Daftar Isi

Teknik Planogram: Strategi UMKM Agar Produk Lebih Cepat Terjual

Teknik Planogram: Strategi UMKM Agar Produk Lebih Cepat Terjual

Pernah masuk ke minimarket lalu dengan mudah menemukan barang yang kamu cari, padahal kamu baru pertama kali datang ke toko itu? Atau tiba-tiba tertarik membeli camilan yang tadinya tidak ada dalam daftar belanja? Semua itu bukan kebetulan.

Di balik rak yang tertata rapi, ada teknik bernama planogram yang sengaja dirancang supaya toko lebih mudah dijelajahi dan produk lebih menarik perhatian.

Buat pelaku UMKM, memahami planogram bukan sekadar urusan estetika rak. Ini adalah bagian dari strategi bisnis UMKM yang bisa langsung berpengaruh pada omzet, terutama sekarang ketika makin banyak produk UMKM masuk ke rak minimarket dan supermarket modern.

Artikel ini akan membahas apa itu planogram, hingga kenapa tekniknya penting untuk UMKM.

Apa Itu Planogram?

Planogram adalah panduan visual atau diagram yang menunjukkan bagaimana produk seharusnya ditempatkan dan disusun di rak display sebuah toko.

Panduan ini mencakup posisi tiap produk, jumlah barang yang dipajang, ukuran ruang yang dipakai, sampai urutan penempatan setiap item.

Sederhananya, planogram itu seperti peta rak yang membantu toko menampilkan produk secara terstruktur dan konsisten, sehingga setiap cabang bisa menerapkan tata letak yang sama sesuai standar yang sudah ditentukan.

Bagi peritel besar, planogram sudah jadi alat wajib. Tapi bagi UMKM, konsep ini sering dianggap terlalu “kelas atas” dan jarang diterapkan, padahal justru pelaku usaha kecil yang paling butuh strategi ini karena keterbatasan ruang toko atau etalase.

Ketika ruang terbatas, setiap sentimeter rak jadi lebih berharga, dan di situlah logika planogram bisa dipakai meski dalam skala yang jauh lebih sederhana dibanding toko ritel besar.

Alasan Penataan Produk Berpengaruh pada Keputusan Beli

Dalam dunia ritel, penataan produk punya peran besar terhadap keputusan pembelian pelanggan. Produk yang ditempatkan di posisi strategis biasanya lebih mudah terlihat dan lebih besar peluangnya untuk dibeli.

Ketika barang disusun secara teratur dan sesuai kategori, pelanggan tidak perlu buang waktu mencari apa yang mereka butuhkan, sehingga pengalaman belanja terasa lebih nyaman.

Hal ini juga dikonfirmasi lewat penelitian akademik. Sudarsono meneliti pengaruh visual merchandising, yaitu cara toko menata dan memajang produk, terhadap perilaku belanja spontan atau impulse buying pada konsumen Zara di Surabaya.

Studi yang dipublikasikan di Jurnal Manajemen Pemasaran tahun 2017 itu menemukan bahwa penataan visual yang menarik bisa memicu emosi positif pada pengunjung toko, dan emosi positif inilah yang kemudian mendorong mereka membeli barang yang sebelumnya tidak direncanakan.

Artinya, penataan produk bukan hanya soal kerapian, tapi juga soal bagaimana membuat calon pembeli merasa nyaman dan tertarik secara emosional saat berada di dalam toko.

Untuk pelaku UMKM, temuan ini punya makna praktis. Kamu tidak perlu modal besar untuk membuat rak yang mewah, tapi kamu bisa meniru prinsip dasarnya, yaitu menata barang secara rapi, mengelompokkan produk sejenis, dan menempatkan barang dengan margin atau permintaan tinggi di titik yang paling mudah dilihat pembeli begitu masuk toko.

Baca juga  Kasus Menantea Jerome Polin: Pelajaran untuk UMKM soal Keuangan dan Pasar

Manfaat Planogram Buat Usaha Kecil

Ada beberapa manfaat nyata yang bisa dirasakan pelaku UMKM kalau menerapkan prinsip planogram, meski dalam skala kecil.

1. Memaksimalkan Ruang yang Terbatas

Setiap sudut toko memiliki nilai untuk menghasilkan penjualan. Karena itu, ruang rak sebaiknya dimanfaatkan secara optimal melalui penataan produk yang terencana, bukan sekadar mengisi rak hingga penuh.

Produk dengan penjualan tinggi dapat diberikan ruang display yang lebih luas agar selalu tersedia dan mudah dijangkau pelanggan.

Sementara itu, produk yang perputarannya lebih lambat dapat ditempatkan pada area yang proporsional sehingga tidak menghabiskan kapasitas rak.

Dengan cara ini, toko akan terlihat lebih rapi, nyaman dipandang, dan mampu menampilkan lebih banyak variasi produk tanpa terkesan sesak.

2. Mempermudah Pelanggan Menemukan Produk

Penataan produk yang konsisten membuat pelanggan lebih mudah menemukan barang yang mereka cari. Produk yang dikelompokkan berdasarkan kategori, merek, atau fungsi akan mempercepat proses belanja sehingga pelanggan tidak perlu berkeliling terlalu lama.

Pengalaman berbelanja yang praktis juga meningkatkan kepuasan pelanggan dan membuat mereka lebih nyaman untuk kembali berbelanja di kemudian hari.

Bahkan bagi pelanggan baru, tata letak yang jelas dapat membantu mereka memahami susunan toko hanya dalam satu kali kunjungan.

3. Mendorong Pembelian Tambahan (Impulse Buying)

Penempatan produk yang tepat dapat meningkatkan nilai transaksi tanpa perlu memberikan diskon atau promosi khusus.

Salah satu caranya adalah dengan meletakkan produk yang saling melengkapi dalam satu area. Misalnya, kopi ditempatkan berdekatan dengan gula dan creamer, mi instan di dekat telur atau sosis beku, atau sampo berdampingan dengan kondisioner.

Ketika pelanggan melihat kebutuhan lain yang relevan, mereka cenderung membeli produk tersebut secara spontan.

Strategi ini memanfaatkan perilaku belanja konsumen yang sering kali dipengaruhi oleh tampilan visual dan kemudahan menemukan produk pendukung.

4. Memudahkan Pengelolaan dan Kontrol Stok

Planogram juga membantu pemilik toko mengelola persediaan barang dengan lebih efektif.

Karena setiap produk memiliki posisi dan jumlah display yang sudah ditentukan, karyawan dapat dengan mudah mengetahui produk mana yang mulai habis dan perlu segera diisi ulang.

Sebaliknya, produk yang masih menumpuk juga dapat segera teridentifikasi sehingga strategi penjualannya dapat dievaluasi.

Pengelolaan stok menjadi lebih akurat, proses restocking lebih cepat, serta risiko kehabisan barang atau overstock dapat diminimalkan.

Hal ini pada akhirnya membantu operasional toko berjalan lebih efisien dan mengurangi potensi kehilangan penjualan akibat stok kosong.

Cara Menerapkan Prinsip Planogram di Usaha Kecil

Kamu tidak perlu software mahal atau tim khusus untuk mulai menerapkan prinsip planogram. Berikut langkah sederhana yang bisa langsung dicoba.

1. Kelompokkan Produk Berdasarkan Kategori

Langkah pertama dalam membuat planogram adalah mengelompokkan produk sesuai jenis, fungsi, atau kebutuhan pelanggan.

Misalnya, makanan ringan ditempatkan dalam satu area, minuman di area lain, dan kebutuhan rumah tangga memiliki zona tersendiri.

Baca juga  Mengapa Pengusaha Perlu Memutar Laba ke Aset Properti Baru?

Pengelompokan ini membuat tampilan toko lebih rapi sekaligus memudahkan pelanggan menemukan barang yang mereka cari tanpa harus berkeliling terlalu lama. Selain meningkatkan kenyamanan berbelanja, kategori yang jelas juga membantu proses pengisian ulang stok menjadi lebih cepat dan teratur.

2. Manfaatkan Zona Mata dan Zona Tangan

Posisi penempatan produk sangat memengaruhi peluang barang tersebut dibeli. Produk yang berada pada eye level (setinggi mata) dan hand level (mudah dijangkau tangan) memiliki peluang lebih besar untuk dilihat dan diambil pelanggan.

Oleh karena itu, area ini sebaiknya digunakan untuk menampilkan produk dengan margin keuntungan tinggi, produk baru, atau produk yang sedang dipromosikan.

Sebaliknya, barang kebutuhan pokok yang memang sudah dicari pelanggan, seperti beras, minyak goreng, atau gula, dapat ditempatkan di rak bagian bawah karena pelanggan umumnya tetap akan mencarinya meskipun harus sedikit membungkuk.

3. Perhatikan Alur Pergerakan Pelanggan

Setiap toko memiliki pola pergerakan pelanggan yang berbeda. Coba amati ke mana pelanggan biasanya berjalan setelah memasuki toko, area mana yang paling sering dilewati, dan titik mana yang paling lama menjadi tempat mereka berhenti.

Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk menempatkan produk unggulan, produk promo, atau produk dengan margin tinggi di lokasi yang paling strategis.

Dengan memanfaatkan alur belanja pelanggan, peluang produk untuk dilihat dan dibeli akan semakin besar.

4. Jaga Konsistensi Penataan Rak

Setelah menemukan susunan rak yang efektif, usahakan untuk mempertahankannya setiap kali melakukan pengisian ulang stok.

Hindari terlalu sering memindahkan posisi produk tanpa alasan yang jelas karena dapat membuat pelanggan kebingungan saat mencari barang yang biasa mereka beli.

Penataan yang konsisten menciptakan pengalaman belanja yang lebih nyaman, membuat pelanggan merasa familiar dengan toko, dan membantu membangun loyalitas dalam jangka panjang.

5. Lakukan Evaluasi Secara Berkala

Planogram bukanlah strategi yang bersifat permanen. Lakukan evaluasi secara rutin untuk melihat apakah penempatan produk sudah memberikan hasil yang optimal.

Perhatikan produk mana yang penjualannya meningkat setelah dipindahkan ke posisi tertentu, produk mana yang masih kurang terlihat, atau area rak mana yang paling efektif menarik perhatian pelanggan. Evaluasi ini tidak harus menggunakan sistem yang rumit.

Catatan sederhana mengenai penjualan, kecepatan stok habis, dan kebiasaan pelanggan sudah cukup menjadi dasar untuk menyempurnakan penataan rak sehingga semakin efektif meningkatkan penjualan.

Kesalahan Umum UMKM

Sebelum menerapkan planogram, ada baiknya kamu juga mengenali beberapa kesalahan yang sering terjadi di toko-toko kecil, supaya tidak mengulangi hal yang sama.

Kesalahan pertama adalah menumpuk semua produk baru di satu titik tanpa memperhitungkan alur pelanggan. Banyak pemilik toko menaruh barang baru begitu saja di dekat kasir tanpa memikirkan apakah posisi itu memang dilewati banyak orang.

Akibatnya, produk baru jadi kurang terekspos meski sebenarnya punya potensi.

Kesalahan kedua adalah mengubah tata letak terlalu sering tanpa alasan yang jelas. Perubahan yang terlalu sering justru membuat pelanggan setia kebingungan mencari barang yang biasa mereka beli, sehingga pengalaman belanja jadi kurang nyaman.

Baca juga  10 Rekomendasi Software Pembukuan Terbaik untuk UMKM di Indonesia

Idealnya, perubahan tata letak dilakukan dengan pertimbangan matang dan dievaluasi hasilnya dalam jangka waktu tertentu, bukan berdasarkan perasaan sesaat.

Kesalahan ketiga adalah membiarkan rak terlalu penuh sehingga terlihat sesak. Niat awalnya mungkin ingin menampilkan sebanyak mungkin produk, tapi rak yang terlalu padat justru membuat mata pelanggan lelah dan sulit fokus pada satu produk tertentu.

Memberi sedikit ruang kosong di antara kategori produk justru membantu mata pelanggan beristirahat sejenak sebelum berpindah ke kategori berikutnya.

Kesalahan keempat adalah mengabaikan kebersihan dan kerapian kemasan yang dipajang. Produk dengan kemasan kusut, berdebu, atau label yang sudah pudar akan sulit bersaing meski posisinya sudah strategis. Penataan yang baik perlu diimbangi dengan perawatan tampilan produk itu sendiri.

Kesalahan kelima adalah tidak memberi label harga yang jelas. Pelanggan yang tidak yakin dengan harga sebuah produk cenderung memilih produk lain yang labelnya lebih jelas, meski secara kualitas belum tentu lebih baik. Label harga yang mudah dibaca membantu mempercepat keputusan pembelian, sekaligus mengurangi pertanyaan berulang ke kasir atau pemilik toko.

Menyesuaikan Planogram dengan Karakter Usaha

Setiap usaha punya karakter pelanggan yang berbeda, sehingga penerapan planogram juga sebaiknya disesuaikan, bukan sekadar meniru toko lain secara mentah-mentah.

Toko kelontong di lingkungan perumahan misalnya, punya pola belanja pelanggan yang cenderung terburu-buru dan sudah tahu apa yang mereka cari, sehingga penataan yang memudahkan pencarian barang pokok jadi prioritas utama.

Sementara itu, toko oleh-oleh atau usaha kuliner rumahan yang mengandalkan pembeli baru justru lebih diuntungkan dengan penataan yang menonjolkan produk andalan di titik yang paling mudah dilihat, karena pembeli baru biasanya belum tahu produk mana yang paling direkomendasikan.

Kamu juga bisa memanfaatkan momen tertentu untuk menyesuaikan tata letak, misalnya menonjolkan produk musiman menjelang hari besar keagamaan, atau memindahkan produk dengan stok berlebih ke posisi yang lebih strategis supaya cepat terjual.

Yang penting, setiap perubahan tetap didasarkan pada pengamatan nyata terhadap kebiasaan pelanggan, bukan sekadar coba-coba tanpa evaluasi.

Referensi

  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2021 tentang Pedoman Pengembangan, Penataan, dan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan. Tersedia di: https://jdih.kemendag.go.id/pdf/Regulasi/2021/PERMENDAG%20NOMOR%2023%20TAHUN%202021.pdf
  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Permendag Nomor 23 Tahun 2021. Tersedia di: https://jdih.kemendag.go.id/pdf/Regulasi/2022/Permendag%2018%20Tahun%202022.pdf
  • Sudarsono, J. G. (2017). Pengaruh Visual Merchandising Terhadap Impulse Buying Melalui Positive Emotion Pada Zara Surabaya. Jurnal Manajemen Pemasaran, 11(1), 16-25.
  • ANTARA News. (2026). Menteri UMKM: Ritel modern, koperasi, dan warung harus saling dukung. Tersedia di: https://www.antaranews.com/berita/5642737/menteri-umkm-ritel-modern-koperasi-dan-warung-harus-saling-dukung
  • Katadata.co.id. (2021). Permendag Baru, Peretail Modern Wajib Sediakan 30% Ruang bagi UMKM. Tersedia di: https://katadata.co.id/pingitaria/berita/60b98629a1021/permendag-baru-peretail-modern-wajib-sediakan-30-ruang-bagi-umkm
  • RRI.co.id. (2026). Teknik Planogram, Rahasia Produk Tertata Rapi di Toko. Tersedia di: https://rri.co.id/lhokseumawe/berita-lain/2437706/teknik-planogram-rahasia-produk-tertata-rapi-di-toko

Daftar Isi