Daftar Isi

Definisi Profit: Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Definisi Profit Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Saat pertama kali Menjadi Pengaruh memulai usaha, pertanyaan paling umum yang sering muncul adalah: 

“Sebenarnya kami untung berapa, sih?”

Banyak pelaku usaha, mulai dari yang baru memulai hingga yang sudah lama menjalankan bisnis, masih sering bingung membedakan antara omset dan profit. 

Padahal, memahami apa itu profit berguna untuk tahu apakah bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan atau tidak.

Selama bertahun-tahun membantu berbagai jenis bisnis, Menjadi Pengaruh menemukan satu hal yang selalu penting.

Kemampuan memahami profit. 

Profit merupakan  gambaran seberapa sehat bisnis kita berjalan.

Kalau kamu sedang menjalankan bisnis online, jualan makanan, atau merintis usaha baru, yuk pahami dulu apa itu profit, bagaimana cara menghitungnya, dan apa bedanya dengan omset.

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa istilah penting, seperti:

  • pengertian profit
  • cara menghitung profit
  • perbedaan antara profit dan omset

Apa Itu Profit?

Penjelasan Sederhana

Secara singkat, profit adalah uang bersih yang didapat bisnis setelah semua biaya dikeluarkan.

Misalnya begini:

Kalau kamu jual satu gelas kopi seharga Rp20.000, dan biaya yang kamu keluarkan untuk membuat kopi itu Rp15.000, maka profit kamu adalah Rp5.000.

Penjelasan dari Para Ahli

Menurut ahli manajemen Harold Koontz dan Heinz Weihrich, profit adalah kelebihan dari jumlah pendapatan dibandingkan total pengeluaran.

Secara umum, rumus profit bisa dijelaskan dengan:

Profit = Total Pendapatan – Total Biaya

Artinya, kalau kamu mau tahu keuntungan bisnis kamu, cukup kurangi seluruh pendapatan dengan semua biaya yang dikeluarkan.

Perbedaan Profit dan Omset

Omset, atau dalam istilah bisnis internasional sering disebut revenue, adalah jumlah total uang yang masuk ke bisnis kamu dari hasil penjualan produk atau jasa dalam periode waktu tertentu. 

Omset ini adalah angka mentah.

Belum dikurangi biaya apa pun. 

Jadi, omset hanya mencerminkan berapa besar pendapatan yang masuk, tanpa melihat berapa besar biaya yang kamu keluarkan untuk bisa mendapatkan uang tersebut.

Misalnya: 

Kamu berjualan sepatu secara online, dan dalam sebulan kamu berhasil menjual 500 pasang sepatu dengan harga Rp200.000 per pasang. 

Maka omsetmu dalam sebulan adalah 500 dikali Rp200.000, yaitu sebesar Rp100.000.000. Tapi, dari angka Rp100 juta itu, kamu belum tahu berapa keuntunganmu. 

Bisa jadi setelah dikurangi biaya produksi, biaya pengiriman, iklan, dan gaji karyawan, sisa keuntungannya hanya beberapa juta rupiah saja. 

Jadi, penting dipahami bahwa omset belum tentu menunjukkan keuntungan.

Agar lebih mudah memahami perbedaan antara omset dan profit, kita bisa membandingkannya dalam tabel berikut ini:

Aspek yang DibandingkanOmset (Revenue)Profit (Laba)
PengertianTotal pendapatan kotor yang didapat dari semua penjualan dalam suatu periode, tanpa dipotong biaya apa punJumlah keuntungan bersih yang diperoleh setelah semua biaya seperti produksi, operasional, pajak, dan lainnya dikurangi
FungsiMenunjukkan seberapa besar volume penjualan bisnis kamuMenunjukkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menghasilkan keuntungan
Sumber PenghitunganDihitung dari harga jual produk dikalikan jumlah produk yang terjualDihitung dari total omset dikurangi seluruh biaya yang terkait dengan operasional bisnis
Bisa Besar Tapi Tidak Untung?Bisa. Bisnis bisa punya omset besar tapi keuntungannya kecil kalau biaya terlalu besarTidak. Jika profit besar, berarti kamu memang benar-benar berhasil mengelola bisnis dengan efisien
Fokus PengukuranFokus pada jumlah uang masuk dari penjualanFokus pada seberapa besar uang yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar

Contoh Kasus: Omset Besar Tapi Profit Kecil dalam Usaha Jualan Online

Misalnya kamu memiliki bisnis jualan baju secara online. 

Baca juga  Domino’s Pizza: Strategi Brand Cerdas Hadapi Kompetitor Besar

Dalam satu bulan, kamu berhasil menjual banyak produk sehingga omset yang kamu dapatkan mencapai Rp200.000.000. 

Sekilas, angka ini terlihat menggiurkan dan banyak orang mungkin menganggap bisnis kamu sangat sukses.

Tapi, mari kita lihat lebih dalam:

Biaya untuk membeli barang dari supplier atau produsen mencapai Rp140.000.000.

Lalu kamu juga harus membayar biaya iklan online, biaya pengemasan dan pengiriman, gaji admin, serta biaya operasional lainnya sebesar Rp50.000.000.

Maka keuntungan bersih atau profit yang kamu peroleh hanya Rp10.000.000.

Padahal, dari luar orang melihat kamu punya omset ratusan juta. 

Namun nyatanya, keuntungan bersih yang benar-benar bisa kamu nikmati hanya lima persen dari omset tersebut. 

Ini adalah contoh nyata bahwa mengejar omset tinggi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana mengatur biaya agar profit atau keuntungan bisa maksimal.

Jenis-jenis Profit yang Perlu Diketahui agar Tidak Salah Hitung

Istilah profit dalam dunia bisnis ternyata tidak hanya satu. 

Ada beberapa jenis profit yang digunakan untuk mengukur performa keuangan usaha dari berbagai sudut. 

Masing-masing punya fungsi dan rumus perhitungan yang berbeda. 

Ringkasan Jenis-jenis Profit dalam Tabel

Jenis ProfitCara MenghitungApa yang Diukur
Gross Profit (Profit Kotor)Omset – Biaya Pokok ProduksiKeuntungan dasar dari penjualan
Operating Profit (Profit Operasional)Gross Profit – Biaya OperasionalEfisiensi pengelolaan operasional bisnis
Net Profit (Profit Bersih)Operating Profit – (Bunga + Pajak)Laba akhir yang benar-benar bisa dinikmati
EBITDA (opsional)Net Profit + Bunga + Pajak + Penyusutan + AmortisasiGambaran murni kekuatan bisnis tanpa efek keuangan dan aset

Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Profit Kotor (Gross Profit)

Profit kotor adalah keuntungan awal yang diperoleh dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya produksi langsung atau biaya pokok barang yang dijual. 

Biaya ini biasanya mencakup harga beli barang dari supplier atau bahan baku.

Rumus:

Gross Profit = Omset – Biaya Pokok Produksi (COGS)

Kegunaan:

Profit kotor menunjukkan seberapa besar keuntungan dasar dari kegiatan jual beli sebelum dikurangi biaya lain seperti operasional, iklan, dan gaji.

2. Profit Operasional (Operating Profit)

Profit operasional adalah keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya operasional bisnis, seperti biaya gaji pegawai, listrik, sewa, dan biaya lainnya, tetapi belum termasuk bunga pinjaman dan pajak.

Rumus:

Operating Profit = Gross Profit – Biaya Operasional

Kegunaan:

Profit ini mencerminkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika angkanya kecil atau negatif, berarti operasional bisnis kamu boros atau tidak efisien.

3. Profit Bersih (Net Profit)

Profit bersih adalah keuntungan akhir yang benar-benar bisa kamu ambil sebagai pemilik usaha. 

Nilai ini sudah dikurangi semua biaya, termasuk biaya produksi, operasional, bunga pinjaman, dan pajak.

Rumus:

Net Profit = Operating Profit – (Bunga + Pajak)

Kegunaan:

Profit bersih menjadi tolok ukur utama apakah bisnis kamu benar-benar menghasilkan keuntungan. Nilai ini biasanya dilaporkan dalam laporan keuangan resmi dan jadi dasar pengambilan keputusan.

Baca juga  Acara Business Matching Terbesar Sampai Ikut IHYA: Halal Indo 2025

4. EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization)

EBITDA merupakan jenis profit yang digunakan oleh perusahaan menengah dan besar untuk menilai performa bisnis dari sisi operasional murni. 

Dalam penghitungan EBITDA, komponen bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi tidak dihitung. 

Tujuannya adalah untuk melihat seberapa sehat bisnis tersebut secara operasional, tanpa dipengaruhi kebijakan keuangan atau struktur aset.

Rumus:

EBITDA = Net Profit + Bunga + Pajak + Penyusutan + Amortisasi

Kegunaan:

EBITDA membantu investor atau pemilik bisnis memahami kekuatan bisnis dari segi operasional, terutama saat ingin membandingkan beberapa perusahaan yang memiliki sistem keuangan berbeda-beda.

Manfaat Menghitung Profit dengan Benar dan Tepat bagi Bisnis

Profit atau keuntungan bersih adalah bagian dari uang hasil usaha yang benar-benar bisa dinikmati pemilik bisnis setelah semua biaya operasional, produksi, pajak, dan pengeluaran lainnya dikurangi. 

Profit tidak hanya menunjukkan berapa uang yang tersisa.

Ini juga mencerminkan seberapa baik bisnis dikelola. Inilah beberapa peran penting profit yang perlu kamu pahami:

1. Sebagai Tanda Apakah Bisnismu Sehat atau Tidak

  • Keuntungan menunjukkan apakah bisnis kamu berjalan dengan benar atau tidak.
  • Jika bisnis terus untung, itu tanda pengelolaan uang dan operasional sudah bagus.
  • Sebaliknya, kalau rugi terus, berarti ada masalah dalam biaya atau strategi.
  • Profit membantu kamu melihat apakah perlu perbaikan dalam bisnis.
  • Tanpa profit, bisnis bisa terlihat ramai tapi sebenarnya sekarat secara keuangan.

2. Sebagai Dasar Saat Mau Buat Keputusan Keuangan

  • Profit bisa jadi panduan apakah kamu bisa buka cabang atau beli alat baru.
  • Tanpa tahu keuntungan, kamu bisa ambil keputusan yang bikin bisnis rugi.
  • Angka profit bantu kamu atur arus kas dan modal dengan bijak.
  • Profit juga bisa menentukan kapan harus hemat dan kapan bisa ekspansi.
  • Keputusan bisnis yang baik selalu berdasarkan data keuntungan yang jelas.

3. Menarik Investor dan Calon Mitra Kerja Sama

  • Investor hanya mau menanam uang di bisnis yang sudah terbukti untung.
  • Profit jadi bukti bahwa usaha kamu layak didukung dan punya prospek.
  • Calon mitra bisnis akan lebih percaya kalau kamu bisa tunjukkan data keuntungan.
  • Bisnis yang untung stabil dianggap lebih aman untuk kerja sama jangka panjang.
  • Tanpa profit, peluang dapat modal dari luar jadi makin kecil.

4. Sebagai Penentu Harga Jual dan Rencana Pengeluaran

  • Profit membantu kamu tahu apakah harga produk sudah pas atau perlu disesuaikan.
  • Kalau profit terlalu kecil, bisa jadi kamu perlu naikin harga atau turunkan biaya.
  • Mengetahui profit bantu kamu atur pengeluaran agar nggak boros.
  • Strategi harga yang tepat bisa bantu profit naik tanpa kehilangan pelanggan.
  • Tanpa data profit, kamu bisa salah strategi dan malah makin rugi.

Cara Menghitung Profit dalam Bisnis

Profit adalah selisih antara uang yang masuk dan semua biaya yang dikeluarkan dalam bisnis. 

Kalau kamu ingin tahu apakah bisnismu benar-benar menghasilkan keuntungan, penting untuk memahami cara menghitung profit dengan benar.

Rumus Dasar Profit

Untuk menghitung profit, kamu cukup kurangi semua biaya dari total pendapatan. Berikut rumus sederhananya:

Profit = Total Pendapatan – Total Biaya

1. Apa Itu Total Pendapatan (Revenue)?

Sebelum menghitung profit, kamu perlu tahu dulu dari mana uang masuk ke bisnis kamu. 

Baca juga  Sukses Satukan UMKM, Kreator, dan Komunitas Kreatif Jawa Timur Lewat IDEASIK 2025

Ini disebut sebagai total pendapatan atau revenue.

  • Total pendapatan adalah jumlah uang yang kamu hasilkan dari menjual produk atau jasa.
  • Misalnya kamu menjual 100 kue dengan harga Rp10.000, maka total pendapatan = Rp1.000.000.
  • Ini belum termasuk potongan biaya apa pun, jadi masih murni uang masuk.
  • Banyak orang keliru mengira pendapatan ini adalah profit, padahal belum tentu.
  • Jadi, jangan salah hitung ya. Pendapatan belum tentu berarti kamu untung.

2. Apa Itu Biaya Tetap (Fixed Cost)?

Setiap bulan bisnis pasti punya pengeluaran rutin, baik ada penjualan atau tidak. Nah, ini yang disebut biaya tetap.

  • Biaya tetap adalah pengeluaran yang harus dibayar secara rutin, misalnya sewa, listrik, dan gaji tetap.
  • Biaya ini tidak berubah walaupun penjualan naik atau turun.
  • Contoh: sewa tempat Rp500.000 tetap harus dibayar meski kamu tidak jualan.
  • Penting untuk mencatat biaya tetap agar tahu apakah bisnismu bisa menutup biaya ini.
  • Jika biaya tetap terlalu tinggi, bisa jadi beban untuk bisnis kecil.

3. Apa Itu Biaya Variabel (Variable Cost)?

Berbeda dengan biaya tetap, biaya variabel berubah tergantung jumlah produk yang kamu jual. 

Biaya ini harus dikelola agar profit tetap maksimal.

  • Biaya variabel termasuk bahan baku, kemasan, dan ongkir. Jumlahnya tergantung penjualan.
  • Kalau kamu menjual lebih banyak, biaya ini otomatis ikut naik.
  • Misalnya, jual 10 kue perlu bahan Rp50.000, tapi jual 100 kue bisa jadi Rp500.000.
  • Biaya ini bisa ditekan kalau kamu belanja bahan secara grosir.
  • Walau fleksibel, kalau tidak dikontrol, biaya variabel bisa memakan banyak pendapatan.

4. Contoh Perhitungan Profit (Toko Kue Rumahan)

Supaya lebih paham, yuk lihat contoh sederhana bagaimana menghitung profit dari bisnis rumahan. 

Ini bisa jadi acuan buat kamu yang baru mulai usaha kecil.

  • Kamu menjual 200 boks brownies seharga Rp25.000, jadi total pendapatan = Rp5.000.000.
  • Biaya bahan baku = Rp2.000.000, biaya tetap = Rp1.000.000, biaya kirim = Rp500.000.
  • Total semua biaya = Rp3.500.000.
  • Maka profit = Rp5.000.000 – Rp3.500.000 = Rp1.500.000.
  • Inilah keuntungan bersih selama satu bulan, yang bisa kamu simpan atau pakai untuk mengembangkan usaha.

Kesimpulan

Profit merupakan cerminan dari seberapa efisien dan sehat bisnis dijalankan. 

Banyak pelaku usaha keliru menyamakan profit dengan omset, padahal keduanya memiliki fungsi dan dampak yang sangat berbeda. 

Dengan memahami jenis-jenis profit dan cara menghitungnya secara tepat, kamu bisa membuat keputusan bisnis yang lebih strategis. 

Mengelola biaya tetap dan variabel dengan bijak juga menjadi kunci untuk meningkatkan profit secara konsisten. 

Jadi, jangan hanya fokus mengejar omset besar.

Pastikan profit bisnis kamu juga tumbuh dan berkelanjutan.

FAQ

1. Apa itu profit?

Profit adalah uang yang benar-benar jadi milik bisnis setelah semua biaya sudah dibayar. Misalnya, setelah bayar bahan baku, gaji, listrik, pajak, dan biaya lainnya. Sisa uang itulah yang disebut profit, atau juga disebut untung bersih.

2. Apa itu omset dan profit?

  • Omset adalah jumlah uang yang masuk dari hasil jualan produk atau jasa, tanpa dipotong biaya apa pun.
  • Profit adalah uang sisa yang didapat setelah semua pengeluaran (seperti bahan, gaji, dll.) dikurangi dari omset.

3. Apa beda omset dan untung?

Omset adalah total uang yang didapat dari penjualan, belum dikurangi biaya apa-apa.

Untung (profit) adalah uang yang tersisa setelah semua biaya dan pengeluaran sudah dibayar.

Jadi, omset itu jumlah jualan, sedangkan untung itu uang yang bisa disimpan.

4. Apa itu margin?

Margin adalah seberapa besar keuntungan dari sebuah produk dibanding modalnya.

Contoh:

  • Kalau modalnya Rp100.000, lalu dijual Rp200.000, berarti untungnya Rp100.000.
  • Nah, margin-nya dihitung seperti ini:
  • Margin = (Untung ÷ Modal) × 100%
  • Jadi, (100.000 ÷ 100.000) × 100% = 100%
  • Artinya, kamu untung 100% dari modal.

5. Bagaimana cara menghitung modal awal?

Modal awal adalah total uang yang kamu butuhkan untuk mulai usaha. Biasanya terdiri dari:

Modal Investasi: untuk beli barang yang dipakai jangka panjang, seperti mesin, alat kerja, atau tempat usaha.

Modal Kerja: untuk beli bahan baku dan stok barang.

Modal Operasional: untuk bayar kebutuhan harian seperti listrik, internet, dan gaji karyawan.

Rumus sederhananya:

Modal Awal = Investasi + Modal Kerja + Biaya Operasional

Atau bisa juga pakai rumus:

Modal Awal = Modal Akhir – (Laba + Uang yang Diambil Pemilik)

Untuk lebih tepatnya, buat dulu daftar semua kebutuhan dan hitung biayanya satu per satu. Tambahkan juga cadangan dana sekitar 10–15% buat jaga-jaga kalau ada pengeluaran tak terduga.

Daftar Isi