Daftar Isi

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Indomie dan Mie Gaga: Pecah Kongsi Dua Merek Mi Instan Indonesia

Belakangan ini, persaingan Indomie dan Mie Gaga kembali ramai dibicarakan. Bukan cuma soal mana yang lebih enak, tetapi juga karena banyak warganet mulai membandingkan keduanya dari rasa, harga, varian, hingga sejarah di balik mereknya.

Namun, kalau dilihat lebih jauh, persaingan ini sebenarnya menarik dari sisi strategi bisnis.

Indomie tumbuh sebagai bagian dari ekosistem bisnis Indofood yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, produksi, hingga distribusi. Indofood bahkan menyebut model bisnisnya sebagai Total Food Solutions, dengan skala dan jaringan distribusi yang menjadi salah satu kekuatannya.

Di sisi lain, Mie Gaga berada di bawah PT Jakarana Tama, perusahaan yang telah berdiri sejak 1980 dan tidak hanya bermain di mi instan, tetapi juga produk makanan kaleng, sosis siap makan, serta bumbu. Perusahaan ini juga mengembangkan berbagai merek untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda.

Artinya, persaingan keduanya bukan sekadar “Indomie vs Gaga, siapa yang rasanya lebih enak?”

Ada strategi tentang membangun merek, membaca selera pasar, memperluas varian produk, membangun distribusi, hingga memanfaatkan momentum ketika sebuah produk menjadi bahan perbincangan di masyarakat.

Lalu, bagaimana sebenarnya para founder ini pecah kongsi hingga menghasilkan brand mie yang saling jadi kompetitor? Yuk, kita bahas!

Awal Mula Indomie

Cikal bakal Indomie bermula dari PT Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd, yang berdiri pada April 1970 sebagai anak usaha Djangkar Djati Group.

Perusahaan ini didirikan oleh Djajadi Djaja bersama tiga rekannya, yaitu Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma.

Merek Indomie sendiri baru diperkenalkan ke publik pada 1972, menjadikannya produk mi instan kedua yang muncul di Indonesia setelah Supermi, yang lebih dulu dirintis oleh Sjarif Adil Sagala dan Eka Widjaja Moeis.

Produk pertama yang diperkenalkan Indomie ke publik adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, rasa yang saat itu memang cocok dengan selera masyarakat Indonesia.

Nama Indomie sendiri merupakan singkatan dari Indonesia Mie, yang menandakan produk ini memang dirancang untuk pasar lokal sejak awal berdiri. Kelahiran Indomie juga berkaitan dengan kondisi pangan nasional saat itu.

Penciptaan Indomie dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras yang terjadi di Indonesia pada masa itu, sehingga mi instan hadir sebagai salah satu alternatif pangan yang lebih mudah diproduksi secara massal.

Sarimi dan Strategi Agresif Salim Group

Situasi mulai berubah pada awal 1980-an, ketika Salim Group yang dipimpin Liem Sioe Liong, atau yang dikenal dengan nama Sudono Salim, memutuskan masuk ke bisnis mi instan lewat merek Sarimi yang diproduksi melalui PT Sarimi Asli Jaya.

Menurut penelusuran Historia.id yang mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, dua peneliti yang secara khusus menulis riwayat bisnis Salim Group, langkah Salim masuk ke industri mi didorong oleh kebijakan pemerintah Orde Baru yang ingin mengurangi ketergantungan pada beras impor.

Pada 1978 saja, pemerintah Indonesia tercatat menghabiskan sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat hanya untuk mengimpor beras, dan sebagian gaji pegawai negeri serta tentara pada masa itu masih dibayarkan dalam bentuk beras.

Momentum ini semakin kuat karena Salim Group sudah lebih dulu memiliki Bogasari, pabrik penggilingan gandum yang menurut situs resmi Indofood mulai diintegrasikan ke dalam bisnis grup pada pertengahan 1990-an, meski operasional awalnya sudah berjalan sejak 1971.

Baca juga  Apple: Sejarah, Pertumbuhan, dan Strategi Pemasarannya

Dengan bahan baku tepung yang sudah dikuasai sendiri, Salim Group punya modal besar untuk terjun ke industri hilir mi instan.

Ketika Sarimi diluncurkan, Salim Group menggarap pasar dengan sangat agresif.

Salim Group menyediakan dana sebesar 10 juta dolar AS untuk memasarkan Sarimi dan memasang harga jual di bawah Indomie maupun Supermi.

Hasilnya, dalam waktu setahun saja Sarimi berhasil menguasai sekitar 40 persen pasar mi instan nasional.

Data pangsa pasar 40 persen ini juga dikutip secara konsisten oleh Tempo dan beberapa media lain yang menelusuri arsip sejarah industri mi instan, sehingga bisa dianggap sebagai angka yang cukup teruji lewat berbagai sumber independen.

PT Indofood Interna: Titik Temu Djajadi Djaja dan Salim Group

Salim Group sempat mengajak Djajadi untuk bekerja sama, tapi tawaran ini awalnya ditolak. Setelah penolakan itu, Salim semakin gencar memasarkan Sarimi hingga pangsa pasarnya melonjak tajam, dan tekanan ini yang akhirnya membuat Djajadi mempertimbangkan kembali sikapnya.

Namun pada 1984, keduanya resmi membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna Corporation. Dalam pembagian sahamnya, Djajadi dan rekan-rekannya memegang 57,5 persen saham, sementara Salim Group memegang 42,5 persen saham.

Posisi CEO di perusahaan gabungan ini pun masih dipercayakan kepada orang dekat Djajadi, yaitu Hendy Rusli, sesuai catatan yang dihimpun Serayunews dari berbagai sumber sejarah bisnis.

Akuisisi Supermi dan Dominasi Salim di Industri Mi Instan

Bergabungnya Indomie dan Sarimi dalam satu perusahaan membuat posisi mereka di pasar semakin kuat.

Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah bergabung, usaha patungan ini sudah cukup kuat untuk mengakuisisi merek terkenal lainnya, yaitu Supermi, yang pada 1986 diambil alih setelah perusahaannya mengalami masalah internal dan produksinya menurun.

Fakta akuisisi Supermi pada 1986 ini juga tercatat dalam ensiklopedia bisnis Universitas STEKOM Semarang yang menyusun linimasa resmi perjalanan Indofood berdasarkan dokumen korporat, sehingga memperkuat validitas tanggal tersebut.

Dampak dari penguasaan pasar ini cukup signifikan.

Berdasarkan data yang dihimpun Historia.id, pada 1994, tahun ketika Indofood resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia, Salim Group menguasai hampir 80 persen pasar mi instan nasional, dengan rincian Indomie menguasai 60,3 persen, Supermi 7,8 persen, Sarimi 6,7 persen, dan sisanya sekitar 4 persen dikuasai merek lain.

Pada tahun yang sama, Indofood bahkan tercatat sebagai produsen mi instan terbesar di dunia, melampaui Nissin Food Products, perusahaan asal Jepang yang menjadi pelopor mi instan secara global sejak 1958.

Awal Konflik Perusahaan Mie Indonesia

Kesuksesan besar yang diraih PT Indofood Interna ternyata tidak berjalan mulus bagi Djajadi dalam jangka panjang.

Pada 1993, Djajadi menghadapi kesulitan finansial yang cukup serius, dan kondisi ini menjadi celah bagi Salim Group untuk mengambil alih seluruh kepemilikan dan kendali perusahaan.

Proses pergeseran kendali dari Djajadi ke Salim Group ini sebenarnya berlangsung bertahap, dengan sejumlah sumber sejarah bisnis mencatat bahwa penguasaan penuh oleh Salim Group terjadi antara 1992 hingga 1993.

Djajadi tidak tinggal diam menghadapi situasi ini, dan bagian inilah yang justru punya jejak dokumen paling kuat secara hukum.

Pada 1999, Djajadi melayangkan gugatan kepada PT Indofood Sukses Makmur dan empat mantan pejabatnya terkait pembelian merek dagang yang dilakukan perusahaan tersebut pada pertengahan 1980-an.

Baca juga  Yakult: Kisah Sukses Global dan Peran Sentral “Yakult Lady”

Yang membuat informasi ini cukup kredibel untuk dijadikan rujukan, CNBC Indonesia secara spesifik mengutip artikel Wall Street Journal yang terbit pada 2 Februari 1999, di mana menurut dokumen pengadilan yang diperoleh Dow Jones News Wire kala itu, perusahaan milik Djajadi yaitu PT Wicaksana Overseas International tercatat pernah menjadi salah satu distributor produk Indofood.

Berdasarkan dokumen yang diajukan ke pengadilan, Djajadi mengklaim awalnya memiliki 11 merek makanan, termasuk Indomie dan Chiki, yang menurutnya digunakan tanpa kompensasi yang layak setelah proses pengalihan saham terjadi.

Kebangkitan Djajadi Lewat Mie Gaga

Setelah kehilangan kendali atas Indomie, Djajadi tidak berhenti berbisnis di industri makanan. Ia melanjutkan usahanya lewat PT Jakarana Tama, perusahaan yang memproduksi Mie Gaga.

Soal tahun pendirian resminya, ada sedikit perbedaan catatan di antara sumber yang ada. Tempo dan SWA, yang mengutip laman resmi Gaga Food, menyebutkan PT Jakarana Tama berdiri pada 20 Juni 1980, sementara sumber lain seperti blog arsip iklan Dari Rak Toko mencatat entitas ini baru terdaftar secara resmi pada 1992, setelah Djajadi menjual kepemilikannya di Sanmaru ke Indofood.

Perbedaan ini kemungkinan besar berasal dari perbedaan antara tanggal pendirian firma awal dan tanggal pendaftaran resmi badan usaha untuk lini produk tertentu, sehingga kamu perlu memperlakukan detail tanggal ini dengan sedikit kehati-hatian meski inti ceritanya tetap konsisten di semua sumber.

Mengutip situs resmi Gagafood.co.id, Djajadi masih tertera sebagai komisaris di perusahaan yang menjual produk Mie Gaga, Mie “100”, “1000”, Mie Gepeng, dan Mie Telor A1.

Selain lini mi instan, PT Jakarana Tama juga memproduksi Otak-otak dan Sosis Loncat, serta menurut profil resmi perusahaan di LinkedIn, kini juga mengembangkan produk inovatif bernama Healtimie, mi berbahan barley hijau yang diklaim tanpa minyak dan MSG.

Profil resmi tersebut juga menyebutkan bahwa Jakarana Tama memiliki pabrik penggilingan tepung sendiri yang mengolah gandum prima asal Australia, menunjukkan bahwa perusahaan ini sudah membangun rantai produksi yang cukup mandiri.

Klarifikasi Resmi dari Pihak Mie Gaga

Cerita soal keterkaitan Indomie dan Mie Gaga ini sempat memicu klarifikasi resmi dari pihak Djajadi sendiri.

Ketika informasi ini viral di media sosial pada Agustus 2023, akun Instagram resmi Mie Gaga menegaskan bahwa Djajadi Djaja dan PT Jakarana Tama tidak pernah membuat atau menjadi sumber dari konten-konten yang beredar terkait isu tersebut.

Melalui pernyataan resminya, Djajadi menyampaikan bahwa dirinya dan PT Jakarana Tama tidak bertanggung jawab atas isi pemberitaan dalam konten yang diunggah, dan meminta pihak yang membuat konten atau menggunakan teknologi AI untuk menyerupai dirinya agar dihentikan, bahkan menyatakan mencadangkan hak hukum untuk menindaklanjuti hal tersebut.

Klarifikasi resmi ini penting untuk kamu ketahui, sebab menunjukkan bahwa pihak perusahaan sendiri mengonfirmasi kebenaran garis besar ceritanya (bahwa Djajadi memang pernah menciptakan Indomie), sambil tetap membantah keterlibatannya dalam konten-konten spekulatif tertentu yang beredar di media sosial.

Pengalaman Konsumen Terhadap Indomie dan Mie Gaga

Ketika muncul narasi bahwa dua brand yang selama ini terasa berbeda ternyata punya akar sejarah yang sama, wajar kalau reaksi publik cukup ramai, karena ini menyentuh sisi nostalgia banyak orang terhadap produk yang sudah jadi bagian dari keseharian mereka.

Selain faktor emosional, pertimbangan harga juga jadi alasan yang cukup masuk akal bagi konsumen untuk mencoba Mie Gaga.

Baca juga  Logo Baru Suzuki: Modern dan Klaim Ramah Lingkungan

Harganya yang lebih terjangkau membuat produk ini punya daya tarik tersendiri, terutama bagi konsumen yang sensitif terhadap harga di tengah kondisi ekonomi yang menuntut mereka lebih cermat mengatur pengeluaran harian.

Ditambah lagi, konten perbandingan rasa yang bertebaran di TikTok dan YouTube membuat orang jadi lebih terbuka untuk mencoba alternatif yang selama ini jarang dilirik.

Penting juga untuk kamu pahami bahwa persaingan bisnis semacam ini sebenarnya bukan hal baru di industri consumer goods Indonesia.

Perpecahan mitra bisnis yang berujung pada lahirnya kompetitor baru cukup sering terjadi, terutama di sektor makanan dan minuman yang punya persaingan ketat untuk merebut hati konsumen.

Yang membuat kasus Indomie dan Mie Gaga terasa unik adalah keterkaitan personal yang begitu dekat, di mana sosok yang sama berada di balik dua produk yang sekarang sering dibandingkan konsumen di rak minimarket maupun warung dekat rumah kamu.

Kesimpulan

Sampai saat ini, Indomie tetap menjadi pemain dominan di pasar mi instan Indonesia dengan jaringan distribusi dan ekspor yang sangat luas.

Sementara Mie Gaga perlahan membangun basis konsumennya sendiri lewat harga yang kompetitif dan gelombang eksposur dari media sosial.

Kalau kamu susun kembali seluruh rangkaian faktanya, mulai dari pendirian Sanmaru pada 1970, masuknya Salim lewat Sarimi di awal 1980-an, pembentukan Indofood Interna pada 1984, akuisisi Supermi pada 1986, konflik keuangan pada 1993, gugatan hukum pada 1999 yang tercatat di Wall Street Journal, sampai kebangkitan Djajadi lewat Jakarana Tama dan Mie Gaga, semuanya menunjukkan bahwa dua brand yang terlihat bersaing di rak toko sebenarnya berbagi akar yang sama pada masa lalu.

Referensi

Sumber resmi perusahaan

  1. Indofood, “Brief History of the Company” – https://www.indofood.com/company/history
  2. CNBC Indonesia (mengutip Gagafood.co.id dan Wall Street Journal 2 Februari 1999), “Produsen Mie Gaga Buka Suara Soal Indomie dan Djajadi Djaja” – https://www.cnbcindonesia.com/market/20230825154431-17-466210/produsen-mie-gaga-buka-suara-soal-indomie-dan-djajadi-djaja

Media arus utama dan jurnalistik
3. Tempo, “Sejarah Indomie, Mie Instan Nomor Satu di Indonesia” – https://www.tempo.co/ekonomi/sejarah-indomie-mie-instan-nomor-satu-di-indonesia-145949
4. Tempo, “Mengenal Djajadi Djaja, Pendiri Mie Gaga yang Lagi Viral” – https://www.tempo.co/ekonomi/mengenal-djajadi-djaja-pendiri-mie-gaga-yang-lagi-viral-149882
5. CNBC Indonesia, “Bukan Salim Indofood, Ternyata Ini Penemu Indomie” – https://www.cnbcindonesia.com/market/20230825092050-17-466038/bukan-salim-indofood-ternyata-ini-penemu-indomie
6. CNBC Indonesia, “Jurus Grup Salim Bikin Indomie Jadi Raja Mi Instan Dunia” – https://www.cnbcindonesia.com/market/20191111223348-17-114477/jurus-grup-salim-bikin-indomie-jadi-raja-mi-instan-dunia
7. Fortune Indonesia, “Sejarah dan Profil Perusahaan Indofood” – https://www.fortuneidn.com/business/sejarah-dan-profil-perusahaan-indofood-00-29s55-83zly9
8. Tirto, “Berapa Umur Djajadi Djaja Pencipta Indomie dan Profil Singkatnya” – https://tirto.id/berapa-umur-djajadi-djaja-pencipta-indomie-dan-profil-singkatnya-gPyl
9. SWA, “Kisah Djajadi Djaja, Pendiri Mie Gaga yang Juga Pencetus Indomie” – https://swa.co.id/swa/profile/profile-professional/kisah-djajadi-djaja-pendiri-mie-gaga-yang-juga-pencetus-indomie
10. IDN Times, “Pemilik Mie Gaga, Djajadi Djaja Buka Suara soal Indomie” – https://www.idntimes.com/business/economy/pemilik-mie-gaga-djajadi-djaja-buka-suara-soal-indomie-00-gshdq-cc944t
11. Serayunews, “Profil dan Biodata Djajadi Djaja, Pencipta Mie Gaga dan Mantan Pemilik Indomie yang Viral” – https://serayunews.com/profil-dan-biodata-djajadi-djaja-pencipta-mie-gaga-dan-mantan-pemilik-indomie-yang-viral

Sumber sejarah dan akademik
12. Historia.id, “Tentang Tiga Mi Instan” (mengutip buku “Liem Sioe Liong’s Salim Group” karya Richard Borsuk dan Nancy Chng) – https://historia.id/ekonomi/articles/tentang-tiga-mi-instan-DEn0d
13. Ensiklopedia Universitas STEKOM Semarang, “Indofood Sukses Makmur” – https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Indofood_Sukses_Makmur
14. Laporan Kerja Praktik, “Sejarah Singkat Perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Divisi Noodle”, Universitas Katolik Musi Charitas – http://eprints.ukmc.ac.id/2893/4/KP-TI-2019-1612008-chapter1.pdf
15. PT Jakarana Tama, profil resmi perusahaan di LinkedIn – https://id.linkedin.com/company/pt-jakarana-tama

Daftar Isi