
Trik Marketing Amanda Brownies Mengoptimalkan Media Sosial
Amanda Brownies, merek kue brownies kukus yang sudah menjadi ikon oleh-oleh Bandung sejak 1999, beberapa waktu terakhir mendadak jadi perbincangan di platform X (sebelumnya Twitter). Bukan karena produk barunya, tetapi karena cara mereka ikut percakapan netizen. Di dunia offline, merek ini bukan pemain kecil. Melansir iNews, jumlah outlet penjualan Brownies Amanda tercatat mencapai 117 outlet yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah hingga tahun 2026, mengingat ekspansi mereka yang konsisten secara geografis maupun distribusi melalui kanal online. Dalam hal prestasi, Amanda Brownies juga telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Most Popular Bakery dari Bandung Social Wave 2015, dan Juara Partner Go-Food pada tahun 2018, yang semakin menguatkan posisi mereka sebagai brand kuliner yang memiliki basis konsumen kuat dan loyal. Fenomena viralnya di platform X menunjukkan bahwa brand legendaris pun bisa memanfaatkan strategi media sosial yang dinamis, relevan dengan budaya internet, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan audiens. Sejarah Singkat dan Status Brand Amanda Brownies Amanda Brownies mulai dirintis oleh Hj. Sumiwiludjeng dan Hj. Sjukur di Bandung dengan resep keluarga sederhana yang kemudian berkembang menjadi bisnis besar dan mampu bertahan lebih dari 25 tahun di industri kuliner. Nama “Amanda” sendiri merupakan singkatan dari “Anak Mantu Damai”, yang sekaligus mencerminkan karakter bisnis keluarga yang melekat sejak awal berdirinya. Awalnya produk brownies ini dijual dalam skala rumahan dengan sistem titip-jual di toko oleh-oleh sekitar Bandung. Seiring meningkatnya permintaan, Amanda Brownies mulai memperluas kapasitas produksi, membuka outlet sendiri, dan melakukan inovasi pada varian rasa dan topping agar tidak hanya diposisikan sebagai oleh-oleh wisata, tetapi juga sebagai produk konsumsi harian. Melansir iNews, jumlah outlet penjualan Amanda Brownies kini mencapai 117 outlet yang tersebar di berbagai kota besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Kombinasi inovasi produk, ekspansi outlet, serta pengakuan industri menjadikan Amanda Brownies sebagai salah satu brand kuliner nasional yang kuat dan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Interaksi Akun Amanda Brownies secara Real-Time di Media Sosial Belakangan, akun X @_AmandaBrownies mulai terlihat aktif nimbrung di percakapan netizen. Mereka bukan sekadar mengunggah konten promosi, tetapi justru memilih untuk masuk ke obrolan publik, antara lain dengan: – menjawab mention dan pertanyaan netizen secara langsung, – mengikuti tren meme dan komentar humor yang sedang viral, – hingga merespons sindiran atau komentar pedas dengan gaya santai khas budaya internet. Contohnya, ketika seorang netizen bercanda menyebut outlet mereka seperti “money laundry”, admin akun resmi membalasnya dengan pendekatan humor, tanpa nada defensif atau formal. Alih-alih memicu sentimen negatif, respons ini justru mendapat apresiasi dan reaksi positif dari publik karena sesuai dengan tone native platform X yang satir, spontan, dan interaktif. Strategi semacam ini berdampak signifikan terhadap dinamika akun. Engagement di lini masa meningkat, dengan balasan, retweet, dan like yang lebih tinggi dibandingkan konten broadcast promosi pada umumnya. Akumulasi interaksi tersebut juga mendorong pertumbuhan jumlah pengikut, yang kini sudah mencapai 15 ribu followers dan terus bertambah. Angka ini bukan kecil, mengingat Amanda Brownies sejak awal lebih dikenal sebagai brand kuliner legendaris yang kuat di pasar offline, bukan sebagai “brand digital native”. Fenomena ini menunjukkan perubahan pendekatan pemasaran di mana kedekatan, relevansi budaya internet, dan kemampuan bermain dalam ritme warganet menjadi faktor penting, terutama bagi brand kuliner yang ingin bertahan dan relevan di media sosial. Kenapa Strategi Media Sosial Amanda Brownies Berhasil? Strategi Amanda Brownies bukan sekadar keberuntungan atau hasil viral sesaat. Praktik yang mereka lakukan memiliki dasar yang sejalan dengan teori dalam komunikasi pemasaran digital dan perilaku konsumen. 1. Engagement Bukan Sekadar Promosi, Tetapi Relasi Menurut teori COBRAs (Consumer’s Online Brand Related Activities), aktivitas konsumen terhadap brand di media sosial terbagi menjadi tiga tingkat: Interaksi Amanda Brownies di X memicu ketiga lapisan tersebut. Konsumen membaca percakapan (konsumsi), ikut menanggapi dan menyebarkan (kontribusi), bahkan membuat thread, meme, atau tangkapan layar baru terkait brand (kreasi). Model ini menjelaskan mengapa percakapan mampu berkembang organik dan membentuk buzz. 2. User-Generated Content Meningkatkan Kepercayaan Konsumen User-Generated Content (UGC) mengacu pada konten yang dibuat langsung oleh konsumen, bukan brand. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa UGC memberikan efek kredibilitas lebih tinggi dibanding konten promosi perusahaan karena dianggap lebih autentik dan tidak berpihak. Dalam kasus Amanda Brownies, respons humor dan keikutsertaan mereka dalam tren internet memancing konsumen untuk membuat konten baru secara sukarela seperti screenshot percakapan, ulasan pengalaman pembelian, hingga konten meme. Jenis konten ini berfungsi sebagai promosi organik dan memperluas jangkauan brand tanpa biaya media. 3. Content Marketing Berbasis Engagement Lebih Efektif Konten yang relevan secara konteks sosial, menarik secara emosional, dan mudah dibagikan terbukti meningkatkan tingkat engagement. Penelitian content marketing menunjukkan bahwa konten yang memenuhi tiga elemen tersebut dapat meningkatkan interaksi konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian. Dalam konteks Amanda Brownies, pendekatan ini menggantikan pola pemasaran tradisional yang hanya mengandalkan broadcast informasi produk. Dengan membuka ruang interaksi dua arah, brand mendapatkan nilai tambah berupa distribusi pesan yang lebih luas, tingkat keterlibatan yang lebih tinggi, dan efektivitas komunikasi yang lebih kuat. Dampak Langsung ke Penjualan dan Brand Awareness Memang belum ada laporan resmi dari Brownies Amanda mengenai peningkatan penjualan setelah strategi komunikasinya viral di media sosial. Namun terdapat beberapa indikator pasar yang dapat diamati secara langsung, antara lain: 1. Percakapan publik meningkat Netizen ramai membahas merek dan interaksi akun Amanda Brownies di platform X. Dalam literatur pemasaran digital, peningkatan percakapan publik merupakan salah satu komponen earned media, yang dapat mendorong citra merek dan preferensi konsumen. 2. User-Generated Content bertambah signifikan Banyak pengguna membuat thread, tangkapan layar, meme, hingga ulasan yang membahas interaksi akun. Peningkatan UGC merupakan sinyal bahwa konsumen tidak hanya mengonsumsi konten pasif, tetapi berpartisipasi dalam penyebaran pesan. 3. Kedekatan dengan generasi muda meningkat Strategi komunikasi yang mengikuti kultur internet membuat brand lebih mudah diterima oleh kelompok usia muda yang selama ini dikenal kritis dan selektif terhadap komunikasi pemasaran. Hal ini relevan mengingat kelompok ini menjadi segmen konsumen kuliner yang cukup besar dan memiliki daya sebar opini yang kuat di media sosial. Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa strategi Amanda Brownies tidak berhenti pada gimmick viral sesaat, tetapi berpotensi meningkatkan brand awareness, brand relevance, hingga intention to buy dalam jangka menengah. Dalam