Daftar Isi

Perusahaan yang Bikin Musuh Sendiri: Strategi Avoskin, Lacoco, dan Looké

Perusahaan yang Bikin Musuh Sendiri: Strategi Avoskin, Lacoco, dan Looké

Pernah kepikiran nggak, kenapa ada brand yang sengaja bikin pesaingnya sendiri? Seolah-olah mereka sedang berkompetisi, padahal uangnya tetap berputar di lingkar yang sama.

Contohnya Avoskin, Lacoco, dan Looké Cosmetics.

Tiga nama besar di dunia kecantikan lokal yang sering muncul di linimasa media sosial dengan gaya komunikasi berbeda. 

Tapi siapa sangka, ketiganya sebenarnya berada di bawah satu payung besar: PT AVO Innovation & Technology, perusahaan asal Yogyakarta yang kini jadi salah satu pionir industri kecantikan Indonesia.

Sekilas, langkah ini tampak berisiko. Kenapa perusahaan mau repot-repot membuat brand yang saling bersaing?

Namun, justru di situlah letak kecerdasannya: Mereka bukan saling menjatuhkan, melainkan saling menopang.

Satu Induk, Tiga Kepribadian

Kalau kamu perhatikan, ketiga brand ini punya karakteristik dan persona yang sangat berbeda.

Meski sama-sama bermain di kategori kecantikan, masing-masing punya “bahasa” dan target yang unik.

BrandFokus UtamaKarakterTarget Pasar
AvoskinSkincare alami & inovatifFresh, edukatif, sustainableSegmen menengah
LacocoPremium skincare berbahan alamiElegan, feminin, eksklusifSegmen menengah ke atas
Looké CosmeticsMakeup vegan & cruelty-freeModern, bebas berekspresiGenerasi muda & profesional urban

Data dari situs resmi AVO Innovation & Technology menunjukkan bahwa Avoskin diluncurkan pertama kali pada 2014 dan menjadi fondasi awal perusahaan. 

Setelah sukses membangun basis konsumen skincare, AVO memperluas sayapnya dengan menghadirkan Looké Cosmetics pada 2017 dan Lacoco En Nature pada 2018.

Setiap brand memiliki tim, tone komunikasi, hingga gaya visual tersendiri.

Avoskin tampil minimalis dan lembut, Lacoco membawa aura luxury, sementara Looké punya vibe aktif dan ekspresif ala generasi Z.

Dengan begitu, AVO berhasil menempatkan dirinya di tiga segmen pasar berbeda, tanpa satu pun mereknya saling menabrak.

Baca juga  Kenapa Indomaret dan Alfamart Berdekatan? Alasannya Marketing

Strategi Multi-Brand Positioning PT Avo Innovation & Technology

Dalam dunia bisnis, strategi seperti ini disebut multi-brand positioning.

Pendekatan di mana satu perusahaan memasarkan beberapa merek dengan identitas berbeda, untuk menjangkau segmen pasar yang beragam.

Biasanya, strategi ini digunakan oleh perusahaan raksasa seperti Unilever atau L’Oréal.

Namun di Indonesia, PT AVO Innovation & Technology adalah salah satu contoh lokal yang berhasil menerapkannya dengan sangat efektif.

Kenapa langkah ini dianggap jenius?

Karena pasar tidak pernah homogen. Setiap konsumen punya gaya hidup, tingkat pendapatan, dan nilai personal yang berbeda.

Dengan membuat “brand saingan” sendiri, perusahaan bisa:

– Mengontrol dinamika persaingan, karena lawan yang dihadapi masih di bawah manajemen yang sama.

– Mengurangi risiko kehilangan pasar, jika satu brand turun pamor, brand lain tetap bisa menjaga arus pendapatan.

– Menyesuaikan strategi komunikasi, tanpa harus mengubah positioning merek utama.

Dalam istilah marketing, ini disebut “own the shelf, own the mind”.

Ketika satu grup perusahaan berhasil menguasai seluruh pilihan yang muncul di benak konsumen.

Keuntungan Strategi Multi-Brand Positioning untuk Perusahaan

Langkah multi-brand positioning bukan sekadar gaya bisnis, tapi strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi perusahaan.

Berikut empat manfaat nyata yang bisa dirasakan perusahaan seperti AVO:

1. Menjangkau lebih banyak segmen pasar.
Dari remaja hingga wanita karier, dari konsumen hemat hingga pecinta produk premium, semuanya tetap masuk ke ekosistem AVO.

2. Mencegah kejenuhan merek (brand fatigue).
Konsumen tidak bosan melihat nama yang sama terus-menerus. Mereka bisa berpindah ke brand “lain” yang sebenarnya masih satu grup.

3. Membangun ekosistem bisnis yang kuat.
Penelitian bahan aktif, pabrik, tim kreatif, hingga channel distribusi bisa digunakan lintas brand sehingga efisien secara operasional.

Baca juga  Wow! 5 Strategi J.CO Jadi Brand Donat Lokal yang Mendunia

4. Mengontrol persaingan di pasar.
Ketika brand-brand lain masih berebut konsumen, AVO sudah punya “kompetitor internal” yang tidak mungkin benar-benar saling menjatuhkan.

Risiko dan Tantangan di Balik Strategi Multi-Brand

Tentu, strategi ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Mengelola banyak brand dalam satu payung bisa menimbulkan beberapa tantangan, antara lain:

– Kebingungan konsumen, jika diferensiasi antarbrand tidak dibuat cukup jelas.

– Kebutuhan sumber daya yang besar, karena setiap brand butuh tim marketing dan riset sendiri.

– Risiko reputasi terhubung, ketika satu brand mengalami krisis atau isu publik yang bisa ikut menimpa brand saudara lainnya.

– Persaingan harga internal, yang berpotensi menurunkan margin jika tidak diatur dengan cermat.

Namun, sejauh ini AVO berhasil mengelola semua risiko tersebut dengan solid.

Mereka menjaga agar setiap brand punya identitas yang kuat dan tetap relevan bagi target konsumennya masing-masing.

Dampak Nyata untuk Ekosistem Kecantikan Lokal

Strategi multi-brand ini tidak hanya menguntungkan AVO sebagai perusahaan, tapi juga berdampak pada industri kecantikan Indonesia.

Melalui tiga brand tersebut, AVO membuka lapangan kerja baru di bidang riset, distribusi, digital marketing, hingga kolaborasi dengan UMKM lokal penyedia bahan baku.

Selain itu, langkah ini mendorong munculnya kompetisi sehat di industri lokal.

Karena brand-brand lain belajar untuk fokus pada diferensiasi produk, bukan hanya perang harga.

Menariknya, banyak konsumen yang baru menyadari bahwa ketiga brand favorit mereka sebenarnya saudara satu induk.

Sebuah bukti bahwa positioning yang dijalankan AVO benar-benar efektif dan tidak tumpang tindih.

Kesimpulan

Kisah Avoskin, Lacoco, dan Looké adalah bukti nyata bahwa dalam dunia bisnis, kompetisi bisa diciptakan dan dikendalikan.

PT AVO Innovation & Technology berhasil menunjukkan bahwa “musuh” tidak selalu berarti ancaman.

Baca juga  Rahasia Sukses Indomie: Strategi Bisnis yang Menjadikannya Raja Mie Instan Global

Kadang, itu hanyalah bagian dari strategi untuk memperluas pengaruh dan menjaga pasar tetap berada di bawah kendali mereka sendiri.

Daftar Isi