Day: July 30, 2026

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Asinan Ceri-Ya Rp600 Ribu: Strategi Laris Meski Harganya Mahal

Kalau kamu membuka Instagram atau TikTok belakangan ini, mungkin kamu sempat melihat unggahan tentang asinan buah dengan harga sekitar Rp600.000 per toples. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah kaget, lalu penasaran. “Masa asinan harganya segitu?” Dari situ, banyak orang akhirnya membuka kolom komentar, mencari tahu isi produknya, atau bahkan ikut membahasnya. Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam psikologi konsumen, ada berbagai faktor yang membuat sesuatu yang dianggap tidak biasa justru lebih mudah menarik perhatian dan memicu percakapan. Asinan Ceri-Ya dari Chef Devy Anastasia menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat bagaimana hal tersebut bekerja. Asinan Ceri-Ya merupakan produk asinan kiamboy premium milik Chef Devy Anastasia, alumnus MasterChef Indonesia musim kesembilan. Produk ini menjadi viral karena dibanderol sekitar Rp600.000 per toples, jauh di atas harga asinan kiamboy pada umumnya yang berkisar puluhan ribu rupiah. Mengutip pemberitaan Detik Food, harga tersebut didukung oleh penggunaan potongan buah premium serta kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Terlepas dari pro dan kontra mengenai harganya, justru label harga yang tidak biasa inilah yang membuat produk tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Asianan Ceri-Ya: Ada Harga, Ada Kualitas Penelitian ilmiah tentang persepsi harga bisa menjelaskan mengapa strategi harga tinggi ini berhasil menarik perhatian. Sejumlah studi pemasaran menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian, karena konsumen sering menggunakan harga sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kualitas suatu produk sebelum benar-benar mencobanya. Penelitian yang membahas pengaruh persepsi harga dan word of mouth terhadap keputusan pembelian di sebuah kedai kopi menemukan bahwa persepsi harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian, sehingga semakin tinggi kesesuaian antara harga yang dirasakan dengan kualitas yang ditawarkan, semakin besar pula kemungkinan konsumen memutuskan untuk membeli. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, harga Rp600.000 berfungsi sebagai sinyal bahwa produk ini menggunakan bahan yang tidak biasa, sehingga sebagian orang menganggap harga tersebut sepadan meski belum pernah mencicipinya secara langsung. Kajian lain juga menjelaskan bahwa setiap produk yang bersifat fisik tidak dapat dengan mudah dievaluasi sebelum dibeli, sehingga untuk melihat kualitas produk, konsumen harus membeli produk tersebut terlebih dahulu, dan konsumen yang belum membeli hanya bisa mempelajari gambaran umum kualitas produk lewat ulasan dari konsumen lain yang sudah membelinya. Ini menjelaskan mengapa harga yang tidak lazim justru memancing rasa penasaran, bukan langsung menghasilkan penolakan. Bahan Premium sebagai Justifikasi Harga Harga tinggi pada produk ini tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh narasi bahan premium yang membuatnya terasa masuk akal di mata sebagian pembeli. Berdasarkan laporan Bisik.id, Chef Devy menawarkan kreasi asinan kiamboy berisi buah ceri segar, ditambah jenis buah premium lain seperti leci, anggur, hingga kiwi, dengan kuah yang dibuat dari jus buah ceri dan delima. Laman RRI menambahkan detail lain soal isian produk ini, yaitu ceri, anggur Muscat, Moon Drop, kiwi, leci, kelengkeng Thailand, delima, dan nanas. Susunan bahan seperti ini tidak umum ditemukan pada asinan kiamboy standar yang biasanya hanya berisi mangga muda, kedondong, nanas, jambu kristal, dan salak. Kombinasi buah impor musiman inilah yang menjadi dasar cerita produk premium, sekaligus menjadi bahan perbandingan yang membuat harga Rp600.000 terlihat lebih masuk akal bagi sebagian orang. Sistem Pre-Order Terbatas dan FOMO Bagi kamu yang pernah mengikuti sistem pre-order di media sosial, pola yang terjadi pada Asinan Ceri-Ya mungkin terasa familiar. Produk dibuka dalam jumlah terbatas, lalu ditutup dalam waktu relatif singkat karena tingginya permintaan. Situs EurekaWoman mencatat bahwa pesanan asinan tersebut sempat ditutup karena tingginya permintaan. Pengalaman melihat produk yang cepat habis semacam ini berkaitan dengan konsep yang dalam ilmu psikologi konsumen disebut fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan cemas karena khawatir tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Penelitian yang lebih spesifik pernah menguji hubungan antara kelangkaan produk, FOMO, dan perilaku pembelian impulsif pada produk viral dengan sistem terbatas, meski dalam konteks yang berbeda, yaitu produk mainan koleksi. Studi lain yang meneliti sistem kelangkaan secara lebih umum menegaskan bahwa strategi kelangkaan efektif karena memadukan tiga elemen penting dalam proses keputusan pembelian. Diantaranya persepsi risiko, persepsi nilai, dan respons emosional, sehingga ketika konsumen merasa ada kemungkinan kehilangan peluang, nilai produk terasa meningkat dan keputusan pun cenderung terjadi lebih cepat. Kalau kamu mengaitkan temuan ini dengan sistem PO terbatas pada Asinan Ceri-Ya, terlihat jelas bahwa penutupan pesanan dalam waktu singkat bukan sekadar kebetulan operasional, ya! Melainkan pola yang secara psikologis memang mendorong orang untuk bertindak lebih cepat dalam memutuskan pembelian. Storytelling di Balik Produk Asinan Ceri-Ya Selain harga dan bahan, cara Chef Devy bercerita di media sosial juga menjadi bagian penting dari daya tarik produk ini. Ia membagikan proses pencarian buah premium ke berbagai supermarket, yang menggambarkan usaha ekstra di balik satu porsi asinan tersebut. Cerita semacam ini membuat konsumen merasa sedang membeli sesuatu yang melibatkan usaha dan pemilihan bahan yang cermat, bukan sekadar makanan yang dibuat secara instan. Kalau kamu pernah membeli produk kuliner rumahan yang disertai cerita di balik proses pembuatannya, kamu mungkin memahami bagaimana cerita semacam ini bisa memengaruhi persepsi nilai produk tersebut. Meski secara objektif bahan yang digunakan sebenarnya bisa ditemukan di pasar atau supermarket biasa. Peran Viral Marketing dan Word of Mouth Fenomena Asinan Ceri-Ya juga menarik untuk dilihat dari sudut pandang teori viral marketing dan word of mouth secara umum. Menurut artikel dari RWE Digital Agency, viral marketing pada dasarnya adalah cara promosi di media sosial yang membuat audiens ikut menyebarkan pesan pemasaran ke orang lain. Sehingga peluang untuk menaikkan penjualan atau membuat sebuah merek makin dikenal menjadi lebih besar, dan konsepnya sebenarnya mirip dengan strategi dari mulut ke mulut yang dulu dipakai dalam pemasaran tradisional. Pada kasus Asinan Ceri-Ya, audiens yang ikut membagikan opini mereka, baik yang mendukung maupun yang mengkritik harga produk tersebut, secara tidak langsung berperan sebagai penyebar informasi tanpa perlu dibayar sebagai endorser. Artikel yang sama juga menjelaskan bahwa salah satu cara membuat konten bisnis kecil menjadi viral adalah dengan mencari topik yang sebenarnya akrab dalam kehidupan sehari-hari namun sering diabaikan, karena hal ini membangun hubungan emosional dengan audiens. Asinan sendiri adalah jajanan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, sehingga ketika muncul versi dengan harga jauh di atas rata-rata, topik

SELENGKAPNYA