Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Yakult: Kisah Sukses Global dan Peran Sentral “Yakult Lady”

Yakult: Kisah Sukses Global dan Peran Sentral “Yakult Lady”

Yakult, minuman probiotik fermentasi asal Jepang, telah membuktikan dirinya sebagai raksasa global yang tak lekang oleh waktu.  Dengan botol mungil yang ikonik dan rasa khasnya, Yakult berhasil menembus pasar lebih dari 40 negara.  Di Indonesia, misalnya, penjualan pernah mencapai angka fantastis. Angka 7 juta botol per hari pernah dikutip pada 2021 sebagai capaian yang menggambarkan skala besar operasionalnya. Rahasia di balik keberhasilan Yakult tidak semata dari produknya saja.  Ada kombinasi strategi pemasaran unik, komitmen pada kualitas global, serta peran sentral dari program “Yakult Lady”, ibu-ibu yang setiap hari datang langsung ke rumah-rumah dan kantoran. Mereka menyapa konsumen, mengedukasi, dan mendistribusikan produk secara personal. Filosofi dan Konsistensi Global Yakult Yakult dikenal sebagai perusahaan minuman probiotik yang memiliki standar kualitas dan filosofi yang sama di seluruh dunia.  Keberhasilan Yakult dalam mempertahankan kepercayaan konsumen berasal dari dua hal utama: penerapan filosofi pendirinya dan penerapan sistem produksi global yang seragam. 1. Kualitas dan Inovasi Tak Berubah Yakult didirikan oleh Dr. Minoru Shirota pada tahun 1930 dengan dasar pemikiran Shirota-ism, yaitu prinsip bahwa menjaga kesehatan usus merupakan langkah utama dalam mencegah penyakit.  Berdasarkan prinsip tersebut, Yakult menggunakan satu jenis bakteri probiotik yang sama di seluruh dunia, yaitu Lactobacillus casei Shirota strain. Bakteri ini dipilih karena mampu bertahan hidup di saluran pencernaan dan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.  Formulasi Yakult tidak mengalami perubahan sejak pertama kali dikembangkan. Semua pabrik Yakult, termasuk yang berada di Sukabumi, Jawa Barat, menerapkan sistem produksi otomatis dan tertutup untuk memastikan kebersihan, keamanan, dan kualitas produk.  Proses ini diawasi dengan ketat sesuai standar internasional agar produk yang dihasilkan memiliki mutu yang sama di setiap negara. 2. Ekspansi Global dengan Sentuhan Lokal Yakult saat ini dipasarkan di lebih dari 40 negara. Meskipun formula produknya sama, strategi distribusi dan pemasaran disesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan masyarakat di tiap negara. Di Indonesia, Yakult menerapkan sistem penjualan langsung melalui Yakult Lady, yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga.  Sistem ini dinilai efektif untuk menjangkau konsumen dan memberikan informasi langsung tentang manfaat produk. Selain itu, Yakult juga aktif dalam program edukasi kesehatan masyarakat, seperti kegiatan di sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas lokal.  Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan pencernaan. Yakult Lady: Strategi Direct Selling yang Personal Model distribusi “Yakult Lady” adalah salah satu pembeda terbesar Yakult dibanding merek minuman lainnya. Ini strategi pemasaran yang humanis dan sangat langsung. 1. Fungsi Ganda: Penjual dan Edukator Yakult Lady bukan hanya menawarkan produk. Mereka juga menjalankan fungsi edukasi. Datang ke rumah, kantor, sekolah, dan komunitas untuk berbicara tentang pentingnya kesehatan pencernaan, bagaimana konsumsi Yakult membantu, dan mengajak pelanggan menjadi konsumen setia.  Produksi penelitian menyebut bahwa program ini memperkuat kepercayaan konsumen melalui interaksi personal.  2. Kontribusi Penjualan Signifikan Menurut laporan, Yakult Indonesia memiliki sekitar 9.700 Yakult Lady aktif, yang tiap minggu dapat menjangkau sekitar 4 juta orang.  Model ini membuat distribusi lebih cepat, produk lebih mudah diakses, dan ikatan antara merek dan konsumen semakin kuat. 3. Pemberdayaan Ekonomi Lokal Program Yakult Lady juga memiliki dampak sosial-ekonomi.  Ribuan perempuan (seringkali ibu rumah tangga) memiliki kesempatan untuk menghasilkan pendapatan tambahan.  Model ini membantu mereka menjadi lebih mandiri secara ekonomi, sekaligus memperkuat citra Yakult sebagai merek yang peduli keluarga dan komunitas. Kekuatan Branding dan Slogan yang Melekat Selain strategi distribusi personal, branding Yakult memainkan peran krusial.  Botol putih mungil dengan tutup foil merah, ditambah seragam khas Yakult Lady adalah elemen visual yang sangat mudah dikenali oleh masyarakat Indonesia. Slogan seperti “Cintai ususmu, minum Yakult tiap hari!” telah menempel di benak konsumen selama bertahun-tahun.  Konsistensi menggunakan slogan ini di berbagai media membuat pesan merek tersampaikan dengan efektif.  Kombinasi ini menghasilkan loyalitas konsumen yang langgeng. Kesimpulan Kesuksesan Yakult, hingga mampu menembus angka jutaan botol per hari di Indonesia, bukan hanya karena produk yang baik.  Kesuksesan tersebut adalah hasil dari perpaduan tiga faktor utama, yaitu kualitas, strategi direct selling, dan branding.  Meskipun banyak merek beralih ke e-commerce dan iklan influencer, Yakult membuktikan bahwa sentuhan personal langsung seperti Yakult Lady masih sangat relevan dan efektif. Bahkan, digital hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti total.

SELENGKAPNYA
Produk China Murah Ancam UMKM, Pemerintah Siapkan Ini!

Produk China Murah Ancam UMKM, Pemerintah Siapkan Ini!

Menjadi Pengaruh – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali menyoroti fenomena membanjirnya produk impor murah dari China yang dinilai mengancam keberlangsungan pelaku usaha lokal.  Lonjakan barang-barang dengan harga sangat rendah, terutama di sektor fesyen, membuat produk dalam negeri semakin sulit bersaing. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menegaskan bahwa praktik impor dengan harga yang tak masuk akal harus segera dikendalikan agar industri kecil dan menengah tidak kian tertekan.  Ia mencontohkan, harga jilbab asal China yang beredar di pasaran hanya berkisar antara Rp1.000 hingga Rp3.000 per potong. Jauh di bawah biaya produksi pengrajin lokal. Tak hanya jilbab, produk batik printing hingga pakaian jadi impor juga dijual dengan harga yang dinilai tidak rasional.  Kondisi ini menyebabkan banyak pelaku UMKM kehilangan pasar karena tidak mampu bersaing dengan harga serendah itu. Menurut Maman, pemerintah kini tengah menyiapkan kebijakan untuk membatasi arus masuk barang-barang impor murah tersebut.  Upaya ini menjadi lanjutan dari kebijakan pengendalian penjualan barang thrifting yang telah lebih dulu diterapkan. “Kita tidak bisa hanya berhenti di penertiban thrifting, karena yang lebih besar adalah banjirnya produk baru impor dari China dengan harga yang sudah tidak wajar,” ujarnya dalam acara EKSiS di Lippo Mal Nusantara, Jakarta, Kamis (6/11/2025), dikutip dari Kompas.com. Ia menegaskan bahwa langkah pembatasan impor diperlukan untuk menjaga daya saing dan kelangsungan industri lokal, terutama sektor fesyen yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian UMKM Indonesia.  Pemerintah disebut akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memperketat pengawasan serta memastikan kebijakan perdagangan yang lebih adil bagi pelaku usaha dalam negeri. “Industri fesyen lokal merupakan bagian penting dari ekosistem UMKM yang menyerap jutaan tenaga kerja. Kalau ini dibiarkan, bukan hanya pelaku usaha yang rugi, tapi juga ekonomi masyarakat secara luas,” tambahnya. Dengan langkah pembatasan impor ini, pemerintah berharap produk dalam negeri dapat kembali memiliki ruang untuk tumbuh dan bersaing di pasar domestik.  Selain itu, strategi pemberdayaan UMKM melalui peningkatan kualitas, inovasi desain, dan digitalisasi penjualan juga akan terus diperkuat untuk menghadapi tekanan produk luar negeri. Fenomena “Harga Tidak Masuk Akal” dan Dampaknya pada Ekosistem UMKM Fenomena banjir produk impor murah dari China bukan sekadar isu perdagangan, melainkan persoalan struktural yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.  Harga produk yang sangat rendah sering kali disebabkan oleh produksi massal dengan efisiensi tinggi, dukungan subsidi industri dari pemerintah asal, serta rantai pasok global yang terintegrasi. Sementara itu, UMKM lokal masih menghadapi sejumlah keterbatasan seperti biaya bahan baku yang tinggi, keterbatasan akses teknologi, hingga modal usaha yang terbatas.  Akibatnya, jurang kompetisi harga menjadi terlalu lebar, membuat banyak pelaku usaha lokal terancam gulung tikar meski produknya berkualitas. Selain tekanan harga, ada pula dampak sosial ekonomi yang tak kalah penting: Dalam konteks ini, langkah pemerintah untuk membatasi impor murah dapat menjadi momentum penting untuk menata ulang ekosistem UMKM.  Namun, kebijakan ini juga perlu diimbangi dengan penguatan daya saing dalam negeri, seperti subsidi bahan baku lokal, pelatihan digitalisasi usaha, hingga pembukaan akses ekspor bagi produk UMKM unggulan. Jika kebijakan ini berjalan beriringan, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menciptakan pasar yang lebih sehat. Di mana produk lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi pilihan utama konsumen dalam negeri.

SELENGKAPNYA
Atas Arahan Prabowo, Bahlil Pastikan 2026 Indonesia Tak Impor Solar Lagi

Bahlil Pastikan 2026 Indonesia Tak Impor Solar Lagi

Menjadi Pengaruh – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tak akan melakukan impor solar pada 2026 mendatang. Menurut Bahlil, kebijakan tersebut dapat direalisasikan karena proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan segera selesai dan adanya dorongan peningkatan produksi biodiesel 50 persen (B50) untuk ke depan. “Tadi kami melaporkan kepada Bapak Presiden, 2026, insyaallah kita enggak akan impor solar lagi. Kenapa? Karena RDMP kilang kita yang di Balikpapan insyaAllah 10 November ini akan kita resmikan. Kalau kita dorong B50 lagi untuk ke depan, berpotensi untuk kita bisa suplai kita bisa terjadi lebih terhadap solar dan bisa kita ekspor,” ujar Bahlil usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Senin (3/11). Bahlil menegaskan, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan dan kebijakan B50, pasokan solar di dalam negeri akan berlebih atau oversupply.  Ia juga memastikan proyek RDMP tersebut berjalan sesuai jadwal. “Oh, RDMP ya, RDMP-nya 10 November,” tambahnya. Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. “Ya ini kan semuanya perintah Bapak Presiden, yang perintahnya kita harus selesaikan dengan baik. Kalau semua kita sudah lakukan, ya insyaAllah Bapak Presiden pasti juga mengerti dan tahulah,” jelasnya. Dengan rampungnya proyek RDMP Balikpapan dan penguatan kebijakan B50, pemerintah optimistis Indonesia akan mandiri dalam penyediaan solar dan bahkan berpotensi mengekspor ke luar negeri. Peluang Baru di Sektor Energi dan Industri Turunan Kebijakan penghentian impor solar pada 2026 bukan hanya langkah strategis di sektor energi saja, ya! Tetapi juga membuka peluang bisnis baru di industri dalam negeri. 1. Efisiensi Biaya Produksi dan Logistik Mandirinya pasokan solar akan menekan biaya impor dan distribusi bahan bakar.  Sektor industri transportasi, logistik, dan manufaktur dapat memperoleh harga energi yang lebih stabil, meningkatkan efisiensi operasional. 2. Peluang bagi UMKM dan Startup Energi Hijau Dengan dorongan produksi biodiesel B50, muncul potensi besar bagi pelaku usaha lokal untuk masuk ke rantai pasok bioenergi. Seperti pengolahan minyak nabati dan inovasi bahan bakar ramah lingkungan. 3. Dampak pada Investasi dan Pasar Domestik Oversupply solar bisa menurunkan tekanan harga energi di dalam negeri, menarik minat investor untuk memperluas kapasitas penyimpanan dan distribusi.  Sementara itu, ekspor ke negara tetangga menjadi peluang tambahan bagi devisa. 4. Langkah Menuju Kemandirian Energi Nasional Realisasi RDMP Balikpapan menandai pergeseran penting: dari negara pengimpor menuju produsen dan pengekspor energi.  Ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia di pasar energi regional dan mendukung target net zero emission di masa depan. Namun, realisasinya tetap perlu ditunggu untuk melihat sejauh mana kebijakan ini benar-benar berjalan di lapangan.

SELENGKAPNYA
Strategi Marketing Mama Lemon Gaet Ibu Rumah Tangga

Strategi Marketing Mama Lemon Gaet Ibu Rumah Tangga

Ketika kita membahas merek pembersih rumah tangga yang sukses di pasar Indonesia, Mama Lemon adalah salah satunya. Sejak diluncurkan, produk ini telah menjadi bagian dari rutinitas banyak ibu-rumah tangga. Namun, apa yang membuat Mama Lemon bisa “menang” di hati konsumen wanita Indonesia? Di artikel ini, kita akan membahas lima strategi marketing kunci yang diimplementasikan oleh Mama Lemon, sehingga merek ini menjadi pilihan favorit ibu-ibu di Tanah Air. Sejarah Brand Mama Lemon Mama Lemon merupakan salah satu merek cairan pencuci piring tertua dan paling dikenal di Indonesia. Produk ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1985 oleh PT Lion Wings, perusahaan hasil kerja sama antara Lion Corporation Jepang dan Wings Group Indonesia. Peluncuran ini menandai langkah penting dalam industri produk rumah tangga Indonesia, karena saat itu pasar cairan pencuci piring masih relatif baru dan didominasi oleh sabun colek konvensional. Sebagai pelopor di kategorinya, Mama Lemon hadir dengan inovasi utama berupa cairan pembersih berbasis lemon yang diklaim mampu menghilangkan lemak lebih cepat dan meninggalkan aroma segar. Pendekatan ini sangat relevan dengan kebutuhan rumah tangga modern, yang semakin mengutamakan kebersihan, efisiensi, dan kenyamanan. Seiring berjalannya waktu, Mama Lemon terus memperkuat posisinya melalui inovasi produk dan strategi pemasaran adaptif. Misalnya, mereka menghadirkan varian baru seperti Mama Lemon Jeruk Nipis, Mama Lemon Antibacterial, dan Mama Lemon Ultra Concentrate, untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Dari sisi komunikasi merek, Mama Lemon konsisten membangun citra sebagai mitra andalan ibu rumah tangga Indonesia dengan pesan utama: Piring bersih, dapur higienis, dan keluarga sehat. Melalui iklan televisi, kampanye digital, dan aktivitas promosi di berbagai daerah, merek ini berhasil mempertahankan kedekatan emosional dengan konsumennya lintas generasi. Kini, lebih dari tiga dekade sejak diperkenalkan, Mama Lemon tetap menjadi salah satu pemimpin pasar cairan pencuci piring di Indonesia, bersaing dengan merek-merek baru namun tetap dikenal karena kualitas. Strategi Marketing Mama Lemon Berikut lima strategi utama yang membantu Mama Lemon membangun hubungan kuat dengan ibu-ibu Indonesia: 1. Kualitas Produk yang Konsisten Mama Lemon mempertahankan cita rasa dan performa produk yang kuat sebagai fondasi strateginya Konsistensi layanan artinya produk selalu bekerja seperti yang diharapkan konsumen menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. Dalam konteks produk pencuci piring, ibu-ibu sangat memperhatikan: “Apakah produk ini benar-benar bersih, aman untuk keluarga, dan mudah dipakai”. Mama Lemon memanfaatkan posisi ini dengan memastikan bahwa formulanya terus ditingkatkan. Sebagai contoh, inovasi seperti “Mineral Anti Lemak” atau “3 Action Cleaning Power” pernah diperkenalkan. Dengan menjaga mutu selama bertahun-tahun, Mama Lemon berhasil menciptakan loyalty (kesetiaan) konsumen yang cukup kuat dalam segmen ibu-ibu rumah tangga. 2. Kampanye Pemasaran yang Kreatif Selain produk yang bagus, Mama Lemon juga unggul dalam cara mereka “menceritakan” dirinya ke konsumen. Kampanye yang kreatif membantu merek ini menyentuh emosi serta dipahami sehari-hari oleh target pasar. Contoh: kampanye yang menggambarkan bagaimana Mama Lemon membantu ibu-ibu menjalani aktivitas dapur dengan lebih ringan dan bersih, atau penggunaan warna cerah dan visual yang mudah dikenali. Pendekatan ini menjadikan Mama Lemon bukan sekadar “produk pencuci piring”, tetapi “partner ibu-ibu” dalam menjaga kebersihan rumah tangga. 3. Keterlibatan dalam Komunitas Mama Lemon tak berhenti di toko atau etalase, mereka juga aktif di komunitas ibu-rumah tangga. Merek ini menjalin komunikasi yang langsung dengan konsumen melalui edukasi kebersihan, tips dapur, dan acara-acara yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui keterlibatan ini, Mama Lemon menumbuhkan citra sebagai merek yang peduli dengan mendukung aktivitas keseharian konsumen. Hal seperti ini membantu memperkuat “ikatan merek” dengan target pasar. Keterlibatan komunitas juga membantu merek memahami kebutuhan nyata konsumen dan beradaptasi sesuai. 4. Pemanfaatan Media Sosial Mama Lemon memanfaatkan platform media sosial untuk berinteraksi dengan konsumen. Memberikan tips, mengangkat user generated content, mengadakan kontes, serta memberikan ruang bagi konsumen untuk berbagi pengalaman. Pendekatan ini bukan hanya soal promosi, tetapi juga soal ‘mendengar’ dan ‘terlibat’ dengan konsumen. Dengan demikian, merek berhasil memperluas jangkauan, menjaga relevansi, dan membangun komunitas digital yang terhubung. 5. Inovasi Produk yang Terus-Menerus Untuk merek yang sudah berdiri lama seperti Mama Lemon, pertumbuhan dan relevansi harus dijaga agar tidak “mati di tempat”. Mama Lemon secara rutin memperkenalkan varian baru, memperbaharui formula, dan menyesuaikan desain kemasan, agar tetap sesuai selera dan kebutuhan konsumen modern. Contoh: dalam literatur disebut bahwa produk ini sudah berada di tahap “pendewasaan” dalam siklus hidup produk karena terus melakukan perubahan agar daya saing tetap terjaga. Dengan inovasi tersebut, Mama Lemon tetap menarik bagi ibu-ibu yang menginginkan solusi praktis, higienis, dan “masa kini”. Kesimpulan Kelima strategi di atas secara sinergis membantu Mama Lemon memenangkan hati ibu-ibu Indonesia. Bukan hanya sebagai produk yang “terjual”, tetapi sebagai merek yang “dipercaya” dan “diandalkan”. Bagi Anda yang ingin meniru pendekatan serupa, bisa dengan memahami target pasar secara mendalam, menjalin hubungan emosional & fungsional dengan konsumen, serta terus beradaptasi dengan perubahan pasar. Merek yang hanya mengandalkan satu aspek saja mungkin akan kesulitan bertahan, sementara merek yang mengelola semua aspek tersebut akan lebih mampu bertahan dan berkembang.

SELENGKAPNYA
Warga Jatim Keluhkan Motor Brebet, Bengkel Kebanjiran Pelanggan

Warga Jatim Keluhkan Motor Brebet, Bengkel Kebanjiran Pelanggan

Sejak akhir pekan lalu, fenomena banyaknya sepeda motor yang tiba-tiba tersendat, mati total atau brebet setelah mengisi bahan bakar jenis Pertalite di wilayah Jawa Timur kian meluas.  Di sejumlah kota seperti Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya, keluhan serupa viral di media sosial serta berdampak nyata pada operasional bengkel dan layanan konsumen. Menurut laporan mekanik di beberapa kota, motor keluaran baru dengan sistem injeksi menjadi kelompok yang paling sering mengalami masalah.  Menanggapi derasnya keluhan, Pertamina Patra Niaga telah membuka 15 pos pengaduan di SPBU yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban.  Konsumen diarahkan melapor ke SPBU tempat pengisian, menunjukkan bukti transaksi, dan mengisi formulir pengaduan agar tindakan lanjutan bisa dilakukan. Tanggapan Resmi Menteri Bahlil dan Investigasi Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jatim – Bali – Nusa Tenggara menyatakan bahwa seluruh proses distribusi BBM telah mengikuti prosedur dan standar yang ditetapkan. Namun tetap membuka pengaduan dan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sampel BBM. Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ikut buka suara. “Kalau kemudian ditemukan ada pelanggaran yang dilakukan oleh Pertamina. Maka pemerintah akan memberikan sanksi tegas.” ujar Bahlil, Kamis (30/10/2025), dikutip dari detikFinance. Meski akses pengaduan telah dibuka, banyak konsumen yang merasa prosesnya rumit dan enggan melapor karena tak menyimpan struk atau bukti pembelian.  Kondisi ini membuat data pengaduan belum mewakili seluruh kejadian.  Padahal, bengkel-bengkel melaporkan lonjakan kasus secara signifikan dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. Menurut Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jatim, kejadian ini dapat menimbulkan kerugian bagi konsumen dan berpotensi melanggar Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.  Ketua YLPK Jatim, Muhammad Said Utomo, mengatakan bahwa perusahaan penyedia BBM wajib menjamin keamanan produk yang dijual dan memberi kompensasi jika terbukti menimbulkan kerusakan. Dampak pada Roda Ekonomi Masyarakat Fenomena motor brebet akibat dugaan masalah pada Pertalite tak hanya berdampak pada kenyamanan pengguna, tetapi juga mulai terasa pada roda ekonomi masyarakat.  Dalam beberapa hari terakhir, bengkel-bengkel di berbagai kota di Jawa Timur melaporkan lonjakan pelanggan yang signifikan. Terutama yang datang untuk melakukan servis injektor, kuras tangki, atau ganti busi. Di satu sisi, kondisi ini memang membuat beberapa bengkel kebanjiran order dan mengalami peningkatan omzet mendadak.  Namun, di sisi lain, masyarakat pengguna justru menanggung beban biaya tambahan untuk perbaikan.  Beberapa di antaranya harus mengeluarkan ratusan ribu hingga lebih dari sejuta rupiah untuk perawatan mendadak.  Bagi pekerja ojek online dan masyarakat dengan mobilitas tinggi, kerugian terasa lebih besar karena kehilangan waktu kerja. Selain itu, sektor informal seperti ojek pangkalan, jasa kurir lokal, dan UMKM berbasis pengantaran juga terkena imbas.  Ketidakpastian kualitas bahan bakar membuat beberapa pelaku usaha menunda aktivitas harian, sementara sebagian lainnya memilih beralih ke BBM jenis lain yang harganya lebih tinggi. Jika kondisi ini berlanjut tanpa solusi konkret, maka bukan hanya reputasi bahan bakar yang terdampak, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem distribusi energi nasional.  Pemerintah dan Pertamina diharapkan segera mengumumkan hasil investigasi laboratorium secara terbuka agar pelaku usaha kecil tidak semakin dirugikan. Langkah Selanjutnya Fenomena mogok atau tersendatnya motor usai mengisi Pertalite mengundang keprihatinan luas dan memunculkan beberapa pertanyaan besar. Apakah terdapat perubahan spesifikasi BBM, kontaminasi, atau gangguan rantai distribusi?  Meskipun pihak Pertamina mengklaim seluruh proses telah sesuai SOP, langkah pemeriksaan dan transparansi diperlukan agar kepercayaan publik kembali terbangun. Bagi masyarakat yang mengalami hal serupa, dianjurkan menyimpan struk pembelian, segera melapor ke SPBU atau pos pengaduan Pertamina dan mencatat kronologi kejadian.  Sementara itu, pihak terkait harus mempercepat pengumuman hasil uji laboratorium dan memberikan solusi yang memadai bagi konsumen terdampak.

SELENGKAPNYA
Zulhas: Program Makan Bergizi Gratis Andil dalam Kenaikan Harga Pangan

Zulhas: Program Makan Bergizi Gratis Andil dalam Kenaikan Harga Pangan

Menjadi Pengaruh — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengakui bahwa pelaksanaan program “makan bergizi gratis” (MBG) turut mendorong kenaikan harga pangan di berbagai daerah.  Pemerintah mencatat bahwa inflasi harga pangan bergejolak (volatile foods) mencapai 6,44% YoY pada September 2025. Menurut laporan, inflasi tersebut jauh di atas target inflasi umum sebesar 2,5% ± 1% sepanjang tahun. Permintaan Naik Akibat Program MBG Zulhas menyatakan bahwa kenaikan inflasi terjadi karena percepatan implementasi program MBG di berbagai daerah yang meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan seperti telur, ayam, dan ikan. “Akibatnya, permintaan naik dan harga pangan seperti telur, ayam, ikan, dan sejenisnya meningkat.” Zulhas mengakui bahwa pemerintah sudah punya solusi untuk kembali meredakan tekanan inflasi pangan tersebut. Hanya saja solusinya bersifat jangka menengah daripada jangka pendek. “Tahun depan swasembada pangan harus kita percepat lagi, apakah telur, ayam, ikan, dan seterusnya, yang kita memang perlu waktu untuk membangun. Sedangkan makan bergizi ini kan percepatannya di akhir tahun luar biasa, sehingga itu mempengaruhi,” Ujar Zulhas setelah acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Selasa (28/10/2025). Sementara itu, Deputi I Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menjelaskan bahwa secara umum, inflasi nasional masih terkendali yaitu 2,65 % YoY pada September 2025. “Nanti dengan serangkaian kebijakan yang kita lakukan, memudahkan ini [inflasi volatile foods] bisa kita jaga di level di bawah 5% sesuai dengan arahan dari high level meeting di Tim Pengendali Inflasi pusat,” lanjutnya. Dampak Terbesar Dirasakan Kelompok Miskin Kenaikan harga pangan memberikan dampak yang paling berat bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, terutama makanan.  Ketika harga bahan pangan naik, daya beli mereka menurun secara signifikan sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.  Peneliti senior LPEM FEB UI, Vid Adrison, menjelaskan bahwa meskipun kenaikan harga dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dampaknya paling parah dirasakan oleh kelompok miskin.  Hal ini disebabkan karena proporsi pengeluaran mereka untuk pangan jauh lebih besar dibandingkan kelompok menengah atau kaya. Sehingga setiap kenaikan harga makanan secara langsung meningkatkan beban biaya hidup dan memperburuk kondisi kesejahteraan mereka. Tantangan Pemerintah Kenaikan harga pangan pada akhir 2025 ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah.  Di satu sisi, program MBG memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan gizi masyarakat, namun lonjakan permintaan yang terjadi secara cepat menimbulkan tekanan pada harga pangan.  Pemerintah kini perlu menjaga keseimbangan antara tujuan sosial program MBG dengan stabilitas harga pangan nasional agar manfaatnya tidak justru menimbulkan beban baru bagi masyarakat.

SELENGKAPNYA
Logo Baru Suzuki: Modern dan Klaim Ramah Lingkungan

Logo Baru Suzuki: Modern dan Klaim Ramah Lingkungan

Setelah 22 tahun menggunakan desain logo yang sama, Suzuki Motor Corporation akhirnya meluncurkan identitas visual barunya pada tahun 2025. Peluncuran yang bukan sekadar perubahan tampilan, melainkan juga langkah strategis untuk menyambut era mobilitas modern, digital, dan berkelanjutan. Apa yang Baru? Beberapa unsur kunci dari logo baru Suzuki antara lain: Logo ini diperkenalkan secara resmi di ajang Japan Mobility Show 2025 sebagai bagian dari strategi Suzuki memperkuat posisi di pasar mobilitas global. Kenapa Suzuki Mengubah Logonya? Suzuki menjelaskan bahwa pembaruan logo bukan hanya soal estetika, melainkan cerminan dari filosofi dan arah baru perusahaan.  Berikut beberapa poin pentingnya: – Menegaskan komitmen merek terhadap pelanggan dengan slogan korporat terbaru “By Your Side”, yang berarti Suzuki ingin hadir “di sisi Anda” dalam setiap aspek mobilitas. – Menyesuaikan diri dengan era digital di mana merek dan kendaraan harus hadir secara seamless di platform digital, aplikasi, dan konektivitas. Logo flat memudahkan adaptasi ke berbagai media. – Menunjukkan bahwa Suzuki memperhatikan aspek lingkungan.  Penggantian krom dengan cat perak yang lebih cerah disebut dapat mengurangi dampak lingkungan terhadap proses produksi atau finishing.  Bagaimana Implikasi bagi Suzuki dan Konsumen Perubahan logo Suzuki ini membawa sejumlah dampak yang signifikan, baik bagi perusahaan maupun konsumennya.  Dari sisi internal, Suzuki kini tampil dengan identitas merek yang lebih segar dan relevan untuk bersaing di pasar global yang terus berubah. Logo baru dengan desain flat memberi kesan modern dan mudah beradaptasi di berbagai platform digital, ya! Mulai dari aplikasi, website, hingga media sosial. Sehingga meningkatkan konsistensi dan visibilitas merek di era digital. Sementara itu, konsumen di Jepang maupun di pasar internasional akan mulai melihat logo baru ini pada model kendaraan masa depan, berbagai platform digital, serta materi promosi Suzuki di seluruh dunia.  Dari sisi produksi dan pemasaran, pembaruan logo juga membawa implikasi teknis berupa penyesuaian dalam rantai pasok, proses manufaktur, hingga pengalaman merek di lapangan. Seperti tampilan showroom, dokumen resmi, hingga identitas visual kendaraan yang digunakan. Dengan perubahan ini, Suzuki tidak hanya memperbarui tampilan, tetapi juga memperkuat komitmennya untuk tetap relevan dan adaptif di tengah perkembangan industri otomotif global. Kesimpulan Perubahan logo Suzuki pada tahun 2025 adalah langkah strategis yang menggabungkan modernitas, digitalisasi, dan keberlanjutan.  Dengan mempertahankan identitas “S” yang ikonik namun mengadopsi desain flat dan warna perak yang lebih ramah lingkungan, Suzuki menegaskan arah baru: hadir “By Your Side” bagi pelanggan di era mobilitas yang terus berubah.

SELENGKAPNYA
Viral Sidak Dedi Mulyadi, AQUA Klarifikasi Soal Sumber Air

Viral Sidak Dedi Mulyadi, AQUA Klarifikasi Soal Sumber Air

Menjadi Pengaruh – Sebuah kunjungan mendadak oleh Dedi Mulyadi ke pabrik AQUA di Subang pekan lalu menjadi sorotan setelah ditemukan fakta bahwa sumber air yang selama ini diklaim “mata air pegunungan” ternyata berasal dari pengeboran dalam.  Dalam video inspeksi itu, staf pabrik menyampaikan: “Ambil airnya dari bawah tanah, Pak.”  Dedi kemudian menanggapi dengan kritis: “Ini di-bor airnya? Gak akan ngefek pada pergeseran tanah?” Temuan ini memicu kekhawatiran publik terkait kredibilitas label air pegunungan dan potensi dampak lingkungan yang menyertai aktivitas pengambilan air dalam. Menanggapi kehebohan tersebut, Danone Indonesia selaku produsen AQUA menyampaikan klarifikasi resmi bahwa sumber air mereka berasal dari akuifer dalam yang terlindungi dan bukan dari sumur bor sembarangan.  Dalam pernyataannya: “Sumber air kami berasal dari 19 lokasi pegunungan di Indonesia dan diambil dari akuifer dalam yang kedalamannya antara 60 hingga 140 meter.”  Pihak perusahaan menegaskan bahwa pengambilan air telah melalui kajian ilmiah, mempunyai izin resmi dari instansi terkait, dan dioperasikan dengan sistem otomatis tanpa kontak manusia langsung.  Reaksi Publik dan Kekhawatiran Lingkungan Viralnya video inspeksi tersebut menimbulkan reaksi beragam di media sosial.  Sebagian masyarakat mempertanyakan keaslian klaim “air pegunungan”, sementara yang lain menyoroti dampak lingkungan akibat eksploitasi air tanah dalam. Pertanyaan Dedi Mulyadi tentang potensi “pergeseran tanah” mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap resiko ekologis di sekitar area pengambilan air. Sejumlah pakar hidrogeologi menilai bahwa penggunaan akuifer dalam memang umum dilakukan industri air minum. Namun tetap harus disertai studi keberlanjutan, pemantauan debit air, dan audit lingkungan berkala untuk memastikan ekosistem tidak terganggu. Kepercayaan Konsumen dan Reputasi Brand Kasus ini menjadi ujian besar bagi AQUA sebagai salah satu merek air minum paling dikenal di Indonesia.  Selama puluhan tahun, citra “air pegunungan murni” menjadi kekuatan utama brand ini.  Namun setelah video inspeksi Dedi Mulyadi viral, muncul keraguan di sebagian masyarakat terhadap keaslian klaim tersebut. Beberapa pengguna media sosial menyuarakan kekhawatiran bahwa praktik pengeboran air tanah bisa bertentangan dengan citra alami yang selama ini dikampanyekan AQUA.  Di sisi lain, sebagian konsumen tetap memberikan dukungan dengan alasan merek tersebut telah terbukti menjaga standar kualitas air dan memiliki izin resmi.

SELENGKAPNYA
Ekonomi Melambat, Purbaya Ingatkan Potensi Gelombang Unjuk Rasa

Ekonomi Melambat, Purbaya Ingatkan Potensi Gelombang Unjuk Rasa

Menjadi Pengaruh — Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah (TPID) yang digelar di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, pada Senin, 20 Oktober 2025, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan arahan kepada para kepala daerah se-Indonesia. Arahan ini mengenai pentingnya pengendalian harga, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Di kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa apabila pertumbuhan ekonomi lambat dan tidak merata, maka risiko timbulnya ketidakpuasan publik hingga aksi demonstrasi menjadi nyata. Purbaya memaparkan bahwa secara makro kondisi ekonomi nasional masih tergolong relatif stabil. Ia menyebut bahwa inflasi, daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran “masih relatif terjaga”. “Kalau kita lihat 25 provinsi sudah berada dalam rentang target nasional, artinya pengendalian di daerah berjalan cukup baik,” ujar Purbaya. Meskipun demikian, Purbaya mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat pihak pemerintah merasa nyaman. “Tugas kita sekarang bukan hanya menahan inflasi tetap rendah tapi juga menjaga stabilitas harga dan pasokan secara berkelanjutan,” lanjutnya. Peringatan atas Pertumbuhan yang Tidak Merata Meski indikator makro terpantau dalam koridor yang terkendali, Purbaya menyoroti bahwa pertumbuhan yang lambat dan tidak merata antar daerah dapat menimbulkan dampak serius bagi kestabilan sosial politik.  Ia menegaskan bahwa distribusi pertumbuhan yang timpang cenderung memunculkan rasa ketidakadilan di antara masyarakat, yang pada gilirannya bisa berujung pada aksi protes atau demonstrasi. Purbaya mencontohkan bahwa salah satu kunci untuk menjaga kestabilan adalah pengendalian harga bahan pokok, terutama beras. “Inflasi itu bisa menjaga stabilitas sosial politik … salah satu rahasia kenapa Pak Harto itu bisa bertahan 32 tahun adalah beliau bisa menjaga stabilitas harga, beras utamanya, yang lain akan ikut harga beras,” ujar Purbaya. Dengan analogi tersebut, Purbaya menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga stabilitas ekonomi mikro dan makro. Mulai dari mengontrol pasokan bahan pokok, memastikan distribusi berjalan lancar, hingga menjaga daya beli masyarakat. Implikasi bagi Pemerintah Daerah Dalam arahannya kepada kepala daerah, Purbaya menyampaikan beberapa pesan kunci: 1. Pengendalian inflasi daerah Mengingat dari 38 provinsi, baru 25 yang tekanan inflasinya berada dalam rentang target nasional.  2. Daya beli dan pemerataan pertumbuhan  Pertumbuhan yang hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu dan tidak menjangkau seluruh lapisan masyarakat berisiko menimbulkan kerawanan sosial. 3. Sinergi antar instansi  Perlu kerja sama antara Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar kebijakan pengendalian inflasi berjalan terukur dan tepat sasaran. 4. Stabilitas sebagai modal politik  Purbaya bahkan menyebut bahwa bagi kepala daerah yang mampu menjaga inflasi dan stabilitas harga, peluang untuk terpilih kembali di pilkada bisa meningkat. Kenapa Waspada Sekarang? Peringatan Purbaya muncul di saat berbagai faktor eksternal dan domestik sedang membayangi, seperti pelemahan permintaan global, ketidakpastian komoditas, serta tantangan logistik dan distribusi di daerah.  Kombinasi tersebut bisa menghambat pertumbuhan dan memperlebar disparitas antar wilayah yang menurut Purbaya harus segera diantisipasi agar stabilitas sosial-politik terjaga.

SELENGKAPNYA
Asal Mula Pasta Gigi Disebut “Odol”: Bedah Bisnis Branding Kuat

Asal Mula Pasta Gigi Disebut “Odol”: Bedah Bisnis Branding

Istilah “odol” yang saat ini lazim digunakan di Indonesia untuk menyebut pasta gigi ternyata punya akar sejarah yang menarik.  Produk pertama yang nama “Odol” ini diluncurkan bukan sebagai pasta gigi, melainkan sebagai obat bilas mulut (mouth-wash) di Jerman oleh Karl August Lingner pada tahun 1892.  Lingner bekerja sama dengan kimiawan Bruno Richard Seifert (1861-1919) yang merancang preparat antiseptik dan campuran minyak esensial untuk perawatan mulut, yang kemudian dipasarkan dengan nama “Odol”.  Merek “Odol” terdaftar secara resmi sebagai “Zahn- und Mund-Reinigungs-Mittel” (agen pembersih gigi dan mulut) di Jerman pada 5 Maret 1895. Seiring waktu, “Odol” bukan hanya produk mulut di Jerman, tetapi juga diproduksi di lebih dari 20 negara pada akhir 1930-an. Perjalanan Odol ke Indonesia & Evolusi Pemakaian Kata Pada masa Hindia Belanda, produk Odol merupakan salah satu barang konsumsi modern yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan kolonial.  Produk ini awalnya berasal dari Jerman, dikembangkan oleh Karl August Lingner melalui Dresdner Chemische Laboratorium Lingner sekitar akhir abad ke-19.  Awalnya, Odol bukan pasta gigi, melainkan cairan pembersih mulut (mouthwash) antiseptik yang kemudian dikembangkan menjadi pasta gigi berkemasan pada awal 1900-an.  Popularitasnya dengan cepat meluas ke berbagai negara Eropa hingga ke koloni Belanda di Asia, termasuk Hindia Belanda. Melalui distribusi yang dilakukan oleh para pedagang Eropa di Batavia, Surabaya, dan Semarang, Odol diperkenalkan kepada masyarakat sebagai produk kebersihan bergaya modern.  Iklan-iklan di surat kabar kolonial seperti Bataviasch Nieuwsblad sekitar tahun 1890-an bahkan mencantumkan merek Odol sebagai salah satu “tandpasta” atau pasta gigi impor yang paling banyak dicari.  Di kalangan warga Belanda dan pribumi terdidik, penggunaan Odol menjadi simbol modernitas dan kemajuan, menggantikan kebiasaan lama membersihkan gigi dengan bahan alami seperti arang, batu bata halus, atau campuran pinang dan kapur sirih. Dalam konteks bahasa, fenomena menarik terjadi. Istilah Belanda “tandpasta” berarti “pasta gigi” (tand = gigi, pasta = pasta). Ini dianggap sulit diucapkan oleh masyarakat lokal yang belum terbiasa dengan pelafalan bahasa Belanda.  Sebaliknya, penyebutan nama merek Odol jauh lebih sederhana, mudah diingat, dan praktis digunakan dalam percakapan sehari-hari.  Akibatnya, masyarakat mulai menggunakan kata Odol untuk menyebut pasta gigi secara umum, tanpa memperhatikan mereknya. Seiring berjalannya waktu, meskipun merek Odol asli mulai menghilang dari pasaran dan digantikan oleh merek-merek global seperti Pepsodent, Colgate, atau Close-Up, istilah “Odol” tetap hidup di masyarakat Indonesia sebagai nama generik untuk pasta gigi.  Fenomena ini dalam kajian bahasa disebut sebagai generikasi merek (genericide), yakni ketika nama suatu merek yang sangat dominan di pasaran berubah menjadi sebutan umum untuk seluruh kategori produk. “Odol” Jadi Nama Generik: Fenomena Bahasa dan Branding Fenomena ketika sebuah merek berubah menjadi istilah umum untuk seluruh kategori produk dikenal dengan istilah generikasi merek (brand genericization).  Ini terjadi ketika merek dagang tertentu begitu populer dan mendominasi pasar sehingga masyarakat mulai menggunakan nama merek itu untuk menyebut semua produk sejenis. Contoh fenomena serupa bisa ditemukan di berbagai negara.  Di Amerika Serikat, kata “Xerox” sering digunakan untuk menyebut kegiatan memfotokopi, meskipun mesin yang digunakan bukan keluaran merek Xerox.  Di Indonesia, istilah “Aqua” digunakan secara luas untuk menyebut air mineral dalam kemasan, meskipun yang diminum mungkin berasal dari merek lain seperti Le Minerale, Club, atau Cleo.  Begitu pula dengan “Odol”, yang awalnya adalah merek dagang pasta gigi asal Jerman, kini digunakan secara umum untuk menyebut semua jenis pasta gigi, baik merek Pepsodent, Colgate, Close-Up, dan lainnya. Fenomena ini mencerminkan kekuatan branding yang luar biasa. Merek mampu menembus batas produk dan menanamkan diri dalam bahasa sehari-hari. Dalam kasus Odol, keberhasilan branding ini tidak hanya berdampak komersial pada masanya, tetapi juga meninggalkan warisan linguistik yang bertahan lintas generasi. Dalam konteks Indonesia, kata “odol” sudah melampaui fungsi asalnya sebagai nama produk kebersihan mulut.  Pelajaran Branding dari Kasus “Odol” Keberhasilan “Odol” yang bertransformasi dari sekadar merek dagang menjadi istilah umum dalam bahasa Indonesia menawarkan sejumlah pelajaran penting bagi dunia bisnis dan strategi pemasaran modern.  Kasus ini menunjukkan bagaimana kekuatan merek tidak hanya diukur dari penjualan, tetapi juga dari jejak budaya dan bahasa yang ditinggalkannya. 1. Konsistensi dan Diferensiasi “Odol” menjadi sinonim dari pasta gigi karena pada masanya merupakan pemain pertama (first mover) yang hadir secara luas di pasar Hindia Belanda.  Nah, ketika belum banyak kompetitor, Odol mampu menanamkan asosiasi kuat antara produknya dan kategori produk secara keseluruhan. 2. Penyebaran Melalui Bahasa Adaptasi linguistik lokal dapat menjadi kunci dalam memperluas jangkauan merek.  Merek yang mudah disebut dan diterima oleh masyarakat lintas budaya berpeluang membangun awareness tanpa harus bergantung sepenuhnya pada iklan atau media formal. 3. Nilai Emosional dan Nostalgia Walaupun produk “Odol” sudah tidak beredar, kata tersebut tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.  Istilah ini menghadirkan nuansa nostalgia dan keakraban, mengingatkan pada masa-masa awal modernisasi gaya hidup masyarakat. Bagi pelaku usaha, hal ini menunjukkan pentingnya emosional branding, ya! Kesimpulan Dari produk bilas mulut Jerman di abad ke-19 hingga menjadi istilah sehari-hari di Indonesia, “Odol” adalah bukti nyata betapa kuatnya pengaruh sebuah merek dalam membentuk budaya. Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagaimana brand awareness bisa berubah menjadi warisan bahasa dan peluang bisnis jangka panjang, ya!

SELENGKAPNYA