Perkembangan media sosial telah mengubah cara brand berkomunikasi dengan konsumennya. Iklan yang terlalu eksplisit kini justru mudah diabaikan.
Konsumen lebih tertarik pada konten yang terasa jujur, menghibur, dan relevan dengan keseharian mereka.
Dalam konteks inilah, Domino’s Pizza Indonesia menunjukkan bagaimana strategi guerrilla marketing dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mendorong lonjakan pelanggan dan penjualan.
Melalui produk American Pie Supreme Cheese, Domino’s tidak hanya menciptakan tren viral di TikTok, tetapi juga berhasil mengonversi perhatian digital menjadi aksi nyata di dunia offline.
Mulai dari antrean panjang di gerai hingga peningkatan signifikan unduhan aplikasi.
Perubahan Pola Pemasaran di Era Media Sosial
Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku konsumen mengalami pergeseran signifikan.
Keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi oleh iklan resmi dari brand, melainkan oleh pengalaman dan opini pengguna lain.
Konsumen kini lebih percaya pada rekomendasi, konten viral, serta ulasan autentik yang menampilkan pengalaman nyata menggunakan suatu produk.
Media sosial memperkuat perubahan ini, terutama melalui platform seperti TikTok.
Algoritma TikTok tidak hanya mengandalkan iklan berbayar, tetapi mendorong konten dengan tingkat interaksi tinggi seperti durasi tonton, komentar, dan berbagi ulang.
Akibatnya, konten yang relevan dan menarik dapat menyebar luas meskipun berasal dari akun biasa.
Kondisi tersebut membuat pendekatan pemasaran satu arah menjadi kurang efektif.
Brand dituntut untuk menciptakan percakapan, bukan sekadar menyampaikan pesan promosi.
Domino’s Pizza memahami perubahan ini dan menyesuaikan strategi pemasarannya dengan menjadikan konsumen sebagai pusat narasi, sehingga pesan brand tersebar secara organik dan lebih mudah dipercaya.
Kronologi Lengkap Viral American Pie Supreme Cheese Domino’s Pizza
Fenomena ini bermula dari sebuah video TikTok yang diunggah akun @pecintapitza28, yang menampilkan American Pie Supreme Cheese dengan fokus visual pada lelehan keju, ketebalan isian, serta tekstur pizza yang terlihat berlimpah.
Video tersebut tidak dikemas sebagai iklan dan tidak memuat narasi promosi maupun ajakan membeli. Konten hanya menampilkan pengalaman menikmati produk secara apa adanya, sehingga terasa jujur dan mudah dipercaya oleh penonton.
Video tersebut kemudian menarik perhatian publik dan mencatatkan lebih dari 10 juta penayangan dalam waktu singkat.
Tingginya durasi tonton, jumlah like, komentar, serta share membuat algoritma TikTok terus mendistribusikan video ini ke lebih banyak pengguna.
Semakin banyak interaksi yang terjadi, semakin luas pula jangkauan konten tersebut, sehingga viralitas berkembang secara cepat dan berkelanjutan.
Seiring meluasnya jangkauan video awal, ribuan pengguna TikTok lainnya ikut membuat konten dengan tema serupa.
Lebih dari 4.000 kreator mengunggah video yang menampilkan American Pie Supreme Cheese dengan berbagai format, seperti review pertama kali mencoba, mukbang, reaksi spontan, hingga perbandingan menu.
Setiap konten memiliki jumlah penayangan yang berbeda, mulai dari ribuan hingga jutaan views, namun tetap berkontribusi pada penguatan tren secara keseluruhan.
Akumulasi dari seluruh konten tersebut menghasilkan lebih dari 100 juta tayangan di TikTok.
Angka ini setara dengan eksposur iklan nasional berskala besar, namun diperoleh secara organik melalui partisipasi pengguna.
Dari titik inilah American Pie Supreme Cheese tidak lagi sekadar menjadi menu baru, melainkan berubah menjadi fenomena viral yang mendorong rasa penasaran dan minat beli konsumen secara masif.
Peran Audio dalam Mempercepat Viralitas
Selain visual produk, faktor penting lain yang memperkuat viralitas American Pie Supreme Cheese adalah audio yang digunakan dalam video-video TikTok.
Audio tersebut berasal dari lagu Indonesia yang sudah populer, memiliki nada ceria, mudah diingat, dan liriknya dimodifikasi menjadi ungkapan kecintaan terhadap Domino’s Pizza.
Penggunaan audio ini membuat konten terasa ringan, menyenangkan, dan mudah ditiru oleh pengguna lain.
Audio tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar suara, tetapi juga sebagai identitas kolektif tren. Dengan audio yang sama, ribuan video terasa saling terhubung dan dikenali sebagai bagian dari satu fenomena.
Selain itu, keseragaman audio membantu algoritma TikTok mengelompokkan konten, sehingga penyebarannya semakin luas.
Di sisi lain, audio ini menciptakan ikatan emosional antara konten dan audiens, karena musik yang familiar mampu memicu rasa senang, kedekatan, dan keterlibatan yang lebih kuat.
Produk sebagai Faktor Penentu Keberhasilan
Tidak semua produk memiliki potensi untuk menjadi pusat tren viral. Dalam kasus Domino’s Pizza, American Pie Supreme Cheese memiliki karakter visual yang sangat kuat sehingga mudah menarik perhatian di media sosial.

Produk ini menampilkan kombinasi lelehan keju yang melimpah, isian yang tebal, serta tekstur yang kontras antara bagian luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut.
American Pie Supreme Cheese terdiri dari keju cheddar, saus keju premium, keju mozzarella, macaroni, sosis sapi, dan daging sapi cincang yang dibungkus tortilla dengan lapisan atas renyah.
Komposisi tersebut membuat tampilan produk terlihat “penuh” dan memuaskan secara visual.
Karakter inilah yang menjadikan produk mudah direkam dalam format video pendek dan memancing reaksi spontan, sehingga sangat mendukung keberhasilan strategi viral di TikTok.
Secara tampilan, produk ini:
- Tebal dan penuh
- Memiliki efek lelehan keju
- Terlihat “worth it” secara visual
Karakter ini membuat produk sangat cocok untuk konten video pendek, terutama format close-up dan reaksi spontan.
Dampak Nyata ke Penjualan dan Operasional
Viralitas American Pie Supreme Cheese tidak berhenti pada angka view. Dampaknya terasa langsung di lapangan.
Beberapa dampak konkret yang terjadi:
- Gerai Domino’s Pizza mengalami lonjakan kunjungan
- Permintaan terhadap menu American Pie Supreme Cheese meningkat tajam
- Konsumen baru datang khusus untuk mencoba “pizza viral”
- Unduhan aplikasi Domino’s Pizza Indonesia meningkat signifikan
Artinya, strategi ini berhasil mengubah attention menjadi action.
Manajemen Domino’s menegaskan bahwa keberhasilan ini menunjukkan peran media sosial sebagai alat pemasaran yang langsung berdampak pada pertumbuhan pelanggan, bukan sekadar kanal branding.
Konsistensi Strategi: Bukan Kejadian Sekali Saja
Keberhasilan ini bukan peristiwa tunggal. Domino’s sebelumnya juga pernah memanfaatkan momentum sosial dengan pendekatan serupa.
Saat pemerintah menaikkan harga BBM, Domino’s merespons dengan narasi:
“Pizza lebih murah daripada bensin.”
Konten yang beredar:
- Membandingkan harga pizza dengan bensin
- Menekankan value for money
- Mengaitkan produk dengan kondisi ekonomi masyarakat
Strategi ini berhasil karena:
- Relevan dengan keresahan publik
- Menggunakan pendekatan humor dan realitas
- Membuat brand terasa dekat dengan konsumen
Pola ini menunjukkan bahwa Domino’s secara konsisten memanfaatkan konteks sosial sebagai bahan bakar guerrilla marketing.
Analisis Strategi Guerrilla Marketing Domino’s Pizza
Keberhasilan Domino’s Pizza dapat dianalisis melalui beberapa faktor utama:
1. Pemilihan Platform yang Tepat
TikTok dipilih karena:
- Algoritma mendukung konten viral
- Audiens luas dan aktif
- Konten makanan memiliki performa tinggi
2. Produk yang Siap Diviralkan
Produk tidak hanya enak, tetapi juga:
- Menarik secara visual
- Mudah direkam
- Memancing reaksi spontan
3. Peran Konsumen sebagai Media
Domino’s tidak memonopoli narasi. Konsumen justru menjadi:
- Kreator
- Promotor
- Penyebar pesan
4. Minim Intervensi Brand
Dengan tidak terlalu “jualan”, konten terasa:
- Autentik
- Jujur
- Lebih dipercaya audiens
Aspek yang Bisa Dicontoh untuk UMKM
Kasus Domino’s Pizza menunjukkan bahwa strategi viral dan guerrilla marketing tidak hanya bisa dilakukan oleh brand besar, tetapi juga relevan untuk UMKM.
Kunci utamanya terletak pada kesiapan produk, karena viral marketing hanya akan efektif jika produk memiliki nilai yang menarik untuk ditampilkan dan dibicarakan.
Produk yang unik secara visual, memiliki cerita, atau memberikan pengalaman berbeda akan lebih mudah menyebar di media sosial.
Selain itu, konten autentik terbukti lebih efektif dibanding iklan formal.
UMKM tidak harus membuat konten yang terlihat sempurna, melainkan cukup menampilkan pengalaman nyata pelanggan.
Momentum sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang, selama relevan dengan kondisi audiens dan tidak dipaksakan.
Ketika strategi guerrilla marketing dijalankan secara kontekstual dan sesuai dengan karakter platform, UMKM memiliki peluang yang sama besar untuk menciptakan dampak pemasaran yang signifikan.
Kesimpulan
Kesuksesan American Pie Supreme Cheese Domino’s Pizza membuktikan bahwa guerrilla marketing berbasis media sosial mampu menghasilkan dampak nyata bagi bisnis.
Dengan memanfaatkan TikTok, kreativitas konsumen, dan produk yang kuat secara visual, Domino’s Pizza Indonesia berhasil menarik ribuan pelanggan baru dan meningkatkan penjualan secara signifikan.
Di era digital saat ini, brand yang mampu menciptakan percakapan dan keterlibatan emosional akan selalu memiliki keunggulan kompetitif.
Domino’s Pizza menunjukkan bahwa pemasaran tidak selalu harus keras dan mahal. Yang terpenting adalah relevan, autentik, dan tepat sasaran.




