Day: August 18, 2026

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Strategi Branding Lafiye: Personal Branding hingga Visual Marketing

Di tengah banyaknya brand fashion yang menawarkan produk serupa, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki produk paling bagus atau harga paling murah. Konsumen juga mempertimbangkan bagaimana sebuah brand terlihat, berbicara, membawa nilai, dan membangun hubungan dengan audiensnya. Karena itu, branding menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis. Branding membantu konsumen memahami alasan sebuah produk berbeda dari pilihan lain yang tersedia di pasar. Identitas tersebut bisa dibentuk melalui tampilan visual, gaya komunikasi, pengalaman pelanggan, sampai sosok orang yang berada di balik bisnis. Salah satu brand yang menarik dipelajari dari sisi tersebut adalah Lafiye, brand fashion muslim lokal yang mengembangkan identitas melalui produk, visual, media sosial, serta personal branding figur di balik mereknya. Situs resmi LAFIYE menggambarkan brand tersebut sebagai brand yang dibuat untuk perempuan modern dengan penekanan pada keindahan, fungsi, gaya yang dapat digunakan dalam berbagai situasi, serta desain yang adaptif. Menariknya, strategi Lafiye tidak hanya menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Beberapa penelitian akademik telah menjadikan brand ini sebagai objek studi, mulai dari pengaruh brand image dan personal branding terhadap keputusan pembelian, penerapan visual merchandising, media monitoring, sampai hubungan antara social media marketing dan loyalitas pelanggan. Artinya, ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari perjalanan branding Lafiye. Bukan untuk menyalin strategi mereka secara mentah, melainkan memahami prinsip di baliknya dan menyesuaikannya dengan kondisi bisnis masing-masing. Berikut empat strategi branding Lafiye yang menarik untuk dipelajari oleh pemilik bisnis. 1. Personal Branding Owner Berjalan Bersama Brand Image Salah satu bagian yang menarik dari strategi branding Lafiye adalah hubungan antara identitas brand dengan sosok Sashfir sebagai founder LAFIYE. Situs resmi Lafiye sendiri menyebut Sashfir sebagai founder ketika membahas kegiatan LAFIYE Unveils 2026. Hubungan antara figur pendiri dan brand ini juga telah menjadi objek penelitian akademik. Dalam bisnis, personal branding owner dapat membantu sebuah brand terasa lebih manusiawi. Konsumen tidak hanya melihat nama perusahaan atau katalog produk, tetapi juga dapat mengenal pandangan, gaya, serta karakter orang yang membangun bisnis tersebut. Pendekatan seperti ini cukup relevan untuk bisnis yang banyak berinteraksi dengan konsumen melalui media sosial. Founder dapat menjadi salah satu wajah yang membantu menyampaikan cerita, nilai, dan karakter brand secara lebih personal. Namun, ada satu pelajaran penting dari penelitian mengenai Lafiye: personal branding owner sebaiknya tidak menggantikan kekuatan brand image itu sendiri. Penelitian Balqis Bintang Paramita, Sri Indriani, dan Emmalia Adriantantri yang diterbitkan dalam El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam pada 2025 meneliti pengaruh brand image dan personal branding Sashfir terhadap keputusan pembelian produk hijab Lafiye. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 110 responden yang mengikuti Sashfir di media sosial dan memiliki pengalaman membeli produk Lafiye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image dan personal branding sama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dalam sampel penelitian tersebut. Akan tetapi, brand image menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan personal branding. Temuan ini memberikan pelajaran penting untuk pemilik usaha. Founder memang bisa menjadi pintu masuk agar orang tertarik mengikuti sebuah bisnis. Namun, dalam jangka panjang, brand tetap harus memiliki identitas yang bisa berdiri dengan kuat. Bayangkan seorang pemilik bisnis memiliki satu juta followers tetapi produk, pelayanan, desain, dan komunikasi mereknya berubah-ubah. Perhatian publik mungkin bisa diperoleh dengan cepat, tetapi perhatian tersebut belum tentu berubah menjadi kepercayaan terhadap brand. Sebaliknya, ketika personal branding founder dan brand image saling mendukung, keduanya bisa membentuk komunikasi yang lebih kuat. Pemilik bisnis dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana. A. Tentukan posisi founder di dalam komunikasi brand Tidak semua pemilik bisnis harus menjadi influencer. Founder bisa muncul sebagai edukator, ahli di bidang tertentu, orang yang menceritakan proses membangun usaha, atau figur yang membawa nilai tertentu. B. Pisahkan identitas personal dengan identitas perusahaan Walaupun saling berhubungan, brand tetap perlu memiliki karakter sendiri. Logo, warna, kualitas produk, pelayanan, tone of voice, sampai pengalaman pelanggan harus tetap konsisten meskipun founder tidak selalu tampil. C. Gunakan cerita yang benar-benar berkaitan dengan bisnis Daripada hanya mengunggah kehidupan pribadi, founder dapat membagikan proses pengembangan produk, alasan mengambil keputusan tertentu, pengalaman menghadapi tantangan bisnis, atau pengetahuan yang relevan dengan audiens. D. Tetap prioritaskan kualitas brand Penelitian mengenai Lafiye tadi menjadi pengingat bahwa brand image tetap memiliki posisi penting dalam keputusan pembelian. Jadi, personal branding sebaiknya digunakan untuk memperkuat perusahaan, bukan membuat perusahaan sepenuhnya bergantung kepada popularitas satu orang. Bagi UMKM atau bisnis yang masih berkembang, strategi ini bahkan dapat menjadi keunggulan. Perusahaan mungkin belum memiliki anggaran iklan besar, tetapi pemiliknya bisa mulai membangun kepercayaan melalui konten yang konsisten, relevan, dan menunjukkan kompetensi di bidangnya. 2. Konsistensi Visual Membuat Brand Lebih Mudah Dikenali Ketika konsumen menemukan sebuah brand untuk pertama kali di Instagram, TikTok, marketplace, atau website, mereka belum tentu langsung membaca seluruh informasi yang tersedia. Hal pertama yang sering terlihat justru elemen visual. Mulai dari warna, komposisi foto, pemilihan model, gaya produk, pencahayaan, sampai bagaimana katalog ditampilkan. Karena itu, tampilan visual bukan hanya urusan membuat feed terlihat cantik. Visual juga menjadi bagian dari cara bisnis membentuk persepsi konsumen. Strategi tersebut dapat dilihat dalam studi mengenai visual merchandising Lafiye. Penelitian Afifah Anggara Laksmi Khania dan Yuniana Cahyaningrum yang diterbitkan dalam Jurnal Tekstil: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Bidang Tekstil dan Manajemen Industri pada 2025 mengkaji bagaimana Lafiye melakukan visual merchandising di media sosial. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan mengambil data antara lain dari website serta akun Instagram resmi Lafiye. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Lafiye secara konsisten menerapkan sejumlah prinsip visual merchandising, termasuk penataan produk, pemilihan warna, pencahayaan, dan gaya fotografi yang diselaraskan dengan identitas merek serta preferensi target pasar. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa strategi visual ini memperkuat citra merek dan membantu membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Dari sini, ada pelajaran sederhana tetapi penting, konsistensi visual membuat brand memiliki pola yang lebih mudah dikenali. Konsumen tidak harus selalu melihat logo terlebih dahulu untuk mengenali sebuah brand. Pada merek yang identitas visualnya sudah kuat, kombinasi warna, fotografi, tata letak, atau gaya kontennya sendiri bisa menjadi tanda pengenal. Namun, konsistensi visual tidak berarti seluruh desain harus sama. Kalau semua konten dibuat dengan template yang identik, hasilnya justru bisa terasa monoton. Yang perlu konsisten adalah sistem visualnya. Misalnya sebuah bisnis dapat menentukan: Sebagai contoh, bisnis yang

SELENGKAPNYA