
Strategi Marketing Kapal Api Sebagai Local Brand yang Legenda
Bayangkan sebuah merek kopi yang sudah ada sejak 1927, bertahan melewati zaman penjajahan, era orde baru, krisis ekonomi 1998, hingga gempuran merek-merek kopi global yang masuk ke Indonesia dengan modal dan teknologi pemasaran yang jauh lebih besar. Itulah Kapal Api. Merek yang lahir di Surabaya ini bukan hanya bertahan, tetapi hingga hari ini masih menjadi salah satu merek kopi paling dikenal dan dipercaya oleh masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang dan generasi. Di tengah kemunculan ratusan merek kopi lokal baru yang tumbuh pesat seiring tren kedai kopi dan produk kopi premium dalam beberapa tahun terakhir, Kapal Api justru memilih untuk tidak diam. PT Kapal Api Global terus menggali inovasi produk dan merancang strategi pemasaran baru agar mereknya tetap relevan dan dekat dengan konsumen masa kini. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana Kapal Api membangun dan mempertahankan posisinya sebagai local brand yang dicintai masyarakat, serta pelajaran apa yang bisa diambil dari perjalanan panjang merek ini. Sekilas tentang Kapal Api Kapal Api didirikan pada tahun 1927 oleh Go Soe Loet di Surabaya, Jawa Timur. Nama “Kapal Api” dipilih karena pada masa itu kapal uap atau kapal api merupakan simbol modernitas, kekuatan, dan kemajuan yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia di era tersebut. Sejak awal, produk Kapal Api difokuskan pada kopi bubuk yang diolah dengan metode sangrai, menggunakan biji kopi pilihan dari berbagai daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Selama puluhan tahun, Kapal Api tumbuh dari usaha keluarga kecil di Surabaya menjadi perusahaan kopi nasional yang produknya tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Kini PT Kapal Api Global mengelola sejumlah merek di bawah grupnya, termasuk Kapal Api, ABC, Good Day, dan Excelso, menjadikannya salah satu perusahaan kopi terbesar di Asia Tenggara. Kampanye “For the Love of Coffee” yang Dimulai dari Dalam Salah satu strategi pemasaran terpenting yang dijalankan Kapal Api dalam beberapa tahun terakhir adalah kampanye bertajuk “For the Love of Coffee Integrated Campaign.” Pangesti Boedhiman, Head of Corporate Communication Kapal Api Global, menjelaskan bahwa kampanye ini sudah mulai dijalankan sejak tahun 2019 dan dimulai bukan dari iklan besar-besaran, melainkan dari ekosistem internal perusahaan itu sendiri. Pendekatan ini menarik karena Kapal Api memilih untuk membangun kampanye dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Logikanya sederhana: karyawan yang benar-benar mencintai produk yang mereka buat akan menjadi duta merek yang paling autentik dan paling dipercaya, jauh lebih efektif dibanding iklan mana pun. Ketika para karyawan dari seluruh unit bisnis Kapal Api terlibat langsung dalam berbagai kegiatan internal yang merayakan kopi lokal, mereka bukan hanya menjalankan pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita merek itu sendiri. Strategi ini kemudian diperkuat dengan pelibatan media secara aktif untuk mempublikasikan seluruh rangkaian kampanye kepada masyarakat luas. Kapal Api juga meluncurkan majalah internal bernama Connect sebagai sarana komunikasi yang menjembatani kegiatan internal perusahaan dengan pemangku kepentingan eksternal. Maskot Ka-Losi dan Ka-Rua: Identitas Visual yang Mengundang Kedekatan Salah satu langkah kreatif yang diambil Kapal Api untuk memperkuat identitas mereknya adalah dengan menghadirkan dua maskot bernama Ka-Losi dan Ka-Rua. Maskot adalah alat pemasaran yang bekerja pada level psikologis yang sangat mendasar. Karakter visual yang dirancang dengan baik mampu menciptakan kedekatan emosional antara merek dan konsumen, terutama bagi segmen yang lebih muda, jauh lebih cepat dibanding teks atau narasi deskriptif tentang produk. Ka-Losi dan Ka-Rua dirancang untuk menjadi lambang ikonik Kapal Api yang memudahkan konsumen dalam mengenali dan mengidentifikasi merek ini di antara berbagai pilihan produk kopi yang semakin banyak di pasaran. Dari perspektif strategi merek, penggunaan maskot juga membantu merek yang sudah berusia puluhan tahun seperti Kapal Api untuk tampil lebih segar dan relevan di mata konsumen yang lebih muda, tanpa harus meninggalkan identitas aslinya. Kolaborasi dengan Stakeholder dan Lembaga Pemerintah Seiring berjalannya waktu, Kapal Api mengembangkan pendekatan kampanyenya dengan menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di luar perusahaan. Salah satu kolaborasi yang paling menonjol adalah penyelenggaraan kompetisi bertajuk “Coffee and Spice Competition” yang dilakukan bersama program Jalur Rempah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kolaborasi dengan lembaga pemerintah seperti ini memberikan beberapa keuntungan sekaligus bagi Kapal Api. Pertama, kegiatan ini memperluas jangkauan merek ke segmen audiens yang mungkin belum terlalu terhubung dengan Kapal Api sebelumnya, khususnya komunitas akademik, pegiat budaya, dan masyarakat yang tertarik pada kekayaan rempah dan kuliner nusantara. Kedua, asosiasi dengan program pemerintah yang bertemakan warisan budaya memberi Kapal Api dimensi baru sebagai merek yang tidak hanya menjual kopi, tetapi juga turut menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Ketiga, dari sisi publisitas, kolaborasi dengan institusi sebesar Kemendikbud secara otomatis menghasilkan eksposur media yang lebih luas dibanding jika Kapal Api menjalankan kegiatan serupa secara mandiri. Inovasi Produk yang Mengikuti Kebiasaan Konsumen Modern Mempertahankan relevansi merek dalam jangka panjang tidak cukup hanya dengan kampanye pemasaran yang baik. Produk itu sendiri harus terus berkembang mengikuti kebiasaan dan kebutuhan konsumen yang berubah dari generasi ke generasi. Kapal Api memahami hal ini dengan baik. Salah satu inovasi produk yang dilakukan Kapal Api adalah menghadirkan kopi instan dalam kemasan botol siap minum atau ready to drink. Langkah ini merespons perubahan gaya hidup konsumen Indonesia, terutama generasi muda yang aktif dan mobile, yang menginginkan kemudahan dalam mengonsumsi kopi tanpa harus melalui proses menyeduh terlebih dahulu. Produk kopi sachet yang selama ini menjadi andalan Kapal Api memang sangat relevan untuk konsumsi di rumah atau di kantor, tetapi format ready to drink membuka peluang konsumsi di berbagai situasi lain yang lebih dinamis dan tidak memerlukan persiapan apa pun. Pangesti Boedhiman menegaskan bahwa inovasi produk bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari kepercayaan yang diberikan konsumen kepada merek sebesar Kapal Api. Konsistensi Sebagai Fondasi Kepercayaan Jangka Panjang Di balik semua strategi kampanye, maskot, kolaborasi, dan inovasi produk yang dijalankan Kapal Api, ada satu elemen yang menjadi fondasi paling mendasar dari keberhasilan merek ini bertahan selama hampir satu abad. Elemen itu adalah konsistensi. Konsistensi dalam menjaga kualitas rasa kopi yang menjadi ciri khas Kapal Api, konsistensi dalam mempertahankan identitas merek sebagai kopi rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dan konsistensi dalam menghadirkan produk yang bisa diakses oleh semua kalangan tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dalam dunia pemasaran, kepercayaan konsumen adalah hasil dari pengalaman yang konsisten selama bertahun-tahun. Konsumen yang sudah