Daftar Isi

Asal Mula Pasta Gigi Disebut “Odol”: Bedah Bisnis Branding

Asal Mula Pasta Gigi Disebut “Odol”: Bedah Bisnis Branding Kuat

Istilah “odol” yang saat ini lazim digunakan di Indonesia untuk menyebut pasta gigi ternyata punya akar sejarah yang menarik. 

Produk pertama yang nama “Odol” ini diluncurkan bukan sebagai pasta gigi, melainkan sebagai obat bilas mulut (mouth-wash) di Jerman oleh Karl August Lingner pada tahun 1892. 

Lingner bekerja sama dengan kimiawan Bruno Richard Seifert (1861-1919) yang merancang preparat antiseptik dan campuran minyak esensial untuk perawatan mulut, yang kemudian dipasarkan dengan nama “Odol”. 

Merek “Odol” terdaftar secara resmi sebagai “Zahn- und Mund-Reinigungs-Mittel” (agen pembersih gigi dan mulut) di Jerman pada 5 Maret 1895.

Seiring waktu, “Odol” bukan hanya produk mulut di Jerman, tetapi juga diproduksi di lebih dari 20 negara pada akhir 1930-an.

Perjalanan Odol ke Indonesia & Evolusi Pemakaian Kata

Pada masa Hindia Belanda, produk Odol merupakan salah satu barang konsumsi modern yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan kolonial. 

Produk ini awalnya berasal dari Jerman, dikembangkan oleh Karl August Lingner melalui Dresdner Chemische Laboratorium Lingner sekitar akhir abad ke-19. 

Awalnya, Odol bukan pasta gigi, melainkan cairan pembersih mulut (mouthwash) antiseptik yang kemudian dikembangkan menjadi pasta gigi berkemasan pada awal 1900-an. 

Popularitasnya dengan cepat meluas ke berbagai negara Eropa hingga ke koloni Belanda di Asia, termasuk Hindia Belanda.

Melalui distribusi yang dilakukan oleh para pedagang Eropa di Batavia, Surabaya, dan Semarang, Odol diperkenalkan kepada masyarakat sebagai produk kebersihan bergaya modern. 

Iklan-iklan di surat kabar kolonial seperti Bataviasch Nieuwsblad sekitar tahun 1890-an bahkan mencantumkan merek Odol sebagai salah satu “tandpasta” atau pasta gigi impor yang paling banyak dicari. 

Di kalangan warga Belanda dan pribumi terdidik, penggunaan Odol menjadi simbol modernitas dan kemajuan, menggantikan kebiasaan lama membersihkan gigi dengan bahan alami seperti arang, batu bata halus, atau campuran pinang dan kapur sirih.

Baca juga  5 Strategi Marketing Tolak Angin Sampai Go Internasional 

Dalam konteks bahasa, fenomena menarik terjadi. Istilah Belanda “tandpasta” berarti “pasta gigi” (tand = gigi, pasta = pasta).

Ini dianggap sulit diucapkan oleh masyarakat lokal yang belum terbiasa dengan pelafalan bahasa Belanda. 

Sebaliknya, penyebutan nama merek Odol jauh lebih sederhana, mudah diingat, dan praktis digunakan dalam percakapan sehari-hari. 

Akibatnya, masyarakat mulai menggunakan kata Odol untuk menyebut pasta gigi secara umum, tanpa memperhatikan mereknya.

Seiring berjalannya waktu, meskipun merek Odol asli mulai menghilang dari pasaran dan digantikan oleh merek-merek global seperti Pepsodent, Colgate, atau Close-Up, istilah “Odol” tetap hidup di masyarakat Indonesia sebagai nama generik untuk pasta gigi. 

Fenomena ini dalam kajian bahasa disebut sebagai generikasi merek (genericide), yakni ketika nama suatu merek yang sangat dominan di pasaran berubah menjadi sebutan umum untuk seluruh kategori produk.

“Odol” Jadi Nama Generik: Fenomena Bahasa dan Branding

Fenomena ketika sebuah merek berubah menjadi istilah umum untuk seluruh kategori produk dikenal dengan istilah generikasi merek (brand genericization). 

Ini terjadi ketika merek dagang tertentu begitu populer dan mendominasi pasar sehingga masyarakat mulai menggunakan nama merek itu untuk menyebut semua produk sejenis.

Contoh fenomena serupa bisa ditemukan di berbagai negara. 

Di Amerika Serikat, kata “Xerox” sering digunakan untuk menyebut kegiatan memfotokopi, meskipun mesin yang digunakan bukan keluaran merek Xerox. 

Di Indonesia, istilah “Aqua” digunakan secara luas untuk menyebut air mineral dalam kemasan, meskipun yang diminum mungkin berasal dari merek lain seperti Le Minerale, Club, atau Cleo. 

Begitu pula dengan “Odol”, yang awalnya adalah merek dagang pasta gigi asal Jerman, kini digunakan secara umum untuk menyebut semua jenis pasta gigi, baik merek Pepsodent, Colgate, Close-Up, dan lainnya.

Baca juga  Logo Baru Suzuki: Modern dan Klaim Ramah Lingkungan

Fenomena ini mencerminkan kekuatan branding yang luar biasa.

Merek mampu menembus batas produk dan menanamkan diri dalam bahasa sehari-hari. Dalam kasus Odol, keberhasilan branding ini tidak hanya berdampak komersial pada masanya, tetapi juga meninggalkan warisan linguistik yang bertahan lintas generasi.

Dalam konteks Indonesia, kata “odol” sudah melampaui fungsi asalnya sebagai nama produk kebersihan mulut. 

Pelajaran Branding dari Kasus “Odol”

Keberhasilan “Odol” yang bertransformasi dari sekadar merek dagang menjadi istilah umum dalam bahasa Indonesia menawarkan sejumlah pelajaran penting bagi dunia bisnis dan strategi pemasaran modern. 

Kasus ini menunjukkan bagaimana kekuatan merek tidak hanya diukur dari penjualan, tetapi juga dari jejak budaya dan bahasa yang ditinggalkannya.

1. Konsistensi dan Diferensiasi

“Odol” menjadi sinonim dari pasta gigi karena pada masanya merupakan pemain pertama (first mover) yang hadir secara luas di pasar Hindia Belanda. 

Nah, ketika belum banyak kompetitor, Odol mampu menanamkan asosiasi kuat antara produknya dan kategori produk secara keseluruhan.

2. Penyebaran Melalui Bahasa

Adaptasi linguistik lokal dapat menjadi kunci dalam memperluas jangkauan merek. 

Merek yang mudah disebut dan diterima oleh masyarakat lintas budaya berpeluang membangun awareness tanpa harus bergantung sepenuhnya pada iklan atau media formal.

3. Nilai Emosional dan Nostalgia

Walaupun produk “Odol” sudah tidak beredar, kata tersebut tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Indonesia. 

Istilah ini menghadirkan nuansa nostalgia dan keakraban, mengingatkan pada masa-masa awal modernisasi gaya hidup masyarakat.

Bagi pelaku usaha, hal ini menunjukkan pentingnya emosional branding, ya!

Kesimpulan

Dari produk bilas mulut Jerman di abad ke-19 hingga menjadi istilah sehari-hari di Indonesia, “Odol” adalah bukti nyata betapa kuatnya pengaruh sebuah merek dalam membentuk budaya.

Baca juga  Domino’s Pizza: Strategi Brand Cerdas Hadapi Kompetitor Besar

Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagaimana brand awareness bisa berubah menjadi warisan bahasa dan peluang bisnis jangka panjang, ya!

Daftar Isi