
Gramedia Jalma: Strategi Toko Buku Bertahan di Era Digital
Kamu mungkin sudah lama tidak menginjakkan kaki ke toko buku. Dan kamu bukan satu-satunya. Tren ini terjadi secara luas di Indonesia, dan industri buku sudah merasakannya sejak lama. Toko buku Gunung Agung, salah satu perintis toko buku ritel yang sudah berdiri sejak 1953, resmi menutup semua gerainya pada akhir 2023 setelah bertahun-tahun menanggung kerugian operasional. Books and Beyond menyusul di tahun yang sama. Ini bukan sekadar cerita satu atau dua toko tutup, tapi tanda bahwa model bisnis toko buku konvensional memang sedang di persimpangan jalan. Pertanyaannya: Bagaimana Gramedia, sebagai toko buku terbesar masih bertahan? Kenapa Toko Buku Makin Sepi? Sebelum membahas strategi Gramedia, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di industri buku Indonesia. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), penjualan buku cetak di Indonesia sudah menurun sejak sekitar tahun 2010. Pandemi Covid-19 kemudian mempercepat penurunan itu secara drastis. Riset IKAPI pada 2020 mencatat bahwa sekitar 58% penerbit melaporkan penurunan penjualan lebih dari 50% akibat pandemi. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utamanya: a. Pergeseran ke buku digital dan e-book. Menurut pakar pemasaran dari Universitas Indonesia, Sri Rahayu Hijrah Hati, pergeseran konsumen ke format digital sudah signifikan. Kemudahan membaca lewat perangkat elektronik membuat permintaan buku fisik terus tergerus. Namun ironisnya, penjualan buku digital di Indonesia hingga 2020 masih kurang dari 10 persen dari total penjualan. Artinya, penurunan buku cetak belum terkompensasi oleh pertumbuhan buku digital. b. Maraknya buku bajakan di marketplace. Direktur Buku Mojok, Aditia Purnomo, menyebut penindakan terhadap penjual buku bajakan masih sangat terbatas. Padahal, dampaknya nyata terhadap penerbit dan toko buku resmi. c. Gadget dan media sosial menggeser waktu membaca. Generasi muda menghabiskan lebih banyak waktu di smartphone untuk mengakses media sosial dan platform hiburan digital. Kondisi ini berkontribusi langsung pada penurunan minat membaca buku untuk hiburan. d. Rendahnya kebiasaan membaca buku secara konsisten. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Survei Perpustakaan Nasional pada 2022 juga mengungkapkan bahwa hanya 20% pelajar yang membaca buku secara rutin, dengan mayoritas lebih memilih media sosial atau menonton video. Kondisi ini membuat model bisnis toko buku yang hanya mengandalkan penjualan buku menjadi sangat rentan. Bagaimana Gramedia Tetap Bertahan? Gramedia tidak tinggal diam. Salah satu langkah adaptasi yang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir adalah menggeser peran toko dari sekadar tempat membeli buku menjadi sebuah destination store. Buku tetap menjadi inti, tapi ruang toko kini dilengkapi dengan produk lifestyle, alat tulis premium, mainan, hingga area duduk dan interaksi. Menurut IKAPI, beberapa gerai toko buku besar bahkan sudah mengalokasikan hanya 50 persen ruang untuk buku, sisanya untuk produk non-buku. Ada juga yang mengalokasikan hanya 20 sampai 30 persen saja untuk buku. Strategi ini bertujuan agar orang datang bukan hanya untuk membeli, tapi juga untuk menjelajahi pengalaman. Dengan begitu, ada alasan baru bagi orang untuk terus datang ke toko fisik meskipun kebiasaan membaca berubah. Gramedia Jalma: Eksperimen Ruang Ketiga Langkah paling nyata dari strategi adaptasi Gramedia adalah lahirnya Gramedia Jalma di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Gramedia Melawai, yang sempat rehat dari pandangan publik, hadir kembali dengan wajah sepenuhnya baru pada pertengahan 2025 dengan nama Gramedia Jalma. Peresmiannya bertema Where Books, Blok M, and Culture Meet pada Juli 2025, dihadiri penulis lokal, penerbit, dan berbagai mitra. Nama “Jalma” diambil dari bahasa Sunda yang berarti manusia. Artinya adalah cerminan dari konsep yang diusung: ruang yang mengutamakan koneksi antarindividu, bukan hanya transaksi jual-beli buku. Gramedia Jalma dirancang sebagai third space, ruang ketiga setelah rumah dan tempat kerja. Di sini kamu bisa membaca santai, nongkrong, diskusi komunitas, kerja dari kafe (WFC), atau sekadar menikmati suasana yang cozy. Ada sekitar 10 area duduk yang masing-masing menampung setidaknya empat orang, mulai dari sofa empuk, reading pod semi-privat, hingga meja panjang bergaya co-working space lengkap dengan colokan. Desain interiornya dirancang oleh arsitek Jacob Gatot Sura dari firma Arcadia Architects. Jacob menjelaskan bahwa konsep Jalma sengaja dibuat lebih feminin dan ringan dibandingkan Gramedia Makarya di Jakarta Timur yang berkesan lebih maskulin dan gelap. Tujuannya menciptakan suasana perpustakaan yang lebih hangat dan tidak intimidatif, sesuai dengan tren anak muda yang memang senang menghabiskan waktu di perpustakaan kekinian. Di bagian depan toko, terdapat Kedai Kopi Aloo yang terintegrasi langsung dengan ruang buku. Pengunjung bisa datang hanya untuk ngopi, mengerjakan tugas, atau sekadar duduk sambil membaca buku yang boleh dibuka langsung di tempat tanpa harus membeli dulu. Manajer Departemen Fiksi dan Buku Anak Gramedia Pustaka Utama, Nina Andiana, menyebut Jalma berhasil menjadi melting pot bagi anak-anak muda di sekitar kawasan Blok M sejak baru sebulan dibuka. Apakah Strategi Ini Cukup? Gramedia Jalma adalah eksperimen yang menarik dan relevan. Konsep third space terbukti bekerja di berbagai konteks, dari kafe independen hingga perpustakaan umum yang direvitalisasi. Yang membedakan Gramedia Jalma dari sekadar toko buku yang diperindah adalah pendekatannya yang berpusat pada komunitas. Buku dijadikan titik temu, bukan sekadar produk yang dijual. Ketika seseorang datang untuk nongkrong lalu pulang sambil membawa buku, itu adalah konversi yang jauh lebih organik dibandingkan pengunjung yang datang dengan niat membeli tapi pulang dengan tangan kosong. Namun, satu gerai di Blok M tentu belum bisa menjadi tolok ukur tunggal keberhasilan strategi ini. Gramedia sendiri mengakui bahwa Jalma adalah eksperimen, dengan harapan konsep serupa bisa diadopsi di gerai-gerai lain dengan penyesuaian terhadap karakteristik masing-masing kawasan. Tantangan terbesar tetap sama: bagaimana membuat orang Indonesia, yang secara statistik hanya 10% yang rajin membaca buku, mau datang ke toko buku dengan frekuensi yang cukup untuk menopang bisnis secara berkelanjutan. Gramedia Jalma memberi jawaban bahwa caranya bukan dengan memaksa orang membeli buku, tapi dengan membuat orang merasa nyaman berada di tempat yang penuh buku. Kesimpulan Industri toko buku Indonesia memang sedang berada di fase sulit, ditandai dengan tutupnya jaringan besar seperti Toko Buku Gunung Agung dan Books & Beyond. Perubahan perilaku konsumen, pergeseran ke digital, serta rendahnya minat baca membuat model bisnis toko buku konvensional semakin rentan jika hanya mengandalkan penjualan buku semata. Namun Gramedia mencoba menjawab tantangan itu lewat transformasi konsep, termasuk menghadirkan Gramedia Jalma sebagai ruang ketiga yang menggabungkan buku, komunitas, dan pengalaman. Menurut saya, langkah ini adalah bentuk adaptasi yang realistis. Toko buku harus








