Tren “Halo qha qha, permisi…” awalnya viral di TikTok lewat format sapaan khas yang dipakai untuk membuka percakapan sebelum mengarah ke spill produk skincare.
Apalagi belakangan banyak ‘mewawancarai’ selebgram maupun artis papan atas.
Perbincangan makin ramai saat Tasya Farasya menyebut dirinya sempat mendapat tawaran bayaran untuk ikut menggunakan format “Halo qha qha” dalam konteks promosi skincare, namun memilih menolak.
Dari situ publik mulai mempertanyakan apakah tren tersebut benar benar organik atau memang sudah diarahkan sebagai pola promosi terselubung.
Karena yang dibahas adalah skincare, sensitivitas audiens jadi lebih tinggi.
Produk perawatan wajah menyangkut kondisi kulit, kecocokan, bahkan kesehatan.
Jadi ketika format yang terlihat spontan ternyata berpotensi disisipi promosi, sebagian orang merasa perlu kejelasan. Bukan berarti promosi itu salah, tapi transparansi jadi poin penting.
Di sinilah tantangan marketing sosial media hari ini muncul. Tetap relevan dengan tren tanpa membuat audiens merasa dibelokkan tanpa sadar.
Dari sini muncul pertanyaan penting bagi pelaku usaha dan kreator konten: Bagaimana memanfaatkan tren tanpa mengorbankan kepercayaan yang sudah dibangun?
Mengapa Audiens Bisa “Tertipu” di Sosial Media?
Rasa tertipu di sosial media biasanya tidak muncul karena produknya semata, tetapi karena cara pesan itu disampaikan.
Ada beberapa pola yang sering membuat audiens menjadi skeptis terhadap konten branded.
1. Konten Terlalu Komersial
Ketika satu akun yang biasanya berbagi cerita, edukasi, atau hiburan tiba tiba dipenuhi ajakan membeli, audiens bisa merasa hubungan yang terbangun berubah arah.
Jika hampir setiap unggahan berisi promosi, persepsi yang muncul adalah akun tersebut lebih mementingkan transaksi dibanding relasi.
Dalam teori komunikasi pemasaran, hal ini berkaitan dengan konsep value exchange.
Audiens bersedia memberikan perhatian mereka jika mendapatkan manfaat yang sepadan, baik berupa informasi, hiburan, maupun insight.
Jika keseimbangannya hilang, respons yang muncul biasanya adalah mengabaikan atau berhenti mengikuti.
2. Tidak Jelas Mana Promosi dan Mana Opini Pribadi
Masalah transparansi menjadi isu besar dalam era influencer marketing.
Ketika sebuah konten berbayar tidak diberi penanda yang jelas, audiens bisa merasa dibohongi karena mengira itu murni pengalaman pribadi.
Penelitian tentang disclosure dalam endorsement menunjukkan bahwa kejelasan informasi mengenai kerja sama brand dapat meningkatkan persepsi kejujuran komunikator.
Transparansi membantu audiens memahami konteks pesan, sehingga mereka bisa menilai rekomendasi secara lebih rasional.
3. Perbedaan antara Pesan dan Nilai Personal
Audiens mengikuti influencer karena merasa ada kesesuaian nilai atau gaya hidup.
Ketika seorang kreator yang dikenal selektif terhadap bahan skincare tiba tiba mempromosikan produk tanpa penjelasan memadai, kepercayaan bisa terganggu. Ketidakkonsistenan ini memicu pertanyaan tentang integritas.
Dalam kajian kredibilitas sumber, konsistensi merupakan faktor penting yang memengaruhi trust.
Jika pesan yang disampaikan tidak selaras dengan citra yang sudah dibangun, maka kredibilitas akan menurun.
Studi Kasus: “Halo qha qha”

Perlu diluruskan, format “Halo qha qha, permisi…” sejak awal memang digunakan untuk konteks spill skincare, bukan sekadar street interview umum.
Konten ini biasanya diawali dengan sapaan khas tersebut untuk selebgram, bahkan artis papan atas, lalu dilanjutkan dengan pembahasan produk perawatan wajah yang sedang dipakai atau direkomendasikan.
Formatnya dibuat ringan dan seolah spontan. Kreator membuka percakapan dengan gaya yang santai, kemudian masuk ke cerita pengalaman menggunakan skincare tertentu.
Karena dikemas seperti obrolan biasa, banyak audiens yang merasa kontennya natural dan tidak terasa seperti iklan formal.
Justru di sinilah letak pembelajarannya. Walaupun tujuannya adalah membahas produk, pendekatan yang digunakan membuat audiens menikmati prosesnya lebih dulu.
Mereka tertarik pada gaya komunikasi dan suasana konten, baru kemudian menyimak produk yang dibahas.
Namun ketika muncul informasi bahwa ada tawaran kerja sama berbayar untuk menggunakan format tersebut, publik mulai mempertanyakan batas antara rekomendasi personal dan promosi komersial.
Ini menunjukkan bahwa untuk kategori seperti skincare, yang berkaitan langsung dengan kondisi kulit dan kepercayaan konsumen, transparansi menjadi sangat krusial.
Trik Marketing yang Gak Bikin Audiens Merasa Tertipu
Tantangan utamanya adalah bagaimana tetap dipercaya saat konten itu menghasilkan uang. Audiens sekarang jauh lebih kritis.
Mereka bisa membedakan mana rekomendasi yang terasa jujur dan mana yang sekadar mengikuti brief brand.
Kasus tren “Halo qha qha” menunjukkan bahwa publik tidak keberatan dengan promosi. Yang jadi persoalan adalah ketika konteksnya tidak jelas atau terasa seperti disamarkan.
Kepercayaan menjadi aset utama dalam marketing digital.
Sekali audiens merasa dibelokkan, dampaknya bisa panjang terhadap reputasi personal maupun brand.
Berikut cara marketing media sosial yang aman dan gak bikin audiens merasa tertipu:
1. Utamakan Value Dulu
Konten yang hanya menjual cenderung ditolak. Sebaliknya:
- Buat konten yang edukatif, lucu, atau menghibur terlebih dulu.
- Baru setelah itu kenalkan pesan pemasaran secara halus.
Pendekatan ini merangsang keterlibatan audiens tanpa membuat mereka merasa dipaksa membeli.
2. Transparansi Itu Kunci
Audiens ingin tahu kapan konten itu promosi, terutama jika ada bayaran dari merek.
Jika bekerja sama dengan brand, berikan disclosure yang jelas. Di banyak negara, disclosure bukan sekadar etika, tapi kewajiban hukum.
Jurnal penelitian di infeb.org menunjukkan bahwa audiens menghargai konten yang jujur dan terbuka karena meningkatkan kepercayaan mereka terhadap pesan promosi.
3. Tampilkan Keaslian Influencer
Orang lebih percaya pada rekomendasi yang terasa asli, bukan skrip yang dibaca dari brand.
Penelitian menemukan bahwa influencer yang memiliki kredibilitas, keterlibatan audiens tinggi, dan konten autentik cenderung membangun trust yang lebih kuat.
Cara praktisnya:
- Tunjukkan pengalaman pribadi.
- Ceritakan proses penggunaan produk, bukan hanya penilaian singkat.
- Ajak audiens berdiskusi, bukan hanya “push sell”.
4. Peran Community Engagement
Audiens ingin merasa didengar. Konten yang membangun ruang dialog (mis. komentar, Q&A, Poll) jauh lebih efektif daripada konten satu arah.
Ini meningkatkan rasa keterlibatan dan memperkecil rasa skeptis.
5. Beri Alasan yang Relevan Jika Ada Penawaran
Ketika ada promosi atau diskon, jelaskan konteksnya secara jelas:
- Kenapa diskon ini ada?
- Apa manfaat nyata bagi audiens?
- Berapa batas waktunya?
Penjelasan semacam ini membantu audiens merasa lebih sadar akan keputusan mereka, bukan “terjebak iklan”.
6. Integrasikan User-Generated Content (UGC)
Konten yang dibuat oleh pengguna lain (review nyata, pengalaman pengguna) sering dipandang sebagai sumber informasi yang lebih kredibel daripada konten brand langsung.
Rekomendasi dari orang lain (word-of-mouth) sering menjadi faktor kepercayaan yang sangat kuat.
Kesimpulan
Tren “Halo qha qha” menunjukkan bahwa audiens sebenarnya tidak masalah dengan konten promosi, termasuk spill skincare.
Yang jadi persoalan adalah ketika konteksnya tidak jelas atau terasa disamarkan. Di era sosial media, kepercayaan lebih penting daripada sekadar viral.
Rasa tertipu muncul karena cara penyampaiannya terlalu komersial, tidak transparan, atau tidak konsisten dengan nilai kreator. Karena itu, kunci marketing yang sehat adalah memberi value lebih dulu, jujur soal kerja sama, dan menjaga integritas personal branding.
Jika trust terjaga, promosi tetap bisa berjalan tanpa membuat audiens merasa dibelokkan tanpa sadar.





