Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Kasus Menantea Jerome Polin: Pelajaran untuk UMKM soal Keuangan dan Pasar

Kasus Menantea Jerome Polin: Pelajaran untuk UMKM soal Keuangan dan Pasar

Bisnis minuman milik kreator konten Jerome Polin, Menantea, resmi menghentikan seluruh operasionalnya mulai 25 April 2026. Di balik penutupan itu, Jerome mengungkap bahwa dirinya mengalami kerugian hingga Rp 38 miliar akibat penipuan yang dilakukan oleh mitra bisnisnya sendiri. Kasus ini menjadi pengingat bagi banyak pelaku usaha, khususnya di sektor makanan dan minuman, bahwa mengelola bisnis tidak cukup hanya dengan modal semangat dan modal uang saja. Lalu, apa saja yang sebenarnya perlu diperhatikan agar bisnis UMKM bisa berjalan sehat dan bertahan lama? Berikut penjelasannya. Apa yang Terjadi pada Bisnis Menantea? Jerome Polin mengakui bahwa sejak awal berbisnis, ia terlalu percaya kepada satu orang untuk mengelola seluruh keuangan perusahaan. Selama bertahun-tahun, laporan keuangan yang ia terima hanya berupa file Excel yang dikirimkan kepadanya secara berkala.  Jerome tidak pernah mengecek langsung mutasi rekening perusahaan untuk memverifikasi apakah angka di laporan itu benar-benar sesuai dengan kondisi uang yang ada. Pada tahun 2023, barulah Jerome menyadari ada yang tidak beres. Saldo perusahaan ternyata sudah kosong, sementara laporan Excel yang selama ini ia terima menunjukkan kondisi yang berbeda.  File Excel memang bisa diedit kapan saja, dan itulah celah yang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dana yang berpindah tanpa sepengetahuannya mencapai sekitar Rp 38 miliar, meski sebagian dikembalikan untuk menutupi biaya operasional. Total uang yang benar-benar hilang diperkirakan sekitar Rp 5 sampai 6 miliar, dan sisanya digunakan untuk menutup kerugian di tempat lain oleh pelaku penipuan. Demi menghormati komitmen dengan para mitra, Jerome bahkan rela menggunakan uang pribadinya sendiri untuk membiayai operasional Menantea hingga masa kontrak selesai. Sebagai UMKM, apa pelajaran yang bisa kita ambil? Pisahkan Rekening Pribadi dan Rekening Bisnis Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan pelaku UMKM pemula adalah mencampurkan uang pribadi dengan uang bisnis. Ini terdengar sepele, tapi dampaknya sangat besar dalam jangka panjang. Perencana Keuangan Independen, Andy Nugroho, menjelaskan bahwa memisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis adalah langkah dasar yang wajib dilakukan sejak hari pertama membuka usaha.  Tujuannya adalah agar pemilik usaha bisa melihat dengan jelas berapa uang yang masuk, berapa yang keluar, dan berapa yang tersisa sebagai keuntungan bersih. Selain itu, setiap transaksi keuangan perlu dicatat secara disiplin. Bukan hanya transaksi besar, tapi juga pengeluaran kecil seperti pembelian bahan baku harian atau biaya kebersihan tempat usaha.  Semua itu, kalau tidak dicatat, bisa membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat. Jangan Andalkan Excel untuk Laporan Keuangan Bisnis Kasus Jerome Polin memperlihatkan risiko nyata dari penggunaan Excel sebagai satu-satunya alat pencatatan keuangan bisnis. Excel memang mudah digunakan, tapi file-nya sangat mudah diubah tanpa jejak yang jelas. Ini berbahaya, terutama jika laporan keuangan hanya dipegang oleh satu orang tanpa ada pengawasan dari pihak lain. Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorini, menyatakan bahwa pelaku UMKM seharusnya sudah beralih ke sistem kasir digital.  Dengan sistem kasir, setiap transaksi akan tercatat secara otomatis dan sulit untuk dimanipulasi secara sepihak. Data yang masuk ke sistem kasir juga langsung terhubung ke laporan keuangan, sehingga pemilik usaha bisa memantau kondisi keuangan kapan saja dan dari mana saja. Hermawati juga menyoroti pentingnya menerima pembayaran melalui metode non-tunai seperti QRIS, transfer bank, atau auto debet.  Selain lebih praktis, metode pembayaran digital meninggalkan jejak transaksi yang bisa diperiksa sewaktu-waktu. Ini sangat membantu dalam mendeteksi penyimpangan sejak dini. Pemilik Usaha Wajib Aktif Mengecek Kondisi Keuangan Menjadi pemilik usaha bukan berarti cukup menerima laporan dari orang yang dipercaya. Andy Nugroho menekankan bahwa pemilik usaha, meski sudah menunjuk seseorang sebagai pengelola operasional harian, tetap harus secara rutin memeriksa kondisi keuangan secara langsung. Caranya bukan hanya membaca laporan yang diserahkan oleh pengelola, tapi juga membandingkan angka dalam laporan tersebut dengan mutasi rekening yang sebenarnya. Dua data itu harus cocok.  Kalau ada selisih yang tidak bisa dijelaskan, itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang perlu ditelusuri lebih jauh. Andy menambahkan bahwa pemilik usaha juga perlu memahami betul prosedur operasional bisnisnya sendiri. Dengan begitu, pemilik bisa mengenali kalau ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai standar, bahkan sebelum masalah itu membesar. Tambahkan Sistem Keamanan Ganda untuk Akses Dana Salah satu cara praktis untuk mencegah penyalahgunaan dana perusahaan adalah dengan menerapkan sistem otorisasi ganda. Hermawati menjelaskan bahwa rekening bisnis sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga setiap pencairan atau pemindahan dana membutuhkan persetujuan dari dua orang sekaligus, bukan hanya satu pihak. Mekanisme seperti ini membuat satu orang tidak bisa memindahkan uang perusahaan secara sepihak tanpa diketahui pihak lain. Bukannya tidak percaya kepada karyawan atau mitra, tapi soal membangun sistem yang melindungi semua pihak, termasuk pengelola itu sendiri. Buat Kontrak Kerja Sama yang Jelas dan Tertulis Dalam kasus Menantea, salah satu faktor yang memperburuk situasi adalah tidak adanya mekanisme kontrol yang kuat sejak awal.  Andy Nugroho menyarankan agar setiap pelaku UMKM yang bekerja sama dengan pihak lain, baik itu mitra bisnis, pengelola, maupun pemasok, selalu membuat perjanjian kerja sama secara tertulis dan rinci. Kontrak tersebut harus mencakup peran masing-masing pihak, hak dan kewajiban, mekanisme pelaporan keuangan, serta konsekuensi jika ada pihak yang melanggar kesepakatan.  Kontrak yang jelas bukan hanya melindungi pemilik usaha secara hukum, tapi juga menjadi panduan bersama agar operasional bisnis berjalan sesuai yang disepakati. Siapkan Dana Darurat untuk Bisnis Andy Nugroho juga menyarankan agar setiap pelaku usaha menyiapkan dana cadangan yang bisa digunakan saat kondisi bisnis sedang tidak stabil atau saat ada kejadian tak terduga. Dana darurat ini berfungsi seperti bantalan agar bisnis tidak langsung terpuruk ketika menghadapi masalah. Besarnya dana darurat ideal bisa bervariasi tergantung skala bisnis, tapi prinsipnya adalah ada dana yang cukup untuk menutupi biaya operasional selama beberapa bulan ke depan tanpa harus bergantung pada pemasukan harian. Kesimpulan Dari kasus Menantea dan penjelasan para ahli di atas, ada beberapa hal konkret yang perlu diterapkan oleh pelaku UMKM. Bisnis yang sehat bukan hanya soal produk yang laku di pasaran, tapi juga soal bagaimana keuangan dikelola dengan benar sejak hari pertama usaha berdiri.

SELENGKAPNYA
Plastik Makin Mahal, Puan Maharani Usulkan Kemasan Daun untuk UMKM

Plastik Makin Mahal, Puan Maharani Usulkan Kemasan Daun untuk UMKM

Menjadi Pengaruh – Kenaikan harga plastik yang signifikan sejak awal 2026 mulai memberikan tekanan nyata bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman.  Lonjakan harga yang disebut mencapai 30–80 persen membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini mempersempit margin usaha, terutama bagi pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada kemasan plastik sekali pakai. Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menilai bahwa kondisi ini justru dapat menjadi titik balik bagi UMKM untuk mulai beralih ke alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Ia menyebut bahwa penggunaan bahan alami seperti daun bukanlah hal baru dalam praktik perdagangan di Indonesia. “Harga plastik yang melonjak dan pasokan yang mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil semakin kesulitan dari sisi ekonomi.” ujar Puan dalam rilisan pers yang diterima kompas.com Ia juga menambahkan bahwa di masa lalu, masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan bahan alami seperti daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus makanan.  Praktik ini hingga kini masih bertahan di sejumlah daerah, terutama dalam penyajian makanan tradisional seperti nasi liwet, gudeg, lontong, dan lemper. Selain aspek keberlanjutan, kemasan berbahan alami juga dinilai memiliki nilai tambah tersendiri.  Dalam beberapa kasus, penggunaan daun tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga membantu menjaga kualitas makanan sekaligus memberikan aroma khas. Di sisi lain, dorongan untuk mengurangi penggunaan plastik juga sejalan dengan isu global terkait pencemaran lingkungan. Data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan dunia setiap tahunnya.  Bahkan, setiap hari diperkirakan ada sekitar 2.000 truk sampah plastik yang berakhir di laut, sungai, dan danau. Meski demikian, Puan mengakui bahwa peralihan dari plastik ke kemasan organik tidak dapat dilakukan secara instan. Ia mendorong pendekatan bertahap, misalnya dengan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk konsumsi di tempat di rumah makan. “Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai.” Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam membangun ekosistem pendukung, mulai dari regulasi hingga ketersediaan bahan baku.  Kolaborasi lintas kementerian dinilai krusial agar alternatif kemasan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mudah diakses dan tetap terjangkau bagi pelaku usaha. Solusi Kemasan Plastik Jadi Daun Apa Ide Bagus? Secara rasional, dorongan penggunaan kemasan daun memang relevan dalam konteks jangka pendek, terutama sebagai respons terhadap lonjakan harga plastik. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar solusi ini benar-benar efektif: 1. Skalabilitas & Konsistensi PasokanPenggunaan daun sebagai kemasan sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku yang konsisten. Untuk UMKM skala kecil mungkin feasible, tetapi untuk produksi massal atau distribusi luas, rantai pasok daun (pisang/jati) perlu dikelola secara serius. 2. Standarisasi & HigienitasBerbeda dengan plastik, kemasan alami memiliki tantangan dalam hal standar kebersihan, daya tahan, dan keamanan pangan. Ini menjadi penting terutama jika UMKM ingin naik kelas ke pasar modern atau ekspor. 3. Biaya Tidak Selalu Lebih MurahMeski plastik sedang mahal, kemasan daun tidak selalu otomatis lebih murah. Ada biaya tambahan seperti pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi yang bisa membuat total cost tetap tinggi jika tidak dioptimalkan. 4. Peluang Branding & DiferensiasiDi sisi positif, tren ini justru membuka peluang besar bagi UMKM untuk melakukan repositioning produk. Kemasan alami bisa menjadi nilai jual tambahan—khususnya bagi pasar yang peduli lingkungan dan produk tradisional. 5. Transisi, Bukan Substitusi TotalPendekatan paling realistis bukan mengganti plastik sepenuhnya, melainkan mengombinasikan beberapa jenis kemasan sesuai kebutuhan, misalnya daun untuk dine-in, dan alternatif ramah lingkungan lain (seperti kertas food grade) untuk delivery. Kesimpulan Secara keseluruhan, ide penggunaan kemasan daun bukan sekadar solusi nostalgia, tetapi bisa menjadi bagian dari strategi adaptasi UMKM di tengah tekanan biaya dan tuntutan keberlanjutan.  Namun, implementasinya tetap membutuhkan dukungan sistem yang kuat agar tidak justru menambah beban baru bagi pelaku usaha.

SELENGKAPNYA
Bedah Bisnis Roti'O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Bedah Bisnis Roti’O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Kalau kamu pernah menunggu kereta di stasiun dan tiba-tiba mencium bau kopi hangat dari arah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar itu berasal dari gerai Roti’O.  Brand roti kopi lokal ini sekarang sudah hadir di ratusan stasiun, bandara, dan pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia. Tapi dari mana sebenarnya Roti’O berasal? Dan kenapa produknya terasa sangat mirip dengan Rotiboy yang berasal dari Malaysia? Di balik gerai kecil beraroma kopi itu, ada perjalanan bisnis yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Strategi Bisnis yang Membuat Roti’O Berkembang Ini bagian yang menarik dari sisi bisnis. Produk Rotiboy dan Roti’O memang terlihat mirip, tapi hasilnya sangat berbeda.  Salah satu alasan utamanya ada pada keputusan strategi yang diambil Roti’O sejak awal berdiri. a. Memilih Lokasi yang Tepat Berbeda dari Rotiboy Indonesia yang banyak membuka gerai di pusat perbelanjaan, Roti’O memilih untuk hadir di stasiun dan bandara. Strategi ini ternyata memberikan hasil yang baik, terutama di Jakarta yang memang punya banyak stasiun dalam kota dengan jutaan penumpang setiap harinya. Keputusan ini bukan sekadar soal memilih tempat yang ramai. Ini soal memahami di mana konsumen benar-benar membutuhkan sesuatu. Orang yang sedang menunggu kereta tidak akan pergi jauh untuk mencari makanan, tapi mereka akan membeli kalau gerai-nya ada tepat di dekat mereka. b. Menggunakan Aroma sebagai Alat Pemasaran Salah satu keunggulan yang dimiliki Roti’O, dan juga Rotiboy, adalah aroma kopi khas yang menyebar dari gerai mereka. Aroma ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sengaja dibiarkan menyebar bebas tanpa penutup, sehingga siapa pun yang melintas di sekitar gerai langsung bisa menciumnya. Orang yang awalnya tidak berniat membeli pun bisa berubah pikiran hanya karena lewat di depan gerai. Strategi pemasaran berbasis indera penciuman seperti ini terbukti efektif untuk mendorong keputusan pembelian secara spontan. c. Sistem yang Bisa Diulang di Banyak Lokasi Sejak awal, Roti’O membangun sistem operasional yang bisa diterapkan secara konsisten di banyak tempat sekaligus. Ketika satu gerai berhasil, formulanya langsung bisa direplikasi di stasiun atau bandara lain.  Hasilnya, ekspansi Roti’O berjalan cukup cepat karena tidak perlu memulai dari nol setiap kali membuka titik penjualan baru. Perbandingan Roti’O dan Rotiboy di Pasar Indonesia Dari sisi jumlah gerai, perbedaan antara keduanya cukup besar. Per 2022, Roti’O sudah berhasil membuka sekitar 680 outlet di seluruh Indonesia. Di tahun yang sama, Rotiboy memiliki sekitar 60 outlet dengan rencana penambahan 60 outlet baru hingga akhir 2023. Perbedaan ini bukan semata-mata karena kualitas produk yang lebih baik di satu sisi. Keduanya punya produk yang disukai konsumen masing-masing. Yang membuat angkanya berbeda jauh adalah kecepatan dalam membaca dan menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen Indonesia. Rotiboy lebih lama bertahan dengan model gerai berbasis mall, sementara Roti’O lebih cepat masuk ke ekosistem transportasi publik yang penggunanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat jaringan KRL dan commuter line di Indonesia terus berkembang, Roti’O sudah lebih dulu ada di sana. Model Bisnis Roti’O Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Gerai mereka paling banyak ditemukan di stasiun, bandara, terminal, dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar. Soal model bisnisnya, sebagian besar gerai Roti’O dikelola langsung oleh perusahaan induk, yaitu PT Sebastian Citra Indonesia, melalui sistem operasional internal. Saat ini, Roti’O tidak membuka program franchise atau kemitraan secara terbuka kepada publik umum.  Jadi kalau kamu berencana bergabung sebagai mitra, belum ada jalur resmi yang bisa diakses semua orang. Meski begitu, peluang kerja sama tetap ada bagi pihak-pihak yang punya lokasi strategis relevan, seperti di stasiun atau bandara.  Kamu bisa menjajaki kemungkinan itu dengan menghubungi manajemen langsung melalui situs resmi Roti’O di www.rotio.id atau melalui akun Instagram @rotio.indonesia. Tiga Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Roti’O Dari kisah berkembangnya Roti’O, ada beberapa hal yang bisa dipelajari oleh siapa pun yang sedang membangun atau merencanakan sebuah usaha. Pertama, lokasi bukan sekadar soal tempat yang ramai.  Roti’O membuktikan bahwa memilih tempat berjualan harus didasarkan pada pemahaman tentang kapan dan di mana konsumen benar-benar membutuhkan produk tersebut. Stasiun dan bandara bukan hanya ramai, tapi juga merupakan titik di mana orang punya waktu tunggu dan kebutuhan yang spesifik. Kedua, mengelola sendiri bisa lebih konsisten daripada membuka franchise luas.  Dengan memegang kendali operasional di hampir semua gerainya, Roti’O bisa menjaga standar produk dan pelayanan tetap seragam di ratusan titik sekaligus. Ini adalah pilihan yang membutuhkan modal lebih besar, tapi hasilnya lebih terkontrol. Ketiga, waktu masuk ke pasar sangat berpengaruh.  Roti’O masuk ke ekosistem stasiun di saat jaringan transportasi publik Indonesia sedang dalam fase pertumbuhan. Slot lokasi yang mereka ambil duluan sekarang sudah jauh lebih sulit untuk direbut oleh kompetitor baru. FAQ Apakah Roti’O dan Rotiboy perusahaan yang sama? Tidak. Rotiboy adalah merek asal Malaysia yang kepemilikannya tetap sama dari awal hingga sekarang. Roti’O adalah brand lokal Indonesia yang berdiri di bawah PT Sebastian Citra Indonesia. Keduanya adalah perusahaan yang terpisah secara hukum dan kepemilikan. Siapa pemilik Roti’O? Roti’O dimiliki dan dikelola oleh PT Sebastian Citra Indonesia, perusahaan yang didirikan pada 23 Mei 2012. Gerai pertama mereka dibuka di Stasiun Jakarta Kota. Dude Harlino, yang wajahnya sering muncul di iklan Roti’O, hanya berperan sebagai brand ambassador, bukan pemilik. Apakah Roti’O membuka franchise? Saat ini tidak. Roti’O mengelola gerainya secara internal dan belum membuka program kemitraan atau franchise secara terbuka kepada publik umum. Kalau kamu tertarik bermitra dan punya lokasi yang relevan, kamu bisa langsung menghubungi manajemen untuk menjajaki kemungkinan kerja sama. Berapa jumlah outlet Roti’O saat ini? Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kenapa produk Roti’O dan Rotiboy terasa mirip? Keduanya sama-sama menggunakan konsep coffee bun, yaitu roti dengan aroma kopi khas dan tekstur lembut. Kemiripan ini yang sering membuat orang mengira keduanya berasal dari perusahaan yang sama, padahal tidak. Referensi:

SELENGKAPNYA
Mengapa Air Mineral Equil Mahal? Ini Alasan di Balik Harganya yang Mahal

Mengapa Air Mineral Equil Mahal? Ini Alasan di Balik Harganya

Kalau kamu pernah masuk ke supermarket besar atau restoran mewah, mungkin kamu pernah melihat botol air minum berwarna hijau dengan desain yang terlihat berbeda dari air mineral biasa. Itulah Equil, air mineral kemasan premium asal Indonesia yang dijual dengan harga jauh di atas rata-rata. Air mineral ukuran 600 ml pada umumnya dijual seharga Rp4.000 hingga Rp6.000 di minimarket.  Sementara itu, Equil ukuran 380 ml bisa dibanderol mulai dari Rp28.000 hingga Rp49.000, tergantung jenisnya, apakah natural atau sparkling, serta ukuran botolnya. Lalu, apa sebenarnya yang membuat harganya berbeda jauh dari air mineral lain? Asal-Usul Equil Equil pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998 oleh Morgen Sutanto melalui perusahaannya, PT Equilindo Asri, yang berdiri sejak 1997. Morgen melihat bahwa pada masa itu, pasar air mineral premium di Indonesia masih dikuasai oleh produk-produk dari luar negeri.  Produsen lokal saat itu lebih banyak berfokus pada segmen air minum kemasan sehari-hari dengan harga terjangkau. Dari celah itulah Morgen memutuskan untuk menciptakan merek air mineral premium buatan Indonesia sendiri. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal kelas menengah atas, tetapi juga untuk menembus pasar internasional. Sebelum produk ini resmi diluncurkan, Morgen menjalani proses panjang, mulai dari mencari sumber mata air yang sesuai standar, mengurus perizinan produksi, hingga memastikan kualitasnya memenuhi standar pangan internasional.  Ia merujuk pada standar Codex Alimentarius, sebuah panduan pangan yang ditetapkan oleh FAO (Food Agriculture Organization) dan WHO (World Health Organization). Sumber mata air yang dipilih pun bukan sembarangan. Equil mengambil air dari mata air alami yang berada di kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah lokasi yang dikenal memiliki kualitas air tanah yang baik. Faktor-Faktor yang Membuat Equil Lebih Mahal dari Air Mineral Biasa 1. Sumber Mata Air Alami Pegunungan Air yang digunakan dalam produk Equil berasal langsung dari sumber mata air pegunungan di Sukabumi. Air dari mata air alami pegunungan umumnya memiliki kandungan mineral alami yang terbentuk secara alami melalui proses penyerapan di dalam tanah selama bertahun-tahun.  Karena itu, proses penyaringannya pun dilakukan tanpa menambahkan bahan kimia tambahan, sehingga kualitas alami airnya tetap terjaga. 2. Proses Produksi yang Ketat dan Teliti Equil tidak diproduksi dengan cara yang sama seperti air mineral kemasan pada umumnya. Proses produksinya jauh lebih panjang dan memerlukan pengawasan yang lebih ketat.  Kualitas air dijaga mulai dari sumber mata air hingga ke tahap pengemasan, dan proses ini dilakukan secara konsisten setiap jam. Tidak ada tahap yang dilewati begitu saja, karena setiap langkah memengaruhi kualitas akhir produk. 3. Kemasan Botol Kaca yang Elegan Salah satu hal yang paling mudah dikenali dari Equil adalah kemasannya. Produk ini menggunakan botol kaca berukuran 380 ml dengan desain yang menyerupai botol wine.  Pilihan kemasan ini bukan sekadar tampilan, melainkan bagian dari strategi merek untuk menciptakan kesan premium dan eksklusif. Secara biaya produksi, botol kaca memang lebih mahal dibandingkan botol plastik yang umum digunakan oleh merek air mineral lainnya. Biaya kemasan ini turut memengaruhi harga jual produk secara keseluruhan. 4. Jumlah Produksi yang Dibatasi Equil tidak diproduksi dalam jumlah massal seperti merek air mineral lain yang beredar luas di minimarket. Jumlah produksi yang dibatasi ini memang disengaja untuk menjaga eksklusivitas merek.  Dengan jumlah yang terbatas, produk ini lebih mudah dikendalikan kualitasnya dan tetap memiliki nilai yang berbeda di mata konsumen. 5. Standar Kualitas Bertaraf Internasional Equil diproduksi dengan mengacu pada standar kualitas global, bukan hanya standar lokal. Hal ini membuat produk ini layak untuk dijual di pasar internasional dan memenuhi persyaratan keamanan pangan di berbagai negara.  Saat ini, Equil sudah diekspor ke beberapa negara, antara lain Singapura, Australia, dan Arab Saudi. Standar internasional ini juga menjadi alasan mengapa Equil sering ditemukan di hotel bintang lima, restoran fine dining, dan berbagai tempat dengan segmentasi konsumen kelas atas, baik di dalam maupun luar negeri. 6. Strategi Segmentasi Pasar yang Terarah Sejak awal, Morgen Sutanto memang merancang Equil khusus untuk konsumen kelas menengah atas. Ini bukan sekadar pilihan produk, tetapi merupakan strategi merek yang direncanakan secara matang.  Mulai dari pilihan kemasan, tempat penjualan, hingga harga, semuanya dirancang untuk menyesuaikan ekspektasi konsumen pada segmen tersebut. Itulah mengapa kamu jarang menemukan Equil di minimarket biasa. Merek ini memang sengaja tidak didistribusikan secara luas ke semua saluran penjualan, agar positioning premiumnya tetap terjaga. Equil: Merek Lokal yang Bersaing di Pasar Global Meski berasal dari Sukabumi, Equil berhasil membangun citra sebagai produk berkelas dunia. Ini menjadi bukti bahwa produk Indonesia mampu bersaing di segmen premium, bahkan di pasar internasional. Harga Equil yang berkisar antara Rp28.000 hingga Rp49.000 per botol mencerminkan seluruh proses dan nilai yang ada di baliknya, mulai dari sumber mata air berkualitas, proses produksi yang ketat, kemasan yang dirancang secara khusus, hingga standar internasional yang konsisten dijaga. Semua faktor itu membentuk harga yang kamu bayar saat memilih Equil.

SELENGKAPNYA
Marketing Aldi Taher: Cara Jualan Burger yang Absurd tapi Bikin Viral

Marketing Aldi Taher: Cara Jualan Burger yang Absurd tapi Bikin Viral

Ada kalimat yang belakangan ini sering muncul tiba-tiba di kolom komentar Instagram, Threads, sampai X: “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya Juicy Luicy Mahalini Rizky Febian bisa pesen online.” Kalimat ini panjang, random, dan terkesan ngaco. Tapi begitu kamu baca satu kali, susah lupa. Itulah inti dari strategi marketing Aldi Taher yang berhasil membuat Aldis Burger, gerai burger miliknya yang buka di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, jadi perbincangan di hampir semua platform media sosial dalam waktu singkat. Tanpa iklan berbayar, tanpa endorsement. Hanya dari komentar-komentar absurd yang dia tulis sendiri setiap hari. Artikel ini mengupas tuntas bagaimana strategi itu bekerja, mengapa efektif, dan apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini. Marketing Aldi’s Burger Aldis Burger resmi buka pada 23 Januari 2026. Sejak hari pertama, Aldi tidak menggunakan cara promosi yang biasa dilakukan pebisnis kuliner kebanyakan: tidak ada artis yang diendorse, tidak ada iklan di billboard, tidak ada target audiens yang ditembak lewat paid ads. Yang ia lakukan adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan siapa pun di media sosial: menulis komentar.  Kalimat itu menggabungkan deskripsi produk dengan nama-nama artis secara tiba-tiba, sehingga terasa lucu dan di luar ekspektasi. Kata “juicy” untuk mendeskripsikan dagingnya diplesetnnya jadi “Juicy Luicy”, nama band indie terkenal, lalu disambung dengan nama Mahalini dan Rizky Febian dalam satu napas. Hasilnya: kalimat yang terdengar absurd tapi justru bikin orang berhenti scroll. Tanpa endorse artis, burgernya langsung viral. Sejak hari-hari awal pembukaan, burger ini langsung diserbu pembeli hingga sempat kehabisan stok dan tutup lebih awal karena membludaknya pesanan. Elemen-Elemen di Balik Marketing Aldi Taher Kalau dilihat lebih dalam, strategi Aldi bukan sekadar asal-asalan. Ada beberapa lapisan yang saling mendukung dan membuat pendekatan ini bekerja. 1. Nama Artis sebagai Hook yang Efektif Menyisipkan nama Juicy Luicy, Mahalini, dan Rizky Febian dalam kalimat promosi. Nama-nama populer itu berfungsi sebagai scroll-stopper: ketika seseorang melihat nama artis favorit mereka di tengah kalimat yang tidak terduga, mereka otomatis berhenti dan membaca. Efeknya cukup signifikan. Orang yang melihat nama artis akan berhenti scrolling, membaca komentar, lalu menyadari bahwa itu adalah promosi burger. Strategi ini juga memicu rasa penasaran sekaligus hiburan, karena format kalimatnya terasa random dan tidak biasa. 2. Konten AI yang Kreatif dan Tidak Terduga Aldi juga memanfaatkan kreativitas digital dalam promosinya. Ia menggunakan teknologi AI untuk membuat konten editan unik, termasuk menggabungkan foto musisi idolanya, Liam Gallagher dan Noel Gallagher, seolah-olah ikut mempromosikan produknya. Konten semacam ini jelas bukan iklan biasa. Ia lebih dekat dengan format meme, yang secara alami lebih mudah menyebar dan direspons dengan positif oleh pengguna media sosial karena terasa menghibur, bukan menjual. 3. Persona “Asbun” yang Konsisten Salah satu kekuatan terbesar Aldi bukan cuma kontennya, tapi karakternya yang konsisten. Ia tampil dengan persona yang santai, tidak kaku, dan sering memberi jawaban di luar ekspektasi. Contoh paling ikonik: ketika ditanya soal burgernya, ia pernah bilang “Semua burger milik Allah.” Jawaban yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan, tapi justru bikin orang tertawa dan makin penasaran. Kalimat seperti “Aldis burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy…” hingga yang lebih nyeleneh seperti “semua burger milik Allah” menjadi bahan perbincangan di dunia maya. Persona ini membuat setiap konten Aldi terasa autentik, bukan terasa seperti iklan yang diproduksi oleh tim kreatif. Dan di era media sosial, keaslian itu nilainya sangat tinggi. Ketika Artis yang Disebut Ikut Merespons Efek paling tidak terduga dari strategi ini adalah respons organik dari para artis yang namanya disebutkan. Mahalini mengunggah ulang promosi Aldi di Instagram Story dan memberikan tanggapan santai: “Stop capek wkwkwk,” tulisnya, menunjukkan bahwa ia tidak merasa keberatan dengan gaya promosi yang mencatut namanya. Respons Mahalini, meski bernada bercanda, justru memperluas jangkauan konten Aldi ke basis penggemar Mahalini yang jauh lebih besar.  Ini adalah earned media yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun: orang lain menyebarkan kontenmu secara sukarela karena mereka merasa terlibat atau terhibur. Brand Besar Ikut Nimbrung Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika brand-brand besar mulai merespons, bahkan mempromosikan balik Aldis Burger. Aldi Taher sendiri yang memulai ini dengan cara yang tidak lazim: ketika stoknya habis, alih-alih meminta pelanggan menunggu atau datang esok hari, ia justru secara terbuka merekomendasikan kompetitornya. Menariknya, jika dagangannya habis, Aldi justru secara sukarela mempromosikan merek burger milik kompetitor agar para pembeli tetap bisa makan.  “Makanya saya bilang nanti kalau misal ini habis burgernya, teman-teman masih pengen makan burger, di sini kan ada Bangor Burger, ada Niki’s Burger, ada Burger King, Bar Burger, Burger Blenger, Lawless, ya pokoknya Yupi Burger,” kata Aldi. Sikap ini justru membuat publik semakin simpati. Dan Burger King pun merespons dengan cara yang tidak kalah mengesankan. Burger King Indonesia mengucapkan terima kasih di akun Instagram resmi mereka dan mempromosikan balik Aldi’s Burger. “Terima kasih @alditaher.official sudah mengajak pelanggannya untuk membeli Burger King ya saat @aldis.burger libur Lebaran. Karena semua burger milik Allah,” tulis caption tersebut, mengutip kalimat yang sering diucapkan Aldi. Seorang netizen di X bahkan mengomentari momen ini dengan cukup tepat: “Cuma @alditaher_indo yang bisa bikin UMKM collab sama brand dengan nilai valuasi IDR 3.6 Triliun. Marketing masterclass yang ga bisa dipelajari di buku manapun.” Gerai pizza di dekat lokasi Aldis Burger di Cempaka Putih bahkan memasang penunjuk arah menuju kedai Aldi.  Bukan karena diminta, tapi karena merasa vibrasi positif dari cara Aldi berbisnis. Aldi’s Burger Goes to Panggung Pestapora Perjalanan Aldis Burger dari satu kolom komentar sederhana ke salah satu festival musik terbesar di Indonesia berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan, dalam sehari, penjualan Aldi’s Burger disebut bisa mencapai hingga 600 porsi. Popularitas tersebut membuat usahanya dilirik oleh berbagai pihak.  Salah satunya datang dari penyelenggara festival musik Pestapora, Kiki Aulia Ucup. Aldi mengunggah tangkapan layar percakapan yang menunjukkan dirinya diundang untuk membuka tenant di festival musik hits tersebut pada 25-27 September 2026. Ini bukan pencapaian kecil. Pestapora adalah festival musik berbayar dengan line-up artis bergengsi yang setiap tahunnya dihadiri ribuan orang.  Fakta bahwa sebuah gerai burger yang baru buka beberapa bulan bisa mendapat undangan ke sana adalah bukti nyata bahwa viralitas yang dibangun Aldi bukan sekadar keramaian sesaat. Aldi juga telah diajak bekerja sama oleh Kahf untuk kolaborasi bersama

SELENGKAPNYA
Indonesia Gandeng China, UMKM Disiapkan Masuk Ekosistem Industri Global

Indonesia Gandeng China, UMKM Disiapkan Masuk Ekosistem Industri Global

Menjadi Pengaruh – Pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui integrasi ke rantai pasok global, termasuk China. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing dan memperluas akses pasar UMKM nasional. “Dalam memperkuat kerja sama Indonesia–China khususnya dalam pengembangan UMKM, saya ingin memperkuat integrasi UMKM Indonesia ke dalam rantai pasok global termasuk China dan pengembangan klaster industri,” kata Maman dalam acara Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026 di Beijing, Rabu (1/4). Maman menekankan bahwa integrasi UMKM ke dalam jaringan produksi regional menjadi kunci untuk meningkatkan skala usaha dan efisiensi. Ia menyebut, UMKM perlu masuk ke ekosistem industri yang lebih terstruktur melalui kemitraan strategis dan pengembangan klaster berbasis sektor. Selain integrasi rantai pasok, pemerintah juga membuka peluang kerja sama investasi dan transfer teknologi dengan China. Menurut Maman, modernisasi UMKM membutuhkan dukungan teknologi, pembiayaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sektor yang ditawarkan mencakup manufaktur, industri pengolahan, hingga teknologi digital dan manufaktur cerdas. Pemerintah juga mendorong penguatan kebijakan dan kerja sama kelembagaan agar kolaborasi berjalan lebih terukur dan berdampak. “Forum ini diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama jangka panjang yang lebih sistematis dan terlembaga antara Indonesia dan China dalam pengembangan UMKM,” ujar Maman. Sementara itu, Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun menegaskan posisi China sebagai mitra dagang utama Indonesia. Nilai perdagangan bilateral kedua negara disebut telah mendekati 168 miliar dolar AS, menjadikannya yang terbesar bagi Indonesia. Ia juga menyoroti besarnya peluang investasi di Indonesia, didukung jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa serta posisi sebagai ekonomi terbesar di ASEAN. Dalam konteks global, menurutnya, pergeseran geoekonomi yang mengarah ke Asia membuka peluang bagi Indonesia, China, dan kawasan ASEAN untuk menjadi pusat pertumbuhan baru. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dengan kontribusi 61,9 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Langkah integrasi ini menunjukkan pergeseran pendekatan pemerintah dari sekadar pemberdayaan UMKM ke arah industrialisasi dan globalisasi. Namun, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada kesiapan UMKM dalam memenuhi standar industri, adopsi teknologi, serta kemampuan menjaga daya saing di tengah dominasi pemain global.

SELENGKAPNYA
Moell: Marketing Skincare Anak Lokal yang Menang di Pasar

Moell: Marketing Skincare Anak Lokal yang Menang di Pasar

Kalau kamu sedang mencari produk perawatan kulit yang aman untuk si kecil, nama Moell mungkin sudah pernah muncul di linimasa media sosialmu atau di rekomendasi sesama orang tua.  Tapi yang menarik, Moell tidak tumbuh besar karena konten viral yang tiba-tiba meledak. Brand skincare anak asal Surabaya ini justru memilih jalur yang lebih pelan dan lebih solid, yaitu membangun kepercayaan lewat kualitas produk, riset ilmiah, dan pendekatan komunitas. Hasilnya cukup berbicara sendiri. Hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan pada 2022, Moell telah menjadi brand skincare anak terlaris di eCommerce Indonesia dengan market share mencapai 17,6% menurut Compas tahun 2024.  Di tengah persaingan yang dipenuhi brand impor dan ratusan produk lokal lainnya, angka itu bukan hal kecil. Artikel ini akan membahas secara lengkap siapa di balik Moell, bagaimana strategi bisnis yang dijalankan, dan mengapa pendekatan mereka bisa jadi pelajaran penting. Sejarah Skincare Anak Moell Moell didirikan oleh pasangan asal Surabaya, Jonathan dan Uung. Keduanya bukan orang baru di dunia produk berbasis komunitas ibu dan anak.  Sebelumnya, mereka sukses membangun brand Mom Uung, suplemen ASI booster yang digandrungi para ibu muda. Jejaring komunitas pejuang ASI inilah yang menjadi titik awal mereka menyadari ada kebutuhan lebih besar, yaitu perawatan kulit anak yang tidak hanya efektif tapi juga terjangkau. Dari pengalaman itu, Jonathan dan Uung belajar bahwa kebutuhan nyata orang tua jauh lebih penting daripada tren pasar yang datang dan pergi.  Mereka melihat bahwa produk skincare anak yang ada di pasar kebanyakan menawarkan dua pilihan yang kurang memuaskan: produk murah tapi kandungannya meragukan, atau produk impor yang kualitasnya lebih terjamin tapi harganya di luar jangkauan kebanyakan keluarga Indonesia. Dari situlah lahir visi Moell: menghadirkan produk aman dan lembut untuk bayi dan anak, dengan formulasi yang dikerjakan bersama dokter spesialis anak dan dokter kulit, berbahan alami, bebas alkohol, hypoallergenic, dan non-toxic sejak newborn. Proses Riset Moell yang Tidak Instan Salah satu hal yang membedakan Moell dari banyak brand skincare anak lainnya adalah komitmen mereka dalam proses pengembangan produk.  Mereka mengembangkan formula bersama dokter anak dan dokter kulit selama 1,5 tahun sebelum meluncurkan Moell. Proses itu bukan sekadar formalitas. Hasilnya adalah serangkaian produk yang benar-benar dirancang memahami karakteristik unik kulit bayi dan anak.  Kulit bayi dan anak jauh lebih tipis dan rentan dibandingkan kulit orang dewasa.  Paparan sinar matahari, panas, dan UV bisa menyebabkan kulit bayi menjadi merah, iritasi, kering, kusam, bahkan meningkatkan risiko kerusakan kulit jangka panjang. Untuk menjawab persoalan tersebut, Moell berinovasi dengan teknologi modern seperti Micro-biome Technology, ceramide kompleks, plant-based probiotic, dan bahan aktif natural yang terbukti efektif dan aman untuk bayi. Formula Moell bahkan sudah tersertifikasi oleh Ecocert, sebuah lembaga sertifikasi internasional untuk produk organik dan natural, dan dikembangkan oleh tim yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter kulit, dan mikrobiologis. Apa Itu Microbiome Technology dalam Produk Moell? Kamu mungkin sering mendengar kata “microbiome” tapi belum terlalu paham maksudnya dalam konteks produk perawatan kulit anak. Sederhananya, kulit manusia, termasuk kulit bayi, dihuni oleh jutaan mikroorganisme yang sebagian besar bersifat menguntungkan dan membantu menjaga keseimbangan kulit. Menurut dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE, yang berperan sebagai Medical Doctor Moell, kulit anak memiliki ekosistem mikrobioma yang masih sangat rapuh.  Penggunaan teknologi microbiome dapat membantu menjaga keseimbangan alami kulit, sehingga tidak hanya melindungi kulit anak yang sensitif, tetapi juga menutrisinya. Teknologi Micro-biome pada produk Moell bekerja membantu menyeimbangkan bakteri baik pada kulit, yang sangat bermanfaat untuk bayi dan anak yang memiliki kulit sensitif, mudah kering, atau rentan iritasi. Dengan kata lain, produk Moell tidak hanya memberi lapisan perlindungan dari luar, tapi juga membantu menjaga ekosistem alami kulit bayi tetap dalam kondisi seimbang. Strategi Harga yang Menabrak Persepsi Pasar Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari orang tua adalah: “Kalau kualitasnya segitu, pasti mahal dong?” Pertanyaan itu wajar, karena selama ini banyak produk skincare anak berkualitas tinggi identik dengan harga yang cukup tinggi, terutama produk impor. Moell menabrak persepsi tersebut dengan strategi pemanfaatan bahan lokal berkhasiat tinggi serta efisiensi produksi yang cerdas.  Hasilnya, Moell mampu menghadirkan produk lokal dengan kualitas global namun tetap ramah di kantong, menjadi daya tarik utama bagi keluarga muda Indonesia yang menginginkan produk aman dan efektif tanpa harus menguras dompet. Pendekatan ini sejalan dengan kondisi pasar skincare Indonesia secara umum. Pasar skincare di Indonesia tumbuh pesat, didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap bahan-bahan produk dan efektivitasnya.  Konsumen Indonesia kini semakin kritis dan memilih produk yang transparan soal kandungan dan aman bagi kesehatan kulit. Dengan kata lain, Moell muncul di waktu yang tepat dengan pendekatan yang tepat pula. Membangun dari Komunitas, Bukan dari Iklan Strategi Moell tidak bertumpu pada iklan berbayar yang masif atau sekadar memburu konten viral. Sejak awal, Jonathan dan Uung membangun brand ini dari komunitas yang sudah ada. Komunitas yang dibangun sejak brand sebelumnya, Mom Uung, turut memperkuat loyalitas konsumen. Seiring dengan pengembangan produk, Jonathan dan Uung juga fokus pada edukasi konsumen. Mereka berupaya memahami kebutuhan kulit anak dan menyusun formulasi yang relevan. Moell hadir melalui media sosial, komunitas parenting, webinar, dan konten edukatif agar orang tua mendapatkan informasi yang tepat terkait perawatan kulit bayi dan anak. Pendekatan berbasis edukasi ini membangun kepercayaan yang lebih dalam dibandingkan sekadar eksposur brand.  Orang tua yang paham mengapa suatu produk aman cenderung lebih loyal dan lebih aktif merekomendasikan ke sesama orang tua lainnya. Dalam sebuah wawancara, Jonathan menegaskan filosofi yang mendasari strategi mereka: “Kami ingin menciptakan produk yang bisa menjual dirinya sendiri lewat pengalaman nyata konsumen, bukan sekadar FYP di media sosial.” Platform Digital sebagai Mesin Pertumbuhan Kesadaran akan pentingnya kehadiran digital mendorong Jonathan dan Uung untuk memilih platform eCommerce sebagai jalur distribusi utama. Sejak awal bergabung pada 2023, Moell telah menjadi bagian dari LazMall. Lewat berbagai fitur seperti Gratis Ongkir, Voucher Toko, dan program afiliasi LazAffiliate, Moell mampu menjangkau konsumen baru tanpa harus membakar biaya pemasaran secara besar-besaran.  Ditambah lagi, fitur Bisnis Analis di Seller Center Lazada membantu mereka memahami perilaku konsumen dan melakukan segmentasi serta retargeting secara lebih presisi. Chief Business Officer Lazada Indonesia, Stefan Winata, menyebut bahwa Moell merupakan salah satu wujud keberhasilan dari perpaduan kualitas dan strategi pemasaran digital yang tepat sasaran. Dengan kata lain, pertumbuhan Moell

SELENGKAPNYA
Studi Kasus Merek Restoran Padang "Pagi Sore" Merah dan Hijau

Studi Kasus Merek Restoran Padang “Pagi Sore” Merah dan Hijau

Sebagian orang mungkin pernah melihat dua restoran Padang dengan nama yang sama, yaitu RM Pagi Sore. Jika diperhatikan lebih dekat, ada restoran Pagi Sore yang menggunakan logo merah, dan ada juga yang memakai logo hijau. Kedua restoran ini sama-sama dikenal luas oleh masyarakat dan sama-sama menggunakan nama Pagi Sore. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan pelanggan. Banyak orang ingin tahu apakah kedua restoran tersebut masih berada dalam satu manajemen atau sebenarnya sudah berbeda. Ada juga yang mengira salah satunya merupakan tiruan dari yang lain. Kenyataannya, keberadaan dua restoran Pagi Sore ini berkaitan dengan perjalanan bisnis para pendirinya dan perubahan struktur usaha yang terjadi setelah puluhan tahun mereka bekerja sama.  Selain itu, fenomena ini juga dapat dipahami melalui sudut pandang hukum merek di Indonesia, yang mengatur hak penggunaan sebuah nama dagang dalam kegiatan usaha. Artikel ini menjelaskan secara lengkap sejarah berdirinya restoran Pagi Sore, proses pecah kongsi yang terjadi di antara para pendirinya, serta alasan mengapa dua bisnis berbeda masih menggunakan nama yang sama. Sejarah Berdirinya Rumah Makan Pagi Sore Restoran RM Pagi Sore pertama kali didirikan pada tahun 1973 di Palembang, Sumatera Selatan. Restoran ini dirintis oleh dua sahabat yang berasal dari Sumatera Barat, yaitu H. Lismar dan H. Sabirin. Keduanya datang ke Palembang sebagai perantau dan membuka usaha rumah makan yang menyajikan masakan khas Minangkabau.  Pada masa awal berdiri, usaha tersebut masih berskala kecil dan melayani pelanggan di lingkungan sekitar. Menu yang disajikan tidak jauh berbeda dengan rumah makan Padang pada umumnya. Beberapa hidangan yang tersedia antara lain rendang, gulai ayam, ayam pop, sambal hijau, dan berbagai lauk khas Minang lainnya.  Karena rasa makanan yang dianggap sesuai dengan selera pelanggan serta pelayanan yang cukup baik, restoran ini mulai dikenal oleh masyarakat Palembang. Seiring waktu, jumlah pelanggan meningkat. Usaha yang awalnya sederhana kemudian berkembang dan mulai membuka cabang baru di beberapa wilayah di Sumatera Selatan. Perkembangan Usaha Pagi Sore Dalam beberapa dekade pertama sejak berdiri, restoran Pagi Sore mengalami pertumbuhan yang cukup stabil. Kedua pendirinya bekerja sama dalam mengelola operasional restoran, mengembangkan menu, serta memperluas jangkauan usaha. Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa cabang baru dibuka untuk menjangkau pelanggan di daerah lain.  Dengan semakin banyaknya cabang, nama Pagi Sore semakin dikenal oleh masyarakat di Palembang dan sekitarnya. Selain itu, restoran ini juga mulai dikenal sebagai rumah makan Padang yang memiliki konsep tempat makan yang lebih rapi dan nyaman dibanding sebagian rumah makan tradisional lainnya. Hal ini membantu restoran Pagi Sore menarik lebih banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Setelah berjalan lebih dari tiga puluh tahun, bisnis yang mereka bangun bersama telah berkembang menjadi usaha yang cukup besar. Perpisahan Bisnis pada Tahun 2003 Sekitar tahun 2003, hubungan kerja sama antara kedua pendiri restoran ini mengalami perubahan. H. Lismar dan H. Sabirin memutuskan untuk tidak lagi mengelola usaha dalam satu manajemen. Situasi ini dikenal dalam dunia usaha sebagai pecah kongsi, yaitu kondisi ketika dua atau lebih pemilik bisnis memutuskan untuk menjalankan usaha secara terpisah. Informasi mengenai alasan perpisahan tersebut tidak dijelaskan secara rinci kepada publik. Dalam banyak kasus usaha keluarga atau usaha yang dimiliki bersama oleh beberapa orang, perubahan seperti ini bisa terjadi karena perbedaan cara mengelola bisnis, perbedaan rencana pengembangan usaha, atau dinamika hubungan di antara para pemilik. Setelah keputusan untuk berpisah diambil, masing-masing pihak melanjutkan usaha restoran secara mandiri. Muncul Dua Restoran Pagi Sore Setelah perpisahan tersebut, kedua pihak tetap menjalankan usaha restoran dengan menggunakan nama Pagi Sore. Meskipun namanya sama, identitas visual dan pengelolaan bisnisnya menjadi berbeda. Perbedaan ini terlihat dari warna logo, slogan, dan struktur manajemen masing-masing restoran. a. Pagi Sore dengan Logo Merah Restoran Pagi Sore yang menggunakan logo berwarna merah, kuning, dan hijau dikelola oleh keluarga H. Sabirin. Restoran ini dikenal dengan slogan “Jagonya Rendang”. Beberapa cabang restoran dengan identitas ini kemudian dibuka di sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Palembang. Pengembangan usaha dilakukan dengan menambah jumlah cabang dan memperluas jangkauan pelanggan di berbagai wilayah. b. Pagi Sore dengan Logo Hijau Sementara itu, bisnis yang dikelola oleh keluarga H. Lismar menggunakan identitas yang berbeda. Nama yang digunakan adalah RM Padang Pagi Sore Khas Minang. Logo yang digunakan didominasi warna hijau, putih, dan kuning. Usaha ini juga membuka cabang di beberapa daerah dan tetap menyajikan menu khas Minangkabau seperti yang dikenal oleh pelanggan sejak awal berdirinya restoran. Apakah Salah Satunya Palsu? Sebagian orang mungkin mengira bahwa salah satu restoran Pagi Sore merupakan tiruan dari yang lain.  Namun dalam kenyataannya, kedua restoran tersebut berasal dari usaha yang sama pada awalnya. Nama Pagi Sore pertama kali digunakan ketika kedua pendiri masih menjalankan usaha bersama sejak tahun 1973. Setelah mereka berpisah, masing-masing pihak tetap merasa memiliki keterkaitan dengan nama tersebut. Karena itu, kedua pihak tetap menggunakan nama Pagi Sore dalam kegiatan usaha mereka, meskipun identitas visual dan pengelolaan bisnisnya berbeda. Penjelasan dari Sudut Pandang Hukum Merek Fenomena penggunaan nama yang sama oleh dua usaha berbeda dapat dipahami melalui aturan mengenai merek dagang. Di Indonesia, perlindungan merek diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa merek merupakan tanda yang digunakan untuk membedakan barang atau jasa yang diproduksi oleh seseorang atau badan usaha dari produk lainnya. Pemilik merek yang telah mendaftarkan mereknya secara resmi memperoleh hak eksklusif untuk menggunakan merek tersebut dalam kegiatan perdagangan. Hak ini juga memberikan dasar hukum bagi pemilik merek untuk melindungi identitas usahanya dari penggunaan oleh pihak lain tanpa izin. Mengapa Nama Bisnis yang Sama Masih Digunakan? Dalam praktik usaha, terdapat beberapa kondisi yang memungkinkan dua pihak tetap menggunakan nama bisnis yang sama. Pertama, merek tersebut mungkin dibangun bersama sejak awal oleh lebih dari satu orang. Jika tidak ada kesepakatan tertulis yang mengatur kepemilikan merek secara rinci, setiap pihak bisa merasa memiliki hak atas nama tersebut. Kedua, usaha yang dimulai secara informal sering kali belum memiliki dokumen perjanjian yang mengatur hak dan kewajiban para pemilik. Ketika usaha berkembang menjadi lebih besar, barulah muncul pertanyaan mengenai kepemilikan merek. Ketiga, tidak semua bisnis langsung mendaftarkan merek pada tahap awal pendirian usaha. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidakjelasan mengenai siapa yang berhak menggunakan nama tersebut ketika terjadi perubahan dalam struktur kepemilikan usaha.

SELENGKAPNYA
Mengapa Indomie Salted Egg Dihentikan Produksinya? Analisis dari Sisi Bisnis

Mengapa Indomie Salted Egg Dihentikan Produksinya? Analisis dari Sisi Bisnis

Indomie Salted Egg sempat ramai dibicarakan pada 2018. Tapi sekitar 2021, varian ini perlahan menghilang dari pasaran.  Banyak yang bertanya-tanya: apakah produknya gagal, atau ada alasan lain di balik keputusan ini?  Sebelum masuk ke pembahasan, penting untuk memahami bahwa produk discontinue bukan berarti produk yang gagal total.  Di industri FMCG, menghentikan varian yang tidak lagi relevan adalah bagian dari strategi bisnis yang normal.  Menurut data Nielsen FMCG Report (2022), sekitar 60 hingga 80 persen produk baru di kategori makanan dan minuman tidak bertahan melewati tahun ketiga setelah peluncuran.  Indomie Salted Egg yang bertahan dari 2018 hingga 2021 sebenarnya sudah melewati batas rata-rata tersebut. Artikel ini membahas secara menyeluruh mengapa produk tersebut dihentikan. 1. Tren sesaat yang cepat berlalu Salted egg atau telur asin menjadi tren kuliner yang sangat besar di Asia Tenggara mulai 2016–2017. Di Indonesia, tren ini meledak pada 2017–2018 dengan ratusan produk dari berbagai merek menggunakannya, mulai dari keripik, croissant, hingga saus kemasan.  Indomie merespons dengan cepat dan meluncurkan varian Salted Egg di tengah puncak tren tersebut sebagai bagian dari lini Premium Collection. Masalah utama dari strategi ini adalah sifat tren kuliner di era media sosial yang naik sangat cepat, tapi turunnya juga sama cepatnya.  Begitu perbincangan di media sosial berpindah ke tren berikutnya, minat terhadap produk salted egg ikut menurun drastis.  Konsumen yang tadinya antusias kembali ke pilihan lama yang sudah mereka percaya. Indomie sebagai perusahaan yang sangat berpengalaman di pasar mi instan tentu memahami risiko ini.  Peluncuran varian Salted Egg kemungkinan besar memang didesain untuk memanfaatkan momentum tren jangka pendek, bukan sebagai varian inti yang dipertahankan selamanya. 2. Rasa yang tidak cocok untuk konsumsi harian Salted egg punya profil rasa yang sangat berbeda dari mi instan pada umumnya: creamy, gurih berat, dan punya aroma khas yang cukup kuat.  Untuk dicoba sekali atau dua kali, rasa ini terasa menarik dan unik. Namun, untuk dimakan beberapa kali seminggu seperti kebiasaan konsumsi mi instan pada umumnya, rasanya cenderung cepat membuat enek. Ini bukan soal rasa yang buruk. Ini soal kesesuaian rasa dengan pola konsumsi. Varian-varian Indomie yang bertahan lama seperti Goreng Spesial, Soto Ayam, atau Mie Goreng punya profil rasa yang familier dan tidak mudah membuat jenuh. I Indomie Salted Egg tidak memiliki karakteristik ini, sehingga frekuensi pembelian ulangnya jauh lebih rendah. Pola ini sangat berbeda dari produk andalan Indomie yang bisa dimakan nyaris setiap hari. Frekuensi konsumsi yang rendah otomatis berdampak pada volume penjualan jangka panjang yang jauh lebih kecil, sebuah masalah yang fatal di industri FMCG. 3. Dinamika siklus hidup produk dan strategi portofolio Dalam teori pemasaran, setiap produk melewati empat tahap siklus hidup: pengenalan, pertumbuhan, kematangan, dan penurunan.  Indomie Salted Egg melewati semua tahap ini dalam waktu yang sangat singkat, sekitar tiga tahun, karena pertumbuhannya ditopang tren, bukan permintaan organik yang stabil. Ketika sebuah produk memasuki fase penurunan, perusahaan harus memutuskan apakah akan mempertahankan, meremajakan, atau menghentikannya.  Dalam banyak kasus, menghentikan produk yang sudah lesu adalah keputusan yang paling efisien.  Dengan begitu, ruang di rak distribusi bisa diisi produk yang lebih relevan. Indomie tercatat memiliki lebih dari 140 varian yang pernah diluncurkan di berbagai pasar. Tidak semua dipertahankan selamanya. Melalui seri HypeAbis, Indomie aktif meluncurkan varian baru yang mengikuti selera pedas masyarakat Indonesia saat ini, seperti Ayam Geprek dan Rendang.  Ketika varian-varian baru ini masuk, Indomie Salted Egg secara natural tersingkir dari prioritas distribusi. Menghentikan produk bukan tanda kekalahan. Ini adalah tanda bahwa perusahaan mengelola portofolionya dengan baik, mengalokasikan sumber daya hanya untuk produk yang memberikan imbal hasil terbaik. 4. Biaya produksi yang tidak sebanding dengan penjualan Membuat mi instan dengan rasa salted egg yang autentik membutuhkan bahan baku yang lebih mahal dari varian standar.  Bubuk telur asin, minyak esensial, dan komponen rasa lainnya harus memiliki kualitas tertentu agar rasanya konsisten di setiap bungkus yang diproduksi. Di sisi lain, ada batas atas harga yang bisa diterima konsumen untuk sebuah bungkus mi instan, seberapapun premiumnya. Jika harga jual tidak bisa dinaikkan cukup tinggi untuk menutupi biaya produksi yang lebih mahal, sementara volume penjualan terus menurun, margin keuntungan produk ini menjadi sangat tipis atau bahkan negatif. Dalam kondisi seperti ini, menghentikan produksi adalah keputusan bisnis yang sepenuhnya rasional.  Sumber daya, kapasitas produksi, dan anggaran pemasaran yang sebelumnya dialokasikan untuk Indomie Salted Egg bisa dialihkan ke varian lain yang memberikan keuntungan lebih baik dan permintaan yang lebih stabil. Peran Produk Eksperimental dalam Inovasi Brand Selain sebagai respon terhadap tren pasar, varian seperti Indomie Salted Egg juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi inovasi produk.  Dalam industri makanan cepat saji, perusahaan sering meluncurkan varian eksperimental untuk menguji reaksi pasar terhadap rasa baru. Bagi perusahaan sebesar Indofood sebagai produsen Indomie, peluncuran varian baru tidak selalu bertujuan menciptakan produk jangka panjang.  Beberapa produk justru berfungsi sebagai “test market” untuk melihat bagaimana konsumen merespons konsep rasa tertentu. Dari proses ini, perusahaan dapat memperoleh berbagai insight penting, seperti preferensi rasa konsumen, tingkat penerimaan harga premium, hingga potensi inovasi rasa yang dapat dikembangkan di masa depan.  Informasi ini kemudian menjadi dasar bagi pengembangan varian baru yang lebih sesuai dengan selera pasar. Dengan kata lain, produk seperti Indomie Salted Egg juga berperan sebagai inovasi bagi brand.  Walaupun tidak selalu bertahan lama di pasar, produk-produk ini membantu perusahaan memahami arah perkembangan selera konsumen dan menjaga citra brand tetap inovatif di mata publik. Kesimpulan Kasus Indomie Salted Egg menunjukkan bahwa sebuah produk bisa saja sangat populer di awal, tapi tetap tidak bertahan lama di pasar. Hal ini bukan selalu berarti produknya gagal.  Dalam industri makanan cepat saji, perubahan tren, selera konsumen, hingga pertimbangan bisnis sering kali membuat perusahaan perlu memperbarui portofolio produknya. Sebagai brand yang dikelola oleh Indofood, Indomie memang dikenal terus menghadirkan berbagai varian baru.  Beberapa di antaranya menjadi produk legendaris yang bertahan lama, sementara yang lain hadir untuk merespons tren atau memberi pengalaman rasa yang berbeda bagi konsumen. Pada akhirnya, keberadaan Indomie Salted Egg tetap menjadi bagian dari perjalanan inovasi brand. Walaupun sekarang sudah tidak diproduksi lagi, varian ini masih diingat banyak orang dan justru itu yang membuatnya terasa spesial bagi para penggemarnya.

SELENGKAPNYA
Kapan Perpanjangan dan Pembaruan PIRT? Lengkap dengan Biayanya

Kapan Perpanjangan dan Pembaruan PIRT? Lengkap dengan Biayanya

Bagi kamu yang menjalankan usaha makanan atau minuman rumahan dan sudah memegang Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) atau yang lazim disebut PIRT, ada satu hal yang perlu selalu diingat: masa berlaku sertifikat tersebut. PIRT bukan izin permanen. Sertifikat ini memiliki batas waktu yang jelas, dan ketika masa berlakunya habis tanpa diperpanjang, produkmu tidak lagi boleh diedarkan secara sah di pasaran. Skala usaha seperti milikmu tergolong besar dalam peta ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per 31 Desember 2024, sektor akomodasi, makanan, dan minuman tercatat memiliki lebih dari 6,4 juta unit usaha yang terdaftar. Artinya, jutaan pelaku usaha pangan perlu memastikan legalitas produknya terus aktif. Sayangnya, masih banyak yang belum melakukannya. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebutkan bahwa dari sekitar 10.000 usaha yang bergerak di sektor pangan, baru sekitar 6.000 UMKM pangan olahan yang tercatat secara resmi. Angka ini menggambarkan masih besarnya kelompok pelaku usaha yang belum memenuhi kewajiban legalitas produk mereka. Kabar yang perlu kamu ketahui adalah proses perpanjangan PIRT kini sudah jauh lebih praktis. Sejak sistem perizinan beralih ke platform digital melalui Online Single Submission Berbasis Risiko (OSS RBA) dan situs resmi sppirt.pom.go.id, pelaku usaha tidak perlu lagi datang dan mengantre di kantor Dinas Kesehatan. Semua proses bisa diselesaikan secara daring, dari mana saja, tanpa batasan waktu. Artikel ini membahas secara lengkap tata cara perpanjangan dan pembaruan PIRT, mulai dari ketentuan masa berlaku, daftar dokumen yang dibutuhkan, panduan pengajuan secara online, hingga aturan terbaru yang perlu kamu pahami. Perpanjangan dan Pembaruan PIRT Sebelum membahas prosedurnya, penting untuk memahami perbedaan antara perpanjangan dan pembaruan PIRT, karena keduanya memiliki konteks yang berbeda meski sering dianggap serupa. Perpanjangan PIRT dilakukan ketika masa berlaku sertifikat sudah mendekati tanggal berakhir, sementara tidak ada perubahan apapun pada data usaha maupun produk. Tujuan perpanjangan hanya untuk memperbarui periode berlakunya sertifikat agar kegiatan usaha tetap berjalan di jalur yang sah. Pembaruan PIRT dilakukan ketika terjadi perubahan data, misalnya pergantian nama produk, perubahan komposisi bahan, penyesuaian desain kemasan, perubahan berat bersih, atau perpindahan alamat usaha.  Dasar hukum untuk kedua proses ini adalah Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Regulasi ini mengatur syarat penerbitan, perpanjangan, dan pembaruan sertifikat PIRT di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja beserta turunannya yakni Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, seluruh proses perizinan usaha termasuk PIRT kini sudah terintegrasi ke dalam sistem OSS RBA. Pengurusan PIRT tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari satu sistem perizinan usaha yang terpadu. Masa Berlaku PIRT dan Kapan Harus Diperpanjang Masa berlaku PIRT ditentukan berdasarkan karakteristik produk, sehingga tidak sama untuk setiap jenis pangan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku: Pengajuan perpanjangan sebaiknya dilakukan sebelum masa berlaku sertifikat berakhir agar tidak terjadi jeda waktu tanpa sertifikat aktif. Apabila sertifikat sudah habis dan belum diperpanjang, secara hukum kamu tidak diperbolehkan mengedarkan produk hingga sertifikat baru resmi terbit. Prof. Dr. Ratih Dewanti-Hariyadi, M.Sc., pakar keamanan pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menegaskan pentingnya kepatuhan pelaku industri pangan rumahan terhadap regulasi perizinan. Menurutnya, sertifikasi pangan bukan sekadar urusan administratif, melainkan bentuk tanggung jawab produsen dalam menjaga keamanan konsumen  Produk yang beredar tanpa izin aktif tidak dapat dipastikan telah memenuhi standar keamanan pangan yang ditetapkan pemerintah. (Sumber: Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB University) Dokumen untuk Perpanjangan PIRT Sebelum memulai proses pengajuan perpanjangan, pastikan seluruh dokumen berikut sudah tersedia dan dalam kondisi terkini: 1. Nomor Induk Berusaha (NIB) terbaru dari OSS RBA NIB merupakan identitas resmi usahamu dalam sistem perizinan pemerintah. Jika ada perubahan alamat atau nama usaha, NIB harus diperbarui terlebih dahulu melalui oss.go.id sebelum proses perpanjangan PIRT dapat dilanjutkan. 2. Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) Sertifikat ini membuktikan bahwa pemilik usaha telah mengikuti pelatihan keamanan pangan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan. Apabila sertifikat PKP lamamu hilang atau sudah tidak berlaku, kamu wajib mengikuti penyuluhan ulang sebelum pengajuan perpanjangan PIRT bisa diproses. 3. Rancangan label kemasan produk terbaru Label produk harus memuat seluruh informasi wajib sesuai ketentuan BPOM, yang meliputi nama produk, komposisi bahan, berat bersih, nama dan alamat produsen, tanggal kadaluarsa, serta logo atau nomor PIRT. 4. Data lengkap produk pangan olahan Data ini mencakup nama produk, jenis kemasan yang digunakan, komposisi bahan, dan informasi masa simpan produk. Apabila terdapat perubahan pada kemasan, misalnya penyesuaian berat bersih atau pembaruan desain label, kamu wajib mengunggah label versi terbaru pada saat proses perpanjangan berlangsung. Cara Perpanjangan PIRT Secara Online Proses perpanjangan PIRT dilakukan melalui dua platform yang saling terhubung, yaitu OSS RBA di oss.go.id dan SPPIRT di sppirt.pom.go.id. Berikut langkah-langkahnya secara berurutan: 1. Login ke OSS RBA Buka oss.go.id dan masuk menggunakan akun yang sudah terdaftar. Jika belum memiliki akun, daftarkan diri terlebih dahulu dengan menggunakan NIB dan data usaha yang valid. 2. Pilih Menu PB UMKU Setelah masuk ke sistem, cari menu Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (PB UMKU). Pada menu ini, pilih opsi permohonan baru atau perpanjangan sesuai kebutuhan yang sedang kamu ajukan. 3. Perbarui Data di sppirt.pom.go.id Sistem OSS akan mengarahkan kamu ke situs SPPIRT milik BPOM. Di halaman ini, masukkan atau perbarui data produk terbaru sesuai kondisi usahamu saat ini. 4. Unggah Komitmen dan Label Unggah surat pernyataan pemenuhan komitmen beserta rancangan label produk terbaru. Pastikan file yang diunggah memenuhi format dan standar kualitas yang diminta oleh sistem. 5. Sinkronisasi Status Setelah seluruh data dan dokumen terisi, pastikan status pengajuan di SPPIRT sudah menunjukkan keterangan “Terkirim ke OSS”. Status ini menandakan bahwa proses telah berjalan dan sedang dalam tahap antrian penerbitan. 6. Cetak Sertifikat Baru Setelah pengajuan disetujui, cetak ulang SPP-IRT terbaru melalui akunmu di OSS. Simpan salinan digitalnya dan cetak versi fisik sebagai arsip usaha. 3 Hal Penting dalam Proses Pembaruan Data PIRT Ada beberapa kondisi yang mengharuskan kamu melakukan pembaruan data PIRT, bahkan sebelum masa berlaku sertifikat berakhir: Meskipun sertifikat diterbitkan secara otomatis oleh sistem, Dinas Kesehatan (Dinkes) tetap akan melakukan verifikasi lapangan dalam rentang waktu 3 hingga 6 bulan setelah sertifikat resmi diterbitkan. Proses verifikasi ini dilakukan untuk memastikan kondisi nyata

SELENGKAPNYA