Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang membedakan model bisnis franchise dengan kemitraan? Kedua istilah ini sering kali digunakan secara bergantian, tetapi sebenarnya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dari segi legal dan finansial. Artikel ini hadir untuk membantu Anda memahami perbedaan tersebut.
Franchise adalah sebuah model bisnis di mana franchisor (pemberi waralaba) memberikan hak kepada franchisee (penerima waralaba) untuk menjalankan usaha dengan menggunakan merek dagang, sistem operasional, dan dukungan bisnis yang telah teruji. Sementara itu, kemitraan merupakan sebuah bentuk kerja sama bisnis antara dua pihak atau lebih yang menyatukan sumber daya dan keahlian untuk mencapai tujuan bersama. Kemitraan dapat memiliki berbagai macam pola bisnis, tidak sebatas franchise saja.
Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan antara franchise dan kemitraan dari segi legal dan finansial. Dengan memahami perbedaan ini, Anda dapat membuat keputusan yang tepat jika ingin memulai bisnis dengan salah satu model tersebut.
Secara garis besar, artikel ini akan membahas 5 aspek utama yang membedakan franchise dan kemitraan:
- Dasar Hukum: Kita akan melihat regulasi yang mengatur masing-masing model bisnis, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba untuk franchise dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Kemitraan untuk kemitraan.
- Modal: Kita akan membandingkan struktur modal dan biaya yang dibutuhkan, termasuk franchise fee dan royalty fee dalam franchise, serta fleksibilitas modal dalam kemitraan.
- Manajemen: Kita akan menganalisis perbedaan sistem operasional dan pengambilan keputusan dalam kedua model bisnis.
- Sistem Keuntungan: Kita akan membahas bagaimana keuntungan dibagi dalam franchise yang telah ditetapkan sebelumnya dan prinsip bagi hasil dalam kemitraan.
- Merek Dagang: Kita akan melihat perbedaan kepemilikan dan penggunaan merek dagang, di mana franchise menggunakan merek dagang yang sudah dipatenkan, sedangkan kemitraan memiliki kepemilikan merek dagang bersama.
Dengan memahami kelima aspek tersebut, Anda akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan franchise dan kemitraan, serta dapat memilih model bisnis yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan Anda.
Perbedaan Dasar Hukum: Franchise vs Kemitraan
Sebelum memulai bisnis, Anda perlu memahami bahwa setiap jenis perdagangan di Indonesia memiliki regulasi tersendiri. Begitu pula dengan franchise dan kemitraan, keduanya memiliki dasar hukum yang berbeda. Perbedaan dasar hukum ini akan memberikan Anda gambaran tentang bagaimana masing-masing model bisnis tersebut dijalankan dan apa saja kewajiban yang harus dipenuhi.
Di Indonesia, kegiatan franchise atau waralaba diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba (Permendag 71/2019). Peraturan ini mencakup segala ketentuan waralaba, mulai dari pengertian, kriteria, jenis, perjanjian, surat tanda pendaftaran waralaba, pengawasan, sanksi, hingga peralihan waralaba. Sebagai contoh, Pasal 2 ayat (3) Permendag 71/2019 menyebutkan bahwa pemberi franchise wajib sudah menjalankan usahanya selama 5 tahun dan terbukti menghasilkan keuntungan. Ini menunjukkan bahwa tidak sembarang bisnis bisa dijadikan franchise, ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin keberlangsungan dan kesuksesan bisnis tersebut.
Sementara itu, kemitraan diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Kemitraan (UU 20/2008). Undang-undang ini mengatur maksud kemitraan, pola kemitraan, dan pelaksanaannya. Pada dasarnya, franchise merupakan salah satu jenis bisnis yang termasuk dalam pola kemitraan. Namun, bisnis kemitraan belum tentu memiliki pola franchise, karena kemitraan dapat memiliki berbagai macam pola bisnis, tidak terbatas pada franchise saja. Hal ini memberikan fleksibilitas lebih bagi para pihak yang ingin menjalin kemitraan, mereka dapat menentukan sendiri pola bisnis yang sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Perbedaan dasar hukum ini membawa implikasi yang signifikan terhadap operasional bisnis. Misalnya, dalam franchise, franchisee (penerima waralaba) terikat pada aturan yang ditetapkan oleh franchisor (pemberi waralaba) yang mengacu pada Permendag 71/2019. Sementara dalam kemitraan, para pihak memiliki kebebasan lebih dalam menentukan hak dan kewajiban masing-masing, selama tidak bertentangan dengan UU 20/2008. Berikut adalah tabel perbandingan regulasi franchise dan kemitraan untuk memberikan Anda gambaran yang lebih jelas:
| Aspek | Franchise | Kemitraan |
|---|---|---|
| Dasar Hukum | Permendag No 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba | UU No 20 Tahun 2008 tentang Kemitraan |
| Modal | Modal yang dikeluarkan cukup besar karena selain membayar franchise fee di awal, penerima franchise juga wajib membayar royalty fee setiap bulannya | Modal lebih mudah fleksibel karena ditanggung banyak pihak dan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis |
| Manajemen | Penerima franchise tidak perlu membuat alur kerja maupun sistem operasional baru dalam menjalankannya | Manajemen perlu disusun ulang berdasarkan keputusan bersama para mitra |
| Sistem Keuntungan | Sistem pembagian keuntungan sudah ditetapkan dalam perjanjian sebelumnya. Penerima franchise harus membayar keuntungan sejumlah yang ditetapkan kepada pemberi franchise | Sistem keuntungan menerapkan prinsip bagi hasil. Keuntungan yang diterima setiap mitra sesuai keuntungan bisnis dan dibagikan dalam rasio yang sama |
| Merek Dagang | Franchise dari brand besar memiliki merek dagang yang sudah lama dipatenkan sehingga penerima franchise memiliki kewajiban tertentu terkait merek dagang yang digunakan | Kepemilikan merek dagang menjadi milik bersama |
Untuk memperjelas perbedaan regulasi antara franchise dan kemitraan, berikut beberapa contoh kasus:
- Jika Anda ingin membuka gerai kopi dengan merek yang sudah terkenal, seperti Starbucks atau Kopi Kenangan, Anda akan terikat pada peraturan franchise yang ketat, termasuk dalam hal desain gerai, menu, dan operasional. Anda tidak bisa sembarangan mengubah konsep yang sudah ditetapkan oleh franchisor.
- Sebaliknya, jika Anda bermitra dengan teman untuk membuka kedai kopi dengan konsep yang Anda tentukan bersama, Anda memiliki kebebasan lebih dalam menentukan konsep, menu, dan operasional, selama tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Dalam kasus franchise, jika franchisor melanggar ketentuan dalam Permendag 71/2019, misalnya tidak memberikan dukungan yang memadai kepada franchisee, maka franchisee dapat mengajukan gugatan berdasarkan peraturan tersebut.
- Dalam kasus kemitraan, jika salah satu pihak melanggar kesepakatan yang telah dibuat, maka pihak lain dapat mengajukan gugatan berdasarkan UU 20/2008 dan perjanjian kemitraan yang telah disepakati.
Dengan memahami perbedaan dasar hukum ini, Anda dapat menentukan model bisnis yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan Anda. Apakah Anda menginginkan model bisnis yang sudah teruji dengan regulasi yang ketat seperti franchise, atau model bisnis yang lebih fleksibel dengan kebebasan dalam menentukan konsep dan operasional seperti kemitraan.
Perbedaan Modal: Franchise vs Kemitraan
Setelah memahami perbedaan dasar hukum, kini saatnya Anda mengetahui perbedaan yang tak kalah penting, yaitu struktur modal. Perbedaan struktur modal antara franchise dan kemitraan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan Anda dalam memilih model bisnis. Mari kita bahas lebih dalam.
Dalam skema franchise, Anda sebagai franchisee diwajibkan untuk menyiapkan modal yang relatif besar. Mengapa demikian? Karena selain harus membayar franchise fee di awal, Anda juga harus membayar royalty fee secara berkala, biasanya setiap bulan, kepada franchisor. Franchise fee merupakan biaya yang Anda bayarkan untuk mendapatkan hak menggunakan merek dagang, sistem operasional, dan dukungan bisnis dari franchisor. Sedangkan royalty fee adalah biaya yang Anda bayarkan sebagai imbalan atas penggunaan merek dagang dan dukungan yang berkelanjutan dari franchisor. Besaran franchise fee dan royalty fee ini bervariasi, tergantung pada jenis usaha, popularitas merek, dan kesepakatan antara kedua belah pihak. Namun, perlu diingat bahwa biaya-biaya ini bisa cukup signifikan dan perlu Anda perhitungkan dengan matang.
Sebagai contoh, untuk membuka gerai franchise minuman kekinian, Anda mungkin perlu menyiapkan modal awal sekitar Rp100.000.000 hingga Rp500.000.000, bahkan bisa lebih. Modal tersebut biasanya sudah termasuk franchise fee, biaya peralatan, bahan baku awal, dan biaya operasional awal. Selain itu, Anda juga harus membayar royalty fee setiap bulan, yang biasanya berkisar antara 5% hingga 10% dari omzet bulanan Anda.
Berbeda dengan franchise, kemitraan menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam hal modal. Dalam kemitraan, modal awal dan biaya operasional ditanggung bersama oleh para mitra sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Besarnya modal yang disetorkan oleh masing-masing mitra pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kemampuan finansial mereka. Fleksibilitas ini membuat kemitraan menjadi pilihan yang menarik bagi Anda yang ingin memulai bisnis dengan modal yang lebih terjangkau atau ingin berbagi risiko dengan mitra lainnya.
Misalnya, jika Anda ingin membuka usaha kafe dengan konsep kemitraan bersama 2 orang teman, Anda dan teman-teman Anda dapat menyepakati untuk menanggung modal awal secara merata. Jika total modal awal yang dibutuhkan adalah Rp150.000.000, maka masing-masing dari Anda dapat menyetorkan Rp50.000.000. Dengan demikian, beban modal awal menjadi lebih ringan dibandingkan jika Anda harus menanggungnya sendiri.
Berikut adalah contoh perbandingan perhitungan modal awal untuk franchise dan kemitraan:
- Franchise Gerai Kopi:
- Franchise Fee: Rp150.000.000
- Peralatan dan Perlengkapan: Rp100.000.000
- Bahan Baku Awal: Rp20.000.000
- Sewa Tempat (tahun pertama): Rp50.000.000
- Biaya Operasional Awal (3 bulan): Rp30.000.000
- Total Modal Awal: Rp350.000.000
- Royalty Fee: 5% dari omzet bulanan
- Kemitraan Kedai Kopi (3 Mitra):
- Peralatan dan Perlengkapan: Rp90.000.000
- Bahan Baku Awal: Rp15.000.000
- Sewa Tempat (tahun pertama): Rp45.000.000
- Biaya Operasional Awal (3 bulan): Rp25.000.000
- Total Modal Awal: Rp175.000.000
- Modal per Mitra: Rp58.333.333 (Rp175.000.000 / 3)
- Pembagian Keuntungan: Sesuai kesepakatan, misalnya dibagi rata.
Perbedaan struktur modal ini tentu akan berpengaruh pada risiko dan potensi keuntungan yang akan Anda dapatkan. Dalam franchise, meskipun modal awal lebih besar, Anda mendapatkan keuntungan dari merek yang sudah dikenal dan sistem yang sudah teruji. Hal ini dapat mempercepat balik modal dan meningkatkan peluang keberhasilan. Namun, Anda juga harus siap dengan risiko ketergantungan pada franchisor dan kewajiban membayar royalty fee yang dapat memengaruhi profitabilitas Anda.
Sementara itu, dalam kemitraan, Anda memiliki kebebasan lebih dalam mengelola bisnis dan potensi keuntungan yang lebih besar karena tidak perlu membayar franchise fee dan royalty fee. Namun, Anda juga harus siap dengan risiko yang ditanggung bersama, termasuk kemungkinan perbedaan pendapat antar mitra yang dapat memengaruhi kelancaran bisnis. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memilih mitra yang tepat dan membuat perjanjian kemitraan yang jelas dan transparan untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan.
Perbedaan Manajemen: Franchise vs Kemitraan
Selain perbedaan modal, Anda juga perlu mempertimbangkan perbedaan sistem manajemen antara franchise dan kemitraan. Perbedaan ini akan sangat berpengaruh pada bagaimana Anda menjalankan operasional bisnis sehari-hari dan mengambil keputusan penting. Secara garis besar, franchise memiliki sistem manajemen yang sudah terstruktur dan seragam, sementara kemitraan menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam pengelolaan bisnis.
Dalam model bisnis franchise, franchisor telah menetapkan standar operasional yang harus diikuti oleh seluruh franchisee. Karena merek yang digunakan sudah cukup dikenal, maka mereka mengutamakan keseragaman dalam manajemennya. Ini mencakup berbagai aspek bisnis, mulai dari alur kerja, penggunaan bahan baku, kualitas produk, pelayanan pelanggan, hingga strategi pemasaran. Sebagai franchisee, Anda tidak perlu repot menyusun sistem operasional dari awal karena semuanya sudah diatur oleh franchisor. Anda hanya perlu menjalankan bisnis sesuai dengan panduan yang telah diberikan. Hal ini menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, di satu sisi, Anda mendapatkan keuntungan dari sistem yang sudah teruji dan terbukti berhasil. Namun di sisi lain, Anda menjadi tidak memiliki kendali penuh atas usaha tersebut dan harus mengikuti semua aturan yang ditetapkan oleh franchisor.
Berbeda dengan franchise, kemitraan memberikan Anda kebebasan untuk menentukan sistem manajemen yang akan diterapkan. Dalam kemitraan, semua keputusan bisnis, termasuk operasional, pemasaran, dan keuangan, diambil berdasarkan kesepakatan bersama para mitra. Anda dan mitra Anda memiliki hak yang sama dalam menentukan arah dan strategi bisnis. Segala kebutuhan bisnis pun menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi bersama. Hal ini tentu membutuhkan komunikasi yang intens dan koordinasi yang baik antar mitra. Meskipun lebih fleksibel, sistem ini juga memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal pengambilan keputusan yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama karena harus mencapai konsensus.
Untuk lebih memahami perbedaan sistem manajemen dalam franchise dan kemitraan, berikut adalah beberapa contoh bagaimana keputusan bisnis diambil dalam kedua model bisnis tersebut:
- Keputusan Produk:
- Franchise: Jika Anda membuka gerai franchise ayam goreng, Anda tidak bisa seenaknya menambahkan menu baru, misalnya menjual pizza, tanpa persetujuan dari franchisor. Menu dan resep sudah ditentukan oleh franchisor untuk menjaga keseragaman dan kualitas produk di seluruh gerai.
- Kemitraan: Jika Anda bermitra dengan teman untuk membuka kafe, Anda dan teman Anda dapat berdiskusi dan memutuskan bersama menu apa saja yang akan dijual, apakah akan ada menu musiman, atau apakah akan menggunakan bahan-bahan organik.
- Keputusan Promosi:
- Franchise: Program promosi, seperti diskon atau paket bundling, biasanya ditentukan oleh franchisor dan berlaku serentak di seluruh gerai. Anda sebagai franchisee harus mengikuti program promosi tersebut.
- Kemitraan: Anda dan mitra Anda dapat merancang sendiri program promosi yang sesuai dengan target pasar dan kondisi keuangan bisnis Anda. Misalnya, Anda dapat mengadakan promo “beli 1 gratis 1” di hari-hari tertentu atau memberikan diskon khusus untuk pelajar.
- Keputusan Desain Interior:
- Franchise: Desain interior gerai franchise biasanya sudah ditentukan oleh franchisor untuk menciptakan identitas merek yang kuat dan seragam. Anda tidak bisa mengubah desain interior gerai sesuai selera Anda sendiri.
- Kemitraan: Anda dan mitra Anda bebas menentukan konsep dan desain interior kafe Anda. Anda dapat memilih tema minimalis, industrial, atau bahkan bohemian sesuai dengan target pasar dan kesepakatan bersama.
Sistem manajemen yang sudah terstruktur dalam franchise memiliki kelebihan, yaitu Anda tidak perlu pusing memikirkan operasional bisnis dari nol. Anda juga mendapatkan dukungan dan bimbingan dari franchisor yang sudah berpengalaman. Namun, Anda harus siap dengan keterbatasan dalam berinovasi dan ketergantungan pada franchisor. Sementara itu, sistem manajemen yang fleksibel dalam kemitraan memberikan Anda kebebasan untuk berkreasi dan menentukan sendiri arah bisnis Anda. Namun, Anda juga harus siap dengan tantangan dalam pengambilan keputusan bersama dan pentingnya membangun komunikasi yang efektif dengan mitra Anda.
Perbedaan Sistem Keuntungan: Franchise vs Kemitraan
Setelah memahami perbedaan dari segi manajemen, kini kita akan membahas perbedaan yang tak kalah krusial, yaitu sistem pembagian keuntungan. Bagaimana keuntungan dibagi dalam franchise dan kemitraan? Apakah ada perbedaan yang signifikan? Mari kita kupas tuntas.
Dalam bisnis franchise, sistem pembagian keuntungan sudah diatur dan ditetapkan di awal perjanjian antara franchisor dan franchisee. Sebagai franchisee, Anda wajib membayar sejumlah keuntungan kepada franchisor sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Biasanya, selain royalty fee yang merupakan persentase dari omzet, ada juga pembagian keuntungan lainnya yang telah ditentukan. Misalnya, franchisor menetapkan bahwa franchisee harus menyetorkan 10% dari laba bersih setiap bulan. Maka, Anda sebagai franchisee wajib memenuhi kewajiban tersebut. Sistem ini memberikan kepastian bagi franchisor dalam hal pendapatan, tetapi di sisi lain, dapat membatasi potensi keuntungan yang bisa Anda dapatkan sebagai franchisee.
Berbeda dengan franchise, kemitraan menganut prinsip bagi hasil yang lebih fleksibel. Dalam kemitraan, keuntungan yang diperoleh dari bisnis akan dibagi kepada para mitra sesuai dengan proporsi yang telah disepakati bersama. Proporsi ini biasanya didasarkan pada besarnya kontribusi masing-masing mitra, baik dalam bentuk modal, tenaga, maupun keahlian. Misalnya, jika Anda dan dua orang mitra Anda menyetorkan modal dengan porsi yang sama, maka keuntungan pun akan dibagi rata. Namun, jika salah satu mitra menyetorkan modal lebih besar, maka ia berhak mendapatkan porsi keuntungan yang lebih besar pula. Prinsip bagi hasil ini memberikan rasa keadilan dan transparansi bagi para mitra, karena setiap orang mendapatkan imbalan yang sesuai dengan kontribusinya.
Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat contoh perhitungan pembagian keuntungan dalam franchise dan kemitraan:
- Franchise Gerai Kopi:
- Omzet Bulanan: Rp100.000.000
- Biaya Operasional: Rp60.000.000
- Laba Kotor: Rp40.000.000
- Royalty Fee (5% dari omzet): Rp5.000.000
- Pembagian Laba (10% dari laba bersih): Rp3.500.000 (Asumsi laba bersih = Laba Kotor – Royalty Fee = Rp35.000.000)
- Laba Bersih Franchisee: Rp31.500.000 (Rp35.000.000 – Rp3.500.000)
- Kemitraan Kedai Kopi (3 Mitra):
- Omzet Bulanan: Rp100.000.000
- Biaya Operasional: Rp60.000.000
- Laba Bersih: Rp40.000.000
- Pembagian Keuntungan (dibagi rata): Rp13.333.333 per mitra (Rp40.000.000 / 3)
Perbedaan sistem keuntungan ini tentu akan berpengaruh pada motivasi dan kinerja Anda sebagai mitra. Dalam franchise, Anda mungkin merasa kurang termotivasi karena harus menyetorkan sebagian keuntungan kepada franchisor, meskipun Anda telah bekerja keras. Namun, Anda mendapatkan keuntungan dari merek yang sudah dikenal dan sistem yang sudah teruji. Sementara itu, dalam kemitraan, Anda mungkin lebih termotivasi karena mengetahui bahwa semakin besar keuntungan yang diperoleh, semakin besar pula bagian yang akan Anda dapatkan. Namun, Anda juga harus siap dengan risiko yang ditanggung bersama dan pentingnya membangun komunikasi yang efektif dengan mitra Anda untuk mencapai kesuksesan bersama.
Perbedaan Merek Dagang: Franchise vs Kemitraan
Aspek terakhir yang tak kalah penting untuk Anda pertimbangkan adalah perbedaan kepemilikan dan penggunaan merek dagang. Merek dagang merupakan aset yang sangat berharga dalam sebuah bisnis, karena merek dagang adalah identitas yang membedakan produk atau jasa Anda dari pesaing. Dalam konteks franchise dan kemitraan, kepemilikan dan penggunaan merek dagang memiliki perbedaan yang signifikan.
Dalam bisnis franchise, merek dagang biasanya sudah dipatenkan dan dimiliki oleh franchisor. Sebagai franchisee, Anda mendapatkan hak untuk menggunakan merek dagang tersebut dalam menjalankan bisnis, tetapi Anda tidak memiliki hak kepemilikan atas merek dagang tersebut. Anda terikat pada perjanjian franchise yang mengatur bagaimana Anda boleh menggunakan merek dagang tersebut, termasuk standar kualitas, penampilan, dan pemasaran. Franchisor memiliki kendali penuh atas merek dagangnya dan berhak untuk mengubah atau menarik hak penggunaan merek dagang tersebut jika franchisee melanggar perjanjian.
Sebagai contoh, jika Anda membuka gerai franchise McDonald’s, Anda menggunakan merek dagang McDonald’s yang sudah terkenal di seluruh dunia. Namun, Anda tidak memiliki hak untuk mengubah logo, nama, atau elemen merek dagang lainnya. Anda harus mengikuti semua pedoman yang ditetapkan oleh McDonald’s Corporation selaku pemilik merek dagang.
Sementara itu, dalam kemitraan, kepemilikan merek dagang menjadi milik bersama para mitra. Merek dagang yang digunakan dalam bisnis merupakan aset bersama yang dimiliki dan dikelola secara kolektif. Setiap mitra memiliki hak yang sama atas merek dagang tersebut, dan keputusan terkait penggunaan dan pengembangan merek dagang harus disepakati bersama. Jika salah satu mitra ingin keluar dari kemitraan, maka perlu dilakukan penjualan saham atau pembagian aset, termasuk merek dagang, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.
Misalnya, jika Anda dan 2 orang teman Anda bermitra untuk mendirikan sebuah brand fashion lokal, maka merek dagang yang Anda ciptakan bersama menjadi milik Anda bertiga. Anda semua memiliki hak yang sama untuk menggunakan dan mengembangkan merek dagang tersebut. Jika salah satu dari Anda memutuskan untuk keluar dari kemitraan, maka perlu ada kesepakatan mengenai pembagian aset merek dagang tersebut, apakah akan dijual kepada mitra yang tersisa atau dibagi sesuai dengan proporsi kepemilikan.
Perbedaan kepemilikan merek dagang ini membawa implikasi hukum dan finansial yang perlu Anda pahami. Dalam franchise, pelanggaran penggunaan merek dagang dapat berakibat pada sanksi hukum, seperti pembatalan perjanjian franchise, penarikan hak penggunaan merek dagang, dan tuntutan ganti rugi. Misalnya, jika seorang franchisee dengan sengaja mengubah logo atau menggunakan merek dagang franchisor untuk produk yang tidak sesuai standar, maka franchisor dapat menuntut franchisee tersebut atas pelanggaran merek dagang.
Dalam kemitraan, masalah yang mungkin timbul adalah sengketa antar mitra terkait penggunaan atau pengembangan merek dagang. Misalnya, jika salah satu mitra menggunakan merek dagang bersama untuk usaha lain tanpa persetujuan mitra lainnya, maka hal ini dapat menimbulkan konflik dan tuntutan hukum. Oleh karena itu, penting bagi para mitra untuk membuat perjanjian yang jelas dan detail mengenai kepemilikan, penggunaan, dan pengelolaan merek dagang bersama.
Berikut adalah beberapa contoh kasus pelanggaran merek dagang dalam franchise dan kemitraan:
- Kasus Franchise:
- Seorang franchisee restoran cepat saji menggunakan logo dan nama franchisor, tetapi menjual produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Franchisor kemudian menuntut franchisee tersebut karena dianggap telah merusak reputasi merek dagang.
- Seorang franchisee kedai kopi membuka gerai lain dengan nama yang mirip dengan merek dagang franchisor, tetapi dengan konsep dan menu yang berbeda. Franchisor menggugat franchisee tersebut karena dianggap telah melakukan pemalsuan merek dagang dan persaingan tidak sehat.
- Kasus Kemitraan:
- Dua orang mitra yang memiliki brand fashion bersama berselisih paham mengenai desain logo baru. Salah satu mitra kemudian mendaftarkan logo baru tersebut atas nama pribadinya tanpa sepengetahuan mitra lainnya. Hal ini menimbulkan sengketa kepemilikan merek dagang di antara mereka.
- Tiga orang mitra yang memiliki usaha kafe bersama sepakat untuk berpisah. Namun, mereka tidak mencapai kesepakatan mengenai pembagian aset merek dagang. Salah satu mitra kemudian terus menggunakan merek dagang tersebut untuk usaha kafe barunya, sementara mitra lainnya menuntut pembagian yang adil atas aset merek dagang tersebut.
Dengan memahami perbedaan kepemilikan dan penggunaan merek dagang dalam franchise dan kemitraan, Anda dapat mengantisipasi potensi masalah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi aset intelektual Anda. Baik Anda memilih franchise maupun kemitraan, pastikan Anda memahami hak dan kewajiban Anda terkait merek dagang, serta membuat perjanjian yang jelas dan transparan untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan potensi bisnis Anda.
Kelebihan dan Kekurangan Franchise
Setelah memahami perbedaan kepemilikan dan penggunaan merek dagang, Anda mungkin mulai mempertimbangkan apakah model bisnis franchise cocok untuk Anda. Untuk membantu Anda mengambil keputusan, mari kita bahas lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan dari model bisnis franchise ini.
Salah satu kelebihan utama dari franchise adalah Anda mendapatkan keuntungan dari merek yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Anda tidak perlu membangun brand awareness dari nol, karena franchisor telah melakukan itu untuk Anda. Selain itu, Anda juga mendapatkan dukungan operasional yang komprehensif dari franchisor. Dukungan ini biasanya mencakup sistem operasional yang sudah teruji, pelatihan untuk Anda dan karyawan, serta bantuan dalam pemasaran dan promosi. Dengan kata lain, Anda tidak perlu memulai semuanya dari awal, banyak aspek penting dalam menjalankan bisnis sudah dipersiapkan oleh franchisor. Hal ini tentu dapat meningkatkan peluang keberhasilan bisnis Anda, terutama jika Anda belum memiliki banyak pengalaman dalam berbisnis.
Beberapa contoh kisah sukses bisnis franchise di Indonesia antara lain:
- Alfamart: Sebagai salah satu minimarket franchise terbesar di Indonesia, Alfamart telah membuktikan keberhasilan model bisnis ini dengan ribuan gerai yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
- Kopi Kenangan: Franchise minuman kopi kekinian ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa franchise juga bisa sukses di industri yang sedang tren.
- JNE: Franchise di bidang jasa pengiriman ini telah menjadi salah satu pemain utama di industri logistik Indonesia, membuktikan bahwa franchise juga bisa diterapkan di berbagai sektor bisnis.
Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, model bisnis franchise juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu Anda pertimbangkan. Salah satu kekurangan yang paling signifikan adalah biaya awal yang tinggi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Anda harus membayar franchise fee di awal dan royalty fee secara berkala kepada franchisor. Biaya-biaya ini bisa cukup besar dan memberatkan, terutama bagi Anda yang baru memulai bisnis. Selain itu, Anda juga memiliki keterbatasan dalam pengambilan keputusan. Anda harus mengikuti semua aturan dan kebijakan yang ditetapkan oleh franchisor, dan Anda tidak memiliki banyak ruang untuk berinovasi atau mengubah konsep bisnis sesuai dengan keinginan Anda. Keterbatasan ini dapat menjadi tantangan bagi Anda yang memiliki jiwa wirausaha yang kuat dan ingin memiliki kendali penuh atas bisnis Anda.
Berikut adalah beberapa contoh tantangan yang mungkin Anda hadapi sebagai franchisee:
- Persaingan antar gerai: Jika Anda membuka gerai franchise di lokasi yang berdekatan dengan gerai franchise lain dari merek yang sama, Anda mungkin akan menghadapi persaingan yang ketat dalam menarik pelanggan.
- Perubahan kebijakan franchisor: Franchisor dapat mengubah kebijakan atau standar operasional sewaktu-waktu, dan Anda sebagai franchisee harus mengikuti perubahan tersebut, meskipun perubahan tersebut mungkin tidak menguntungkan bagi Anda.
- Ketergantungan pada reputasi franchisor: Jika reputasi franchisor buruk karena suatu hal, misalnya karena skandal atau kualitas produk yang menurun, maka bisnis Anda juga dapat terkena dampaknya.
Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut, Anda dapat menilai apakah model bisnis franchise sesuai dengan tujuan, modal, dan toleransi risiko Anda. Apakah Anda siap untuk mengeluarkan modal yang besar dan mengikuti sistem yang sudah ditentukan, atau Anda lebih memilih untuk membangun bisnis sendiri dengan modal yang lebih fleksibel dan kebebasan dalam berinovasi?
Kelebihan dan Kekurangan Kemitraan
Jika pada pembahasan sebelumnya Anda telah mengetahui kelebihan dan kekurangan model bisnis franchise, sekarang kita akan beralih ke model bisnis kemitraan. Apakah kemitraan lebih baik daripada franchise? Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Mari kita bahas satu per satu agar Anda mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.
Berbeda dengan franchise yang memiliki struktur yang lebih kaku, kemitraan menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi. Kemitraan dapat diartikan sebagai strategi bisnis yang dilakukan oleh 2 pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama. Dalam kemitraan, Anda dan mitra Anda memiliki kedudukan yang setara, bisnis dijalankan bersama, dan modal ditanggung bersama. Hal ini tentu menjadi kelebihan tersendiri, terutama bagi Anda yang ingin memulai bisnis dengan modal yang lebih terjangkau dan ingin berbagi risiko dengan orang lain.
Fleksibilitas dalam kemitraan tidak hanya terbatas pada modal, tetapi juga dalam hal pengambilan keputusan. Karena kemitraan didasari oleh prinsip kesetaraan dan kebersamaan, maka semua keputusan bisnis, mulai dari operasional, pemasaran, hingga keuangan, diambil berdasarkan musyawarah dan kesepakatan bersama. Anda dan mitra Anda memiliki hak suara yang sama dalam menentukan arah dan strategi bisnis. Hal ini tentu dapat menciptakan rasa kepemilikan yang kuat dan meningkatkan motivasi untuk memajukan bisnis bersama.
Selain itu, kemitraan juga berpotensi memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan franchise. Mengapa? Karena Anda tidak perlu membayar franchise fee dan royalty fee seperti dalam franchise. Keuntungan yang diperoleh dari bisnis akan dibagi secara proporsional sesuai dengan kontribusi masing-masing mitra. Dengan demikian, semakin besar keuntungan yang Anda hasilkan, semakin besar pula bagian yang akan Anda dapatkan. Prinsip bagi hasil ini tentu lebih adil dan transparan dibandingkan sistem pembagian keuntungan dalam franchise yang sudah ditetapkan di awal.
Di Indonesia, terdapat 10 bentuk kemitraan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021, yaitu inti-plasma, subkontrak, franchise, perdagangan umum, distribusi dan keagenan, rantai pasok, bagi hasil, kerja sama operasional, usaha patungan (joint venture), dan penyemburluaran (outsourcing). Kemitraan biasanya melibatkan para usaha kecil menengah dengan perusahaan besar. Beberapa contoh kisah sukses bisnis kemitraan di Indonesia antara lain:
- HAUS!: Brand minuman kekinian ini menerapkan sistem kemitraan dengan membuka peluang bagi individu untuk menjadi mitra dan membuka gerai HAUS!. Kesuksesan HAUS! menunjukkan bahwa kemitraan dapat menjadi model bisnis yang efektif untuk mengembangkan usaha, terutama di industri makanan dan minuman.
- Kopi Chuseyo: Brand kopi asal Korea Selatan ini juga menerapkan sistem kemitraan di Indonesia. Dengan konsep yang unik dan target pasar yang jelas, Kopi Chuseyo berhasil menarik banyak mitra dan berkembang pesat di berbagai kota di Indonesia.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, kemitraan juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu Anda pertimbangkan. Salah satu tantangan terbesar dalam kemitraan adalah potensi terjadinya konflik antar mitra. Perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan, pembagian tugas, atau pengelolaan keuangan dapat memicu perselisihan yang dapat mengganggu kelancaran bisnis. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memilih mitra yang tepat, yang memiliki visi dan misi yang sama, serta dapat diajak bekerja sama dengan baik.
Selain itu, proses pengambilan keputusan dalam kemitraan juga cenderung lebih lama dibandingkan franchise. Karena setiap keputusan harus disepakati bersama, maka Anda dan mitra Anda perlu meluangkan waktu untuk berdiskusi dan mencapai konsensus. Hal ini dapat menjadi hambatan jika Anda perlu mengambil keputusan dengan cepat dalam situasi yang mendesak. Anda juga harus siap dengan tanggung jawab bersama atas kerugian. Jika bisnis mengalami kerugian, maka Anda dan mitra Anda harus menanggung kerugian tersebut sesuai dengan proporsi yang telah disepakati.
Berikut adalah beberapa contoh tantangan yang mungkin Anda hadapi dalam bisnis kemitraan:
- Perbedaan visi dan misi: Anda dan mitra Anda mungkin memiliki pandangan yang berbeda mengenai arah dan tujuan bisnis di masa depan. Hal ini dapat menyebabkan konflik dalam pengambilan keputusan strategis.
- Ketidakjelasan pembagian tugas: Jika pembagian tugas dan tanggung jawab antar mitra tidak jelas, maka dapat menimbulkan tumpang tindih pekerjaan, inefisiensi, dan konflik.
- Kesulitan dalam mencapai kesepakatan: Perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan dapat menghambat operasional bisnis dan menghambat pertumbuhan.
Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut, Anda dapat menilai apakah model bisnis kemitraan sesuai dengan karakter, tujuan, dan toleransi risiko Anda. Apakah Anda siap untuk berbagi kepemilikan, keuntungan, dan risiko dengan orang lain, atau Anda lebih memilih untuk memiliki kendali penuh atas bisnis Anda meskipun harus mengeluarkan modal yang lebih besar seperti dalam franchise?
Kesimpulan
Setelah menelusuri berbagai aspek yang membedakan franchise dan kemitraan, kini Anda telah tiba pada kesimpulan. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa franchise dan kemitraan merupakan dua model bisnis yang berbeda, terutama dari segi legal dan finansial. Perbedaan mendasar terletak pada dasar hukum, di mana franchise diatur oleh Permendag 71/2019, sedangkan kemitraan diatur oleh UU 20/2008. Franchise mengharuskan Anda untuk membayar franchise fee dan royalty fee, serta mengikuti sistem manajemen yang telah ditentukan oleh franchisor. Sementara itu, kemitraan menawarkan fleksibilitas dalam hal modal, manajemen, dan sistem bagi hasil yang disepakati bersama. Kepemilikan merek dagang pun menjadi milik bersama dalam kemitraan, berbeda dengan franchise di mana merek dagang dimiliki oleh franchisor.
Lalu, model bisnis mana yang sebaiknya Anda pilih? Jawabannya tergantung pada kebutuhan, tujuan, dan kemampuan Anda. Jika Anda menginginkan bisnis dengan sistem yang sudah teruji, dukungan operasional yang kuat, dan brand recognition yang tinggi, serta Anda siap dengan modal yang besar dan keterbatasan dalam pengambilan keputusan, maka franchise bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika Anda menginginkan fleksibilitas dalam mengelola bisnis, berbagi modal dan risiko dengan mitra, serta memiliki potensi keuntungan yang lebih besar, maka kemitraan bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai. Setiap jenis usaha tentu memiliki kemudahan dan kesulitannya masing-masing. Perlu diingat untuk memilih jenis usaha yang paling sesuai dengan kemampuan yang Anda miliki.
Sebelum memulai bisnis, baik franchise maupun kemitraan, sangat penting bagi Anda untuk memahami implikasi hukum dan finansial yang terkait. Pastikan Anda telah membaca dan memahami semua peraturan yang berlaku, serta membuat perjanjian yang jelas dan transparan dengan franchisor atau mitra Anda. Hubungan kerja sama bisnis tidak dapat dijalankan hanya dengan asas kepercayaan saja, karena tak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi nantinya. Oleh karena itu, kontrak perjanjian dibuat untuk melindungi bisnis dari risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari. Dengan memahami perbedaan antara franchise dan kemitraan, serta implikasi hukum dan finansialnya, Anda dapat membuat keputusan yang tepat dan membangun bisnis yang sukses.





