Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Kalau kamu membuka Instagram atau TikTok belakangan ini, mungkin kamu sempat melihat unggahan tentang asinan buah dengan harga sekitar Rp600.000 per toples. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah kaget, lalu penasaran. “Masa asinan harganya segitu?” Dari situ, banyak orang akhirnya membuka kolom komentar, mencari tahu isi produknya, atau bahkan ikut membahasnya. Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam psikologi konsumen, ada berbagai faktor yang membuat sesuatu yang dianggap tidak biasa justru lebih mudah menarik perhatian dan memicu percakapan. Asinan Ceri-Ya dari Chef Devy Anastasia menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat bagaimana hal tersebut bekerja. Asinan Ceri-Ya merupakan produk asinan kiamboy premium milik Chef Devy Anastasia, alumnus MasterChef Indonesia musim kesembilan. Produk ini menjadi viral karena dibanderol sekitar Rp600.000 per toples, jauh di atas harga asinan kiamboy pada umumnya yang berkisar puluhan ribu rupiah. Mengutip pemberitaan Detik Food, harga tersebut didukung oleh penggunaan potongan buah premium serta kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Terlepas dari pro dan kontra mengenai harganya, justru label harga yang tidak biasa inilah yang membuat produk tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Asianan Ceri-Ya: Ada Harga, Ada Kualitas Penelitian ilmiah tentang persepsi harga bisa menjelaskan mengapa strategi harga tinggi ini berhasil menarik perhatian. Sejumlah studi pemasaran menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian, karena konsumen sering menggunakan harga sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kualitas suatu produk sebelum benar-benar mencobanya. Penelitian yang membahas pengaruh persepsi harga dan word of mouth terhadap keputusan pembelian di sebuah kedai kopi menemukan bahwa persepsi harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, sehingga semakin tinggi kesesuaian antara harga yang dirasakan dengan kualitas yang ditawarkan, semakin besar pula kemungkinan konsumen memutuskan untuk membeli. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, harga Rp600.000 berfungsi sebagai sinyal bahwa produk ini menggunakan bahan yang tidak biasa, sehingga sebagian orang menganggap harga tersebut sepadan meski belum pernah mencicipinya secara langsung. Kajian lain juga menjelaskan bahwa setiap produk yang bersifat fisik tidak dapat dengan mudah dievaluasi sebelum dibeli, sehingga untuk melihat kualitas produk, konsumen harus membeli produk tersebut terlebih dahulu, dan konsumen yang belum membeli hanya bisa mempelajari gambaran umum kualitas produk lewat ulasan dari konsumen lain yang sudah membelinya. Ini menjelaskan mengapa harga yang tidak lazim justru memancing rasa penasaran, bukan langsung menghasilkan penolakan. Bahan Premium sebagai Justifikasi Harga Harga tinggi pada produk ini tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh narasi bahan premium yang membuatnya terasa masuk akal di mata sebagian pembeli. Berdasarkan laporan Bisik.id, Chef Devy menawarkan kreasi asinan kiamboy berisi buah ceri segar, ditambah jenis buah premium lain seperti leci, anggur, hingga kiwi, dengan kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Laman RRI menambahkan detail lain soal isian produk ini, yaitu ceri, anggur Muscat, Moon Drop, kiwi, leci, kelengkeng Thailand, delima, dan nanas. Susunan bahan seperti ini tidak umum ditemukan pada asinan kiamboy standar yang biasanya hanya berisi mangga muda, kedondong, nanas, jambu kristal, dan salak. Kombinasi buah impor musiman inilah yang menjadi dasar cerita produk premium, sekaligus menjadi bahan perbandingan yang membuat harga Rp600.000 terlihat lebih masuk akal bagi sebagian orang. Sistem Pre-Order Terbatas dan FOMO Bagi kamu yang pernah mengikuti sistem pre-order di media sosial, pola yang terjadi pada Asinan Ceri-Ya mungkin terasa familiar. Produk dibuka dalam jumlah terbatas, lalu ditutup dalam waktu relatif singkat karena tingginya permintaan. Situs EurekaWoman mencatat bahwa pesanan asinan tersebut sempat ditutup karena tingginya permintaan. Pengalaman melihat produk yang cepat habis semacam ini berkaitan dengan konsep yang dalam ilmu psikologi konsumen disebut fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan cemas karena khawatir tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Penelitian yang lebih spesifik pernah menguji hubungan antara kelangkaan produk, FOMO, dan perilaku pembelian impulsif pada produk viral dengan sistem terbatas, meski dalam konteks yang berbeda, yaitu produk mainan koleksi. Studi lain yang meneliti sistem kelangkaan secara lebih umum menegaskan bahwa strategi kelangkaan efektif karena memadukan tiga elemen penting dalam proses keputusan pembelian. Diantaranya persepsi risiko, persepsi nilai, dan respons emosional, sehingga ketika konsumen merasa ada kemungkinan kehilangan peluang, nilai produk terasa meningkat dan keputusan pun cenderung terjadi lebih cepat. Kalau kamu mengaitkan temuan ini dengan sistem PO terbatas pada Asinan Ceri-Ya, terlihat jelas bahwa penutupan pesanan dalam waktu singkat bukan sekadar kebetulan operasional, ya! Melainkan pola yang secara psikologis memang mendorong orang untuk bertindak lebih cepat dalam memutuskan pembelian. Storytelling di Balik Produk Asinan Ceri-Ya Selain harga dan bahan, cara Chef Devy bercerita di media sosial juga menjadi bagian penting dari daya tarik produk ini. Ia membagikan proses pencarian buah premium ke berbagai supermarket, yang menggambarkan usaha ekstra di balik satu porsi asinan tersebut. Cerita semacam ini membuat konsumen merasa sedang membeli sesuatu yang melibatkan usaha dan pemilihan bahan yang cermat, bukan sekadar makanan yang dibuat secara instan. Kalau kamu pernah membeli produk kuliner rumahan yang disertai cerita di balik proses pembuatannya, kamu mungkin memahami bagaimana cerita semacam ini bisa memengaruhi persepsi nilai produk tersebut. Meski secara objektif bahan yang digunakan sebenarnya bisa ditemukan di pasar atau supermarket biasa. Peran Viral Marketing dan Word of Mouth Fenomena Asinan Ceri-Ya juga menarik untuk dilihat dari sudut pandang teori viral marketing dan word of mouth secara umum. Menurut artikel dari RWE Digital Agency, viral marketing pada dasarnya adalah cara promosi di media sosial yang membuat audiens ikut menyebarkan pesan pemasaran ke orang lain. Sehingga peluang untuk menaikkan penjualan atau membuat sebuah merek makin dikenal menjadi lebih besar, dan konsepnya sebenarnya mirip dengan strategi dari mulut ke mulut yang dulu dipakai dalam pemasaran tradisional. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, audiens yang ikut membagikan opini mereka, baik yang mendukung maupun yang mengkritik harga produk tersebut, secara tidak langsung berperan sebagai penyebar informasi tanpa perlu dibayar sebagai endorser. Artikel yang sama juga menjelaskan bahwa salah satu cara membuat konten bisnis kecil menjadi viral adalah dengan mencari topik yang sebenarnya akrab dalam kehidupan sehari-hari namun sering diabaikan, karena hal ini membangun hubungan emosional dengan audiens. Asinan sendiri adalah jajanan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, sehingga ketika muncul versi dengan harga jauh di atas rata-rata, topik

SELENGKAPNYA
Mengapa Business Owner Perlu Rutin Mengikuti Event Bisnis?

Mengapa Business Owner Perlu Rutin Mengikuti Event Bisnis?

Perubahan dalam dunia bisnis berlangsung semakin cepat. Perkembangan teknologi digital, perubahan perilaku konsumen, munculnya berbagai platform baru, hingga meningkatnya persaingan membuat pelaku usaha perlu terus memperbarui pengetahuan dan strategi yang digunakan. Bagi seorang business owner, menjalankan bisnis tidak hanya berkaitan dengan operasional sehari-hari.  Pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh informasi mengenai kondisi pasar, perkembangan teknologi, hingga pengalaman dari pelaku usaha lain yang menghadapi tantangan serupa. Berbagai informasi memang dapat diperoleh melalui artikel, video, podcast, maupun webinar.  Namun, mengikuti event bisnis memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang berbeda karena peserta dapat berdiskusi secara langsung dengan praktisi industri, bertemu pelaku usaha dari berbagai bidang, serta memahami perkembangan bisnis melalui forum yang dirancang secara khusus. Oleh karena itu, banyak business owner menjadikan event bisnis sebagai salah satu agenda yang diikuti secara rutin untuk memperluas wawasan sekaligus membangun hubungan profesional yang dapat mendukung perkembangan usaha. Manfaat Mengikuti Event Bisnis Setiap event bisnis memiliki tema dan fokus pembahasan yang berbeda. Ada yang membahas pemasaran digital, pengembangan produk, teknologi, kepemimpinan, maupun strategi pertumbuhan bisnis.  Meskipun demikian, terdapat beberapa manfaat yang umumnya dapat diperoleh oleh peserta. a. Menambah wawasan dari praktisi industri Salah satu alasan business owner mengikuti event bisnis adalah untuk memperoleh pengetahuan langsung dari praktisi yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan bisnis. Melalui sesi presentasi, diskusi, maupun studi kasus, peserta dapat memahami bagaimana sebuah strategi diterapkan dalam kondisi nyata.  Pembahasan seperti ini membantu peserta melihat berbagai pendekatan yang digunakan dalam menghadapi perubahan pasar, mengelola operasional, maupun menyusun strategi pertumbuhan bisnis. Informasi yang disampaikan oleh praktisi juga dapat menjadi referensi ketika peserta mengevaluasi strategi yang sedang dijalankan di perusahaannya. b. Memahami tren dan perkembangan industri Kondisi pasar terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi, munculnya kebiasaan baru konsumen, hingga perubahan perilaku belanja dapat memengaruhi cara sebuah bisnis beroperasi. Melalui event bisnis, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai tren yang sedang berkembang serta berbagai isu yang menjadi perhatian di industrinya. Informasi tersebut dapat membantu business owner dalam menyusun perencanaan bisnis yang lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Selain itu, pelaku usaha juga dapat mengenal berbagai teknologi maupun solusi yang mulai banyak digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis. c. Memperluas networking Networking menjadi salah satu alasan utama banyak pelaku usaha menghadiri business conference. Dalam satu acara, peserta dapat bertemu dengan founder, business owner, brand owner, digital marketer, agency, supplier, maupun berbagai penyedia layanan yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan bisnis. Hubungan profesional yang dibangun melalui pertemuan langsung dapat membuka ruang diskusi mengenai pengalaman menjalankan usaha, tantangan yang dihadapi, maupun peluang kerja sama yang relevan dengan kebutuhan masing-masing pihak. Bagi business owner, memiliki jaringan profesional yang luas juga dapat menjadi sumber informasi ketika membutuhkan masukan mengenai strategi maupun perkembangan industri. d. Membuka peluang kolaborasi Pertumbuhan bisnis sering melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam bidang pemasaran, distribusi, teknologi, maupun operasional. Event bisnis menjadi tempat yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor sehingga peserta memiliki kesempatan untuk mengenal calon mitra yang memiliki bidang usaha atau layanan yang saling melengkapi. Kolaborasi yang dibangun melalui networking dapat berkembang menjadi kerja sama bisnis apabila kedua belah pihak memiliki kebutuhan dan tujuan yang sejalan. e. Mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan bisnis Setiap pelaku usaha memiliki pengalaman yang berbeda dalam menjalankan bisnisnya. Melalui event bisnis, peserta dapat mendengarkan berbagai pendekatan yang diterapkan oleh perusahaan maupun entrepreneur dalam menghadapi perubahan industri. Inspirasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan ketika menyusun strategi baru, meningkatkan kualitas operasional, maupun mengevaluasi proses bisnis yang telah berjalan. Tantangan Bisnis Digital Saat Ini Perkembangan bisnis digital membawa berbagai peluang sekaligus perubahan yang perlu dipahami oleh pelaku usaha.  Perubahan tersebut tidak selalu berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut perilaku konsumen, strategi pemasaran, serta cara membangun pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Salah satu tantangan yang banyak dibahas saat ini adalah ketergantungan terhadap satu platform.  Banyak bisnis memperoleh penjualan melalui marketplace atau media sosial. Ketika terjadi perubahan algoritma atau kebijakan platform, performa bisnis dapat ikut terpengaruh sehingga pelaku usaha perlu mempertimbangkan strategi yang lebih beragam dalam menjangkau pelanggan. Pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga menjadi topik yang semakin relevan. Berbagai tools berbasis AI mulai digunakan untuk membantu pembuatan konten, analisis data, layanan pelanggan, hingga proses pengambilan keputusan.  Kondisi tersebut membuat business owner perlu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan bisnisnya. Di sisi lain, biaya akuisisi pelanggan juga menjadi perhatian banyak pelaku usaha.  Persaingan yang semakin tinggi membuat strategi pemasaran perlu disesuaikan agar penggunaan anggaran tetap efisien tanpa mengurangi kualitas layanan kepada pelanggan. Selain strategi dan teknologi, kolaborasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis.  Banyak perusahaan mulai membangun hubungan dengan komunitas, partner, maupun penyedia layanan untuk mendukung pertumbuhan usaha sesuai kebutuhan masing-masing. Berbagai isu tersebut menjadi salah satu alasan mengapa forum diskusi seperti event bisnis tetap relevan bagi business owner. Mengenal Everpro Connect 2026 Salah satu business conference yang mengangkat berbagai isu tersebut adalah Everpro Connect 2026. Everpro Connect 2026 merupakan event bisnis digital yang diselenggarakan oleh Everpro dengan mengusung tema “The Future of Online Business: AI, Consumer Behavior, and Building Growth in an Era of Constant Change.” Tema tersebut berfokus pada berbagai perkembangan yang saat ini mempengaruhi bisnis digital, mulai dari pemanfaatan AI, perubahan perilaku konsumen, strategi pertumbuhan bisnis, hingga pentingnya membangun ekosistem yang mendukung perkembangan usaha. Event ini dirancang untuk mempertemukan founder, business owner, seller online, brand owner, digital marketer, agency, serta berbagai praktisi industri dalam satu forum pembelajaran dan networking. Melalui pembahasan yang disusun berdasarkan tantangan bisnis saat ini, peserta dapat memperoleh wawasan mengenai berbagai strategi yang dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan usaha. Apa yang Akan Dipelajari di Everpro Connect 2026? Everpro Connect 2026 menghadirkan berbagai sesi yang membahas topik-topik yang berkaitan dengan pengembangan bisnis digital. Peserta akan memperoleh pembahasan mengenai strategi membangun bisnis yang tidak bergantung pada satu platform dengan memanfaatkan berbagai channel pemasaran dan penjualan. Topik mengenai implementasi AI juga menjadi bagian dari agenda acara.  Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan AI dalam mendukung proses bisnis, membaca data, meningkatkan efisiensi operasional, serta membantu pengambilan keputusan. Selain itu, peserta dapat mengikuti pembahasan mengenai branding, customer acquisition, consumer behavior, serta strategi membangun bisnis yang memiliki pondasi untuk berkembang secara berkelanjutan. Everpro Connect 2026 juga menghadirkan sesi Business

SELENGKAPNYA
ProPak Indonesia 2026 Resmi Digelar, LegalMP Buka Booth Konsultasi Legalitas

ProPak Indonesia 2026 Resmi Digelar, LegalMP Buka Booth Konsultasi Legalitas

Perkembangan industri pengolahan (processing) dan pengemasan (packaging) terus berjalan seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk yang berkualitas, aman, dan memenuhi regulasi.  Tidak hanya teknologi produksi yang berkembang, pelaku usaha juga dihadapkan pada kebutuhan untuk memastikan bahwa bisnis yang dijalankan telah memiliki aspek legal yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pameran industri seperti ProPak Indonesia 2026 memiliki peran penting.  Selain menjadi tempat memperkenalkan teknologi terbaru, pameran ini juga menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, penyedia solusi industri, asosiasi, hingga perusahaan yang bergerak di bidang pendukung bisnis, termasuk layanan legalitas usaha. Pada penyelenggaraan tahun ini, Legal Menjadi Pengaruh (LegalMP) turut hadir sebagai exhibitor dengan menghadirkan booth konsultasi legalitas usaha.  Kehadiran tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan edukasi serta membantu pelaku usaha memahami berbagai kebutuhan legal yang berkaitan dengan kegiatan bisnis mereka. Pembukaan Resmi ProPak Indonesia 2026 ProPak Indonesia 2026 secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ibu Widiyanti Putri Wardhana, sebagai penanda dimulainya rangkaian pameran yang berlangsung pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.  Opening ceremony ini menjadi agenda pembuka yang menandai dimulainya berbagai aktivitas pameran selama empat hari. Pembukaan resmi merupakan bagian penting dari penyelenggaraan ProPak Indonesia karena menjadi awal dimulainya interaksi antara exhibitor, pelaku industri, dan pengunjung.  Setelah seremoni pembukaan, seluruh area pameran mulai menerima kunjungan sehingga peserta dapat memperkenalkan produk, teknologi, maupun solusi yang mereka hadirkan kepada para pelaku usaha dari berbagai sektor. Selama penyelenggaraan, para pengunjung memiliki kesempatan untuk mengunjungi booth peserta, mengikuti seminar dan conference, menyaksikan demonstrasi teknologi, serta membangun jaringan bisnis dengan perusahaan maupun profesional yang bergerak di bidang processing dan packaging.  Rangkaian kegiatan tersebut memberikan ruang bagi setiap peserta untuk bertukar informasi mengenai perkembangan industri dan menjajaki peluang kerja sama yang relevan dengan kebutuhan bisnis masing-masing. Melalui pembukaan resmi ini, ProPak Indonesia 2026 memasuki rangkaian kegiatan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri dalam satu forum. Mulai dari penyedia teknologi, produsen, distributor, hingga pelaku usaha yang ingin memperoleh informasi mengenai perkembangan solusi processing dan packaging. Peserta dan Agenda ProPak Indonesia 2026 Sebagai gambaran penyelenggaraan sebelumnya, ProPak Indonesia 2025 dihadiri oleh 3.393 trade attendees, melibatkan lebih dari 75 perusahaan peserta pameran (exhibiting companies) dari 15 negara dan wilayah, serta menempati area pameran seluas 4.158 meter persegi.  Data tersebut menunjukkan bahwa ProPak Indonesia menjadi salah satu pameran internasional yang mempertemukan pelaku industri processing dan packaging dari berbagai sektor. Pada penyelenggaraan ProPak Indonesia 2026, pameran kembali menjadi wadah bagi perusahaan penyedia mesin produksi, teknologi pengemasan, material kemasan, sistem otomatisasi, perangkat lunak industri, logistik, hingga berbagai penyedia solusi pendukung manufaktur untuk memperkenalkan inovasi dan teknologi yang mereka miliki. Selain diikuti oleh berbagai exhibitor, ProPak Indonesia juga menjadi tujuan kunjungan bagi beragam pelaku usaha, antara lain: Selama penyelenggaraan, pengunjung dapat mengikuti berbagai agenda yang mendukung pertukaran wawasan dan peluang kolaborasi, seperti: Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ProPak Indonesia menjadi ruang bagi pelaku industri untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan teknologi, menjalin relasi bisnis, serta mengeksplorasi berbagai solusi yang relevan dengan kebutuhan usaha. LegalMP Hadir sebagai Exhibitor Sebagai bagian dari penyelenggaraan ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh berpartisipasi sebagai exhibitor dengan menghadirkan booth di Hall A1.  Kehadiran ini menjadi kesempatan bagi Legal Menjadi Pengaruh untuk bertemu secara langsung dengan pelaku usaha dari berbagai sektor yang hadir selama pameran. Melalui booth tersebut, pengunjung dapat berkonsultasi mengenai berbagai kebutuhan legalitas usaha sesuai dengan bidang bisnis yang dijalankan.  Diskusi yang dilakukan mencakup berbagai topik, mulai dari proses pendirian badan usaha, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui OSS, sertifikasi halal, PIRT, BPOM, pendaftaran merek, hingga konsultasi mengenai dokumen legal lain yang dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan usaha. Selama empat hari penyelenggaraan, tim Legal Menjadi Pengaruh berinteraksi dengan pengunjung yang berasal dari beragam latar belakang industri, seperti UMKM, manufaktur, makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, packaging, serta sektor usaha lainnya.  Beragamnya profil pengunjung mencerminkan bahwa kebutuhan legalitas setiap bisnis dapat berbeda, bergantung pada jenis usaha, produk yang dipasarkan, maupun tahapan perkembangan bisnisnya. Melalui konsultasi secara langsung, pengunjung memiliki kesempatan untuk menyampaikan kondisi usahanya dan memperoleh informasi mengenai legalitas yang relevan dengan kebutuhan tersebut.  Selain menjadi ruang konsultasi, booth Legal Menjadi Pengaruh juga menjadi tempat berdiskusi mengenai pentingnya memahami aspek legal sebagai bagian dari pengelolaan usaha. Sehingga pelaku bisnis dapat memperoleh gambaran mengenai dokumen maupun perizinan yang diperlukan sesuai dengan kegiatan usahanya. Aktivitas LegalMP di Pameran ProPak Indonesia 2026 Selama mengikuti ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh menghadirkan beberapa aktivitas yang berfokus pada edukasi dan konsultasi. Aktivitas tersebut meliputi: Melalui kegiatan tersebut, tim Legal Menjadi Pengaruh juga memperoleh gambaran mengenai berbagai pertanyaan dan kebutuhan yang sering dihadapi pelaku usaha ketika mengurus legalitas bisnis. Macam-Macam Layanan LegalMP Selama berada di ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh memperkenalkan berbagai layanan yang berkaitan dengan legalitas usaha, di antaranya: Seluruh layanan tersebut diperkenalkan sebagai informasi bagi pengunjung yang ingin memahami tahapan pengurusan legalitas maupun dokumen yang diperlukan sesuai kegiatan usahanya. Pentingnya Legalitas dalam Kegiatan Usaha Dalam berbagai sektor industri, legalitas menjadi salah satu aspek yang mendukung keberlangsungan kegiatan usaha.  Dokumen legal yang sesuai membantu pelaku usaha menjalankan operasional sesuai ketentuan, membangun kerja sama dengan mitra bisnis, serta memenuhi persyaratan administrasi yang dibutuhkan dalam aktivitas komersial. Bagi pelaku usaha di sektor makanan dan minuman, misalnya, legalitas dapat berkaitan dengan izin usaha, sertifikasi halal, PIRT, maupun BPOM sesuai karakteristik produknya.  Sementara itu, perusahaan yang ingin membangun identitas merek juga perlu memahami proses pendaftaran merek sebagai bagian dari perlindungan kekayaan intelektual. Melalui konsultasi yang dilakukan selama ProPak Indonesia 2026, Legal Menjadi Pengaruh memberikan penjelasan mengenai berbagai kebutuhan legal tersebut berdasarkan jenis usaha yang dijalankan oleh pengunjung. Penutup Keikutsertaan Legal Menjadi Pengaruh dalam ProPak Indonesia 2026 merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk hadir lebih dekat dengan pelaku usaha melalui pendekatan edukatif dan konsultatif. Melalui partisipasi sebagai exhibitor, Legal Menjadi Pengaruh tidak hanya memperkenalkan layanan yang dimiliki, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya legalitas dalam mendukung kegiatan usaha di berbagai sektor industri. Ke depan, Legal Menjadi Pengaruh berharap dapat terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha sehingga semakin banyak bisnis yang memperoleh informasi mengenai aspek legal sesuai kebutuhan mereka. Bagi pelaku usaha yang ingin

SELENGKAPNYA
Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Rahasia Marina Jadi Raja Hand Body di Indonesia, Ini Strateginya!

Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu lihat botol hand body lotion warna-warni dengan tulisan besar “Marina” di rak minimarket dekat rumah? Kemungkinan besar jawabannya “kemarin” atau “hari ini”. Marina memang sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang Indonesia, dari yang tinggal di kota besar sampai yang di desa kecil. Tapi pernah nggak kamu kepikiran, kenapa Marina bisa segitu lekat di hati konsumen Indonesia selama bertahun-tahun? Padahal kompetitor produk hand body lotion di pasaran juga nggak sedikit. Nah, di artikel ini kita bakal bahas tuntas strategi pemasaran Marina, brand hand body lotion legendaris yang diproduksi oleh PT Tempo Scan Pacific. Kita akan kulik dari soal harga yang bersahabat, inovasi produk yang nggak ada habisnya, sampai cara Marina bikin konsumen merasa “dekat” secara emosional. Sekilas Tentang Marina Marina bukan pemain baru di industri kosmetik dan perawatan kulit tanah air. Brand ini sudah eksis cukup lama dan berhasil membangun posisi kuat sebagai salah satu merek hand body lotion paling dikenal di Indonesia. Salah satu kunci kesuksesannya adalah kemampuan Marina membaca kebutuhan pasar lokal dengan sangat baik. Kalau kita perhatikan, karakter konsumen Indonesia itu punya beberapa kesamaan. Pertama, sangat sensitif terhadap harga. Kedua, senang mencoba produk baru asal terasa cocok dan aman buat kulit. Ketiga, suka merek yang terasa “membumi” dan bukan cuma sekadar jualan produk doang. Tiga karakter ini yang dipahami betul oleh Marina, dan jadi dasar dari seluruh strategi pemasarannya. Yuk kita bahas satu-satu, mulai dari strategi yang paling mendasar, yaitu soal harga. Strategi Harga Terjangkau Marina Kalau ditanya apa senjata paling ampuh Marina dalam merebut hati konsumen Indonesia, jawabannya jelas: harga yang ramah kantong. Marina berhasil memposisikan dirinya sebagai produk hand body lotion yang bisa dijangkau hampir semua kalangan, mulai dari harga sekitar Rp6.000 sampai Rp20.000 per kemasan tergantung ukuran dan variannya. Harga segitu memang kelihatan kecil, tapi dampaknya besar banget buat pasar Indonesia. Kenapa? Karena mayoritas masyarakat Indonesia itu masuk kategori kelas menengah ke bawah yang sangat memperhitungkan pengeluaran harian. Buat mereka, produk perawatan kulit bukan barang mewah yang harus dipikir panjang sebelum beli. Justru sebaliknya, hand body lotion dianggap kebutuhan dasar sehari-hari, sama pentingnya dengan sabun mandi atau shampo. Dengan menetapkan harga di rentang yang sangat terjangkau ini, Marina otomatis membuka pintu selebar-lebarnya buat siapa saja untuk jadi konsumen mereka. Ibu rumah tangga yang belanja bulanan, pelajar yang uang sakunya terbatas, sampai pekerja dengan gaji standar, semua bisa dengan mudah memasukkan Marina ke dalam daftar belanja tanpa perlu berpikir dua kali. Strategi harga murah ini juga didukung dengan variasi ukuran kemasan yang beragam. Ada kemasan sachet kecil buat yang mau coba-coba dulu atau lagi bepergian, ada juga botol ukuran sedang dan besar buat pemakaian rumahan yang lebih hemat kalau dihitung per milliliternya. Jadi konsumen punya banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan kantong masing-masing. Menariknya lagi, meski harganya murah, Marina nggak lantas mengorbankan kualitas produknya. Justru di sinilah letak kepintaran strategi mereka. Marina berhasil membuktikan bahwa harga murah bukan berarti kualitas rendah. Ini penting banget buat membangun kepercayaan jangka panjang, karena kalau konsumen merasa dikecewakan soal kualitas padahal sudah bayar murah, reputasi brand bisa langsung hancur. Strategi harga terjangkau ini juga bikin Marina jadi pilihan utama ketika ada konsumen yang baru pertama kali mau coba produk hand body lotion. Risiko yang dirasakan konsumen jadi kecil banget. Coba bayangkan, kalau harga produk hand body lotion sampai ratusan ribu rupiah, orang pasti akan lebih hati-hati dan banyak pertimbangan sebelum membeli. Tapi kalau harganya cuma belasan ribu, orang jauh lebih santai untuk mencoba, dan kalau ternyata cocok, mereka bakal jadi pelanggan setia. Inovasi Varian Berbasis Superfood dan Antioksidan Kalau kamu perhatikan rak-rak hand body lotion di toko, Marina itu punya banyak sekali varian. Bukan cuma satu atau dua jenis, tapi belasan pilihan dengan manfaat dan aroma yang berbeda-beda. Ini bukan kebetulan, tapi memang bagian dari strategi besar Marina untuk terus relevan dengan tren perawatan kulit yang berkembang. Salah satu inovasi yang cukup menarik perhatian adalah formula 24H Advanced Moisturizing. Produk ini diklaim mampu memberikan kelembapan pada kulit hingga 24 jam penuh, sesuatu yang jadi kebutuhan penting mengingat cuaca di Indonesia yang panas dan lembap bisa membuat kulit cepat kering, apalagi buat orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan atau sering terkena AC di kantor sepanjang hari. Selain itu, Marina juga rutin meluncurkan varian yang mengangkat kandungan bahan alami sebagai nilai jual utama. Beberapa variannya menggunakan ekstrak buah dan tanaman yang dikenal punya kandungan antioksidan tinggi. Kandungan seperti ini sedang jadi tren besar di dunia perawatan kulit global, karena antioksidan dipercaya bisa membantu melindungi kulit dari radikal bebas yang bikin kulit cepat kusam dan menua sebelum waktunya. Konsep “superfood” yang belakangan lagi hits di dunia makanan sehat juga diadaptasi Marina ke dalam produk perawatan kulitnya. Bahan-bahan seperti buah beri, teh hijau, atau ekstrak tanaman lain yang dikenal punya banyak nutrisi dan antioksidan, dikemas jadi bahan aktif dalam produk lotion mereka. Ini jadi cara pintar Marina untuk menyasar konsumen yang makin sadar soal kesehatan kulit dan lebih tertarik dengan produk yang punya nilai tambah “alami” atau “sehat” dibanding sekadar pelembap biasa. Marina juga nggak ketinggalan menghadirkan varian dengan perlindungan UV. Mengingat sinar matahari di Indonesia cukup terik sepanjang tahun, kebutuhan perlindungan kulit dari sinar UV jadi makin penting. Dengan menambahkan fitur ini ke dalam produknya, Marina berhasil menjawab kebutuhan konsumen yang makin melek soal pentingnya melindungi kulit dari paparan matahari, bukan cuma soal kelembapan saja. Strategi diversifikasi varian ini punya banyak keuntungan buat Marina. Pertama, mereka bisa menyasar segmen konsumen yang lebih spesifik sesuai kebutuhan kulit masing-masing, entah itu kulit kering, kulit yang butuh pencerahan, atau kulit yang butuh perlindungan ekstra. Kedua, dengan terus berinovasi, Marina berhasil menghindari kesan brand yang “jadul” atau ketinggalan zaman. Konsumen, terutama generasi muda, cenderung tertarik dengan brand yang selalu punya sesuatu yang baru dan sesuai tren terkini. Ketiga, dengan banyaknya pilihan varian, Marina bisa memenuhi hampir semua kebutuhan perawatan kulit dalam satu rak produk saja. Jadi konsumen nggak perlu pindah ke brand lain kalau mau coba manfaat yang berbeda, karena Marina sudah punya semuanya. Cara Marina Membangun Kedekatan Emosional Kalau kita bicara soal strategi pemasaran yang

SELENGKAPNYA
Kenapa Rasa Milo Indonesia dan Malaysia Beda? Ini Alasannya

Kenapa Rasa Susu Milo Indonesia dan Malaysia Beda?

Milo jadi salah satu minuman cokelat yang menemani masa kecil banyak orang di Asia Tenggara. Tapi kalau kamu pernah mencicipi susu Milo dari Malaysia dan Indonesia secara berdampingan, kamu bakal sadar rasanya tidak sama persis. Padahal mereknya sama, bahkan sama-sama diproduksi oleh perusahaan besar bernama Nestlé. Perbedaan ini bukan cerita baru. Sudah lama jadi obrolan santai di antara penggemar minuman cokelat di dua negara tetangga ini, terutama mereka yang sempat pulang pergi atau belanja daring lintas negara. Kalau ditelusuri lebih dalam, perbedaan rasa ini bukan kebetulan. Ada alasan bisnis, budaya, sampai aturan pemerintah yang membentuk kenapa formula Milo bisa beda di tiap negara. Dan menariknya, cerita sederhana soal minuman cokelat ini sebenarnya bisa jadi pelajaran besar soal strategi bisnis umkm, khususnya buat kamu yang sedang membangun usaha kuliner atau produk konsumsi dan ingin produknya benar benar cocok di hati pembeli. Beda Formula, Beda Karakter Rasa Milo Malaysia dikenal punya rasa yang lebih pekat, lebih manis, dan aroma malt serta cokelatnya terasa kuat, bahkan setelah dicampur es atau susu. Ini bukan tanpa alasan. Formulanya memang dibuat lebih berani dengan kadar malted barley dan kakao yang lebih tinggi dibanding versi lain. Karena rasanya yang kuat, minuman ini jadi menu andalan di kedai kopi dan restoran di Malaysia. Bahkan “Milo Ais” atau Milo dingin dianggap sebagai salah satu ikon minuman nasional di sana, sejajar dengan teh tarik. Sementara itu, Milo Indonesia terasa lebih ringan dan creamy, mirip susu cokelat dengan sedikit aroma malt. Nestlé menyesuaikan komposisinya dengan selera masyarakat Indonesia yang cenderung suka rasa lembut dan tidak terlalu manis. Milo yang beredar di Indonesia diproduksi di pabrik Nestlé Karawang, Jawa Barat, sedangkan versi Malaysia berasal dari pabrik di Chembong, Negeri Sembilan. Perbedaan lokasi pabrik dan bahan baku lokal ini ikut memengaruhi karakter rasa akhirnya. Selain resep, cara penyajian juga berbeda. Di Malaysia, Milo lebih sering disajikan dingin dengan tambahan susu kental manis. Di Indonesia, Milo lebih banyak dinikmati hangat sebagai teman sarapan atau camilan sore. Karena kebiasaan minumnya beda, wajar kalau formula rasanya pun dibuat menyesuaikan cara masyarakat masing masing negara menikmatinya. Menariknya, banyak orang Indonesia yang mencoba Milo Malaysia saat bepergian atau beli online mengaku rasanya lebih “nendang”. Sebaliknya, orang Malaysia yang mencicipi Milo Indonesia justru bilang rasanya lebih halus dan nyaman diminum. Keduanya sama sama membawa nostalgia masa kecil, hanya dengan sentuhan lokal yang berbeda. Kenapa Produsen Wajib Menyesuaikan Formula per Negara? Perbedaan rasa Milo antarnegara sebenarnya bukan cuma soal selera. Ada faktor regulasi pangan yang membuat perusahaan seperti Nestlé memang harus menyesuaikan formula produknya di setiap negara tempat mereka beroperasi. Di Indonesia, setiap produk pangan olahan, termasuk minuman serbuk berperisa yang mengandung susu seperti Milo, wajib melalui proses pendaftaran ke Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM sebelum bisa beredar. Ketentuan ini diatur lewat Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2023 tentang Registrasi Pangan Olahan, yang mewajibkan produsen melaporkan detail formulasi produk, komposisi bahan, informasi nilai gizi, sampai peruntukan atau target konsumen dari produk tersebut. Artinya, formula yang dipakai di satu negara tidak otomatis bisa dipakai begitu saja di negara lain, karena harus melalui proses kajian dan persetujuan ulang sesuai standar setempat. Regulasi ini makin diperketat lewat aturan yang lebih baru. BPOM baru saja menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan, yang merupakan pembaruan dari Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2019. Aturan ini secara khusus menambah persyaratan cemaran mikroba untuk kategori minuman serbuk berperisa yang mengandung susu, produk olahan susu, krimer, atau cokelat, kategori yang persis menaungi produk seperti Milo. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa pembaruan aturan ini dilakukan supaya standar keamanan pangan tetap relevan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memastikan produk yang beredar di masyarakat benar benar aman, bermutu, dan bergizi. Pelaku usaha yang produknya sudah punya izin edar diberi waktu penyesuaian paling lama 12 bulan sejak aturan ini diundangkan, sementara produk yang masih dalam proses pengajuan izin akan mengikuti aturan lama dulu sebelum akhirnya menyesuaikan dengan ketentuan baru. Dengan adanya aturan seperti ini, jelas kenapa produk multinasional seperti Milo tidak bisa asal menyamakan formula di semua negara. Selain soal selera, ada tanggung jawab hukum dan keamanan pangan yang harus dipenuhi di setiap wilayah pemasaran. Buat pelaku usaha kecil sekalipun, ini jadi pengingat penting bahwa urusan legalitas dan standar keamanan produk bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi kalau produk sudah mulai dijual ke luar daerah atau bahkan diekspor. Penyesuaian Rasa Milo dengan Lidah Konsumen Fenomena Milo ini sebenarnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar dalam dunia bisnis makanan dan minuman, yaitu bagaimana selera konsumen di satu wilayah bisa sangat berbeda dari wilayah lain, meskipun produknya berasal dari merek yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah glokalisasi, gabungan dari kata globalisasi dan lokalisasi, di mana perusahaan besar menyesuaikan produk atau layanannya supaya cocok dengan preferensi, kebiasaan, dan budaya konsumen di suatu daerah, tapi tetap mempertahankan identitas global mereknya. Kariswan, Aralea, Rahayu, dan Destiany dalam kajian mereka yang terbit tahun 2025 di Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry, meneliti bagaimana McDonald’s Indonesia menerapkan strategi glokalisasi lewat adaptasi menu lokal selama periode 2023 hingga 2025. Menurut kajian tersebut, adaptasi menu bukan sekadar taktik dagang biasa, tapi juga cara perusahaan membangun kedekatan dan penerimaan sosial di tengah masyarakat setempat, sekaligus mengurangi penolakan budaya terhadap produk yang datang dari luar negeri. Studi ini menegaskan bahwa glokalisasi menjadi mekanisme penting dalam industri makanan, khususnya karena bisnis kuliner sangat bergantung pada kepekaan terhadap selera dan kebiasaan makan masyarakat lokal. Pola yang sama juga berlaku pada Milo. Nestlé tidak sekadar mengekspor satu resep tunggal ke seluruh dunia, tapi mempelajari lebih dulu bagaimana masyarakat di tiap negara terbiasa mengonsumsi minuman cokelat, lalu menyesuaikan tingkat kemanisan, kekentalan, dan intensitas rasa malt sesuai kebiasaan tersebut. Hasilnya, Milo tetap dikenali sebagai Milo di mana pun, tapi rasanya terasa “milik” masing masing negara. Apa Hubungannya dengan Strategi Bisnis UMKM? Kalau perusahaan sebesar Nestlé saja harus repot repot menyesuaikan formula demi mengikuti selera lokal, pelajaran ini jelas relevan buat pelaku usaha kecil dan menengah. Justru di sinilah strategi bisnis umkm bisa belajar banyak. UMKM sering kali punya keunggulan yang tidak

SELENGKAPNYA
KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

KKV dan OH! SOME, Apakah Sama? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kalau kamu sering wara-wiri di mal, pasti pernah lihat toko kuning yang jual pernak-pernik lucu, kosmetik, mainan, sampai camilan impor. Nah, toko itu dulu namanya KKV. Tapi belakangan ini banyak gerai yang berubah jadi OH! SOME, dan ini bikin banyak orang bingung. Apakah cuma ganti nama doang, atau memang ada perusahaan baru di baliknya? Pertanyaan ini wajar banget muncul, apalagi topik ini sempat viral di media sosial. Ada yang bilang cuma rebranding biasa, ada juga yang bilang ini soal kontrak lisensi yang habis. Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas soal hubungan KKV dan OH! SOME, mulai dari sejarahnya, siapa pemiliknya, sampai kenapa dua nama ini sekarang jadi dua entitas yang benar-benar berbeda. Awal Mula Brand Toko KKV Sebelum ngomongin soal perubahan nama, ada baiknya kita mundur dulu ke belakang untuk tahu dari mana sebenarnya KKV berasal. KKV adalah bagian dari KK Group, perusahaan asal China yang didirikan oleh Wu Yuening pada tahun 2015. Menariknya, Wu Yuening awalnya berkarier di bidang teknologi informasi sebelum akhirnya banting setir membangun bisnis ritel gaya hidup ini. Gerai pertama yang dia luncurkan namanya KK Guan, dan konsepnya memang fokus jualan barang-barang impor. Baru pada tahun 2019, nama KKV mulai dikenal luas setelah KK Group meluncurkan jaringan toko yang menyasar target pasar anak muda. Setahun berikutnya, di 2020, mereka melebarkan sayap lagi dengan membuka jaringan gerai X11 yang fokus jualan mainan dan fashion. Kalau ngomongin Indonesia, gerai KKV pertama resmi buka pada 4 Maret 2020 di Central Park Jakarta. Luasnya lumayan besar, lebih dari 3.000 meter persegi, dan isinya lebih dari 10.000 produk yang terbagi ke 15 kategori berbeda. Bayangkan, satu toko tapi isinya bisa dari kosmetik, camilan, mainan, sampai perlengkapan rumah tangga, semua ada. Bisnis ini ternyata laris manis. Dalam 10 bulan pertama tahun 2023 saja, gerai KKV di Indonesia berhasil mencatat pendapatan sekitar 420,1 juta yuan dengan laba 96,9 juta yuan dan margin laba kotor 23,1 persen. Nah, yang bikin makin menarik, volume transaksi bulanan toko-toko di Indonesia ternyata hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan toko sejenis di China, dengan rata-rata 2,5 juta yuan per bulan. Angka ini menunjukkan kalau pasar Indonesia memang jadi salah satu tambang emas buat KK Group, sampai akhirnya mereka juga ekspansi ke Malaysia pada Januari 2024. Kenapa KKV Tiba-Tiba Ganti Nama Jadi OH! SOME? Pada pertengahan tahun 2024, warganet mulai ramai membahas soal gerai KKV yang berubah nama jadi OH! SOME. Momen viralnya sendiri bermula dari sebuah video yang dibagikan lewat akun TikTok, yang memperlihatkan proses pergantian nama di salah satu toko. Dari situ, netizen lain mulai ikut cerita kalau gerai di kota mereka juga sudah berubah. Yang menarik, dari video-video yang beredar, sebenarnya tidak banyak yang berubah dari sisi produk maupun tata letak toko. Barang yang dijual sama persis, cuma logo dan namanya saja yang diganti. Ini yang bikin banyak orang mikir kalau ini murni cuma soal branding. Tapi kalau digali lebih dalam, ternyata ada cerita bisnis yang lebih kompleks di baliknya. Dugaan paling kuat adalah karena kontrak lisensi penggunaan merek KKV antara pemilik asli di China dengan operator di Indonesia sudah berakhir. Jadi sebenarnya, dulu KKV di Indonesia dijalankan lewat semacam kerja sama lisensi. Ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang, pihak yang tadinya mengoperasikan toko-toko KKV di Indonesia akhirnya membuat merek baru sendiri, yaitu OH! SOME. Situasi ini sebenarnya mirip banget dengan kasus yang pernah terjadi di industri ritel lain, misalnya perpindahan lisensi antara Ace Hardware dan Azko yang juga pernah bikin heboh warganet Indonesia. Pola bisnisnya sama, ketika kontrak lisensi merek internasional berakhir, operator lokal biasanya punya dua pilihan, mempertahankan hubungan dengan pemilik merek lama atau membangun identitas baru yang independen. Siapa Sebenarnya Pemilik OH! SOME? Sekarang OH! SOME resmi dimiliki dan dioperasikan oleh Blue Origin Group. Perusahaan ini mengambil alih operasional toko-toko yang sebelumnya berjalan di bawah nama KKV di Indonesia. Jadi meskipun tampilan produk dan konsep tokonya masih mirip banget dengan KKV, secara hukum dan kepemilikan, OH! SOME sudah berdiri sendiri, terpisah dari KK Group yang jadi pemilik asli merek KKV di China. Salah satu bukti kuat kalau OH! SOME memang serius membangun identitas sendiri adalah soal pendaftaran mereknya. Merek OH! SOME sudah resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI pada 15 Januari 2025, tepatnya untuk kelas 35 yang mencakup kegiatan usaha ritel dan perdagangan. Perlindungan hukum atas merek ini berlaku sampai 1 April 2034. Pendaftaran merek dagang memang jadi kewajiban setiap perusahaan yang mau punya identitas bisnis yang diakui secara legal dan terlindungi dari penyalahgunaan pihak lain. Selain soal legalitas merek, langkah rebranding ini juga dibarengi dengan strategi ekspansi. Setelah resmi berganti nama, OH! SOME membuka gerai baru di Summarecon Mall Bekasi, dan kabarnya bakal terus menambah cabang ke kota-kota besar lain seperti Surabaya dan Bandung. Jadi bukan cuma ganti papan nama doang, mereka juga terus memperluas jangkauan tokonya ke berbagai wilayah. Kalau kamu penasaran kenapa dipilih nama OH! SOME, alasannya cukup sederhana, yaitu supaya brand ini lebih gampang diingat dan lebih catchy didengar. Nama yang unik memang jadi salah satu strategi penting biar toko bisa menarik perhatian konsumen baru sambil tetap mempertahankan pelanggan lama. Selain nama, konsep toko juga ikut diperbarui supaya kesannya lebih segar dan cocok dengan selera anak muda zaman sekarang. Terus, KKV yang Asli Sekarang Kemana? Setelah kerja sama lisensi dengan operator lama di Indonesia berakhir, KK Group, sebagai pemilik merek KKV asal China, memutuskan kembali mengelola bisnisnya secara langsung di Indonesia tanpa menggunakan mitra lisensi seperti sebelumnya. Keputusan itu bukan lagi sekadar rencana. Pada 2026, KK Group resmi membawa kembali KKV ke Indonesia dan langsung membuka beberapa gerai di berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Garut, hingga Bali. Mereka juga menyatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting dalam strategi ekspansi jangka panjangnya. Artinya, sekarang memang ada dua perusahaan yang berjalan sendiri-sendiri. Di satu sisi, ada KKV yang dioperasikan langsung oleh KK Group sebagai pemilik merek asli dari China. Di sisi lain, ada OH! SOME yang tetap dikelola oleh Blue Origin Group sebagai perusahaan lokal setelah perjanjian lisensinya berakhir. Jadi, anggapan bahwa “KKV berubah menjadi OH! SOME” sebenarnya kurang tepat. Yang terjadi adalah

SELENGKAPNYA
Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Belajar dari Sengketa Merek Unilever vs Orang Tua Group

Pernah dengar cerita dua perusahaan besar berebut hak pakai satu nama merek sampai ke Mahkamah Agung? Kasus ini benar-benar terjadi di Indonesia, antara PT Unilever Indonesia Tbk dan Hardwood Private Limited, induk perusahaan Orang Tua Group. Perkaranya sederhana saja, yaitu soal siapa yang berhak memakai kata “Strong” pada produk pasta gigi. Tapi prosesnya panjang, mulai dari gugatan di Pengadilan Niaga, kasasi, sampai peninjauan kembali di Mahkamah Agung. Cerita ini menarik bukan cuma karena melibatkan dua nama besar di industri consumer goods. Ada pelajaran penting di baliknya, terutama buat kamu yang sedang membangun usaha kecil atau menengah. Kalau perusahaan sebesar Unilever saja bisa terseret sengketa merek yang berlarut-larut, bayangkan risikonya buat UMKM yang belum sempat memikirkan urusan legalitas merek karena sibuk mengejar omzet. Padahal merek adalah aset, dan mengurus perlindungannya semestinya jadi bagian dari strategi bisnis UMKM sejak awal, bukan urusan yang ditunda sampai bisnis besar. Kronologi Singkat Sengketa Merek Formula vs Pepsodent Semua bermula pada 29 Mei 2020. Hardwood Private Limited menggugat Unilever Indonesia ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Alasannya, merek “Strong” sudah terdaftar atas nama Hardwood sejak tahun 2008 di kelas 3, kelas yang mencakup produk perawatan tubuh termasuk pasta gigi, dengan nomor pendaftaran IDM000258478. Merek ini juga sudah dipakai dalam beberapa varian seperti Formula Strong, Strong Protector, sampai Formula Strong Herbal. Masalahnya, sejak 2019 Unilever mulai memasarkan produk “Pepsodent Strong 12 Jam”. Menurut Hardwood, pemakaian kata “Strong” ini membingungkan konsumen dan berpotensi merugikan reputasi merek yang sudah mereka bangun bertahun-tahun. Unilever sendiri membela diri dengan mengatakan bahwa permohonan pendaftaran merek “Pepsodent Strong 12 Jam” sudah diajukan sejak September 2019 dan menurut mereka tidak ada kemiripan yang signifikan dari segi bentuk, warna, atau susunan unsur merek dengan “Strong” milik Hardwood. Majelis hakim di tingkat pertama sepenuhnya berpihak pada Hardwood. Putusan menyatakan merek “Strong” adalah merek terkenal di Indonesia, dan pemakaian kata yang sama oleh Unilever dianggap punya kesamaan pada pokoknya. Unilever bahkan dihukum membayar ganti rugi sebesar Rp30 miliar. Tidak terima dengan putusan itu, Unilever mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung pada akhir November 2020, dan kali ini hasilnya berbalik. Melalui Putusan Nomor 332 K/Pdt.Sus-HKI/2021, Mahkamah Agung mengabulkan kasasi Unilever dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga sebelumnya. Hardwood tidak menyerah dan menempuh upaya hukum terakhir, yaitu peninjauan kembali. Namun lewat Putusan Nomor 22 PK/Pdt.Sus-HKI/2022, Mahkamah Agung kembali menolak permohonan tersebut. Dengan putusan final ini, Unilever akhirnya dinyatakan berhak memakai kata “Strong” pada produk-produknya, dan status ini masih berlaku sampai sekarang karena tidak ada upaya hukum lanjutan setelah putusan peninjauan kembali tersebut. Kenapa First to File Itu Penting? Kasus ini berputar di satu prinsip dasar dalam hukum merek Indonesia, yaitu sistem konstitutif atau first to file principle. Artinya, hak atas merek diberikan kepada pihak yang lebih dulu mendaftarkan mereknya ke instansi berwenang, bukan kepada pihak yang lebih dulu memakainya di pasar. Dasar hukumnya ada di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang mengatur bahwa perlindungan hukum atas merek baru berlaku setelah merek itu resmi terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, disingkat DJKI, yang berada di bawah Kementerian Hukum. Prinsip inilah yang membuat pertarungan merek sering kali bukan soal siapa yang lebih dulu berjualan, melainkan soal siapa yang lebih dulu mengurus kertas pendaftarannya. Sayangnya, banyak pelaku usaha, terutama UMKM, masih menganggap urusan pendaftaran merek sebagai hal sepele yang bisa ditunda. Padahal begitu ada pihak lain yang lebih dulu mendaftarkan nama yang mirip atau bahkan identik, pemilik usaha yang sudah lama berjualan dengan nama itu bisa kehilangan hak pakainya sendiri, sama seperti risiko yang nyaris dialami oleh salah satu pihak dalam sengketa “Strong” di atas. Regulasi yang Mempermudah UMKM Mendaftarkan Merek Kabar baiknya, pemerintah terus berupaya menurunkan hambatan administratif yang selama ini membuat pelaku UMKM enggan mendaftarkan merek. Salah satu langkah terbaru datang lewat Peraturan Menteri Hukum Nomor 5 Tahun 2026. Lewat aturan ini, DJKI memperluas dan mempermudah syarat pembuktian dokumen bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil. Prosedur administratif yang sebelumnya bersifat kaku dan formalitas kini diganti dengan pilihan dokumen legalitas yang lebih beragam, sehingga pelaku usaha mikro dan kecil yang sering terkendala kelengkapan dokumen standar punya jalan lebih fleksibel untuk tetap bisa mendaftarkan mereknya. Selain kemudahan dokumen, ada juga insentif dari sisi biaya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2024 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di Kementerian Hukum, biaya pendaftaran merek secara online untuk kategori umum adalah sekitar Rp1.800.000 per kelas. Namun khusus untuk pelaku UMKM yang melampirkan Surat Rekomendasi dan Surat Pernyataan UMKM, biayanya bisa turun jadi kurang dari separuhnya, yaitu sekitar Rp500.000 per kelas. Selain insentif biaya ini, DJKI juga secara aktif memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang ingin mengurus pendaftaran mereknya, mulai dari sosialisasi sampai bimbingan teknis pengisian formulir. Dua aturan ini, kalau digabungkan, sebenarnya memberi sinyal jelas bahwa pemerintah ingin UMKM tidak lagi menomorduakan urusan legalitas merek. Persyaratan yang lebih longgar dan biaya yang lebih terjangkau harusnya membuat alasan “ribet dan mahal” tidak lagi relevan buat kamu yang masih ragu mendaftarkan merek usahamu sendiri. Belajar dari Kasus Besar untuk UMKM Sengketa “Strong” mengajarkan bahwa nilai sebuah merek tidak selalu berbanding lurus dengan besar kecilnya perusahaan. Justru karena nilainya besar, sengketa semacam ini sering muncul ketika sebuah merek mulai dikenal luas dan menguntungkan secara komersial. UMKM yang hari ini masih berskala kecil, kalau berhasil berkembang, punya risiko yang sama untuk menghadapi klaim serupa dari pihak lain kalau sejak awal tidak mengamankan mereknya lewat pendaftaran resmi. Beberapa hal sederhana yang bisa kamu terapkan sebagai bagian dari strategi bisnis UMKM antara lain memilih nama merek yang benar-benar khas dan tidak menyerupai merek yang sudah ada, mengecek pangkalan data merek sebelum memutuskan nama final, segera mendaftarkan merek begitu produk mulai dipasarkan secara konsisten, dan memanfaatkan insentif biaya yang sudah disediakan pemerintah lewat berbagai kebijakan yang terus diperbarui. Jangan menunggu usaha besar dulu baru memikirkan legalitas merek, karena semakin besar dan dikenal sebuah merek, semakin besar pula risiko sengketa yang mungkin muncul di kemudian hari. Penutup Kasus sengketa merek “Strong” antara Unilever dan Orang Tua Group menunjukkan bahwa urusan merek bukan perkara kecil, bahkan buat perusahaan sekelas multinasional sekalipun. Buat pelaku

SELENGKAPNYA
Kapan UMKM Perlu Website Sendiri? Begini Strategi Bisnisnya

Kapan UMKM Perlu Website Sendiri? Begini Strategi Bisnisnya

Jualan lewat media sosial atau marketplace memang jadi langkah paling praktis buat memulai usaha. Prosesnya cepat, modalnya kecil, dan kamu langsung terhubung dengan pasar yang sudah ramai. Banyak pelaku usaha di Indonesia memulai perjalanan bisnisnya dengan cara ini, dan itu wajar saja karena hambatannya memang paling sedikit. Tapi begitu bisnis mulai berkembang, kebutuhan bisnis juga ikut berubah. Kamu butuh kontrol yang lebih besar, operasional yang lebih rapi, dan brand yang lebih kuat di mata pelanggan. Di titik inilah banyak pemilik usaha mulai sadar bahwa mengandalkan platform pihak ketiga saja tidak lagi cukup. Momen ini juga jadi titik penting dalam strategi bisnis UMKM, karena keputusan yang diambil sekarang akan menentukan seberapa jauh usaha bisa tumbuh di masa depan. Pemerintah sendiri terus mendorong agar UMKM naik kelas melalui jalur digital. Data dari Kementerian UMKM menunjukkan bahwa sampai akhir 2025, lebih dari 14,66 juta UMKM sudah berpindah dari sektor informal ke formal, ditambah realisasi Kredit Usaha Rakyat yang tembus Rp257,9 triliun dengan porsi besar disalurkan ke sektor produksi. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, menyampaikan bahwa pendekatan yang terintegrasi akan terus didorong agar UMKM bukan cuma bertahan, tapi benar-benar naik kelas dan jadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, arah kebijakan memang sejalan dengan langkah pelaku usaha yang mulai serius membangun fondasi digital, termasuk lewat website sendiri. Ciri-Ciri Bisnis Butuh Website Sendiri Tidak semua usaha harus langsung punya website di hari pertama buka. Tapi ada beberapa sinyal yang menunjukkan bahwa usahamu sudah siap naik ke tahap yang lebih serius. 1. Pelanggan mulai menanyakan website Kalau ada calon pembeli yang bertanya, “ada websitenya, kak?”, itu bukan pertanyaan basa-basi. Pertanyaan itu menunjukkan perubahan cara konsumen menilai kredibilitas sebuah usaha. Website sering dianggap sebagai bukti bahwa bisnis kamu serius dan profesional. Tanpa website, sebagian calon pembeli bisa jadi ragu meneruskan transaksi, apalagi untuk produk dengan harga yang lebih tinggi. 2. Katalog produk susah dikelola di media sosial Media sosial dari awal memang tidak dirancang jadi katalog belanja. Info produk tersebar di postingan, story, atau highlight yang gampang tenggelam dan sulit dicari lagi. Akibatnya pelanggan kesulitan membandingkan varian produk atau mencari detail spesifikasi yang mereka butuhkan sebelum memutuskan beli. 3. Jangkauan bisnis makin luas Saat pesanan mulai datang dari luar kota bahkan luar pulau, urusan operasional otomatis jadi lebih rumit. Kamu perlu mengatur info produk, ongkos kirim, metode pembayaran, sampai komunikasi dengan pelanggan secara lebih tertata. Website membantu menyatukan semua proses itu dalam satu sistem, sehingga tidak berantakan di banyak platform berbeda. 4. Ingin branding yang lebih konsisten Marketplace dan media sosial punya batasan soal branding. Kamu tidak bisa sepenuhnya mengatur tampilan, alur belanja pelanggan, atau posisi brand di mata konsumen karena semuanya mengikuti aturan platform. Website memberi kebebasan penuh untuk membangun identitas usaha secara konsisten, mulai dari desain, gaya komunikasi, sampai pengalaman belanja dari awal sampai akhir. Soal manfaat branding lewat kanal digital ini juga terbukti dari riset lapangan. Sebuah penelitian yang dimuat di Jurnal Masyarakat Mandiri oleh Anggraini, Rustiarini, dan Satwam (2023) melakukan pendampingan pemanfaatan website sebagai strategi pemasaran pada pelaku UMKM. Dari hasil pemantauan dan evaluasi mereka selama program berjalan, penggunaan website terbukti membuat penjualan produk UMKM naik secara bertahap tiap bulannya, dengan rata-rata kenaikan di kisaran 8,29 persen. 5. Ketergantungan pada marketplace mulai berisiko Marketplace memang praktis, tapi bukan berarti bebas risiko. Perubahan algoritma, biaya komisi, sampai kebijakan platform bisa langsung memengaruhi performa jualan kamu tanpa bisa kamu kendalikan sendiri. Kalau punya website sendiri, kamu tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pihak ketiga. Isu ketergantungan ini bahkan jadi perhatian di level kebijakan. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, dalam rapat dengar pendapat bersama Kementerian UMKM pertengahan 2026, menekankan pentingnya menjaga kedaulatan produk lokal di tengah derasnya arus platform digital. Menurutnya, negara perlu “kembali berdaulat atas produk-produknya sendiri” agar pelaku usaha lokal tidak sampai kalah oleh sistem digital yang seharusnya justru melindungi mereka. Pandangan ini menegaskan bahwa membangun aset digital sendiri, termasuk website, bukan cuma soal efisiensi, tapi juga soal ketahanan usaha jangka panjang. Keuntungan Punya Website Dibanding Medsos Memiliki website memberi sejumlah keuntungan strategis yang tidak bisa kamu dapatkan kalau cuma mengandalkan marketplace atau media sosial saja. 1. Kontrol penuh terhadap bisnis Website memungkinkan kamu mengatur semua aspek usaha, mulai dari tampilan toko sampai proses checkout. Kamu tidak terikat aturan tampilan atau algoritma platform lain yang bisa berubah kapan saja tanpa pemberitahuan. 2. Branding lebih kuat dan profesional Dengan website, kamu bisa membangun citra usaha yang lebih rapi dan konsisten. Ini penting banget untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan, terutama kalau kamu berencana mengembangkan usaha dalam jangka panjang. 3. Kepemilikan data pelanggan Data pelanggan adalah aset yang sangat berharga buat usaha apa pun. Lewat website, kamu bisa mengumpulkan dan mengelola data pengunjung untuk berbagai keperluan pemasaran seperti email marketing, retargeting, sampai memahami pola belanja konsumen. 4. Margin keuntungan lebih optimal Tanpa potongan komisi dari marketplace, margin keuntungan kamu jadi lebih besar. Kamu juga punya keleluasaan menentukan harga dan strategi promosi sendiri tanpa terikat kebijakan pihak lain. 5. Potensi traffic organik dari Google Website yang dioptimasi dengan SEO berpeluang muncul di hasil pencarian Google. Ini artinya kamu bisa mendapat kunjungan pelanggan secara rutin tanpa harus terus-menerus mengandalkan iklan berbayar. Selain lima keuntungan di atas, punya website juga membuat usahamu lebih siap menghadapi perubahan aturan di ekosistem perdagangan digital. Cara Bikin Website Bisnis Sesuai Kebutuhan Sekarang, membuat website tidak lagi butuh keahlian teknis yang rumit. Kamu bisa memilih cara yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang kamu punya. 1. Menggunakan sitebuilder Sitebuilder adalah solusi praktis buat pemula. Kamu tinggal pilih template, isi konten, dan website langsung siap dipakai. Cara ini cocok buat usaha yang ingin cepat online tanpa proses yang ribet. 2. Menggunakan CMS seperti WordPress Kalau kamu butuh fleksibilitas lebih, CMS seperti WordPress bisa jadi pilihan. Platform ini memungkinkan kamu menambah berbagai fitur lewat plugin, mulai dari sistem pembayaran, integrasi marketplace, sampai tools marketing tambahan. Apa pun metode yang kamu pilih, ada beberapa hal teknis yang sebaiknya kamu perhatikan supaya website benar-benar berfungsi maksimal, bukan sekadar ada tapi jarang dikunjungi. 3. Pilih hosting yang stabil Kecepatan website sangat memengaruhi pengalaman

SELENGKAPNYA
Teknik Planogram: Strategi UMKM Agar Produk Lebih Cepat Terjual

Teknik Planogram: Strategi UMKM Agar Produk Lebih Cepat Terjual

Pernah masuk ke minimarket lalu dengan mudah menemukan barang yang kamu cari, padahal kamu baru pertama kali datang ke toko itu? Atau tiba-tiba tertarik membeli camilan yang tadinya tidak ada dalam daftar belanja? Semua itu bukan kebetulan. Di balik rak yang tertata rapi, ada teknik bernama planogram yang sengaja dirancang supaya toko lebih mudah dijelajahi dan produk lebih menarik perhatian. Buat pelaku UMKM, memahami planogram bukan sekadar urusan estetika rak. Ini adalah bagian dari strategi bisnis UMKM yang bisa langsung berpengaruh pada omzet, terutama sekarang ketika makin banyak produk UMKM masuk ke rak minimarket dan supermarket modern. Artikel ini akan membahas apa itu planogram, hingga kenapa tekniknya penting untuk UMKM. Apa Itu Planogram? Planogram adalah panduan visual atau diagram yang menunjukkan bagaimana produk seharusnya ditempatkan dan disusun di rak display sebuah toko. Panduan ini mencakup posisi tiap produk, jumlah barang yang dipajang, ukuran ruang yang dipakai, sampai urutan penempatan setiap item. Sederhananya, planogram itu seperti peta rak yang membantu toko menampilkan produk secara terstruktur dan konsisten, sehingga setiap cabang bisa menerapkan tata letak yang sama sesuai standar yang sudah ditentukan. Bagi peritel besar, planogram sudah jadi alat wajib. Tapi bagi UMKM, konsep ini sering dianggap terlalu “kelas atas” dan jarang diterapkan, padahal justru pelaku usaha kecil yang paling butuh strategi ini karena keterbatasan ruang toko atau etalase. Ketika ruang terbatas, setiap sentimeter rak jadi lebih berharga, dan di situlah logika planogram bisa dipakai meski dalam skala yang jauh lebih sederhana dibanding toko ritel besar. Alasan Penataan Produk Berpengaruh pada Keputusan Beli Dalam dunia ritel, penataan produk punya peran besar terhadap keputusan pembelian pelanggan. Produk yang ditempatkan di posisi strategis biasanya lebih mudah terlihat dan lebih besar peluangnya untuk dibeli. Ketika barang disusun secara teratur dan sesuai kategori, pelanggan tidak perlu buang waktu mencari apa yang mereka butuhkan, sehingga pengalaman belanja terasa lebih nyaman. Hal ini juga dikonfirmasi lewat penelitian akademik. Sudarsono meneliti pengaruh visual merchandising, yaitu cara toko menata dan memajang produk, terhadap perilaku belanja spontan atau impulse buying pada konsumen Zara di Surabaya. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Manajemen Pemasaran tahun 2017 itu menemukan bahwa penataan visual yang menarik bisa memicu emosi positif pada pengunjung toko, dan emosi positif inilah yang kemudian mendorong mereka membeli barang yang sebelumnya tidak direncanakan. Artinya, penataan produk bukan hanya soal kerapian, tapi juga soal bagaimana membuat calon pembeli merasa nyaman dan tertarik secara emosional saat berada di dalam toko. Untuk pelaku UMKM, temuan ini punya makna praktis. Kamu tidak perlu modal besar untuk membuat rak yang mewah, tapi kamu bisa meniru prinsip dasarnya, yaitu menata barang secara rapi, mengelompokkan produk sejenis, dan menempatkan barang dengan margin atau permintaan tinggi di titik yang paling mudah dilihat pembeli begitu masuk toko. Manfaat Planogram Buat Usaha Kecil Ada beberapa manfaat nyata yang bisa dirasakan pelaku UMKM kalau menerapkan prinsip planogram, meski dalam skala kecil. 1. Memaksimalkan Ruang yang Terbatas Setiap sudut toko memiliki nilai untuk menghasilkan penjualan. Karena itu, ruang rak sebaiknya dimanfaatkan secara optimal melalui penataan produk yang terencana, bukan sekadar mengisi rak hingga penuh. Produk dengan penjualan tinggi dapat diberikan ruang display yang lebih luas agar selalu tersedia dan mudah dijangkau pelanggan. Sementara itu, produk yang perputarannya lebih lambat dapat ditempatkan pada area yang proporsional sehingga tidak menghabiskan kapasitas rak. Dengan cara ini, toko akan terlihat lebih rapi, nyaman dipandang, dan mampu menampilkan lebih banyak variasi produk tanpa terkesan sesak. 2. Mempermudah Pelanggan Menemukan Produk Penataan produk yang konsisten membuat pelanggan lebih mudah menemukan barang yang mereka cari. Produk yang dikelompokkan berdasarkan kategori, merek, atau fungsi akan mempercepat proses belanja sehingga pelanggan tidak perlu berkeliling terlalu lama. Pengalaman berbelanja yang praktis juga meningkatkan kepuasan pelanggan dan membuat mereka lebih nyaman untuk kembali berbelanja di kemudian hari. Bahkan bagi pelanggan baru, tata letak yang jelas dapat membantu mereka memahami susunan toko hanya dalam satu kali kunjungan. 3. Mendorong Pembelian Tambahan (Impulse Buying) Penempatan produk yang tepat dapat meningkatkan nilai transaksi tanpa perlu memberikan diskon atau promosi khusus. Salah satu caranya adalah dengan meletakkan produk yang saling melengkapi dalam satu area. Misalnya, kopi ditempatkan berdekatan dengan gula dan creamer, mi instan di dekat telur atau sosis beku, atau sampo berdampingan dengan kondisioner. Ketika pelanggan melihat kebutuhan lain yang relevan, mereka cenderung membeli produk tersebut secara spontan. Strategi ini memanfaatkan perilaku belanja konsumen yang sering kali dipengaruhi oleh tampilan visual dan kemudahan menemukan produk pendukung. 4. Memudahkan Pengelolaan dan Kontrol Stok Planogram juga membantu pemilik toko mengelola persediaan barang dengan lebih efektif. Karena setiap produk memiliki posisi dan jumlah display yang sudah ditentukan, karyawan dapat dengan mudah mengetahui produk mana yang mulai habis dan perlu segera diisi ulang. Sebaliknya, produk yang masih menumpuk juga dapat segera teridentifikasi sehingga strategi penjualannya dapat dievaluasi. Pengelolaan stok menjadi lebih akurat, proses restocking lebih cepat, serta risiko kehabisan barang atau overstock dapat diminimalkan. Hal ini pada akhirnya membantu operasional toko berjalan lebih efisien dan mengurangi potensi kehilangan penjualan akibat stok kosong. Cara Menerapkan Prinsip Planogram di Usaha Kecil Kamu tidak perlu software mahal atau tim khusus untuk mulai menerapkan prinsip planogram. Berikut langkah sederhana yang bisa langsung dicoba. 1. Kelompokkan Produk Berdasarkan Kategori Langkah pertama dalam membuat planogram adalah mengelompokkan produk sesuai jenis, fungsi, atau kebutuhan pelanggan. Misalnya, makanan ringan ditempatkan dalam satu area, minuman di area lain, dan kebutuhan rumah tangga memiliki zona tersendiri. Pengelompokan ini membuat tampilan toko lebih rapi sekaligus memudahkan pelanggan menemukan barang yang mereka cari tanpa harus berkeliling terlalu lama. Selain meningkatkan kenyamanan berbelanja, kategori yang jelas juga membantu proses pengisian ulang stok menjadi lebih cepat dan teratur. 2. Manfaatkan Zona Mata dan Zona Tangan Posisi penempatan produk sangat memengaruhi peluang barang tersebut dibeli. Produk yang berada pada eye level (setinggi mata) dan hand level (mudah dijangkau tangan) memiliki peluang lebih besar untuk dilihat dan diambil pelanggan. Oleh karena itu, area ini sebaiknya digunakan untuk menampilkan produk dengan margin keuntungan tinggi, produk baru, atau produk yang sedang dipromosikan. Sebaliknya, barang kebutuhan pokok yang memang sudah dicari pelanggan, seperti beras, minyak goreng, atau gula, dapat ditempatkan di rak bagian bawah karena pelanggan umumnya tetap akan mencarinya

SELENGKAPNYA
5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

5 Cara Jims Honey Mengembangkan Bisnis dari Modal Minim

Jims Honey menjadi salah satu contoh sukses UMKM lokal yang berkembang dari usaha bermodal minim menjadi bisnis dengan omzet miliaran rupiah. Di balik kesuksesan tersebut, ada kisah Stefi, perempuan asal Pontianak yang merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan S2. Alih-alih hanya fokus kuliah, ia justru melihat peluang bisnis dan memulai usaha aksesori wanita dengan modal awal hanya Rp2,5 juta dari uang kiriman orang tua. Berkat strategi yang tepat, konsistensi membangun merek, serta pengelolaan jaringan reseller, Jims Honey berhasil tumbuh pesat hingga mencatat omzet lebih dari Rp1 miliar per bulan dan memiliki lebih dari 500 reseller di Yogyakarta. Kisah ini menarik untuk dibedah karena memperlihatkan bagaimana strategi bisnis UMKM yang sederhana, kalau dijalankan dengan konsisten, bisa mengubah usaha rumahan menjadi merek yang dikenal luas. Artikel ini akan mengupas langkah-langkah yang dipakai Jims Honey, mulai dari membangun identitas merek, menjalin kemitraan dengan reseller, menjaga kualitas produk, sampai memanfaatkan media sosial. Awal Mula Jims Honey Sebelum punya nama Jims Honey, Stefi awalnya hanya membeli barang dari Cina dan menjualnya kembali tanpa label apa pun. Waktu itu jualannya sepi, sehari laku dua barang saja sudah dianggap bagus. Setelah setahun lebih berjualan tanpa merek, ia baru memutuskan untuk memberi label pada produk yang dijualnya, bekerja sama dengan saudaranya di Jakarta yang memesan barang langsung dari pabrik di Cina. Nama Jims Honey sendiri diambil dari nama suami saudaranya, Jims, dan kata honey yang berarti madu. Alasan pemilihan nama ini sederhana, madu dianggap manis dan bermanfaat, sehingga diharapkan usaha ini juga bisa memberi manfaat secara ekonomi untuk banyak orang. Cerita semacam ini kelihatan sepele, tapi sebenarnya menjadi salah satu fondasi penting dalam strategi bisnis UMKM, yaitu narasi asal-usul merek yang bisa membuat produk terasa lebih dekat dengan pembeli. Kajian dari tim akademik Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tentang branding digital UMKM menjelaskan bahwa storytelling adalah cara yang ampuh untuk membuat merek lebih dekat dengan konsumen. Menceritakan asal-usul produk, motivasi membangun usaha, dan tantangan yang dihadapi bisa membangun hubungan emosional yang kuat dengan calon pembeli, bukan sekadar menarik perhatian sesaat. Ketika pelanggan merasa terhubung dengan cerita di balik sebuah produk, mereka biasanya membeli bukan cuma karena butuh, tapi juga karena merasa punya ikatan dengan merek tersebut. Ini sejalan dengan apa yang dilakukan Jims Honey, di mana kisah perjuangan Stefi menjadi bagian dari citra merek yang terus dibicarakan di berbagai media. Lalu, bagaimana cara Jims Honey bisa menjadi brand fashion affordable tapi tetap trendy yang digandrungi banyak orang seperti sekarang? 1. Bangun Identitas Merek Sejak dari Nol Setelah punya nama dan label, langkah berikutnya dalam strategi bisnis UMKM adalah memperluas jenis produk sambil menjaga konsistensi identitas merek. Jims Honey yang awalnya hanya menjual dompet dan tas, perlahan menambah lini produk seperti jam tangan, power bank, dan tumbler. Harga yang dipasang juga terjangkau, dompet mulai Rp50 ribu, tas dan jam tangan mulai Rp60 ribu, power bank mulai Rp95 ribu. Kombinasi harga terjangkau dengan kualitas yang terjaga inilah yang membuat produknya mudah diterima pasar menengah ke bawah sampai menengah. Pemilihan harga dan perluasan lini produk semacam ini sebenarnya bagian dari apa yang disebut branding produk. Merek yang kuat memungkinkan UMKM menetapkan harga yang wajar tanpa harus terus-menerus banting harga demi bersaing, karena pembeli sudah punya kepercayaan pada kualitas yang ditawarkan. Tanpa identitas merek yang jelas, produk UMKM gampang dianggap sama dengan barang sejenis lain yang beredar di pasar, sehingga pembeli hanya akan membandingkan dari sisi harga saja. 2. Kemitraan dengan Reseller Salah satu kunci pertumbuhan Jims Honey adalah jaringan reseller yang jumlahnya mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Syaratnya sederhana, calon reseller cukup membeli satu produk dan memakainya sendiri lebih dulu, supaya mereka paham betul kualitas barang yang akan mereka jual kembali. Cara ini membantu menjaga standar pelayanan karena reseller tidak sekadar menjual, tapi juga sudah merasakan langsung produknya. Pola kemitraan seperti ini sebenarnya sudah lama dipraktikkan pelaku usaha, tapi baru belakangan mendapat payung hukum yang lebih jelas dari pemerintah. Kementerian UMKM menerbitkan Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan dan Peningkatan Daya Saing Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Aturan ini mewajibkan setiap platform digital mencantumkan secara jelas seluruh jenis biaya yang dibebankan kepada pelaku usaha mikro dan kecil dalam perjanjian kemitraan, sehingga biaya layanan tidak bisa lagi dinaikkan sepihak di tengah masa kerja sama. Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menjelaskan bahwa aturan ini memberi kepastian bagi pelaku usaha kecil dalam menjalankan bisnisnya karena seluruh biaya yang disepakati sudah tercantum jelas sejak awal perjanjian kemitraan dibuat. Bagi pelaku usaha yang membangun jaringan reseller atau berjualan lewat marketplace seperti Jims Honey, aturan semacam ini penting dipahami. Kejelasan pembagian keuntungan, biaya layanan, dan hak masing-masing pihak akan membuat kemitraan lebih adil dan berkelanjutan, bukan cuma menguntungkan salah satu pihak saja. Strategi bisnis UMKM yang mengandalkan reseller sebaiknya juga menuangkan kesepakatan kerja sama secara tertulis, walau sederhana, supaya ada kejelasan sejak awal dan menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Pentingnya membangun merek lewat kanal daring dan kemitraan reseller juga pernah diteliti secara akademik. Penelitian Rahman dan Mawardi yang dimuat di Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Universitas Brawijaya berjudul “Strategi UMKM Dalam Membangun Brand Toko Online Di Marketplace” menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM membangun merek di platform digital sangat bergantung pada konsistensi tampilan toko, deskripsi produk yang jelas, dan respons cepat terhadap pertanyaan pembeli. Temuan ini cocok dengan praktik Jims Honey yang menjaga komunikasi aktif dengan reseller maupun pembeli akhir lewat WhatsApp dan media sosial sejak awal usahanya berjalan. 3. Menjaga Kualitas Produk sebagai Fondasi Kepercayaan Jaringan reseller yang besar tidak akan bertahan lama kalau kualitas produknya tidak dijaga. Stefi punya cara sendiri untuk memastikan hal ini, yaitu meminta contoh produk dari pabrik di Cina sebelum memesan dalam jumlah besar. Jika barang yang dikirim dalam jumlah besar ternyata ada yang rusak, ia bisa meretur ke pabrik tergantung tingkat kerusakannya. Untuk kerusakan ringan, biasanya ia memberi diskon kepada konsumen yang tetap ingin membeli barang dengan kondisi tertentu. Tim Jims Honey bahkan rutin berkunjung ke Cina untuk memperbarui model produk sesuai tren terbaru. Cara kerja seperti ini menunjukkan bahwa quality control bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian

SELENGKAPNYA