayaan rempah dan kuliner nusantara. Kedua, asosiasi dengan program pemerintah yang bertemakan warisan budaya memberi Kapal Api dimensi baru sebagai merek yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga turut menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Ketiga, dari sisi publisitas, kolaborasi dengan institusi sebesar Kemendikbud secara otomatis menghasilkan eksposur media yang lebih luas dibanding jika Kapal Api menjalankan kegiatan serupa secara mandiri. Inovasi Produk yang Mengikuti Kebiasaan Konsumen Modern Mempertahankan relevansi merek dalam jangka panjang tidak cukup hanya dengan kampanye pemasaran yang baik. Produk itu sendiri harus terus berkembang mengikuti kebiasaan dan kebutuhan konsumen yang berubah dari generasi ke generasi. Kapal Api memahami hal ini dengan baik. Salah satu inovasi produk yang dilakukan Kapal Api adalah menghadirkan kopi instan dalam kemasan botol siap minum atau ready to drink. Langkah ini merespons perubahan gaya hidup konsumen Indonesia, terutama generasi muda yang aktif dan mobile, yang menginginkan kemudahan dalam mengonsumsi kopi tanpa harus melalui proses menyeduh terlebih dahulu. Produk kopi sachet yang selama ini menjadi andalan Kapal Api memang sangat relevan untuk konsumsi di rumah atau di kantor, tetapi format ready to drink membuka peluang konsumsi di berbagai situasi lain yang lebih dinamis dan tidak memerlukan persiapan apa pun. Pangesti Boedhiman menegaskan bahwa inovasi produk bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari kepercayaan yang diberikan konsumen kepada merek sebesar Kapal Api. Konsistensi Sebagai Fondasi Kepercayaan Jangka Panjang Di balik semua strategi kampanye, maskot, kolaborasi, dan inovasi produk yang dijalankan Kapal Api, ada satu elemen yang menjadi fondasi paling mendasar dari keberhasilan merek ini bertahan selama hampir satu abad. Elemen itu adalah konsistensi. Konsistensi dalam menjaga kualitas rasa kopi yang menjadi ciri khas Kapal Api, konsistensi dalam mempertahankan identitas merek sebagai kopi rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dan konsistensi dalam menghadirkan produk yang bisa diakses oleh semua kalangan tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dalam dunia pemasaran, kepercayaan konsumen adalah hasil dari pengalaman yang konsisten selama bertahun-tahun. Konsumen yang sudah

SELENGKAPNYA
Marketing Corkcicle: Pelajaran Branding untuk yang Ingin Naik Kelas

Marketing Corkcicle: Pelajaran Branding untuk yang Ingin Naik Kelas

Pernahkah kamu melihat seseorang membawa botol minum dengan desain warna-warni yang elegan di kafe, co-working space, atau bahkan di gym, lalu penasaran mereknya apa? Kemungkinan besar itu Corkcicle.  Dalam beberapa tahun terakhir, nama ini tidak hanya dikenal sebagai botol minum biasa, tetapi sudah menjelma menjadi simbol gaya hidup bagi kalangan urban profesional muda. Yang menarik adalah cara Corkcicle membangun posisi itu bukan dengan keberuntungan semata, melainkan melalui serangkaian keputusan marketing yang terencana dan konsisten.  Artikel ini akan membahas strategi-strategi tersebut secara mendalam, sekaligus menarik pelajaran yang bisa diterapkan oleh brand lokal yang sedang berupaya naik kelas. Corkcicle: Dari Satu Produk ke Ekosistem Merek Corkcicle didirikan pada tahun 2010 oleh Ben Hewitt di Orlando, Florida. Produk pertamanya sederhana: sebuah wine chiller berbentuk batang spiral yang dimasukkan ke dalam botol untuk menjaga minuman tetap dingin. Produk ini pertama kali diperkenalkan ke publik di The Atlanta International Gift & Home Furnishings Market pada 2011, sebuah pameran dagang yang mempertemukan pedagang eceran kecil dengan grosir dan produsen. Respons pasar saat itu sangat positif. COO Corkcicle, Blake Thomas, pernah menceritakan bahwa para pemilik toko hadiah bisa membeli 16 unit produk dengan harga grosir sekitar 187 dolar dan menjualnya habis hanya dalam dua hari. Margin keuntungan yang bagus dan ukuran produk yang kecil menjadi kombinasi sempurna untuk memikat pengecer. Dari satu produk itu, Corkcicle kemudian berkembang seperti pohon, menggunakan analogi Thomas sendiri. Semua produk barunya, mulai dari tumbler, canteen, gelas stemless, cooler bag, hingga lunchbox, tetap membawa DNA yang sama: menjaga minuman pada suhu terbaik. Konsistensi DNA merek inilah yang membuat ekspansi produk Corkcicle terasa alami dan tidak membingungkan konsumen. Hari ini, industri drinkware diproyeksikan mencapai nilai 60,4 miliar dolar pada 2034, terutama didorong oleh segmen premium tempat Corkcicle membangun posisinya. Corkcicle bukan pemain yang mengejar viral, tetapi pemain yang membangun fondasi jangka panjang. Desain sebagai Bahasa Merek, Bukan Sekadar Kemasan Satu hal yang paling mudah dikenali dari produk Corkcicle adalah desainnya yang selalu tampak “bersih” dan estetik. Ini bukan kebetulan. Sejak awal berdirinya, Corkcicle bekerja sama dengan agensi branding Push untuk membangun identitas visual yang konsisten, mulai dari logo, desain kemasan, tampilan booth pameran dagang, hingga website Shopify mereka. Pilihan warna menjadi salah satu senjata utama Corkcicle. Palet warnanya dirancang agar produk terlihat menarik secara visual di berbagai konteks, di atas meja kerja, di tas gym, di foto Instagram, atau bahkan di foto lamaran. Ini penting karena konsumen yang membeli botol minum premium tidak hanya membeli fungsi, tetapi juga membeli identitas dan ekspresi diri. Corkcicle juga rutin melakukan kolaborasi dengan brand dan IP yang populer. Beberapa di antaranya adalah kolaborasi dengan Rifle Paper Co., Vineyard Vines, Marvel, hingga Disney. Alih-alih mengandalkan kelangkaan artifisial atau drama media sosial, Corkcicle memilih untuk membangun momentum melalui kolaborasi yang bermakna dan kualitas produk yang tahan lama.  Pendekatan ini membuat setiap kolaborasi terasa sebagai perayaan estetika, bukan sekadar taktik penjualan kilat. Jadi, kamu bisa investasikan perhatian pada identitas visual sejak awal. Desain yang konsisten dan punya “karakter” adalah aset jangka panjang yang jauh lebih berharga dari sekadar konten promo sesaat.  Jika belum mampu berkolaborasi dengan merek besar, mulailah dengan kolaborasi bersama kreator lokal atau seniman independen yang punya estetika sejalan. Corkcicle Punya Positioning yang Jelas Lewat Tagline Salah satu keputusan branding yang paling berpengaruh dalam sejarah Corkcicle adalah pemilihan taglinenya. Pada 2014, Corkcicle secara resmi mengadopsi tagline “Drink Well” yang hingga kini masih digunakan. Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung ambisi yang besar. Stephen Bruner, salah satu mitra Corkcicle, menjelaskan bahwa tagline tersebut bukan hanya soal minuman yang enak, tetapi tentang filosofi menikmati hidup secara lebih berkualitas melalui hal-hal kecil sehari-hari.  “Drink Well” menyentuh aspek fungsional sekaligus emosional. Fungsional karena produknya memang dirancang agar minuman tetap pada suhu ideal. Emosional karena mengajak konsumen untuk melihat minum sebagai sebuah pengalaman, bukan sekadar rutinitas. Bruner juga pernah mengungkapkan bahwa dalam merancang strategi marketing, Corkcicle tidak hanya melihat ke dalam industri drinkware, tetapi belajar dari brand di luar industri mereka yang sudah lebih maju dalam pemasaran. Artinya inovasi marketing tidak selalu datang dari meniru kompetitor, tetapi dari meminjam pola pikir dari industri lain. Media Sosial yang Dikelola dengan Prinsip Estetika Corkcicle aktif di Instagram dan menggunakan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan brand consumer goods. Di platform ini, mereka tidak mengandalkan posting yang terlalu sering atau hashtag yang berlebihan.  Sebaliknya, Corkcicle dikenal dengan bahasa yang sederhana dan elegan dalam setiap caption. Slang tidak digunakan, dan meme hanya muncul ketika benar-benar relevan dengan identitas merek.  Salah satu praktik terbaik mereka adalah pemanfaatan User Generated Content (UGC). Corkcicle secara kreatif memasukkan konten yang dibuat oleh pengguna ke dalam feed mereka, menciptakan transisi yang hampir seamless antara konten orisinal dan konten dari komunitas.  Pendekatan ini memiliki dua manfaat sekaligus: menghemat biaya produksi konten dan membuktikan kepada calon konsumen bahwa produk ini benar-benar digunakan dan dicintai oleh orang nyata. Corkcicle juga memperluas jangkauan konten influencer mereka ke platform Connected TV (CTV) melalui kemitraan dengan teknologi Spaceback. Strategi ini memungkinkan konten video dari para influencer diubah menjadi iklan di platform CTV, sehingga brand dapat memberikan pengalaman yang kohesif di berbagai platform sekaligus.  Omnichannel yang Dijalankan Secara Terukur Corkcicle tidak mengandalkan satu platform saja untuk menjangkau konsumen. Brand ini memandang TikTok, Meta, Google, dan Amazon sebagai platform yang saling melengkapi, tempat konsumen belajar tentang produk dan membuat keputusan pembelian di berbagai titik yang berbeda. Pemahaman terhadap perjalanan konsumen (customer journey) inilah yang menjadi fondasi strategi omnichannel mereka. Pada 2024, Corkcicle bekerja sama dengan agensi pemasaran Power Digital untuk mengoptimalkan strategi iklan digital mereka. Hasilnya sangat signifikan: Corkcicle berhasil meraih combined ROAS (Return on Ad Spend) sebanyak 4,4 kali lipat di berbagai saluran iklan, serta peningkatan total ROAS sebesar 488% dari strategi full-funnel yang mencakup Amazon DSP. Kuncinya adalah pendekatan full-funnel yang tidak hanya mengandalkan remarketing (iklan kepada orang yang sudah pernah mengunjungi situs). Remarketing memang menghasilkan konversi cepat, tetapi tidak berkelanjutan karena tidak mendatangkan konsumen baru. Corkcicle secara sadar mengalokasikan anggaran untuk kampanye upper-funnel yang menjangkau audiens baru yang belum pernah mengenal brand mereka sebelumnya. Selain iklan digital, Corkcicle juga aktif dalam email marketing. Domain authority mereka mencapai skor 70,

SELENGKAPNYA