Daftar Isi

Rahasia Kopi TUKU Laris Tanpa Aplikasi dan Endorse Artis: Omset Tembus Rp 1 Miliar per Hari

Rahasia Kopi TUKU Laris Tanpa Aplikasi dan Endorse Artis: Omset Tembus Rp 1 Miliar per Hari

Sekarang ini, bisnis kopi kekinian yang bertumpu pada aplikasi, influencer, dan iklan digital besar-besaran.

Namun, ada satu nama yang justru mengambil jalur berbeda dam berhasil besar. 

Ialah kopi TUKU.

Bagi kami, TUKU adalah salah satu fenomena bisnis yang menarik untuk dicermati. 

Bayangkan saja, tanpa aplikasi pemesanan sendiri, tanpa menggandeng artis papan atas untuk kampanye pemasaran, brand ini tetap bisa mencatat omzet hingga Rp 1 miliar per hari.

Apa rahasia dibaliknya?

Profil Singkat TUKU: Kopi Enak untuk Semua Orang

Kami percaya, setiap bisnis hebat dimulai dari visi yang kuat. 

TUKU memegang erat visi mereka: “Kopi enak untuk semua orang.”

Melalui visi ini, mereka tidak menjual kemewahan, tidak pula menjual status. 

Mereka menjual pengalaman pelanggan untuk bisa dinikmati semua orang.

Rasa kopi yang konsisten, pelayanan yang tulus, dan suasana kedai yang membumi.

Dengan positioning sebagai “kopi rakyat”, TUKU ternyata berhasil membangun kedekatan dengan berbagai kalangan.

Mulai dari dari pekerja kelas atas sampai menengah ke bawah.

Semua merasa punya tempat yang sama untuk menikmati secangkir kopi TUKU.

Omzet TUKU Capai Rp 1 Miliar per Hari

Kami cukup terkejut ketika mengetahui bahwa TUKU kini memiliki 60 kedai dan menghasilkan omzet sekitar Rp 1 miliar setiap harinya.

Angka ini sangat impresif jika dibandingkan dengan banyak brand kopi besar lainnya yang perlu mengandalkan strategi digital agresif, seperti:

  • Peluncuran aplikasi pemesanan khusus
  • Iklan media sosial dengan budget miliaran
  • Endorsement dari selebriti atau food vlogger ternama

Namun TUKU membuktikan bahwa kekuatan grassroots masih bisa mengalahkan taktik-taktik modern tersebut.

Strategi Promosi Human-to-Human, Bukan App-to-Human

Setidaknya, ada tiga pendekatan unik yang menjadi tulang punggung strategi promosi TUKU:

1. Tanpa Aplikasi Sendiri

TUKU memilih untuk tidak membuat aplikasi pemesanan sendiri. 

Mereka mengandalkan kehadiran fisik pelanggan ke kedai dan menggunakan platform umum seperti WhatsApp atau GoFood jika memang dibutuhkan.

Bagi kami, ini adalah pendekatan yang berani. 

Menghindari aplikasi berarti kehilangan data digital pelanggan.

Tapi, TUKU justru menambalnya dengan pendekatan yang lebih humanis.

2. Tanpa Endorse Artis

Saat banyak brand berlomba menggaet nama besar, TUKU justru tumbuh tanpa satu pun kampanye dengan selebriti.

Baca juga  Perusahaan yang Bikin Musuh Sendiri: Strategi Avoskin, Lacoco, dan Looké

Strategi ini menegaskan bahwa yang mereka jual bukan “gaya hidup instan”.

Melainkan pengalaman yang otentik. 

Dan pengalaman inilah tersebar luas  lewat kekuatan word of mouth atau mulut ke mulut, bukan iklan viral.

3. Fokus pada Pengalaman Pelanggan

Inilah titik terkuat TUKU menurut kami. 

Setiap kedai dijaga dengan semangat pelayanan yang konsisten. 

Barista yang ramah, suasana yang akrab, dan produk yang stabil dari segi rasa.

Strategi ini memang tidak bisa di-scaling cepat, tapi justru bisa membentuk loyalitas jangka panjang.

Pertumbuhan Bisnis TUKU: Lambat Tapi Konsisten

Banyak brand berlomba-lomba membuka puluhan cabang dalam waktu singkat.

Namun, TUKU memilih jalur berbeda: pelan, tapi mantap. 

Sebagai sesama pelaku bisnis, langkah ini tentu menarik perhatian kami.

Ketika brand-brand mulai ekspansi masif di awal berdirinya, TUKU tetap teguh pada prinsip “pelan tapi pasti”.

1. Tidak Terburu-buru Buka Banyak Cabang

Alih-alih mengejar jumlah, TUKU mengejar dampak. 

Kami melihat bagaimana mereka lebih memilih memperkuat satu cabang sebelum membuka yang berikutnya. 

Bagi mereka, satu kedai yang berkesan lebih berarti daripada sepuluh yang biasa saja.

2. Menjaga Kualitas Rasa dan Suasana

Setiap kedai TUKU memiliki “jiwa”. 

Mulai dari desain interior yang hangat, pelayanan yang ramah, hingga kualitas rasa yang konsisten.

Semuanya dirancang untuk menciptakan pengalaman yang berkesan bagi pelanggan.

3. Fokus pada Keberlangsungan Jangka Panjang

Dalam dunia bisnis, tidak semua kemenangan terlihat di depan mata. 

TUKU menunjukkan bahwa ketekunan dan kesabaran bisa menjadi strategi jangka panjang yang kuat. 

Mereka tidak tergoda dengan tren sesaat. Mereka hanya fokus membangun bisnis yang bisa bertahan dalam lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan

Tantangan dan Risiko Strategi TUKU

Kami memahami tidak ada strategi yang sepenuhnya aman. 

Langkah lambat dan konsisten seperti yang dilakukan TUKU tentu punya tantangan tersendiri. 

Kami mencoba melihat dua sisi dari strategi ini.

Celah #1: Kehilangan Momentum Ekspansi

Ada kalanya, pasar tidak menunggu. 

Saat TUKU memutuskan untuk tumbuh perlahan, ada potensi momentum hilang di kota-kota besar yang masih kosong dari kehadiran mereka.

Baca juga  3 Jenis Toko Indomaret dan Perbedaannya: Strategi Format Gerai

 Di saat yang sama, kompetitor bisa melenggang masuk dan mengisi celah tersebut lebih dulu.

Celah #2: Terlalu Bergantung pada Komunitas Lokal

TUKU sangat kuat di komunitasnya. Memang itu salah satu kekuatannya. 

Tapi jika terlalu bergantung pada satu tipe pasar, bisnis bisa stagnan.

Tanpa inovasi atau perluasan segmentasi, brand bisa kehilangan daya tariknya dalam jangka panjang.

Kami mencoba merangkum sudut pandang SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) terhadap brand kopi TUKU secara ringkas:

AspekAnalisis
Strengths (Kekuatan)– Rasa kopi yang khas dan enak karena memakai biji kopi lokal yang berkualitas.
– Nama TUKU sudah dikenal banyak orang dan punya banyak pelanggan setia.
– Selalu berinovasi, misalnya lewat produk kopi literan (TUKUCUR) dan kemasan yang ramah lingkungan.
– Toko sudah tersebar di banyak kota besar.
– Menjalin hubungan baik dengan petani lokal dan peduli terhadap keberlanjutan.
Weaknesses (Kelemahan)– Produksi masih belum bisa sepenuhnya mengimbangi permintaan yang terus naik.
– Produk belum menjangkau daerah-daerah yang jauh dari kota.
– Masih butuh tambahan modal untuk bisa berkembang lebih besar lagi.
Opportunities (Peluang)– Semakin banyak orang yang bangga dan suka minum kopi lokal.
– Ada peluang untuk menjual produk ke luar negeri dan mengembangkan produk lain selain kopi.
– Bisa memperkuat penjualan online dan menjalin kerjasama dengan bisnis lain, baik langsung ke konsumen (B2C) maupun antar bisnis (B2B).
Threats (Ancaman)– Banyak pesaing dari merek kopi lain, baik dari dalam maupun luar negeri.
– Selera dan kebiasaan konsumen bisa berubah sewaktu-waktu.
– Pasokan bahan baku dari petani lokal kadang tidak stabil.

Kesimpulan:
Kopi TUKU punya kekuatan yang besar dari segi rasa, inovasi, dan citra merek yang kuat. Tapi tetap harus memperhatikan beberapa kendala seperti kemampuan produksi dan persaingan di pasar agar bisnisnya bisa terus berkembang ke depannya.

Apakah Strategi TUKU Cocok untuk Bisnis Kamu?

Setelah melihat bagaimana perjalanan bisnis kopi TUKU berkembang, pertanyaan besarnya: apakah cara mereka menjalankan bisnis bisa kamu tiru? 

Baca juga  MR DIY: Berani Beda, Dominasi melalui Kota Pinggiran

Jawabannya tidak bisa disamaratakan, karena setiap bisnis punya kondisi dan tantangannya sendiri.

A.  Kapan Strategi TUKU Bisa Cocok?

Strategi TUKU bisa kamu pertimbangkan kalau bisnismu punya beberapa ciri berikut:

1) Produk Berkualitas dan Konsisten

TUKU bisa sukses karena rasa kopinya selalu enak dan stabil. 

Mereka tidak main-main soal kualitas. Kalau produk kamu juga punya kualitas tinggi dan bisa dijaga terus-menerus, maka strategi seperti TUKU yang mengandalkan promosi dari mulut ke mulut bisa bekerja dengan baik.

2) Pasar yang Menghargai Keaslian dan Keakraban

TUKU tidak menjual kemewahan, tapi pengalaman yang hangat dan personal. 

Kalau pelanggan kamu lebih suka hal-hal yang sederhana daripada yang mewah dan berkelas, maka pendekatan seperti TUKU bisa jadi cocok.

3) Siap Bertumbuh Perlahan tapi Pasti

Strategi TUKU bukan untuk kamu yang ingin untung cepat. 

Mereka membangun bisnis pelan-pelan, sambil menguatkan hubungan dengan pelanggan. 

Jadi, kamu perlu sabar dan punya modal cukup untuk bertahan dalam jangka panjang.

B. Kapan Strategi TUKU Tidak Cocok?

Tapi, strategi ini tidak cocok untuk semua jenis bisnis. Ada kondisi tertentu yang bikin strategi TUKU kurang pas:

1) Bisnis Kamu Harus Cepat Ikut Tren

Kalau kamu bergerak di bidang yang cepat berubah seperti fashion atau teknologi, strategi TUKU yang lambat dan stabil bisa membuat kamu ketinggalan.

2) Pelanggan Kamu Lebih Suka Online

Jika pelangganmu lebih suka belanja lewat aplikasi atau media sosial, maka strategi offline seperti TUKU bisa terasa kurang relevan.

3) Kamu Kesulitan Menjaga Kualitas Secara Merata

Menjaga kualitas di semua cabang butuh sistem yang kuat. 

Kalau kamu belum punya sumber daya yang cukup, pertumbuhan lambat malah bisa jadi beban.

FAQ

1. Siapa pemilik Kopi Tuku?

Kopi Tuku didirikan oleh Andanu Prasetyo, yang biasa dipanggil Tyo. Dia sudah punya pengalaman bekerja di dunia makanan dan minuman sejak tahun 2015.

2. Berapa harga Kopi Tuku untuk kemasan 1 liter?

Harga Kopi Tuku 1 liter dipatok sekitar Rp120.000, yang tergolong terjangkau dan menggunakan biji kopi lokal berkualitas.

3. Apakah Kopi Tuku merupakan bisnis franchise?

Kopi Tuku tidak menerapkan sistem franchise, melainkan mengelola bisnis secara terpusat dengan konsep local neighborhood dan fokus pada kualitas produk.

4. Di bawah naungan perusahaan apa Kopi Tuku beroperasi?

Kopi Tuku berada di bawah naungan MAKA Group. Perusahaan ini bergerak di bidang bisnis makanan dan minuman.

5. Apa menu favorit di Kopi Tuku?

Menu favorit Kopi Tuku adalah Kopi Susu Tetangga yang khas dengan cita rasa kopi premium dan gula aren, menjadi andalan pelanggan.

6. Apa yang dimaksud dengan Analisis SWOT?

Analisis SWOT adalah metode evaluasi yang menilai kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dalam suatu organisasi atau proyek.

7. Apa manfaat melakukan Analisis SWOT?

Manfaat Analisis SWOT adalah membantu organisasi memahami kondisi internal dan eksternal untuk mengambil keputusan strategis yang tepat dan meningkatkan efektivitas bisnis.

8. Bagaimana langkah-langkah melakukan Analisis SWOT?

Langkah melakukan Analisis SWOT:

  • Identifikasi kekuatan internal bisnis
  • Kenali kelemahan internal
  • Analisis peluang eksternal yang dapat dimanfaatkan
  • Evaluasi ancaman eksternal yang harus diwaspadai

Daftar Isi