Di tengah banyaknya brand fashion yang menawarkan produk serupa, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki produk paling bagus atau harga paling murah.
Konsumen juga mempertimbangkan bagaimana sebuah brand terlihat, berbicara, membawa nilai, dan membangun hubungan dengan audiensnya.
Karena itu, branding menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis. Branding membantu konsumen memahami alasan sebuah produk berbeda dari pilihan lain yang tersedia di pasar.
Identitas tersebut bisa dibentuk melalui tampilan visual, gaya komunikasi, pengalaman pelanggan, sampai sosok orang yang berada di balik bisnis.
Salah satu brand yang menarik dipelajari dari sisi tersebut adalah Lafiye, brand fashion muslim lokal yang mengembangkan identitas melalui produk, visual, media sosial, serta personal branding figur di balik mereknya.
Situs resmi LAFIYE menggambarkan brand tersebut sebagai brand yang dibuat untuk perempuan modern dengan penekanan pada keindahan, fungsi, gaya yang dapat digunakan dalam berbagai situasi, serta desain yang adaptif.
Menariknya, strategi Lafiye tidak hanya menjadi bahan pembicaraan di media sosial.
Beberapa penelitian akademik telah menjadikan brand ini sebagai objek studi, mulai dari pengaruh brand image dan personal branding terhadap keputusan pembelian, penerapan visual merchandising, media monitoring, sampai hubungan antara social media marketing dan loyalitas pelanggan.
Artinya, ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari perjalanan branding Lafiye. Bukan untuk menyalin strategi mereka secara mentah, melainkan memahami prinsip di baliknya dan menyesuaikannya dengan kondisi bisnis masing-masing.
Berikut empat strategi branding Lafiye yang menarik untuk dipelajari oleh pemilik bisnis.
1. Personal Branding Owner Berjalan Bersama Brand Image
Salah satu bagian yang menarik dari strategi branding Lafiye adalah hubungan antara identitas brand dengan sosok Sashfir sebagai founder LAFIYE.
Situs resmi Lafiye sendiri menyebut Sashfir sebagai founder ketika membahas kegiatan LAFIYE Unveils 2026. Hubungan antara figur pendiri dan brand ini juga telah menjadi objek penelitian akademik.
Dalam bisnis, personal branding owner dapat membantu sebuah brand terasa lebih manusiawi. Konsumen tidak hanya melihat nama perusahaan atau katalog produk, tetapi juga dapat mengenal pandangan, gaya, serta karakter orang yang membangun bisnis tersebut.
Pendekatan seperti ini cukup relevan untuk bisnis yang banyak berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial. Founder dapat menjadi salah satu wajah yang membantu menyampaikan cerita, nilai, dan karakter brand secara lebih personal.
Namun, ada satu pelajaran penting dari penelitian mengenai Lafiye: personal branding owner sebaiknya tidak menggantikan kekuatan brand image itu sendiri.
Penelitian Balqis Bintang Paramita, Sri Indriani, dan Emmalia Adriantantri yang diterbitkan dalam El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam pada 2025 meneliti pengaruh brand image dan personal branding Sashfir terhadap keputusan pembelian produk hijab Lafiye.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 110 responden yang mengikuti Sashfir di media sosial dan memiliki pengalaman membeli produk Lafiye.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image dan personal branding sama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dalam sampel penelitian tersebut.
Akan tetapi, brand image menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan personal branding.
Temuan ini memberikan pelajaran penting untuk pemilik usaha.
Founder memang bisa menjadi pintu masuk agar orang tertarik mengikuti sebuah bisnis. Namun, dalam jangka panjang, brand tetap harus memiliki identitas yang bisa berdiri dengan kuat.
Bayangkan seorang pemilik bisnis memiliki satu juta followers tetapi produk, pelayanan, desain, dan komunikasi mereknya berubah-ubah.
Perhatian publik mungkin bisa diperoleh dengan cepat, tetapi perhatian tersebut belum tentu berubah menjadi kepercayaan terhadap brand.
Sebaliknya, ketika personal branding founder dan brand image saling mendukung, keduanya bisa membentuk komunikasi yang lebih kuat.
Pemilik bisnis dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana.
A. Tentukan posisi founder di dalam komunikasi brand
Tidak semua pemilik bisnis harus menjadi influencer. Founder bisa muncul sebagai edukator, ahli di bidang tertentu, orang yang menceritakan proses membangun usaha, atau figur yang membawa nilai tertentu.
B. Pisahkan identitas personal dengan identitas perusahaan
Walaupun saling berhubungan, brand tetap perlu memiliki karakter sendiri. Logo, warna, kualitas produk, pelayanan, tone of voice, sampai pengalaman pelanggan harus tetap konsisten meskipun founder tidak selalu tampil.
C. Gunakan cerita yang benar-benar berkaitan dengan bisnis
Daripada hanya mengunggah kehidupan pribadi, founder dapat membagikan proses pengembangan produk, alasan mengambil keputusan tertentu, pengalaman menghadapi tantangan bisnis, atau pengetahuan yang relevan dengan audiens.
D. Tetap prioritaskan kualitas brand
Penelitian mengenai Lafiye tadi menjadi pengingat bahwa brand image tetap memiliki posisi penting dalam keputusan pembelian. Jadi, personal branding sebaiknya digunakan untuk memperkuat perusahaan, bukan membuat perusahaan sepenuhnya bergantung kepada popularitas satu orang.
Bagi UMKM atau bisnis yang masih berkembang, strategi ini bahkan dapat menjadi keunggulan. Perusahaan mungkin belum memiliki anggaran iklan besar, tetapi pemiliknya bisa mulai membangun kepercayaan melalui konten yang konsisten, relevan, dan menunjukkan kompetensi di bidangnya.
2. Konsistensi Visual Membuat Brand Lebih Mudah Dikenali
Ketika konsumen menemukan sebuah brand untuk pertama kali di Instagram, TikTok, marketplace, atau website, mereka belum tentu langsung membaca seluruh informasi yang tersedia.
Hal pertama yang sering terlihat justru elemen visual.
Mulai dari warna, komposisi foto, pemilihan model, gaya produk, pencahayaan, sampai bagaimana katalog ditampilkan.
Karena itu, tampilan visual bukan hanya urusan membuat feed terlihat cantik. Visual juga menjadi bagian dari cara bisnis membentuk persepsi konsumen.
Strategi tersebut dapat dilihat dalam studi mengenai visual merchandising Lafiye.
Penelitian Afifah Anggara Laksmi Khania dan Yuniana Cahyaningrum yang diterbitkan dalam Jurnal Tekstil: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Bidang Tekstil dan Manajemen Industri pada 2025 mengkaji bagaimana Lafiye melakukan visual merchandising di media sosial.
Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan mengambil data antara lain dari website serta akun Instagram resmi Lafiye.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa Lafiye secara konsisten menerapkan sejumlah prinsip visual merchandising, termasuk penataan produk, pemilihan warna, pencahayaan, dan gaya fotografi yang diselaraskan dengan identitas merek serta preferensi target pasar.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa strategi visual ini memperkuat citra merek dan membantu membangun kedekatan emosional dengan konsumen.
Dari sini, ada pelajaran sederhana tetapi penting, konsistensi visual membuat brand memiliki pola yang lebih mudah dikenali.
Konsumen tidak harus selalu melihat logo terlebih dahulu untuk mengenali sebuah brand.
Pada merek yang identitas visualnya sudah kuat, kombinasi warna, fotografi, tata letak, atau gaya kontennya sendiri bisa menjadi tanda pengenal.
Namun, konsistensi visual tidak berarti seluruh desain harus sama.
Kalau semua konten dibuat dengan template yang identik, hasilnya justru bisa terasa monoton. Yang perlu konsisten adalah sistem visualnya.
Misalnya sebuah bisnis dapat menentukan:
- Palet warna utama dan warna pendukung.
- Jenis font yang digunakan.
- Gaya fotografi produk.
- Karakter pencahayaan.
- Gaya ilustrasi atau ikon.
- Komposisi desain media sosial.
- Cara produk ditampilkan.
- Nuansa visual yang ingin dirasakan konsumen.
Sebagai contoh, bisnis yang ingin tampil premium sebaiknya memastikan seluruh touchpoint memberikan kesan yang sejalan. Jangan sampai Instagram terlihat sangat eksklusif tetapi desain website, katalog, kemasan, dan marketplace terasa seperti berasal dari empat perusahaan berbeda.
Ketidakkonsistenan seperti ini dapat membuat identitas brand menjadi lemah.
Menariknya, bisnis kecil tidak harus memiliki studio besar untuk mulai membangun visual branding.
Mulailah dari standar sederhana.
Tentukan dua atau tiga warna utama. Gunakan gaya pengambilan foto yang relatif konsisten. Buat aturan sederhana untuk desain konten. Susun referensi visual yang dapat digunakan seluruh anggota tim.
Kalau perusahaan memiliki beberapa desainer atau content creator, buat brand guideline sederhana.
Isinya tidak perlu langsung puluhan halaman. Cukup jelaskan bagaimana logo digunakan, warna utama, font, gaya foto, tone visual, dan contoh desain yang boleh atau tidak boleh digunakan.
Tujuannya bukan membatasi kreativitas tim, tetapi memastikan kreativitas tersebut masih berada di dalam identitas yang sama.
Pelajaran dari studi visual merchandising Lafiye juga menunjukkan bahwa tampilan online perlu dipikirkan sebagai pengalaman yang utuh. Penelitian tersebut secara khusus membahas penggunaan Instagram dan TikTok serta bagaimana tampilan online berperan dalam membentuk persepsi produk.
Jadi, jangan melihat Instagram, TikTok, marketplace, dan website sebagai channel yang berdiri sendiri.
Semua platform tersebut merupakan bagian dari pengalaman konsumen terhadap brand.
3. Media Sosial Jadi Tempat Bangun Koneksi
Kesalahan yang cukup umum dalam menjalankan media sosial bisnis adalah memperlakukannya seperti katalog digital.
Setiap hari isinya hanya:
“Produk baru.”
“Beli sekarang.”
“Diskon hari ini.”
“Stok terbatas.”
Pendekatan tersebut memang masih diperlukan dalam kondisi tertentu. Namun, apabila seluruh konten hanya berisi penjualan, audiens tidak memiliki banyak alasan untuk terus mengikuti akun tersebut ketika sedang tidak ingin membeli.
Studi mengenai Lafiye menunjukkan bahwa media sosial dapat mempunyai fungsi yang lebih luas.
Penelitian mengenai visual merchandising tadi mencatat bahwa Lafiye menggunakan Instagram dan TikTok dalam aktivitas promosinya.
Artinya, media sosial menjadi salah satu touchpoint penting antara produk dan audiens.
Selain itu, penelitian Azzahra Aulia Latifa yang diterbitkan dalam Jurnal Bisnis dan Komunikasi Digital pada 2024 melakukan media monitoring terhadap Lafiye melalui TikTok dan X menggunakan Brand24 selama satu bulan, yaitu 14 Februari sampai 15 Maret 2024.
Dalam periode penelitian tersebut, Lafiye memperoleh 231 penyebutan dengan total jangkauan media sosial sekitar 2,2 juta, sementara sentimen positif terhadap brand dilaporkan cenderung meningkat selama periode pengamatan.
Angka tersebut harus dipahami sesuai konteks penelitiannya: data itu menggambarkan satu periode monitoring tertentu, bukan angka permanen atau kondisi Lafiye setiap saat.
Di sinilah pentingnya membaca data marketing dengan benar.
Jumlah mention, reach, views, atau followers tidak boleh dilihat sebagai angka yang berdiri sendiri. Bisnis perlu memahami periode pengukuran, sumber data, dan tujuan pengukurannya.
Kalau sebuah konten mendapat satu juta views tetapi tidak menghasilkan kunjungan profil, pertanyaan, leads, atau penjualan yang relevan, bisnis perlu mengevaluasi kembali kualitas audiens yang berhasil dijangkau.
Sebaliknya, konten dengan views lebih kecil tetapi menghasilkan banyak calon pembeli potensial bisa mempunyai nilai bisnis yang lebih tinggi.
Ada penelitian lain yang memberikan perspektif tambahan mengenai hubungan pemasaran dan loyalitas pelanggan Lafiye.
Penelitian Elysa Amisa Fitri dan Andala Rama Putra Barusman yang diterbitkan dalam The Eastasouth Management and Business pada 2025 meneliti experiential marketing, social media marketing, repurchase intention, brand trust, dan customer loyalty pada brand Lafiye.
Studi tersebut menggunakan data dari 280 mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial.
Dalam sampel penelitian tersebut, experiential marketing dan social media marketing menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap loyalitas pelanggan.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa repurchase intention memperkuat hubungan yang diuji sebagai variabel moderasi, sedangkan brand trust memiliki peran mediasi dalam model penelitian.
Temuan tersebut tidak berarti setiap bisnis otomatis mendapatkan pelanggan loyal hanya dengan rajin mengunggah konten.
Pelajaran yang lebih masuk akal adalah media sosial sebaiknya digunakan untuk menciptakan pengalaman dan membangun kepercayaan, bukan hanya mengejar impresi.
Bisnis dapat mulai membagi kontennya menjadi beberapa fungsi.
a. Konten edukasi membantu audiens memahami masalah atau kebutuhan mereka.
b. Konten produk membantu konsumen memahami manfaat dan penggunaan produk.
c. Konten storytelling memperlihatkan karakter serta cerita di balik perusahaan.
d. Konten social proof memberikan bukti pengalaman pelanggan.
e. Konten interaktif membuka komunikasi dua arah.
f. Konten promosi mendorong transaksi ketika audiens sudah memahami manfaat yang ditawarkan.
Dengan kombinasi seperti itu, media sosial berubah dari sekadar etalase menjadi bagian dari perjalanan pelanggan dan yang tidak kalah penting, seluruh aktivitas tersebut perlu diukur.
4. Cara Menerapkan Branding Lafiye ke Bisnis Sendiri
Setelah melihat personal branding, visual merchandising, media sosial, dan hasil sejumlah penelitian tentang Lafiye, pertanyaan terpentingnya bukan:
“Bagaimana caranya membuat brand persis seperti Lafiye?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Prinsip apa yang bisa diterapkan pada kondisi bisnis saya?”
Menyalin warna, desain konten, foto, atau gaya komunikasi perusahaan lain bukan strategi branding.
Branding justru membutuhkan identitas yang relevan dengan produk, target pasar, dan posisi bisnis masing-masing.
Ada beberapa langkah yang dapat digunakan sebagai kerangka sederhana.
A. Tentukan siapa target konsumen utama
Sebelum memikirkan logo atau desain Instagram, bisnis perlu memahami siapa yang ingin dilayani.
Tidak mungkin sebuah brand berbicara kepada semua orang dengan pesan yang sama.
Tuliskan secara sederhana:
- Siapa konsumennya?
- Apa masalah mereka?
- Apa yang mereka cari?
- Apa yang membuat mereka ragu membeli?
- Mengapa mereka harus memilih produk kita?
Semakin jelas target pasar, semakin mudah perusahaan menentukan identitas brand.
B. Tentukan satu positioning yang jelas
Positioning menjawab pertanyaan:
“Kita ingin dikenal sebagai apa?”
Misalnya, dua perusahaan menjual produk yang sama.
Brand pertama ingin dikenal karena harga yang terjangkau.
Brand kedua ingin dikenal karena kualitas premium dan pengalaman pelanggan.
Keduanya mungkin menjual kategori produk yang sama, tetapi cara komunikasinya seharusnya berbeda.
Dalam kasus LAFIYE, komunikasi resmi brand menekankan kombinasi keindahan, fungsi, gaya modern, dan fleksibilitas produk. Itu menunjukkan bagaimana sebuah brand dapat membangun narasi tertentu secara konsisten di sekitar produk yang dijualnya.
C. Buat sistem visual yang konsisten
Setelah positioning jelas, terjemahkan ke dalam visual.
Tentukan warna, font, fotografi, layout, kemasan, dan elemen lain yang mendukung kesan tersebut.
Riset visual merchandising Lafiye menunjukkan relevansi penataan produk, warna, pencahayaan, dan fotografi dalam membentuk identitas merek di media sosial.
Jadi, jangan memilih desain hanya karena sedang viral.
Tren dapat digunakan sebagai variasi, tetapi identitas inti sebaiknya tetap konsisten.
D. Gunakan founder jika memang memberikan nilai
Tidak semua bisnis membutuhkan founder sebagai wajah utama.
Namun, apabila pemilik memiliki pengetahuan, cerita, karakter, atau perspektif yang relevan dengan audiens, personal branding bisa menjadi aset tambahan.
Penelitian mengenai Lafiye menunjukkan bahwa personal branding Sashfir memiliki hubungan positif dan signifikan dengan keputusan pembelian dalam sampel yang diteliti, meskipun pengaruh brand image ditemukan lebih kuat.
Jadi, prinsipnya sederhana. Gunakan personal branding untuk memperkuat brand, bukan menggantikan brand.
E. Bangun pengalaman pelanggan, bukan hanya promosi
Brand tidak berhenti setelah iklan berhasil menghasilkan pembelian.
Pengalaman pelanggan setelah membeli juga penting.
Mulai dari kecepatan membalas pesan, kemudahan pembayaran, kualitas kemasan, ketepatan pengiriman, pelayanan ketika terjadi keluhan, sampai komunikasi setelah transaksi.
Studi mengenai Lafiye yang membahas experiential marketing, social media marketing, dan loyalitas memberi gambaran bahwa pengalaman dan aktivitas media sosial layak dipandang sebagai bagian dari upaya mempertahankan hubungan pelanggan.
F. Ukur hasil branding dengan data
Branding sering dianggap terlalu abstrak untuk diukur.
Padahal, ada banyak indikator sederhana yang bisa diamati:
- Brand mention.
- Reach.
- Engagement.
- Profile visit.
- Website traffic.
- Leads.
- Conversion rate.
- Repeat purchase.
- Customer review.
- Sentimen audiens.
- Jumlah pelanggan yang merekomendasikan produk.
Tidak perlu langsung memakai software mahal.
Bisnis kecil bisa mulai dari insight bawaan media sosial, data marketplace, Google Analytics jika tersedia, CRM sederhana, atau spreadsheet penjualan.
Pendekatan media monitoring terhadap Lafiye juga menunjukkan bahwa pembicaraan publik dapat diamati melalui data seperti mention, reach, dan sentimen dalam periode tertentu.
Yang terpenting adalah menghindari keputusan berdasarkan perasaan saja.
“Kayaknya konten ini bagus” perlu diteruskan menjadi:
“Apakah konten ini mencapai objective yang kita inginkan?”
Kesimpulan
Strategi branding Lafiye memberikan contoh bagaimana personal branding, brand image, konsistensi visual, media sosial, dan pengalaman pelanggan dapat saling terhubung dalam membangun identitas sebuah merek.
Namun, pelajaran utama dari studi kasus ini bukan berarti semua bisnis harus meniru cara Lafiye. Setiap perusahaan tetap perlu menemukan identitasnya sendiri.
Mulailah dengan memahami target konsumen, menentukan positioning, membuat visual yang konsisten, menggunakan media sosial dengan tujuan yang jelas, membangun pengalaman pelanggan yang baik, dan mengukur hasilnya menggunakan data.
Untuk bisnis yang masih kecil, strategi tersebut juga tidak harus dikerjakan sekaligus.
Brand yang kuat umumnya tidak terbentuk dari satu konten viral atau satu kampanye besar. Identitas dibangun melalui banyak titik interaksi yang terus membawa pesan yang sama kepada konsumen.
Ketika produk, komunikasi, visual, pengalaman pelanggan, dan sosok di balik perusahaan bergerak menuju arah yang sama, brand akan memiliki identitas yang semakin jelas.
Dan pada akhirnya, tujuan branding bukan hanya membuat orang pernah melihat sebuah bisnis.
Tujuannya adalah membuat orang mengenali, mengingat, mempercayai, dan memiliki alasan untuk kembali memilihnya.




