Di tengah maraknya coffee shop di berbagai kota, Let It Flow hadir sebagai salah satu brand kopi asal Jember yang berhasil menancapkan identitas uniknya.
Dibangun oleh Fariz Wardana bersama teman-temannya, Let It Flow tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda lewat kombinasi manual brew, es kopi susu, dan artisan pastry.
Artikel ini akan membahas gimana perjalanan Let It Flow dan strategi mereka dalam membangun kolaborasi bisnis, sekaligus cara manage karyawan Gen Z.
Perjalanan Awal dari ‘Titik Balik’ ke ‘Let It Flow’

Cerita Let It Flow berawal pada tahun 2017 ketika Fariz Wardana bersama tiga rekannya mendirikan brand pertama bernama Titik Balik.
Usaha ini dimulai dari sebuah kedai sederhana di pinggiran Jember.
Saat itu, mereka membawa idealisme untuk mengenalkan manual brew di tengah budaya minum kopi yang lebih banyak didominasi tren kopi instan dan josua.
Perjalanan awal tidak mudah. Keterbatasan tempat dan fasilitas membuat Titik Balik sulit berkembang dan kalah bersaing dengan kedai yang lebih besar serta populer di kawasan tersebut.
Meski begitu, pengalaman itu menjadi titik belajar penting.
Fariz tidak berhenti, ia aktif mengikuti berbagai event kopi, mulai dari pameran hingga kompetisi kecil, sekaligus memperluas relasi dengan komunitas di luar kota.
Dari proses itu, Fariz menyadari perlunya langkah baru agar visinya bisa terus berjalan.
Ia kemudian memutuskan pindah lokasi dan merintis brand baru dengan semangat yang lebih terarah.
Dengan membawa visi “Make Manual Brew Great Again”, lahirlah Let It Flow sebagai kelanjutan perjalanan yang lebih matang.
Sebuah usaha yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga berupaya memperkenalkan kembali manual brew pada masyarakat luas.
Kenapa Membuka Coffee Shop Lagi dengan Let It Flow?
Saat kopi semakin menjadi tren dengan banyaknya coffee shop di Jember, Fariz menyadari bahwa kompetisi tidak bisa dihindari.
Baginya, kehadiran kompetitor bukan ancaman, melainkan tantangan untuk terus mengasah konsistensi.
“Tujuan kita simpel, gimana produk yang kita maknai sebagai karya seni, itu bisa diterima oleh khalayak umum,” ujarnya pada Menjadi Pengaruh.
Dari pemikiran itu lahirlah Let It Flow, sebuah usaha yang berangkat dari harapan Fariz sejak lama: Memiliki slow bar yang berfokus pada manual brew dan dipadukan dengan pilihan artisan cake.
Inspirasi ini ia dapatkan dari kota-kota besar yang sudah lebih dulu mengadopsi konsep slow bar, lalu mencoba membawanya ke Jember sebagai alternatif baru bagi penikmat kopi.
Seiring berjalannya waktu, project kolaborasi antar brand juga mulai terjadi di Let It Flow.
Unique Selling Point Let It Flow: Artisan Pastry x Es Kopi Susu
Let It Flow menemukan keunikan melalui kolaborasi brand dengan menghadirkan artisan pastry yang dipadukan dengan es kopi susu.
Kombinasi ini kemudian menjadi USP (Unique Selling Point) mereka.
Pemilihan es kopi susu bukan tanpa alasan.
Produk ini relatif mudah diterima pasar, dan bisa dikatakan sebagai “jantungnya coffee shop” karena mampu menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Dengan begitu, Let It Flow tetap bisa relevan dengan selera umum tanpa meninggalkan idealisme awal.
Sementara itu, manual brew tetap dipertahankan sebagai segmen khusus.
Fariz melihatnya bukan sekadar minuman, tetapi bagian dari nilai seni yang ingin terus diperkenalkan.
Kehadiran manual brew menjadikan Let It Flow berbeda, karena tetap memberi ruang bagi penikmat kopi untuk merasakan pengalaman yang lebih mendalam.
Kombinasi ini membuat Let It Flow punya ciri khas tersendiri di tengah ramainya persaingan coffee shop, sekaligus memberi pengalaman berbeda bagi pelanggan.
Mengelola Tim Gen Z di Industri Coffee Shop ala Let It Flow
Mayoritas tim yang bekerja di Let It Flow berasal dari generasi Z. Bagi Fariz, hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri.
Generasi muda dikenal penuh energi, kreatif, dan cepat beradaptasi dengan tren, tetapi di sisi lain juga membutuhkan pendekatan manajemen yang berbeda dari pola konvensional.
Alih-alih menerapkan ketegasan berlebihan, Fariz memilih pendekatan emosional dalam mengelola SDM.
Ia lebih banyak membuka ruang dialog personal dengan setiap anggota tim.
Dengan cara ini, ia bisa memahami akar masalah yang dihadapi karyawan, kemudian bersama-sama mencari solusi.
Pendekatan tersebut membuat komunikasi terasa lebih setara dan mendorong keterlibatan tim dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Tentu saja, tantangan tetap ada.
Tidak semua anggota tim langsung menerima metode ini, sebagian masih terbiasa dengan pola instruksi yang lebih tegas.
Namun seiring waktu, komunikasi personal terbukti menjadi cara paling efektif untuk menjaga harmonisasi tim di Let It Flow.
Hasilnya, lingkungan kerja terasa lebih nyaman, kolaboratif, dan mendorong setiap individu untuk berkembang sesuai perannya.
Management Bisnis dengan Teman di Let It Flow
Membangun bisnis bersama teman adalah pengalaman yang sudah dijalani Fariz sejak awal.
Menurutnya, ada sisi positif karena partner bisa berbagi ide, solusi, serta tanggung jawab.
Kehadiran rekan bisnis juga membuat perjalanan tidak terasa sendirian.
Namun, di balik peluang itu, risiko tetap ada. Terutama jika tidak ada kejelasan peran maupun kesepakatan sejak awal.
Untuk meminimalkan potensi konflik, Fariz menekankan pentingnya memiliki MoU (Memorandum of Understanding) yang jelas.
Dokumen ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi pegangan bersama terkait pembagian tugas, pembagian hasil, hingga visi-misi yang disepakati sejak awal.
Dengan begitu, setiap pihak memiliki dasar yang sama dalam melangkah.
Hal yang juga tak kalah penting adalah manajemen keuangan.
Karena Let It Flow dimiliki lebih dari satu orang, pembagian divisi keuangan dilakukan secara profesional.
Tips Bisnis bareng Teman ala Let It Flow
Meskipun bisnis bersama teman, tentu kita gak boleh lengah. Karena banyak orang terlibat akan menimbulkan resiko yang gak kalah besar.
Fariz telah membocorkan tips agar sukses bisnis bareng teman. Apa aja?
- Buat kesepakatan tertulis sejak awal
Minimal berupa MoU yang mencakup modal, porsi kepemilikan, dan pembagian peran.
- Samakan visi dan ekspektasi
Pastikan semua partner memahami arah jangka panjang bisnis, bukan hanya tujuan jangka pendek.
- Pisahkan urusan pribadi dan bisnis
Komunikasi terbuka penting, tapi jangan mencampur masalah personal ke dalam keputusan bisnis.
- Kelola keuangan secara transparan
Gunakan sistem pencatatan, aplikasi akuntansi, atau punya divisi sendiri untuk atur keuangan agar setiap pihak bisa memantau arus kas.
- Evaluasi rutin bersama partner
Sediakan waktu untuk meninjau ulang perjanjian, strategi, dan kondisi bisnis agar semua pihak tetap berada di jalur yang sama.
Dengan cara ini, membangun bisnis bersama teman bisa menjadi peluang yang sehat, produktif, dan minim konflik, seperti yang diupayakan Let It Flow, ya!
Visi Let It Flow: Lebih dari Sekadar Coffee Shop
Bagi Fariz, Let It Flow tidak hanya hadir sebagai tempat untuk menikmati kopi.
Sejak awal, ia memiliki visi agar brand ini bisa menjadi ruang yang lebih luas: Tempat bertemunya ide, karya, dan komunitas.
Ia melihat potensi kedai kopi bukan hanya sebagai bisnis kuliner, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi bagi pelaku industri kreatif.
Melalui positioning tersebut, Let It Flow membuka diri untuk berbagai kegiatan, mulai dari musik, seni rupa, hingga diskusi budaya.
Jadi tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pengalaman yang berhubungan langsung dengan kehidupan kreatif masyarakat Jember.
Dengan menggabungkan kopi, pastry, dan aktivitas seni, Let It Flow ingin menghadirkan ekosistem yang sehat bagi generasi muda untuk berkarya dan saling terhubung.





