Daftar Isi

5 Dampak Perang Iran-Israel ke Ekonomi Indonesia, UMKM Lebih Berat Bebannya

5 Dampak Perang Iran-Israel ke Ekonomi Indonesia, UMKM Lebih Berat Bebannya

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik bersenjata antara Iran dan Israel mulai mengguncang stabilitas ekonomi global.

Indonesia, sebagai negara yang perekonomiannya masih bergantung pada pasokan energi dan bahan pangan dari luar negeri, tidak luput dari imbasnya.

Dampak tidak langsung mulai terlihat dari volatilitas harga energi hingga potensi tekanan fiskal.

Pada akhirnya menempatkan pelaku usaha kecil atau UMKM sebagai kelompok yang paling terdampak. 

Berikut lima dampak signifikan yang perlu menjadi perhatian.

1. Harga Minyak Meroket, Anggaran Energi Terancam

  • Harga minyak melonjak karena jalur penting pengiriman minyak di Timur Tengah terancam terganggu.
  • Indonesia masih beli banyak minyak dari luar, jadi otomatis terkena dampaknya.
  • Kenaikan harga ini bisa bikin listrik, BBM, dan kebutuhan pokok ikut naik.
  • Pemerintah mungkin harus tambah anggaran subsidi supaya harga tetap terjangkau.
  • UMKM yang bergantung pada transportasi dan listrik jadi semakin berat bebannya.

Meningkatnya eskalasi militer antara dua negara di kawasan Teluk tersebut telah mengerek harga minyak dunia. 

Pasar khawatir suplai global terganggu.

Terutama jika jalur strategis Selat Hormuz terblokir, akan mendorong kenaikan harga yang tajam.

Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak, situasi ini menjadi pukulan berat. 

Kenaikan harga minyak tidak hanya mengganggu kestabilan harga dalam negeri.

Bisa saja juga berpotensi memperbesar kebutuhan subsidi energi, menambah tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, dan memicu lonjakan inflasi.

Apalagi pada sektor-sektor sensitif seperti energi dan bahan pokok.

2. Keseimbangan Fiskal Terancam Akibat Kenaikan Beban Subsidi

  • Harga minyak naik bikin subsidi BBM dari pemerintah juga ikut naik.
  • Akibatnya, pengeluaran negara bisa lebih besar dari rencana awal.
  • Kalau subsidi makin besar, dana untuk kebutuhan lain seperti pendidikan bisa dikurangi.
  • Pemerintah harus menyesuaikan ulang anggaran agar tetap seimbang.
  • Ini bisa berdampak ke layanan publik yang biasa dinikmati masyarakat.
Baca juga  RANS Nusantara Hebat Raffi Ahmad–Kaesang Kini Jadi Lapangan Padel

Meningginya harga minyak mentah berisiko mengerek biaya subsidi bahan bakar yang harus ditanggung negara. 

Kondisi ini menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam posisi rawan.

Sebab, pemerintah harus menambal kebutuhan subsidi yang kian membesar.

Jika tren harga minyak tak kunjung turun, pos pengeluaran pemerintah bisa melampaui batas yang direncanakan. 

Penyesuaian terhadap postur anggaran menjadi keniscayaan.

Khususnya untuk merespons beban subsidi yang tidak terduga besarannya.

3. Inflasi Menggigit, Daya Beli Rakyat Tertekan

  • Biaya kirim barang dari satu daerah ke daerah lain jadi lebih mahal.
  • Harga bahan makanan dan barang impor kemungkinan ikut naik.
  • Orang jadi lebih hemat, belanja kebutuhan dikurangi.
  • UMKM yang biasanya mengandalkan belanja masyarakat bisa kehilangan banyak pelanggan.
  • Pertumbuhan ekonomi bisa melambat karena belanja rumah tangga menurun.

Dampak dari kenaikan harga minyak bukan hanya dirasakan pada pompa bensin. 

Efek lanjutannya adalah kenaikan biaya logistik dan distribusi.

Nantinya bisa mendorong harga pangan naik. 

Produk-produk impor pun terdampak, seiring dengan meningkatnya biaya pengadaan barang dari luar negeri.

Inflasi yang membubung akan memukul daya beli masyarakat. 

Dalam jangka pendek, konsumsi rumah tangga yang jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat. 

Sektor UMKM yang sangat tergantung pada perputaran konsumsi dalam negeri akan ikut menanggung beban paling besar.

4. Pasar Finansial Bergolak, Rupiah Rentan Tertekan

  • Investor asing mulai menarik uang mereka dari Indonesia karena kondisi dunia tidak pasti.
  • Uang dolar jadi lebih kuat, sedangkan rupiah melemah.
  • Barang-barang yang dibeli dari luar negeri harganya jadi naik.
  • Ini bisa memicu harga-harga naik lagi dan bikin masyarakat makin terbebani.
  • Pemerintah perlu kerja sama erat antara Bank Indonesia dan kementerian keuangan supaya ekonomi tetap stabil.
Baca juga  Bahlil: Izin Tambang Koperasi Mulai Dibagikan Desember

Ketidakpastian akibat konflik membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Arah aliran modal kini berbalik ke aset-aset aman seperti dolar AS dan emas.

Akibatnya, tekanan terhadap pasar saham dan obligasi domestik makin nyata.

Nilai tukar rupiah pun berisiko melemah jika capital outflow berlanjut. 

Kurs yang terdepresiasi akan membuat barang impor lebih mahal dan memperbesar tekanan inflasi dari sisi biaya. 

Dalam situasi ini, koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal sangat diperlukan agar stabilitas makro tetap terjaga.

5. Rantai Pasok Global Terganggu, Biaya Logistik Naik

  • Jalur pengiriman barang dari luar negeri bisa terganggu karena konflik.
  • Waktu pengiriman bisa molor, ongkos kirim juga naik.
  • Banyak industri di Indonesia masih butuh bahan baku dari luar, jadi langsung kena dampaknya.
  • Harga bahan produksi naik, barang jadi lebih mahal untuk dijual.
  • UMKM bisa kesulitan menjaga harga tetap terjangkau untuk konsumennya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menimbulkan risiko baru dalam rantai distribusi global. 

Jalur pelayaran yang melewati kawasan rawan konflik kini menghadapi potensi gangguan.

Baik dalam bentuk keterlambatan pengiriman maupun lonjakan biaya angkut.

Indonesia yang masih banyak mengandalkan bahan baku impor untuk sektor manufaktur, elektronik, dan tekstil, kemungkinan akan merasakan dampaknya dalam beberapa bulan ke depan. 

Biaya produksi akan naik, dan kecepatan distribusi barang bisa terganggu, yang pada akhirnya membebani harga jual produk.

Pemerintah Siaga, Tapi Efek Menjalar Tak Bisa Diabaikan

Pemerintah Indonesia sejauh ini menyatakan bahwa dampak langsung dari konflik belum signifikan terhadap perekonomian nasional. 

Namun, kewaspadaan tetap dijaga, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak dan efek lanjutannya terhadap stabilitas fiskal dan harga pangan.

Baca juga  Presiden Prabowo: Program MBG Berhasil Ciptakan 290 Ribu Lapangan Kerja

Kebijakan stabilisasi, termasuk pengendalian inflasi pangan serta penguatan cadangan devisa untuk menjaga kurs rupiah, tengah digodok sebagai langkah mitigasi. 

Di sisi lain, pelaku usaha diminta untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas pasar agar tetap kompetitif di tengah tekanan global.

Perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya pun bisa mengguncang dapur rakyat. Dalam dunia yang saling terhubung seperti saat ini, krisis regional tak lagi jadi urusan lokal. Indonesia harus tetap waspada dan gesit dalam merespons setiap gejolak global yang bisa berdampak pada ekonomi nasional.

Daftar Isi