
Definisi Profit: Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset
Saat pertama kali Menjadi Pengaruh memulai usaha, pertanyaan paling umum yang sering muncul adalah: “Sebenarnya kami untung berapa, sih?” Banyak pelaku usaha, mulai dari yang baru memulai hingga yang sudah lama menjalankan bisnis, masih sering bingung membedakan antara omset dan profit. Padahal, memahami apa itu profit berguna untuk tahu apakah bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan atau tidak. Selama bertahun-tahun membantu berbagai jenis bisnis, Menjadi Pengaruh menemukan satu hal yang selalu penting. Kemampuan memahami profit. Profit merupakan gambaran seberapa sehat bisnis kita berjalan. Kalau kamu sedang menjalankan bisnis online, jualan makanan, atau merintis usaha baru, yuk pahami dulu apa itu profit, bagaimana cara menghitungnya, dan apa bedanya dengan omset. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa istilah penting, seperti: Apa Itu Profit? Penjelasan Sederhana Secara singkat, profit adalah uang bersih yang didapat bisnis setelah semua biaya dikeluarkan. Misalnya begini: Kalau kamu jual satu gelas kopi seharga Rp20.000, dan biaya yang kamu keluarkan untuk membuat kopi itu Rp15.000, maka profit kamu adalah Rp5.000. Penjelasan dari Para Ahli Menurut ahli manajemen Harold Koontz dan Heinz Weihrich, profit adalah kelebihan dari jumlah pendapatan dibandingkan total pengeluaran. Secara umum, rumus profit bisa dijelaskan dengan: Profit = Total Pendapatan – Total Biaya Artinya, kalau kamu mau tahu keuntungan bisnis kamu, cukup kurangi seluruh pendapatan dengan semua biaya yang dikeluarkan. Perbedaan Profit dan Omset Omset, atau dalam istilah bisnis internasional sering disebut revenue, adalah jumlah total uang yang masuk ke bisnis kamu dari hasil penjualan produk atau jasa dalam periode waktu tertentu. Omset ini adalah angka mentah. Belum dikurangi biaya apa pun. Jadi, omset hanya mencerminkan berapa besar pendapatan yang masuk, tanpa melihat berapa besar biaya yang kamu keluarkan untuk bisa mendapatkan uang tersebut. Misalnya: Kamu berjualan sepatu secara online, dan dalam sebulan kamu berhasil menjual 500 pasang sepatu dengan harga Rp200.000 per pasang. Maka omsetmu dalam sebulan adalah 500 dikali Rp200.000, yaitu sebesar Rp100.000.000. Tapi, dari angka Rp100 juta itu, kamu belum tahu berapa keuntunganmu. Bisa jadi setelah dikurangi biaya produksi, biaya pengiriman, iklan, dan gaji karyawan, sisa keuntungannya hanya beberapa juta rupiah saja. Jadi, penting dipahami bahwa omset belum tentu menunjukkan keuntungan. Agar lebih mudah memahami perbedaan antara omset dan profit, kita bisa membandingkannya dalam tabel berikut ini: Aspek yang Dibandingkan Omset (Revenue) Profit (Laba) Pengertian Total pendapatan kotor yang didapat dari semua penjualan dalam suatu periode, tanpa dipotong biaya apa pun Jumlah keuntungan bersih yang diperoleh setelah semua biaya seperti produksi, operasional, pajak, dan lainnya dikurangi Fungsi Menunjukkan seberapa besar volume penjualan bisnis kamu Menunjukkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menghasilkan keuntungan Sumber Penghitungan Dihitung dari harga jual produk dikalikan jumlah produk yang terjual Dihitung dari total omset dikurangi seluruh biaya yang terkait dengan operasional bisnis Bisa Besar Tapi Tidak Untung? Bisa. Bisnis bisa punya omset besar tapi keuntungannya kecil kalau biaya terlalu besar Tidak. Jika profit besar, berarti kamu memang benar-benar berhasil mengelola bisnis dengan efisien Fokus Pengukuran Fokus pada jumlah uang masuk dari penjualan Fokus pada seberapa besar uang yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar Contoh Kasus: Omset Besar Tapi Profit Kecil dalam Usaha Jualan Online Misalnya kamu memiliki bisnis jualan baju secara online. Dalam satu bulan, kamu berhasil menjual banyak produk sehingga omset yang kamu dapatkan mencapai Rp200.000.000. Sekilas, angka ini terlihat menggiurkan dan banyak orang mungkin menganggap bisnis kamu sangat sukses. Tapi, mari kita lihat lebih dalam: Biaya untuk membeli barang dari supplier atau produsen mencapai Rp140.000.000. Lalu kamu juga harus membayar biaya iklan online, biaya pengemasan dan pengiriman, gaji admin, serta biaya operasional lainnya sebesar Rp50.000.000. Maka keuntungan bersih atau profit yang kamu peroleh hanya Rp10.000.000. Padahal, dari luar orang melihat kamu punya omset ratusan juta. Namun nyatanya, keuntungan bersih yang benar-benar bisa kamu nikmati hanya lima persen dari omset tersebut. Ini adalah contoh nyata bahwa mengejar omset tinggi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana mengatur biaya agar profit atau keuntungan bisa maksimal. Jenis-jenis Profit yang Perlu Diketahui agar Tidak Salah Hitung Istilah profit dalam dunia bisnis ternyata tidak hanya satu. Ada beberapa jenis profit yang digunakan untuk mengukur performa keuangan usaha dari berbagai sudut. Masing-masing punya fungsi dan rumus perhitungan yang berbeda. Ringkasan Jenis-jenis Profit dalam Tabel Jenis Profit Cara Menghitung Apa yang Diukur Gross Profit (Profit Kotor) Omset – Biaya Pokok Produksi Keuntungan dasar dari penjualan Operating Profit (Profit Operasional) Gross Profit – Biaya Operasional Efisiensi pengelolaan operasional bisnis Net Profit (Profit Bersih) Operating Profit – (Bunga + Pajak) Laba akhir yang benar-benar bisa dinikmati EBITDA (opsional) Net Profit + Bunga + Pajak + Penyusutan + Amortisasi Gambaran murni kekuatan bisnis tanpa efek keuangan dan aset Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Profit Kotor (Gross Profit) Profit kotor adalah keuntungan awal yang diperoleh dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya produksi langsung atau biaya pokok barang yang dijual. Biaya ini biasanya mencakup harga beli barang dari supplier atau bahan baku. Rumus: Gross Profit = Omset – Biaya Pokok Produksi (COGS) Kegunaan: Profit kotor menunjukkan seberapa besar keuntungan dasar dari kegiatan jual beli sebelum dikurangi biaya lain seperti operasional, iklan, dan gaji. 2. Profit Operasional (Operating Profit) Profit operasional adalah keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya operasional bisnis, seperti biaya gaji pegawai, listrik, sewa, dan biaya lainnya, tetapi belum termasuk bunga pinjaman dan pajak. Rumus: Operating Profit = Gross Profit – Biaya Operasional Kegunaan: Profit ini mencerminkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika angkanya kecil atau negatif, berarti operasional bisnis kamu boros atau tidak efisien. 3. Profit Bersih (Net Profit) Profit bersih adalah keuntungan akhir yang benar-benar bisa kamu ambil sebagai pemilik usaha. Nilai ini sudah dikurangi semua biaya, termasuk biaya produksi, operasional, bunga pinjaman, dan pajak. Rumus: Net Profit = Operating Profit – (Bunga + Pajak) Kegunaan: Profit bersih menjadi tolok ukur utama apakah bisnis kamu benar-benar menghasilkan keuntungan. Nilai ini biasanya dilaporkan dalam laporan keuangan resmi dan jadi dasar pengambilan keputusan. 4. EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) EBITDA merupakan jenis profit yang digunakan oleh perusahaan menengah dan besar untuk menilai performa bisnis dari sisi operasional murni. Dalam penghitungan EBITDA, komponen bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi tidak dihitung. Tujuannya adalah
