Category: Bisnis

Menampilkan semua artikel pada kategori yang disesuaikan

Domino’s Pizza: Strategi Brand Cerdas Hadapi Kompetitor Besar

Domino’s Pizza: Strategi Brand Cerdas Hadapi Kompetitor Besar

Di pasar yang didominasi raksasa seperti Pizza Hut, Papa John’s, atau bahkan brand lokal yang menjamur, Domino’s Pizza justru mampu mencuri panggung dan bertahan sebagai salah satu pemain global yang paling inovatif pakai strategi. Domino’s dulunya sempat dihujat karena kualitas pizzanya yang dianggap biasa saja.  Tapi sekarang? Mereka dikenal sebagai merek yang tech-savvy, cepat adaptif, dan jago banget membangun pengalaman pelanggan yang serba instan. Lewat artikel ini, kita akan bedah strategi cerdas Domino’s Pizza yang bikin mereka tetap relevan, bahkan unggul, di tengah kompetisi yang brutal.  Dari transformasi merek, digitalisasi sistem, sampai cara mereka mendekatkan diri ke pasar, semuanya akan kita kupas tuntas, ya! Pertanyaan Umum Seputar Strategi Domino’s Pizza Sejarah Domino’s Pizza Domino’s Pizza didirikan pada tahun 1960 oleh dua bersaudara, Tom dan James Monaghan, yang membeli sebuah toko pizza kecil bernama DomiNick’s di Ypsilanti, hanya dengan modal USD 500.  Tak lama kemudian, James memutuskan keluar dari bisnis dan menyerahkan sahamnya kepada Tom dengan imbalan sebuah mobil bekas.  Tom pun menjadi pemilik penuh dan mulai membangun pondasi yang mengubah toko kecil itu menjadi imperium pizza. Pada tahun 1965, nama toko diubah menjadi Domino’s Pizza, dan logo tiga titik ikonik diciptakan.  Logo ini melambangkan tiga gerai pertama mereka. Strategi awal Domino’s sangat berbeda dari kompetitor: Mereka memilih fokus pada layanan antar cepat (delivery) dibandingkan makan di tempat.  Kampanye terkenal “30 minutes or less” menjadikan mereka pelopor dalam layanan makanan cepat antar, meskipun akhirnya dihentikan karena pertimbangan keselamatan. Tahun-tahun berikutnya ditandai dengan ekspansi agresif.  Domino’s membuka waralaba pertamanya di luar Michigan pada 1973 dan memasuki pasar internasional mulai 1983.  Pada 1998, Tom menjual mayoritas saham ke Bain Capital senilai lebih dari USD 1 miliar, membawa Domino’s ke babak profesionalisasi yang lebih kuat. Namun, puncak transformasi mereka terjadi pada 2009–2010, ketika Domino’s secara jujur mengakui bahwa produknya dikritik konsumen.  Mereka merespons dengan merombak total resep pizza dan meluncurkan kampanye “You Told Us”, yang menjadi titik balik kebangkitan merek.  Pendekatan ini memulihkan reputasi mereka dan bahkan meningkatkan penjualan secara drastis. Memasuki era digital, Domino’s tidak hanya menjual pizza, tetapi menjelma menjadi perusahaan teknologi yang bergerak di bidang makanan.  Mereka mengembangkan sistem pemesanan berbasis aplikasi, pelacakan real-time (Domino’s Tracker), hingga integrasi dengan smart device seperti smartwatch dan smart speaker.  Di beberapa negara, lebih dari 70% transaksi Domino’s dilakukan secara digital. Domino’s mulai beroperasi di Indonesia sejak 2008, dan kini memiliki jaringan ratusan gerai dengan layanan andalan seperti “30 Menit Sampai”. Dengan pendekatan berbasis teknologi, efisiensi operasional, dan komunikasi merek yang jujur, Domino’s telah menjelma dari toko kecil menjadi jaringan pizza terbesar di dunia berdasarkan jumlah gerai. Apa yang Membuat Domino’s Lebih Unggul dari Kompetitor? Kalau bicara soal rasa, selera memang relatif. Namun jika kita berbicara tentang strategi brand dan keberanian inovasi, Domino’s jelas melaju jauh di depan. Domino’s tidak sekedar menjual pizza, mereka menjual pengalaman cepat, praktis, dan berbasis teknologi.  Di saat banyak brand besar masih fokus di sisi produk atau atmosfer restoran, Domino’s sudah memposisikan diri sebagai perusahaan teknologi di industri makanan. Salah satu langkah paling berani Domino’s adalah ketika mereka melakukan rebranding besar-besaran pada 2009.  Bukannya menutupi kelemahan, mereka justru secara terbuka mengakui kritik dari pelanggan, terutama terkait rasa pizza mereka.  Bukan cuma minta maaf, mereka mengubah total resep adonan, saus, dan topping, serta membangun ulang sistem layanan pelanggan. Strategi ini terbukti efektif dan memperlihatkan bahwa Domino’s bukan brand yang defensif, tapi progresif dan berani berbenah. Cara Kerja dalam Strategi Domino’s Pizza Ada cara kerja dalam strategi Domino’s Pizza yang mungkin belum banyak orang tau, yang ternyata jadi rahasia main mereka. Apa aja? Definisi dan Mekanisme Strateginya Domino’s Pizza bukan sekadar bisnis makanan cepat saji. Mereka secara sadar memposisikan diri sebagai perusahaan teknologi yang kebetulan menjual pizza. Transformasi ini tidak hanya terjadi di tingkat pemasaran, tapi merasuk ke seluruh aspek operasional mereka. Tiga pilar utama strategi Domino’s: Kampanye ini tidak hanya membawa simpati, tapi juga membangun ulang kepercayaan pasar.  Domino’s reformulasi resep adonan, saus, dan keju mereka, membuktikan bahwa mendengarkan pelanggan adalah kekuatan branding sesungguhnya. Domino’s berfokus pada kecepatan dan keandalan layanan antar, menjadikannya pilihan utama untuk kebutuhan makan cepat, terutama di lingkungan urban. Mereka mengembangkan sistem make-line kitchen yang efisien, pelatihan kru operasional yang seragam secara global, dan sistem distribusi berbasis algoritma untuk optimasi rute pengiriman. Strategi untuk Keuntungan Bisnis Domino’s memahami bahwa dalam kompetisi modern, kecepatan dan skala lebih berdampak dari sekadar rasa, ya! Sementara brand lain berlomba dalam inovasi menu atau gimmick promosi, Domino’s fokus menciptakan sistem operasional end-to-end yang ramping dan scalable. Efeknya? Target Audiens dan Fokus Layanan Domino’s punya pemahaman yang sangat tajam tentang siapa konsumen utamanya, yakni: Fokus utama mereka bukan menjadi “pizza terbaik di dunia”, tapi menjadi “pizza tercepat, termudah, dan paling bisa diandalkan”. Dengan begitu, mereka memenuhi kebutuhan modern convenience yang menjadi ekspektasi utama generasi sekarang. Risiko dan Hambatan Meski terlihat cemerlang, strategi Domino’s tetap menghadapi sejumlah tantangan, loh! Namun, berkat komitmen mereka pada inovasi berkelanjutan dan feedback loop yang aktif, sebagian besar hambatan ini mampu diantisipasi dan ditangani dengan cepat. Studi Kasus & Data Pendukung Beberapa data nyata menunjukkan efektivitas strategi Domino’s: Studi Kasus Singkat: Evaluasi Kinerja Strategi Domino’s Keunggulan Domino’s bukan hanya pada produk, tapi pada kemampuan membaca zaman: Domino’s adalah contoh brand yang berhasil membuktikan bahwa pengalaman pelanggan dan inovasi sistematis jauh lebih kuat daripada sekadar slogan atau promosi. Kesimpulan Domino’s Pizza membuktikan bahwa dalam dunia bisnis modern, kecepatan adaptasi dan keberanian bertransformasi adalah senjata utama untuk bertahan di tengah kompetisi raksasa. Alih-alih menyaingi kompetitor dari sisi rasa atau desain toko, Domino’s menciptakan ruang bermain sendiri: pengalaman pelanggan yang cepat, digital, dan efisien. Strategi Domino’s bisa ditiru oleh berbagai jenis brand: dari UMKM sampai korporasi besar. Kuncinya? Dengar pelangganmu, berani berubah, dan jadikan teknologi sebagai tulang punggung layanan. FAQ 1. Apa strategi Domino’s?Strategi rebranding Domino’s adalah pendekatan transparan dan menyeluruh dalam mengubah persepsi publik. Mereka mengakui kesalahan masa lalu dan melakukan transformasi total pada produk, layanan, dan komunikasi. 2. Kenapa Domino’s lebih unggul dibanding kompetitor besar? Karena Domino’s tidak hanya fokus pada rasa, tapi pada kecepatan, kenyamanan, dan digitalisasi layanan yang sangat cocok untuk konsumen masa kini. 3. Apa peran

SELENGKAPNYA
Definisi Profit Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Definisi Profit: Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Saat pertama kali Menjadi Pengaruh memulai usaha, pertanyaan paling umum yang sering muncul adalah:  “Sebenarnya kami untung berapa, sih?” Banyak pelaku usaha, mulai dari yang baru memulai hingga yang sudah lama menjalankan bisnis, masih sering bingung membedakan antara omset dan profit.  Padahal, memahami apa itu profit berguna untuk tahu apakah bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan atau tidak. Selama bertahun-tahun membantu berbagai jenis bisnis, Menjadi Pengaruh menemukan satu hal yang selalu penting. Kemampuan memahami profit.  Profit merupakan  gambaran seberapa sehat bisnis kita berjalan. Kalau kamu sedang menjalankan bisnis online, jualan makanan, atau merintis usaha baru, yuk pahami dulu apa itu profit, bagaimana cara menghitungnya, dan apa bedanya dengan omset. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa istilah penting, seperti: Apa Itu Profit? Penjelasan Sederhana Secara singkat, profit adalah uang bersih yang didapat bisnis setelah semua biaya dikeluarkan. Misalnya begini: Kalau kamu jual satu gelas kopi seharga Rp20.000, dan biaya yang kamu keluarkan untuk membuat kopi itu Rp15.000, maka profit kamu adalah Rp5.000. Penjelasan dari Para Ahli Menurut ahli manajemen Harold Koontz dan Heinz Weihrich, profit adalah kelebihan dari jumlah pendapatan dibandingkan total pengeluaran. Secara umum, rumus profit bisa dijelaskan dengan: Profit = Total Pendapatan – Total Biaya Artinya, kalau kamu mau tahu keuntungan bisnis kamu, cukup kurangi seluruh pendapatan dengan semua biaya yang dikeluarkan. Perbedaan Profit dan Omset Omset, atau dalam istilah bisnis internasional sering disebut revenue, adalah jumlah total uang yang masuk ke bisnis kamu dari hasil penjualan produk atau jasa dalam periode waktu tertentu.  Omset ini adalah angka mentah. Belum dikurangi biaya apa pun.  Jadi, omset hanya mencerminkan berapa besar pendapatan yang masuk, tanpa melihat berapa besar biaya yang kamu keluarkan untuk bisa mendapatkan uang tersebut. Misalnya:  Kamu berjualan sepatu secara online, dan dalam sebulan kamu berhasil menjual 500 pasang sepatu dengan harga Rp200.000 per pasang.  Maka omsetmu dalam sebulan adalah 500 dikali Rp200.000, yaitu sebesar Rp100.000.000. Tapi, dari angka Rp100 juta itu, kamu belum tahu berapa keuntunganmu.  Bisa jadi setelah dikurangi biaya produksi, biaya pengiriman, iklan, dan gaji karyawan, sisa keuntungannya hanya beberapa juta rupiah saja.  Jadi, penting dipahami bahwa omset belum tentu menunjukkan keuntungan. Agar lebih mudah memahami perbedaan antara omset dan profit, kita bisa membandingkannya dalam tabel berikut ini: Aspek yang Dibandingkan Omset (Revenue) Profit (Laba) Pengertian Total pendapatan kotor yang didapat dari semua penjualan dalam suatu periode, tanpa dipotong biaya apa pun Jumlah keuntungan bersih yang diperoleh setelah semua biaya seperti produksi, operasional, pajak, dan lainnya dikurangi Fungsi Menunjukkan seberapa besar volume penjualan bisnis kamu Menunjukkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menghasilkan keuntungan Sumber Penghitungan Dihitung dari harga jual produk dikalikan jumlah produk yang terjual Dihitung dari total omset dikurangi seluruh biaya yang terkait dengan operasional bisnis Bisa Besar Tapi Tidak Untung? Bisa. Bisnis bisa punya omset besar tapi keuntungannya kecil kalau biaya terlalu besar Tidak. Jika profit besar, berarti kamu memang benar-benar berhasil mengelola bisnis dengan efisien Fokus Pengukuran Fokus pada jumlah uang masuk dari penjualan Fokus pada seberapa besar uang yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar Contoh Kasus: Omset Besar Tapi Profit Kecil dalam Usaha Jualan Online Misalnya kamu memiliki bisnis jualan baju secara online.  Dalam satu bulan, kamu berhasil menjual banyak produk sehingga omset yang kamu dapatkan mencapai Rp200.000.000.  Sekilas, angka ini terlihat menggiurkan dan banyak orang mungkin menganggap bisnis kamu sangat sukses. Tapi, mari kita lihat lebih dalam: Biaya untuk membeli barang dari supplier atau produsen mencapai Rp140.000.000. Lalu kamu juga harus membayar biaya iklan online, biaya pengemasan dan pengiriman, gaji admin, serta biaya operasional lainnya sebesar Rp50.000.000. Maka keuntungan bersih atau profit yang kamu peroleh hanya Rp10.000.000. Padahal, dari luar orang melihat kamu punya omset ratusan juta.  Namun nyatanya, keuntungan bersih yang benar-benar bisa kamu nikmati hanya lima persen dari omset tersebut.  Ini adalah contoh nyata bahwa mengejar omset tinggi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana mengatur biaya agar profit atau keuntungan bisa maksimal. Jenis-jenis Profit yang Perlu Diketahui agar Tidak Salah Hitung Istilah profit dalam dunia bisnis ternyata tidak hanya satu.  Ada beberapa jenis profit yang digunakan untuk mengukur performa keuangan usaha dari berbagai sudut.  Masing-masing punya fungsi dan rumus perhitungan yang berbeda.  Ringkasan Jenis-jenis Profit dalam Tabel Jenis Profit Cara Menghitung Apa yang Diukur Gross Profit (Profit Kotor) Omset – Biaya Pokok Produksi Keuntungan dasar dari penjualan Operating Profit (Profit Operasional) Gross Profit – Biaya Operasional Efisiensi pengelolaan operasional bisnis Net Profit (Profit Bersih) Operating Profit – (Bunga + Pajak) Laba akhir yang benar-benar bisa dinikmati EBITDA (opsional) Net Profit + Bunga + Pajak + Penyusutan + Amortisasi Gambaran murni kekuatan bisnis tanpa efek keuangan dan aset Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Profit Kotor (Gross Profit) Profit kotor adalah keuntungan awal yang diperoleh dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya produksi langsung atau biaya pokok barang yang dijual.  Biaya ini biasanya mencakup harga beli barang dari supplier atau bahan baku. Rumus: Gross Profit = Omset – Biaya Pokok Produksi (COGS) Kegunaan: Profit kotor menunjukkan seberapa besar keuntungan dasar dari kegiatan jual beli sebelum dikurangi biaya lain seperti operasional, iklan, dan gaji. 2. Profit Operasional (Operating Profit) Profit operasional adalah keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya operasional bisnis, seperti biaya gaji pegawai, listrik, sewa, dan biaya lainnya, tetapi belum termasuk bunga pinjaman dan pajak. Rumus: Operating Profit = Gross Profit – Biaya Operasional Kegunaan: Profit ini mencerminkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika angkanya kecil atau negatif, berarti operasional bisnis kamu boros atau tidak efisien. 3. Profit Bersih (Net Profit) Profit bersih adalah keuntungan akhir yang benar-benar bisa kamu ambil sebagai pemilik usaha.  Nilai ini sudah dikurangi semua biaya, termasuk biaya produksi, operasional, bunga pinjaman, dan pajak. Rumus: Net Profit = Operating Profit – (Bunga + Pajak) Kegunaan: Profit bersih menjadi tolok ukur utama apakah bisnis kamu benar-benar menghasilkan keuntungan. Nilai ini biasanya dilaporkan dalam laporan keuangan resmi dan jadi dasar pengambilan keputusan. 4. EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) EBITDA merupakan jenis profit yang digunakan oleh perusahaan menengah dan besar untuk menilai performa bisnis dari sisi operasional murni.  Dalam penghitungan EBITDA, komponen bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi tidak dihitung.  Tujuannya adalah

SELENGKAPNYA
5 Psikologi Marketing Buat Ambil Hati Konsumen Tanpa Sadar

5 Psikologi Marketing Buat Ambil Hati Konsumen Tanpa Sadar

Psikologi marketing adalah kunci rahasia di balik strategi brand yang bisa bikin orang beli tanpa sadar. Bukan karena mereka butuh, tapi karena pesan brand-nya berhasil nyentuh sisi emosional dan bawah sadar mereka. Faktanya, sebagian besar keputusan pembelian diambil bukan karena logika, tapi karena perasaan, loh! Nah, di sinilah kekuatan psikologi marketing bekerja. Mulai dari rasa takut ketinggalan, butuh pengakuan, sampai ingin merasa jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Semua itu bisa dimanfaatkan dalam strategi pemasaran. Di artikel ini, kita bakal bahas 5 prinsip psikologi marketing yang sering dipakai brand besar buat ngambil hati konsumen secara halus tapi efektif. Pertanyaan Umum Seputar Psikologi Marketing Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul seputar jenis marketing ini: 1. Apa itu psikologi marketing dan kenapa penting? 2. Gimana cara kerja psikologi dalam mempengaruhi keputusan konsumen? 3. Apa aja contoh nyata penggunaan psikologi marketing di brand besar? 4. Apa bedanya marketing biasa dan marketing berbasis psikologi? 5. Apakah menggunakan psikologi dalam marketing itu manipulatif? 6. Bagaimana cara memulai menerapkan psikologi marketing di bisnis kecil? 7. Prinsip psikologi apa yang paling efektif untuk membangun loyalitas pelanggan? 8. Bagaimana mengukur keberhasilan strategi psikologi marketing? Intinya, semua orang bisa mulai pakai pendekatan psikologi ini. Gak harus jadi brand besar dulu. Yang penting ngerti cara kerja pikiran konsumen, lalu kemas pesan brand kamu dengan lebih manusiawi.  Kenapa Psikologi Penting dalam Marketing? Psikologi marketing itu penting karena manusia gak selalu ambil keputusan secara logis. Kebanyakan keputusan pembelian justru dipengaruhi oleh emosi, kebiasaan, persepsi sosial, dan dorongan bawah sadar.  Orang beli bukan cuma karena butuh, tapi karena merasa cocok, ingin diakui, atau takut ketinggalan. Itulah kenapa pendekatan psikologis dalam marketing bisa jadi senjata ampuh. Berikut tiga alasan utama kenapa psikologi penting dalam marketing: 1. Mengetahui Apa yang Bikin Orang Tertarik Beli Psikologi bantu kamu mengenali motivasi tersembunyi di balik keputusan pembelian. Misalnya, apakah konsumen kamu beli karena ingin tampil keren? Ingin merasa aman? Ingin hemat waktu? Dengan tahu jawabannya, kamu bisa menyusun pesan yang lebih tepat sasaran. 2. Menyusun Pesan yang Lebih Persuasif Pesan yang cuma nyebutin fitur produk kadang gak cukup. Dengan pendekatan psikologis, kamu bisa merancang pesan yang menggugah emosi, seperti rasa penasaran, urgensi, keinginan, atau rasa kehilangan. Hasilnya? Orang bukan cuma tertarik, tapi terdorong untuk bertindak. 3. Membangun Hubungan Emosional dengan Pelanggan Brand yang bisa nyambung secara emosional dengan audiens akan lebih mudah diingat dan dipercaya. Dan kepercayaan itulah yang bikin pelanggan setia. Bahkan merekomendasikan brand kamu ke orang lain. Jenis-Jenis Psikologi dalam Marketing Beberapa prinsip psikologi yang sering dipakai dalam strategi marketing: 1. Social Proof Prinsip ini menyatakan bahwa orang cenderung ikut keputusan orang lain. Itulah kenapa testimoni, ulasan pelanggan, jumlah pembeli, atau bahkan angka followers bisa sangat berpengaruh.  Saat calon konsumen melihat orang lain sudah membeli atau menyukai produkmu, mereka akan merasa lebih aman untuk ikut mencoba. 2. Scarcity Ketika sesuatu terasa langka, nilainya pun terasa meningkat. Penerapannya bisa berupa pesan seperti “stok tinggal 3 lagi” atau “promo hanya sampai hari ini”.  Rasa takut kehilangan kesempatan akan memicu keputusan pembelian yang lebih cepat. 3. Endowment Effect Terjadi saat orang merasa lebih menghargai sesuatu karena merasa itu milik mereka.  Brand bisa memanfaatkan ini dengan mengajak audiens ikut terlibat. Seperti voting ide produk, menyumbang cerita, atau ikut campaign komunitas.  Saat mereka merasa punya “bagian” dalam brand, keterikatan emosional pun tumbuh. 4. Loss Aversion Prinsip ini menunjukkan bahwa orang lebih takut kehilangan dibanding senang mendapatkan.  Dalam marketing, ini bisa diterapkan lewat pesan seperti “Jangan sampai ketinggalan manfaat ini” atau menonjolkan apa yang akan hilang jika mereka tidak bertindak sekarang. 5. Reciprocity Manusia cenderung ingin membalas ketika diberi sesuatu.  Dalam konteks marketing, ini bisa berarti memberikan freebie, trial gratis, atau konten bermanfaat tanpa syarat.  Efeknya? Konsumen merasa dihargai dan secara alami terdorong untuk membalas, entah itu dalam bentuk pembelian, langganan, atau loyalitas, loh! Rangkumannya gini: Prinsip Penjelasan Singkat Social Proof Orang cenderung ikut keputusan orang lain (contoh: testimoni, jumlah pembeli, review) Scarcity Sesuatu terasa lebih bernilai kalau jumlahnya terbatas (contoh: “stok tinggal 3 lagi!”) Endowment Effect Orang lebih menghargai hal yang terasa seperti milik mereka sendiri Loss Aversion Takut kehilangan lebih kuat daripada keinginan untuk mendapatkan sesuatu Reciprocity Kalau dikasih sesuatu lebih dulu, orang cenderung ingin “balas budi” (contoh: freebie) Contoh Nyata Psikologi Marketing Banyak brand besar sudah menerapkan prinsip psikologi marketing dalam strategi mereka dan hasilnya sangat efektif.  Misalnya, Spotify menggunakan prinsip loss aversion dengan memberikan free trial untuk layanan premium.  Setelah merasakan manfaatnya, banyak pengguna merasa “rugi” kalau harus kembali ke versi gratis. Ini membuat mereka lebih terdorong untuk berlangganan secara penuh. Contoh lain datang dari Shopee, yang sering menggunakan teknik scarcity dan urgency. Lewat fitur countdown flash sale, mereka menciptakan rasa takut ketinggalan atau FOMO (fear of missing out).  Hasilnya? Pengguna terdorong untuk cepat membeli sebelum waktu habis, bahkan jika awalnya mereka tidak terlalu butuh barangnya. Sementara itu, Nike memanfaatkan kekuatan emosi dan aspirasi lewat kampanye ikonik mereka, “Just Do It.” Ini adalah contoh penerapan emotional branding. Di mana pesan sederhana mampu menyentuh sisi personal konsumen. Terutama mereka yang ingin merasa kuat, berani, dan mampu melampaui batas. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa strategi psikologi marketing bukan cuma teori, tapi sudah terbukti berhasil membentuk persepsi, mempengaruhi keputusan, dan membangun loyalitas pelanggan. Gimana Cara Mulai Pakai Personal Branding? Kalau kamu baru mau mulai, ini langkah-langkah simpel yang bisa langsung dipraktikkan: 1. Kenali Audiens Kamu Pahami siapa target kamu: Umur, gaya hidup, kebiasaan, hingga cara mereka ambil keputusan. Apakah mereka impulsif? Suka diskon? Sering beli karena ikut-ikutan? Dari situ kamu bisa bikin pendekatan yang lebih relevan dan tepat sasaran. 2. Gunakan Emosi, Bukan Cuma Fitur Orang beli bukan cuma karena butuh, tapi karena merasa terhubung. Jadi, jangan cuma fokus ke spesifikasi produk, tapi bangun cerita, nilai, atau pesan yang bisa nyentuh perasaan mereka. 3. Terapkan Prinsip Psikologi Dasar Mulai dari yang simpel seperti: 4. Tes & Evaluasi Secara Berkala Lakukan A/B testing untuk melihat pesan atau desain mana yang paling efektif. Kadang hal kecil kayak kata-kata di tombol CTA bisa bikin hasilnya beda jauh. Dari situ, kamu bisa terus tingkatkan pendekatan yang paling cocok secara psikologis. Dengan mulai dari hal-hal

SELENGKAPNYA
60 Template Chat WhatsApp Customer Service ala Sales Profesional untuk Cepat Closing

60 Template Chat WhatsApp Customer Service ala Sales Profesional untuk Cepat Closing

Kami sering bertemu dengan pemilik usaha dan tim sales yang mengeluhkan hal serupa. “Chat udah banyak, tapi kenapa closing-nya masih seret?” Mereka capek menjawab pertanyaan berulang. Bingung bagaimana cara bawa prospek menuju pembelian tanpa terdengar memaksa. Padahal, mereka tahu produknya bagus.  Tantangannya ada pada komunikasi. Lebih tepatnya, pada cara dan kecepatan merespons.  Dari pengamatan kami, masalahnya bukan pada produk atau harga yang ditawarkan.  Masalah utamanya sering kali terletak pada cara dan gaya komunikasi di WhatsApp.  Sekarang ini, pelanggan membeli karena merasa dipahami. Bisa menjawab keresahan mereka. Bukan karena ditawari produk yang bagus saja. Maka dari itu, kami mulai membangun pendekatan baru. Sisi customer service yang efisien untuk mempercepat proses closing. Mengapa WhatsApp adalah Channel Strategis untuk Sales & CS? Saat ini, tidak ada channel komunikasi lebih dekat dengan pelanggan dibanding WhatsApp. Alasannya: Peran CS dalam Meningkatkan Konversi Penjualan Bisnis Pada brand milik Menjadi Pengaruh, customer service (CS) bukan cuma orang yang bertugas menjawab pertanyaan atau membantu menyelesaikan masalah teknis.  Kami melihat peran CS sebagai ujung tombak komunikasi bisnis.  CS adalah pihak pertama yang menyambut calon pelanggan, memahami kebutuhan mereka, dan membantu mengarahkannya ke solusi terbaik. Secara umum, CS terbagi menjadi dua. Yaitu CS pasif dan CS proaktif. Berikut perbedaanya: Aspek CS Pasif CS Proaktif Pendekatan Menunggu pelanggan menghubungi terlebih dahulu Menghubungi pelanggan lebih dulu tanpa diminta Tujuan Utama Menanggapi masalah atau pertanyaan Mencegah masalah dan meningkatkan pengalaman pelanggan Waktu Respon Setelah masalah muncul Sebelum masalah terjadi atau terdeteksi Contoh Tindakan Menjawab pertanyaan via live chat Mengirim notifikasi pengingat, memberikan tips penggunaan produk Inisiatif Rendah (reaktif) Tinggi (inisiatif sendiri) Hubungan dengan Pelanggan Bersifat transaksional Bersifat relasional dan berkelanjutan Prinsip Utama Menyusun Template Chat Profesional Setidaknya, ada tiga prinsip utama untuk menyusun template chat Customer Service secara profesional, antara lain: 1. Cepat, sopan, dan to the point Pelanggan tidak punya waktu membaca paragraf panjang. Maka template harus ringkas, tapi tetap sopan dan ramah. 2. Disesuaikan dengan persona pelanggan Gunakan bahasa dan gaya komunikasi yang sesuai dengan persona pelanggan. Ini akan membuat mereka merasa lebih nyaman dan terhubung secara emosional dengan brand kamu. 3. Mengandung CTA (Call to Action) Setiap chat harus punya arah. Kami selalu menutup template dengan ajakan yang jelas, seperti: “Apakah kakak ingin kami bantu proses sekarang?”, atau “Mau kami kirimkan link pembelian langsung, kak?” 60 Template Chat WhatsApp Customer Service seperti Sales Profesional Sebagai garda terdepan dalam komunikasi bisnis, CS harus berpikir layaknya seorang sales profesional.  Cepat, ramah, strategis.  Makanya, kami merangkum 60 template chat WhatsApp yang sudah terbukti mempercepat closing. Template ini dibagi ke dalam enam momen krusial saat melayani klien. A. Template Sambutan (Welcome Message) B. Template Tanya Kebutuhan C. Template Penawaran Solusi D. Template Follow-up Tanpa Terasa Menekan E. Template Handling Objection / Keberatan Klien F. Template Chat Penutup / Closing Kesimpulan Template chat WhatsApp untuk customer service kini jadi salah satu strategi jitu untuk mendorong penjualan dan mempercepat proses closing di era digital.  Dengan menerapkan 60 template yang sudah dirancang untuk enam momen penting dalam percakapan, tim sales dan CS bisa bekerja dengan lebih terstruktur dan efisien.  Komunikasi lewat WhatsApp bukan cuma soal jualan. Harus juga membangun hubungan jangka panjang yang berakar pada pemahaman atas kebutuhan pelanggan. FAQ 1. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan lewat chat? Gunakan bahasa yang sopan, responsif, dan langsung ke inti pembicaraan. Tunjukkan empati dan antusiasme dalam setiap respons. Hindari bahasa robotik dan buat percakapan terasa manusiawi dan solutif. 2. Bagaimana cara menindaklanjuti pelanggan melalui WhatsApp? Lakukan follow-up dengan waktu yang tepat, gunakan kalimat ramah tapi tetap mengandung urgensi. Sertakan recap kebutuhan atau penawaran sebelumnya agar konteks tetap terjaga. Akhiri dengan ajakan aksi yang jelas, misalnya: “Apakah boleh kami bantu proses hari ini?” 3. Bagaimana menjawab komplain pelanggan? Dengarkan dulu dengan tenang tanpa menyela, validasi perasaan pelanggan, dan minta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan. Tawarkan solusi konkret dan beri update secara proaktif. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan masalah, tapi memulihkan kepercayaan. 4. Bagaimana cara membuat pelanggan kembali? Berikan pengalaman layanan yang menyenangkan dan tindak lanjuti secara berkala dengan penawaran relevan. Bangun hubungan personal, bukan hanya transaksional. Loyalitas tumbuh dari kepercayaan, bukan dari diskon semata. 5. Bagaimana cara menangani pelanggan yang kecewa? Dengarkan keluhan mereka dengan seksama tanpa memotong, minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, dan tawarkan solusi konkret untuk memperbaiki situasi. Tunjukkan kalau kamu memahami perasaan mereka.

SELENGKAPNYA
Visual Branding: Strategi Bangun Identitas Bisnis yang Kuat 2025

Visual Branding: Strategi Bangun Identitas Bisnis yang Kuat 2025

Di tengah persaingan bisnis yang makin ramai, tampil beda jadi salah satu kunci buat menarik perhatian. Di sinilah visual branding berperan besar.  Lewat elemen visual seperti logo, warna, tipografi, hingga gaya desain, sebuah brand bisa membentuk kesan pertama yang kuat. Tentu penting banget! Branding visual bukan cuma soal tampilan. Aspek ini membentuk persepsi konsumen dan berkontribusi besar terhadap brand recall.  Artinya, saat desain brand kamu konsisten dan mudah dikenali, peluang konsumen mengingat dan memilih brand-mu juga semakin tinggi. Tahun 2025 membawa arah baru dalam dunia desain brand.  Kita mulai melihat penggunaan teknologi seperti AI-generated design untuk efisiensi dan kreativitas. Selain itu, ada penerapan AR/VR dalam strategi branding, dan makin pentingnya menjaga konsistensi visual bisnis di berbagai platform. Intinya, visual bukan cuma pelengkap, ya! Tapi jadi bagian dari strategi utama dalam membangun brand awareness yang kuat.  Lewat pendekatan visual yang tepat dan terarah, brand kamu bisa tampil lebih solid dan relevan di mata konsumen. Gimana cara bikin visual branding yang oke? Kita akan bahas di artikel ini! Pertanyaan Seputar Visual Branding Ada beberapa pertanyaan umum seputar visual branding yang populer, antara lain: Visual branding adalah strategi untuk membentuk persepsi dan identitas brand di mata konsumen. Elemen ini penting karena meningkatkan daya ingat, membedakan bisnis dari kompetitor, dan membangun kepercayaan pelanggan. Contohnya: Apple, Tokopedia, dan Starbucks yang konsisten secara visual di semua platform. Apa Itu Visual Branding dalam Bisnis? Visual branding adalah cara sebuah brand “berbicara” lewat tampilan.  Mulai dari logo, warna, tipografi, hingga layout dan kemasan. Semuanya membentuk identitas yang bisa dilihat, dirasakan, dan dikenali oleh konsumen.  Tujuannya apa? Biar brand kamu gak cuma sekadar tampil, tapi juga ngena di pikiran orang. Secara sederhana, visual branding adalah representasi visual dari siapa dan apa brand kamu.  Dulu, mungkin cukup punya logo dan kartu nama. Tapi sekarang, visual branding berkembang pesat.  Brand perlu tampil konsisten di berbagai channel, seperti feed Instagram, website, kemasan produk, sampai tampilan toko fisik.  Semua harus saling terhubung dan mewakili nilai serta kepribadian brand. Elemen-elemen visual branding seperti: Kenapa Bisnis Perlu Visual Branding? Alasan visual branding itu penting karena keputusan pembelian itu sangat dipengaruhi oleh tampilan.  Menurut Forbes (2023), 90% keputusan pembelian didasari oleh persepsi visual.  Artinya, desain yang kuat bisa langsung mempengaruhi keputusan konsumen dalam hitungan detik. Gak cuma itu aja! Menurut data dari Lucidpress, brand yang menjaga konsistensi visual bisa meningkatkan brand recall hingga 80%.  Artinya, makin konsisten tampilan brand kamu, makin besar kemungkinan konsumen ingat dan percaya sama produkmu. Jadi, visual branding bukan cuma soal estetika, ya! Tapi juga soal strategi.  Tentang menciptakan pengalaman visual yang bikin brand kamu nempel di ingatan orang, dan ujung-ujungnya berdampak ke loyalitas dan penjualan. Alasan Visual Branding Harus Konsisten Banyak brand terlihat menarik di satu sisi, tapi gak konsisten di semua touchpoint.  Misalnya, desain feed Instagram bagus, tapi kemasan produknya beda gaya. Atau websitenya modern, tapi materi promosi cetaknya terasa jadul.  Contoh tadi yang bikin brand sulit diingat dan susah dibangun kepercayaan. Visual branding bukan soal “cantik” tapi soal “strategik”.  Tujuan utamanya adalah menyampaikan nilai inti dan kepribadian brand secara visual dan yang paling penting, dilakukan secara konsisten di semua kanal. Brand yang strategis akan berpikir: Dengan kata lain, konsistensi visual adalah kunci dalam membangun kepercayaan. Konsumen lebih cepat percaya dan loyal pada brand yang tampil rapi, solid, dan seragam karena menunjukkan keseriusan dan profesionalisme. Perbandingan Visual Branding vs Sekadar Desain Banyak orang masih nganggep desain visual dan visual branding itu sama.  Padahal, meskipun kelihatannya mirip, dua hal ini punya tujuan dan pendekatan yang beda. Kita bandingkan di bawah, ya! Aspek Desain Visual Umum Visual Branding Strategis Tujuan Biar kelihatan bagus aja Buat nyampein nilai & karakter brand Konsistensi Kadang iya, kadang gak Selalu dijaga di semua platform Fokus Satu desain, satu tujuan Satu sistem buat semua tampilan Contoh Implementasi Poster, feed Instagram Brand guideline yang nyatuin semuanya Desain visual umum tuh biasanya dibuat biar estetik, catchy, atau sesuai tren.  Tapi seringkali desain satu sama lain gak nyambung. Beda gaya di poster, feed Instagram, atau kemasan produk. Bisa keren, tapi sayangnya gak konsisten. Sedangkan visual branding strategis itu lebih mikirin keseluruhan tampilan brand.  Tujuannya bukan cuma biar “bagus”, tapi biar semua visual bisa nyampein pesan yang sama, berulang-ulang, sampai nempel di kepala orang. Kelebihan dan Tantangan Bikin Visual Branding buat Brand Visual branding itu punya peran besar dalam membangun identitas bisnis. Tapi, seperti strategi lain, tentu ada sisi plus dan tantangannya.  Yuk, kita bahas secara singkat tapi padat. Aspek Keuntungan Tantangan Biaya Investasi jangka panjang Biaya awal cukup tinggi Kontrol Brand Mempermudah standardisasi Perlu SOP & guideline ketat Kesan di Konsumen Profesional dan konsisten Jika salah eksekusi → membingungkan Cara Bikin Visual Branding Konsisten di Tahun 2025 Di 2025, menjaga konsistensi visual branding jadi semakin penting, ya! Soalnya banyak sekali platform yang harus dijaga dari image brand kita. Gak cuma bagus, tapi soal bikin brand kamu mudah dikenali dan dipercaya. Berikut langkah praktis buat jaga visual branding tetap konsisten di 2025: 1. Buat Brand Guideline yang Jelas dan Lengkap Pastikan semua elemen visual seperti logo, palet warna, tipografi, hingga gaya foto sudah tertulis rinci dalam brand guideline. Ini jadi “buku pegangan” tim dan partner supaya semua output visual nyambung dan seragam. 2. Manfaatkan Teknologi AI untuk Efisiensi Desain Di 2025, tools AI bisa bantu bikin variasi desain cepat tanpa kehilangan elemen kunci brand. Gunakan AI-generated design untuk mempercepat proses, tapi tetap kontrol kualitas agar tetap sesuai standar. 3. Adaptasi Visual ke Berbagai Platform (Omnichannel) Sesuaikan desain dengan format dan karakteristik tiap channel. Misalnya, feed Instagram yang dinamis, tampilan website yang responsif, dan packaging fisik yang menarik tapi tetap satu bahasa visual. 4. Pantau dan Evaluasi Secara Berkal Konsistensi bukan sekali jadi. Lakukan review rutin terhadap semua materi visual yang keluar, dan pastikan semua masih sesuai dengan guideline. Perbaiki juga jika ada yang mulai menyimpang. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kamu nggak cuma bikin visual branding yang kuat, tapi juga siap bersaing dan relevan di tren branding 2025.  Contoh Visual Branding yang Sukses Visual branding yang sukses adalah yang mampu menciptakan identitas kuat dan mudah dikenali di berbagai platform, ya! Biar

SELENGKAPNYA
TikTok Shop vs TikTok Affiliate: Lebih Untung yang Mana?

TikTok Shop vs TikTok Affiliate: Lebih Untung yang Mana?

TikTok, yang tadinya cuma dikenal sebagai aplikasi hiburan dengan video joget dan tren lucu, kini sudah berubah jadi “ladang uang”.  Gak cuma buat yang suka bikin konten, tapi juga para pebisnis.  Dua fitur utamanya, yaitu TikTok Shop dan TikTok Affiliate. TikTok Shop itu ibaratnya kamu punya toko sendiri di dalam aplikasi TikTok. Kamu bisa langsung jualan produkmu lewat video pendek, atau lewat siaran langsung (live streaming). Nah, kalau TikTok Affiliate, ini beda lagi. Kamu gak perlu punya produk sendiri.  Kamu cuma perlu promosikan produk orang lain yang sudah ada di TikTok Shop. Kalau ada yang beli lewat link atau “keranjang kuning” yang disematkan di video atau live, kamu bakal dapat komisi.  Di artikel ini, kita akan membandingkan TikTok Shop dan TikTok Affiliate secara tuntas, biar kamu bisa tahu mana yang paling menguntungkan dan cocok buat kamu.  Jadi, kamu bisa pilih mana yang paling pas dengan tujuan, modal, dan gaya kamu dalam berkreasi di TikTok. Pertanyaan Umum Mana yang Lebih Menguntungkan dari TikTok Shop dan TikTok Affiliate? Untuk menentukan mana yang lebih menguntungkan dari TikTok Shop dan affiliate, itu sangat tergantung pada siapa kamu dan apa yang kamu inginkan. Bagi pebisnis kecil (UMKM) dan reseller, TikTok Shop umumnya jauh lebih menguntungkan.  Kamu punya produk yang dijual, bisa mengatur harga dan margin keuntungan sendiri, serta membangun merek. Meskipun butuh modal dan pengelolaan yang lebih rumit, potensi pendapatannya jauh lebih besar. Untuk kreator konten dan individu tanpa modal besar, TikTok Affiliate adalah pilihan yang sangat menguntungkan.  Kamu bisa langsung menghasilkan uang dari kontenmu tanpa perlu memiliki produk, mengurus stok, atau pengiriman. Cara Kerja TikTok Shop dan TikTok Affiliate Sebelum kita menyelam lebih dalam, penting buat kamu tahu gimana sebenarnya cara kerja TikTok Shop dan TikTok Affiliate. Definisi dan Mekanisme Kerjanya Keduanya sama-sama beroperasi di TikTok, tapi apa aja perbedaan dari segi mekanisme kerjanya? TikTok Shop adalah fitur e-commerce yang memungkinkan penjual untuk mempromosikan dan menjual produk langsung kepada konsumen melalui aplikasi TikTok.  Fitur ini terintegrasi dalam aplikasi TikTok, memungkinkan kamu untuk menjelajahi dan membeli produk langsung di dalam aplikasi dari feed mereka atau di Tab Toko. Cara Kerja TikTok Shop: b. TikTok Affiliate: Program Afiliasi untuk Kreator Konten TikTok Affiliate adalah program yang memungkinkan kreator buat memonetisasi akun mereka dengan mempromosikan produk dari penjual di TikTok Shop.  Nah, kreator akan mendapatkan komisi dari setiap penjualan yang terjadi melalui tautan afiliasi mereka. Cara Kerja TikTok Affiliate: Dengan memahami mekanisme kerja TikTok Shop dan TikTok Affiliate, kamu bisa memilih strategi monetisasi yang paling sesuai dengan kebutuhan. Perbandingan Keuntungan Finansial Kalau dilihat dari segi finansial, kita akan bahas dari margin keuntungan, komisi, potensi pendapatan, dan biaya yang perlu diperhatikan saat memilih antara TikTok Shop dan TikTok Affiliate. Sebagai penjual di TikTok Shop, kamu punya kontrol penuh atas harga jual dan margin keuntungan.  Namun, perlu diperhatikan bahwa TikTok mengenakan biaya admin yang bervariasi tergantung pada kategori produk. Kategori Produk Biaya Admin TikTok Shop Grup A 6,5% Grup B 5,5% Grup C 4% Grup D 3,1% Grup E 2% Sumber: Everpro Kategori Produk TikTok Shop Berdasarkan Grup – Grup A mencakup produk umum yang banyak dicari seperti aksesori gadget, fashion pria/wanita/anak, perlengkapan bayi, make up, skincare, makanan kering, alat tulis, hingga aksesori kendaraan.  – Grup B berisi barang elektronik dan rumah tangga seperti audio, kamera pengintai, perangkat komputer, televisi, software, mainan anak, hampers, dan lain-lain.  – Grup C mencakup produk bernilai tinggi seperti kamera, drone, AC, perhiasan, vitamin, bahan makanan, emas, hingga layanan sewa properti.  – Grup D terdiri dari alat berat dan motor listrik.  – Sedangkan Grup E mencakup kendaraan besar seperti mobil dan motor, termasuk yang bekas. Selain itu, pendapatan di TikTok Shop sangat bergantung pada volume penjualan dan strategi pemasaran.  Penjual yang aktif melakukan live streaming dan promosi dapat mencapai omzet yang signifikan. Sebagai afiliator, kamu mempromosikan produk orang lain dan mendapatkan komisi dari setiap penjualan yang terjadi melalui link afiliasi.  Besaran komisi bervariasi tergantung pada produk dan kesepakatan dengan penjual, ya! Misalnya seperti ini: Harga Produk Persentase Komisi Penghasilan per Penjualan Rp 100.000 10% Rp 10.000 Rp 500.000 12% Rp 60.000 Rp 1.000.000 15% Rp 150.000 Afiliator hampir tidak memerlukan modal awal. Namun, perlu diperhatikan biaya layanan saat mencairkan komisi. Biasanya seperti ini: Pendapatan sebagai afiliator sangat bergantung pada kemampuan membuat konten yang menarik dan menjangkau audiens yang luas.  Aspek TikTok Shop TikTok Affiliate Model Bisnis Menjual produk sendiri Mempromosikan produk orang lain Margin Keuntungan Tergantung harga jual dan biaya admin 5% – 15% dari harga produk Biaya Awal Modal untuk stok dan biaya admin Hampir tanpa modal Biaya Tambahan Biaya pengiriman, komisi afiliator Biaya layanan saat pencairan komisi Potensi Pendapatan Tinggi, tergantung volume penjualan Variatif, tergantung konten dan audiens Risiko Stok tidak terjual, pengembalian Konten tidak menarik, tidak ada penjualan Target Audiens dan Kemudahan Penggunaan TikTok Shop dan TikTok Affiliate itu punya “pasarnya” masing-masing.  TikTok Shop lebih cocok buat yang udah punya bisnis kecil, reseller, atau pengusaha yang siap jualan produk sendiri. Baik itu stok sendiri atau dropship. Tapi perlu effort lebih ya, karena harus mengurus stok, pengiriman, sampai customer service. Sementara TikTok Affiliate lebih pas buat content creator, pemula, atau siapa pun yang ingin mulai cari cuan tanpa ribet.  Gak perlu punya produk, tinggal promosikan produk orang lain lewat konten.  Praktis dan gampang dimulai, apalagi kalau sudah terbiasa bikin konten yang engaging. Jadi, tinggal sesuaikan aja: mau serius jualan atau fokus jadi promotor yang kreatif. Risiko dan Hambatan Baik TikTok Shop maupun TikTok Affiliate punya tantangan masing-masing. Tinggal disesuaikan saja dengan kondisi dan preferensi kamu. TikTok Shop: TikTok Affiliate: Kesimpulannya, TikTok Shop cenderung lebih kompleks dari sisi operasional, sementara TikTok Affiliate lebih menantang dari sisi kreativitas dan konsistensi promosi.  Studi Kasus dan Data Pendukung Biar gak cuma berasumsi, yuk kita lihat data nyata dari pasar TikTok Shop dan TikTok Affiliate! Menurut laporan dari Charm, pada kuartal keempat 2024, GMV TikTok Shop di Asia Tenggara tumbuh sebesar 119% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebelumnya, TikTok Shop juga berhasil mencatat transaksi lebih dari US$20 miliar secara global pada tahun 2023 — angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

SELENGKAPNYA