Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Chikuro: Jajanan Viral Indonesia yang Diserbu Turis Malaysia

Sejak awal 2026, satu nama kuliner terus ramai diperbincangkan di media sosial lintas negara, yaitu Chikuro. Brand kuliner asli Indonesia ini viral di berbagai platform media sosial.  Orang-orang dari Negeri Jiran membagikan konten “berburu” dan menikmati Chikuro, bahkan rela datang jauh-jauh ke Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia untuk menikmati camilan tersebut. Tidak sekadar tren sesaat, fenomena ini terus berkembang dan melahirkan berbagai dampak, mulai dari antrean panjang di gerai hingga munculnya produk tiruan di Malaysia. Apa Itu Chikuro? Chikuro adalah jajanan kekinian asal Indonesia bergaya Jepang. Mereka dikenal sebagai pelopor ayam renyah isi panjang pertama di dunia. Camilan ini berupa olahan daging ayam cincang yang dibentuk memanjang, dengan ukuran mencapai 30 hingga 40 cm. Konsepnya dikenal dengan nama long filled crispy chicken roll. Panjang Chikuro sekitar 18–25 cm dengan tekstur renyah di luar dan isian creamy di dalam. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat di sana penasaran dan ingin segera mencicipinya.  Selain itu, Chikuro menawarkan pengalaman baru dalam menikmati daging ayam tanpa harus merasa “berantakan”. Pembeli tidak perlu memisahkan daging dan tulangnya sendiri atau memegang jajanan langsung dengan tangan. Pilihan rasa yang ditawarkan sangat beragam, antara lain Royal Garlic Cream Cheese, BBQ Cream Cheese, dan Kurimiji Mentai. Taburannya berupa Signature Japanese Truffle, Sweet BBQ, Japanese Nori, dan Sour Cream Onion. Sementara itu, tingkat kepedasannya bisa ditentukan sendiri sesuai selera. Di Indonesia, Chikuro dijual dengan harga mulai dari Rp29.500–Rp37.000 (belum termasuk pajak), tergantung panjangnya. Untuk soal kehalalan, makanan ini sudah bersertifikat halal sehingga aman dikonsumsi oleh konsumen muslim. Kenapa Chikuro Bisa Viral di Malaysia? Ada beberapa sebab nih kenapa Chikuro sangat viral di Malaysia. 1. Konsep yang Belum Ada di Malaysia Daya tarik utama yang membuat Chikuro begitu menonjol adalah konsepnya, yakni Japanese long-filled roll snack atau long filled crispy chicken. Konsep ini belum ada di Malaysia, sehingga masyarakat setempat penasaran dan ingin segera mencicipinya. 2. Konten ASMR yang Menggugah Selera Kesuksesan Chikuro di Malaysia tidak lepas dari peran algoritma media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Banyak influencer makanan dan pembuat konten kuliner di Malaysia yang membuat video bertema ASMR saat menyantap berbagai rasa dan varian Chikuro.  Suara renyah beradu dengan lembutnya isian krim menciptakan rasa penasaran di kalangan penonton. Hal inilah yang mendorong mereka untuk ikut berburu jajanan tersebut demi merasakan pengalaman yang sama. Satu hal yang paling sering muncul dalam video viral di TikTok mengenai Chikuro adalah momen saat staf gerai menyuntikkan isian krim ke dalam gulungan ayam hingga hampir meluap dan ketika pembuat video menyantapnya.  Fenomena “lava filling” ini sangat disukai warganet di Malaysia. 3. Tren Jastip (Jasa Titip) yang Masif Turis Malaysia ramai memborong jajanan yang dijual di sejumlah mal di Jakarta, bahkan hingga ratusan bungkus, untuk dijual kembali di Malaysia.  Para jastiper Malaysia pun memiliki tim yang disebar di berbagai gerai Chikuro di Jakarta dan mereka pun membuat konten yang membuat makanan ini semakin viral. Bahkan, tak sedikit personal shopper atau jastiper yang membeli ratusan Chikuro dan membawanya langsung naik pesawat.  Setibanya di Malaysia, masyarakat yang penasaran langsung menyerbunya dan camilan tersebut habis dalam waktu dua jam saja. 4. Kesamaan Selera Kuliner Indonesia dan Malaysia Hubungan serumpun antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya terlihat pada lokasi geografis yang berdampingan, tetapi juga pada akulturasi kulinernya. Tak sedikit makanan di kedua negara ini memiliki kesamaan satu sama lain.  Faktor ini membuat selera lidah orang Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda. Orang Malaysia mudah menerima makanan Indonesia, begitu pula sebaliknya. Dampak Viralnya Chikuro Popularitas Chikuro yang meledak tidak hanya dirasakan di Malaysia, tetapi juga berdampak langsung pada operasional gerai di Indonesia. Antusiasme yang tinggi sempat membuat gerai di Gandaria City, Jakarta Selatan, kehabisan stok akibat pesanan turis asal Malaysia. Selain itu, Chikuro tidak hanya menarik perhatian turis Malaysia. Ada juga turis dari Thailand yang membagikan momen ketika dirinya mencicipi jajanan viral ini. Lewat unggahan akun TikTok, turis asal Thailand itu mengungkap bahwa siapa pun yang datang ke Indonesia wajib mencoba ini. Di sisi harga, Chikuro yang dijual jastiper di Malaysia ini berkisar RM18–RM20 atau sekitar Rp79 ribu–Rp88 ribu per buahnya, jauh lebih tinggi dibanding harga aslinya di Indonesia. Kontroversi: Muncul Chikuro “KW” di Malaysia Di balik viralnya Chikuro, ada satu isu yang memantik amarah netizen Indonesia. Di media sosial, beredar video sebuah gerai makanan di bazar kuliner yang ada di Bazaria Wangsa Maju, Kuala Lumpur yang menjual camilan ayam gulung dengan konsep dan nama yang sama, yaitu Chikuro. Yang membuat banyak netizen Indonesia geram, penjual ini menggunakan nama, logo, hingga konsep Chikuro tanpa kerja sama resmi. Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen di media sosial. Netizen menyoroti penggunaan nama brand yang diduga sama persis dengan milik pengusaha Indonesia. “Selogo-logonya di-copy,” tulis seorang pengguna TikTok. Merespons hal ini, pihak Chikuro menyampaikan harapan agar ke depannya dapat hadir secara resmi di Malaysia: “Doakan ya semoga ke depannya Chikuro bisa hadir resmi di Malaysia agar pelanggan di sana juga bisa menikmati produk kami.” Rencana Ekspansi Chikuro ke Malaysia Melihat tingginya permintaan, pihak Chikuro sudah mulai merespons peluang pasar di Malaysia. Saat ini Chikuro telah memiliki 80 cabang di Indonesia, dan ada rencana untuk membuka outlet secara resmi di Malaysia guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Fenomena Chikuro membuktikan bahwa jajanan lokal Indonesia punya daya tarik kuat di pasar regional. Kalau ada makanan yang viral di salah satu negara, tidak perlu menunggu waktu lama untuk viral juga di negara lainnya. Kombinasi antara konsep produk yang unik, kekuatan media sosial, dan kedekatan selera kuliner dua negara serumpun menjadi kunci di balik kesuksesan Chikuro menembus batas wilayah. Kesimpulan Chikuro adalah bukti nyata bahwa jajanan lokal Indonesia mampu bersaing dan menarik perhatian pasar internasional, khususnya di Asia Tenggara. Bermodal konsep long filled crispy chicken roll yang belum pernah ada sebelumnya di Malaysia, ditambah kekuatan konten ASMR di TikTok dan Instagram, nama Chikuro berhasil melampaui batas wilayah tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar-besaran ke luar negeri. Fenomena jastip yang membawa ratusan porsi Chikuro langsung dari Jakarta ke Kuala Lumpur menunjukkan betapa tingginya permintaan pasar Malaysia terhadap produk ini. Di sisi lain, kemunculan produk tiruan di Malaysia juga menjadi sinyal penting bahwa brand

SELENGKAPNYA
Xiaomi Kurangi Model Smartphone: Strategi untuk Pergeseran Fokus

Xiaomi Kurangi Model Smartphone: Strategi untuk Pergeseran Fokus

Selama bertahun-tahun, Xiaomi dikenal sebagai produsen smartphone yang rajin merilis model baru di hampir setiap segmen harga. Mulai dari Redmi seri entry-level, Poco untuk segmen gaming budget, hingga Xiaomi seri premium, semuanya hadir silih berganti setiap tahun. Tapi sejak 2025, pola itu berubah secara cukup signifikan. Xiaomi sekarang dengan sengaja mengurangi jumlah model smartphone yang diluncurkan setiap tahunnya. Ini bukan karena perusahaan sedang kekurangan ide produk, melainkan karena ada pergeseran besar dalam arah bisnis mereka. Menurut laporan keuangan Q2 2025 Xiaomi, pendapatan dari segmen smartphone turun 2% secara year-on-year meski pasar smartphone global secara keseluruhan justru tumbuh.  Sebaliknya, segmen AIoT Xiaomi mencatat kenaikan sebesar 44,7%, mencapai 38,7 miliar yuan atau sekitar USD 5,4 miliar. Bisnis kendaraan listrik mereka juga menghasilkan pendapatan lebih dari 20 miliar yuan per kuartal, didorong oleh permintaan kuat untuk model SU7 dan YU7. Dengan kondisi seperti itu, smartphone bukan lagi mesin pertumbuhan utama Xiaomi. Pemahaman inilah yang mendorong perusahaan untuk memikirkan ulang cara mereka mengelola portofolio produk. Smartphone Terlalu Banyak Model Merilis banyak model ponsel terdengar seperti strategi yang menguntungkan karena menjangkau lebih banyak segmen konsumen. Tapi kenyataannya ada biaya tersembunyi yang cukup besar, terutama ketika sebuah perusahaan sedang menjalani transisi sistem operasi yang besar. Xiaomi sedang dalam proses transisi dari MIUI ke HyperOS.  Transisi ini membuat perusahaan perlu mengurangi fragmentasi produk dan menstandardisasi platform secara global. Bayangkan harus memperbarui puluhan varian regional dari lusinan model yang berbeda secara bersamaan, dengan dukungan software yang kini diperpanjang. Ini bukan pekerjaan kecil. Xiaomi 15 dan seri Redmi Note 14 kini menerima empat kali pembaruan sistem operasi dan enam tahun patch keamanan. Kebijakan ini menyamai standar pembaruan dari merek seperti Samsung dan Apple.  Namun, mendukung pembaruan jangka panjang di puluhan varian regional menjadi semakin sulit untuk dikelola. Artinya, semakin sedikit model yang dirilis, semakin mudah Xiaomi menjaga konsistensi pembaruan software di seluruh dunia tanpa harus mengorbankan kualitas atau kecepatan pengiriman pembaruan tersebut. Klarifikasi Peran Setiap Sub-brand Salah satu hasil langsung dari evaluasi tersebut adalah pembenahan identitas setiap sub-brand.  Xiaomi kini menetapkan peran yang lebih jelas untuk setiap sub-brand: Redmi menyasar pasar massal, Xiaomi mencakup segmen menengah ke atas, Poco berfokus pada performa, dan Civi melayani pengguna yang mengutamakan desain.  HyperOS kini berfungsi sebagai fondasi global untuk mengurangi variasi regional dan menyederhanakan pemeliharaan software. Dengan batasan peran yang lebih tegas ini, konsumen tidak lagi perlu bingung memilih.  Poco adalah untuk yang mau spesifikasi gaming tinggi dengan harga terjangkau. Redmi adalah untuk kebutuhan sehari-hari yang andal. Xiaomi (lini utama) adalah untuk yang ingin pengalaman premium. Civi adalah untuk yang peduli estetika dan desain. Smartphone Sebagai Simpul, Bukan Pusat Fokus Di sinilah inti dari perubahan cara pandang Xiaomi. Jika dulu smartphone adalah produk utama yang menopang seluruh bisnis, kini perannya bergeser menjadi “simpul penghubung” dalam ekosistem yang lebih besar. CEO Xiaomi Lei Jun menetapkan strategi Human-Car-Home sebagai bagian kunci dari visi perusahaan untuk satu dekade ke depan.  Pendekatan ekosistem ini menempatkan smartphone sebagai simpul pusat yang menghubungkan kendaraan listrik, perangkat rumah pintar, dan platform berbasis AI.  Dalam konteks ini, nilai sebuah produk tidak lagi bergantung pada spesifikasi atau harga, melainkan pada pengalaman software dan performa ekosistem. Hal ini tercermin dalam HyperOS 2 yang diluncurkan Oktober 2024, yang mengintegrasikan tiga teknologi inti yaitu HyperCore, HyperConnect, dan HyperAI, untuk menghadirkan konektivitas lintas perangkat yang cerdas serta pengalaman AI di smartphone, kendaraan listrik, dan perangkat rumah pintar sekaligus. Dalam kerangka Human × Car × Home, ponsel berfungsi untuk mengontrol rumah pintar, terhubung ke sistem infotainment mobil listrik Xiaomi, dan menjadi pusat identitas digital penggunanya.  Kalau smartphone-nya sudah terintegrasi baik dengan ekosistem, pengguna akan lebih loyal dan jarang berpindah ke merek lain. AIoT: Bisnis yang Selama Ini Tumbuh di Bayang-bayang Smartphone Satu hal yang sering luput dari perhatian publik umum adalah betapa besarnya bisnis AIoT Xiaomi yang selama ini tumbuh konsisten di balik hype smartphone. Per Desember 2024, Xiaomi melaporkan 904,6 juta perangkat IoT yang terhubung ke platform AIoT-nya, tidak termasuk ponsel dan tablet. Segmen AIoT dan smart home Xiaomi menghasilkan 98,9 miliar yuan sepanjang 2024, naik 23% secara year-on-year. Perangkat seperti AC, kulkas, mesin cuci, TV, robot vacuum, hingga kamera keamanan semuanya terhubung melalui platform yang sama. Pengiriman AC Xiaomi melampaui 6,8 juta unit sepanjang 2024, naik lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya, sementara pengiriman kulkas melampaui 2,7 juta unit dengan kenaikan lebih dari 30% year-on-year.  Ketika ekosistem ini sudah sedemikian besar, memastikan smartphone terintegrasi baik dengan semua perangkat ini menjadi jauh lebih penting ketimbang sekadar merilis ponsel baru setiap beberapa bulan. Kesimpulan Langkah Xiaomi mengurangi jumlah model smartphone yang dirilis bukan tanda bahwa mereka kehilangan momentum. Ini adalah keputusan strategis yang lahir dari evaluasi jujur terhadap ke mana bisnis mereka harus bergerak. Dalam kerangka Human × Car × Home, setiap ponsel yang dirilis Xiaomi bukan lagi produk yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Dan untuk membangun sistem yang baik, kamu tidak butuh terlalu banyak komponen. Kamu butuh komponen yang tepat, yang bekerja dengan sangat baik bersama-sama. Referensi

SELENGKAPNYA
Rahasia Tomoro Coffee: Punya Ratusan Gerai dalam Dua Tahun

Rahasia Tomoro Coffee: Punya Ratusan Gerai dalam Dua Tahun

Bayangkan membuka usaha kopi di negara yang pasar kedai kopinya sudah dipadati nama-nama besar. Di satu sisi ada merek global seperti Starbucks yang sudah puluhan tahun bercokol. Di sisi lain ada pemain lokal seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa yang masing-masing telah mengoperasikan lebih dari 900 gerai. Persaingan itu nyata, ketat, dan tidak memberi banyak ruang untuk pemain baru. Namun Tomoro Coffee justru hadir di tengah situasi itu, dan tidak sekadar bertahan. Didirikan pada 2022 oleh Star Yuan, seorang pengusaha yang sebelumnya berkarier di balik OPPO dan J&T Express, Tomoro Coffee memulai perjalanannya dari satu gerai di Jakarta Utara. Dua tahun setelahnya, cerita itu sudah berubah drastis. Tomoro Coffee telah memiliki sekitar 600 gerai yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sejak didirikan dua tahun lalu, ditambah kehadiran internasional di Singapura, Filipina, dan China. Bagi calon pebisnis, kisah ini bukan sekadar inspirasi. Ini adalah peta jalan yang bisa dipelajari. Membaca Peluang: Pasar Kopi Indonesia Masih Jauh dari Jenuh Sebelum membahas strategi Tomoro Coffee, penting untuk memahami medan yang mereka masuki. Pangsa pasar kedai kopi Indonesia diperkirakan mencapai USD 2,1 miliar, dengan pertumbuhan CAGR sekitar 10% dalam beberapa tahun ke depan. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah sinyal bahwa permintaan masyarakat Indonesia terhadap kopi berkualitas dengan pengalaman yang baik terus tumbuh setiap tahunnya. Laporan dari United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 akan meningkat menjadi 4,8 juta kantong, naik dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021. Pasar kopi bermerek Indonesia juga masih menjadi yang terbesar keenam di Asia Timur berdasarkan jumlah gerai. Laporan World Coffee Portal memperkirakan total pasar kedai kopi bermerek Indonesia akan mencapai 9.500 gerai pada 2029. Artinya, celah pasar masih sangat terbuka. Tomoro Coffee membaca peluang ini lebih cepat dari kebanyakan pesaing. Strategi 1: Fondasi yang Kuat Sebelum Ekspansi Masif Banyak pengusaha yang tergoda untuk langsung ekspansi besar-besaran begitu ada modal. Tomoro Coffee justru memilih jalur yang berbeda: memperkuat fondasi produksi terlebih dahulu. Pada April 2024, Tomoro Coffee memperkenalkan fasilitas sangrai kopi (coffee roastery) dengan kapasitas produksi hingga 2.400 ton per tahun. Fasilitas ini dirancang dengan tiga fase produksi menggunakan biji kopi berkualitas, dan bertujuan mendukung operasional seluruh jaringan gerai yang terus berkembang. Langkah ini bukan hanya soal efisiensi biaya. Ini adalah cara Tomoro Coffee memastikan bahwa kualitas produknya tetap konsisten, tidak peduli gerai ke berapa yang dibuka. Biji kopi yang telah disangrai dikirimkan ke seluruh toko secara terjadwal setiap 10 hari sekali, untuk memastikan kesegaran kopi di setiap gerai di seluruh penjuru Indonesia. Untuk calon pebisnis, pelajaran ini sangat relevan: ekspansi cepat tanpa kendali kualitas hanya akan mempercepat kejatuhan. Bangun sistem produksi dan distribusi yang andal sebelum memperluas jangkauan. Strategi 2: Model Waralaba yang Selektif dan Terstandarisasi Salah satu mesin utama pertumbuhan Tomoro Coffee adalah sistem kemitraan atau waralaba. Tomoro Coffee membuka peluang waralaba dengan biaya sekitar Rp 500 juta. Namun mereka sangat selektif dalam memilih mitra, karena ingin memastikan mitra memahami nilai-nilai perusahaan. Pelatihan dan audit rutin menjadi kunci untuk menjaga kualitas di seluruh jaringan gerai. Selektivitas inilah yang membedakan Tomoro Coffee dari banyak merek kopi lain yang membuka pintu waralaba selebar-lebarnya tanpa filter ketat. Hasilnya adalah jaringan gerai yang tumbuh cepat namun tetap terjaga standarnya. Efektivitas model ini terbukti dari angka penjualan di gerai-gerai baru. Pembukaan mitra di Tulungagung berhasil menjual 1.500 gelas kopi dalam satu hari, sementara di Selong dan Blitar masing-masing menjual 1.100 gelas kopi pada hari pembukaan. Angka itu membuktikan bahwa permintaan di luar kota-kota besar pun sangat nyata. Pasar belum jenuh, dan mitra yang dilatih dengan baik mampu langsung meraih hasil signifikan. Strategi 3: Inovasi Menu yang Konsisten dan Terstruktur Tomoro Coffee tidak memosisikan dirinya sebagai kedai kopi biasa yang hanya mengandalkan pergantian biji kopi. Pendekatan Tomoro Coffee dalam berinovasi terinspirasi dari bisnis teh dan susu yang selalu memperbarui penawaran produk, resep, dan kombinasi rasa. Mereka menilai banyak bisnis kopi yang ada hanya menawarkan pergantian biji kopinya, tanpa banyak melakukan inovasi menu. Hasilnya, menu Tomoro Coffee terus diperbarui setiap bulannya dengan kombinasi rasa baru. Pelanggan selalu punya alasan untuk kembali karena selalu ada hal baru untuk dicoba. Biji kopi yang digunakan adalah arabika 100% berkualitas, dan beberapa menu Tomoro Coffee menggunakan biji kopi pilihan yang telah meraih IIAC Gold Medal 2023. Inovasi ini juga dikombinasikan dengan harga yang terjangkau, menjadikan Tomoro Coffee relevan untuk segmen konsumen yang lebih luas, bukan hanya penikmat kopi premium. Strategi 4: Ekspansi Berbasis Data, Bukan Impulsif Membuka gerai baru adalah keputusan yang mahal jika salah. Tomoro Coffee meminimalkan risiko itu dengan pendekatan ekspansi yang terukur. Tomoro Coffee telah membuka lebih dari 600 gerai di 60 kota di Indonesia, dengan kehadiran di berbagai wilayah mulai dari Pulau Jawa hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Pemilihan lokasi tidak dilakukan secara acak. Tomoro bahkan mengeksplorasi area-area yang belum banyak disentuh kompetitor, seperti halte Transjakarta dan kawasan perkantoran, dengan mempertimbangkan lokasi secara sangat matang. Pada semester kedua 2025, ekspansi Tomoro Coffee difokuskan ke kota-kota tier 2 dan tier 3 seperti di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, sambil tetap memperkuat posisi di kota-kota besar di Pulau Jawa. Strategi masuk ke kota-kota lebih kecil ini adalah langkah yang cerdas. Persaingan lebih rendah, sewa tempat lebih murah, dan permintaan pasar tetap ada. Ini yang seringkali diabaikan oleh pebisnis yang terlalu fokus ke kota besar. Strategi 5: Teknologi Digital Sebagai Alat Retensi Pelanggan Tomoro Coffee paham bahwa menjual satu cangkir kopi lebih mudah daripada membuat pelanggan datang kembali. Untuk itu, mereka berinvestasi pada teknologi. Aplikasi digital Tomoro Coffee menawarkan promo minuman seharga Rp 9.000 untuk pembelian pertama. Melalui aplikasi ini pula, perusahaan menjalankan pemasaran yang lebih tertarget dengan mengelompokkan penggunanya berdasarkan usia, pengalaman merek, dan preferensi minuman. Ini bukan sekadar promo murah untuk menarik perhatian. Ini adalah strategi pengumpulan data pelanggan yang memungkinkan Tomoro Coffee untuk menyesuaikan komunikasi pemasaran mereka secara lebih personal dan efektif. Strategi 6: Pendanaan Eksternal untuk Akselerasi Kecepatan ekspansi Tomoro Coffee tidak terlepas dari ketersediaan modal yang memadai. Tomoro Coffee telah mengantongi pendanaan dari modal ventura sebesar USD 60 juta atau setara Rp 946 miliar sejak didirikan pada Agustus 2022, yang ditujukan

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Kapal Api Sebagai Local Brand yang Legenda

Strategi Marketing Kapal Api Sebagai Local Brand yang Legenda

Bayangkan sebuah merek kopi yang sudah ada sejak 1927, bertahan melewati zaman penjajahan, era orde baru, krisis ekonomi 1998, hingga gempuran merek-merek kopi global yang masuk ke Indonesia dengan modal dan teknologi pemasaran yang jauh lebih besar. Itulah Kapal Api. Merek yang lahir di Surabaya ini bukan hanya bertahan, tetapi hingga hari ini masih menjadi salah satu merek kopi paling dikenal dan dipercaya oleh masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang dan generasi. Di tengah kemunculan ratusan merek kopi lokal baru yang tumbuh pesat seiring tren kedai kopi dan produk kopi premium dalam beberapa tahun terakhir, Kapal Api justru memilih untuk tidak diam. PT Kapal Api Global terus menggali inovasi produk dan merancang strategi pemasaran baru agar mereknya tetap relevan dan dekat dengan konsumen masa kini. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana Kapal Api membangun dan mempertahankan posisinya sebagai local brand yang dicintai masyarakat, serta pelajaran apa yang bisa diambil dari perjalanan panjang merek ini. Sekilas tentang Kapal Api Kapal Api didirikan pada tahun 1927 oleh Go Soe Loet di Surabaya, Jawa Timur. Nama “Kapal Api” dipilih karena pada masa itu kapal uap atau kapal api merupakan simbol modernitas, kekuatan, dan kemajuan yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia di era tersebut. Sejak awal, produk Kapal Api difokuskan pada kopi bubuk yang diolah dengan metode sangrai, menggunakan biji kopi pilihan dari berbagai daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Selama puluhan tahun, Kapal Api tumbuh dari usaha keluarga kecil di Surabaya menjadi perusahaan kopi nasional yang produknya tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Kini PT Kapal Api Global mengelola sejumlah merek di bawah grupnya, termasuk Kapal Api, ABC, Good Day, dan Excelso, menjadikannya salah satu perusahaan kopi terbesar di Asia Tenggara. Kampanye “For the Love of Coffee” yang Dimulai dari Dalam Salah satu strategi pemasaran terpenting yang dijalankan Kapal Api dalam beberapa tahun terakhir adalah kampanye bertajuk “For the Love of Coffee Integrated Campaign.” Pangesti Boedhiman, Head of Corporate Communication Kapal Api Global, menjelaskan bahwa kampanye ini sudah mulai dijalankan sejak tahun 2019 dan dimulai bukan dari iklan besar-besaran, melainkan dari ekosistem internal perusahaan itu sendiri. Pendekatan ini menarik karena Kapal Api memilih untuk membangun kampanye dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Logikanya sederhana: karyawan yang benar-benar mencintai produk yang mereka buat akan menjadi duta merek yang paling autentik dan paling dipercaya, jauh lebih efektif dibanding iklan mana pun. Ketika para karyawan dari seluruh unit bisnis Kapal Api terlibat langsung dalam berbagai kegiatan internal yang merayakan kopi lokal, mereka bukan hanya menjalankan pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita merek itu sendiri. Strategi ini kemudian diperkuat dengan pelibatan media secara aktif untuk mempublikasikan seluruh rangkaian kampanye kepada masyarakat luas. Kapal Api juga meluncurkan majalah internal bernama Connect sebagai sarana komunikasi yang menjembatani kegiatan internal perusahaan dengan pemangku kepentingan eksternal. Maskot Ka-Losi dan Ka-Rua: Identitas Visual yang Mengundang Kedekatan Salah satu langkah kreatif yang diambil Kapal Api untuk memperkuat identitas mereknya adalah dengan menghadirkan dua maskot bernama Ka-Losi dan Ka-Rua. Maskot adalah alat pemasaran yang bekerja pada level psikologis yang sangat mendasar. Karakter visual yang dirancang dengan baik mampu menciptakan kedekatan emosional antara merek dan konsumen, terutama bagi segmen yang lebih muda, jauh lebih cepat dibanding teks atau narasi deskriptif tentang produk. Ka-Losi dan Ka-Rua dirancang untuk menjadi lambang ikonik Kapal Api yang memudahkan konsumen dalam mengenali dan mengidentifikasi merek ini di antara berbagai pilihan produk kopi yang semakin banyak di pasaran. Dari perspektif strategi merek, penggunaan maskot juga membantu merek yang sudah berusia puluhan tahun seperti Kapal Api untuk tampil lebih segar dan relevan di mata konsumen yang lebih muda, tanpa harus meninggalkan identitas aslinya. Kolaborasi dengan Stakeholder dan Lembaga Pemerintah Seiring berjalannya waktu, Kapal Api mengembangkan pendekatan kampanyenya dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di luar perusahaan. Salah satu kolaborasi yang paling menonjol adalah penyelenggaraan kompetisi bertajuk “Coffee and Spice Competition” yang dilakukan bersama program Jalur Rempah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kolaborasi dengan lembaga pemerintah seperti ini memberikan beberapa keuntungan sekaligus bagi Kapal Api. Pertama, kegiatan ini memperluas jangkauan merek ke segmen audiens yang mungkin belum terlalu terhubung dengan Kapal Api sebelumnya, khususnya komunitas akademik, pegiat budaya, dan masyarakat yang tertarik pada kekayaan rempah dan kuliner nusantara. Kedua, asosiasi dengan program pemerintah yang bertemakan warisan budaya memberi Kapal Api dimensi baru sebagai merek yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga turut menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Ketiga, dari sisi publisitas, kolaborasi dengan institusi sebesar Kemendikbud secara otomatis menghasilkan eksposur media yang lebih luas dibanding jika Kapal Api menjalankan kegiatan serupa secara mandiri. Inovasi Produk yang Mengikuti Kebiasaan Konsumen Modern Mempertahankan relevansi merek dalam jangka panjang tidak cukup hanya dengan kampanye pemasaran yang baik. Produk itu sendiri harus terus berkembang mengikuti kebiasaan dan kebutuhan konsumen yang berubah dari generasi ke generasi. Kapal Api memahami hal ini dengan baik. Salah satu inovasi produk yang dilakukan Kapal Api adalah menghadirkan kopi instan dalam kemasan botol siap minum atau ready to drink. Langkah ini merespons perubahan gaya hidup konsumen Indonesia, terutama generasi muda yang aktif dan mobile, yang menginginkan kemudahan dalam mengonsumsi kopi tanpa harus melalui proses menyeduh terlebih dahulu. Produk kopi sachet yang selama ini menjadi andalan Kapal Api memang sangat relevan untuk konsumsi di rumah atau di kantor, tetapi format ready to drink membuka peluang konsumsi di berbagai situasi lain yang lebih dinamis dan tidak memerlukan persiapan apa pun. Pangesti Boedhiman menegaskan bahwa inovasi produk bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari kepercayaan yang diberikan konsumen kepada merek sebesar Kapal Api. Konsistensi Sebagai Fondasi Kepercayaan Jangka Panjang Di balik semua strategi kampanye, maskot, kolaborasi, dan inovasi produk yang dijalankan Kapal Api, ada satu elemen yang menjadi fondasi paling mendasar dari keberhasilan merek ini bertahan selama hampir satu abad. Elemen itu adalah konsistensi. Konsistensi dalam menjaga kualitas rasa kopi yang menjadi ciri khas Kapal Api, konsistensi dalam mempertahankan identitas merek sebagai kopi rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dan konsistensi dalam menghadirkan produk yang bisa diakses oleh semua kalangan tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dalam dunia pemasaran, kepercayaan konsumen adalah hasil dari pengalaman yang konsisten selama bertahun-tahun. Konsumen yang sudah

SELENGKAPNYA
Marketing Corkcicle: Pelajaran Branding untuk yang Ingin Naik Kelas

Marketing Corkcicle: Pelajaran Branding untuk yang Ingin Naik Kelas

Pernahkah kamu melihat seseorang membawa botol minum dengan desain warna-warni yang elegan di kafe, co-working space, atau bahkan di gym, lalu penasaran mereknya apa? Kemungkinan besar itu Corkcicle.  Dalam beberapa tahun terakhir, nama ini tidak hanya dikenal sebagai botol minum biasa, tetapi sudah menjelma menjadi simbol gaya hidup bagi kalangan urban profesional muda. Yang menarik adalah cara Corkcicle membangun posisi itu bukan dengan keberuntungan semata, melainkan melalui serangkaian keputusan marketing yang terencana dan konsisten.  Artikel ini akan membahas strategi-strategi tersebut secara mendalam, sekaligus menarik pelajaran yang bisa diterapkan oleh brand lokal yang sedang berupaya naik kelas. Corkcicle: Dari Satu Produk ke Ekosistem Merek Corkcicle didirikan pada tahun 2010 oleh Ben Hewitt di Orlando, Florida. Produk pertamanya sederhana: sebuah wine chiller berbentuk batang spiral yang dimasukkan ke dalam botol untuk menjaga minuman tetap dingin. Produk ini pertama kali diperkenalkan ke publik di The Atlanta International Gift & Home Furnishings Market pada 2011, sebuah pameran dagang yang mempertemukan pedagang eceran kecil dengan grosir dan produsen. Respons pasar saat itu sangat positif. COO Corkcicle, Blake Thomas, pernah menceritakan bahwa para pemilik toko hadiah bisa membeli 16 unit produk dengan harga grosir sekitar 187 dolar dan menjualnya habis hanya dalam dua hari. Margin keuntungan yang bagus dan ukuran produk yang kecil menjadi kombinasi sempurna untuk memikat pengecer. Dari satu produk itu, Corkcicle kemudian berkembang seperti pohon, menggunakan analogi Thomas sendiri. Semua produk barunya, mulai dari tumbler, canteen, gelas stemless, cooler bag, hingga lunchbox, tetap membawa DNA yang sama: menjaga minuman pada suhu terbaik. Konsistensi DNA merek inilah yang membuat ekspansi produk Corkcicle terasa alami dan tidak membingungkan konsumen. Hari ini, industri drinkware diproyeksikan mencapai nilai 60,4 miliar dolar pada 2034, terutama didorong oleh segmen premium tempat Corkcicle membangun posisinya. Corkcicle bukan pemain yang mengejar viral, tetapi pemain yang membangun fondasi jangka panjang. Desain sebagai Bahasa Merek, Bukan Sekadar Kemasan Satu hal yang paling mudah dikenali dari produk Corkcicle adalah desainnya yang selalu tampak “bersih” dan estetik. Ini bukan kebetulan. Sejak awal berdirinya, Corkcicle bekerja sama dengan agensi branding Push untuk membangun identitas visual yang konsisten, mulai dari logo, desain kemasan, tampilan booth pameran dagang, hingga website Shopify mereka. Pilihan warna menjadi salah satu senjata utama Corkcicle. Palet warnanya dirancang agar produk terlihat menarik secara visual di berbagai konteks, di atas meja kerja, di tas gym, di foto Instagram, atau bahkan di foto lamaran. Ini penting karena konsumen yang membeli botol minum premium tidak hanya membeli fungsi, tetapi juga membeli identitas dan ekspresi diri. Corkcicle juga rutin melakukan kolaborasi dengan brand dan IP yang populer. Beberapa di antaranya adalah kolaborasi dengan Rifle Paper Co., Vineyard Vines, Marvel, hingga Disney. Alih-alih mengandalkan kelangkaan artifisial atau drama media sosial, Corkcicle memilih untuk membangun momentum melalui kolaborasi yang bermakna dan kualitas produk yang tahan lama.  Pendekatan ini membuat setiap kolaborasi terasa sebagai perayaan estetika, bukan sekadar taktik penjualan kilat. Jadi, kamu bisa investasikan perhatian pada identitas visual sejak awal. Desain yang konsisten dan punya “karakter” adalah aset jangka panjang yang jauh lebih berharga dari sekadar konten promo sesaat.  Jika belum mampu berkolaborasi dengan merek besar, mulailah dengan kolaborasi bersama kreator lokal atau seniman independen yang punya estetika sejalan. Corkcicle Punya Positioning yang Jelas Lewat Tagline Salah satu keputusan branding yang paling berpengaruh dalam sejarah Corkcicle adalah pemilihan taglinenya. Pada 2014, Corkcicle secara resmi mengadopsi tagline “Drink Well” yang hingga kini masih digunakan. Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung ambisi yang besar. Stephen Bruner, salah satu mitra Corkcicle, menjelaskan bahwa tagline tersebut bukan hanya soal minuman yang enak, tetapi tentang filosofi menikmati hidup secara lebih berkualitas melalui hal-hal kecil sehari-hari.  “Drink Well” menyentuh aspek fungsional sekaligus emosional. Fungsional karena produknya memang dirancang agar minuman tetap pada suhu ideal. Emosional karena mengajak konsumen untuk melihat minum sebagai sebuah pengalaman, bukan sekadar rutinitas. Bruner juga pernah mengungkapkan bahwa dalam merancang strategi marketing, Corkcicle tidak hanya melihat ke dalam industri drinkware, tetapi belajar dari brand di luar industri mereka yang sudah lebih maju dalam pemasaran. Artinya inovasi marketing tidak selalu datang dari meniru kompetitor, tetapi dari meminjam pola pikir dari industri lain. Media Sosial yang Dikelola dengan Prinsip Estetika Corkcicle aktif di Instagram dan menggunakan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan brand consumer goods. Di platform ini, mereka tidak mengandalkan posting yang terlalu sering atau hashtag yang berlebihan.  Sebaliknya, Corkcicle dikenal dengan bahasa yang sederhana dan elegan dalam setiap caption. Slang tidak digunakan, dan meme hanya muncul ketika benar-benar relevan dengan identitas merek.  Salah satu praktik terbaik mereka adalah pemanfaatan User Generated Content (UGC). Corkcicle secara kreatif memasukkan konten yang dibuat oleh pengguna ke dalam feed mereka, menciptakan transisi yang hampir seamless antara konten orisinal dan konten dari komunitas.  Pendekatan ini memiliki dua manfaat sekaligus: menghemat biaya produksi konten dan membuktikan kepada calon konsumen bahwa produk ini benar-benar digunakan dan dicintai oleh orang nyata. Corkcicle juga memperluas jangkauan konten influencer mereka ke platform Connected TV (CTV) melalui kemitraan dengan teknologi Spaceback. Strategi ini memungkinkan konten video dari para influencer diubah menjadi iklan di platform CTV, sehingga brand dapat memberikan pengalaman yang kohesif di berbagai platform sekaligus.  Omnichannel yang Dijalankan Secara Terukur Corkcicle tidak mengandalkan satu platform saja untuk menjangkau konsumen. Brand ini memandang TikTok, Meta, Google, dan Amazon sebagai platform yang saling melengkapi, tempat konsumen belajar tentang produk dan membuat keputusan pembelian di berbagai titik yang berbeda. Pemahaman terhadap perjalanan konsumen (customer journey) inilah yang menjadi fondasi strategi omnichannel mereka. Pada 2024, Corkcicle bekerja sama dengan agensi pemasaran Power Digital untuk mengoptimalkan strategi iklan digital mereka. Hasilnya sangat signifikan: Corkcicle berhasil meraih combined ROAS (Return on Ad Spend) sebanyak 4,4 kali lipat di berbagai saluran iklan, serta peningkatan total ROAS sebesar 488% dari strategi full-funnel yang mencakup Amazon DSP. Kuncinya adalah pendekatan full-funnel yang tidak hanya mengandalkan remarketing (iklan kepada orang yang sudah pernah mengunjungi situs). Remarketing memang menghasilkan konversi cepat, tetapi tidak berkelanjutan karena tidak mendatangkan konsumen baru. Corkcicle secara sadar mengalokasikan anggaran untuk kampanye upper-funnel yang menjangkau audiens baru yang belum pernah mengenal brand mereka sebelumnya. Selain iklan digital, Corkcicle juga aktif dalam email marketing. Domain authority mereka mencapai skor 70,

SELENGKAPNYA
Kasus Menantea Jerome Polin: Pelajaran untuk UMKM soal Keuangan dan Pasar

Kasus Menantea Jerome Polin: Pelajaran untuk UMKM soal Keuangan dan Pasar

Bisnis minuman milik kreator konten Jerome Polin, Menantea, resmi menghentikan seluruh operasionalnya mulai 25 April 2026. Di balik penutupan itu, Jerome mengungkap bahwa dirinya mengalami kerugian hingga Rp 38 miliar akibat penipuan yang dilakukan oleh mitra bisnisnya sendiri. Kasus ini menjadi pengingat bagi banyak pelaku usaha, khususnya di sektor makanan dan minuman, bahwa mengelola bisnis tidak cukup hanya dengan modal semangat dan modal uang saja. Lalu, apa saja yang sebenarnya perlu diperhatikan agar bisnis UMKM bisa berjalan sehat dan bertahan lama? Berikut penjelasannya. Apa yang Terjadi pada Bisnis Menantea? Jerome Polin mengakui bahwa sejak awal berbisnis, ia terlalu percaya kepada satu orang untuk mengelola seluruh keuangan perusahaan. Selama bertahun-tahun, laporan keuangan yang ia terima hanya berupa file Excel yang dikirimkan kepadanya secara berkala.  Jerome tidak pernah mengecek langsung mutasi rekening perusahaan untuk memverifikasi apakah angka di laporan itu benar-benar sesuai dengan kondisi uang yang ada. Pada tahun 2023, barulah Jerome menyadari ada yang tidak beres. Saldo perusahaan ternyata sudah kosong, sementara laporan Excel yang selama ini ia terima menunjukkan kondisi yang berbeda.  File Excel memang bisa diedit kapan saja, dan itulah celah yang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dana yang berpindah tanpa sepengetahuannya mencapai sekitar Rp 38 miliar, meski sebagian dikembalikan untuk menutupi biaya operasional. Total uang yang benar-benar hilang diperkirakan sekitar Rp 5 sampai 6 miliar, dan sisanya digunakan untuk menutup kerugian di tempat lain oleh pelaku penipuan. Demi menghormati komitmen dengan para mitra, Jerome bahkan rela menggunakan uang pribadinya sendiri untuk membiayai operasional Menantea hingga masa kontrak selesai. Sebagai UMKM, apa pelajaran yang bisa kita ambil? Pisahkan Rekening Pribadi dan Rekening Bisnis Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan pelaku UMKM pemula adalah mencampurkan uang pribadi dengan uang bisnis. Ini terdengar sepele, tapi dampaknya sangat besar dalam jangka panjang. Perencana Keuangan Independen, Andy Nugroho, menjelaskan bahwa memisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis adalah langkah dasar yang wajib dilakukan sejak hari pertama membuka usaha.  Tujuannya adalah agar pemilik usaha bisa melihat dengan jelas berapa uang yang masuk, berapa yang keluar, dan berapa yang tersisa sebagai keuntungan bersih. Selain itu, setiap transaksi keuangan perlu dicatat secara disiplin. Bukan hanya transaksi besar, tapi juga pengeluaran kecil seperti pembelian bahan baku harian atau biaya kebersihan tempat usaha.  Semua itu, kalau tidak dicatat, bisa membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat. Jangan Andalkan Excel untuk Laporan Keuangan Bisnis Kasus Jerome Polin memperlihatkan risiko nyata dari penggunaan Excel sebagai satu-satunya alat pencatatan keuangan bisnis. Excel memang mudah digunakan, tapi file-nya sangat mudah diubah tanpa jejak yang jelas. Ini berbahaya, terutama jika laporan keuangan hanya dipegang oleh satu orang tanpa ada pengawasan dari pihak lain. Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorini, menyatakan bahwa pelaku UMKM seharusnya sudah beralih ke sistem kasir digital.  Dengan sistem kasir, setiap transaksi akan tercatat secara otomatis dan sulit untuk dimanipulasi secara sepihak. Data yang masuk ke sistem kasir juga langsung terhubung ke laporan keuangan, sehingga pemilik usaha bisa memantau kondisi keuangan kapan saja dan dari mana saja. Hermawati juga menyoroti pentingnya menerima pembayaran melalui metode non-tunai seperti QRIS, transfer bank, atau auto debet.  Selain lebih praktis, metode pembayaran digital meninggalkan jejak transaksi yang bisa diperiksa sewaktu-waktu. Ini sangat membantu dalam mendeteksi penyimpangan sejak dini. Pemilik Usaha Wajib Aktif Mengecek Kondisi Keuangan Menjadi pemilik usaha bukan berarti cukup menerima laporan dari orang yang dipercaya. Andy Nugroho menekankan bahwa pemilik usaha, meski sudah menunjuk seseorang sebagai pengelola operasional harian, tetap harus secara rutin memeriksa kondisi keuangan secara langsung. Caranya bukan hanya membaca laporan yang diserahkan oleh pengelola, tapi juga membandingkan angka dalam laporan tersebut dengan mutasi rekening yang sebenarnya. Dua data itu harus cocok.  Kalau ada selisih yang tidak bisa dijelaskan, itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang perlu ditelusuri lebih jauh. Andy menambahkan bahwa pemilik usaha juga perlu memahami betul prosedur operasional bisnisnya sendiri. Dengan begitu, pemilik bisa mengenali kalau ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai standar, bahkan sebelum masalah itu membesar. Tambahkan Sistem Keamanan Ganda untuk Akses Dana Salah satu cara praktis untuk mencegah penyalahgunaan dana perusahaan adalah dengan menerapkan sistem otorisasi ganda. Hermawati menjelaskan bahwa rekening bisnis sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga setiap pencairan atau pemindahan dana membutuhkan persetujuan dari dua orang sekaligus, bukan hanya satu pihak. Mekanisme seperti ini membuat satu orang tidak bisa memindahkan uang perusahaan secara sepihak tanpa diketahui pihak lain. Bukannya tidak percaya kepada karyawan atau mitra, tapi soal membangun sistem yang melindungi semua pihak, termasuk pengelola itu sendiri. Buat Kontrak Kerja Sama yang Jelas dan Tertulis Dalam kasus Menantea, salah satu faktor yang memperburuk situasi adalah tidak adanya mekanisme kontrol yang kuat sejak awal.  Andy Nugroho menyarankan agar setiap pelaku UMKM yang bekerja sama dengan pihak lain, baik itu mitra bisnis, pengelola, maupun pemasok, selalu membuat perjanjian kerja sama secara tertulis dan rinci. Kontrak tersebut harus mencakup peran masing-masing pihak, hak dan kewajiban, mekanisme pelaporan keuangan, serta konsekuensi jika ada pihak yang melanggar kesepakatan.  Kontrak yang jelas bukan hanya melindungi pemilik usaha secara hukum, tapi juga menjadi panduan bersama agar operasional bisnis berjalan sesuai yang disepakati. Siapkan Dana Darurat untuk Bisnis Andy Nugroho juga menyarankan agar setiap pelaku usaha menyiapkan dana cadangan yang bisa digunakan saat kondisi bisnis sedang tidak stabil atau saat ada kejadian tak terduga. Dana darurat ini berfungsi seperti bantalan agar bisnis tidak langsung terpuruk ketika menghadapi masalah. Besarnya dana darurat ideal bisa bervariasi tergantung skala bisnis, tapi prinsipnya adalah ada dana yang cukup untuk menutupi biaya operasional selama beberapa bulan ke depan tanpa harus bergantung pada pemasukan harian. Kesimpulan Dari kasus Menantea dan penjelasan para ahli di atas, ada beberapa hal konkret yang perlu diterapkan oleh pelaku UMKM. Bisnis yang sehat bukan hanya soal produk yang laku di pasaran, tapi juga soal bagaimana keuangan dikelola dengan benar sejak hari pertama usaha berdiri.

SELENGKAPNYA
Plastik Makin Mahal, Puan Maharani Usulkan Kemasan Daun untuk UMKM

Plastik Makin Mahal, Puan Maharani Usulkan Kemasan Daun untuk UMKM

Menjadi Pengaruh – Kenaikan harga plastik yang signifikan sejak awal 2026 mulai memberikan tekanan nyata bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman.  Lonjakan harga yang disebut mencapai 30–80 persen membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini mempersempit margin usaha, terutama bagi pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada kemasan plastik sekali pakai. Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menilai bahwa kondisi ini justru dapat menjadi titik balik bagi UMKM untuk mulai beralih ke alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Ia menyebut bahwa penggunaan bahan alami seperti daun bukanlah hal baru dalam praktik perdagangan di Indonesia. “Harga plastik yang melonjak dan pasokan yang mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil semakin kesulitan dari sisi ekonomi.” ujar Puan dalam rilisan pers yang diterima kompas.com Ia juga menambahkan bahwa di masa lalu, masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan bahan alami seperti daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus makanan.  Praktik ini hingga kini masih bertahan di sejumlah daerah, terutama dalam penyajian makanan tradisional seperti nasi liwet, gudeg, lontong, dan lemper. Selain aspek keberlanjutan, kemasan berbahan alami juga dinilai memiliki nilai tambah tersendiri.  Dalam beberapa kasus, penggunaan daun tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga membantu menjaga kualitas makanan sekaligus memberikan aroma khas. Di sisi lain, dorongan untuk mengurangi penggunaan plastik juga sejalan dengan isu global terkait pencemaran lingkungan. Data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem perairan dunia setiap tahunnya.  Bahkan, setiap hari diperkirakan ada sekitar 2.000 truk sampah plastik yang berakhir di laut, sungai, dan danau. Meski demikian, Puan mengakui bahwa peralihan dari plastik ke kemasan organik tidak dapat dilakukan secara instan. Ia mendorong pendekatan bertahap, misalnya dengan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk konsumsi di tempat di rumah makan. “Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai.” Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam membangun ekosistem pendukung, mulai dari regulasi hingga ketersediaan bahan baku.  Kolaborasi lintas kementerian dinilai krusial agar alternatif kemasan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mudah diakses dan tetap terjangkau bagi pelaku usaha. Solusi Kemasan Plastik Jadi Daun Apa Ide Bagus? Secara rasional, dorongan penggunaan kemasan daun memang relevan dalam konteks jangka pendek, terutama sebagai respons terhadap lonjakan harga plastik. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar solusi ini benar-benar efektif: 1. Skalabilitas & Konsistensi PasokanPenggunaan daun sebagai kemasan sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku yang konsisten. Untuk UMKM skala kecil mungkin feasible, tetapi untuk produksi massal atau distribusi luas, rantai pasok daun (pisang/jati) perlu dikelola secara serius. 2. Standarisasi & HigienitasBerbeda dengan plastik, kemasan alami memiliki tantangan dalam hal standar kebersihan, daya tahan, dan keamanan pangan. Ini menjadi penting terutama jika UMKM ingin naik kelas ke pasar modern atau ekspor. 3. Biaya Tidak Selalu Lebih MurahMeski plastik sedang mahal, kemasan daun tidak selalu otomatis lebih murah. Ada biaya tambahan seperti pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi yang bisa membuat total cost tetap tinggi jika tidak dioptimalkan. 4. Peluang Branding & DiferensiasiDi sisi positif, tren ini justru membuka peluang besar bagi UMKM untuk melakukan repositioning produk. Kemasan alami bisa menjadi nilai jual tambahan—khususnya bagi pasar yang peduli lingkungan dan produk tradisional. 5. Transisi, Bukan Substitusi TotalPendekatan paling realistis bukan mengganti plastik sepenuhnya, melainkan mengombinasikan beberapa jenis kemasan sesuai kebutuhan, misalnya daun untuk dine-in, dan alternatif ramah lingkungan lain (seperti kertas food grade) untuk delivery. Kesimpulan Secara keseluruhan, ide penggunaan kemasan daun bukan sekadar solusi nostalgia, tetapi bisa menjadi bagian dari strategi adaptasi UMKM di tengah tekanan biaya dan tuntutan keberlanjutan.  Namun, implementasinya tetap membutuhkan dukungan sistem yang kuat agar tidak justru menambah beban baru bagi pelaku usaha.

SELENGKAPNYA
Bedah Bisnis Roti'O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Bedah Bisnis Roti’O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Kalau kamu pernah menunggu kereta di stasiun dan tiba-tiba mencium bau kopi hangat dari arah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar itu berasal dari gerai Roti’O.  Brand roti kopi lokal ini sekarang sudah hadir di ratusan stasiun, bandara, dan pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia. Tapi dari mana sebenarnya Roti’O berasal? Dan kenapa produknya terasa sangat mirip dengan Rotiboy yang berasal dari Malaysia? Di balik gerai kecil beraroma kopi itu, ada perjalanan bisnis yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Strategi Bisnis yang Membuat Roti’O Berkembang Ini bagian yang menarik dari sisi bisnis. Produk Rotiboy dan Roti’O memang terlihat mirip, tapi hasilnya sangat berbeda.  Salah satu alasan utamanya ada pada keputusan strategi yang diambil Roti’O sejak awal berdiri. a. Memilih Lokasi yang Tepat Berbeda dari Rotiboy Indonesia yang banyak membuka gerai di pusat perbelanjaan, Roti’O memilih untuk hadir di stasiun dan bandara. Strategi ini ternyata memberikan hasil yang baik, terutama di Jakarta yang memang punya banyak stasiun dalam kota dengan jutaan penumpang setiap harinya. Keputusan ini bukan sekadar soal memilih tempat yang ramai. Ini soal memahami di mana konsumen benar-benar membutuhkan sesuatu. Orang yang sedang menunggu kereta tidak akan pergi jauh untuk mencari makanan, tapi mereka akan membeli kalau gerai-nya ada tepat di dekat mereka. b. Menggunakan Aroma sebagai Alat Pemasaran Salah satu keunggulan yang dimiliki Roti’O, dan juga Rotiboy, adalah aroma kopi khas yang menyebar dari gerai mereka. Aroma ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sengaja dibiarkan menyebar bebas tanpa penutup, sehingga siapa pun yang melintas di sekitar gerai langsung bisa menciumnya. Orang yang awalnya tidak berniat membeli pun bisa berubah pikiran hanya karena lewat di depan gerai. Strategi pemasaran berbasis indera penciuman seperti ini terbukti efektif untuk mendorong keputusan pembelian secara spontan. c. Sistem yang Bisa Diulang di Banyak Lokasi Sejak awal, Roti’O membangun sistem operasional yang bisa diterapkan secara konsisten di banyak tempat sekaligus. Ketika satu gerai berhasil, formulanya langsung bisa direplikasi di stasiun atau bandara lain.  Hasilnya, ekspansi Roti’O berjalan cukup cepat karena tidak perlu memulai dari nol setiap kali membuka titik penjualan baru. Perbandingan Roti’O dan Rotiboy di Pasar Indonesia Dari sisi jumlah gerai, perbedaan antara keduanya cukup besar. Per 2022, Roti’O sudah berhasil membuka sekitar 680 outlet di seluruh Indonesia. Di tahun yang sama, Rotiboy memiliki sekitar 60 outlet dengan rencana penambahan 60 outlet baru hingga akhir 2023. Perbedaan ini bukan semata-mata karena kualitas produk yang lebih baik di satu sisi. Keduanya punya produk yang disukai konsumen masing-masing. Yang membuat angkanya berbeda jauh adalah kecepatan dalam membaca dan menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen Indonesia. Rotiboy lebih lama bertahan dengan model gerai berbasis mall, sementara Roti’O lebih cepat masuk ke ekosistem transportasi publik yang penggunanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat jaringan KRL dan commuter line di Indonesia terus berkembang, Roti’O sudah lebih dulu ada di sana. Model Bisnis Roti’O Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Gerai mereka paling banyak ditemukan di stasiun, bandara, terminal, dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar. Soal model bisnisnya, sebagian besar gerai Roti’O dikelola langsung oleh perusahaan induk, yaitu PT Sebastian Citra Indonesia, melalui sistem operasional internal. Saat ini, Roti’O tidak membuka program franchise atau kemitraan secara terbuka kepada publik umum.  Jadi kalau kamu berencana bergabung sebagai mitra, belum ada jalur resmi yang bisa diakses semua orang. Meski begitu, peluang kerja sama tetap ada bagi pihak-pihak yang punya lokasi strategis relevan, seperti di stasiun atau bandara.  Kamu bisa menjajaki kemungkinan itu dengan menghubungi manajemen langsung melalui situs resmi Roti’O di www.rotio.id atau melalui akun Instagram @rotio.indonesia. Tiga Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Roti’O Dari kisah berkembangnya Roti’O, ada beberapa hal yang bisa dipelajari oleh siapa pun yang sedang membangun atau merencanakan sebuah usaha. Pertama, lokasi bukan sekadar soal tempat yang ramai.  Roti’O membuktikan bahwa memilih tempat berjualan harus didasarkan pada pemahaman tentang kapan dan di mana konsumen benar-benar membutuhkan produk tersebut. Stasiun dan bandara bukan hanya ramai, tapi juga merupakan titik di mana orang punya waktu tunggu dan kebutuhan yang spesifik. Kedua, mengelola sendiri bisa lebih konsisten daripada membuka franchise luas.  Dengan memegang kendali operasional di hampir semua gerainya, Roti’O bisa menjaga standar produk dan pelayanan tetap seragam di ratusan titik sekaligus. Ini adalah pilihan yang membutuhkan modal lebih besar, tapi hasilnya lebih terkontrol. Ketiga, waktu masuk ke pasar sangat berpengaruh.  Roti’O masuk ke ekosistem stasiun di saat jaringan transportasi publik Indonesia sedang dalam fase pertumbuhan. Slot lokasi yang mereka ambil duluan sekarang sudah jauh lebih sulit untuk direbut oleh kompetitor baru. FAQ Apakah Roti’O dan Rotiboy perusahaan yang sama? Tidak. Rotiboy adalah merek asal Malaysia yang kepemilikannya tetap sama dari awal hingga sekarang. Roti’O adalah brand lokal Indonesia yang berdiri di bawah PT Sebastian Citra Indonesia. Keduanya adalah perusahaan yang terpisah secara hukum dan kepemilikan. Siapa pemilik Roti’O? Roti’O dimiliki dan dikelola oleh PT Sebastian Citra Indonesia, perusahaan yang didirikan pada 23 Mei 2012. Gerai pertama mereka dibuka di Stasiun Jakarta Kota. Dude Harlino, yang wajahnya sering muncul di iklan Roti’O, hanya berperan sebagai brand ambassador, bukan pemilik. Apakah Roti’O membuka franchise? Saat ini tidak. Roti’O mengelola gerainya secara internal dan belum membuka program kemitraan atau franchise secara terbuka kepada publik umum. Kalau kamu tertarik bermitra dan punya lokasi yang relevan, kamu bisa langsung menghubungi manajemen untuk menjajaki kemungkinan kerja sama. Berapa jumlah outlet Roti’O saat ini? Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kenapa produk Roti’O dan Rotiboy terasa mirip? Keduanya sama-sama menggunakan konsep coffee bun, yaitu roti dengan aroma kopi khas dan tekstur lembut. Kemiripan ini yang sering membuat orang mengira keduanya berasal dari perusahaan yang sama, padahal tidak. Referensi:

SELENGKAPNYA
Mengapa Air Mineral Equil Mahal? Ini Alasan di Balik Harganya yang Mahal

Mengapa Air Mineral Equil Mahal? Ini Alasan di Balik Harganya

Kalau kamu pernah masuk ke supermarket besar atau restoran mewah, mungkin kamu pernah melihat botol air minum berwarna hijau dengan desain yang terlihat berbeda dari air mineral biasa. Itulah Equil, air mineral kemasan premium asal Indonesia yang dijual dengan harga jauh di atas rata-rata. Air mineral ukuran 600 ml pada umumnya dijual seharga Rp4.000 hingga Rp6.000 di minimarket.  Sementara itu, Equil ukuran 380 ml bisa dibanderol mulai dari Rp28.000 hingga Rp49.000, tergantung jenisnya, apakah natural atau sparkling, serta ukuran botolnya. Lalu, apa sebenarnya yang membuat harganya berbeda jauh dari air mineral lain? Asal-Usul Equil Equil pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998 oleh Morgen Sutanto melalui perusahaannya, PT Equilindo Asri, yang berdiri sejak 1997. Morgen melihat bahwa pada masa itu, pasar air mineral premium di Indonesia masih dikuasai oleh produk-produk dari luar negeri.  Produsen lokal saat itu lebih banyak berfokus pada segmen air minum kemasan sehari-hari dengan harga terjangkau. Dari celah itulah Morgen memutuskan untuk menciptakan merek air mineral premium buatan Indonesia sendiri. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal kelas menengah atas, tetapi juga untuk menembus pasar internasional. Sebelum produk ini resmi diluncurkan, Morgen menjalani proses panjang, mulai dari mencari sumber mata air yang sesuai standar, mengurus perizinan produksi, hingga memastikan kualitasnya memenuhi standar pangan internasional.  Ia merujuk pada standar Codex Alimentarius, sebuah panduan pangan yang ditetapkan oleh FAO (Food Agriculture Organization) dan WHO (World Health Organization). Sumber mata air yang dipilih pun bukan sembarangan. Equil mengambil air dari mata air alami yang berada di kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah lokasi yang dikenal memiliki kualitas air tanah yang baik. Faktor-Faktor yang Membuat Equil Lebih Mahal dari Air Mineral Biasa 1. Sumber Mata Air Alami Pegunungan Air yang digunakan dalam produk Equil berasal langsung dari sumber mata air pegunungan di Sukabumi. Air dari mata air alami pegunungan umumnya memiliki kandungan mineral alami yang terbentuk secara alami melalui proses penyerapan di dalam tanah selama bertahun-tahun.  Karena itu, proses penyaringannya pun dilakukan tanpa menambahkan bahan kimia tambahan, sehingga kualitas alami airnya tetap terjaga. 2. Proses Produksi yang Ketat dan Teliti Equil tidak diproduksi dengan cara yang sama seperti air mineral kemasan pada umumnya. Proses produksinya jauh lebih panjang dan memerlukan pengawasan yang lebih ketat.  Kualitas air dijaga mulai dari sumber mata air hingga ke tahap pengemasan, dan proses ini dilakukan secara konsisten setiap jam. Tidak ada tahap yang dilewati begitu saja, karena setiap langkah memengaruhi kualitas akhir produk. 3. Kemasan Botol Kaca yang Elegan Salah satu hal yang paling mudah dikenali dari Equil adalah kemasannya. Produk ini menggunakan botol kaca berukuran 380 ml dengan desain yang menyerupai botol wine.  Pilihan kemasan ini bukan sekadar tampilan, melainkan bagian dari strategi merek untuk menciptakan kesan premium dan eksklusif. Secara biaya produksi, botol kaca memang lebih mahal dibandingkan botol plastik yang umum digunakan oleh merek air mineral lainnya. Biaya kemasan ini turut memengaruhi harga jual produk secara keseluruhan. 4. Jumlah Produksi yang Dibatasi Equil tidak diproduksi dalam jumlah massal seperti merek air mineral lain yang beredar luas di minimarket. Jumlah produksi yang dibatasi ini memang disengaja untuk menjaga eksklusivitas merek.  Dengan jumlah yang terbatas, produk ini lebih mudah dikendalikan kualitasnya dan tetap memiliki nilai yang berbeda di mata konsumen. 5. Standar Kualitas Bertaraf Internasional Equil diproduksi dengan mengacu pada standar kualitas global, bukan hanya standar lokal. Hal ini membuat produk ini layak untuk dijual di pasar internasional dan memenuhi persyaratan keamanan pangan di berbagai negara.  Saat ini, Equil sudah diekspor ke beberapa negara, antara lain Singapura, Australia, dan Arab Saudi. Standar internasional ini juga menjadi alasan mengapa Equil sering ditemukan di hotel bintang lima, restoran fine dining, dan berbagai tempat dengan segmentasi konsumen kelas atas, baik di dalam maupun luar negeri. 6. Strategi Segmentasi Pasar yang Terarah Sejak awal, Morgen Sutanto memang merancang Equil khusus untuk konsumen kelas menengah atas. Ini bukan sekadar pilihan produk, tetapi merupakan strategi merek yang direncanakan secara matang.  Mulai dari pilihan kemasan, tempat penjualan, hingga harga, semuanya dirancang untuk menyesuaikan ekspektasi konsumen pada segmen tersebut. Itulah mengapa kamu jarang menemukan Equil di minimarket biasa. Merek ini memang sengaja tidak didistribusikan secara luas ke semua saluran penjualan, agar positioning premiumnya tetap terjaga. Equil: Merek Lokal yang Bersaing di Pasar Global Meski berasal dari Sukabumi, Equil berhasil membangun citra sebagai produk berkelas dunia. Ini menjadi bukti bahwa produk Indonesia mampu bersaing di segmen premium, bahkan di pasar internasional. Harga Equil yang berkisar antara Rp28.000 hingga Rp49.000 per botol mencerminkan seluruh proses dan nilai yang ada di baliknya, mulai dari sumber mata air berkualitas, proses produksi yang ketat, kemasan yang dirancang secara khusus, hingga standar internasional yang konsisten dijaga. Semua faktor itu membentuk harga yang kamu bayar saat memilih Equil.

SELENGKAPNYA
Marketing Aldi Taher: Cara Jualan Burger yang Absurd tapi Bikin Viral

Marketing Aldi Taher: Cara Jualan Burger yang Absurd tapi Bikin Viral

Ada kalimat yang belakangan ini sering muncul tiba-tiba di kolom komentar Instagram, Threads, sampai X: “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya Juicy Luicy Mahalini Rizky Febian bisa pesen online.” Kalimat ini panjang, random, dan terkesan ngaco. Tapi begitu kamu baca satu kali, susah lupa. Itulah inti dari strategi marketing Aldi Taher yang berhasil membuat Aldis Burger, gerai burger miliknya yang buka di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, jadi perbincangan di hampir semua platform media sosial dalam waktu singkat. Tanpa iklan berbayar, tanpa endorsement. Hanya dari komentar-komentar absurd yang dia tulis sendiri setiap hari. Artikel ini mengupas tuntas bagaimana strategi itu bekerja, mengapa efektif, dan apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini. Marketing Aldi’s Burger Aldis Burger resmi buka pada 23 Januari 2026. Sejak hari pertama, Aldi tidak menggunakan cara promosi yang biasa dilakukan pebisnis kuliner kebanyakan: tidak ada artis yang diendorse, tidak ada iklan di billboard, tidak ada target audiens yang ditembak lewat paid ads. Yang ia lakukan adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan siapa pun di media sosial: menulis komentar.  Kalimat itu menggabungkan deskripsi produk dengan nama-nama artis secara tiba-tiba, sehingga terasa lucu dan di luar ekspektasi. Kata “juicy” untuk mendeskripsikan dagingnya diplesetnnya jadi “Juicy Luicy”, nama band indie terkenal, lalu disambung dengan nama Mahalini dan Rizky Febian dalam satu napas. Hasilnya: kalimat yang terdengar absurd tapi justru bikin orang berhenti scroll. Tanpa endorse artis, burgernya langsung viral. Sejak hari-hari awal pembukaan, burger ini langsung diserbu pembeli hingga sempat kehabisan stok dan tutup lebih awal karena membludaknya pesanan. Elemen-Elemen di Balik Marketing Aldi Taher Kalau dilihat lebih dalam, strategi Aldi bukan sekadar asal-asalan. Ada beberapa lapisan yang saling mendukung dan membuat pendekatan ini bekerja. 1. Nama Artis sebagai Hook yang Efektif Menyisipkan nama Juicy Luicy, Mahalini, dan Rizky Febian dalam kalimat promosi. Nama-nama populer itu berfungsi sebagai scroll-stopper: ketika seseorang melihat nama artis favorit mereka di tengah kalimat yang tidak terduga, mereka otomatis berhenti dan membaca. Efeknya cukup signifikan. Orang yang melihat nama artis akan berhenti scrolling, membaca komentar, lalu menyadari bahwa itu adalah promosi burger. Strategi ini juga memicu rasa penasaran sekaligus hiburan, karena format kalimatnya terasa random dan tidak biasa. 2. Konten AI yang Kreatif dan Tidak Terduga Aldi juga memanfaatkan kreativitas digital dalam promosinya. Ia menggunakan teknologi AI untuk membuat konten editan unik, termasuk menggabungkan foto musisi idolanya, Liam Gallagher dan Noel Gallagher, seolah-olah ikut mempromosikan produknya. Konten semacam ini jelas bukan iklan biasa. Ia lebih dekat dengan format meme, yang secara alami lebih mudah menyebar dan direspons dengan positif oleh pengguna media sosial karena terasa menghibur, bukan menjual. 3. Persona “Asbun” yang Konsisten Salah satu kekuatan terbesar Aldi bukan cuma kontennya, tapi karakternya yang konsisten. Ia tampil dengan persona yang santai, tidak kaku, dan sering memberi jawaban di luar ekspektasi. Contoh paling ikonik: ketika ditanya soal burgernya, ia pernah bilang “Semua burger milik Allah.” Jawaban yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan, tapi justru bikin orang tertawa dan makin penasaran. Kalimat seperti “Aldis burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy…” hingga yang lebih nyeleneh seperti “semua burger milik Allah” menjadi bahan perbincangan di dunia maya. Persona ini membuat setiap konten Aldi terasa autentik, bukan terasa seperti iklan yang diproduksi oleh tim kreatif. Dan di era media sosial, keaslian itu nilainya sangat tinggi. Ketika Artis yang Disebut Ikut Merespons Efek paling tidak terduga dari strategi ini adalah respons organik dari para artis yang namanya disebutkan. Mahalini mengunggah ulang promosi Aldi di Instagram Story dan memberikan tanggapan santai: “Stop capek wkwkwk,” tulisnya, menunjukkan bahwa ia tidak merasa keberatan dengan gaya promosi yang mencatut namanya. Respons Mahalini, meski bernada bercanda, justru memperluas jangkauan konten Aldi ke basis penggemar Mahalini yang jauh lebih besar.  Ini adalah earned media yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun: orang lain menyebarkan kontenmu secara sukarela karena mereka merasa terlibat atau terhibur. Brand Besar Ikut Nimbrung Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika brand-brand besar mulai merespons, bahkan mempromosikan balik Aldis Burger. Aldi Taher sendiri yang memulai ini dengan cara yang tidak lazim: ketika stoknya habis, alih-alih meminta pelanggan menunggu atau datang esok hari, ia justru secara terbuka merekomendasikan kompetitornya. Menariknya, jika dagangannya habis, Aldi justru secara sukarela mempromosikan merek burger milik kompetitor agar para pembeli tetap bisa makan.  “Makanya saya bilang nanti kalau misal ini habis burgernya, teman-teman masih pengen makan burger, di sini kan ada Bangor Burger, ada Niki’s Burger, ada Burger King, Bar Burger, Burger Blenger, Lawless, ya pokoknya Yupi Burger,” kata Aldi. Sikap ini justru membuat publik semakin simpati. Dan Burger King pun merespons dengan cara yang tidak kalah mengesankan. Burger King Indonesia mengucapkan terima kasih di akun Instagram resmi mereka dan mempromosikan balik Aldi’s Burger. “Terima kasih @alditaher.official sudah mengajak pelanggannya untuk membeli Burger King ya saat @aldis.burger libur Lebaran. Karena semua burger milik Allah,” tulis caption tersebut, mengutip kalimat yang sering diucapkan Aldi. Seorang netizen di X bahkan mengomentari momen ini dengan cukup tepat: “Cuma @alditaher_indo yang bisa bikin UMKM collab sama brand dengan nilai valuasi IDR 3.6 Triliun. Marketing masterclass yang ga bisa dipelajari di buku manapun.” Gerai pizza di dekat lokasi Aldis Burger di Cempaka Putih bahkan memasang penunjuk arah menuju kedai Aldi.  Bukan karena diminta, tapi karena merasa vibrasi positif dari cara Aldi berbisnis. Aldi’s Burger Goes to Panggung Pestapora Perjalanan Aldis Burger dari satu kolom komentar sederhana ke salah satu festival musik terbesar di Indonesia berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan, dalam sehari, penjualan Aldi’s Burger disebut bisa mencapai hingga 600 porsi. Popularitas tersebut membuat usahanya dilirik oleh berbagai pihak.  Salah satunya datang dari penyelenggara festival musik Pestapora, Kiki Aulia Ucup. Aldi mengunggah tangkapan layar percakapan yang menunjukkan dirinya diundang untuk membuka tenant di festival musik hits tersebut pada 25-27 September 2026. Ini bukan pencapaian kecil. Pestapora adalah festival musik berbayar dengan line-up artis bergengsi yang setiap tahunnya dihadiri ribuan orang.  Fakta bahwa sebuah gerai burger yang baru buka beberapa bulan bisa mendapat undangan ke sana adalah bukti nyata bahwa viralitas yang dibangun Aldi bukan sekadar keramaian sesaat. Aldi juga telah diajak bekerja sama oleh Kahf untuk kolaborasi bersama

SELENGKAPNYA