Bagi banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali, membawa pulang oleh-oleh sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan. Di tengah ratusan pilihan buah tangan khas Pulau Dewata, satu nama terus muncul di feeds Instagram dan video TikTok: Falala Chocolate. Brand cokelat premium asal Bali ini berhasil membangun nama dalam waktu relatif singkat, dan di balik pertumbuhannya ada strategi pemasaran yang terencana dengan baik.
Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana Falala Chocolate membangun brand, apa saja produk yang mereka tawarkan, dan kenapa brand lokal ini bisa menjadi pilihan oleh-oleh favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.
Falala Chocolate: Lahir dari Dua Hati di Ubud
Falala Chocolate Bali resmi berdiri pada 10 April 2020, tepat di tengah situasi yang tidak mudah bagi dunia usaha. Brand ini didirikan oleh Dewa Gede Padma Arta Putra dan Dewa Ayu Melinia Purnama Dewi di Ubud, Gianyar, Bali.
Filosofi brand ini tercermin jelas dalam logonya yaitu dua buah kakao yang membentuk simbol hati, mewakili cerita dua orang yang membangun sesuatu dari rasa cinta.
Slogan yang mereka usung adalah “Best Melt Chocolate in Bali,” sebuah klaim yang langsung menggambarkan pengalaman utama produk mereka yaitu cokelat lembut yang lumer di mulut.
Menurut Dewa Gede Padma Arta Putra selaku founder, komitmen utama brand ini adalah menjaga kualitas dan cita rasa yang otentik dengan menggunakan kakao pilihan dari petani lokal Bali. Setiap produk dibuat secara handmade oleh tim yang mengutamakan kesegaran bahan baku, sehingga produk tidak menggunakan pengawet dan memiliki masa simpan sekitar satu bulan.
Dalam waktu lima tahun berjalan, Falala Chocolate berkembang dari usaha kecil menjadi merek cokelat premium yang dikenal luas.
Pada pertengahan 2025, mereka bahkan meresmikan Falala Artisan Chocolate Ubud, toko eksklusif di jantung Ubud yang tidak hanya menjual cokelat tetapi juga menghadirkan ruang interaksi budaya dan cita rasa.
Nama “Ubud” sendiri berasal dari kata “ubad” yang berarti obat atau penyembuh dalam bahasa Bali, dan filosofi itu dihidupkan kembali oleh Falala sebagai “comfort chocolate” yaitu cokelat yang memberi rasa hangat dan tenang.
Produk dan Varian Rasa Falala Chocolate
Falala Chocolate hadir dalam lima varian rasa utama yang semuanya bebas alkohol dan telah mendapat sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan LPPOM MUI.
a. Dark Chocolate adalah varian pertama sekaligus signature product dari Falala. Dibuat dari 50% dark chocolate berkualitas tinggi yang dipadukan dengan sedikit krim segar, varian ini menghadirkan keseimbangan rasa pahit dan manis yang khas. Di atasnya ditaburi bubuk kakao yang menambah kedalaman rasa. Tersedia dalam dua ukuran, Small Box seharga Rp 95.000 dan Large Box seharga Rp 160.000.
b. Matcha Chocolate menggunakan bubuk matcha berkualitas tinggi langsung dari Uji, Kyoto, Jepang. Perpaduan antara cokelat lembut dan aroma matcha yang khas menghasilkan rasa yang unik dan digemari banyak kalangan.
c. Hazelnut Chocolate disebut sebagai varian best seller dan diklaim sebagai “First Japanese Style Hazelnut Chocolate in Bali.” Varian ini menggabungkan milk chocolate premium dengan pasta hazelnut pilihan, menciptakan rasa creamy, legit, dan lembut yang disukai berbagai kelompok usia. Harganya sedikit lebih tinggi karena bahan premium yang digunakan yaitu Small Box Rp 115.000 dan Large Box Rp 185.000.
d. Caramel Chocolate memadukan manisnya karamel dengan sentuhan rasa asin yang unik, berpadu dengan cokelat premium.
e. Berry Chocolate mengombinasikan cokelat dengan buah beri, ditaburi raw berry powder yang memberikan rasa manis segar dengan sedikit asam.
Selain lima varian utama tersebut, Falala juga menghadirkan varian terbaru yaitu Bali’s Coffee Chocolate yang memadukan cokelat premium dengan kopi asli Bali, serta Extra Dark Chocolate dengan kandungan 70% kakao asli Bali untuk para penggemar cokelat dengan intensitas rasa tinggi.
Setiap produk dikemas dalam kotak eksklusif yang estetis dan mewah, menjadikannya tidak hanya enak dimakan tetapi juga layak dijadikan hadiah.
Pembelian dilengkapi dengan totebag gratis, ice gel gratis untuk menjaga suhu selama perjalanan, garansi produk rusak dalam pengiriman, serta gift card gratis untuk pesan personal kepada orang terkasih.
Strategi Positioning Coklat Falala
Salah satu kunci keberhasilan Falala Chocolate terletak pada positioning yang tepat sasaran. Brand ini tidak memposisikan diri sebagai cokelat artisan yang hanya bisa dibeli oleh segmen atas, tetapi sebagai oleh-oleh premium yang tetap terjangkau.
Harga mulai dari Rp95.000 memang bukan yang paling murah di pasaran oleh-oleh Bali, tetapi juga tidak masuk kategori yang tidak terjangkau bagi wisatawan.
Kemasan yang dirancang estetis dan elegan membuat produk ini terlihat mewah di mata penerimanya. Ini penting karena wisatawan yang membeli oleh-oleh sering kali mempertimbangkan bagaimana tampilan produk saat diberikan kepada keluarga atau kolega.
Falala Chocolate berhasil mengisi celah ini yaitu cokelat lokal berkualitas premium, dikemas cantik, halal, dan cocok untuk semua kalangan.
Sertifikasi halal dari BPJPH dan LPPOM MUI menjadi nilai jual yang tidak bisa diremehkan. Di pasar Indonesia yang mayoritas Muslim, label halal bukan sekadar pelengkap administratif. Ini adalah sinyal kepercayaan yang memperluas jangkauan pasar secara signifikan.
Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia tidak perlu ragu untuk membeli dan berbagi produk ini, begitu pula wisatawan mancanegara yang memperhatikan label halal dalam konsumsi mereka.
Pemasaran Digital dan Kekuatan Konten Visual
Falala Chocolate mengandalkan pemasaran digital sebagai tulang punggung strategi promosinya. Platform utama yang mereka gunakan adalah Instagram dan TikTok, keduanya dipilih karena kekuatan visual dan jangkauan audiens yang sesuai dengan target pasar mereka yaitu wisatawan muda dan konsumen yang aktif di media sosial.
Konten yang dipublikasikan secara konsisten menampilkan tekstur cokelat yang lumer, kemasan yang estetis, dan momen unboxing yang menggugah selera.
Jenis konten seperti ini terbukti efektif mendorong keterlibatan pengguna dan mendorong orang untuk ingin mencoba produk tersebut. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Manajemen Perhotelan Universitas Kristen Petra (2023) menunjukkan bahwa peran food influencer di TikTok berpengaruh signifikan terhadap follower engagement dan purchase intention, menegaskan bahwa strategi konten visual makanan di platform ini bukan sekadar tren tetapi memang terbukti menggerakkan keputusan beli konsumen.
Falala Chocolate secara aktif memanfaatkan user-generated content (UGC) yaitu konten yang dibuat oleh pelanggan dan kreator konten secara sukarela setelah mencoba produk.
Review jujur dari konsumen nyata di Instagram maupun TikTok memiliki bobot kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan iklan berbayar, karena audiens menganggapnya sebagai pengalaman yang otentik dan tidak dibuat-buat.
Falala Kolaborasi dengan Influencer dan Social Proof
Strategi influencer marketing Falala Chocolate terbilang cerdas. Brand ini berhasil mendapatkan exposure organik dari sejumlah nama besar, termasuk Nagita Slavina, Raffi Ahmad, dan Rachel Vennya yang secara terbuka menunjukkan kegemaran mereka pada produk ini.
Endorsement dari figur publik dengan jutaan pengikut memberi efek domino yang besar terhadap awareness brand.
Tidak berhenti di situ, Falala Chocolate juga memanfaatkan kreator konten kuliner dan perjalanan yang secara rutin membuat ulasan dan video unboxing produk. Kombinasi antara endorsement selebriti dan review dari kreator konten dengan niche yang lebih spesifik menciptakan lapisan social proof yang kuat.
Calon pembeli yang melihat nama-nama terpercaya sudah merekomendasikan suatu produk cenderung lebih mudah membuat keputusan pembelian.
Lou (2019) dalam penelitiannya yang dipublikasikan di Journal of Interactive Advertising mencatat bahwa nilai pesan dan kredibilitas konten yang dibuat influencer berpengaruh langsung terhadap kepercayaan konsumen pada branded content di media sosial.
Temuan ini relevan dengan apa yang dilakukan Falala yaitu membangun kepercayaan melalui orang-orang yang sudah dipercaya audiensnya.
Inovasi Konten: Web Series “Cinta Dalam Sekotak Rasa”
Salah satu langkah yang membedakan Falala Chocolate dari merek cokelat lokal lainnya adalah keberanian mereka berinovasi di luar produk itu sendiri.
Menjelang Hari Valentine 2023, Falala Chocolate memproduksi web series berjudul “Cinta Dalam Sekotak Rasa,” sebuah konten bersambung dalam empat episode yang tayang di kanal YouTube Falala Chocolate. Web series ini dibintangi oleh Bella Graceva Amanda Putri, Imran Ismail (Ibam), dan Harindra Pasimpangan.
Langkah ini mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang memberikan apresiasi atas inisiatif Falala sebagai UMKM pertama di Indonesia yang memproduksi web series dalam rangka menyambut Hari Kasih Sayang.
Founder Dewa Gede Padma Arta Putra menjelaskan bahwa keputusan ini didasari tren konsumsi web series di Indonesia yang terus meningkat, dan Falala melihatnya sebagai peluang untuk menjangkau audiens yang lebih luas dengan cara yang lebih kreatif dan berkesan.
Strategi ini berhasil meningkatkan brand awareness secara signifikan karena menyentuh sisi emosional audiens, bukan hanya memperkenalkan produk secara transaksional.
Dampak Sosial: Memberdayakan Komunitas Lokal Bali
Falala Chocolate bukan hanya bicara soal produk dan penjualan. Brand ini punya komitmen sosial yang nyata terhadap komunitas di sekitarnya. Berdasarkan informasi resmi di website mereka, sekitar 95% tim produksi Falala terdiri dari tenaga kerja lokal Bali, sebuah langkah yang disengaja untuk membantu warga Bali mendapatkan pekerjaan yang layak di daerah mereka sendiri.
Lebih dari itu, Falala Chocolate juga bekerja sama dengan ibu-ibu PKK dan ibu rumah tangga setempat untuk proses pelipatan packaging. Ini memberi mereka kesempatan mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan rumah, sebuah model pemberdayaan ekonomi lokal yang relevan dan berdampak nyata.
Brand ini juga secara eksplisit menyatakan komitmen untuk mendukung pelestarian tradisi adat dan budaya Bali, dengan keyakinan bahwa budaya Bali adalah inti dari pariwisata di Pulau Dewata dan harus terus dijaga.
Komitmen sosial semacam ini bukan sekadar narasi marketing. Dalam konteks pemasaran modern, konsumen semakin mempertimbangkan nilai-nilai yang dipegang sebuah brand sebelum memutuskan untuk membeli.
Brand yang terbukti berkontribusi positif pada komunitas sekitarnya memiliki daya tarik tambahan yang sulit ditiru hanya dengan strategi iklan konvensional.
Referensi
- Falala Chocolate. (2024). Tentang Kami. falalachocolate.com/about
- Falala Chocolate. (2025). Harga Falala Chocolate Bali. falalachocolate.com/harga-falala-chocolate-bali-oleh-oleh-cokelat-terjangkau-halal
- Falala Chocolate. (2025). Lokasi Toko. falalachocolate.com/location
- Arka, Yogarta. (31 Juli 2024). “Falala Chocolate, Oleh-oleh Cokelat Khas Bali yang Lumer di Mulut.” Kompas.com. travel.kompas.com/read/2024/07/31/130300327
- Tim DetikBali. (14 Oktober 2024). “Wajib Dibeli! Oleh-oleh Cokelat Premium & Halal di Falala Chocolate Bali.” Detik.com. detik.com/bali/kuliner/d-7586994
- Tim DetikBali. (10 Agustus 2025). “Falala Artisan Ubud: Cokelat Oleh-oleh Khas Bali dalam Paduan Seni dan Budaya.” Detik.com. detik.com/bali/bisnis/d-8053577
- Kumparan Urban. (26 Juli 2024). “Falala Chocolate, Menyulap Coklat Lokal Menjadi Karya Seni Rasa Dunia.” Kumparan.com.
- TribunTravel. (11 Januari 2026). “Daftar Harga Falala Chocolate Awal 2026, Oleh-oleh Premium Bali yang Unik.” Tribunnews.com.
- Radar Bali. (12 Februari 2023). “Falala Chocolate Luncurkan Web Series dan Kemasan Khusus Edisi Valentine.” radarbali.jawapos.com.
- NusaBali. (10 Februari 2024). “Meriahkan Valentine, Film ‘Cinta Dalam Sekotak Rasa’ Tayang di Living World Denpasar.” nusabali.com.
- Wikipedia Bahasa Indonesia. “Falala Chocolate Bali.” id.wikipedia.org/wiki/Falala_Chocolate_Bali
- Widyawati, S.R. (2023). “Peningkatan Pembelian Falala Chocolate Bali dengan Pemberian Tester dan Contoh Varian Produk di Sosial Media.” Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat (SENEMA), Universitas Mahasaraswati Denpasar. e-journal.unmas.ac.id/index.php/seminarfeb/article/view/8028
- Lou, C. (2019). “Influencer Marketing: How Message Value and Credibility Affect Consumer Trust of Branded Content on Social Media.” Journal of Interactive Advertising, 19, 58–73.
- Rahmawati, A., dkk. (2023). “Peran Marketing Food Influencer TikTok terhadap Follower Engagement dan Purchase Intention.” Jurnal Manajemen Perhotelan, Universitas Kristen Petra. doi.org/10.9744/jmp.9.1.24-34




