Author: Aisyah Yekti

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi oleh penulis

Bandung Dikunjungi 6,5 Juta Wisatawan, Kuliner Paling Diminati

Bandung Dikunjungi 6,5 Juta Wisatawan, Kuliner Paling Diminati

Menjadi Pengaruh — Kota Bandung kembali membuktikan diri sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di Indonesia.  Hingga Agustus 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke kota berjuluk Paris van Java itu telah mencapai 6,5 juta orang, baik dari dalam maupun luar negeri. Data ini dirilis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, yang menilai capaian tersebut sebagai sinyal positif menuju target tahunan 8,7 juta kunjungan wisatawan hingga akhir tahun. “Hingga Agustus 2025 jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung telah menembus 6,5 juta orang, meningkat signifikan dari capaian semester pertama yang hanya 3,53 juta,” ujar Adi Junjunan Mustafa, Kepala Disbudpar Kota Bandung, dikutip dari Antara. Kuliner Bandung Jadi Magnet Utama Tak bisa dipungkiri, wisata kuliner menjadi magnet utama pariwisata Bandung.  Berdasarkan hasil kajian Disbudpar, sekitar 60 persen wisatawan datang untuk berburu kuliner khas Bandung. Mulai dari jajanan kaki lima legendaris hingga kafe tematik yang estetik. “Bandung dikenal punya daya cipta kuliner yang khas dan selalu baru. Sisanya, wisatawan datang untuk belanja, fesyen, dan heritage,” tambah Adi. Tren ini sejalan dengan karakter wisatawan modern yang kini lebih mencari pengalaman otentik dan lokal.  Alih-alih sekadar berkunjung ke tempat populer, mereka ingin merasakan cita rasa khas Bandung. Mulai dari Surabi, Batagor, Seblak, hingga Kopi Dago yang legendaris. Destinasi Wisata Bandung yang Tetap Favorit Selain kuliner, sejumlah tempat wisata di Bandung juga masih menjadi primadona yang tak pernah sepi pengunjung.  Kota ini berhasil mempertahankan pesonanya lewat kombinasi antara wisata alam, budaya, dan hiburan keluarga yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Beberapa destinasi yang ramai dikunjungi antara lain: 1. Kawasan Kota Tua Bandung dan Masjid Raya Al Jabbar Dua ikon ini menjadi favorit wisatawan yang ingin menikmati sisi historis sekaligus modern Bandung.  Kawasan Kota Tua menghadirkan nuansa klasik peninggalan kolonial Belanda. Sementara Masjid Raya Al Jabbar menonjolkan arsitektur megah dan futuristik yang kini menjadi landmark baru kota. 2. Museum Geologi, Saung Angklung Udjo, dan Taman Lalu Lintas Ketiganya menjadi pilihan populer bagi wisata edukasi keluarga.  Museum Geologi menyajikan koleksi batuan dan fosil bersejarah, Saung Angklung Udjo memperkenalkan budaya Sunda lewat musik tradisional. Sedangkan Taman Lalu Lintas cocok untuk wisata edukatif anak-anak tentang keselamatan berkendara. 3. Kiara Artha Park Taman modern yang dipenuhi instalasi cahaya, air mancur menari, dan area kuliner ini kini menjadi spot foto favorit wisatawan muda. Lokasinya strategis dan selalu ramai terutama saat malam hari. Menariknya, pola kunjungan wisatawan kini semakin merata.  Tak hanya terpusat di tengah kota, wisatawan juga mulai mengeksplorasi kawasan pinggiran Bandung seperti Pangalengan, Ciwidey, dan Rancabali. Kombinasi antara alam, budaya, dan gaya hidup modern inilah yang menjadikan Bandung tetap relevan di tengah tren wisata baru. Tempat dimana wisatawan bisa sekaligus bersantai, berfoto, dan menikmati pengalaman autentik khas Jawa Barat. Wisatawan Domestik Masih Mendominasi Meski kunjungan wisatawan meningkat, wisatawan domestik masih mendominasi jumlah kunjungan ke Bandung.  Adi menjelaskan bahwa wisatawan mancanegara memang mulai naik, namun porsinya masih jauh lebih kecil dibanding wisatawan nusantara. “Memang masih jauh perbandingannya. Wisatawan Nusantara jauh lebih banyak dibanding wisatawan mancanegara,” ujarnya. Prospek Wisata Bandung 2025 Dengan capaian hingga 6,5 juta pengunjung per Agustus, optimisme pariwisata Bandung di akhir tahun 2025 semakin kuat.  Kombinasi antara inovasi kuliner, destinasi alam, dan kota yang kreatif menjadikan Bandung tetap menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah. Pemkot Bandung juga berkomitmen untuk terus mengembangkan destinasi baru dan menggelar festival kuliner serta event kreatif agar pengalaman wisata semakin beragam dan berkelanjutan.

SELENGKAPNYA
Perusahaan yang Bikin Musuh Sendiri: Strategi Avoskin, Lacoco, dan Looké

Perusahaan yang Bikin Musuh Sendiri: Strategi Avoskin, Lacoco, dan Looké

Pernah kepikiran nggak, kenapa ada brand yang sengaja bikin pesaingnya sendiri? Seolah-olah mereka sedang berkompetisi, padahal uangnya tetap berputar di lingkar yang sama. Contohnya Avoskin, Lacoco, dan Looké Cosmetics. Tiga nama besar di dunia kecantikan lokal yang sering muncul di linimasa media sosial dengan gaya komunikasi berbeda.  Tapi siapa sangka, ketiganya sebenarnya berada di bawah satu payung besar: PT AVO Innovation & Technology, perusahaan asal Yogyakarta yang kini jadi salah satu pionir industri kecantikan Indonesia. Sekilas, langkah ini tampak berisiko. Kenapa perusahaan mau repot-repot membuat brand yang saling bersaing? Namun, justru di situlah letak kecerdasannya: Mereka bukan saling menjatuhkan, melainkan saling menopang. Satu Induk, Tiga Kepribadian Kalau kamu perhatikan, ketiga brand ini punya karakteristik dan persona yang sangat berbeda. Meski sama-sama bermain di kategori kecantikan, masing-masing punya “bahasa” dan target yang unik. Brand Fokus Utama Karakter Target Pasar Avoskin Skincare alami & inovatif Fresh, edukatif, sustainable Segmen menengah Lacoco Premium skincare berbahan alami Elegan, feminin, eksklusif Segmen menengah ke atas Looké Cosmetics Makeup vegan & cruelty-free Modern, bebas berekspresi Generasi muda & profesional urban Data dari situs resmi AVO Innovation & Technology menunjukkan bahwa Avoskin diluncurkan pertama kali pada 2014 dan menjadi fondasi awal perusahaan.  Setelah sukses membangun basis konsumen skincare, AVO memperluas sayapnya dengan menghadirkan Looké Cosmetics pada 2017 dan Lacoco En Nature pada 2018. Setiap brand memiliki tim, tone komunikasi, hingga gaya visual tersendiri. Avoskin tampil minimalis dan lembut, Lacoco membawa aura luxury, sementara Looké punya vibe aktif dan ekspresif ala generasi Z. Dengan begitu, AVO berhasil menempatkan dirinya di tiga segmen pasar berbeda, tanpa satu pun mereknya saling menabrak. Strategi Multi-Brand Positioning PT Avo Innovation & Technology Dalam dunia bisnis, strategi seperti ini disebut multi-brand positioning. Pendekatan di mana satu perusahaan memasarkan beberapa merek dengan identitas berbeda, untuk menjangkau segmen pasar yang beragam. Biasanya, strategi ini digunakan oleh perusahaan raksasa seperti Unilever atau L’Oréal. Namun di Indonesia, PT AVO Innovation & Technology adalah salah satu contoh lokal yang berhasil menerapkannya dengan sangat efektif. Kenapa langkah ini dianggap jenius? Karena pasar tidak pernah homogen. Setiap konsumen punya gaya hidup, tingkat pendapatan, dan nilai personal yang berbeda. Dengan membuat “brand saingan” sendiri, perusahaan bisa: – Mengontrol dinamika persaingan, karena lawan yang dihadapi masih di bawah manajemen yang sama. – Mengurangi risiko kehilangan pasar, jika satu brand turun pamor, brand lain tetap bisa menjaga arus pendapatan. – Menyesuaikan strategi komunikasi, tanpa harus mengubah positioning merek utama. Dalam istilah marketing, ini disebut “own the shelf, own the mind”. Ketika satu grup perusahaan berhasil menguasai seluruh pilihan yang muncul di benak konsumen. Keuntungan Strategi Multi-Brand Positioning untuk Perusahaan Langkah multi-brand positioning bukan sekadar gaya bisnis, tapi strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi perusahaan. Berikut empat manfaat nyata yang bisa dirasakan perusahaan seperti AVO: 1. Menjangkau lebih banyak segmen pasar.Dari remaja hingga wanita karier, dari konsumen hemat hingga pecinta produk premium, semuanya tetap masuk ke ekosistem AVO. 2. Mencegah kejenuhan merek (brand fatigue).Konsumen tidak bosan melihat nama yang sama terus-menerus. Mereka bisa berpindah ke brand “lain” yang sebenarnya masih satu grup. 3. Membangun ekosistem bisnis yang kuat.Penelitian bahan aktif, pabrik, tim kreatif, hingga channel distribusi bisa digunakan lintas brand sehingga efisien secara operasional. 4. Mengontrol persaingan di pasar.Ketika brand-brand lain masih berebut konsumen, AVO sudah punya “kompetitor internal” yang tidak mungkin benar-benar saling menjatuhkan. Risiko dan Tantangan di Balik Strategi Multi-Brand Tentu, strategi ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Mengelola banyak brand dalam satu payung bisa menimbulkan beberapa tantangan, antara lain: – Kebingungan konsumen, jika diferensiasi antarbrand tidak dibuat cukup jelas. – Kebutuhan sumber daya yang besar, karena setiap brand butuh tim marketing dan riset sendiri. – Risiko reputasi terhubung, ketika satu brand mengalami krisis atau isu publik yang bisa ikut menimpa brand saudara lainnya. – Persaingan harga internal, yang berpotensi menurunkan margin jika tidak diatur dengan cermat. Namun, sejauh ini AVO berhasil mengelola semua risiko tersebut dengan solid. Mereka menjaga agar setiap brand punya identitas yang kuat dan tetap relevan bagi target konsumennya masing-masing. Dampak Nyata untuk Ekosistem Kecantikan Lokal Strategi multi-brand ini tidak hanya menguntungkan AVO sebagai perusahaan, tapi juga berdampak pada industri kecantikan Indonesia. Melalui tiga brand tersebut, AVO membuka lapangan kerja baru di bidang riset, distribusi, digital marketing, hingga kolaborasi dengan UMKM lokal penyedia bahan baku. Selain itu, langkah ini mendorong munculnya kompetisi sehat di industri lokal. Karena brand-brand lain belajar untuk fokus pada diferensiasi produk, bukan hanya perang harga. Menariknya, banyak konsumen yang baru menyadari bahwa ketiga brand favorit mereka sebenarnya saudara satu induk. Sebuah bukti bahwa positioning yang dijalankan AVO benar-benar efektif dan tidak tumpang tindih. Kesimpulan Kisah Avoskin, Lacoco, dan Looké adalah bukti nyata bahwa dalam dunia bisnis, kompetisi bisa diciptakan dan dikendalikan. PT AVO Innovation & Technology berhasil menunjukkan bahwa “musuh” tidak selalu berarti ancaman. Kadang, itu hanyalah bagian dari strategi untuk memperluas pengaruh dan menjaga pasar tetap berada di bawah kendali mereka sendiri.

SELENGKAPNYA
Pajak E-Commerce Batal Berlaku Februari 2026, Ini Penjelasannya

Pajak E-Commerce Batal Berlaku Februari 2026, Ini Penjelasannya

Menjadi Pengaruh — Pemerintah Indonesia menunda penerapan pajak e-commerce (perdagangan elektronik) hingga Februari 2026.  Namun, penundaan itu tidak otomatis berarti kebijakan akan langsung diberlakukan. Syarat utama adalah pertumbuhan ekonomi dan pemulihan daya beli masyarakat. “(Pajak e-commerce Februari 2026?) Nggak, kata siapa? Kan saya Menterinya,” ujar Purbaya dalam media briefing di Jakarta. Penundaan ini dilakukan agar kebijakan tersebut tak menjadi beban baru yang bisa mengganggu pemulihan ekonomi nasional yang masih rapuh. Purbaya menjelaskan bahwa penerapan pajak e-commerce akan kembali dipertimbangkan apabila efek dari kebijakan pemerintah yang menyalurkan dana Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai terasa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga menegaskan, dari sisi teknis, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebenarnya telah memiliki sistem yang siap untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut kapanpun diperlukan. “Paling ya sampai kebijakan tadi, uang Rp200 triliun, kebijakan untuk mendorong perekonomian mulai kelihatan dampaknya. Baru kita akan pikirkan nanti. Tapi yang jelas sistemnya sudah siap sekarang,” ujarnya. Apa Itu Pajak E-Commerce? Intisari PMK 37/2025 Pajak ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025, yang mengatur penunjukan platform digital (marketplace/PPMSE) sebagai pemungut PPh Pasal 22 atas transaksi e-commerce domestik.  Beberapa poin penting dari aturan ini: Elemen Ketentuan Utama Tarif 0,5 % dari omzet bruto (tidak termasuk PPN dan PPnBM)  Batas Omzet Pedagang dengan omzet bruto hingga Rp 500 juta per tahun tidak dikenai pemungutan PPh Pasal 22, asalkan mereka menyampaikan surat pernyataan kepada platform.  Pemungut Pajak Marketplace / PPMSE yang ditunjuk bertugas memungut, menyetor, dan melaporkan pajak atas transaksi pedagang dalam negeri. Kredit Pajak / Pelunasan Untuk pedagang yang menggunakan skema PPh umum, PPh Pasal 22 yang dipungut dapat dikreditkan ke pajak terutang. Untuk yang menggunakan PPh final, pemungutan PPh Pasal 22 dapat dianggap sebagai bagian pelunasan PPh final.  Pengecualian lainnya Beberapa jenis transaksi dikecualikan, misalnya penjualan pulsa, kartu perdana, atau perhiasan tertentu, serta jasa ekspedisi yang dikelola oleh mitra pengiriman aplikasi. Secara teknis, PMK 37/2025 sudah mulai berlaku sejak diundangkan pada 11 Juni 2025. Meski begitu, banyak pihak yang menilai perlu ada masa transisi agar sistem, data, dan kesiapan pasar dapat menyesuaikan.  Kendala dan Alasan Penundaan Pajak E-Commerce Berikut sejumlah tantangan dan pertimbangan penting: 1. Kondisi Ekonomi & Daya BeliPemerintah menegaskan bahwa pajak e-commerce baru akan diterapkan bila ekonomi tumbuh sekitar 6 % dan daya beli masyarakat mulai pulih. 2. Penolakan dari Pedagang / UMKMBanyak pelaku usaha kecil yang menolak pengenaan pajak ini di masa pemulihan ekonomi, khawatir berdampak negatif terhadap usaha mereka. 3. Kesiapan Teknis Sistem Pajak & PlatformMeskipun DJP menyatakan bahwa sistemnya sudah siap, pemisahan data, integrasi sistem marketplace, dan mekanisme pelaporan masih menjadi pekerjaan besar. 4. Risiko Pajak Berganda / Beban Ganda bagi PedagangBeberapa pakar memperingatkan kemungkinan beban ganda jika pedagang sudah membayar pajak melalui mekanisme lain (contohnya PKP atau pajak final). Kapan Pajak E-Commerce Akan Diterapkan? Meskipun penundaan ditetapkan hingga Februari 2026, kebijakan tersebut belum otomatis berlaku.  Pemerintah masih menunggu sinyal positif dari kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat sebelum benar-benar menjalankannya. Artinya, meskipun sudah ada panduan teknis melalui PMK Nomor 37 Tahun 2025, implementasi penuh masih bergantung pada keputusan pemerintah berdasarkan indikator makroekonomi. Seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 6 persen, peningkatan konsumsi rumah tangga, serta hasil evaluasi dampak penyaluran dana Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam mendorong sektor riil. Selain itu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga masih menunggu kesiapan dari pihak marketplace yang akan ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22. Termasuk integrasi sistem pelaporan dan pemantauan transaksi digital.  Dengan kata lain, penerapan pajak e-commerce akan dilakukan secara bertahap dan terukur, menyesuaikan kesiapan ekonomi dan infrastruktur perpajakan nasional. Dampak Bagi Pedagang Online Penerapan pajak e-commerce tentu membawa sejumlah konsekuensi bagi pelaku usaha digital, baik dari sisi keuangan maupun operasional.  Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan: 1. Biaya Tambahan 0,5% dari Omzet TransaksiPedagang dengan omzet di atas Rp500 juta per tahun akan dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,5% dari total omzet bruto.  Meskipun terlihat kecil, beban ini dapat memengaruhi margin keuntungan, terutama bagi penjual dengan biaya operasional tinggi. 2. Penyesuaian Sistem Administrasi dan PelaporanPelaku usaha perlu menyesuaikan sistem pembukuan dan pelaporan keuangannya agar sesuai dengan ketentuan PMK 37/2025.  Termasuk sinkronisasi data penjualan, faktur, serta bukti pemungutan pajak dari marketplace. 3. Kewajiban Tambahan bagi MarketplacePlatform e-commerce (seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan lainnya) akan memiliki peran baru sebagai pemungut, penyetor, dan pelapor PPh Pasal 22.  Artinya, mereka harus menyiapkan sistem otomatis yang dapat menghitung dan menyetorkan pajak atas transaksi pedagang secara akurat. 4. Beban Administratif bagi UMKM yang Baru TumbuhBagi pelaku usaha kecil yang baru berkembang, aturan ini dapat menjadi tantangan baru karena menambah kompleksitas administrasi.  Jadi, perlu memahami cara membuat surat pernyataan omzet di bawah Rp500 juta agar bisa dibebaskan dari pungutan pajak, sekaligus menyesuaikan alur keuangan dan dokumentasi usaha. Tips yang Dipersiapkan Jelang Pajak E-Commerce Agar tidak kaget saat aturan pajak e-commerce mulai diberlakukan, para pelaku usaha online sebaiknya mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.  Berikut beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan: 1. Pastikan Data Omzet dan Pembukuan RapiLakukan pencatatan transaksi secara rutin untuk mengetahui total omzet tahunan.  Jadi, kamu bisa memastikan apakah omzet sudah melewati ambang batas Rp500 juta per tahun yang menjadi syarat pengenaan PPh Pasal 22 sebesar 0,5%. 2. Gunakan Surat Pernyataan Omzet ≤ Rp500 Juta (Jika Memenuhi Syarat)Jika omzet bisnis masih di bawah Rp500 juta, manfaatkan ketentuan pembebasan pajak dengan membuat surat pernyataan omzet dan menyerahkannya kepada pihak marketplace atau PPMSE. 3. Pantau Perkembangan Kebijakan Pajak dan Kondisi EkonomiKebijakan ini masih bisa berubah mengikuti perkembangan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.  Rutinlah memantau pengumuman dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) agar tetap update terhadap jadwal resmi penerapan pajak e-commerce. 4. Gunakan Sistem Akuntansi dan Aplikasi Keuangan yang TerintegrasiMulailah menggunakan ERP atau software pembukuan digital untuk mencatat setiap transaksi sesuai standar pajak.  5. Konsultasikan dengan Ahli Pajak atau Konsultan KeuanganDiskusikan strategi terbaik agar tidak terkena beban pajak berganda, terutama jika bisnis sudah membayar pajak melalui mekanisme lain.

SELENGKAPNYA
Viral Kasus Roti “Gluten-Free” Palsu, Owner Janji Klarifikasi

Viral Kasus Roti “Gluten-Free” Palsu, Owner Janji Klarifikasi

Menjadi Pengaruh – Kasus dugaan penipuan label “gluten-free” oleh bakery daring Bake n Grind tengah menjadi sorotan publik.  Seorang ibu, Felicia Elizabeth, mengaku anaknya mengalami reaksi alergi parah setelah mengonsumsi produk yang diklaim bebas gluten, namun hasil uji laboratorium justru menunjukkan sebaliknya. Kasus ini bermula saat Felicia Elizabeth membeli produk Bolu Jadul Full Taburan Meses dari Bake n Grind, yang dipromosikan sebagai roti bebas gluten, susu, dan telur.  Karena anaknya memiliki alergi berat terhadap gluten dan susu, Felicia mempercayai klaim tersebut. Namun beberapa jam setelah dikonsumsi, anaknya mengalami ruam parah dan pembengkakan di seluruh tubuh.  Felicia pun membawa sampel produk tersebut untuk diuji di laboratorium independen PT Saraswanti Indo Genetech. Hasil uji yang keluar pada 24 September 2025 menunjukkan produk tersebut positif mengandung gluten, meski diiklankan sebaliknya.  Melalui akun Instagram pribadinya @feliz88eliz, Felicia speak up yang kemudian jadi viral. Temuan ini memicu kemarahan publik dan pertanyaan besar tentang validitas klaim “gluten-free” yang digunakan Bake n Grind. Diduga Produk Repackaging Investigasi lanjutan mengungkap bahwa roti yang dijual Bake n Grind bukan hasil produksi sendiri, melainkan produk dari bakery lain yang dikemas ulang (repacking) dan dijual kembali dengan label “gluten-free”. Seorang mantan pegawai Bake n Grind bahkan menyebut selama bekerja, ia tidak pernah melihat dapur produksi sendiri. “Semua barang datang dari supplier, kami hanya kemas ulang,” ungkapnya seperti dikutip dari Radar Solo. Banyak pelanggan juga menemukan kemiripan tekstur dan tampilan produk Bake n Grind dengan roti dari beberapa toko roti besar lainnya. Owner Akui Salah dan Janji Klarifikasi Setelah gelombang kritik meluas di media sosial, pemilik Bake n Grind, Felicia Novenna, akhirnya mengakui kesalahannya dalam pertemuan dengan korban.   Dalam Story Instagram @feliz88eliz, kabarnya ia menyatakan siap: – Meminta maaf secara terbuka, – Mengembalikan dana kepada pelanggan, dan – Memberikan klarifikasi publik paling lambat 16 Oktober 2025 melalui akun media sosial resminya. Namun hingga kini, klarifikasi terbuka itu belum dipublikasikan.  Akun Instagram resmi @bakengrind_ dan akun pribadi @felicianovenna diketahui sudah dinonaktifkan. Reaksi Publik dan Potensi Sanksi Kasus ini menuai kecaman luas, terutama dari komunitas penderita alergi dan gluten-intolerant di Indonesia. Chef Yohanes Adhijaya (Koko Ragi) bahkan ikut menyoroti fenomena bisnis yang mengandalkan klaim “sehat” tanpa bukti laboratorium.  “Kalau jualan pakai label bebas gluten, ya harus punya hasil uji dan sertifikat. Jangan cuma klaim marketing,” ujarnya. Dari sisi hukum, Bake n Grind bisa dijerat pasal penipuan konsumen dan pelanggaran label pangan jika terbukti menyebarkan klaim palsu. Pelajaran bagi Pelaku Usaha dan Konsumen Kasus ini menjadi pengingat bahwa label seperti “gluten-free”, “vegan”, atau “plant-based” tidak boleh digunakan tanpa dasar ilmiah. Pelaku usaha wajib memiliki uji laboratorium dan izin edar BPOM atau Dinkes, sedangkan konsumen disarankan mengecek sertifikasi dan berhati-hati terhadap klaim kesehatan berlebihan, ya!

SELENGKAPNYA
Rumah Makan Padang: Peluang Cuan dan Tantangannya

Rumah Makan Padang: Peluang Cuan dan Tantangannya

Masakan Padang bukan sekadar kuliner lokal, tapi sudah menjadi ikon gastronomi Indonesia yang dikenal sampai mancanegara lewat rendang dan ragam lauk Minang lainnya.  Di banyak kota besar maupun kecil, rumah makan Padang selalu ada dan menjadi pilihan utama orang mencari makanan enak dan kenyang.  Mengingat popularitasnya itu, usaha masakan Padang menyimpan potensi besar.  Namun seperti semua usaha kuliner, tidak cukup hanya punya resep enak. Strategi yang matang dan konsistensi operasional menjadi kunci agar bisnis bisa tumbuh berkelanjutan.  Di bawah ini kita ulas aspek demi aspek yang harus diperhatikan jika kamu berniat membuka rumah makan Padang. Peluang Bisnis Masakan Padang Sebelum kita menggali aspek teknisnya, penting memahami dulu kenapa bisnis rumah makan Padang punya daya tarik besar di Indonesia saat ini. Masakan Padang dikenal luas dan dicintai banyak orang karena cita rasanya kuat, paduan rempah dan santan yang khas, serta kemampuan porsi besar untuk harga yang relatif wajar.  Rendang sebagai salah satu menu unggulan bukan hanya populer di Indonesia, tetapi telah diakui sebagai salah satu makanan terbaik dunia.  Selain itu, inovasi terhadap restoran Padang pun mulai terjadi. Penggunaan teknologi digital, modernisasi penyajian, sistem pemesanan online, dan konsep warung Padang modern turut mendorong daya saing.  Franchise nasi Padang juga makin diminati. Beberapa merek telah berkembang ke banyak cabang dan wilayah, menunjukkan bahwa jika modelnya tepat, usaha kuliner Padang dapat diskalakan.  Dengan basis itu, kita bisa menyusun strategi agar usaha masakan Padang tidak hanya bertahan, tapi juga memberi keuntungan optimal. Memilih Lokasi Strategis untuk Rumah Makan Padang Lokasi usaha kuliner sangat menentukan visibilitas, arus pelanggan, dan biaya operasional.  Rumah makan Padang yang berada di lokasi “tersembunyi” punya risiko sepi meski makanannya enak.  Maka tahap memilih lokasi harus diperhitungkan betul. Lokasi ideal rumah makan Padang adalah area yang mudah diakses, ramai aktivitas, dan terlihat dari jalan besar.  Contoh segmentasinya: – Dekat perumahan padat penduduk – Sekitar kampus, perkantoran, pasar tradisional – Di ruas jalan utama atau jalan menuju area pusat kota – Memiliki area parkir cukup agar orang tidak ragu mampir Banyak usaha gagal karena lokasi tidak terlihat.  Pemasangan spanduk besar bertuliskan “Masakan Padang” atau “Rumah Makan Padang” sangat penting agar lewatannya orang menyadari kehadiran usahamu. Jangan lupa cek faktor biaya sewa lokasi.  Lokasi premium menarik traffic tinggi tetapi sewanya bisa sangat mahal. Sebaliknya lokasi sedikit masuk gang mungkin murah, tetapi lalu lintas orang rendah. Seimbanglah antara biaya dan potensi pelanggan. Menyusun Menu Masakan Padang yang Variatif Kunci agar pelanggan puas dan kembali lagi adalah menyediakan menu variatif namun khas. Menu yang monoton bisa membuat pelanggan cepat bosan. Dalam rumah makan Padang, pelanggan biasanya memilih lebih dari satu lauk dalam satu porsi.  Oleh karena itu usahakan lauk yang beragam dalam stok. Beberapa lauk wajib yang sering dicari: 1. Rendang daging sebagai menu utama 2. Ayam pop, gulai ayam 3. Gulai tunjang atau gulai babat 4. Udang balado 5. Telur dadar versi Minang 6. Sambal hijau 7. Daun singkong atau sayur alias sayur daun 8. Kuah santan untuk pendamping Selain lauk utama, minuman pendamping seperti teh panas / hangat atau air minum biasa harus tersedia, karena konsumen restoran Padang sering memesan minuman panas. Untuk menjaga daya tarik, kamu dapat menyajikan menu spesial harian (misalnya gulai kambing hanya di hari tertentu) agar pelanggan penasaran dan sering kembali. Variasi juga dapat ditawarkan dalam tingkat kepedasan agar pelanggan bisa memilih sesuai selera daerah (misalnya versi pedas kuat atau lebih ringan). Persiapan Peralatan dan Sarana Operasional Peralatan dan fasilitas adalah fondasi fisik dari operasional restoran. Tanpa peralatan yang memadai, proses masak, penyajian, dan pelayanan bisa terhambat. Berikut perlengkapan yang harus disiapkan: Pastikan juga alur ruang (dapur, area penyajian, area makan) diatur dengan baik agar pekerja bisa bergerak efisien tanpa saling bersinggungan. Menentukan Harga Jual untuk Rumah Makan Padang Menentukan harga jual adalah aspek sensitif dalam bisnis kuliner.  Harganya harus kompetitif namun tetap meninggalkan margin keuntungan setelah biaya-biaya terserap. Harga nasi Padang berbeda tergantung kota, bahan baku lokal, dan target pasar.  Menurut data publik, harga terendah bisa sekitar Rp10.000 untuk satu lauk sederhana, sedangkan di kota besar bisa mencapai Rp25.000–Rp30.000 atau lebih.  Implementasi harga harus mempertimbangkan: Misalnya jika satu porsi dihitung total biaya Rp12.000 dan kamu menargetkan margin 60 %, maka harga jual bisa sekitar Rp20.000 atau sedikit lebih, tergantung kesiapan pasar menerima. Menjalin Hubungan dengan Pemasok Bahan Baku Cita rasa khas Padang bergantung bahan baku berkualitas dan konsisten. Untuk menjaga kontinuitas, yang terbaik adalah memiliki pemasok tetap. Beberapa langkah praktis: Hubungan yang baik dengan pemasok juga bisa membantu mendapat diskon, prioritas pengiriman, atau fleksibilitas pasokan saat musim bahan baku mahal. Konsistensi Rasa dan Pelayanan Setelah lokasi, menu, peralatan, dan bahan baku siap, hal yang paling diuji adalah konsistensi.  Koki berubah atau proses terganggu bisa membuat pelanggan kecewa dan berpindah ke tempat lain. Dalam menjalankan bisnis rumah makan Padang, menjaga konsistensi rasa dan kualitas merupakan kunci utama untuk mempertahankan pelanggan.  Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah membuat standarisasi resep dan takaran.  Setiap masakan harus memiliki panduan tertulis mengenai bahan, takaran, dan teknik memasak agar hasilnya tidak berubah meski dimasak oleh koki berbeda.  Setelah itu, semua koki perlu dilatih agar memahami standar tersebut dan menjalankannya dengan disiplin.  Pelatihan ini penting untuk memastikan setiap piring yang disajikan memiliki cita rasa khas yang sama dari waktu ke waktu.  Selain itu, lakukan pemeriksaan rutin terhadap kualitas bahan dan rasa masakan di setiap batch. Dengan begitu, kamu bisa segera mengetahui bila ada perubahan rasa atau penurunan kualitas bahan sejak awal.  Dalam situasi kenaikan harga bahan baku, misalnya daging sapi, sebaiknya menaikkan harga jual sedikit daripada mengurangi porsi atau menurunkan mutu masakan.  Konsumen lebih menghargai kejujuran dan kualitas yang stabil dibandingkan “murah tapi tidak enak”.  Tak kalah penting, pelayanan yang ramah dan cepat menjadi bagian dari pengalaman pelanggan yang tidak kalah menentukan. Karyawan harus dilatih untuk memahami etika pelayanan. Mulai dari menyambut tamu, menyajikan makanan dengan sopan, hingga menanggapi keluhan dengan cara yang baik.  Kombinasi antara konsistensi rasa, bahan berkualitas, dan pelayanan yang profesional akan membangun reputasi positif yang membuat pelanggan terus datang kembali. Pelayanan juga mencakup kebersihan restoran, penataan meja, dan kenyamanan pelanggan. Semuanya memberi kesan profesional dan membuat pelanggan ingin kembali. Proyeksi Omzet

SELENGKAPNYA
Raperda Kawasan Tanpa Rokok DKI: Ancaman bagi Pedagang Kecil?

Raperda Kawasan Tanpa Rokok DKI: Ancaman bagi Pedagang Kecil?

Menjadi Pengaruh — Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang tengah dibahas DPRD DKI Jakarta kembali memicu kegelisahan di kalangan pedagang kecil.  Terutama karena sejumlah pasal dalam rancangan itu dianggap berpotensi “mematikan” usaha warung, warteg, PKL, dan toko di pasar tradisional. Salah satu pasal kontroversial dalam Raperda KTR menyebutkan bahwa penjualan rokok akan dilarang dalam radius 200 meter dari satuan pendidikan dan tempat bermain anak.  Selain itu, larangan penjualan juga direncanakan diperluas ke warung, lapak pedagang kaki lima (PKL), toko di pasar tradisional, serta usaha mikro kecil menengah (UMKM). Tak hanya itu, Raperda tersebut juga mengatur kewajiban izin khusus untuk penjualan rokok serta pelarangan penjualan rokok secara eceran dalam kawasan yang tergolong KTR.  Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, menyuarakan kekhawatiran keras terhadap draf Raperda KTR.  Menurutnya, selama sekitar enam bulan proses pembahasan, aspirasi pedagang kecil seperti warteg, warung kopi, dan sejenisnya diabaikan. “Kami kecewa, aspirasi pedagang kecil tidak didengarkan. Apa yang sudah kami sampaikan dianggap angin lalu. Raperda KTR yang dipaksakan ini akan semakin menindas usaha rakyat kecil,” ujar Mukroni, 4 Oktober 2025. Mukroni juga menyinggung kondisi berat yang tengah dihadapi pedagang kecil. Ia menyebut bahwa hingga pertengahan 2025, sekitar 25 ribu warteg di wilayah Jabodetabek telah tutup. Artinya sekitar 50 % dari total 50.000 warteg yang ada sebelumnya.  Menurutnya, terutama karena tekanan ekonomi dan daya beli pelanggan melemah.  Ia meminta agar Gubernur DKI sebagai eksekutif mempertimbangkan kembali draf final Raperda agar tidak merugikan UMKM dan para pelaku usaha mikro.  Raperda Masih Dinamis, Terbuka untuk Masukan Di sisi legislatif, DPRD DKI menegaskan bahwa Raperda KTR masih bersifat dinamis dan terbuka untuk masukan publik.  Farah Savira, Ketua Pansus KTR DPRD DKI, menyebut bahwa belum semua pasal dibahas secara detail.  Ia menyampaikan bahwa DPRD secara aktif menyelenggarakan rapat dengar pendapat (RDP) guna menghimpun pandangan dari berbagai pihak, termasuk yang menolak dan yang mendukung.  Selain itu, Wakil Ketua Pansus Abdurrahman Suhaimi menekankan bahwa terdapat pasal-pasal terkait penjualan rokok dalam kawasan KTR yang masih “rancu” dan bertabrakan satu sama lain.  Pasal 17 misalnya, menyebut larangan penjualan rokok di kawasan KTR, tetapi ada ayat pengecualian bagi “tempat umum yang memiliki izin”, yang kemudian bertumbukan dengan aturan radius 200 meter dari sekolah.  Untuk itu, ia mengusulkan agar aturan penjualan rokok dibuat pasal terpisah agar tidak tumpang tindih dengan definisi kawasan KTR.  Secara umum, DPRD menegaskan bahwa Raperda ini akan dirumuskan realistis, mengedepankan edukasi masyarakat, serta mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi, terutama kepada UMKM.  Kritik & Kekhawatiran: PHK Massal & Kehilangan Usaha Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menyatakan bahwa pasal-pasal yang melarang penjualan rokok di radius 200 meter dan melebarkan kawasan tanpa rokok bisa berdampak sistemik. Termasuk potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan hilangnya peluang usaha bagi UMKM.  Beberapa pihak juga menilai bahwa draf Raperda KTR kurang mengakomodasi masukan stakeholders, terutama pedagang kecil, dan dinilai “dipaksakan”. Landasan Hukum & Regulasi yang Sudah Ada Sebelum adanya Raperda, DKI Jakarta sudah memiliki regulasi yang mengatur kawasan larangan merokok.  Beberapa landasan tersebut antara lain: 1. Perda Nomor 2 Tahun 2005, tentang Pengendalian Pencemaran Udara Jakarta, sebagai dasar larangan merokok di ruang publik. 2. Peraturan Gubernur (Pergub) DKI terkait pedoman pelaksanaan, pengawasan, dan penegakan kawasan larangan merokok, termasuk Pergub No. 40 Tahun 2020 yang mengubah Pergub 50 Tahun 2012. 3. Larangan reklame rokok: sejak Perda No. 9 Tahun 2014 dan turunannya, Pemprov DKI telah melarang seluruh reklame rokok baik indoor maupun outdoor.  4. Surat Seruan Gubernur No. 8 Tahun 2021 yang menegaskan larangan iklan, reklame, dan pemasangan kemasan rokok di tempat penjualan. Namun, meskipun regulasi ini sudah ada, kepatuhan di lapangan masih dinilai rendah.  Pasar tradisional, restoran, hotel, hingga gedung pemerintahan masih mencatat tingkat pelanggaran yang tinggi.  Strategi Implementasi Raperda Rokok DKI agar Tidak Merugikan Pedagang Agar kebijakan Raperda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) benar-benar efektif dan tidak menekan pelaku usaha kecil, diperlukan strategi implementasi yang seimbang. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan aturan ini: 1. Perlu Keseimbangan Jika Raperda KTR akan disahkan, perlu ada keseimbangan antara tujuan kesehatan publik dan keberlangsungan bisnis kecil.  Regulasi yang terlalu ketat bisa menimbulkan beban besar pada UMKM. 2. Penyelenggaraan Sosialisasi & Uji Coba Sebelum implementasi penuh, diperlukan uji coba atau fase penerapan bertahap untuk memberikan kesempatan adaptasi bagi pedagang dan konsumen. 3. Sanksi yang Proporsional & Kepastian Hukum Regulasi sebaiknya menyertakan sanksi yang jelas, adil, dan proporsional bagi pelanggar, serta pengecualian yang tidak multitafsir. 4. Partisipasi Publik Lebih Luas Proses pembahasan mesti benar-benar melibatkan pedagang kecil, asosiasi UMKM, kalangan kesehatan, akademisi, dan warga yang terkena dampak. 5. Penegakan Konsisten Regulasi tanpa penegakan akan hanya jadi dokumen. Diperlukan kerangka pengawasan lintas OPD serta mekanisme pengaduan dari masyarakat.

SELENGKAPNYA
Halal Indo 2025: Tawarkan Ilmu, Experience, dan Kesempatan Baru Pengusaha

Halal Indo 2025: Tawarkan Ilmu, Experience, dan Kesempatan Baru Pengusaha

Halal Indo 2025 kembali digelar dengan antusiasme tinggi dari masyarakat.  Ribuan pengunjung memadati hall utama sejak pagi untuk mengikuti rangkaian acara yang mencakup talkshow, fashion show, hingga pameran produk halal dari berbagai sektor.  Tidak hanya menjadi ajang hiburan, acara ini juga dimanfaatkan pengunjung sebagai tempat belajar, mencari inspirasi, dan menjalin relasi bisnis baru Antusiasme dan Suasana Halal Indo 2025 Banyak pengunjung datang dengan rasa penasaran terhadap acara ini.  Begitu memasuki venue, mereka langsung disambut keramaian di area registrasi dan ramainya pengunjung yang memenuhi hall utama.  Berbagai booth exhibitor menampilkan produk halal dari beragam kategori, mulai dari fashion, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari.  Selain berbelanja, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner di area food court, sampai memanfaatkan kesempatan untuk berjejaring dengan komunitas dan pelaku usaha lain. Salah satu pengunjung, Hamdi, menggambarkan pengalamannya, “Kesannya agak kaget sih, di luar ekspektasi. Dari luar aja sudah ramai, banyak orang berlalu lalang dan scan registrasi.” Rangkaian Acara Halal Indo 2025 Halal Indo 2025 menghadirkan rangkaian program yang padat dan bervariasi sepanjang acara.  Di panggung utama, talkshow inspiratif menghadirkan narasumber dari berbagai bidang yang membahas tren gaya hidup halal dan peluang usaha. Di sisi lain, area workshop selalu ramai oleh peserta yang ingin mencoba pengalaman baru, mulai dari kelas meracik parfum hingga kreasi produk halal lainnya. Selain itu, penampilan bintang tamu menjadi salah satu sorotan yang menarik perhatian banyak pengunjung.  Tidak kalah meriah, booth exhibitor yang tersebar di seluruh hall menampilkan produk beragam, mulai dari fashion muslim, kuliner halal, hingga brand lokal yang menawarkan promo khusus selama pameran. Variasi acara ini membuat Halal Indo berbeda dari event lain. “Menurutku semua cukup berkesan, apalagi banyak banget rangkaian acara yang disediakan. Mulai dari talkshow, workshop, sampai booth exhibitor, semua ada di Halal Expo,” ujar Hamdi. Fasilitas Ramah Muslim dan Momen Unik Selain rangkaian acara yang beragam, Halal Indo 2025 juga memperhatikan hal-hal praktis yang membuat pengunjung merasa lebih nyaman.  Salah satu contohnya adalah penyediaan mushola di dekat area food court.  Penempatan ini memudahkan pengunjung untuk beribadah tanpa perlu berjalan jauh atau keluar dari hall utama, terutama di tengah padatnya jadwal acara.  Menjadi penting karena sebagian besar pengunjung menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi, mulai dari mengikuti talkshow, mencoba workshop, hingga berkeliling booth pameran.  Dengan adanya mushola yang mudah dijangkau, pengunjung tidak perlu khawatir meninggalkan aktivitas utama hanya untuk mencari tempat ibadah. Bagi banyak peserta, keberadaan fasilitas ramah muslim seperti ini menunjukkan perhatian panitia terhadap kebutuhan dasar pengunjung.  Meski terlihat sederhana, detail kecil ini memberikan pengalaman yang lebih nyaman, menambah nilai positif acara, dan membedakan Halal Indo dari pameran sejenis.  Pada akhirnya, hal-hal kecil inilah yang membuat pengunjung merasa betah dan ingin kembali di tahun berikutnya. Lebih dari Sekadar Pameran Halal Indo 2025 tidak hanya menghadirkan kemeriahan belanja produk halal atau hiburan di panggung utama.  Bagi sebagian besar pengunjung, acara ini menjadi ruang untuk mendapatkan pengetahuan baru, menambah jejaring, sekaligus merasakan suasana komunitas yang terbuka dan inklusif.  Banyak peserta yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan pelaku usaha di booth, mencari inspirasi dari talkshow, hingga menjajaki peluang kerjasama bisnis. Suasana interaksi juga terlihat di setiap sudut pameran, mulai dari percakapan singkat antar pengunjung saat mencoba produk, hingga pertemuan serius antara pengusaha dengan calon partner bisnis.  Puncak hiburan seperti fashion show dan penampilan bintang tamu menambah semarak, membuat pengalaman terasa lebih lengkap.  Perpaduan edukasi, inspirasi, dan hiburan inilah yang akhirnya membedakan Halal Indo dari sekadar pameran biasa, menjadikannya ajang yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Kesimpulan Dengan cerita-cerita pengunjung yang penuh kesan, Halal Indo 2025 menegaskan dirinya sebagai ajang berkumpulnya komunitas halal lifestyle di Indonesia.  Lebih dari sekadar event, event ini menjadi ruang berbagi inspirasi, membuka peluang kolaborasi, dan tentu saja meninggalkan memori manis bagi siapa saja yang hadir.

SELENGKAPNYA
Vivo & Shell Batal Beli BBM Impor Pertamina? Begini Kronologinya

Vivo & Shell Batal Beli BBM Impor Pertamina? Begini Kronologinya

Menjadi Pengaruh — Sejumlah perusahaan bahan bakar swasta seperti Vivo dan BP-AKR (operator SPBU BP) dikabarkan membatalkan rencana pembelian base fuel impor dari Pertamina.  Pembatalan ini dipicu oleh persoalan spesifikasi bahan bakar serta hambatan regulasi. Meski begitu, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama manajemen Pertamina memastikan bahwa proses negosiasi masih berlangsung secara business to business (B2B).  Pemerintah juga menegaskan stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman. Alasan Pembatalan & Spesifikasi Teknis Pada Rapat Dengar Pendapat dengan DPR, 1 Oktober 2025, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar menjelaskan bahwa Vivo dan BP-AKR sebelumnya sudah sepakat membeli base fuel dari kargo impor Pertamina. Namun akhirnya membatalkan transaksi karena masalah spesifikasi. Alasan utama pembatalan adalah adanya kandungan etanol sebesar 3,5% dalam bahan bakar impor tersebut.  Menurut Achmad, kandungan itu sebenarnya masih diperbolehkan secara regulasi hingga 20%. “Isu yang disampaikan kepada rekan-rekan SPBU ini, adalah mengenai konten. Kontennya itu ada kandungan etanol. Nah, dimana secara regulasi itu diperkenankan, etanol itu sampai jumlah tertentu kalau tidak salah sampai 20% etanol, kalau tidak salah. Sedangkan ada etanol 3.5%.” Ujar Achmad Muchtasyar, Wakil Dirut Pertamina Patra Niaga. Selain soal etanol, BP-AKR menolak pembelian karena Pertamina tidak menyertakan certificate of origin (COO) yang menjadi syarat penting dalam perdagangan internasional.  COO diperlukan untuk menjamin asal-usul barang dan memastikan tidak ada masalah terkait standar mutu maupun sanksi perdagangan. Respons Pemerintah & Strategi Pasokan Sebagai langkah antisipasi, pemerintah memperbolehkan importir swasta untuk tetap mengimpor BBM melalui Pertamina guna menjaga ketersediaan bahan bakar nasional.  Untuk meredam kelangkaan, Pertamina kemudian menawarkan pengiriman sebesar 16.000 kiloliter atau sekitar 100.640 barel kepada SPBU swasta seperti Shell dan BP-AKR. Dalam sidang DPR, manajemen Pertamina juga mengungkap bahwa dari total kargo impor 100.000 barel, semula Vivo telah sepakat mengambil 40.000 barel. Namun kesepakatan itu batal karena ketidakcocokan teknis terkait kandungan etano tadil. Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa SPBU swasta tetap dapat melakukan pembelian melalui skema business-to-business (B2B) dengan Pertamina.  Ia juga memastikan bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman untuk kebutuhan dalam negeri setidaknya selama tiga minggu ke depan.  Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah telah menaikkan kuota impor BBM untuk swasta sebesar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini guna memberikan kelonggaran pasokan di tengah meningkatnya permintaan Dampak pada SPBU Swasta & Operasional Kelangkaan BBM yang dialami SPBU swasta kini berdampak nyata pada layanan konsumen. Di Tangerang Selatan, SPBU Shell dilaporkan sudah tidak menjual BBM selama tiga minggu terakhir. “Belum ada kepastian pak datangnya mobil isi BBM. Kami masih menunggu,” kata seorang petugas SPBU dikutip dari beritabanten. Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Shell Bintaro, di mana ketiadaan stok BBM membuat pegawai SPBU beralih sementara dengan berjualan kopi dan matcha demi menutup kebutuhan harian.  Situasi ini menggambarkan betapa serius dampak keterbatasan pasokan BBM terhadap operasional SPBU swasta.  Tidak hanya menurunkan layanan kepada pelanggan, tetapi juga memaksa pekerja mencari alternatif penghasilan di luar tugas utamanya. Kasus pembatalan pembelian oleh Vivo dan BP-AKR menjadi ilustrasi nyata bahwa di sektor energi, spesifikasi teknis dan kepatuhan regulasi (seperti kandungan etanol dan sertifikat asal) memainkan peran kritis.  Meski pemerintah membuka peluang kolaborasi impor melalui Pertamina dan menambah kuota impor bagi swasta, tidak serta-merta memudahkan proses di lapangan.  Kunci keberhasilan kolaborasi ini bergantung pada keseimbangan antara kepastian teknis, regulasi, dan praktek bisnis yang transparan.

SELENGKAPNYA
Pemkot Bandar Lampung Bagikan 100 Gerobak Motor Listrik untuk UMKM

Pemkot Bandar Lampung Bagikan 100 Gerobak Motor Listrik untuk UMKM

Menjadi Pengaruh – Pemerintah Kota Bandar Lampung kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).  Pada Kamis (25/9), Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, secara simbolis menyerahkan 100 gerobak motor listrik kepada para pelaku usaha kecil yang tersebar di 20 kecamatan. Program ini bukan sekadar dukungan ekonomi, tetapi juga upaya menghadirkan inovasi ramah lingkungan di sektor usaha.  “Alhamdulillah, hari ini kita bagikan 100 gerobak motor listrik untuk teman-teman UMKM. Semoga bisa menjadi sarana usaha yang lebih modern, efisien, dan tentunya ramah lingkungan,” ujar Eva Dwiana dalam sambutannya. Eva, yang akrab disapa “Bunda Eva”, menegaskan bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah.  Karena itu, Pemkot terus berkomitmen menghadirkan program stimulus, mulai dari bantuan modal, pelatihan, hingga penyediaan sarana usaha yang layak.  Ia juga mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pengembangan usaha.  “Bantuan ini harus digunakan sebaik-baiknya, jangan disia-siakan. Kita ingin UMKM di Bandar Lampung bisa maju, mandiri, berdaya saing, dan tentu saja jika UMKM berkembang, maka akan berdampak pada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tegasnya. Inovasi Ramah Lingkungan untuk Usaha Kecil Gerobak motor listrik yang diberikan tidak hanya mempermudah mobilitas pedagang, tetapi juga menjadi simbol transformasi usaha kecil menuju cara berjualan yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.  Dengan beralih ke energi listrik, pelaku UMKM dapat menekan biaya operasional harian. Seperti bahan bakar, sekaligus berkontribusi pada upaya mengurangi emisi karbon di perkotaan.  Inovasi ini diharapkan menjadi titik awal perubahan gaya usaha mikro di Bandar Lampung agar lebih adaptif terhadap tren bisnis berkelanjutan. Stimulus Modal untuk UMKM Selain penyerahan gerobak motor listrik, Pemerintah Kota Bandar Lampung juga memberikan bantuan modal usaha sebesar Rp1 juta untuk setiap penerima manfaat.  Dana ini disalurkan sebagai tambahan dukungan agar UMKM tidak hanya memiliki sarana berdagang, tetapi juga modal kerja yang nyata untuk mengembangkan usaha mereka. Modal tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya: – Menambah stok barang dagangan, seperti bahan baku makanan, minuman, atau produk jualan lainnya. – Memperluas variasi produk, sehingga pedagang bisa menawarkan menu atau barang baru yang lebih menarik bagi konsumen. – Memperkuat arus kas harian, dengan memastikan pelaku usaha memiliki cadangan modal untuk biaya operasional rutin seperti bahan tambahan, kemasan, hingga ongkos distribusi. Dengan adanya stimulus ini, UMKM diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa memperbesar peluang usahanya.  Bagi pelaku kecil yang biasanya kesulitan mengakses pinjaman bank, bantuan langsung seperti ini menjadi suntikan penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Dorongan Kemandirian dan Daya Saing Program ini menegaskan komitmen Pemkot Bandar Lampung agar UMKM tidak hanya sekedar bertahan, tetapi juga mampu naik kelas.  Adanya sarana usaha modern berupa gerobak motor listrik, ditambah stimulus modal dan program pendampingan pemerintah, pelaku UMKM didorong untuk lebih mandiri dalam mengelola usahanya. Dukungan ini diharapkan membuka peluang UMKM untuk memperluas pasar, menjangkau konsumen yang lebih beragam, serta meningkatkan daya saing baik di tingkat lokal maupun regional.  Lebih jauh, penguatan UMKM juga berarti menciptakan lapangan kerja baru, mempercepat perputaran ekonomi, dan memberikan kontribusi nyata pada pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan dukungan nyata tersebut, UMKM Bandar Lampung diharapkan tumbuh lebih berdaya, berkelanjutan, dan benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi rakyat di masa depan.

SELENGKAPNYA
Halal Indo 2025 Sukses Himpun Komitmen Investasi Sampai Rp7,2 Triliun

Halal Indo 2025 Sukses Himpun Komitmen Investasi Sampai Rp7,2 Triliun

Menjadi Pengaruh – Halal Indo 2025 yang berlangsung pada 25–28 September 2025 di ICE BSD, Tangerang resmi berakhir dengan capaian gemilang dengan komitmen investasi sampai Rp7,2 Triliun. Ajang ini tidak hanya menjadi pameran industri halal terbesar di Indonesia, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem halal global. Diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo bersama Kementerian Perindustrian, Halal Indo 2025 menghadirkan lebih dari 300 exhibitor dari berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, hingga travel.  Partisipasi internasional juga meningkat signifikan, dengan 11 negara ikut serta, termasuk Malaysia, Thailand, Tiongkok, Turki, Amerika Serikat, hingga Selandia Baru. Halal Indo 2025 juga mencatatkan lebih dari 25.000 pengunjung, jauh melampaui target awal 15.000 orang.  Tak hanya dari dalam negeri, pengunjung juga datang dari Tiongkok, Finlandia, Amerika Serikat, Jepang, Turki, hingga Yordania.  Dari sisi ekonomi, Halal Indo 2025 mencatatkan transaksi penjualan sebesar Rp7,7 miliar. Program Utama Halal Indo 2025 Kesuksesan Halal Indo 2025 tidak terlepas dari rangkaian program strategis dan inspiratif yang digelar sepanjang acara.  Dimulai dengan Opening Ceremony yang dihadiri pejabat tinggi dan para stakeholder utama. Acara ini kemudian berlanjut dengan Halal Connect Forum yang mempertemukan pelaku industri, regulator, investor, hingga akademisi dalam diskusi produktif.  Selain itu, Industrial Festival dan sesi Business Matching menjadi wadah penting untuk membuka peluang kolaborasi baru di sektor halal.  Ajang ini juga menghadirkan Indonesia Halal Industry Award (IHYA) 2025 sebagai bentuk apresiasi kepada para pelaku industri halal berprestasi.  Tidak ketinggalan, Modest Fashion Show by #MARKAMARIE memperlihatkan tren fesyen halal global yang memikat perhatian pengunjung. Sementara penampilan musik dari musisi ternama seperti HIVI dan Lalahuta menambah semarak suasana pameran. Rangkaian Acara Harian Selama penyelenggaraan, Halal Indo 2025 menghadirkan agenda padat yang dirancang untuk memperkuat ekosistem industri halal. Setiap harinya, program tersusun dari forum diskusi, kuliah umum, festival industri, hingga pertunjukan hiburan yang melibatkan tokoh penting pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas halal.  Berikut adalah rangkaian acara utama pada hari pertama dan kedua: Day 1 – Kamis, 25 September 2025 11:00 – 12:00 | Halal Connect Forum – Halalin Dong: Your Next Level LifestyleSpeaker: Ust. Hilman Fauzi • Moderator: Safira Kusumaningsih 14:00 – 15:00 | Opening Ceremony & Indonesia Halal Industry Award (IHYA)Hadir: Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita 15:00 – 16:30 | Industrial Festival – Kuliah Umum 1: Are You Fit For The Future? Generasi Muda Landasan Keberlanjutan Industri HalalSpeaker: Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita 16:30 – 17:30 | Guest Star Performance: HIVI! 18:30 – 20:00 | Halal Indo Modest Fashion Show by #MARKAMARIE Day 2 – Jumat, 26 September 2025 10:15 – 11:30 | Industrial Festival – Membangun Ekosistem Halal Nasional Berorientasi Pasar GlobalSpeaker: Ms. Emmy Suryandari (Kemenperin) 13:00 – 14:00 | Industrial Festival – Community Engagement Talkshow 1: Di Balik Halal: Cerita Logistik & SDM yang Menguatkan KepercayaanSpeakers: Influencer & Entrepreneur Esha Mahendra; Ibu Reni Yanita (Dirjen IKMA); Arie Wicaksono (Direktur APP) 15:00 – 16:00 | Halal Connect Forum: Mau Ekspor Tanpa Tersesat? Ini GPS-nya!Speakers: Raymond (COO & Co-Founder Export Expert Indonesia) • Fikry Ajiqeffy (CEO & Founder Riset Pasar Ekspor) 16:00 – 17:15 | Halal Connect Forum: Halal Tourism Unveiled: A New Era of TravelSpeakers: Rizal Agustin (Direktur Utama Serumpun Travel), Rio Bella Marchal (Direktur Marketing Hanania Group), Hania Qudri (CEO & Founder Dewi Asean Hanania Travel) 18:00 – 19:00 | Guest Star Performance: Avolia Day 3 – Sabtu, 27 September 2025 10:30 – 11:45 | Halal ConnectTowards One Standard: Advancing Halal Certification and Regulatory FrameworksSpeakers: Mamat Slamet Burhanudin (Deputi Bidang Registrasi dan Sertifikasi Halal) 12:45 – 13:45 | Halal Connect Forum with BRI 13:45 – 14:45 | Industrial Festival – Community EngagementSeberapa Halal Kamu?: Gaya Hidup dan ProdukSpeakers: Bang Anca (Influencer & Entrepreneur), Kris Sasono Ngudi Wibowo (Kepala PHA) 16:00 – 17:00 | Halal Connect ForumCore to Couture: Ensuring Halal Standards in Fashion ProductionSpeakers: Indar Wardani & Rista Monita (Influencer & Entrepreneur), Fariza Irawady (Tenaga Ahli BPJPH RI Bidang Komunikasi) 16:00 – 17:00 | Halal Indo Talkshow with #MARKAMARIE 18:00 – 19:00 | Guest Star PerformancePerformer: Home Band by Music Vibe Day 4 – Minggu, 28 September 2025 10:30 – 11:30 | Halal ConnectHalalpreneurs: Building Success in the Halal Food IndustrySpeakers: Irvan Farhad & Inara Rusli (Influencer & Entrepreneur), Ibu Sri Nasifah 11:30 – 12:30 | Halal ConnectMembatik by LKP Jayanti, UMKM Binaan Badan Pengelola Dana Perkebunan 13:00 – 14:15 | Halal ConnectValues in Action: Empowering a Halal Lifestyle Through Smart Giving and Ethical InvestingSpeakers: Ust. Devin Halim Wijaya (Influencer & Entrepreneur), Prof. Nadtratutzzaman Hosain (Kepala BAZNAS) 14:15 – 15:30 | Halal ConnectFrom Modesty to Modernity: Embracing Halal Lifestyle in Fashion & BeautySpeakers: Intan Kusuma Fauzia, Dhini Aminarti (Influencer & Entrepreneur), Findi Novia Lusiniastari (Halal Beauty Decorative Marketing Group Head of ParagonCorp) 15:30 – 16:30 | Halal Connect Forum with BSI 16:30 – 16:45 | Closing CeremonySpeaker: Sekretaris Jenderal Kemenperin 17:00 – 18:00 | Guest Star PerformancePerformer: Lalahuta Kehadiran Tokoh Penting Berbagai tokoh hadir dalam acara ini, di antaranya pejabat Kementerian Perindustrian, BPJPH, Baznas, hingga perwakilan brand besar seperti Paragon, BRI, dan BSI. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian RI, Eko S.A. Cahyanto, menyampaikan apresiasinya: “Saya senang sekali, bangga sekali dengan Halal Indo 2025 yang jauh lebih baik, meriah, dan lebih sukses dari Halal Indo 2024. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mensukseskan acara ini. Capaian ini akan menjadi penyemangat untuk terus mendorong industri halal Indonesia.” Sementara itu, Project Manager Halal Indo 2025, Ismi Puspita, menegaskan: “Halal Indo 2025 menjadi momentum penting untuk pertumbuhan industri halal tanah air. Kami percaya capaian ini membuktikan bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama industri halal dunia.” Kehadiran dan pernyataan kedua tokoh tersebut semakin menegaskan bahwa Halal Indo bukan sekadar ajang pameran. Melainkan platform strategis yang mempertemukan pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membangun ekosistem halal yang berdaya saing global. Dukungan Multi-Stakeholder untuk Halal Indo 2025 Penyelenggaraan Halal Indo 2025 tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang menjadi tulang punggung kesuksesan acara.  Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), ID Survey, serta Baznas hadir memberikan legitimasi sekaligus penguatan ekosistem halal nasional.  Di sisi finansial, bank-bank besar nasional seperti BRI, BSI, BNI, dan Mandiri menjadi mitra utama yang memfasilitasi

SELENGKAPNYA