Daftar Isi

Bedah Bisnis Roti’O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Bedah Bisnis Roti'O: Punya 600+ Outlet di Seluruh Indonesia

Kalau kamu pernah menunggu kereta di stasiun dan tiba-tiba mencium bau kopi hangat dari arah yang tidak terlalu jauh, kemungkinan besar itu berasal dari gerai Roti’O. 

Brand roti kopi lokal ini sekarang sudah hadir di ratusan stasiun, bandara, dan pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia.

Tapi dari mana sebenarnya Roti’O berasal? Dan kenapa produknya terasa sangat mirip dengan Rotiboy yang berasal dari Malaysia?

Di balik gerai kecil beraroma kopi itu, ada perjalanan bisnis yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

Strategi Bisnis yang Membuat Roti’O Berkembang

Ini bagian yang menarik dari sisi bisnis. Produk Rotiboy dan Roti’O memang terlihat mirip, tapi hasilnya sangat berbeda. 

Salah satu alasan utamanya ada pada keputusan strategi yang diambil Roti’O sejak awal berdiri.

a. Memilih Lokasi yang Tepat

Berbeda dari Rotiboy Indonesia yang banyak membuka gerai di pusat perbelanjaan, Roti’O memilih untuk hadir di stasiun dan bandara. Strategi ini ternyata memberikan hasil yang baik, terutama di Jakarta yang memang punya banyak stasiun dalam kota dengan jutaan penumpang setiap harinya.

Keputusan ini bukan sekadar soal memilih tempat yang ramai. Ini soal memahami di mana konsumen benar-benar membutuhkan sesuatu. Orang yang sedang menunggu kereta tidak akan pergi jauh untuk mencari makanan, tapi mereka akan membeli kalau gerai-nya ada tepat di dekat mereka.

b. Menggunakan Aroma sebagai Alat Pemasaran

Salah satu keunggulan yang dimiliki Roti’O, dan juga Rotiboy, adalah aroma kopi khas yang menyebar dari gerai mereka. Aroma ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sengaja dibiarkan menyebar bebas tanpa penutup, sehingga siapa pun yang melintas di sekitar gerai langsung bisa menciumnya. Orang yang awalnya tidak berniat membeli pun bisa berubah pikiran hanya karena lewat di depan gerai.

Baca juga  Strategi Marketing Scarlett x Hearts2Hearts: Tingkatkan Penjualan 24,61%

Strategi pemasaran berbasis indera penciuman seperti ini terbukti efektif untuk mendorong keputusan pembelian secara spontan.

c. Sistem yang Bisa Diulang di Banyak Lokasi

Sejak awal, Roti’O membangun sistem operasional yang bisa diterapkan secara konsisten di banyak tempat sekaligus. Ketika satu gerai berhasil, formulanya langsung bisa direplikasi di stasiun atau bandara lain. 

Hasilnya, ekspansi Roti’O berjalan cukup cepat karena tidak perlu memulai dari nol setiap kali membuka titik penjualan baru.

Perbandingan Roti’O dan Rotiboy di Pasar Indonesia

Dari sisi jumlah gerai, perbedaan antara keduanya cukup besar. Per 2022, Roti’O sudah berhasil membuka sekitar 680 outlet di seluruh Indonesia. Di tahun yang sama, Rotiboy memiliki sekitar 60 outlet dengan rencana penambahan 60 outlet baru hingga akhir 2023.

Perbedaan ini bukan semata-mata karena kualitas produk yang lebih baik di satu sisi. Keduanya punya produk yang disukai konsumen masing-masing. Yang membuat angkanya berbeda jauh adalah kecepatan dalam membaca dan menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen Indonesia.

Rotiboy lebih lama bertahan dengan model gerai berbasis mall, sementara Roti’O lebih cepat masuk ke ekosistem transportasi publik yang penggunanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat jaringan KRL dan commuter line di Indonesia terus berkembang, Roti’O sudah lebih dulu ada di sana.

Model Bisnis Roti’O

Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Gerai mereka paling banyak ditemukan di stasiun, bandara, terminal, dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar.

Soal model bisnisnya, sebagian besar gerai Roti’O dikelola langsung oleh perusahaan induk, yaitu PT Sebastian Citra Indonesia, melalui sistem operasional internal. Saat ini, Roti’O tidak membuka program franchise atau kemitraan secara terbuka kepada publik umum. 

Jadi kalau kamu berencana bergabung sebagai mitra, belum ada jalur resmi yang bisa diakses semua orang.

Baca juga  5 Strategi Marketing Tolak Angin Sampai Go Internasional 

Meski begitu, peluang kerja sama tetap ada bagi pihak-pihak yang punya lokasi strategis relevan, seperti di stasiun atau bandara. 

Kamu bisa menjajaki kemungkinan itu dengan menghubungi manajemen langsung melalui situs resmi Roti’O di www.rotio.id atau melalui akun Instagram @rotio.indonesia.

Tiga Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Roti’O

Dari kisah berkembangnya Roti’O, ada beberapa hal yang bisa dipelajari oleh siapa pun yang sedang membangun atau merencanakan sebuah usaha.

Pertama, lokasi bukan sekadar soal tempat yang ramai. 

Roti’O membuktikan bahwa memilih tempat berjualan harus didasarkan pada pemahaman tentang kapan dan di mana konsumen benar-benar membutuhkan produk tersebut. Stasiun dan bandara bukan hanya ramai, tapi juga merupakan titik di mana orang punya waktu tunggu dan kebutuhan yang spesifik.

Kedua, mengelola sendiri bisa lebih konsisten daripada membuka franchise luas. 

Dengan memegang kendali operasional di hampir semua gerainya, Roti’O bisa menjaga standar produk dan pelayanan tetap seragam di ratusan titik sekaligus. Ini adalah pilihan yang membutuhkan modal lebih besar, tapi hasilnya lebih terkontrol.

Ketiga, waktu masuk ke pasar sangat berpengaruh. 

Roti’O masuk ke ekosistem stasiun di saat jaringan transportasi publik Indonesia sedang dalam fase pertumbuhan. Slot lokasi yang mereka ambil duluan sekarang sudah jauh lebih sulit untuk direbut oleh kompetitor baru.

FAQ

Apakah Roti’O dan Rotiboy perusahaan yang sama?

Tidak. Rotiboy adalah merek asal Malaysia yang kepemilikannya tetap sama dari awal hingga sekarang. Roti’O adalah brand lokal Indonesia yang berdiri di bawah PT Sebastian Citra Indonesia. Keduanya adalah perusahaan yang terpisah secara hukum dan kepemilikan.

Siapa pemilik Roti’O?

Roti’O dimiliki dan dikelola oleh PT Sebastian Citra Indonesia, perusahaan yang didirikan pada 23 Mei 2012. Gerai pertama mereka dibuka di Stasiun Jakarta Kota. Dude Harlino, yang wajahnya sering muncul di iklan Roti’O, hanya berperan sebagai brand ambassador, bukan pemilik.

Baca juga  Studi Kasus Merek Restoran Padang "Pagi Sore" Merah dan Hijau

Apakah Roti’O membuka franchise?

Saat ini tidak. Roti’O mengelola gerainya secara internal dan belum membuka program kemitraan atau franchise secara terbuka kepada publik umum. Kalau kamu tertarik bermitra dan punya lokasi yang relevan, kamu bisa langsung menghubungi manajemen untuk menjajaki kemungkinan kerja sama.

Berapa jumlah outlet Roti’O saat ini?

Hingga 2025, Roti’O sudah memiliki lebih dari 600 outlet yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Kenapa produk Roti’O dan Rotiboy terasa mirip?

Keduanya sama-sama menggunakan konsep coffee bun, yaitu roti dengan aroma kopi khas dan tekstur lembut. Kemiripan ini yang sering membuat orang mengira keduanya berasal dari perusahaan yang sama, padahal tidak.

Referensi:

  • Mebiso.com (2025) — Menelisik Cerita di Balik Pecah Kongsi Roti O dan Roti Boy
  • Inilah.com — Mengenal Sosok Pemilik Roti’O
  • Pikiran Rakyat (2025) — Franchise Roti O: Info Harga Kemitraan dan Peluang Bisnis di 2025
  • Finansialku.com (2025) — Franchise Roti O: Cara Daftar, Biaya & Varian Menu
  • Detik60.com (2023) — Kisah Anak Baru Roti O Pecah Kongsi dengan Seniornya Roti Boy
  • Yumaka.id (2023) — Roti’O dan Roti Boy, Kisah Si Penggoda Iman

Daftar Isi