Day: June 17, 2025

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Definisi Profit Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Definisi Profit: Cara Hitung dan Bedanya dengan Omset

Saat pertama kali Menjadi Pengaruh memulai usaha, pertanyaan paling umum yang sering muncul adalah:  “Sebenarnya kami untung berapa, sih?” Banyak pelaku usaha, mulai dari yang baru memulai hingga yang sudah lama menjalankan bisnis, masih sering bingung membedakan antara omset dan profit.  Padahal, memahami apa itu profit berguna untuk tahu apakah bisnis yang dijalankan benar-benar menghasilkan atau tidak. Selama bertahun-tahun membantu berbagai jenis bisnis, Menjadi Pengaruh menemukan satu hal yang selalu penting. Kemampuan memahami profit.  Profit merupakan  gambaran seberapa sehat bisnis kita berjalan. Kalau kamu sedang menjalankan bisnis online, jualan makanan, atau merintis usaha baru, yuk pahami dulu apa itu profit, bagaimana cara menghitungnya, dan apa bedanya dengan omset. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa istilah penting, seperti: Apa Itu Profit? Penjelasan Sederhana Secara singkat, profit adalah uang bersih yang didapat bisnis setelah semua biaya dikeluarkan. Misalnya begini: Kalau kamu jual satu gelas kopi seharga Rp20.000, dan biaya yang kamu keluarkan untuk membuat kopi itu Rp15.000, maka profit kamu adalah Rp5.000. Penjelasan dari Para Ahli Menurut ahli manajemen Harold Koontz dan Heinz Weihrich, profit adalah kelebihan dari jumlah pendapatan dibandingkan total pengeluaran. Secara umum, rumus profit bisa dijelaskan dengan: Profit = Total Pendapatan – Total Biaya Artinya, kalau kamu mau tahu keuntungan bisnis kamu, cukup kurangi seluruh pendapatan dengan semua biaya yang dikeluarkan. Perbedaan Profit dan Omset Omset, atau dalam istilah bisnis internasional sering disebut revenue, adalah jumlah total uang yang masuk ke bisnis kamu dari hasil penjualan produk atau jasa dalam periode waktu tertentu.  Omset ini adalah angka mentah. Belum dikurangi biaya apa pun.  Jadi, omset hanya mencerminkan berapa besar pendapatan yang masuk, tanpa melihat berapa besar biaya yang kamu keluarkan untuk bisa mendapatkan uang tersebut. Misalnya:  Kamu berjualan sepatu secara online, dan dalam sebulan kamu berhasil menjual 500 pasang sepatu dengan harga Rp200.000 per pasang.  Maka omsetmu dalam sebulan adalah 500 dikali Rp200.000, yaitu sebesar Rp100.000.000. Tapi, dari angka Rp100 juta itu, kamu belum tahu berapa keuntunganmu.  Bisa jadi setelah dikurangi biaya produksi, biaya pengiriman, iklan, dan gaji karyawan, sisa keuntungannya hanya beberapa juta rupiah saja.  Jadi, penting dipahami bahwa omset belum tentu menunjukkan keuntungan. Agar lebih mudah memahami perbedaan antara omset dan profit, kita bisa membandingkannya dalam tabel berikut ini: Aspek yang Dibandingkan Omset (Revenue) Profit (Laba) Pengertian Total pendapatan kotor yang didapat dari semua penjualan dalam suatu periode, tanpa dipotong biaya apa pun Jumlah keuntungan bersih yang diperoleh setelah semua biaya seperti produksi, operasional, pajak, dan lainnya dikurangi Fungsi Menunjukkan seberapa besar volume penjualan bisnis kamu Menunjukkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menghasilkan keuntungan Sumber Penghitungan Dihitung dari harga jual produk dikalikan jumlah produk yang terjual Dihitung dari total omset dikurangi seluruh biaya yang terkait dengan operasional bisnis Bisa Besar Tapi Tidak Untung? Bisa. Bisnis bisa punya omset besar tapi keuntungannya kecil kalau biaya terlalu besar Tidak. Jika profit besar, berarti kamu memang benar-benar berhasil mengelola bisnis dengan efisien Fokus Pengukuran Fokus pada jumlah uang masuk dari penjualan Fokus pada seberapa besar uang yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar Contoh Kasus: Omset Besar Tapi Profit Kecil dalam Usaha Jualan Online Misalnya kamu memiliki bisnis jualan baju secara online.  Dalam satu bulan, kamu berhasil menjual banyak produk sehingga omset yang kamu dapatkan mencapai Rp200.000.000.  Sekilas, angka ini terlihat menggiurkan dan banyak orang mungkin menganggap bisnis kamu sangat sukses. Tapi, mari kita lihat lebih dalam: Biaya untuk membeli barang dari supplier atau produsen mencapai Rp140.000.000. Lalu kamu juga harus membayar biaya iklan online, biaya pengemasan dan pengiriman, gaji admin, serta biaya operasional lainnya sebesar Rp50.000.000. Maka keuntungan bersih atau profit yang kamu peroleh hanya Rp10.000.000. Padahal, dari luar orang melihat kamu punya omset ratusan juta.  Namun nyatanya, keuntungan bersih yang benar-benar bisa kamu nikmati hanya lima persen dari omset tersebut.  Ini adalah contoh nyata bahwa mengejar omset tinggi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana mengatur biaya agar profit atau keuntungan bisa maksimal. Jenis-jenis Profit yang Perlu Diketahui agar Tidak Salah Hitung Istilah profit dalam dunia bisnis ternyata tidak hanya satu.  Ada beberapa jenis profit yang digunakan untuk mengukur performa keuangan usaha dari berbagai sudut.  Masing-masing punya fungsi dan rumus perhitungan yang berbeda.  Ringkasan Jenis-jenis Profit dalam Tabel Jenis Profit Cara Menghitung Apa yang Diukur Gross Profit (Profit Kotor) Omset – Biaya Pokok Produksi Keuntungan dasar dari penjualan Operating Profit (Profit Operasional) Gross Profit – Biaya Operasional Efisiensi pengelolaan operasional bisnis Net Profit (Profit Bersih) Operating Profit – (Bunga + Pajak) Laba akhir yang benar-benar bisa dinikmati EBITDA (opsional) Net Profit + Bunga + Pajak + Penyusutan + Amortisasi Gambaran murni kekuatan bisnis tanpa efek keuangan dan aset Berikut penjelasan lengkapnya: 1. Profit Kotor (Gross Profit) Profit kotor adalah keuntungan awal yang diperoleh dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya produksi langsung atau biaya pokok barang yang dijual.  Biaya ini biasanya mencakup harga beli barang dari supplier atau bahan baku. Rumus: Gross Profit = Omset – Biaya Pokok Produksi (COGS) Kegunaan: Profit kotor menunjukkan seberapa besar keuntungan dasar dari kegiatan jual beli sebelum dikurangi biaya lain seperti operasional, iklan, dan gaji. 2. Profit Operasional (Operating Profit) Profit operasional adalah keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya operasional bisnis, seperti biaya gaji pegawai, listrik, sewa, dan biaya lainnya, tetapi belum termasuk bunga pinjaman dan pajak. Rumus: Operating Profit = Gross Profit – Biaya Operasional Kegunaan: Profit ini mencerminkan seberapa efisien bisnis kamu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika angkanya kecil atau negatif, berarti operasional bisnis kamu boros atau tidak efisien. 3. Profit Bersih (Net Profit) Profit bersih adalah keuntungan akhir yang benar-benar bisa kamu ambil sebagai pemilik usaha.  Nilai ini sudah dikurangi semua biaya, termasuk biaya produksi, operasional, bunga pinjaman, dan pajak. Rumus: Net Profit = Operating Profit – (Bunga + Pajak) Kegunaan: Profit bersih menjadi tolok ukur utama apakah bisnis kamu benar-benar menghasilkan keuntungan. Nilai ini biasanya dilaporkan dalam laporan keuangan resmi dan jadi dasar pengambilan keputusan. 4. EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) EBITDA merupakan jenis profit yang digunakan oleh perusahaan menengah dan besar untuk menilai performa bisnis dari sisi operasional murni.  Dalam penghitungan EBITDA, komponen bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi tidak dihitung.  Tujuannya adalah

SELENGKAPNYA
5 Dampak Perang Iran-Israel ke Ekonomi Indonesia, UMKM Lebih Berat Bebannya

5 Dampak Perang Iran-Israel ke Ekonomi Indonesia, UMKM Lebih Berat Bebannya

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik bersenjata antara Iran dan Israel mulai mengguncang stabilitas ekonomi global. Indonesia, sebagai negara yang perekonomiannya masih bergantung pada pasokan energi dan bahan pangan dari luar negeri, tidak luput dari imbasnya. Dampak tidak langsung mulai terlihat dari volatilitas harga energi hingga potensi tekanan fiskal. Pada akhirnya menempatkan pelaku usaha kecil atau UMKM sebagai kelompok yang paling terdampak.  Berikut lima dampak signifikan yang perlu menjadi perhatian. 1. Harga Minyak Meroket, Anggaran Energi Terancam Meningkatnya eskalasi militer antara dua negara di kawasan Teluk tersebut telah mengerek harga minyak dunia.  Pasar khawatir suplai global terganggu. Terutama jika jalur strategis Selat Hormuz terblokir, akan mendorong kenaikan harga yang tajam. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak, situasi ini menjadi pukulan berat.  Kenaikan harga minyak tidak hanya mengganggu kestabilan harga dalam negeri. Bisa saja juga berpotensi memperbesar kebutuhan subsidi energi, menambah tekanan terhadap neraca transaksi berjalan, dan memicu lonjakan inflasi. Apalagi pada sektor-sektor sensitif seperti energi dan bahan pokok. 2. Keseimbangan Fiskal Terancam Akibat Kenaikan Beban Subsidi Meningginya harga minyak mentah berisiko mengerek biaya subsidi bahan bakar yang harus ditanggung negara.  Kondisi ini menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam posisi rawan. Sebab, pemerintah harus menambal kebutuhan subsidi yang kian membesar. Jika tren harga minyak tak kunjung turun, pos pengeluaran pemerintah bisa melampaui batas yang direncanakan.  Penyesuaian terhadap postur anggaran menjadi keniscayaan. Khususnya untuk merespons beban subsidi yang tidak terduga besarannya. 3. Inflasi Menggigit, Daya Beli Rakyat Tertekan Dampak dari kenaikan harga minyak bukan hanya dirasakan pada pompa bensin.  Efek lanjutannya adalah kenaikan biaya logistik dan distribusi. Nantinya bisa mendorong harga pangan naik.  Produk-produk impor pun terdampak, seiring dengan meningkatnya biaya pengadaan barang dari luar negeri. Inflasi yang membubung akan memukul daya beli masyarakat.  Dalam jangka pendek, konsumsi rumah tangga yang jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat.  Sektor UMKM yang sangat tergantung pada perputaran konsumsi dalam negeri akan ikut menanggung beban paling besar. 4. Pasar Finansial Bergolak, Rupiah Rentan Tertekan Ketidakpastian akibat konflik membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.  Arah aliran modal kini berbalik ke aset-aset aman seperti dolar AS dan emas. Akibatnya, tekanan terhadap pasar saham dan obligasi domestik makin nyata. Nilai tukar rupiah pun berisiko melemah jika capital outflow berlanjut.  Kurs yang terdepresiasi akan membuat barang impor lebih mahal dan memperbesar tekanan inflasi dari sisi biaya.  Dalam situasi ini, koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal sangat diperlukan agar stabilitas makro tetap terjaga. 5. Rantai Pasok Global Terganggu, Biaya Logistik Naik Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menimbulkan risiko baru dalam rantai distribusi global.  Jalur pelayaran yang melewati kawasan rawan konflik kini menghadapi potensi gangguan. Baik dalam bentuk keterlambatan pengiriman maupun lonjakan biaya angkut. Indonesia yang masih banyak mengandalkan bahan baku impor untuk sektor manufaktur, elektronik, dan tekstil, kemungkinan akan merasakan dampaknya dalam beberapa bulan ke depan.  Biaya produksi akan naik, dan kecepatan distribusi barang bisa terganggu, yang pada akhirnya membebani harga jual produk. Pemerintah Siaga, Tapi Efek Menjalar Tak Bisa Diabaikan Pemerintah Indonesia sejauh ini menyatakan bahwa dampak langsung dari konflik belum signifikan terhadap perekonomian nasional.  Namun, kewaspadaan tetap dijaga, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak dan efek lanjutannya terhadap stabilitas fiskal dan harga pangan. Kebijakan stabilisasi, termasuk pengendalian inflasi pangan serta penguatan cadangan devisa untuk menjaga kurs rupiah, tengah digodok sebagai langkah mitigasi.  Di sisi lain, pelaku usaha diminta untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas pasar agar tetap kompetitif di tengah tekanan global. Perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya pun bisa mengguncang dapur rakyat. Dalam dunia yang saling terhubung seperti saat ini, krisis regional tak lagi jadi urusan lokal. Indonesia harus tetap waspada dan gesit dalam merespons setiap gejolak global yang bisa berdampak pada ekonomi nasional.

SELENGKAPNYA