Daftar Isi

Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Sejak awal 2026, satu nama kuliner terus ramai diperbincangkan di media sosial lintas negara, yaitu Chikuro. Brand kuliner asli Indonesia ini viral di berbagai platform media sosial. 

Orang-orang dari Negeri Jiran membagikan konten “berburu” dan menikmati Chikuro, bahkan rela datang jauh-jauh ke Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia untuk menikmati camilan tersebut.

Tidak sekadar tren sesaat, fenomena ini terus berkembang dan melahirkan berbagai dampak, mulai dari antrean panjang di gerai hingga munculnya produk tiruan di Malaysia.

Apa Itu Chikuro?

Chikuro adalah jajanan kekinian asal Indonesia bergaya Jepang. Mereka dikenal sebagai pelopor ayam renyah isi panjang pertama di dunia. Camilan ini berupa olahan daging ayam cincang yang dibentuk memanjang, dengan ukuran mencapai 30 hingga 40 cm.

Konsepnya dikenal dengan nama long filled crispy chicken roll. Panjang Chikuro sekitar 18–25 cm dengan tekstur renyah di luar dan isian creamy di dalam. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat di sana penasaran dan ingin segera mencicipinya. 

Selain itu, Chikuro menawarkan pengalaman baru dalam menikmati daging ayam tanpa harus merasa “berantakan”. Pembeli tidak perlu memisahkan daging dan tulangnya sendiri atau memegang jajanan langsung dengan tangan.

Pilihan rasa yang ditawarkan sangat beragam, antara lain Royal Garlic Cream Cheese, BBQ Cream Cheese, dan Kurimiji Mentai. Taburannya berupa Signature Japanese Truffle, Sweet BBQ, Japanese Nori, dan Sour Cream Onion. Sementara itu, tingkat kepedasannya bisa ditentukan sendiri sesuai selera.

Di Indonesia, Chikuro dijual dengan harga mulai dari Rp29.500–Rp37.000 (belum termasuk pajak), tergantung panjangnya. Untuk soal kehalalan, makanan ini sudah bersertifikat halal sehingga aman dikonsumsi oleh konsumen muslim.

Kenapa Chikuro Bisa Viral di Malaysia?

Ada beberapa sebab nih kenapa Chikuro sangat viral di Malaysia.

1. Konsep yang Belum Ada di Malaysia

Daya tarik utama yang membuat Chikuro begitu menonjol adalah konsepnya, yakni Japanese long-filled roll snack atau long filled crispy chicken. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat setempat penasaran dan ingin segera mencicipinya.

Baca juga  Rahasia Kopi TUKU Laris Tanpa Aplikasi dan Endorse Artis: Omset Tembus Rp 1 Miliar per Hari

2. Konten ASMR yang Menggugah Selera

Kesuksesan Chikuro di Malaysia tidak lepas dari peran algoritma media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Banyak influencer makanan dan pembuat konten kuliner di Malaysia yang membuat video bertema ASMR saat menyantap berbagai rasa dan varian Chikuro. 

Suara renyah beradu dengan lembutnya isian krim menciptakan rasa penasaran di kalangan penonton. Hal inilah yang mendorong mereka untuk ikut berburu jajanan tersebut demi merasakan pengalaman yang sama.

Satu hal yang paling sering muncul dalam video viral di TikTok mengenai Chikuro adalah momen saat staf gerai menyuntikkan isian krim ke dalam gulungan ayam hingga hampir meluap dan ketika pembuat video menyantapnya. 

Fenomena “lava filling” ini sangat disukai warganet di Malaysia.

3. Tren Jastip (Jasa Titip) yang Masif

Turis Malaysia ramai memborong jajanan yang dijual di sejumlah mal di Jakarta, bahkan hingga ratusan bungkus, untuk dijual kembali di Malaysia. 

Para jastiper Malaysia pun memiliki tim yang disebar di berbagai gerai Chikuro di Jakarta dan mereka pun membuat konten yang membuat makanan ini semakin viral.

Bahkan, tak sedikit personal shopper atau jastiper yang membeli ratusan Chikuro dan membawanya langsung naik pesawat. 

Setibanya di Malaysia, masyarakat yang penasaran langsung menyerbunya dan camilan tersebut habis dalam waktu dua jam saja.

4. Kesamaan Selera Kuliner Indonesia dan Malaysia

Hubungan serumpun antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya terlihat pada lokasi geografis yang berdampingan, tetapi juga pada akulturasi kulinernya. Tak sedikit makanan di kedua negara ini memiliki kesamaan satu sama lain. 

Faktor ini membuat selera lidah orang Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda. Orang Malaysia mudah menerima makanan Indonesia, begitu pula sebaliknya.

Dampak Viralnya Chikuro

Popularitas Chikuro yang meledak tidak hanya dirasakan di Malaysia, tetapi juga berdampak langsung pada operasional gerai di Indonesia.

Baca juga  Asal Mula Pasta Gigi Disebut “Odol”: Bedah Bisnis Branding

Antusiasme yang tinggi sempat membuat gerai di Gandaria City, Jakarta Selatan, kehabisan stok akibat pesanan turis asal Malaysia.

Selain itu, Chikuro tidak hanya menarik perhatian turis Malaysia. Ada juga turis dari Thailand yang membagikan momen ketika dirinya mencicipi jajanan viral ini. Lewat unggahan akun TikTok, turis asal Thailand itu mengungkap bahwa siapa pun yang datang ke Indonesia wajib mencoba ini.

Di sisi harga, Chikuro yang dijual jastiper di Malaysia ini berkisar RM18–RM20 atau sekitar Rp79 ribu–Rp88 ribu per buahnya, jauh lebih tinggi dibanding harga aslinya di Indonesia.

Kontroversi: Muncul Chikuro “KW” di Malaysia

Di balik viralnya Chikuro, ada satu isu yang memantik amarah netizen Indonesia. Di media sosial, beredar video sebuah gerai makanan di bazar kuliner yang ada di Bazaria Wangsa Maju, Kuala Lumpur yang menjual camilan ayam gulung dengan konsep dan nama yang sama, yaitu Chikuro.

Yang membuat banyak netizen Indonesia geram, penjual ini menggunakan nama, logo, hingga konsep Chikuro tanpa kerja sama resmi. Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen di media sosial.

Netizen menyoroti penggunaan nama brand yang diduga sama persis dengan milik pengusaha Indonesia. “Selogo-logonya di-copy,” tulis seorang pengguna TikTok.

Merespons hal ini, pihak Chikuro menyampaikan harapan agar ke depannya dapat hadir secara resmi di Malaysia: “Doakan ya semoga ke depannya Chikuro bisa hadir resmi di Malaysia agar pelanggan di sana juga bisa menikmati produk kami.”

Rencana Ekspansi Chikuro ke Malaysia

Melihat tingginya permintaan, pihak Chikuro sudah mulai merespons peluang pasar di Malaysia. Saat ini Chikuro telah memiliki 80 cabang di Indonesia, dan ada rencana untuk membuka outlet secara resmi di Malaysia guna memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Baca juga  Strategi Marketing Momoyo: Es Krim Ember Jadi Branding Efektif

Fenomena Chikuro membuktikan bahwa jajanan lokal Indonesia punya daya tarik kuat di pasar regional. Kalau ada makanan yang viral di salah satu negara, tidak perlu menunggu waktu lama untuk viral juga di negara lainnya.

Kombinasi antara konsep produk yang unik, kekuatan media sosial, dan kedekatan selera kuliner dua negara serumpun menjadi kunci di balik kesuksesan Chikuro menembus batas wilayah.

Kesimpulan

Chikuro adalah bukti nyata bahwa jajanan lokal Indonesia mampu bersaing dan menarik perhatian pasar internasional, khususnya di Asia Tenggara. Bermodal konsep long filled crispy chicken roll yang belum pernah ada sebelumnya di Malaysia, ditambah kekuatan konten ASMR di TikTok dan Instagram, nama Chikuro berhasil melampaui batas wilayah tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar-besaran ke luar negeri.

Fenomena jastip yang membawa ratusan porsi Chikuro langsung dari Jakarta ke Kuala Lumpur menunjukkan betapa tingginya permintaan pasar Malaysia terhadap produk ini. Di sisi lain, kemunculan produk tiruan di Malaysia juga menjadi sinyal penting bahwa brand Chikuro perlu segera memperkuat perlindungan kekayaan intelektualnya sebelum melakukan ekspansi resmi ke luar negeri.

Dengan 80 cabang yang sudah beroperasi di Indonesia dan rencana ekspansi ke Malaysia, Chikuro berpeluang besar untuk tumbuh menjadi brand kuliner Indonesia yang dikenal luas di tingkat regional. Langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah memastikan kehadiran resmi di pasar luar negeri, menjaga konsistensi kualitas produk, dan melindungi identitas brand dari potensi peniruan.

Secara lebih luas, kisah Chikuro menjadi pelajaran berharga bagi pengusaha kuliner Indonesia bahwa inovasi produk yang tepat, dikombinasikan dengan strategi media sosial yang organik, bisa membuka pintu pasar yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Daftar Isi