Coba kamu perhatikan kebiasaan sehari-hari waktu pesan minuman di kedai kopi atau gerai minuman kekinian. Beberapa tahun lalu, pertanyaan dari kasir biasanya cuma seputar ukuran gelas atau tambahan topping.
Sekarang, hampir semua tempat menyediakan pilihan level gula, mulai dari normal, less sugar, sampai no sugar sama sekali.
Kebiasaan ini bukan kebetulan. Ada pergeseran pola konsumsi yang cukup nyata di kalangan Gen Z dan milenial, dan pergeseran ini membuka peluang besar buat kamu yang lagi mempertimbangkan terjun ke bisnis makanan dan minuman sehat.
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan memang terus meningkat, dan hal ini jadi salah satu pendorong utama kenapa bisnis makanan sehat terus bergeliat.
Industri makanan dan minuman sehat masih menunjukkan arah yang positif, terutama karena semakin banyak orang yang pengin menjalani gaya hidup seimbang dan mencari makanan yang bergizi sekaligus aman dikonsumsi.
Perubahan selera konsumen ini bikin pelaku usaha punya banyak ruang buat berinovasi, meski tentu saja tantangannya tetap ada.
Berikut ulasan soal peluang, cara membangun bisnis yang berhasil, sampai inovasi yang bisa kamu terapkan pada bisnis makanan dan minuman sehat, lengkap dengan data terbaru soal fenomena Gen Z dan milenial yang mulai mengurangi konsumsi gula.
Peluang Bisnis Makanan dan Minuman Sehat
Permintaan terhadap makanan sehat yang tinggi disebabkan oleh kesadaran kesehatan yang makin kuat, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
Semakin banyak kasus penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, seperti obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi, bikin masyarakat lebih memilih makanan yang rendah gula, rendah garam, dan tinggi serat.
Selain itu, perhatian terhadap isu lingkungan turut mendorong konsumen memilih makanan berbahan dasar tumbuhan dan proses produksi yang berkelanjutan, sehingga produk vegan serta plant-based makin banyak diminati.
Kemudahan belanja lewat e-commerce dan layanan antar makanan juga bikin konsumen bisa dapat makanan sehat tanpa harus keluar rumah.
Kondisi ini jadi celah buat pelaku bisnis makanan sehat untuk menawarkan layanan berlangganan, di mana pelanggan bisa menerima makanan sehat yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi mereka setiap harinya.
Kekhawatiran terhadap konsumsi gula berlebih bukan tanpa dasar.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan terjadi peningkatan angka obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas, dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018.
Kondisi ini turut dipengaruhi oleh pola makan yang tidak seimbang. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 28,7 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas yang dianjurkan, sementara 61,27 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari.
Riset dari Kompas juga memperlihatkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sekitar 47,9 juta orang atau 17,6 persen dari total populasi Indonesia mengonsumsi gula melebihi standar harian yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia.
Sehingga bisa dibilang satu dari enam orang Indonesia punya pola makan yang berisiko meningkatkan kemungkinan obesitas dan diabetes.
Data semacam inilah yang perlahan mengubah pola pikir konsumen, khususnya generasi muda, terhadap pilihan minuman sehari-hari mereka.
Menariknya, perubahan itu udah mulai kelihatan dalam angka nyata.
Jakpat, lembaga riset pasar yang rutin melakukan survei terhadap perilaku Gen Z Indonesia, mencatat berdasarkan temuan terbaru mereka, mayoritas Gen Z sudah tidak lagi mengonsumsi minuman manis setiap hari, dengan hanya 3 persen yang masih minum minuman manis lebih dari tiga kali sehari dan 11 persen yang minum dua sampai tiga kali sehari.
Sebagian besar responden sekarang berada di kategori konsumsi sedang sampai rendah. Laporan lengkap survei ini dirilis lewat riset bertajuk Gen Z Characteristics and Behaviors, dan survei tersebut melibatkan 1.155 responden Gen Z di Indonesia yang mencakup berbagai aspek kehidupan.
Mulai dari gaya hidup, kebiasaan konsumsi, kesehatan mental, pendidikan dan karier, sampai keuangan. Kamu bisa lihat laporan asli dari riset ini di situs insight.jakpat.net, jadi data yang dikutip di artikel ini bisa kamu telusuri sendiri kebenarannya.
Pergeseran pola konsumsi gula ini juga kelihatan dari kebiasaan berolahraga dan pemilihan produk.
Sebuah survei bertajuk Tren Makanan dan Minuman pada Gen Z dan Milenial mencatat sekitar 38 persen responden lebih menyukai makanan dengan kadar gula rendah, 19 persen memilih camilan sehat, dan 11 persen memilih makanan atau minuman yang bisa membantu menurunkan berat badan.
Sebagian dokter dan ahli gizi juga menilai perubahan ini sebagai tanda bahwa generasi muda semakin sadar terhadap dampak konsumsi gula ke tubuh mereka, bukan cuma soal berat badan tapi juga soal kulit dan kesehatan jangka panjang.
Meski begitu, kamu perlu paham kalau tren ini bukan berarti minuman manis sepenuhnya ditinggalkan. Teh manis dan kopi tetap jadi minuman favorit di kalangan Gen Z maupun milenial.
Teh manis masih jadi minuman manis paling populer di kalangan Gen Z, dengan 63 persen responden pria dan 71 persen responden wanita mengonsumsinya secara rutin, disusul kopi manis di posisi kedua dengan rata-rata sekitar 53 persen.
Selain itu, kopi menjadi minuman dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia, dengan 67 persen Gen Z dan 74 persen milenial mengonsumsinya, disusul teh di posisi kedua dengan 65 persen Gen Z dan 75 persen milenial.
Yang berubah bukan jenis minumannya, tapi level kemanisannya. Banyak konsumen tetap memilih teh atau kopi sebagai minuman harian, tapi minta porsi gula yang lebih sedikit, pakai pemanis alternatif, atau bahkan pesan versi tanpa gula sama sekali.
Kalau kamu menjalankan usaha kedai kopi, minuman kekinian, atau katering makanan sehat, perubahan kecil semacam ini justru bisa jadi peluang besar kalau ditangkap dengan tepat, misalnya dengan menyediakan opsi pemanis rendah kalori atau default level gula yang lebih ringan.
Tips Menjalankan Bisnis Makanan dan Minuman Sehat
Biar bisnis kamu bisa bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin ramai, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan.
1. Pahami Segmen Pasar dengan Jelas
Kategori makanan sehat sangat beragam, mulai dari diet ketogenik, vegan, bebas gluten, hingga rendah gula.
Karena itu, penting untuk menentukan target pasar sejak awal agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Misalnya, jika menyasar Gen Z yang mulai mengurangi konsumsi gula, sediakan pilihan less sugar atau no sugar sebagai menu standar.
Langkah sederhana ini bisa meningkatkan kepuasan pelanggan karena mereka merasa produk benar-benar dibuat sesuai preferensi mereka.
2. Jaga Transparansi Bahan Baku dan Proses Produksi
Konsumen kini semakin peduli terhadap asal-usul bahan dan proses pembuatan makanan.
Cantumkan informasi yang jelas mengenai kandungan nutrisi, bahan organik, atau sumber bahan baku yang digunakan.
Label seperti tanpa tambahan gula, bebas pengawet, atau organik juga dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk dari kompetitor sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan.
3. Bangun Kolaborasi dengan Figur Tepercaya
Bekerja sama dengan figur publik, ahli gizi, atau profesional di bidang kesehatan dapat meningkatkan kredibilitas bisnis.
Selain membantu memperkenalkan produk kepada audiens yang lebih luas, kolaborasi ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat.
Dengan begitu, produk yang ditawarkan tidak hanya dipandang sebagai makanan atau minuman, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
4. Manfaatkan Teknologi untuk Meningkatkan Layanan
Gunakan platform pemesanan online atau aplikasi digital agar proses pembelian menjadi lebih mudah dan praktis.
Selain memberikan kenyamanan bagi pelanggan, teknologi juga membantu mengumpulkan data mengenai preferensi konsumen, misalnya pilihan kadar gula atau produk yang paling sering dipesan.
Informasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyusun strategi pemasaran, mengelola stok, hingga mengembangkan menu yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Inovasi Produk yang Bisa Diterapkan
Selain memperhatikan tips di atas, kamu juga perlu terus berinovasi biar produk tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.
a. Gunakan Kemasan yang Ramah Lingkungan
Selain memperhatikan kualitas produk, banyak konsumen makanan sehat juga peduli terhadap dampak lingkungan.
Menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang atau mudah terurai dapat meningkatkan citra bisnis di mata pelanggan.
Lengkapi dengan desain kemasan yang menarik agar produk terlihat lebih premium, mudah dikenali, dan memiliki daya saing lebih tinggi di rak toko maupun platform pemesanan online.
b. Kembangkan Produk Kopi yang Lebih Fungsional
Kopi masih menjadi minuman favorit banyak orang, tetapi kini konsumen mulai mencari manfaat lebih dari sekadar rasa.
Kamu bisa menghadirkan inovasi seperti mushroom coffee, kopi dengan kolagen, atau kopi yang mengandung adaptogen.
Selain itu, sediakan pilihan sirup rendah kalori atau pemanis alami sebagai alternatif gula putih untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang lebih memilih minuman less sugar atau no sugar.
c. Hadirkan Produk Fermentasi dan Probiotik
Tren makanan sehat juga mendorong meningkatnya minat terhadap produk yang baik untuk kesehatan pencernaan.
Minuman dan makanan seperti kombucha, kefir, serta yoghurt dengan kultur hidup semakin diminati karena dipercaya membantu menjaga kesehatan usus dan sistem imun.
Agar lebih menarik, kamu bisa menghadirkan varian rasa yang unik atau memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai nilai tambah produk.
d. Ciptakan Makanan Siap Saji Berbasis Nabati
Konsumen modern menginginkan makanan yang praktis tetapi tetap sehat. Karena itu, makanan siap saji berbahan dasar tumbuhan menjadi salah satu peluang yang menjanjikan.
Produk seperti burger nabati, nugget nabati, atau rendang berbahan tempe dapat menjadi alternatif yang lebih rendah lemak, ramah lingkungan, sekaligus tetap memiliki cita rasa yang familiar.
Perubahan Kebiasaan Gen Z dan Milenial
Perubahan kebiasaan konsumsi gula pada Gen Z dan milenial ini sebenarnya bukan tren sesaat.
Angka-angka yang tercatat dari berbagai survei menunjukkan pola yang konsisten selama beberapa periode, mulai dari data Riskesdas soal konsumsi gula garam lemak, sampai survei rutin yang dilakukan Jakpat terhadap perilaku Gen Z setiap tahunnya.
Buat kamu yang berencana membangun atau mengembangkan bisnis makanan dan minuman sehat, memahami data ini penting supaya keputusan bisnis yang kamu ambil didasarkan pada fakta, bukan sekadar asumsi atau ikut-ikutan tren.
Kalau kamu mengelola kedai kopi, gerai minuman kekinian, atau usaha katering sehat, ada beberapa langkah praktis yang bisa langsung kamu terapkan.
Kamu bisa mulai dengan menjadikan opsi level gula sebagai pertanyaan standar di setiap pemesanan, bukan cuma permintaan khusus yang jarang ditawarkan. Kamu juga bisa mencantumkan informasi kandungan gula di kemasan atau papan menu, jadi pelanggan bisa bikin pilihan yang lebih sadar.
Selain itu, kamu bisa bereksperimen dengan pemanis alternatif seperti stevia, gula kelapa, atau madu dalam jumlah terukur, sebagai variasi buat pelanggan yang pengin mengurangi asupan gula tanpa kehilangan rasa manis yang mereka suka.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI, “Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak” — https://kemkes.go.id/id/cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula-garam-lemak
- Kementerian Kesehatan RI, “Konsumsi Gula Berlebih, Waspadai Risikonya” — https://kemkes.go.id/id/konsumsi-gula-berlebih-waspadai-risikonya
- Kompas.id, “Obesitas dan Diabetes Intai 1 dari 6 Orang Indonesia” — https://www.kompas.id/artikel/indonesia-dalam-ancaman-obesitas-dan-diabetes
- Jakpat, “Gen Z Mulai Mengurangi Konsumsi Minuman Manis” — https://jakpat.net/info/gen-z-mulai-mengurangi-konsumsi-minuman-manis/
- GoodStats, “Gen Z Characteristics and Behaviors” (laporan asli Jakpat) — https://goodstats.id/publication/gen-z-characteristics-and-behaviors-xL08w dan https://insight.jakpat.net/gen-z-characteristics-and-behaviors/
- Fimela, “30% Gen Z Berfokus pada Gaya Hidup Sehat, Minuman Jus Ini Hadir Tanpa Gula Tambahan” — https://www.fimela.com/health/read/6254748/30-gen-z-berfokus-pada-gaya-hidup-sehat-minuman-jus-ini-hadir-tanpa-gula-tambahan
- 50inovasi.com, “Perilaku Konsumsi Minuman Siap Minum (RTD) di Kalangan Gen Z” — https://www.50inovasi.com/insights/b56fd16e-40dc-4303-acc8-ff876c485c0f
- GoodStats, “Ini Minuman yang Sering Dikonsumsi Gen Z dan Milenial” — https://data.goodstats.id/statistic/ini-minuman-yang-sering-dikonsumsi-gen-z-dan-milenial-2026-3m1im




